Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Wednesday, June 11, 2014

Setelah 17 Tahun, Nanang Terbitkan Kumpulan Puisi “Apologia”



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Nanang Ribut Supriyatin adalah penyair Jakarta. Pertama kali merintis kepenyairannya dalam “asuhan” Korri Layun Rampan dan Slamet Raharjo Rais. Pada kurun 1980-an, ia termasuk sastrawan produktif. Sehingga mengantarnya sebagai salah satu dari 80-an penyair Indonesia diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengikuti Forum Puisi Indonesia pada 1987.

Selepas 1990, Nanang R. Supriyatin mulai surut dari ranah sastra Indonesia. Kesibukannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu kelurahan di Jakarta Selatan, boleh jadi namanya kurang berkibar di dunia kepenyairan.

Nanang R. Supriyatin, kelahiran Jakarta 6 Agustus 1962, terakhir kali menerbitkan buku puisi pada 1996, berjudul Bayangan. “Setelah 17 tahun tidak menerbitkan buku puisi tunggal, Oktober lalu saya luncurkan antologi tunggal Apologia,” kata Nanang dihubungi melalui telepon, Rabu (11/6) sore.

Menurut Nanang, tidak menerbitkan antologi puisi tunggal bukan berarti dirinya tidak berkarya. Bahkan, di tengah kesibukannya sebagai PNS justru ia banyak terlibat dengan beragam tipe manusia. “Kekayaan batin itu penting dari seorang penyair,” katanya lagi.

Apa yang dikatakan itu, imbuh dia, bukan sebuah apologia. Kenyataannya, menurut sastrawan yang pernah aktif di Kelompok Studi Sastra PPK Kuningan (1981-1983) ini, sampai kini ia masih menulis puisi karena banyak bersentuhan atau mengamati ragam tipe manusia itu.

“Memang puisi tak harus lahir dari dunia yang balau, tapi setidaknya puisi merupakan suara lain dari sebuah sejarah yang melahirkannya,” tutur dia.
 
Buku kumpulan puisi Apologia, dikatakannya, adalah buku ke empat yang dimilikinya. Sebelumnya Nyanyian Anak Negeri (1984), Suara-Suara (1985), Dunia di Persimpangan Jalan (1989), Prosa Pagi Hari (1995), dan Bayangan (1996).

Buku puisi Apologia, terbitan Teras Budaya Jakarta, Oktober 2013, menghimpun 86 puisi dibagi dua sub judul: Apologia dan Bom Waktu. Puisi-puisi dalam antologi tunggal Nanang ini ditulis sejak 1996 hingga 2014.

Membaca antologi tunggal Nanang R. Supriyatin ini, beberapa puisi ternyata dia tulis pada 2014. Padahal, buku ini merupakan cetakan Oktober 2013. Menurut penyair ini, hal tersebut memang sengaja. Ia memasukkan puisi-puisi yang ditulisnya tahun 2014, pada saat perbaikan pada pencetakan.

“Memang puisi yang aku tulis tahun 2014 (10 puisi, Red.) sebagai pengganti puisi-puisi bertitimangsa 2013,” jelas penyair penerima Puputan Margarana Award, Bali 1998 ini.

Puisi “Apologia” yang ditulis 2001 membuka antologi tunggal Nanang Ribut Supriyatin ini, lalu diakhiri dengan puisi “Penyair Dunia” (2014).

Tampaknya pengalaman yang telah sekian puluh tahun digelutinya, membuatnya begitu peka terhadap keadaan di sekitarnya. Hal ini dapat dibaca dalam puisinya, antara lain “Apologia”, “Tentang Orang Asing”, “Katarsis”, “Suatu Hari Suatu Tempat”, ataupun “Penyair Dunia”.

Sebenarnya masih banyak lagi puisi-puisi Nanang R. Supriyatin, seperti dikatakan editir Teras Budaya, sebagai bukti kepekaannya terhadap keadaan di sekitar itu, lalu dituangkan semua peristiwa atau benda ke dalam puisinya dengan bahasa yang lentur dan kadang mengejutkan.

Sebagai penyair, Nanang juga “bersentuhan” dengan para penyair dunia. Bahkan, ia telah terobsesi ingin menjadikan penyair penerima Nobel sebagai ayah dan ibu angkatnya. Meski mereka lahir dan mati berabad lalu, namun “… kini hidup kembali ke dalam/dunia maya. ke dalam matahati para pemetik kata-kata…” (“Penyair Dunia”, hal. 104).

Kumpulan puisi Apologia ini, kata Nanang, telah diikutikan dalam pemilihan buku puisi terbaik memeringati Hari Puisi yang diadakan Yayasan Panggung Melayu bekerja sama dengan Indopos dan Yayasan Sagang Riau. “Saya menerbitkan buku, selain kerinduan saya pada dunia kepenyairan juga ingin meramaikan Hari Puisi,” katanya.



Workshop Menulis FAM Indonesia: Menggali Ide Novel Lewat Pengalaman Pribadi

Para peserta workshop berpose bersama. (Ist)
KEDIRI, Teraslampung.com – Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” (2014) karya Aliya Nurlela diluncurkan di kantor Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Pare, Kediri, Selasa (10/6) kemarin. Novel itu diluncurkan Ketum FAM Indonesia, Muhammad Subhan, di hadapan utusan pelajar, mahasiswa dan guru yang datang dari beberapa kota di Jawa Timur.

Peluncuran novel setebal 505 halaman dan berlatar Tanah Pasundan (Jawa Barat) itu, menandai dibukanya Workshop Menulis Novel Angkatan 1 FAM Indonesia. Workshop itu akan secara rutin digelar FAM Indonesia dalam rangka memberikan bimbingan kepenulisan novel, khususnya bagi pemula.

Tampil sebagai narasumber Muhammad Subhan yang juga penulis novel “Rinai Kabut Singgalang” (2011). Dalam materinya “Menggali Ide Novel Lewat Pengalaman Pribadi”, dijelaskan bahwa pengalaman pribadi seorang penulis adalah modal dasar yang cukup bagus dikembangkan dalam menggarap sebuah novel.

“Ingat-ulang kembali segala peristiwa di masa kecil, ramu dengan bumbu kreativitas, dramatisir konflik dan tokoh-tokohnya,” kata Muhammad Subhan.

Menurutnya, dalam kehidupan pribadi seseorang menyimpan banyak sekali kenangan dengan segala macam suka dan dukanya. Maka, sebelum menceritakan orang lain, alangkah baiknya bagi penulis (pemula) menjemput realitas kehidupan pribadinya dan menjadikannya sebagai realitas sastra (novel).

“Nanti, jika sudah benar-benar mahir, baru garap ide-ide kreatif lainnya, terutama ide-ide yang diangkat dari realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat dan ditulis dengan lebih kritis,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga berbagi kiat tentang modal lainnya yang harus dimiliki seorang pemula yang ingin menulis novel, yaitu dengan cara banyak membaca novel-novel karya penulis ternama.

Dia merekomendasikan novel-novel terjemahan dari bahasa asing untuk dibaca, di samping novel-novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang dalam negeri.

“Dengan banyak membaca novel-novel itu, akan sangat memudahkan penulis pemula melahirkan novel perdananya,” ujar Muhammad Subhan.

Soal menggali ide dari pengalaman pribadi, dia mencontohkan novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” karya Aliya Nurlela yang juga berangkat dari pengalaman pribadi si penulis. Novel itu secara cerdas ditulis, bukan saja mengungkap kehidupan yang “indah-indah”, tetapi juga menceritakan sisi lain dari masa kecil dan kehidupan remaja si penulis.

“Adegan dan konflik ceritanya hidup, mengalir, dan banyak pesan-pesan inspiratif yang terkandung di dalam novel itu,” tambahnya.

Workshop Menulis Novel Angkatan 1 diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Milad ke-2 FAM Indonesia. Seharusnya, gebyar Milad FAM Indonesia dirayakan pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, namun pasca erupsi gunung Kelud menyebabkan kondisi kantor FAM Indonesia belum cukup repersentatif mengadakan sebuah kegiatan akbar.

“Alhamdulillah, sekarang kondisi Kelud sudah normal, begitupun Pare, kotanya telah hidup kembali dengan berbagai aktivitas masyarakat,” kata Aliya Nurlela, yang juga Sekjen FAM Indonesia. (Dewira/Rel) 

Sunday, June 8, 2014

Meriah, “Arek Suroboyo Berpuisi” di SMK PAL Surabaya

Pegiat FAM Muhammad Subhan (dua dari kanan) bersama peserta "Arek Suroboyo Berpuisi". (Foto: Ist)
SURABAYA, Teraslampung – Suasana sepi yang biasanya menyelimuti SMK Teknik PAL Surabaya pada  Minggu (8/6) mendadak berubah ramai. Sekolah itu menjadi semarak. Itu karena ada sekitar 40-an aktivis literasi berpuisi dalam rangka ikut memeriahkan HUT ke-721 Kota Surabaya.

Acara yang ditaja Tim Event Organizer Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang dikoordinatori Yudha Prima itu bertajuk “Arek Suruboyo Berpuisi” bekerjasama dengan SMK PAL Surabaya dan didukung Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Fileski yang membacakan puisi berjudul “Kota Kenangan yang Terbakar”. Puisi itu semakin terasa indah ketika seniman otodidak ini membawakannya dengan diiringi biola yang mengalun syahdu.

Selain Fileski, ikut membaca puisi Ardi Susanti, penyair perempuan asal Tulungagung yang membacakan puisinya berjudul “Bicaralah, Nak”. Baik Fileski dan Ardi Susanti, membaca puisi-puisi yang tercantum dalam buku puisi “Menjadi Indonesia” yang penerbitannya digagas FAM Cabang Surabaya dan diluncurkan di hari itu.

Pada kesempatan tersebut juga dibedah buku puisi “Rumah Kartu” karya Eko Prasetyo yang dibahas oleh Muhammad Subhan, pegiat FAM Indonesia yang juga seorang jurnalis dan penulis. Diskusi dipandu moderator Evie Suryani, penulis Surabaya yang juga pengurus Badan Perpustakaan Kota Surabaya.

Dalam makalahnya berjudul “Memahami Puisi-puisi Cinta Eko Prasetyo” Muhammad Subhan mengatakan, meski buku puisi “Rumah Kartu” cenderung bersifat personal yang ditujukan kepadaJeng Ratih-ku sayang, namun bukan berarti Eko Prasetyo tidak jeli menyikapi persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya.

“Ia dengan cerdas menjadikan Jeng Ratih-ku sayang yang tak lain adalah istrinya sendiri sebagai tumpahan luapan emosionalnya lewat puisi namun ditulis dengan begitu mesra terhadap berbagai anomali yang terjadi, atau terhadap persoalan-persoalan yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat,” kata Muhammad Subhan.

Para peserta "Arek Suroboyo Berpuisi" foto bersama. (Ist)
Sebagai bentuk apresiasi kepada penulis buku puisi “Rumah Kartu”, mahasiswa FIB Universitas Airlangga (Unair) Wildan Taufiqurrahman dan petugas Taman Bacaan Dukuh Kupang, Cak Ndog, membacakan empat puisi karya Eko Prasetyo itu serta mendapat testimoni dari Reffi Dhinar, peserta yang juga anggota FAM Cabang Surabaya.

Koordinator EO FAM Indonesia, Yudha Prima, pada kesempatan itu mengatakan, acara tersebut diangkat FAM Indonesia sebagai rangkaian kegiatan Milad ke-2 FAM Indonesia yang akan dilanjutkan dengan Workshop Menulis Novel serta peluncuran Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” yang kegiatannya dihelat di Pare, Kediri, pada Selasa (10/6).

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendukung Kota Surabaya sebagai kota literasi yang telah dicanangkan Walikota dengan gerakan membaca dan menulis,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMK Teknik PAL Surabaya, Eko Agus Triswanto, pada kesempatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang digelar FAM Indonesia. Secara khusus ia mengatakan bahwa acara tersebut sangat bermanfaat terutama bagi siswa-siswanya.(rel)

Saturday, June 7, 2014

Puisi-Puisi Fatih Kudus Jaelani


Ketakutan
: Kiki Sulistyo

jangan-jangan aku sedang cemburu
saat dia membuka pintu
memberi angin leluasa
menaiki lantai kedua

jangan-jangan di lantai kedua ada hujan
lebih besar dari ketakutan
di halaman lampu padam
dan langit sangat diam

jangan-jangan akan datang sebuah kabar
dia lupa pada kemarin senja di taman kota
dia lupa pada langit nirmala
dengan seorang hamba yang tergila-gila pada luka

jangan-jangan ini hanya ketakutan
tapi kenyataannya akan datang


Lombok, 2013





Pemanggil Burung

bagi pemanggil burung
keheningan senja adalah segalanya
di langit paling barat
ketika angin terbang
bersama nirmala

matanya seperti memanggul panah
ke sayap-sayap burung
ke awan-awan cemas
dilampiaskannya penantian
kepada waktu dan sangkar bambu
dipeliharanya udara
dibesarkannya suara

burung pagi dan siang
adalah perpisahannya dengan malam
ia tetap memanah langit
dengan bahasa bintang
dengan mata paling sempit
mencari nada paling lagu
dari perempuan yang berkicau
sepanjang sendu


2013




Cermin
bila kita membalik cermin
akan hilang kedua mata
dan sebuah kesadaran berkata
di mana wajah paling kosong
di mana pandangan pertama

lalu bagaimana di dalam cermin
bukankah di sana ada kata-kata
di sana menjelmanya diri
dan cahaya tak pernah padam

ah, tak ada yang menyangkal kenyataan
mata tak bercahaya tanpa cermin
sebab cermin adalah tempat berteduh
bagi penunggu malam di ujung subuh


Lombok, 2013



Kedatangan Kronos

bila ia datang bersama hujan
hilangkan kebencianmu
mungkin dialah dendam lelaki
gelombang di bawah rinjani.
mungkin dialah sebuah janji
yang bertahun-tahun diingkari

bila kau menatapnya
linangkanlah air mata
tak ada petir dari air
tak ada letusan dari keindahan
biarkanlah saudaramu dalam perutnya
ajarkan pada awan hitam
ia akan lenyap selepas hujan

bukakan pintu untuknya, senantiasa
berikan tempat duduk dari kayu
agar ia tahu, pohon telah tumbuh sendiri
dengan janji kepada air
kesetiaan kepada hutan

tuangkan secangkir nektar abadi dilidahnya
biarkan ia berkaca pada urat leher
janji tak pernah tegak lurus dengan matahari

ajarkan pula pada kepulangannya
jangan berkata-kata dengan mata buta
lihatlah! anak-anak mencintai pelangi
mereka kehilangan ayahnya

Lombok, 2013



Kepada Hestia

apa yang terjadi bila kau tak datang malam ini.
aku tumbuh dalam keluarga kecil yang dingin,
hanya ibu dan seorang kakak perempuan
mereka berdiri di ambang pintu
seperti menyimpan keraguan
pergi atau kembali,
menjadi hujan yang abadi

sedangkan aku tak sanggup membangun perapian
aku tak biasa dengan perkataan tetangga, Hestia
mengapa musim kemarau tak juga datang
bila dingin tak sepantasnya menemani mimpi yang indah
mimpi keluarga sakinah, seperti janji ayahku
ketika meminang perempuan paling lugu

bila kau bersedia, duduklah malam ini.
aku ingin melihat di mana kesendirian bermakna
bahwa terpilih menjadi seperti ini
adalah tanda-tanda. di mana aku bisa melewatinya
dengan memejamkan mata
dan bersujud di lautan ibu

apa yang terjadi bila kau tak datang malam ini.
api di tungku akan padam
dan aku hanya bisa menyimpan dendam

Lombok, 2013



Malam-malam Ibu

ibuku bukan penjahit
tapi setiap malam
luka yang mengaga
ditutupnya dengan do’a

di beranda tengah malam
di dekat kesedihan daun-daun
ia mencium sebuah kenangan
sebagai isyarat melepas ingatan
kepada suaminya,
di bulan pertama musim dingin
di samping muramnya lira
langit dan musik-musik yang menggema

ibuku hanya penakar bayang-bayang
pencuci pakaian siang dan malam
dia pendiam yang berjalan dengan do’a
mendarasnya di antara masa lalu dan duka

dan malam-malamnya
adalah ketabahan menerima
gelap dijadikan cahaya
bagaikan kesabaran bumi
sebagai ibu para dewa

2013



Aku dan Cermin

ketika kesadaran berlalu
kesepian ini menaruhku di antara dua garis
jalan yang haus dan lapar

meski dalam kesepian yang lain
aku memilih sebuah jalan
menjadi ornamen pemujaan
biar kematian menjadi angin dan debu
biar hanya batu yang mendengar

bahwa aku dan cermin
telah berdua sebelum air menjadi hujan
bahwa aku dan cermin
telah bercinta sebelum manusia bermuka dua


2013




Kwatrin Pelamun

aku ingin menjadi suara burung
yang memanggil dari kekosongan setelah malam
melayang menemui para pendosa
membangunkannya dengan sajak dari timur

sebelumnya aku pernah menjadi petani
menggauli aroma tanah yang lelah
memanen nama-nama sayuran
yang tak pernah kutuliskan dalam hadiah lebaran

entah sejak kapan orang-orang memandang takzim
seorang pelamun bisa meninggalkan waktu paling genting
semaunya, ia hanya membutuhkan sebuah kebun dan angin
maka ia mulai bekerja membangun istana dari derai-derai daun kering

pernah juga seorang kekasih mendatangi rumah berulang kali
membawa roti dan sebotol teh dari iklan pertama musim ini
tapi bagaimana menikmati gigitan roti dengan dua mulut berbisa
kau atau aku yang terkapar lebih dahulu

sepertinya para pelaut sudah pulang menangkap ombak
kini halaman rumahku membiru pantai
beberapa hempasan gelombang menyadarkan
tubuh bersama ruh menerima nyata


Lombok, 2013




Biodata

Fatih Kudus Jaelani, lahir di Pancor, Lombok Timur 31 Agustus 1989. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Hamzanwadi, Selong. Menulis puisi dan telah disiarkan di sejumlah media cetak seperti Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Bali Post, Radar Surabaya, Analisa, Medan Bisnis, Sagang, Pawon, Metro Riau dll. Juga terhimpun dalam buku antologi bersama seperti Lampu Sudah Padam (2010), Tuah Tara No Ate (2011), Meretas Karya Anak Bangsa (2012), Dari Takhalli Sampai Temaram (2012), Sauk Seloko (2012). Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Pertemuan Penyair Nusantara V (Jambi, Desember 2012). Aktif mengelola Komunitas Rabu Langit, sebuah komunitas nirlaba yang menggiatkan sastra di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.


Friday, June 6, 2014

Perempuan Jadi Tema Besar dalam Cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Diskusi "Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua" (foto: irwan wahyudi)

BANDARLAMPUNG—Dunia gemerlap (dugem) menjadi tema besar cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka. Inilah yang menarik dari buku kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua. Dengan memperhatikan sosok prempuan dalam cerpen-cerpen di buku ini, di manakah letak perempuan ini di hati pengarangnya? Bagaimana (pula) posisi perempuan ketika berhadapan atau dihadapkan dengan laki-laki?

Hal itu yang mengemuka pada acara peluncuran dan diskusi buku kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua karya Syaiful Irba Tanpaka, penerbit Siger Publisher, di Graha Kemahasiswaan PKM Unila, Jumat (6/6) malam.

Peluncuran dan diskusi yang digelar kerja sama Siger Publisher, KoBer, dan UKMBS Unila ini dimulai pukul 20.00 dan berakhir tengah malam ini. Diawali dengan pembacaan karya oleh Alexander GB, Ari Pahala Hutabarat yang diiringi music, Adolf Ayatullah Indrajaya, dan Elda UKMBS Unila.

Sementara disuksi berlangsung hangat menghadirkan para sastrawan “gaek” Lampung, yakni Iwan Nurdaya-Djafar, A.M. Zulqornain Ch., Udo Z. Karzi, Syaiful Irba Tanpaka.

Iwan Nurdaya melihat bahwa cerpen-cerpen dalam buku ini sangat kental warna kepenyairannya. Menurut Iwan, Syaiul Irba Tanpaka adalah seorang penyair, namun kali ini dia menerbitkan buku kumpulan cerpen.

“Latarbelakangnya sebagai penyair masih amat mewarnai penulisan cerpen-cerpennya yang puitis lagi bernas,” katanya.

Sementara A.M. Zulqornain mengatakan, yang menarik dari pembacaan atas cerpen-cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini, pengarangnya—Syaiful Irba Tanpaka—seperti tidak ada beban. Cerpen-cerpennya mengalir apa adanya: ia bicara dunia malam, perselingkuhan, cinta, dan sebagainya.

“Seakan kita membaca realitas kehidupan yang ada dalam diri pengarangnya,” katanya. Itu sebabnya, Zulkarnain menambahkan, kita perlu tahu pendapat dari Syaiful soal perempuan dan dunia gemerlap yang ada dalam cerpen-cerpennya.

Sebelumnya Udo Z. Karzi menegaskan, cerpen (sastra) adalah refleksi dari kehidupan nyata. “Jadi, baca sastra itu wajib hukumnya kalau mau menjadi orang baik, orang yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan dengan bijak, dan tak mau terpeleset ke dalam lembah dosa,” kata redaktur Sastra di Lampung Post ini.

Kehidupan nyata yang dimaksud Udo Z. Karzi dan A.M. Zulqornain Ch., mendapat rangsangan dari peserta diskusi. Di antaranya penyair Yuli Nugrahani yang mempertanyakan hubungan perempuan muda dan tokoh dalam dominan cerpen Syaiful Irba Tanpaka.

Dipertegas lagi oleh Adolf Ayatullah Indrajaya. Ia meminta pengarang menjelaskan kepada publik. “Syaiful mesti menegaskan hal ini, demi ‘stabilitas negara’,” kata Adolf.

Namun, Hazwan Iskandar Jaya dan Iwan Nurdaya-Djafar melihat sebuah karya sastra ibarat ‘anak yatim’ yang tak lagi memiliki bapak bernama pengarang. “Kita lupakan hubungan karya dengan pengarang. Namun yang jelas sebuah karya sastra lahir dari realitas sosial, apakah itu dari pengalaman orang lain atau pengarangnya sendiri,” kata Iwan Nurdaya-Djafar.
 
Ari Pahala saat baca "Tubuh Kinan"
Karena anak yatim, kata sastrawan Yogyakarta asal Lampung ini, karya sastra bisa dianalisis dari berbagai sisi. “Sehingga kita tak lagi melihat realitas dalam sastra, karena seolah pengalaman pribadi pengarang jadi melekat,” kata Hazwan.

Sedangkan Ari Pahala Hutabarat menggarisbawahi cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka sebagai kepekaan pengarang terhadap persoalan sosial dan perempuan. “Namun tema sosial lebih dominan,” kata Direktur artistic Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung ini.

Dikatakan Ari, meskipun pengarang mengangkat persoalan personal (perempuan), namun menjadi persoalan sosial (publik). Dia mencontohkan, cerpen “Tubuh Kinan” adalah personal namun menjadi persoalan sosial, sebagai gambaran kemiskinan struktural.

“Cerpen-cerpen Syaiful bicara soal perselingkuhan dan perempuan, tapi di sana ada juga persoalan sosial. Saya kira inilah yang menarik, selain kelincahan bercerita, ‘ringan’ saat dibacakan,” ujar Ari Pahala Hutabarat.

Korrie Layun Rampan, dari Borneo Menjaga Sastra Indonesia

Oyos Saroso H.N.

Korrie Layun Rampan (dok pribadi)
Setelah sejak 1997 pindah dari Jakarta ke Lampung, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Korrie Layun Rampan. Kami kembali bertemu  pada perhelatan Kongres Cerpen Indonesia (KCI) kelima di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, akhir Oktober 2007 lalu. Saat itu,Korrie masih menjabat sebagai anggota DPRD Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Sejenak merangkap profesi sebagai politikus, tidak menyurutkan perhatianKorrie Layun Rampan—salah satu cerpenis, novelis, dan kritikus terbaik dalam dunia sastra Indonesia—kurang perhatian terhadap perkembangan sastra Indonesia. 


Hal itu dibuktikan Korrie Layun Rampan saat diundang menjadi salah satu pembicara pada KCI di Banjarmasin. Dalam acara itu  Korrie Layun Rampan tidak hanya tampil sebagai salah satu bintang. Korrie, yang tampil sebagai pembahas soal warna lokal cerita pendek Indonesia, juga menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi salah satu pengamat dan kritikus sastra Indonesia hingga saat ini. Hal itu dibuktikannya dengan kefasihannya membicarakan pengarang Indonesia mulai tumbuhnya sastra Indonesia hingga pengarang paling mutakhir.

Obsesi Korrie untuk menebitkan banyak buku (yang sudah siap terbit) terpaksa terhenti. Sejak beberapa tahun terakhir, nama Korrie Layun Rampn seolah tenggelam.Ia tidak lagi mempublikasikan karya-karyanya.Kepada kawan-kawannya, melalui istri dan anaknya, Korrie mengabarkan bahwa dirinya perlu banyak istirahat pascaoperasi matanya.

Sosok yang Tekun

Hasil ketekunan berkarya dan pengamatannya terhadap karya sastra Indonesia itu, sudah dibukukan dalam bentuk 200-an buku. Antara lain 7 novel, 31 kumpulan cerita pendek, 7 kumpulan puisi, 11 kumpulan kritik sastra, 35 buku cerita anak, 6 buku tentang sastrawan Indonesia, dan 7 buku teks sastra. Selain itu karya-karyanya juga dimuat di lebih dari 80 antologi.

Meski sudah menghasilkan ratusan buku sastra, Korrie masih masygul. Pertama, karena dia kesulitan mengelola Pusat Dokumentasi Sastra Korrie Layun Rampan yang berada di Bekasi, Jawa Barat, dan Jakarta. Kedua, karena masih banyak tulisannya yang belum bisa diterbitkan.

Di dunia sastra Indonesia, Korrie memang seorang dokumentator sastra yang tekun. Ia bisa disejajarkan dengan H.B. Jassin, yang selama ini menjadi ikon kritikus dan dokumentator  sastra Indonesia.


Korrie mengaku ada keinginan memboyong buku-buku dokumentasi sastra miliknya ke Kalimantan Timur. ”Tapi itu perlu biaya besar karena kalau dibawa dengan kapal laut perlu beberapa kontainer. Sementara di Kutai Barat saya belum punya rumah. Rumah saya di Bekasi masih ada. Tapi di tanah kelahiran saya sendiri saya masih ngontrak,” ujar ayah 6 anak ini.

Bahan-bahan berupa hasil ketikan siap cetak ditumpuk akan lebih dari 2,5 meter. Menurut Korrie, bahan buku-buku sastra yang siap diterbitkan itu sampai sekarang tidak kunjung terbit karena tidak ada penerbit yang menerbitkannya.

”Mereka (penerbit) takut buku-buku sastra tidak laku. Penerbit lebih tertarik untuk menerbitkan karya-karya populer ketimbang karya sastra. Apalagi, karya esai dan kritik sastra, nyaris tidak ada penerbit yang mau menerbitkan,” penulis ratusan buku sastra itu.

Sastrawan yang lama tinggal di Yogyakarta dan Jakarta ini mengaku sangat kecewa dua jilid bukunya tentang para sastrawan Angkatan 2000 tidak jadi diterbitkan sebuah penerbit terkemuka di Indonesia.

”Jilid pertama dengan judul Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Kalau dua jilid itu jadi diterbitkan maka  akan melengkapi perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Tapi saya tidak mau menyerah. Meskipun masih banyak karya saya yang belum diterbitkan, saya masih terus menulis puisi, cerpen, novel dan kritik sastra. Novel saya belum lama ini memenangkan lomba cipta roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta,” ujar peraih Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia ini.

Sastrawan berdarah Dayak ini mengaku meski kini terjun ke dunia politik—saat ini Korrie menjadi ketua DPD Partai Demokrat Kabupaten Kutai Barat—dunia sastra tidak mungkin ditinggalkannya. ”Sastra adalah panggilan jiwa saya. Kini saya berusaha menyeimbangan antara aktivitas di dunia sastra dengan dunia politik. Saya membuktikan ternyata dua dunia itu bisa berjalan seiring,” ujar pemenang utama Hadiah Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1976 ini.

Dilahirkan di Samarinda 17 Agustus 1953, semasa muda Korrie Layun Rampan lama tinggal di Yogyakarta. Sambil kuliah di Yogya, Korrie aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub, sebuah kelompok sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup yang mewadahi ratusan aktivis sastra ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti, Naning Indratni, Yudhistira A.N.M. Massardi, dan Gunoto Saparie.

Saya memoderatori Korrie Layun Rampan dan cerpenis Agus Noor pada forum Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin , Oktober 2007. Ketika itu Ma Korrie masih sangat sehat dan semangat terus berkiprah di dunia sastra Indonesia. 

Pada 1978 Korrie pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan dan editor buku di beberapa penerbit. Tahun 1980-an hingga 1990-an ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta.

Dengan maksud membangun tanah kelahirannya, pascareformasi Korrie kembali ke Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Mula-mula ia mendirikan koran Sentawar Pos pada 2001,sambil mengajar di Universitas Sendawar, di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Lalu pada Pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legistatif Kabupaten Kutai Barat dari Partai Demokrat. Kini Korrie menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009.

Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya. Pekerjaan itu pula yang menjadikan Korri kini bolak-balik Kutai Barat-Jakarta.

Sebagai sastrawan, Korrie dikenal sebagai sastrawan yang kreatif. Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Guy de Maupassabt, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello.

Novel karyanya berjudul Upacara meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1976. Sementara novel karyanya berjudul Api Awan Asap meraih hadiah serupa pada 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara.

Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi.


Lomba Menulis Cerpen "The Young Writers Award 2014"

JAKARTA - Tahun ini SEA Write Award Organizing Committee berkolaborasi dengan Bangkok Metropolitan Administration dan Mahidol University di Thailand menyelenggarakan The ASEAN Young Writers Award, yaitu penghargaan sastra untuk para penulis muda negara-negara Asia Tenggara. Tujuan penghargaan ini adalah mempromosikan generasi penulis baru di dunia sastra, menguatkan ikatan budaya bangsa-bangsa Asia Tenggara dan menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan menulis di kalangan anak-anak mudanya. Selain itu, penghargaan ini untuk memperingati 35 tahun SEA Write Award, penghargaan bagi para penulis Asia Tenggara dan juga terpilihnya Bangkok sebagai “13th World Book Capital” oleh the World Book Capital Selection Committee dan UNESCO. The ASEAN Young Writers Award akan diselenggarakan setiap tahun untuk menciptakan generasi baru para penulis sekaligus mempererat jejaring sastra di kawasan Asia Tenggara.

Persyaratan bagi peserta:

1.Berusia 15 sampai 24 tahun
2.Berasal dari negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN): Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Burma, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
3.Mengirim karya berupa sebuah cerita pendek (tidak lebih dari 3.000 kata), yang ditulis dalam bahasa masing-masing negara dan/atau dalam Bahasa Inggris.
4. Karya yang dikirim adalah karya sendiri, bukan karya terjemahan atau adaptasi dari karya lain. Apabila karya tersebut merupakan hasil menjiplak karya lain, peserta akan dibatalkan keikutsertaannya.
5.Karya yang dikirim belum pernah diikutsertakan atau memenangkan lomba menulis lainnya.

Jadwal pengiriman karya hingga upacara penghargaan:

1.Pengiriman karya: 1 Mei 2014 – 30 Juni 2014
2.Masa penjurian: 1 Juli 2014 -31 Juli 2014
3.Kunjungan ke Bangkok dan upacara penghargaan ASEAN Young Writers: pertengahan Agustus 2014

Hadiah:

1.Plakat atau tropi yang akan diserahkan di Bangkok
2.Uang sebesar masing-masing US$1.000 untuk dua pemenang dari masing-masing negara.
3.Dua pemenang dari masing-masing negara akan pergi ke Bangkok dan dibiayai sepenuhnya oleh penyelenggara penghargaan ini untuk menghadiri upacara penyerahan penghargaan dan mewakili negaranya masing-masing dalam acara-acara yang diselenggarakan penghargaan ini. Penginapan, makan-minum dan transportasi selama di Bangkok akan ditanggung pihak penyelenggara. Para pemenang dari Thailand juga akan melakukan kunjungan persahabatan ke sekretariat ASEAN di Jakarta, Indonesia.
4.Karya-karya para pemenang akan diterbitkan dan dipromosikan melalui berbagai media.

Waktu pengiriman dan persyaratan karya:

1.Dikirim antara tanggal 1 Mei 2014 sampai 30 Juni 2014.
2.Tidak lebih dari 3.000 kata atau tidak lebih dari 10 halaman A4, ditulis dalam huruf Cordia New 16pt
3. Judul karya diletakkan di atas halaman pertama dan ditulis dengan huruf tebal.
4. Setiap karya harus mencantumkan nama asli, bukan nama samaran penulis. Usia, kelas atau tingkat di sekolah atau universitas, alamat surat, alamat email, dan nomor telepon penulis dicantumkan di bawah halaman terakhir karya Anda. Panitia tidak akan mengembalikan karya yang dikirim.
5. Karya, formulir peserta, dokumen-dokumen lain (scan dari paspor atau KTP atau akta kelahiran) dapat dikirim ke alamat email panitia ASEAN Young Writers Award 2014 di Indonesia: aseanyoungwritersindonesia@gmail.com.
6.Penghargaan ini mempunyai hak untuk menerbitkan dan mempromosikan karya-karya yang telah dikirim
7.Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Catatan: formulir peserta dapat diperoleh www.aseanyoungwriters.com dan
www.facebook.com/pages/aseanyoungwritersaward. 

*Apabila Anda mengalami kesulitan mengakses formulir peserta pada situs www.aseanyoungwriters.com atau pada www.facebook.com/pages/aseanyoungwritersaward, Anda juga dapat mengirimkan biodata Anda untuk melengkapi persyaratan keikutsertaan Anda.

Selamat berkarya.

Hormat kami,

Linda Christanty
(koordinator untuk Indonesia)

Thursday, June 5, 2014

Kumpulan Cerpen “Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua” Didiskusikan di UKBS Unila



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

BANDARLAMPUNG—Kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua karya Syaiful Irba Tanpaka akan didiskusikan malam nanti (6/6), di Graha Kemahasiswaan (UKMBS) Universitas Lampung.

Acara bertajuk “Peluncuran dan Diskusi” ini akan menghadirkan tiga pembicara, yaitu Iwan Nurdaya-Djafar, Udo Z. Karzi, dan A.M. Zulqornain Ch. Kegiatan ini digagas atas kerja sama Penerbit Siger Publisher, Komunitas Berkat Yakin (KoBer), dan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila.

Menurut Alexander GB, ketua pelaksana, acara ini selain diisi diskusi juga pembacaan cerpen dari buku tersebut. Di antaranya Ari Pahala Hutabarat, Alexander GB, Elda-UKMBS, dan Syaiful Irba Tanpaka. "Ini acara kumpul-kumpul, silaturahmi, happy..." kata GB, sapaan aktor KoBer dan cerpenis ini.

Syaiful Irba Tanpaka adalah sastrawan sekaligus pelaku sinema Lampung. Buku kumpulan cerpen ini merupakan yang pertama, sebelumnya dia pernah meluncurkan kumpulan puisi, dan cerita anak-anak. Buku cerpen yang diterbitkan Siger Publisher (Desember 2013) ini  memuat 13 cerpen yang ditulisnya dari tahun 2008 hingga 2013, di antaranya sudah dipublikasikan di Lampung Post.

Judul cerpen dalam buku ini juga menarik dan menggoda, seperti “Edelwes”, “Embun di Mata Wie”, “Tubuh Kinan”, dan “Helma” untuk nama-nama perempuan sebagai tokoh yang menghidupkan cerpen-cerpen Syaiful Irba Tanpaka ini.
 
Semenyata itu, Syaiful Irba Tanpaka mengatakan, peluncuran dan diskusi ini sebagai bentuk silaturahmi para sastrawan dan seniman Lampung. Diakuinya, dunia kesenian adalah sebagian dari kehidupannya. “Marilah kita rayakan dunia sastra, dunia kesenian di Lampung yang kita cinta ini,” katanya.

Melalui kegiatan seperti ini, katanya, diharapkan akan semakin bergeliat dunia kesenian di daerah ini. Terutama dunia sastra yang diakuinya mulai semarak lagi, dengan munculnya penyair dan cerpenis dari kalangan muda.

“Ini potensi besar untuk kemajuan kesenian di daerah ini. Tinggal lagi lembaga yang peduli pada senibudaya, seperti DKL, Kantor Bahasa. Dan tak kalah penting Gubernur Lampung yang baru dilantik, punya peran penting menyuburkan dunia kesenian di sini,” katanta.

Setelah didiskusikan di UKMBS Unila, dia berencana kumpulan cerpennya ini akan dihadirkan di kafe, perguruan tinggi, ataupun di sekolah-sekolah di Provinsi Lampung.

Kumpulan Cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua menghimpun sejumlah kisah dunia malam alias “dugem” (dunia gemerlap malam), cinta, selingkuh, kritik pada perilaku korup, kemiskinan, dan kritik sosial.
.
Pada dunia malam, seakan kita menyaksikan dunia yang tidak pernah (menjadi) tua. Gambaran ini tertuang dalam salah satu cerpen yang dijadikan tajuk dari buku ini. Diceritakan, seorang pria yang sejak remaja “menggandrungi” dunia malam, khususnya diskotek (dan karaoke).

Sejak remaja, ia menemui para perempuan di sana yang muda dan berparas menggoda.Ternyata kegandrungan ini belum juga hilang, sebab tatkkala usianya mencapai senja masih suka “turun” gunung. Di usia senjanya itu, ia tetap menemui perempuan-perempuan muda di dalam ruang remang-remang itu. Lelaki pengunjung diskotek ini mengira, bukan manusia yang tetap muda melainkan yang tak pernah menjadi tua adalah dunia.

“Padahal, lelaki yang menjadi tokoh dalam cerpenku ini sebenarnya sudah tua, sudah bangkot alias gerandong. Tetapi ia tak juga sadar, tidak tobat, jadi dia mengira perempuan-perempuan di dalam diskotek atau karaoke selalu muda,” katanya tersenyum.

Syaiful Irba Tanpaka kelahiran Telukbetung (Lampung) pada 9 Desember 1961. Ia menulis cerpen, puisi, esai, dan menulis skenario teater dan film. Pernah dipercaya menjadi Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) tiga periode, dan sebelumnya menjabat Sekretaris Umum DKL. Kini ia menjabat Sekretaris Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Lampung.

Sebagai sastrawan, ia pernah diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Kedah, Malaysia, Refleksi Setengah Abad di Solo, Forum Puisi Indonesia 87 di TIM Jakarta, Temu Sastra Mitra Praja Utama di Banten, dan lain-lain.

Highlight peluncuran buku "Dunia yang tidak Pernah Menjadi Tua" (sumber: irwan wahyudi/youtube):

Saturday, May 31, 2014

Cerpen Iwan Nurdaya-Djafar: BENDERA

DENGAN isyarat tertentu, dirigen yang memimpin korps musik itu memberi aba-aba. Sesaat lagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya akan berkumandang mengiringi pengibaran bendera pusaka pada upacara kenegaraan lima puluh tahun Indonesia merdeka, pagi itu. Pasukan pengibar bendera yang berpakaian serbaputih dilengkapi dengan peci hitam sudah mulai bergerak dengan ayunan langkah tegapnya. Sementara ratusan peserta upacara yang menjubali lapangan amat luas berdiri terpaku dalam sikap sempurna. Termasuk mereka yang berada di tribun. Semua mata tertuju pada satu titik: pasukan pengibar bendera yang tengah melangkah dengan anggunnya. Detik-detik proklamasi sedang menjelang.

Kini, pasukan pengibar bendera telah tiba di sekitar tiang bendera yang berwarna putih. Tiang berukuran besar itu menjulang tinggi, tegak lurus dengan langit. Laporan pun disampaikan bahwa sang saka merah putih siap dikibarkan.

“Laksanakan!” terdengar perintah Inspektur Upacara dengan suara lantang, tegas lagi berwibawa.

Komandan pasukan pengibar bendera pun segera memberi aba-aba kepada anggotanya. Tiga orang pasukannya bergerak mendekati tiang bendera. Begitu sang saka hendak disodorkan kepada dua pengerek bendera, peristiwa aneh terjadi. Sekonyong-konyong saja, entah dari mana datangnya, dari arah angkasa menukiklah seekor burung garuda dan menyambarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bendera itu luput dari genggaman pengerek bendera. Dalam seketika burung garuda itu menyambarnya dan segera membawanya melayang-layang ke angkasa. Tinggi, tinggi sekali. Membelah langit biru pagi itu. Kedua pengerek bendera dan seorang lagi yang bertugas membawa bendera kaget bukan buatan. Pandangan mereka berkunang-kunang dan dalam seketika tubuh mereka bertebahan ke bumi. Semaput. Sedang ratusan peserta upacara cuma berdiri tertegun-tegun menyaksikan bendera merah-putih melambai-lambai di ketinggian, meninggalkan mereka. Sungguh sebuah pendadakan yang mencengangkan telah diperankan oleh seekor burung garuda yang selama ini dianggap sebagai sekadar replika berupa hiasan dinding belaka.

Dua petugas bersenjata yang berjaga di seputar tiang bendera merasa kecolongan karena keduanya bahkan tak sempat membidikan senjatanya atau sekadar berusaha mencegah burung garuda yang tanpa dinyana-nyana berhasil menyambar bendera dengan kedua cakar tajamnya. 

Cukup lama para peserta upacara itu tertegun-tegun. Tapi, begitu kesadaran menghampiri mereka, kepanikan pun terjadi. Reaksi mereka berbeda-beda.

“Astagfirullahaladziim …”

“Ajaib!”

“Bagaimana mungkin?”

“Mustahil!”

“Pertanda apakah gerangan?”

“Ini pasti sabotase!”

Pertanyaan dan dugaan meluncur deras dari mulut mereka. Kepanikan kian menjadi-jadi. Ada yang berteriak histeris. Ada yang menjerit meludahkan ekspresinya dengan sengit. Ada yang meracau. Ada pula yang meratap melolong-lolong. Lapangan upacara itu benar-benar bak kapal pecah. Tribun yang mengelilingi lapangan bagai terguncang dilanda gempa berkekuatan amat besar. Sementara itu, bendera merah-putih yang disambar burung garuda tadi terus membubung tinggi untuk kemudian raib ke balik langit.

Kecemasan hebat menguasai air muka seluruh peserta upacara, sampai kemudian terdengar suara Inspektur Upacara menyentakkan kesadaran mereka.

“Pasukan diistirahatkan!”

Komandan upacara memberi aba-aba istirahat kepada peserta upacara.

Dengan nada gusar Inspektur Upacara memberi arahan, “Saudara-saudara, semuanya harap tenang. Yang masih menjerit saya gebuk!” pekiknya dengan suara lantang seraya mengacungkan tinju ke arah para peserta upacara. Hal ini sungguh mengejutkan semua orang, baik para peserta upacara maupun para pirsawan yang menonton tayangan langsung  upacara itu melalui televisi. Inspektur upacara yang sehari-harinya dikenal berkepribadian lembut, kebapaan, suka tersenyum dan terbiasa berbahasa santun, kali ini tak ubahnya orang-orang kasar. “Gebuk” adalah sebuah kata yang terasa begitu kasar. Pastilah itu semburan kemarahan yang hebat dan mengancam. Maka, serta-merta suasana pun berbalik menjadi hening. Hening yang menekan. Lalu dengan suara tenang dan berat dia memerintahkan agar Komandan Upacara mencari bendera lain.

Sepuluh menit berlalu. Detik-detik proklamasi lewat sudah. Maka luputlah momentum pelaksanaan upacara tepat pada pukul sepuluh seperti terjadi pada tahun 1945  dan puluhan tahun sesudahnya. Komandan upacara belum juga muncul. Para peserta upacara sudah tak sabar menunggu. Rasa kesal, terhina bercampur heran menggumpal dalam dada mereka. Pada saat itu muncul komandan upacara. Dengan wajah putus asa dan tubuh gemetaran dia melaporkan bahwa bendera cadangan pun hilang. Bahkan beserta kotaknya sekalian. Sudah dicari ke mana-mana tapi tiada jua tersua. Raib secara gaib kiranya. Jangan-jangan, burung garuda itu lagi? Atau mungkin juga burung garuda yang lain. Siapa yang tahu!

Mendengar laporan itu, peserta upacara merasa benar-benar frustrasi. Mental mereka merosot. Tapi kenekadan mereka justru mencuat. Mereka kehilangan rasa takut – keberanian adalah juga puncak rasa takut – terhadap sang inspektur yang tadi mengancam akan menggebuk mereka.

“Sudah, bubar saja!”

“Sebaiknya upacara dibatalkan saja.”

“Upacara, kok dibatalkan!”

“Habis, mau apa lagi? Masak upacara tanpa bendera? Yang benar aja!”

Begitulah, lapangan upacara yang semula diberati keheningan yang menekan kini gemeremang oleh bisikan-bisikan, oleh suara-suara tertahan, juga keluhan-keluhan. Namun, semburat kekuatan aneh yang memancar dari kharisma sang Inspektur Upacara tak membuat mereka beranjak dari lapangan itu. Mereka tetap menunggu langkah apa kiranya yang akan diambil oleh sang inspektur.

Tak lama kemudian sang inspektur mengumumkan penundaaan upacara sampai bendera ditemukan. Kepada seluruh peserta upacara diperintahkan untuk mencari bendera. Bendera apa saja, pokoknya merah-putih!

Segera saja ratusan peserta upacara bertebaran. Mereka berpencar ke delapan penjuru angin, ke sudut-sudut tersembunyi, kalau-kalau saja bendera itu ditemukan di sana. Siapa tahu sekadar teronggok begitu rupa hanya karena keteledoran belaka. Tapi harapan tinggal harapan. Bendera tetap tak ditemukan. Melalui telefon-genggam, walkie-talkie, dan kurir, kawanan intel diperintahkan untuk menyebar. Bukan saja ke sekitar lapangan tapi ke seluruh sudut kota. Ke kolong-kolong jembatan hingga ke pucuk-pucuk teratas kondominium. Dukun dan paranormal pun dimintakan bantuannya untuk mencari dengan cara mereka sendiri. Sejumlah peserta upacara nekad pulang ke rumah untuk mengambil bendera. Itulah jalan pintas tercepat untuk mendapatkan bendera, pikir mereka. Sebagian lagi mendatangi toko-toko di pasar tradisional dan pasar modern yang biasa menjual bendera. Ada juga yang mencari ke tempat-tempat tertentu di tepi jalan yang biasanya banyak menjual bendera pada musim Agustusan. Tapi aneh, mereka semua tak jua mendapatkannya. Sebaliknya mereka dicekam rasa heran, karena pada pagi-pagi sekali, sebelum berangkat upacara, mereka merasa telah memasang bendera di depan rumahnya. Namun ternyata yang mereka temukan hanyalah tiangnya belaka!

“Bendera hilang!” pekik tetangga sebelah kiri.

“Bendera kami hilang!” jerit tetangga sebelah kanan.

“Bendera kami juga hilaaaaang …” terdengar jeritan dari kampung seberang.

Jeritan itu bersahut-sahutan. Bergulung-gulung di angkasa dan melahirkan gema berkepanjangan di seantero kota. Membentur-bentur dinding gedung pencakar langit. Lalu menelusup ke ruang-ruang bawah tanah. Maka, seisi kota pun jadi gempar. Kebingungan melanda di mana-mana.

Sambil menenteng kebingungan itu di benak mereka, beberapa orang yang tadi nekad pulang ke rumah segera kembali ke lapangan dengan tangan kosong. Mereka berharap semoga bendera yang hilang sudah ditemukan. Setiba di lapangan, mereka mendapati kenyataan yang sama. Bendera yang raib itu belum jua ditemukan. Komentar-komentar keras mulai bermunculan.

“Ini pasti sabotase besar-besaran!”

“Subversif!”

“Makar!”

“Menghina martabat bangsa!”

“…”

Dua jam berlalu. Detik-detik proklamasi basi sudah. Sebuah momentum yang amat mahal lewat begitu saja. Seluruh peserta upacara yang tetap bertahan di lapangan benar-benar merasa frustrasi. Bayangkan, kampanye besar-besaran untuk merayakan hari kelahiran emas proklamasi kemerdekaan ternyata dilecehkan dengan cara begini rupa. Akhirnya, mereka mendesak agar upacara tetap diselenggarakan biarpun tanpa bendera. Apa salahnya tanpa bendera?

Atas desakan itu, inspektur upacara tak punya pilihan lain kecuali menyetujuinya. Bagaimanapun juga, ini keadaan darurat. Pada waktunya, katup pengaman memang mesti dibuka. Karena di balik desakan massa itu tentulah berdiri anarki yang membabi-buta. Nyawa atau sekurang-kurang cacat-tetap adalah taruhannya.

Dari sudut logika kekuatan, sebetulnya bisa saja sang inspektur memerintahkan bala tentara untuk menyiram gelombang massa itu dengan gas air mata. Atau jika perlu timah-timah panas yang siap dimuntahkan sewaktu-waktu dari moncong bedil yang menganga selalu. Atau juga menghujaninya dengan ratusan granat. Atau sedikitnya melepas kawanan anjing liar demi mencabik-cabik tubuh mereka. Tapi itu berarti lapangan luas nan menghijau itu akan segera bertukar warna menjadi merah – oleh darah!

Tidak, tidak – bisik suara hatinya, ketika gagasan amat bengis itu membersit di dalam benaknya. Sekelebat terlukis dalam kepalanya wajah seorang penjahat perang yang tak pernah diadili, Westerling, yang membunuhi empat puluh ribu anak manusia di Sulawesi Selatan pada zaman penjajahan. Wajah itu segera memudar dan digantikan wajah seorang Jerman dengan setumpuk misai kecil persis di bawah mancung hidungnya. Hitler namanya. Isi perutnya naik ketika membayangkan wajah itu. Dia merasa mau muntah begitu terkenang bahwa pemilik wajah itulah yang menjadi biang terbunuhnya enam juta orang Yahudi semasa Perang Dunia II. Secara bergiliran bermunculan juga wajah tembam Idi Amin, Slobodan Milosevix, Radovan Karadzic, Lapangan Tiananmen, Kepulauan Gulang, Penjara Siberia, Penjara Guatanamo, monumen-monumen kekejian di pelbagai belahan dunia, gerombolan Pemuda Rakyat dan Gerwani yang menyileti para jenderal dan perlawanan sebaliknya yang dilakukan tentara dan rakyat yang membunuhi para anggota Partai Komunis Indonesia pada pasca Gerakan 30 September 1965, dan terakhir sekali wajah memelas seorang perempuan aktivis buruh yang terbunuh, Marsinah!

Bayangan wajah terakhir ini kontan membuyarkan nafsunya untuk unjuk kekuatan. Dengan rasa sabar tak tepermanai akhirnya dia menyetujui upacara tanpa bendera itu. Maka upacara pun dimulai kembali.

***

Dengan isyarat tertentu, dirigen yang memimpin korps musik itu memberi aba-aba. Sesaat lagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya akan berkumandang. Tetapi, baru saja lagu kebangsaan itu dinyanyikan, terdengar bunyi mendesing keras puluhan pesawat udara persis di atas lapangan upacara. Satu, dua, tiga -- tak tanggung-tanggung, lima puluh pesawat udara dari jenis N-250 Gatotkaca bikinan IPTN terbang rendah di atas lapangan itu. Suasana jadi bising sekali. Desing mesin memekakkan telinga. Lagu Indonesia Raya tengelam dalam kebisingan. Upacara yang mestinya berlangsung khidmat jadi rusak sama sekali. Tercemar oleh suara pesawat yang kekuatannya entah berapa desibel itu. Pendeknya, bunyi bising mesin itu betul-betul teror yang disemburkan secara frontal dan langsung menohok ke ulu hati keheningan.

Tapi koprs musik itu tetap saja memainkan musiknya. Dan seluruh mulut terus saja menyanyi. Kelimapuluh pesawat udara itu tampak melakukan manuver. Kemudian dari masing-masing perut pesawat berlompatan para penerjun. Pakaian mereka berwarna merah-putih. Ketika para penerjun melakukan kerjasama udara terbentuklah konfigurasi seperti bendera yang sedang melambai-lambai. Merah-putih warnanya. Langit biru menjadi latarnya. Indah nian tampaknya!

Semua mata memandang ke atas menyaksikan atraksi amat menawan itu. Di luar sadarnya, sang inspektur upacara pun mendongakkan wajahnya ke langit. Peristiwa luar biasa itu seakan menyihir mereka, sehingga mereka tak sadar bahwa sebuah upacara telah terhenti di tengah jalan. Padahal tadi mereka begitu bersikeras melaksanakannya.

Bala-tentara yang mengikuti upacara pun kehilangan kewaspadaannya. Tiada tanda-tanda atau gelagat bahwa mereka melihat pesawat udara dan sekalian penerjunnya itu sebagai kawanan musuh. Tiada komando yang menggerakkan laras senapan mereka untuk dibidikkan ke arah sasaran. Sebaliknya mereka justru merasa bahwa itu adalah kawan, adalah bagian sah dari diri mereka sendiri, namun selama ini terlupakan. Mereka bahkan merasa bersalah karena telah begitu lama mengabaikannya. Jadinya, mereka seperti sedang menanti bersua dengan teman lama, atau bahkan dengan saudara kandungnya yang telah hilang selama puluhan tahun. Serta-merta saja rasa kangen yang kuat menyergap diri mereka. Kini mereka justru amat merindukan para penerjun itu untuk selekasnya tiba di darat. Mereka ingin menyaksikan dengan mata-kepala mereka sendiri, bagaimanakah gerangan nasib saudara kandungnya itu. Duhai, siapakah para penerjun yang langsung terasa begitu intim di relung-relung kalbu mereka. Wahai, siapakah kiranya …

Satu persatu para penerjun itu menjejakkan kakinya di bumi. Mereka mendarat persis di sekitar tiang bendera. Salah seorang penerjun yang ternyata wanita separuh baya tampak menghampiri tiang bendera. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukiran halus dari balik baju terjunnya. Semua mata tertuju pada kotak itu. Begitu kotak terbuka, serta-merta orang menjadi kaget. Kaget sekali. Wanita itu mengeluarkan bendera pusaka!

Sebelum rasa kaget kolektif itu sirna, wanita itu telah menyematkan bendera pada tali dan kemudian bersiap-siap mengereknya. Entah siapa wanita agung itu. Tapi wajahnya segera meningatkan orang pada Ibu Negara pertama, Ibu Fatmawati. Jika benar demikian, maka dia memang berhak mengerek bendera pusaka itu karena memang dialah yang menjahitnya pada malam-malam menjelang proklamasi kemerdekaan dulu. limapuluh tahun lalu.

Kini dia benar-benar hendak mengereknya. Tapi dalam seketika seorang lelaki kurus tinggi mengenakan peci hitam dan kacamata menyeruak dari kerumunan para penerjun sambil mengapit biola. Dari balik baju terjunnya dia mengeluarkan penggesek biola lalu meminta seluruh peserta upacara untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dengannya. Maka berkumandanglah lagu kebangsaan itu bersamaan dengan terkereknya bendera pusaka. Tetapi siapakah gerangan lelaki nan piawai menggesek biola itu? Wajah dan penampilannya segera mengingatkan orang kepada pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Jika benar demikian, dia memang berhak mengiringi lagu itu karena memang dialah penciptanya.

Kini bendera pusaka itu telah tiba di pucuk tiang dan angin pun segera mengibarkannya. Bendera itu melambai-lambai dengan anggunnya. Seluruh peserta upacara dicekam keharuan dan rasa tenteram nan murni. Tak terasa air mata syukur menitik dari semua pasang mata seluruh peserta upacara.

Kini mereka merasa ngeh. Rupanya, itulah makna peristiwa burung garuda yang menyambar bendera pusaka pagi tadi. Tetapi, dosa apakah gerangan sehingga putra-putri teladan pengibar bendera pusaka itu seolah tak diperkenankan oleh sang garuda untuk mengereknya? Tiada jawaban, biarpun semua orang, terutama para pengibar bendera nan muda belia itu, menekuri dirinya. Mereka hanya sanggup menebak terka. Apakah citra ABG (Anak Baru Gede) begitu buruk di mata para pahlawan itu? Apakah ini gara-gara 37 ribu remaja Jawa Tengah melakukan hubungan seks di luar nikah? Apakah ini disebabkan kasuh-kasus ecstasy yang melanda anak muda kalangan jetset yang kerjanya ke luar-masuk diskotek melulu.  Apakah ini karena kaum muda tak ubahnya angkatan gagap yang tak pernah dipersiapkan sebagai pelaku kehidupan. Apakah ini gara-gara perilaku mereka yang lebih senang keluyuran di mal dan pasaraya ketimbang asyik di toko buku, perpustakaan dan rumah ibadah.

Setelah melakukan penghormatan setakzim-takzimnya kepada bendera, sosok yang mengingatkan orang kepada Ibu Fat dan WR Supratman itu undur diri menyisih ke tepi lapangan. Orang-orang hanya memandang dengan rasa haru mendalam. Tiada sepatah kata komentar meluncur dari mulut mereka. Peristiwa itu adalah peristiwa hati.

Kemudian, dari tengah-tengah para penerjun itu, muncul sosok yang mengingatkan orang kepada Presiden Pertama, Bung Karno. Sosok ini segera menuju mimbar dan menyampaikan pidato secara berapi-api. Retorikanya menunjukkan bahwa dia memang seorang orator ulung. Pada dirinya, pidato menjadi sebuah karya seni yang mengagumkan. Enak didengar dan perlu.

Seraya memainkan tongkat komandonya dia berkata, “Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah-air, perlu dicamkan kembali, bukantah dahulu telah kukatakan bahwa kutitipkan negara ini padamu. Tapi kalian tak sungguh-sungguh menjaganya. Pada upacara yang gagal tadi pagi, terbukti bendera pusaka raib entah ke mana. Itu adalah skandal. Itu adalah aib. Itu adalah pertanda betapa kalian tak mampu menjaga kehormatan bendera pusaka …”

Tapi, di tengah-tengah pidatonya itu, tiba-tiba dia menangis. Bukan menangisi keteledoran bangsa melainkan lebih menyesali diri sendiri. Mungkin terkenang kembali episode akhir hidupnya yang sepi lagi tragis. Tanpa tedeng aling-aling dia mengaku bahwa dirinya pun bersalah. Bahwa dia yang atas nama bangsa memerdekakan negara ini pernah pula membawa kapal negara ini ke tepi jurang kehancuran. Lalu dia memohon agar bangsa ini sudi memaafkannya.

“Siapa berani berkata bahwa Bung Karno tidak pernah bersalah? Pernah bersalah, karena dia adalah manusia … ” ujarnya sembari terisak-isak, mengutip sebuah pidatonya dulu kala. Orang-orang pun yakin bahwa Bung Karno pernah bersalah, dan kini sedia memaafkannya.

Seturunnya Bung Karno dari atas mimbar, tampillah seorang pria kelimis berkacamata minus. Perawakannya kecil. Wajahnya mengingatkan orang kepada Wakil Presiden pertama, Bung Hatta.

“Saudara-saudara, inilah saatnya kita mawas diri sebagai bangsa. Limapuluh tahun lalu, dalam rapat BPUPKI, saya pernah mengingatkan bahwa negara yang kita bentuk ini adalah negara pengurus. Jadi, harus mengurusi rakyatnya. Tapi saya dengar, beberapa waktu lalu terjadi geger karena ada korupsi sampai 1,3 trilyun. Di televisi saya melihat hampir setiap hari wajah koruptor ditayangkan. Kemudian belakangan ini banyak terjadi penggusuran. Pada suratkabar saya membaca. para petani di Lampung hanya menerima ganti-rugi tanah senilai lima rupiah permeter. Ini semua mencemaskan. Tetapi kali ini saya tidak mau bicara panjang-lebar. Saya hanya ingin mengingatkan kembali agar republik ini tetap istikomah menjadi negara pengurus, bukan negara penguasa!” ujar Bung Hatta yang memang kurang pandai berpidato, seraya turun dari mimbar. Sekilas tampak wajahnya yang menyeringai marah.

Lalu seorang pria tinggi-besar yang mengingatkan orang kepada Muhammad Yamin tampil ke muka. Di tangannya tergenggam sebuah buku.

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah-air,” ujarnya, “tiga masalah besar sedang melanda dunia dewasa ini yaitu hak asasi manusia, demokratisasi, dan lingkungan hidup. Itulah tantangan yang harus kalian hadapi sebagai bangsa pada saat ini. Dua masalah pertama yaitu hak asasi dan demokratisasi sudah saya bayangkan sejak limapuluh tahun lalu. Dalam rapat BPUPKI, saya pernah berbeda pendapat dengan Bung Karno dan Supomo ketika hendak memasukkan pasal-pasal tentang hak asasi ke dalam UUD 45. Kini terbukti benar bahwa hak asasi mesti dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Syukurlah, ketika itu terjadi kompromi, dan hak asasi bisa dimasukkan dalam UUD 45. Kini tugas kalianlah memperjuangkannya.”

“Menanggapi raibnya bendera pusaka tadi pagi, di sini saya ingin mengingatkan kembali bahwa kalian harus menjaganya dengan hormat. Membelanya dengan perkasa. Dan setialah selalu kepadanya. Kini kami bawakan kembali bendera itu. Jagalah dia baik-baik dan kibarkan terus di seluruh tanah persada ini, terlebih-lebih di hati kalian sendiri. Ingatlah lagi bahwa ribuan tahun sudah merah-putih berada di tangan bangsa kita sejak dia disebut gulaklapa. Karena itu kalian mesti menjaganya untuk selama-lamanya. Jika dada rasa hampa, bacalah kembali kitab saya 6000 Tahun Sang Merah-Putih …” ujarnya sambil mengacung-acungkan kitab di tangannya. 

Seusai menyampaikan amanatnya, para bapa pendiri yang menyamar sebagai penerjun-penerjun itu menghilang secara gaib. Tetapi bendera pusaka yang mereka bawa tadi tetap berkibar di lapangan luas nan menghijau itu. Kini melambai-lambai dengan manisnya. Memanggili semua hati yang melupakannya. []


Sukarame, 12.6.95


*Cerpen "Bendera" menjadi judul dari buku cerpen Iwan Nurdaya-Djafar yang siap diterbitkan Siger Publisher (2014).


Biodata:

Iwan Nurdaya-Djafar lahir pada 14 Maret 1959 di Tanjungkarang, Lampung, Alumni Fakultas Hukum jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara. Debutnya sebagai penulis cerita pendek diawali dengan cerpen bertajuk “Kampungan” yang dimuat di harian Pikiran Rakyat, Bandung pada 1983. Cerpen-cerpennya kemudian terbit di harian Lampung Post, majalah Gerbang Lampung, Gema Orienta,  Pengayoman,  dan dalam antologi cerpen Cetik terbitan Dewan Kesenian Lampung (1998).

Iwan juga dikenal sebagai penyair, esais. penulis buku dan penerjemah. Pada 1983 memenangi lomba karya tulis ilmiah bidang hukum yang ditaja oleh Senat mahasiswa FH Unpar, pada 1998 memenangi Sayembara Penulisan Naskah Cerita Film yang diselenggarakan Departemen Penerangan. Pada 2004 tampil sebagai pembicara dalam Kongres Kebudayaan di Bukittinggi.

Di antara karyanya Seratus Sajak, Hukum dan Susatra, terjemahan karya Ali Shariati: Tipologi: Sebuah Metode Memahami Islam, terjemahan karya Kahlil Gibran: Kematian Sebuah Bangsa, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Airmata dan Senyuman, Sang Nabi, terjemahan karya E. Stepanova: Karl Marx: Nabi Kaum Proletar, terjemahan karya Saad Muhammad Al-Marsafi: Kabah Pusat Dunia, terjemahan novel Manuel Komroff: Hidup, Cinta dan Petualangan Omar Khayam, terjemahan karya William Marsden: Nakhoda Muda: Memoar Sebuah Keluarga Melayu,  terjemahan novel karya Mohsen El-Guindy: Lelaki dari Timur, dan Pepatah Petitih Lampung.

Iwan Nurdaya Djafar: Penyair, Birokrat, Penyambung Lidah Sastra Timur

Puisi-puisi Arya Winanda

KEJORA

ia karam di sana, berkedip-kelip
seperti suar kapal
mengirim tanda kepada mata

tapi tiada yang sudi
menerjemahkan isyaratnya

atau mengajukan tanda-tanda balasan
sebagai pertanyaan kepada kabarnya

bagi mata, ia karib sedemikian cemerlang
begitu dekat, hingga lupa mengapa
ia mengibas-ngibaskan ekor cahaya
serupa anjing menyambut tuannya

ia kepalang menjelma bunga
kepalang dimekarkan kelopaknya
agar hidung mengendus wangi
hingga dada memuja-muji

tapi mana mata yang perlu tahu
mengapa ia mengibas-ngibaskan ekor

tanda pada tuannya

ia mengucap selamat tinggal
sebab ia gesit berlalu

lebih tangkas ketimbang pandangan
yang amat suka terpaku

antara ia dan mata tuannya
terhampar selembar selimut hitam
sebenarnya, mereka tiada berjumpa
hingga ia mengirim ekor cahaya

agar tuannya amat tahu
mereka tak pernah saling ketemu

mata gemar menatapnya
tak lebih

sebagai masa lalu

sebab selalu
jarak memerlukan waktu

Kompas, 2010


SARAPAN


demi pagi dan bebutir nasi
dan cekcok antara diri dengan diri

selembar paras
memucat di tingkap jendela
sepenuh malam mengira
bulan berlari menjauhi langit
padahal, mataku pencurinya

seandainya engkau tak terkunyah
geraham dan tercecap lidah
di muka meja makan
maka ia tak sempat memejam
hingga mampu membaui
serumpun pandan ditinggalkan wangi
sekelebat ia didaulat bunyi

terpujilah dirimu
yang damai terkunyah
di pintu mulutku

2010


DI BELAKANG MUKA, DI DEPAN PUNGGUNG

mata ditumbuhi segunduk lumut
dari tangkai hidung hingga tepi pelipis
tempat kulit dilukai keriput
sempurna, tiga lengkung garis

asap tumbuh dari daging dan urat kayu
sisa kunyahan api
dari abu bersalin abu
berpuluhtahun terkurung, berputar-putar cuma
di antara pusar
dan tangkai khuldi
sedikit ke arah pusat matahari,
dengung silang berganti
di mahkota:
kabut penyamar, membiak
dengan rupa-rupa warna

maka bangkit bermacam debu
meluncur di sulur-sulur angin
liar mendarat di ujung rerumput alis
serupa sehabis badai salju
dan matahari kelabu
yang tampak menampik terbit 

hati, dengan hati-hati
lewat pucuk jari merahnya
pelan membuka daun pintu mata
merasai cuaca yang mesti tiba:

langit sewarna janggut jagung
padang rumput semacam ganggang laut
dengan pinggul yang lancang

menggoyang tatapan
membukit kepayang

serak getar ranting renyah
menumbuk daunan, riuh rendah
dikayuh angin, ditiupi  angan
tertarik tanah
tersuruk ke arah sekelompok semak

kemudian reruntuhan mahkota bunga,
batu, dan sesayup suara

kabar cemas
dari paruh burung
senantiasa terlepas
menimpa kepala

2011

LELAKI PENYIMPAN
TANGKAI KHULDI


dari pusat pinggang
tangkai itu tak henti melelerkan
getah

liar api berkobar, memanaskan bebiji purba
ia terbakar dongeng yang sama

saat nama-nama yang tertiup di bibir
tawar, tercampur liur asmara

rusukkiri umpama duri, benar ia tulangku sendiri
tapi bagai anggur pekat tertuang ke kerongkongan
begitu sepat, membuat cekat, kata-kata punah menjadi decak
dan desah, tubuhku licin serupa ular menggelepar
di liang tanah 

ingatan itu begitu binal
sebagai pencuri
ia mencium debu
mengenali lempung muasal

dan sulur sunyi yang merayapinya
tak ia kenal laiknya awal, sebelum
rusukkiri tercabut dari dadanya
sebelum rakus ia memamah putik dada

begitu riuh, ribuan duri logam
terjun, melenting, meriap, berdenting
meluncur di sekujur daging

pandangannya pekat-lebam
bagai mata karam di lumpur
sungai, sebab kini suara dirinya
begitu asing

dimanakah tangkai khuldi ini kusembunyikan
bagaimana muasal cemas ini kulenyapkan

dari telinga ia mendengar
desis terlontar

bagimu kini, api mula terang
dan gelap adalah gerbang

sebagai juru kunci nama-nama
lidahnya yang lihai
kini bercecabang
membelukar, penghalang rimbun
bagi jalan pulang

dari celah-celah
yang tersingkap udara
terkadang berhamburan
bulu cahaya

2009

6 BAIT RAYUAN GOMBAL

dingin yang terhampar di waktu subuh
menjelma di bulu dedaun bambu
beningnya menitis di mata kamu
karenanya,
     saya mengagumi
     mata embun itu

embun yang menitik di matamu
terasa asin dan asing
ia umpama laut
dan saya tenggelam
    sebab lidah ombaknya
                  melempar ludah ke muka
    bila mau bertaut, menyurut

dengan cara yang sama saya memahami:
di lengkung petang, burung-burung parkit
menghambur ke lenggang padang
meluncur licin di pinggang bebukit

begitu juga senyummu: lapang
namun terang

menggigit pahit

sebab itulah
saya menjatuhkan diri
dan  berusaha sungguh
bangkit sendiri

2010


Arya Winanda
BIODATA SINGKAT

Arya Winanda, lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 14 Juli 1980. Pada tahun 2008 ia memulai debut menulis puisi setelah tiga cerita mininya masuk dalam nominasi dan salah satunya meraih penghargaan dalam acara Sayembara Fiksi Kilat yang ditaja Dewan Kesenian Lampung pada tahun yang sama. Karya-karya puisinya terhimpun dalam kumpulan puisi tunggal Desis Ular (Dewan Kesenian Lampung, 2010) dan kumpulan puisi dan cerpen Hilang Silsilah (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Sejumlah puisinya yang lain juga dimuat di media cetak Jakarta dan daerah: Lampung Post, Koran Tempo, dan Kompas. 

Endang Supriadi Luncurkan “Jendela Rumah Tetangga”

Endang Supriadi (kanan). Foto: infosastra.com
DEPOK, Teraslampung.com - Penyair sekaligus cerpenis Endang Supriadi meluncurkan buku kumpulan cerpennya “Jendela Rumah Tetangga” di rumahnya di kawasan Citayam, Depok, Sabtu, 31 Mei 2014.

Hadir dalam peluncuran itu sejumlah sastrawan seperti Sihar Ramses Simatupang, Dianing Widya, Badri AQT, Mustafa Ismail, Eddy Pramduane, Rara Gendis, dan Pudwianto Arisanto. Prosesi peluncuran ditandai dengan penyerahan buku itu sebagai kado untuk istri Endang.

“Ini bertepatan dengan ulang tahun istriku,” kata penulis kelahiran Bogor, 1 Agustus 1960 itu, di sela-sela acara peluncuran itu.

Sejumlah pegiat sastra yang hadir menilai peluncuran itu sebagai sesuatu yang unik. Pasalnya, selama ini peluncuran buku sastra dilakukan di gedung atau kantong-kantong budaya.

“Peluncuran di rumah itu ide Badri,” ujar Endang, yang disambut anggukan Badri. Badri, yang bertindak sebagai penerbit lewat Q Publishing, meskipun dana terbatas, ia mendorong agar buku itu diluncurkan. Lalu, Endang mengontak sejumlah teman lewat SMS dan facebook. Maka berkumpulkan sejumlah sastrawan di rumah yang suasana lingkungannya mirip di kawasan Puncak itu.

“Ini sekaligus reuni kecil-kecilan,” tutur Endang lagi.

Dalam acara yang diwarnai obrolan tentang berbagai isu di dunia sastra itu kemudian muncul ide untuk melembagakan peluncuran semacam ini lewat “arisan sastra”. Siapa yang punya buku baru bisa meluncurkan buku itu di rumahnya. “Keuntungannya para istri penyair bisa saling kenal, anak-anaknya juga bisa bermain bersama dan tahu kreatifitas yang dilakukan orangtuanya. Itu sangat positif dan membanggakan,” tulis Endang kemudian di akun Facebooknya.

Mustafa Ismail menilai peluncuran di gedung dan kantong-kantong sastra memang tidak lagi menarik. “Akan lebih nyata dampaknya jika peluncuran buku sastra itu dilakukan di tengah-tengah masyarakat,” ujar penulis sastra asal Aceh itu.

Menurut dia, peluncuran di rumah memang lebih merekatkan silaturahmi bukan hanya antar sastrawan, tapi juga dengan keluarganya.

“Jadi siapa punya buku baru, mari luncurkan di rumah masing-masing.”

Sumber: infosastra.com

Melacak Jejak Benak Taufiq Ismail Ihwal Pendidikan (3)

Slamet Samsoerizal*

Taufiq Ismail (Ist)
Sumbangan ketiga Taufiq Ismail adalah teknik penyebarluasan puisi-puisinya kepada khalayak.  Dalam kaitan ini Taufiq sadar benar bahwa untuk mewujudkan keinginannya sebagaimana dilontarkan dalam puisi  Aku Ingin Menulis Puisi yang. Ia memublikasikan puisi-puisinya melalui jalur media massa baik cetak maupun elektronik.

Melalui media massa cetak, puisi-puisinya ditemukan melalui rubrik puisi dan surat pembaca pada surat kabar dan majalah. Selain itu, puisi yang dipublikasikan itu pun dibukukan dalam bentuk antologi baik atas nama sendiri maupun kumpulan bersama beberapa penyair.

Jalur konvensional ini merupakan langkah kebanyakan penyair di negeri mana pun di dunia ini. Akan tetapi,  dalam berbagai kasus banyak antologi diterbitkan, sayang keberadaanya diabaikan. Khusus antologi-antologi puisi Taufiq Ismail, keberadaannya mendapat animo yang menggembirakan. Indikator yang dapat dijadikan sebagai titik tolak adanya keterlibatan puisi-puisi Taufiq Ismail yang sering dikutip baik pada buku-buku pelajaran bahasa Indonesia atau materi perkuliahan, pun banyak analisis dan kajian atas puisi-puisinya baik tingkat pelajar tingkat menengah maupun disertasi tingkat doktoral.

Puisinya yang berkisah tentang Fariduddin Attar  dijadikan rujukan untuk membahas sebuah materi metafisika untuk kuliah filsafat oleh Jujun Suriasumantri dalam buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (1984). Juga saat Amien Rais mendapat pengukuhan gelar Profesor dari Universitas Gajah Mada pada 1999, mengutip puisi Takut ’66, Takut ’98 sebagai acuan uraian teoritis tentang bahaya ”kuasa” dan ”tunakuasa” sekaligus menunjukkan perubahan politik di negeri ini yang menunjukkan bahwa tunakuasa (powerlesness) mulai mendialogkan kuasanya (powerness). Nilai didik yang dapat ditangkap melalui puisi yang bicara rasa takut ini agar dihayati benar oleh para wakil rakyat dan pejabat negara, terutama ”takut” kepada rakyat, selain takut kepada azab Allah SWT.
           
Melalui media massa elektronik, puisi-puisinya meluncur melalui pembacaan baik yang dilakukan Taufiq sendiri maupun melalui orang lain. Begitu seringnya Taufiq diundang untuk membacakan puisi-puisinya di dalam negeri dan di luar negeri. Media yang mengundang pun beragam. Ada kalanya dalam sebuah seminar tentang politik, ia diminta membacakan puisinya. Undangan juga mengalir dari radio maupun televisi. Frekuensi yang demikian tentu menguntungkan puisi-puisinya banyak dikenal orang di dalam maupun luar negeri. Apalagi puisi-puisinya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Rusia, dan bahasa China.
           
Terobosan Taufiq dalam penyebarluasan puisi-puisinya ternyata tidak hanya sebatas itu. Kita mencatat sejak 1973, puisi-puisi seperti Oda pada Van Gogh,  Dengan Puisi Aku, Kasidah Rindu Kami Padamu, Adakah Suara Cemara, Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Ada anak Bertanya pada Bapaknya dan Jual Beli adalah beberapa puisi Taufiq Ismail yang dijadikan sebagai lirik lagu-lagu Bimbo. Kita pun mencatat, bahwa puisi Panggung Sandiwara Taufiq Ismail digubah oleh Ian Antono dari kelompok musik Godbless dan dilantunkan oleh Achmad Albar begitu populer di telinga penikmat musik Indonesia.

Khusus mengenai lagu-lagu bertema religius yang dinyanyikan Bimbo seperti Tuhan,  Sajadah Panjang,   Aisyah Adinda Kita, Ada anak Bertanya pada Bapaknya begitu merajai telinga penikmat musik, terutama saat bulan Ramadan tiba –sehingga tidak mengherankan jika ada yang menyebut bahwa setiap Ramadan adalah bulan lagu-lagu Bimbo. Kita pun dapat beranalogi, menyebut sukses Bimbo berarti menyebut sukses Taufiq Ismail sebagai penulis lirik yang andal. Ia ternyata juga merambah kerja sama dengan  almarhum Chrisye untuk penulisan lirik Ketika Tangan dan Kaki Bicara.   

Unsur didik sangat terasa pada semua lirik yang berasal dari puisi-puisi garapan Taufiq Ismail. Secara representatif, puisi berjudul Tuhan dan Sajadah Panjang sangat kental nilai religinya. Berikut dikutipkan isi puisi Sajadah Panjang secara lengkap.:

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya



Horison Apresiasi Sastera

Taufiq Ismail bercita-cita menjadi sasterawan sejak SMP dan mengental ketika SMA--  menyadari kewajiban yang diembannya. Berkaitan dengan pendidikan, ia ikut membidani lahirnya Majalah Sastra Horison.  Sebuah majalah yang  secara taat asas melaksanakan tugasnya sebagai majalah sastra sejak awal pendiriannya, 1966 yakni mencatat puisi, cerpen, esai,  menyemai bibit-bibit sastrawan baru, menumbuhkembangkannya, sehingga terjadi dialektika secara dinamis baik sebagai sebuah sosok maupun karya dengan konsekuensinya. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di sekolah-sekolah, mengingat Horison  adalah satu-satunya majalah sastra di negeri ini(!)

Melalui Horison pula, Taufiq Ismail mengemas empat proyek besar atas keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan bangsa ini. Taufiq Ismail mengemas melalui program penerbitan sisipan “Kaki Langit”  majalah Horison  sejak November 1996 dan masuk ke SMU, MA (Madrasah Aliyah), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan Pesantren. 

Itu  yang pertama. Sebagai suplemen,  “Kaki Langit”  menampilkan karya sastra : puisi, cerpen, dan esai para siswa dari seluruh Nusantara. Bapak dan Ibu guru (bahasa Indonesia) tidak ketinggalan dilibatkan pula, melalui rubrik ”Pengalaman Guru”. Ulasan puisi dan cerpen karya siswa juga disajikan sebagai bentuk kritik terhadap karya para siswa. Setiap terbit, “Kaki Langit”  memperkenalkan sosok sastrawan –mulai dari biografi, karyanya hingga proses kreatifnya.

Kedua,   menyadari bahwa perubahan harus  dimulai dari guru, Taufiq Ismail melalui Yayasan Indonesia (penerbit Majalah Horison) melobi Bappenas dan Departemen Pendidikan Nasional dan sejak Februari 1999 meluncurkan program MMAS (Membaca, Mengarang, dan Apresiasi Sastra) untuk guru bahasa dan sastra Indonesia. Hingga tahun 2000, telah dilatih 11 angkatan (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat).  Itu mencakup 660 guru. Setelah itu, Riau, Jambi Sumatera Utara, Lampung, dan pada tahun 2001 MMAS melanglang ke Kalimantan dan Indonesia Bagian Timur.

Ketiga,  dalam rentang masa yang sama, 43 sastrawan bergerak masuk ke 30 SMU, MA, SMK, dan Pesantren di 20 kota 3 provinsi bertemu dan berdiskusi dengan 3.000 siswa. Kegiatan ini merupakan proyek ketiga yang digarapnya di bawah bendera SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya).  Pada 2004, SBSB  telah merampungkan hajatnya di 26 provinsi, 133 kota, 205 siswa, dihadiri (sekitar) 92.000 siswa dan guru, didatangi sekitar 90 sastrawan.

Keempat, pada tingkat perguruan tinggi, Taufiq Ismail menggarap proyek keempatnya yakni SBMM (Sastrawan Bicara, Mahasiswa Bertanya). Melalui SBMM Taufiq Ismail mendatangkan 12 sastrawan selama dua semester ke dua kampus (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta) untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Mahasiswa itu diwajibkan membaca buku karya sastrawan tersebut, sebelum hadir dalam diskusi. Kegiatan SBSM dan SBMM ini dibiayai oleh Ford Foundation.

Apa yang menarik? Kegiatan SBSM ternyata menerbitkan optimisme bagi Taufiq Ismail secara pribadi maupun lembaga yang dipimpinnya. SBSM yang berfokus pada apresiasi tingkat SMU, Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan ternyata mendapat respon yang luar biasa. Para siswa tidak saja langsung dapat bertatap muka dan menyimak proses kreatif para sastrawan. Pengenalan langsung seperti ini tentu lebih efektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Sebagai tindak lanjut SBSM Horison pun memberikan wadah berupa rubrik sisipan "Kaki Langit".  Lagi-lagi optimisme kembali bangkit manakala redaksi Horison  kewalahan menampung karya-karya siswa di seluruh tanah air. 

Dalam Seminar sehari yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia DKI Jakarta, pada 30 September 2000 Taufiq Ismail melontarkan kritik pedasnya. “Masyarakat Indonesia itu sudah mengidap penyakit rabun membaca dan lumpuh menulis. Akibatnya, kedua penyakit itu menimbulkan budaya kekerasan yang akhirnya mempengaruhi juga sisi-sisi kehidupan kaum mudanya.”

Lontaran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan amatannya, kuantitas oplah buku-buku sastra yang terbit sejak awal revolusi,  Taufiq Ismail menyayangkan rendahnya minat masyarakat, terutama minat membaca karya sastra. Apabila melihat jumlah majalah sastra, ternyata yang terbit di Indonesia cuma satu buah, yakni Horison.

Menurutnya, keadaan ini sangat luar biasa minimnya. Apalagi jika Taufiq Ismail membandingkannya dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Di Mesir, dengan jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa, penduduknya mampu menerbitkan majalah sastra sebanyak 12 buah. Taufiq Ismail pun melontarkan,  semestinya   kita memiliki 48 buah majalah sastra.   Catatan lain yang dikemukakan dalam seminar tersebut adalah novel Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang pertama terbit 1949 dan beroplah 3. 000 eksemplar,  hingga tahun 2000  jumlah eksemplarnya tidak berubah.  Sebuah ironi, memang!

Munculnya budaya kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini salah satunya disebabkan oleh tidak dikembangkannya nilai-nilai luhur dalam sistem budaya. Nilai kejujuran, ketertiban, tanggung jawab, pengendalian, kebersaman, keimanan, yang seharusnya berproses dalam pendidikan di sekolah, rumah, dan masyarakat –kemudian dicontohkan oleh pendidik, orang tua, dan pemuka masyarakat, serta dibaca dalam karya-karya sastra—ternyata tidak berlangsung seperti yang diharapkan.
_________________