Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, May 31, 2014

Puisi-puisi Arya Winanda

KEJORA

ia karam di sana, berkedip-kelip
seperti suar kapal
mengirim tanda kepada mata

tapi tiada yang sudi
menerjemahkan isyaratnya

atau mengajukan tanda-tanda balasan
sebagai pertanyaan kepada kabarnya

bagi mata, ia karib sedemikian cemerlang
begitu dekat, hingga lupa mengapa
ia mengibas-ngibaskan ekor cahaya
serupa anjing menyambut tuannya

ia kepalang menjelma bunga
kepalang dimekarkan kelopaknya
agar hidung mengendus wangi
hingga dada memuja-muji

tapi mana mata yang perlu tahu
mengapa ia mengibas-ngibaskan ekor

tanda pada tuannya

ia mengucap selamat tinggal
sebab ia gesit berlalu

lebih tangkas ketimbang pandangan
yang amat suka terpaku

antara ia dan mata tuannya
terhampar selembar selimut hitam
sebenarnya, mereka tiada berjumpa
hingga ia mengirim ekor cahaya

agar tuannya amat tahu
mereka tak pernah saling ketemu

mata gemar menatapnya
tak lebih

sebagai masa lalu

sebab selalu
jarak memerlukan waktu

Kompas, 2010


SARAPAN


demi pagi dan bebutir nasi
dan cekcok antara diri dengan diri

selembar paras
memucat di tingkap jendela
sepenuh malam mengira
bulan berlari menjauhi langit
padahal, mataku pencurinya

seandainya engkau tak terkunyah
geraham dan tercecap lidah
di muka meja makan
maka ia tak sempat memejam
hingga mampu membaui
serumpun pandan ditinggalkan wangi
sekelebat ia didaulat bunyi

terpujilah dirimu
yang damai terkunyah
di pintu mulutku

2010


DI BELAKANG MUKA, DI DEPAN PUNGGUNG

mata ditumbuhi segunduk lumut
dari tangkai hidung hingga tepi pelipis
tempat kulit dilukai keriput
sempurna, tiga lengkung garis

asap tumbuh dari daging dan urat kayu
sisa kunyahan api
dari abu bersalin abu
berpuluhtahun terkurung, berputar-putar cuma
di antara pusar
dan tangkai khuldi
sedikit ke arah pusat matahari,
dengung silang berganti
di mahkota:
kabut penyamar, membiak
dengan rupa-rupa warna

maka bangkit bermacam debu
meluncur di sulur-sulur angin
liar mendarat di ujung rerumput alis
serupa sehabis badai salju
dan matahari kelabu
yang tampak menampik terbit 

hati, dengan hati-hati
lewat pucuk jari merahnya
pelan membuka daun pintu mata
merasai cuaca yang mesti tiba:

langit sewarna janggut jagung
padang rumput semacam ganggang laut
dengan pinggul yang lancang

menggoyang tatapan
membukit kepayang

serak getar ranting renyah
menumbuk daunan, riuh rendah
dikayuh angin, ditiupi  angan
tertarik tanah
tersuruk ke arah sekelompok semak

kemudian reruntuhan mahkota bunga,
batu, dan sesayup suara

kabar cemas
dari paruh burung
senantiasa terlepas
menimpa kepala

2011

LELAKI PENYIMPAN
TANGKAI KHULDI


dari pusat pinggang
tangkai itu tak henti melelerkan
getah

liar api berkobar, memanaskan bebiji purba
ia terbakar dongeng yang sama

saat nama-nama yang tertiup di bibir
tawar, tercampur liur asmara

rusukkiri umpama duri, benar ia tulangku sendiri
tapi bagai anggur pekat tertuang ke kerongkongan
begitu sepat, membuat cekat, kata-kata punah menjadi decak
dan desah, tubuhku licin serupa ular menggelepar
di liang tanah 

ingatan itu begitu binal
sebagai pencuri
ia mencium debu
mengenali lempung muasal

dan sulur sunyi yang merayapinya
tak ia kenal laiknya awal, sebelum
rusukkiri tercabut dari dadanya
sebelum rakus ia memamah putik dada

begitu riuh, ribuan duri logam
terjun, melenting, meriap, berdenting
meluncur di sekujur daging

pandangannya pekat-lebam
bagai mata karam di lumpur
sungai, sebab kini suara dirinya
begitu asing

dimanakah tangkai khuldi ini kusembunyikan
bagaimana muasal cemas ini kulenyapkan

dari telinga ia mendengar
desis terlontar

bagimu kini, api mula terang
dan gelap adalah gerbang

sebagai juru kunci nama-nama
lidahnya yang lihai
kini bercecabang
membelukar, penghalang rimbun
bagi jalan pulang

dari celah-celah
yang tersingkap udara
terkadang berhamburan
bulu cahaya

2009

6 BAIT RAYUAN GOMBAL

dingin yang terhampar di waktu subuh
menjelma di bulu dedaun bambu
beningnya menitis di mata kamu
karenanya,
     saya mengagumi
     mata embun itu

embun yang menitik di matamu
terasa asin dan asing
ia umpama laut
dan saya tenggelam
    sebab lidah ombaknya
                  melempar ludah ke muka
    bila mau bertaut, menyurut

dengan cara yang sama saya memahami:
di lengkung petang, burung-burung parkit
menghambur ke lenggang padang
meluncur licin di pinggang bebukit

begitu juga senyummu: lapang
namun terang

menggigit pahit

sebab itulah
saya menjatuhkan diri
dan  berusaha sungguh
bangkit sendiri

2010


Arya Winanda
BIODATA SINGKAT

Arya Winanda, lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 14 Juli 1980. Pada tahun 2008 ia memulai debut menulis puisi setelah tiga cerita mininya masuk dalam nominasi dan salah satunya meraih penghargaan dalam acara Sayembara Fiksi Kilat yang ditaja Dewan Kesenian Lampung pada tahun yang sama. Karya-karya puisinya terhimpun dalam kumpulan puisi tunggal Desis Ular (Dewan Kesenian Lampung, 2010) dan kumpulan puisi dan cerpen Hilang Silsilah (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Sejumlah puisinya yang lain juga dimuat di media cetak Jakarta dan daerah: Lampung Post, Koran Tempo, dan Kompas. 

Endang Supriadi Luncurkan “Jendela Rumah Tetangga”

Endang Supriadi (kanan). Foto: infosastra.com
DEPOK, Teraslampung.com - Penyair sekaligus cerpenis Endang Supriadi meluncurkan buku kumpulan cerpennya “Jendela Rumah Tetangga” di rumahnya di kawasan Citayam, Depok, Sabtu, 31 Mei 2014.

Hadir dalam peluncuran itu sejumlah sastrawan seperti Sihar Ramses Simatupang, Dianing Widya, Badri AQT, Mustafa Ismail, Eddy Pramduane, Rara Gendis, dan Pudwianto Arisanto. Prosesi peluncuran ditandai dengan penyerahan buku itu sebagai kado untuk istri Endang.

“Ini bertepatan dengan ulang tahun istriku,” kata penulis kelahiran Bogor, 1 Agustus 1960 itu, di sela-sela acara peluncuran itu.

Sejumlah pegiat sastra yang hadir menilai peluncuran itu sebagai sesuatu yang unik. Pasalnya, selama ini peluncuran buku sastra dilakukan di gedung atau kantong-kantong budaya.

“Peluncuran di rumah itu ide Badri,” ujar Endang, yang disambut anggukan Badri. Badri, yang bertindak sebagai penerbit lewat Q Publishing, meskipun dana terbatas, ia mendorong agar buku itu diluncurkan. Lalu, Endang mengontak sejumlah teman lewat SMS dan facebook. Maka berkumpulkan sejumlah sastrawan di rumah yang suasana lingkungannya mirip di kawasan Puncak itu.

“Ini sekaligus reuni kecil-kecilan,” tutur Endang lagi.

Dalam acara yang diwarnai obrolan tentang berbagai isu di dunia sastra itu kemudian muncul ide untuk melembagakan peluncuran semacam ini lewat “arisan sastra”. Siapa yang punya buku baru bisa meluncurkan buku itu di rumahnya. “Keuntungannya para istri penyair bisa saling kenal, anak-anaknya juga bisa bermain bersama dan tahu kreatifitas yang dilakukan orangtuanya. Itu sangat positif dan membanggakan,” tulis Endang kemudian di akun Facebooknya.

Mustafa Ismail menilai peluncuran di gedung dan kantong-kantong sastra memang tidak lagi menarik. “Akan lebih nyata dampaknya jika peluncuran buku sastra itu dilakukan di tengah-tengah masyarakat,” ujar penulis sastra asal Aceh itu.

Menurut dia, peluncuran di rumah memang lebih merekatkan silaturahmi bukan hanya antar sastrawan, tapi juga dengan keluarganya.

“Jadi siapa punya buku baru, mari luncurkan di rumah masing-masing.”

Sumber: infosastra.com

Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (3)

Slamet Samsoerizal*

Taufiq Ismail (Ist)
Sumbangan ketiga Taufiq Ismail adalah teknik penyebarluasan puisi-puisinya kepada khalayak.  Dalam kaitan ini Taufiq sadar benar bahwa untuk mewujudkan keinginannya sebagaimana dilontarkan dalam puisi  Aku Ingin Menulis Puisi yang. Ia memublikasikan puisi-puisinya melalui jalur media massa baik cetak maupun elektronik.

Melalui media massa cetak, puisi-puisinya ditemukan melalui rubrik puisi dan surat pembaca pada surat kabar dan majalah. Selain itu, puisi yang dipublikasikan itu pun dibukukan dalam bentuk antologi baik atas nama sendiri maupun kumpulan bersama beberapa penyair.

Jalur konvensional ini merupakan langkah kebanyakan penyair di negeri mana pun di dunia ini. Akan tetapi,  dalam berbagai kasus banyak antologi diterbitkan, sayang keberadaanya diabaikan. Khusus antologi-antologi puisi Taufiq Ismail, keberadaannya mendapat animo yang menggembirakan. Indikator yang dapat dijadikan sebagai titik tolak adanya keterlibatan puisi-puisi Taufiq Ismail yang sering dikutip baik pada buku-buku pelajaran bahasa Indonesia atau materi perkuliahan, pun banyak analisis dan kajian atas puisi-puisinya baik tingkat pelajar tingkat menengah maupun disertasi tingkat doktoral.

Puisinya yang berkisah tentang Fariduddin Attar  dijadikan rujukan untuk membahas sebuah materi metafisika untuk kuliah filsafat oleh Jujun Suriasumantri dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (1984). Juga saat Amien Rais mendapat pengukuhan gelar Profesor dari Universitas Gajah Mada pada 1999, mengutip puisi Takut ’66, Takut ’98 sebagai acuan uraian teoritis tentang bahaya ”kuasa” dan ”tunakuasa” sekaligus menunjukkan perubahan politik di negeri ini yang menunjukkan bahwa tunakuasa (powerlesness) mulai mendialogkan kuasanya (powerness). Nilai didik yang dapat ditangkap melalui puisi yang bicara rasa takut ini agar dihayati benar oleh para wakil rakyat dan pejabat negara, terutama ”takut” kepada rakyat, selain takut kepada azab Allah SWT.
           
Melalui media massa elektronik, puisi-puisinya meluncur melalui pembacaan baik yang dilakukan Taufiq sendiri maupun melalui orang lain. Begitu seringnya Taufiq diundang untuk membacakan puisi-puisinya di dalam negeri dan di luar negeri. Media yang mengundang pun beragam. Ada kalanya dalam sebuah seminar tentang politik, ia diminta membacakan puisinya. Undangan juga mengalir dari radio maupun televisi. Frekuensi yang demikian tentu menguntungkan puisi-puisinya banyak dikenal orang di dalam maupun luar negeri. Apalagi puisi-puisinya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Rusia, dan bahasa China.
           
Terobosan Taufiq dalam penyebarluasan puisi-puisinya ternyata tidak hanya sebatas itu. Kita mencatat sejak 1973, puisi-puisi seperti Oda pada Van Gogh,  Dengan Puisi Aku, Kasidah Rindu Kami Padamu, Adakah Suara Cemara, Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Ada anak Bertanya pada Bapaknya dan Jual Beli adalah beberapa puisi Taufiq Ismail yang dijadikan sebagai lirik lagu-lagu Bimbo. Kita pun mencatat, bahwa puisi Panggung Sandiwara Taufiq Ismail digubah oleh Ian Antono dari kelompok musik Godbless dan dilantunkan oleh Achmad Albar begitu populer di telinga penikmat musik Indonesia.

Khusus mengenai lagu-lagu bertema religius yang dinyanyikan Bimbo seperti Tuhan,  Sajadah Panjang,   Aisyah Adinda Kita, Ada anak Bertanya pada Bapaknya begitu merajai telinga penikmat musik, terutama saat bulan Ramadan tiba –sehingga tidak mengherankan jika ada yang menyebut bahwa setiap Ramadan adalah bulan lagu-lagu Bimbo. Kita pun dapat beranalogi, menyebut sukses Bimbo berarti menyebut sukses Taufiq Ismail sebagai penulis lirik yang andal. Ia ternyata juga merambah kerja sama dengan  almarhum Chrisye untuk penulisan lirik Ketika Tangan dan Kaki Bicara.   

Unsur didik sangat terasa pada semua lirik yang berasal dari puisi-puisi garapan Taufiq Ismail. Secara representatif, puisi berjudul Tuhan dan Sajadah Panjang sangat kental nilai religinya. Berikut dikutipkan isi puisi Sajadah Panjang secara lengkap.:

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya



Horison Apresiasi Sastera

Taufiq Ismail bercita-cita menjadi sasterawan sejak SMP dan mengental ketika SMA--  menyadari kewajiban yang diembannya. Berkaitan dengan pendidikan, ia ikut membidani lahirnya Majalah Sastra Horison.  Sebuah majalah yang  secara taat asas melaksanakan tugasnya sebagai majalah sastra sejak awal pendiriannya, 1966 yakni mencatat puisi, cerpen, esai,  menyemai bibit-bibit sastrawan baru, menumbuhkembangkannya, sehingga terjadi dialektika secara dinamis baik sebagai sebuah sosok maupun karya dengan konsekuensinya. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di sekolah-sekolah, mengingat Horison  adalah satu-satunya majalah sastra di negeri ini(!)

Melalui Horison pula, Taufiq Ismail mengemas empat proyek besar atas keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan bangsa ini. Taufiq Ismail mengemas melalui program penerbitan sisipan “Kaki Langit”  majalah Horison  sejak November 1996 dan masuk ke SMU, MA (Madrasah Aliyah), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan Pesantren. 

Itu  yang pertama. Sebagai suplemen,  “Kaki Langit”  menampilkan karya sastra : puisi, cerpen, dan esai para siswa dari seluruh Nusantara. Bapak dan Ibu guru (bahasa Indonesia) tidak ketinggalan dilibatkan pula, melalui rubrik ”Pengalaman Guru”. Ulasan puisi dan cerpen karya siswa juga disajikan sebagai bentuk kritik terhadap karya para siswa. Setiap terbit, “Kaki Langit”  memperkenalkan sosok sastrawan –mulai dari biografi, karyanya hingga proses kreatifnya.

Kedua,   menyadari bahwa perubahan harus  dimulai dari guru, Taufiq Ismail melalui Yayasan Indonesia (penerbit Majalah Horison) melobi Bappenas dan Departemen Pendidikan Nasional dan sejak Februari 1999 meluncurkan program MMAS (Membaca, Mengarang, dan Apresiasi Sastra) untuk guru bahasa dan sastra Indonesia. Hingga tahun 2000, telah dilatih 11 angkatan (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat).  Itu mencakup 660 guru. Setelah itu, Riau, Jambi Sumatera Utara, Lampung, dan pada tahun 2001 MMAS melanglang ke Kalimantan dan Indonesia Bagian Timur.

Ketiga,  dalam rentang masa yang sama, 43 sastrawan bergerak masuk ke 30 SMU, MA, SMK, dan Pesantren di 20 kota 3 provinsi bertemu dan berdiskusi dengan 3.000 siswa. Kegiatan ini merupakan proyek ketiga yang digarapnya di bawah bendera SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya).  Pada 2004, SBSB  telah merampungkan hajatnya di 26 provinsi, 133 kota, 205 siswa, dihadiri (sekitar) 92.000 siswa dan guru, didatangi sekitar 90 sastrawan.

Keempat, pada tingkat perguruan tinggi, Taufiq Ismail menggarap proyek keempatnya yakni SBMM (Sastrawan Bicara, Mahasiswa Bertanya). Melalui SBMM Taufiq Ismail mendatangkan 12 sastrawan selama dua semester ke dua kampus (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta) untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Mahasiswa itu diwajibkan membaca buku karya sastrawan tersebut, sebelum hadir dalam diskusi. Kegiatan SBSM dan SBMM ini dibiayai oleh Ford Foundation.

Apa yang menarik? Kegiatan SBSM ternyata menerbitkan optimisme bagi Taufiq Ismail secara pribadi maupun lembaga yang dipimpinnya. SBSM yang berfokus pada apresiasi tingkat SMU, Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan ternyata mendapat respon yang luar biasa. Para siswa tidak saja langsung dapat bertatap muka dan menyimak proses kreatif para sastrawan. Pengenalan langsung seperti ini tentu lebih efektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Sebagai tindak lanjut SBSM Horison pun memberikan wadah berupa rubrik sisipan "Kaki Langit".  Lagi-lagi optimisme kembali bangkit manakala redaksi Horison  kewalahan menampung karya-karya siswa di seluruh tanah air. 

Dalam Seminar sehari yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia DKI Jakarta, pada 30 September 2000 Taufiq Ismail melontarkan kritik pedasnya. “Masyarakat Indonesia itu sudah mengidap penyakit rabun membaca dan lumpuh menulis. Akibatnya, kedua penyakit itu menimbulkan budaya kekerasan yang akhirnya mempengaruhi juga sisi-sisi kehidupan kaum mudanya.”

Lontaran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan amatannya, kuantitas oplah buku-buku sastra yang terbit sejak awal revolusi,  Taufiq Ismail menyayangkan rendahnya minat masyarakat, terutama minat membaca karya sastra. Apabila melihat jumlah majalah sastra, ternyata yang terbit di Indonesia cuma satu buah, yakni Horison.

Menurutnya, keadaan ini sangat luar biasa minimnya. Apalagi jika Taufiq Ismail membandingkannya dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Di Mesir, dengan jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa, penduduknya mampu menerbitkan majalah sastra sebanyak 12 buah. Taufiq Ismail pun melontarkan,  semestinya   kita memiliki 48 buah majalah sastra.   Catatan lain yang dikemukakan dalam seminar tersebut adalah novel Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang pertama terbit 1949 dan beroplah 3. 000 eksemplar,  hingga tahun 2000  jumlah eksemplarnya tidak berubah.  Sebuah ironi, memang!

Munculnya budaya kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini salah satunya disebabkan oleh tidak dikembangkannya nilai-nilai luhur dalam sistem budaya. Nilai kejujuran, ketertiban, tanggung jawab, pengendalian, kebersaman, keimanan, yang seharusnya berproses dalam pendidikan di sekolah, rumah, dan masyarakat –kemudian dicontohkan oleh pendidik, orang tua, dan pemuka masyarakat, serta dibaca dalam karya-karya sastra—ternyata tidak berlangsung seperti yang diharapkan.
_________________ 

TIGA PUISI KARYA JOSEPH BRODSKY*

Joseph Brodsky adalah penyair dan esais kelahiran Rusia (24 Mei 1940 – 28 Januari 1996), penerima Nobel Sastra 1987. 

Ia diusir oleh pemerintah Uni Sovyet setelah diadili sebagai "parasit sosial" pada tahun 1964. Setelah itu ia menjadi eksil di beberapa negara Eropa, sampai akhirnya ia diterima sebagai warga negara AS pada tahun 1972. 

Berikut ini tiga buah puisi karya Brodsky yang diterjemahkan oleh Ahmad Yulden Erwin:


SURAT KEPADA SEORANG ARKEOLOG

Warga negara, musuh, anak mama, pemadat, memaki
sampah, pengemis, babi, refujew, verrucht;
kulit kepala sering tersiram air mendidih
hingga otak kecil merasa benar-benar matang.
Ya, kami telah tinggal di sini: dalam beton ini, bata, kayu
reruntuhan yang sekarang tiba saatnya menjerit.
Semua kabel kami disilangkan, berduri, kusut, atau terjalin.
Juga: kami tak mencintai perempuan kami, meski mereka sekandung.
Dentang suara linggis menghantam peti mati;
masih lebih lembut daripada mencaci diri kami sendiri.
Orang asing! hati-hati langkahi bangkai kami:
segala serupa bangkai bagimu adalah pembebasan sel kami.
Tinggalkan nama kami sendiri. Jangan rekonstruksi vokal mereka,
konsonan, dan sebagainya: mereka tak serupa burung-burung
tapi anjing pelacak gila yang mau memakan
jejaknya sendiri, kotoran, dan kulit, dan kulit.


DAEDALUS DI SISILIA

Sepanjang hidup ia membangun sesuatu, mencipta sesuatu.
Sekarang, untuk seorang ratu dari Kreta, seekor sapi palsu,
juga untuk suami yang istrinya tak setia kepada raja. Kemudian labirin, 
waktu untuk raja sendiri, untuk sembunyi dari tatapan bingung
seorang keturunan badung. Atau semacam alat untuk terbang, ketika
raja menemukan dirinya begitu sibuk dengan komisi baru.
Putra dari perjalanan pulang tewas terhempas ke laut,
seperti Phaeton, yang, kata mereka, juga ditolak atas perintah
ayahnya. Di sini, di Sisilia, kaku di atas pasir teriknya,
kini duduk seorang tua, mampu mengangkat
tubuhnya ke udara, jika dirampok segera ia malih rupa.
Sepanjang hidup ia membangun sesuatu, mencipta sesuatu.
Sepanjang hidup dari gerombolan ahli bangunan, dari para penemu,
ia mesti melarikan diri. Seakan penemuan dan ilmu bangunan 
sangat ingin membersihkan diri dari cetak biru mereka,
ingin anak-anak malu terhadap orang tua mereka. Agaknya, 
itulah replikasi dari sebentuk rasa takut. Ombak merayap ke pasir; 
di belakang, kilau gading pegunungan lokal.
Namun sudah ia temukan, pas masih muda, jungkat-jungkit kelam,
betapa kencang pencarian harmoni antara gerak dan diam.
Seorang tua lihat ke bawah, terhubung dengan pergelangan kaki rapuhnya
(agar tidak tersesat) tak lain seuntai benang panjang,
berdiri tegak sambil mendengus, dan kepala terjulur menyambut Hades.


NYONYA BELANDA

Dalam satu hotel: buku keberangkatan
lebih penting ketimbang kedatangan.
Diguyuri hujan Koh-i-noors bulan Oktober
hanya stroke tersisa dari otak telanjang.
Di negeri ini daratan ditimbun demi kanal,
bir berbau Jerman dan camar-camar bengal
di udara seperti sudut kotor suatu halaman.
Pagi menerobos ruang bersama mayat
ketepatan waktu, menempatkan telinganya
ke rusuk radiator dingin, mendeteksi bawah nol:
neraka harus dimulai di suatu tempat.
Segaris dengan itu, malaikat ikal
nampak lebih pirang, putih kulit keberuntungannya
alangkah indah, sementara ranjang menjelma kumparan
putus asa dalam mesin cuci di ruang bawah tanah.

-----
*Terjemahan Ahmad Julden Erwin @ 2012 - 2014

Friday, May 30, 2014

56 Tahun: Isbedy Luncurkan Buku Puisi ‘Menuju Kota Lama’

Syailendra Arief/Teraslampung.com


BANDARLAMPUNG—Memasuki usia 56 tahun pada 5 Juni mendatang, penyair Isbedy Stiawan ZS meluncurkan buku puisi terbarunya bertajuk Menuju Kota Lama. Buku terbitan Siger Publisher bekerja sama dengan Lamban Sastra, April 2014, ini menghimpun 89 puisi yang ditulis selama 5 tahun. Dibuka oleh puisi “Seseorang Datang” (2009) dan ditutup dengan “Senja yang Tak Biasa” (2014).

Isbedy menjelaskan, buku puisi terbarunya ini merupakan kado untuk hari jadinya yang ke-56 dan dicetak tidak banyak. “Saya ingin mengucapkan rasa syukur dengan meluncurkan buku puisi, karena saya merasa ‘penyair’ dibanding ‘cerpenis’,” ucap Isbedy yang tahun lalu meluncurkan Kitab Cerpen Perempuan di Rumah Panggung.

Konon pada peringatan hari kelahirannya tahun ini, ia berencana menggelar acara “56 Tahun Isbedy Stiawan ZS” sebagai upaya introspeksi atas anugerah umur yang diberikan Tuhan. Perayaan 56 tahun tersebut, rencananya akan di isi testimoni, pembacaan karya, dan diskusi.

“Ya saya memang punya rencana menggelar acara untuk memperingati kelahiran saya. Ide ini muncul dari ngobrol dengan Syaiful Irba Tanpa dan Arya Winanda. Semoga saja terlaksana, meski tidak pada saat 5 Juni,” jelas dia, Sabtu (31/5).

Menurut sastrawan "akumni" Forum Puisi Indonesia '87 ini, menjaga energi dan produktivitasnya karena kesungguhan dan disiplin. “Tanpa disipilin dan sungguh-sungguh, rasanya saya sudah lama ‘mati’ sebagai sastrawan,” tegasnya.

Dia mencintai yang telah menjadi pilihannya, yaitu sebagai sastrawan. Dari sini tak ada lain, jangan main-man. “Saya teringat pesan Budi Darma melalui pesan pendek (SMS), bahwa menjadi penulis jangan sekali berhenti. Karena berhenti sekali, kita akan mati,” katanya mengutip ucapan penulis buku Olenka itu.

Mengenai puisi-puisi dari penyair kelahiran Tanjungkarang (Lampung) ini, kritikus dan pengajar di FIB Universitas Indonesia Manneke Budiman dalam Dongeng Adelia mengatakan, tegangan antarberbagai nuansa batin yang campur-aduk ini dimanifestasikan dengan subtil lewat kata-kata kecil berkekuatan dahsyat yang rupanya menjadi kekhasan Isbedy dalam bersajak.

“Hampir semua sajaknya dibangun di persilangan hubungan antara seorang ‘aku’ dan seorang ‘kau’ yang bisa siapa saja, tetapi tak urung menghasilkan suatu komunikasi yang akrab dan personal antara penyair dan khalayaknya,” tulis Mannek Budiman (2012).

Sementara kritikus dan juga pengajar di FIB UI Maman S. Mahayana menilai cerpen-cerpen Isbedy laksana tarik-menarik model naratif yang berkisah dan ekspresi puitik yang metafortis. “Ada semangat membunikan fiksionalitas dalam konteks lokalitas, ada pula yang (men)coba menempatkan dunia realitas kultural dalam simbolisasi,” kata Maman dalam Perempuan di Rumah Panggung (2013).

Kita, kata Maman yang pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea, akan menemukan banyak gugatan pada tradisi atau peristiwa sosio-budaya yang seolah-olah sudah semestinya begitu.

Suminto A. Sayuti, kritikus asal Yogyakarta, saat mengulas 100 puisi Isbedy dalam Kota Cahaya (Grasindo, 2005) menilai, sajak-sajak Isbedy umumnya bersuasanakan sunyi ataupun terasing. Sebuah “nyanyi sunyi”.

“Isbedy berupaya memaknai sunyi itu, apa dan di mana pun situasi itu melekat pada sesuatu yang menjadi objek pilihannya,” ucap Siminto A. Sayuti.

Kesunyian, demikian Isbedy, adalah teman paling karib. Menurut Isbedy, pada kesunyian ia leluasa pergi dan pulang membawa dan menerima imajinasi. “Entah kenapa, pada keriuhan pun saya merasakan sunyi,” kata Isbedy.

Ya, sunyi. Memang menjadi kekhasan dari puisi-puisi Isbedy. Seperti puisi “Jika” ini, dalam kumpulan Menuju Kota Lama .

jika aku sepi
kaulau waktu
jika aku rindu
kaulah ombak
jika aku ombak
maukah kau
jadi pantainya?

: di bibirmu
kuhimpun kata
jadi puisi

(10122011)

Isbedy Stiawan ZS, kelahiran Tanjungkarang (Lampung), pada 5 Juni 1958. Menulis sastra pada saat remaja, dan pertama kali dimuat sebuah cerpennya di Swadesi pada 1979. Lebih dari 15 buku puisi dan cerpen telah diterbitkan, baik penerbit indie hingga penerbit besar seperti Gramedia, Grasindo, Bentang (grup MIZAN), bukupop, dan lain-lain.

Sebelum kumpulan puisi terbarunya, penyair yang telah diundang pada Ubud Writer and Reader Festival, Utan Kayu Literary Festival dan sejumlah kegiatan sastra di Tanah Air dan luar negeri ini pada tahun lalu meluncurkan Kitab Cerpen Perempuan di Rumah Panggung, kumpulan puisi Dongeng Adelia, Taman di Bibirmu, Anjing Dini Hari, Seandainya Kau Jadi Ikan, Perempuan Sunyi, Menampar Angin, Aku Tandai Tahilalatmu, dan lain-lain. (*/r)

Thursday, May 29, 2014

Teater MATAN Akan Pentaskan Drama "Hang Tuah"

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Hang Kafrawi
Pekanbaru–Teater MATAN memanggungkan Drama Komedi berjudul “Hang Tuah Agaknya…” di Tamab Budaya Riau, 30-31 Mei pukul 19.30 WIB. Untuk menyaksikan pementasan ini, penonton membayar tiket masuk sebesar Rp 15.000.

Menurut Hang Kafrawi, penulis naskah dan sekaligus sutradara, pementasan ini hanya semata-mata untuk menghibur penonton. Meski komedi, imbuh adik kandung Taufik Ikram Jamil ini, unsur-unsur pendidikan dari mitos Melayu ini tidak dihilangkan.

“Tokoh-tokoh dalam naskah ini, sama persis dengan tokoh-tokoh yang ada di Hikayat Hang Tuah, namun permasalahannya saja kita serongkan sedikit,” ujar Hang Kafrawi yang juga Ketua Teater MATAN ini, dihubungi Kamis (29/5) malam.

Unsur hiburan dikedepankan, jelas Hang Kafrwai, disebabkan penonton pada hari ini suka pementasan yang menghibur, seperi drama komedi. Dengan demikian, pementasan ini adalah salah satu cara menarik masyarakat untuk menonton pementasan teater.

“Hikayat Hang Tuah sangat dekat dengan orang Riau, khususnya orang Melayu. Dengan mengangkat khazanah Melayu maka kita mencoba menyuguhkan dengan format yang dapat menyenangkan hati penonton dan sekaligus mengenalkan tokoh-tokoh perkasa Melayu pada generasi muda Riau hari ini,” ucap Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak ini.

Hang Kafrawi menambahkan, konflik cerita masih tetap sama, yaitu bagaimana Hang Jebat mendurhaka kepada Sultan yang telah menghukum Hang Tuah dengan hukaman bunuh. Tun Teja dengan kerelaan tinggi harus melupakan Hang Tuah, yang telah menyerahkan dirinya kepada Sultan. Begitu juga kelicikan Patih Karmawijaya yang ingin menduduki jabatan Hang Tuah di kerajaan, dengan kelicikan Patih Karmawijaya menfitnah Hang Tuah telah melakukan perbuatan tidak senonoh di dalam istana kerajaan.

“Ceritanya masih sama, namun kostum, properti dan dekorasi panggung kita moderanka, Hang Jebat mungkin saja pakai senapang gajah, Hang Tuah pakai pisau silet, sultan pakai celana pendek. Dialog-dialognya kita bikin lucu,” ujar Hang Kafrawi membocorkan sedikit pemetasan yang akan dipegelarkannya bersama kelompok Teater MATAN.

Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (1)

Slamet Samsoerizal*)
                                                                                                                                               
Taufiq Ismail identik dengan puisi. Ini tidak berlebihan, jika menguntit perjalanan bersastranya. Pertama kali memublikasikan puisinya (berupa pantun teka-teki) pada 1953 dan dimuat Sinar Baroe, kala ia duduk di bangku SMA. Lalu berturut-turut memublikasikan puisi-puisinya melalui majalah Gelanggang, Siasat, Siasat Baru, Mimbar Indonesia, dan Kisah. Mulai dikenal luas sebagai penyair sejak ia menulis antologi puisi  Tirani (17 puisi) dan Benteng  (24 puisi) pada 1966.  Itu berarti 61 tahun sudah  hingga 2014 ini, kreativitasnya dalam bersastra merupakan pilihan hidup.
           
Kedua antologi puisi tersebut ditulisnya di tengah-tengah pergolakan mahasiswa di tahun 1966. Berkat kedua antologi puisi tersebut, ”Pemerintah terharu betul dan birokrasi menangis ” akunya dalam Temu Sastra 82 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.Namanya melambung dan menokoh sebagai sastrawan penting Angkatan 66.


Pendidik
           
Kemenonjolannya di bidang puisi, membuat orang tidak mengenal perjalanan bersastranya secara utuh. Taufiq Ismail sebenarnya (juga) menulis novel, cerpen, drama, dan berbagai esai budaya. Khusus mengenai novel, ia pernah menulis novel eksperimen yang pertama dan terakhir – jauh sebelum ia menentukan pilihan pada puisi – ketika ia duduk di bangku kelas satu Sekolah Rakyat Indonesia, Bergota, di zaman pendudukan Jepang di Semarang. Novel eksperimen itu ditulis di kertas bergaris dan hanya satu halaman (!) Hingga kini nasib novel itu terbengkelai.

Cerpen satu-satunya yang dipublikasikan berjudul ”Garong-garong” dan dimuat pada Majalah Horison  No. 3 Th. III, Jakarta, Maret 1968. Sedangkan cerpen keduanya berupa naskah ketikan dan belum dipublikasikan hingga kini, berjudul ”Kembali ke Salemba”.  Naskah drama satu-satunya berjudul ”Langit Hitam”, dimuat Majalah Horison, Agustus 1966. Sedangkan esai budayanya tersebar sejak 20 Juli 1963 dan dipublikasikan lewat Duta Masyarakat  dengan judul ”Pembinaan Teater Masa Kini” . Agaknya, tulisan tentang teater ini terkait dengan kiprahnya sebagai Ketua I Dewan Pengurus Pusat Badan Pembinan  Teater Nasional (1962 - 1964).
           
Ketokohannya di bidang puisi menenggelamkan kiprahnya di bidang lain seperti pendidikan. Padahal, melacak jejak benak atau pemikiran Taufiq Ismail di bidang pendidikan merupakan hal yang menarik. Kiprahnya selama 55 tahun di bidang sastera menyiratkan misi pendidikan yang diemban Taufiq Ismail dengan sadar. Pemikiran tersebut diungkapkan melalui puisi dan esai. Puisi-puisinya sarat makna tentang pendidikan. Esai-esainya dalam menggagas pendidikan –terutama dalam pengajaran apresiasi sastera--  begitu mencerahkan.

Kredo Bersastra
           
Puisi bertajuk ”Dengan Puisi,  Aku” ditulis  Taufiq Ismail pada tahun 1965. Puisi tersebut terdapat dalam antologi Buku Tamu Museum Perjuangan.  Visi kepenyairan Taufiq Ismail tercakup dalam puisi tersebut. Dengan Puisi yang kelak dinyanyikan kelompok musik Bimbo ini Taufiq Ismail ingin: bernyanyi,... bercinta, ... mengenang, ... menangis,   ... mengutuk, dan ... berdoa.    

Dalam sebuah wawancara dengan Redaktur sebuah Majalah SMA, tujuan atau misi bersasteranya tegas, yakni sujud kepada-Nya (lihat: Dua Puluh Sastrawan Bicara, 1984: 122)!  Sedangkan melalui Aku Ingin Menulis Puisi yang ditulis pada 1970 dan terkumpul pada buku Sajak Ladang Jagung merupakan misi Taufiq Ismail dalam menulis puisi. Melalui puisi tersebut, ia berkeinginan menulis puisi bermacam-macam tema dan ditujukan ke berbagai kalangan. Mari disimak cuplikan bait (1), (2), dan (3) puisi tersebut!

Aku ingin menulis puisi, yang tidak semata-mata berurusan dengan cuaca, warna, cahaya, suara, dan mega.

Aku ingin menulis syair untuk kanak-kanak yang melompat-lompat di pekarangan sekolah, yang main gundu dan petak umpet di halaman rumah, yang menangis karena tidak naik  kelas tahun ini.

Aku ingin menulis puisi yang membuat orang berumur 55 merasa 25 berumur 24 merasa 54 tahun, di mana pun mereka membacanya,bagaimana pun mereka membacanya: duduk atau berdiri.
           
Dalam ”Kata Penutup, Akhir Kalam” antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998: 198 – 205) Taufiq Ismail memaparkan proses kepenyairannya. Puisi-puisi yang ditulis memiliki pengaruh yang kuat akan seni pedalangan kala Taufiq Ismail bermukim di Yogyakarta dan seni Kaba ketika ia pindah ke Bukittinggi. Ritma suluk dalam Pedalangan begitu terngiang-ngiang senantiasa di telinganya, sangat dalam  mempesona. Begitu pula pengaruh Kaba yang menggelora. Ritma dan rima, aliterasi dan asonansi yang ditonjolkan Kaba sangat menghunjamkan pesona bagi Taufiq Ismail.   Demikianlah, melalui puisi-puisi yang ditulis, Taufiq Ismail ingin berkabar. ”Saya mau menyampaikan berita, mendalang dan berkisah lewat puisi saya, kepada pendengar dan pembaca saya.”
           
Itu sebabnya, ketika Taufiq Ismail menuliskan buram pertama puisi, ia selalu membayangkan pendengar acara baca puisi yang akan berbagi nikmat menyimaknya. ”Puisi saya terbanyak ditulis dengan kesadaran akan hadirnya audiens” paparnya. Karena puisi yang ditulisnya ingin berkabar, maka wajar bila ia menolak anggapan bahwa puisi harus padat, harus sedikit kata-kata. Tauifq Ismail berargumen: ”Daripada puisi memenuhi syarat padat dan minimum kata tapi tak indah serta gagap berkomunikasi, saya memilih puisi banyak kata tapi cantik, menyentuh perasaan, laju menghilir dan komunikatif. Puisi saya wajib musikal. Kata-kata harus sedap didengar. Tentu saja kata-kata itu mengalami ketatnya seleksi. ”Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, substansi berkabar selalu dijaganya.
           
Substansi puisinya adalah angan-angan, kenyataan, kepekaan, kekenyangan, kelaparan, nyeri, seri, cinta, keasyikan, penindasan, penyesalan, kecongkakan, kebebalan, tekad, ketidakpastian, kelahiran, maut, kefanaan, ke-Yang Gaiban—semua berbaur di balik lensa luar biasa lebar tempat kita bersama membaca panorama kehidupan masa kini dan sejarah masa lalu lewat sudut pandang berbeda. ”Puisi saya puisi berkabar. Sebagai narasi dia menyerap dering crek-crek, gesekan rebab, dan dengung salung di dalamnya sebagai musikalitas kata tersendiri, dengan sentuhan jenaka di sini-sana.”

Taufiq Ismail telah menulis ratusan puisi sebagaimana terkumpul dalam antologi Tirani (17 puisi) Benteng (24 puisi), Buku Tamu Museum Perjuangan (19 puisi), Puisi-puisi Sepi (9 puisi), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit( sebuah puisi panjang), Sajak Ladang Jagung (37 puisi), Manifestasikumpulan bersama: Armaya, Djamil Suherman, Goenawan Mohamad, Hartoyo Andangdjaya, Mohammad Diponegoro, M. Saribi Afn, dan M. Yoesmanan (Taufiq Ismail menyumbangkan 5 puisi) 16 sajak terjemahan, dan 9 puisi berbahasa Sunda. Hingga tahun 1984, Pamusuk Nasution mencatat 39 puisinya yang belum dikumpulkan, dan pada 1998 Taufiq Ismail kembali menerbitkan 100 puisinya bertajuk Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Mengingat hingga kini Taufiq Ismail masih kreatif dan produktif menulis puisi untuk berbagai kesempatan, berbagai tema, dan pada berbagai acara,  maka tidak menutup kemungkinan jutaan puisi (bakal) ditulisnya. 
_______________   
*) Peneliti pada Pusat Kaji Darindo


Ludruk Karya Budaya Mojokerto Peringati 45 Tahun Berkiprah di Dunia Seni Tradisi

Kelompok seni Ludruk Karya Budaya Mojokerto (ist)
Aan Frimadona Rosa

MALANG, Teraslampung.com - Kelompok kesenian Ludruk Karya Budaya (LKBM) Kota Mojokerto menggelar rangkaian kegiatan seni untuk memperingati 45 tahun kiprahnya  di dunia kesenian  tradisi.

Selain  peluncuran dan bedah buku "Mbeber Urip" karya Cak Edy Karya dan Kidungan Jula-Juli selama 12 jam nonstop, pada Rabu malam (28/5) juga digelar pementasan ludruk berjudul “Keris Tunjung Biru”,  di Taman Krida Budaya Jawa Timur, di Kota Malang. Lakon yang disutradarai Mijil Pawestri itu bersumber dari cerita rakyat Jawa.

Ratusan penonton pun antusiss menyaksikan pertunjukan berdurasi sekitar dua jam itu.Penonton tidak hanya berasal dari Malang, tetapi juga dari beberapa daerah kabupaten dan kota lain di Jawa Timur.

Selain ketoprak dan wayang kulit, ludruk merupakan kesenian tradisional yang sudah lama mengakar dalam masyarakat Jawa Timur. Pada awal pertunjukan biasanya akan ditampilkan tarian Remo.

Pentas tari pada acara bedah buku. (ist)
Meskipun zaman sudah berubah dengan makin banyaknya jenis seni modern, kesenian ludruk masih hidup di Jawa Timur. Menurut Eko Edy Susanto, pimpinan LKBNM, warga Jawa Timur sampai sekarang menggemari ludruk karena cerita yang dibawakan sangat dekat dengan kehidupan mereka. Selain cerita rakyat, cerita yang diangkat dalam pementasan ludruk menurut Eko adalah cerita sehari-hari.

“Kami akan terus setia mementaskan ludruk dengan kisah-kisah rakyat,” kata Eko Edy
Bahasa yang dipakai pun juga bahasa sehari-hari. Diselingi dengan aneka humor yang segar, membuat  ludruk menjadi tontotan disukai masyarakat Jawa Timur.

Eko Edy mengatakan kelompok kesenian Ludruk Karya Budaya Mojokerto lahir pada 29 Mei 1969. Selama puluhan tahun berkiprah di dunia seni tradisiional, kelompok Ludruk Karya Budaya Mojokerto sudah mendapatkan banyak mendapatkan perhargaan.

Tuesday, May 27, 2014

Setiap Bulan, Teater Matan Pentaskan Drama Komedi


Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Salah satu produksi Teater Matan (dok. TM)
Pekanbaru--Teater Matan kembali akan memproduksi karya mereka. Kali ini, kelompok teater yang beralamat di Perumahan Permata Ratu, akan memproduksi pementasan drama komedi setiap akhir bulan.

Menurut Sekretaris Teater Matan Monda Gianes di sekretariat Teater Matan, Jalan Parit Indah Pekanbaru, untuk program perdana akan dipentaskan naskah bertajuk “Hang Tuah Agaknya…” yang ditulis sekaligus disutradarai Hang Kafrawi. Pementasan ini akan berlangsung pada 30-31 Mei 2014 di Taman Budaya Riau.

“Untuk memestaskan Drama Komedia ini, kami berkerja sama dengan Taman Budaya. Kita pun sudah melayangkan surat kepada Kepala Taman Budaya,” ujar Monda Gianes.

Menurut dosen teater di Akademi Kesenian Melayu Riau ini, program pementasan drama komedi satu bulan sekali ini merupakan program Teater Matan yang sudah lama direncanakan.

Monda juga mengatakan, pementasan ini bersifat hiburan sehingga pada akhir pekan, tepatnya setiap akhir bulan, ada tontonan alternatif di Pekanbaru.

“Kita mencoba memciptakan tontonan menarik yang bersifat hiburan sebagai tontonan alternatif bagi masyarakat.  Karya seni, khususnya teater memungkinkan untuk dijadikan tontonan alternatif untuk menghibur orang,” ucapnya.

Monda Gianes menambahkan bahwa  cerita yang diangkat dalam dram komedi ini berasal dari kisah-kisah masa lalu, dan tidak tertutup kemungkinan peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di Riau. “Kita sesuaikan dengan kondisi. Untuk yang pertama ini, kita mulai dari cerita masa lalu ‘Hang Tuah’.  Cerita yang diangkat dalam drama komedi ini akan berganti-ganti setiap bulannya,” ucap lelaki berkulit putih ini.

Hang Kafrawi
Hang Kafrawi, penulis naskah dan sutradara dilahirkan di Telukbelitung, Bengkalis, 22 Maret 1974. Ia juga dikenal sebagai sastrawan Riau, dan karya-karya sastranya—cerpen dan puisi—telah dipublikasikan di sejumlah media massa lokal dan nasional, serta dalam berbagai antologi bersama.

Adik kandung Taufik Ikram Jamil ini menyelesaikan S2 dari Jurusan Penciptaan Teater ISI Yogyakarta (2005). Karya-karya cerpennya dapat dijumpai dalam kumpulan seikat Dongeng tentang Wanita, Pertemuan dalam Pipa, dan banyak lagi. Sebanyak lima buku puisi bersama juga memuat karya-karyanya.

Sedangkan naskah drama yang dilahirkan sekaligus ia menjadi sutradara, di antaranya “Roh, Manusia-manusia”, “Orang-orang Kalah”, “Baginda Sultan” dan lain-lain. Selain berkiprah di dunia kesenian, saat ini ia berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) menjabat direktur, dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.(*)





Temu Penyair dari Negeri Poci Dihelat di Tegal



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Tegal—Temu Penyair dari Negeri Poci akan dihelat di Tegal, 20-22 Juni mendatang. Kegiatan ini berkaitan peluncuran antologi puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit, penerbit Kosakatakita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil.

Menurut Ketua Pelaksana Temu Penyair dari Negeri Poci, M. Enthieh Mudakir, acara ini akan dilaksanakan di Gedung Wanita-Dewan Kesenian Tegal Jalan Setiabudi, Kota Tegal. Untuk memudahkan urusan, panitia meminta para penyair yang akan hadir dapat menghubungi panitia.

“Karena bagi penyair yang telah melapor, panitia menyediakan akomodasi memadai di Hotel Aleksander, Jalan Jendral Sudirman No 30, Tegal,” kata Enthieh didamping sekretaris pelaksana Dyanindra Srikumara (Nindra), Selasa (27/5) malam.

Untuk penyair dari luar kota/luar pulau yang ingin hadir dalam acara ini, kata Enthieh kagi, diharapkan menghubungi melalui SMS kepada Sdr. Adri Darmadji Woko (Jakarta) dengan nomor kontak 08556-177-6210 atau  Sdr. Joshua Igho (Tegal, 0877-300-76863).

“Paling lambat sebelum tanggal 20 Juni. SMS dalmm format:  Nama Penyair, Asal Kota, Perkiraan Sampai Tegal,” jelas Enthieh lagi.

Lebih lanjut dikatakan Mudakir, temu penyair ini akan diisi peluncuran antologi puisi Dari Negeri Poci: Negeri Langit, pembacaan puisi, dan diskusi mengenai perpuisian Indonesia.

Antologi puisi yang meminjam ikon Poci bagi Kota Tegal ini menghimpun sebanyak 153 penyair Indonesia, baik menetap di Tanah Air mauoun luar negeri.  Penerbitan antologi puisi "Negeri Poci" pertama kali digagas untuk mengingat suatu kurun Kota Tegal pernah tercatat sebagai "gudang penyair" andal di Tanah Air.

Di Tegal juga dikenal pennyair Piek Ardijanto Supriadi yang banyak menginspirasi para penyair muda kala itu. Pak Piek, demikian biasa disapa, tinggal di Gang Marpangat, Tegal, saat ini sudah tiada. Selain PAS, Tegal juga memiliki Widjati, penyair "eksentrik" dan sesepuh bagi penyair muda di Indonesia.



Lembaga Daulat Bangsa Terbitkan Antologi Puisi Anti-Terorisme



R. Usman, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com



Ilustrasi Terorisme
Jakarta—Persoalan terorisme di Tanah Air layaknya momok yang amat menakutkan bagi keberlangsungan berbangsa. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum bisa menghapus praktik para teroris.

Menyikapi hal itu, Lembaga Daulat Bangsa akan menerbitkan antologi puisi bertema “Puisi Anti-Terorisme”. Untuk itu, lembaga ini mengundang para siswa, mahasiswa, penyair, dan masyarakat umum untuk mengikuti penerbitan buku antologi puisi tersebut.

Menurut penyair Bambang Widiatmoko, ketentuan untuk penerbitan antologi puisi “Puisi Anti-Terorisme” ini adalah peserta bebas menulis puisi dengan tema tersebut. Naskah puisi diketik dalam 1.5 spasi dengan Times New Roman, Font 12, panjang puisi maksimal 40 baris.

Pada lembar puisi, dilampiri biodata berbentuk narasi paling panjang 15 baris, kata Bambang melalui rilisnya. “Panitia menerima puisi, baik belum ataupun sudah dipublikasikan dalam bentuk apa pun,” katanya.

Setiap peserta, kata Bambang lagi, diperkenankan mengirim 2 sampai 5 judul puisi. “Naskah puisi diterima panitia paling lambat 30 Juni 2014, dan dikirim melalui pos elektronik/E-mail ke  soffametal@yahoo.com dan bwdwidi@yahoo.com.”

Kurator yang diketuai Bambang Widiatmoko akan memilih dan menentukan puisi yang layak dimuat dalam buku antologi puisi “Puisi Anti Terorisme”. Para peserta yang puisinya terpilih akan menerima 2 (dua) buku sebagai bukti pemuatan. “Selain itu akan diundang dalam acara peluncuran dan diskusi buku tersebut.”

Karena penerbitan buku ini dilakukan secara mandiri, pantia tidak menyediakan honorarium. “Kecuali 3 puisi terbaik akan memperoleh hadiah penghargaan,” ujar penyair yang baru saja meluncurkan buku puisi Jalan tak Berumah ini.

Pertemuan Penyair Nusantara Harus Jadi Ajang Kreatif

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Fakhrunnas MA Jabbar
Bandarlampung—Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) digagas pertama kali di Medan untuk menjaga keseragaman semangat dan ruh penyair di kawasan negara serumpun Nusantara.

Hal itu diungkapkan Fakhrunnas MA Jabbar, salah satu peserta yang ikut menubuhkan PPN agar sinambung di Medan, yang dihubungi melalui telepon, Selasa (27/5) pukul 22.10.

Dikatakan sastrawan asal Riau ini, PPN merupakan event sastra yang berjalan lancar, berkembang cepat dan berkesinambungan sejak digelar pertama kali di kota Medan. “

Sesuai awal kelahirannya, PPN dimaksudkan sebagai ajang pertemuan para penyair di kawasan negara serumpun nusantara,” katanya.

Dia mengatakan, kita patut bersyukur, gerakan dan kegiatan PPN masih dapat dipertahankan melalui penyelenggaraan bergiliran antarkota dan antarnegara. Untuk menjaga keseragaman semangat dan ruh, pada PPN di Medan ditubuhkan Tim Koordinator/ Kurator Tetap di masing-masing negara.

“Indonesia menempatkan beberapa orang yang dipandang dapat mewakili pulau-pulau besar. Selanjutnya bagi kota/negara tuan rumah biasanya dibentuk Tim Ad Hoc (sementara) agar sinkron dalam penyelenggaraannya,” jelasnya.

Fakhrunnas menyebut tim koordinatir/kurator tetap di masingpmasing negara itu, antara lain Fakhrunnas MA Jabbar untuk Riau, Kepulauwan Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Lalu Isbedy Stiawan ZS untuk wilayah Lampung, Sumatera SeLatan, Bangka Belitung, dan Jambi. Kemudian Ahmadun Yosi Herfanda bagi wilayah/kota Jakarta, Jawa, dan Indonesia bagian Timur.

“Namun, dalam penyelenggaraan PPN dari waktu ke waktu terkesan hanya bersifat auto pilot. Tim Kurator tidak lagi dilibatkan secara penuh dalam menetapkan tema acara, para pemakalah dan penetapan calon-calon penyair yang diundang,” tegas Fakhrunnas.

Padahal, katanya lagi, apabila Tim Kurator tidak lagi diperlukan sebaiknya diputuskan dalam forum lengkap sehingga Tim Kurator Tetap yang sudah ditetapkan dulu dinyatakan sudah bubar.

Selanjutnya, dia menambahkan, apakah Tim Kurator dibentuk baru dalam setiap event PPN atau melalui format baru yang dapat dibahas secara lebih intens.

Lebih jauh Fakhrunnas menilai, secara umum PPN ini sangat bermanfaat dalam menyemarakkan aktivitas perpuisian di kawasan Nusantara. Oleh sebab itu, ucap dia, forum ini diharapkan dapat mempertemukan para penyair lintas generasi dengan kriteria yang dapat sama-sama disepakati.

“Dengam demikian, tak ada penyair yang merasa ditinggalkan atau diistimewakan.”

Bagi Fakhrunnas, kreativitas dan kualitas karyalah yang harus dikedepankan. PPN harus menjadi ajang pertemuan kreatif dan bukan sekadar silaturahim atau kumpul-kumpul yang tidak mengutamakan karya kreatif yang dilahirkan.

Monday, May 26, 2014

Lomba Baca Puisi se-Indonesia Berhadiah Total 50 Juta

Jakarta, Teraslampung.com—Untuk kedua kalinya Yayasan Panggung Melayu bekerja sama dengan Indopos, Dewan Kesenian Jakarta, Yayasan Sagang, dan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia akan menggelar Lomba Baca Puisi se-Indonesia.

Menurut Asrizal Nur, ketua pelaksana dari Yayasan Panggung Melayu, kegiatan ini berkaitan perayaan Hari Puisi yang telah dideklarasikan sejumlah penyair Indonesia di Pekanbaru, Riau, tahun 2012.

Merayakan Hari Puisi, katanya, dengan cara mengapresiasi, menyosialisasi, dan pemberian penghargaan. “Salah satunya dengan perlombaan baca puisi se-Indonesia,” katanya.

Dikatakan Asrizal Nur, Lomba Baca Puisi ini kali kedua. Tahun lalu lomba baca puisi memperebutkan hadiah total Rp50 juta ini mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca puisi se-Tanah Air. Dewan juri terdiri atara lain Marhalim Zaini (Riau) dan Sosiawan Leak (Solo). Kegiatan lomba berlangsung pada bulan Ramadhan.

Lomba Baca Puisi merayakan Hari Puisi 2014 akan dilangsungkan di Taman Ismail Marzuki, 12-17 Juli 2014. Pendaftaran sudah dimulai sejak 1 Maret dan ditutup pada 5 Juli 2014 pukul 12.00 WIB.

Peserta, kata Asrizal, dapat mendaftar melalui email yayasanpanggungmelayu@yahoo.com. Formulir pendaftaran dapat diunduh akun facebook: Hari Puisi, Panggung Melayu. “Bisa juga ke secretariat Yayasan Panggung Melayu, Jl. Kavling UI Timur VI Blok D.4 Tanah Baru, Kota Depok. Atau ke Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Jl. Cikini Raya Jakarta Pusat,” jelas Asrizal Nur.

“Peserta menyerahkan uang pendataran Rp100 ribu yang ditransfer ke rekening Yayasan Panggung Melayu,” kata dia.

Para pemenang 1, 2, dan 3, selain mendapatkan uang total Rp50 juta dari Yayasan Sagang dan Indopos, juga mendapatkan piala dan piagam. (rl/isb)

Saturday, May 24, 2014

“Dari Negeri Poci 5” Siap Diluncurkan di Tegal

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Bandarlampung—Menyebut poci maka ingatan pun pada Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Dan, Tegal seolah hanya dikenal dengan warung nasi di pinggir jalan alias warung tegal (warteg). Padahal, daerah ini pernah melahirkan banyak sastrawan dan Berjaya hingga kini.

Sebut saja sastrawan kelahiran Tegal, selain Agus Noor, dari sini ada Nurhidayat Poso, Lanang Setiawan, Entih Mudakir, dan banyak lagi. Bahkan, sepuh penyair Tegal Piek Ardijanto Soeprijadi (almarhum) dikenal sebagai penyair Tegal dan dari tangannya banyak melahirkan penyair muda kala itu.

Nama Piek Ardianto Soeprijadi (PAS) akan selalu dikaitkan dengan Jalan Marpangat 48, itulah rumah penyair ini. Sebenarnya masih ada penyair sepuh dan yang ini terbilang eksentrik, yaitu Widjati (juga almarhum).

Para penyair muda kala itu, sadar atau tak sengaja, berkat tangan PAS akhirnya tumbuh menjadi penyair. Sebut saja Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhi, dan sebagainya.

Sepeninggal penyair Pie, penyair generasi berikutnya ingin mengabadikan Kota Tegal sebagai “Negerinya Poci” --kota teh dan ketupat glabed-- diawali penerbitkan antologi puisi para penyair Indonesia, Dari Negeri Poci hingga Dari Negeri Poci 3. Pada penerbitan antologi Dari Negeri Poci 4 dan 5, ditambah judul: Negeri Abal-Abal serta Negeri Langit.

Kedua buku terbitan terakhir diprakarsai Komunitas Radja Ketjil Jakarta bekerja sama dengan penerbit Kosakatakita. Di komunitas ini bernaung antara lain Kurniawan Junaedhi, Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul—untuk menyebut beberapa nama.

Buku antologi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit akan diterbitkan pertengan Juni 2014. Buku ini menghimpun 153 penyair Indonesia setebal 730 halaman, akan diluncurkan di Kota Tegal, 20-22 Juni mendatang.

Tim Kurasi yang terdiri antara lain Adri Darmadji Woko, Kurniawan Junaedhi dkk., beberapa waktu mengabarkan, setelah membaca ulang secara seksama, dan melakukan penilaian baik dari aspek estetika maupun non estetika,  akhirnya Tim Kurator berhasil memilih 153 nama penyair yang karyanya akan dimuat dalam buku Dari Negeri Poci 5.


Ke-153 penyair terkurasi ini dari sebanyak 400-an penyair Indonesia, baik berdomisili di Indonesia ataupun luar negeri.

“Perlu diketahui, buku Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5 ini akan diluncurkan dalam acara ‘Semalam di Negeri Poci’, 20 - 22 Juni 2014   di Tegal, Jawa Tengah,” kata Adri Darmadji Woko..

Berikut ke-153 penyair dalam antololgi puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit

1.    A‘YAT KHALILI
2.    ABAH YOYOK 
3.    ABDUL  SALAM H.S.
4.    ADRI DARMADJI WOKO
5.    AHITA TEGUH SUSILO
6.    AHMAD MUSABBIH
7.    AHMAD WAYANG
8.    ALDY  ISTANZIA  WIGUNA
9.    ALEX  R. NAINGGOLAN
10.  ANTON SULISTYO
11.  ARIEF HIDAYAT
12.  ARIEF SETIAWAN TEGA
13.  ARINDA RISA KAMAL
14.  ARIEYOKO
15.  ARTHER PANTHER OLII
16.  ASPAR  PATURUSI
17.  ASEP SAIFUL ANWAR
18.  AYID  SUYITNO PS
19.  BADRUDDIN SA.
20.  BAGUS BURHAM
21.  BAMBANG WIDIATMOKO
22.  BENI SETIA
23.  BETTA  A. SETIANI
24.  BOY REZA UTAMA
25.  BUDHI SETYAWAN
26.  CUNONG NUNUK SURAJA
27.  DALASARI PERA
28.  DARU MAHELDASWARA
29.  DEDET SETIADI
30.  DG KUMARSANA
31.  DHARMADI
32.  DIAN RUSDIANA
33.  DIMAS ARIKA MIHARDJA
34.  DIMAS INDIANA SENJA
35.  DWI RAHARIYOSO
36.  EDDY PRANATA PNP
37.  EKA BUDIANTA
38.  EKOHM ABIYASA
39.  ELIS TATING BARDIAH
40.  ELLY ANDROMEDA
41.  ENDANG SUPRIYADI
42.  ENDANG WERDININGSIH
43.  ERNI ALADJAI
44.  ERSA SASMITA
45.  ESTI  ISMAWATI
46.  EWITH BAHAR
47.  FAKHRUNNAS MA  JABBAR
48.  FARRA YANUAR
49.  FIRDA RASTRA
50.  FITRAH  ANUGERAH
51.  FRIEDA AMRAN
52.  GALEH PRAMUDIANTO
53.  GUNOTO SAPARIE
54.  GUS NOY
55.  HAMZAH   MUHAMMAD
56.  HANDRAWAN NADESUL
57.  HANDRY TM
58.  HANNA YOHANA
59.  HARDHO SAYOKO SPB
60.  HASAN BISRI  BFC
61.  HENDRA SAPUTRA
62.  HENDRO SISWANGGONO
63.  HENI HENDRAYANI
64.  HERMAN SYAHARA
65.  HIDAYAT RAHARJA
66.  HILMAN SUTEDJA
67.  HUSNUL KHULUQI
68.  IBE  S.  PALOGAI
69.  IMAM SAFWAN
70.  INTAN PERTIWI
71.  IRAWAN MASSIE
72.  ISBEDY STIAWAN  ZS
73.  JANE ARDANESHWARI
74.  JOSHUA IGHO
75.  JULIA  F. GERHANI
76.  KHOER  JURZANI
77.  KIKI SULISTYO
78.  KINANTHI  ANGGRAENI
79.  KURNIA EFFENDI
80.  KURNIAWAN JUNAEDHIE
81.  LAILATUL KIPTIYAH
82.  LASINTA ARI NENDRA
83.  LATIEF S. NUGRAHA
84.  LINA KELANA
85.  LINTANG ISMAYA
86.  LY. JAMILAH
87.  M. ENTHIEH MUDAKIR
88.  M. RIAN AF
89.  MAHBUB JUNAEDI
90.  MARIATI ATKAH
91.  MARINA NOVIANTI
92.  MATRONI MUSERANG
93.  MOH. MIR’OJ  ADHIKA RS
94.  MOHAMAD CHANDRA IRFAN
95.  MUCHLIS DARMA PUTRA
96.  MUH. ALI SARBINI
97.  MUHAMAD BAIHAQI
98.  MUHAMMAD ASQALANI ENESTE
99.  MUHAMMAD TAUFAN
100.NERO TAOPIK ABDILLAH
101.NI  MADEPURNAMASARI
102.NIA SAMSIHONO
103.NONA G. MUCHTAR
104.NOVY  NOORHAYATI
105.NYOMAN  SUKAYASUKAWATI
106.OEKUSI ARIFINSISWANTO
107.ONS UNTORO
108.POETRY ANN
109.PRADITA NURMALIA
110.PRIJONO TJIPTOHERIJANTO
111.PRINGADI ADI SURYA
112.R. YULIA
113.RAHADI ZAKARIA
114.RAHMAT ALI
115.RAMA FIRDAUS
116.RAMA PRABU
117.RATNA AYU BUDHIARTI
118.REDDY SUZAYZT
119.RIAN IBAYANA
120.RIEKA ISTIANINGRUM
121.RIKI UTOMI
122.RINI FEBRIANI
123.RISMUDJI RAHARDJO
124.RITA OETORO
125.ROMLI BURHANI
126.SELENDANG MAYANG
127.SERUNI TRI PADMINI
128.SETIYO BARDONO
129.SHINTA MIRANDA
130.SLAMET RIYADI SABRAWI
131.SOFYAN RH ZAID
132.SONI FARID MAULANA
133.SONNY  H. SAYANGBATI
134.SRI WINTALA ACHMAD
135.STEBBY JULIONATAN
136.SUSY ANING SETYAWATI(SUS S. HARDJONO)
137.SUTIRMAN EKA ARDHANA
138.SYARIFUDDIN ARIFIN
139.SYIHABUL  FURQON
140.TAWAKAL  M.IQBAL
141.THOMAS HARYANTOSOEKIRAN
142.TJAK  S.  PARLAN
143.UDIN  SAPE BIMA
144.UJIANTO SADEWA
145.UKI BAYU SEDJATI
146.VANERA  EL ARJ
147.WAWAN KURNIAWAN
148.WILLY FAHMI AGISKA
149.WINDU MANDELA
150.YADI RIYADI
151.YANIE WURYANDARI
152.YOGIRA YOGASWARA
153.YVONNE  DE FRETES



Puisi-puisi Arther Panther Olii

3 Kwatrin Untukmu

: Hera


1/
Kwatrin tentang Lindap

Niatan di hatimu jangan sesekali kau ubah. Jika memungkinkan
Tuk semayamkan rembulan di bilik hatimu, maka hadiahilah langit
Dengan doa-doa tanpa dusta. Tanpa angkara, tanpa pernah hidupkan
Perkara antara mana yang lebih kelam: nasib atau takdir?
 
2/
Kwatrin tentang Ragu

Sejak dipertemukan oleh waktu, kita lebih banyak berbahasa sepi. Kau
Atau aku yang mulamula menghidupkan debar terpanjang? Debar yang 
Simpulkan sabar tak terkira. Mana kala pagi bertandang, sisa cahaya
Malam melagukan elegi tentang betapa timpangnya perbedaaan kauaku.
 
3/
Kwatrin tentang Ngilu

Diterbangkan begitu jauh ketegaran yang pernah kau rajut. Langit
Mendadak tanpa warna di hari perpisahan. Aku akan menyicil kehidupan
Yang serba terahasiakan. Dan kutinggalkan kau untuk berdiri di sebuah
Persimpangan yang sangat asing. Kau pun basah oleh gerimis paling amis.


Manado, September 2011.

Van Gogh: "The Olive Trees"



Sementara Itu, Puisi Terus Mencatat Kenangan Tentang Engkau

: Fajar Marta Chaniago


ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

tersenyumlah engkau di sana, saudaraku
karena saat ini kucatat engkau dalam puisi
adalah kenangan itu yang hendak sua
kenangan yang melulu julurkan kehangatan

lalu, harus kau urai juga apa-apa yang kau rawat
di benakmu yang ditikam onak kerinduan
tentang aku, tentang kami yang nama-namanya
begitu pelangi melengkung indah di langit hatimu

pada suatu malam, di kota ternate
kita susuri anak-anak tangga kedaton tua
sembari tatap mata terus bertukar kekaguman
pertemuan ini kehendak puisi jua, ujarmu

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

sementara itu, puisi terus mencatat
kenangan tentang engkau, tentang lembut
tutur katamu, tentang semangatmu
yang lebih bara dari larva gamalama

ada yang tak akan berhenti diriwayatkan, saudaraku
jejak langkah kita di sepanjang jalan kota ternate
sungguh magis, menjauhkan tangis dari
utuh bebayang kita yang teguh berkibar di tepi pantai sulamadaha

pada suatu senja, di kota ternate
kita sesaki sudut-sudut batu angus
seraya menghitung gugusan debar kebanggan
yang telah diciptakan oleh puisi

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

ledakkanlah tawamu di sana, saudaraku
karena sesaat lagi puisi akan usai menggelitik
ruang sadarmu, menghantarkan kenangan
putih, seputih buih-buih air laut ternate

lantas, pernahkah menyusut ingatan
akan sebuah perayaan pertautan beberapa hati?
o, usirlah lawatan jemu, rawatlah sengatan penantian
di sejauh terbangnya puisi, rindu harus terus mengiringi

pada suatu siang, di kota ternate
kita gerahkan rumah makan floridas
sembari memotret raga pulau seribu di kejauhan
sesiang itu, peluh bukanlah hasil sebuah keluh

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

sementara itu, puisi tiada letih
terus mencatat kenangan tentang engkau,
tentang santun bahasamu, tentang gairah hidupmu
yang lebih nyala dari mentari pagi di kota ternate

ada yang tak jemu dituturkan kembali, saudaraku
sebuah pelukan di antara kesangaran benteng kalamata
amatlah teduh, suguhkan kegirangan sarat nuansa
perpisahan bukanlah bagian lembaran asa

pada suatu pagi, di kota ternate
kita riuhkan kafe hotel amara
seraya saling berebutan menjelaskan seberapa bahagia
puisi terus mencatat kenangan sebuah pertemuan


Manado, 27072012.





Kisah Sepasang Tangan yang Tak Mau Diam Tatkala Subuh

Tangan Kanan

Aku dimulakan oleh mimpi. Dibatas-batasnya yang absurd, aku naik-turunkan ayunan. Di benaknya yang mesum, senyumku menjadi pecahan-pacahan culumus. Dirumuskannya aku dalam sebuah doa, lalu dihempaskannya aku ke dalam dosa. Senantiasa. Selalu. Setiap dingin itu menekuri ingin.

Tangan Kiri

Aku dihentikan oleh kegilaan. Pekik yang disumbat oleh lelehan embun dari kelopak mimpi. Bernapaslah dengan teratur sebelum segenap angan terbentur. Pada dinding subuh, sekalimat tanya hanya menjadi hiasan kusam. Pada ranjang subuh, kegelisahan adalah samudera dengan ombak yang kusut. Susut. Mengerucut. Setiap kali hasrat itu datang dengan wajah-wajah yang sama; wajah sepi, wajah sendiri. Sepenuh perih.


Manado, 18092012.





Langkah yang Mengayunkan Ketabahan


Usai percakapan dengan terik, kusimpan segala pekik
Bebayang kemudian luruh, ikuti ihwal suluh

Sederetan tanya itu; kalimat-kalimat rancu
Hendak ke mana hati mencari cinta paling arti?

Langkah terus berdegap, sepenuh gegap
Meniadakan gelap, menghanyutkan lelap

Berpulanglah riwayat pada sepasang mata yang sarat
Masa lalu yang enggan, masa kini yang segan

Angin membaca keinginan, langit menampung ketabahan
Irama-irama debu paling paham mengirim pesan-pesan kelabu

Manalah sempat kubasuh wajah
Siang terlalu panjang datang menjajah

Di beranda malam, langkah sejenak terhenti
Dan segenap kecemasan dibekap letih


Manado, 18092011


Arther Fanther Olii, kelahiran Menado. Pernah diundang setelah lolos kurasi karya pada Temu Sastrawan Indonesia (TSI) di Ternate, Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi. Karya-karyanya tersebar di pelbagai media dan antologi puisi bersama.