B. Satriaji dan Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com
Jakarta—Buku Antologi Puisi Esai 23 Penyair yang diluncurkan Selasa (19/3) malam di Teater Kecil TIM Jakarta, tidak ada kaitan dengan penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh editor Jamal D. Rahman dan kawan-kawan, meskipun diketahui kemudian dari satu sumber dana.
Hal itu dinyatakan Fatin Hamama, editor 5 buku puisi esai yang ditulis 23 penyair Indoensia, yang diterbitkan PT Jurnal Sajak Indonesia, Januari 2014.
"Wallahi, saya baru tahu ada buku 33 Tokoh Sastra itu menjelang peluncuran. Kebetulan pihak PDS HB Jassin meminta saya menjadi MC pada peluncuran," kata Fatin, Rabu (20/3), untuk mengklarifikasi kepada para penyair yang karyanya terhimpun dalam ke 5 buku tersebut.
Kelima buku yang diluncurkan tersebut adalah Moro-Moro Algojo Merah Saga oleh Agus Noor, Anisa Afzal, Chavchay Saefullah, Isbedy Stiawan ZS, Mustafa Ismail, D. Zawawi Imron; Serat Kembang Raya (Akidah Gaudzilah, Anis Sholeh Ba'asyin, Dianing Widya, Fatin Hamama, Sujiwo Tejo); Sungai Isak Perih Menyemak (Ahmadjn Yosi Herfanda, Anwar Outra Bayu, D. Kemalawati, Hamdry TM, Mezra E Pellondou, Salman Yoga S), Testamen di Bait Sejarah (Rama Prabu), dan Jula Juli Asam Jakarta (Bambang Widiatmoko, Kurnia Effendi, Nia Samsihono, Remmy Novaris DM, Sihar Ramses Simatupang).
Hadir 15 penyair pada peluncuran sekaligus membacakan puisi diiringi pertunjukan wayang dengan lakon "Sastra Jendra Hayuningrat" oleh dalang Sujiwo Tejo. Sekira 200 pengunjung memenuhi Teater Kecil, sehingga banyak yang tak mendapat kursi, di antara 25 taruna polisi dari Perguruan Tinggi Kepolisian Indonesia (PTKI) yang dikawal oleh dosennnya, yang ternyata putri dari penyair Husni Djamaluddin (Makasar).
Menurut Fatin, penerbitan buku 23 penyair ini dikerjakan sejak September 2013, dan dirinya tak tahumenahu ihwal adanya program penerbitan 33 Tokoh Sastra. "Jadi salah alamat jika dikaitkan apalagi dicurugai bahwa penerbitan buku puisi esai dari 23 penyair Indonesia ini untuk memperkuat ketokohan atau melegitimasi buku 33 Tokoh Sastra," jelas Fatin saat beraudiens dengan Denny JA sebagai penyumbang dana.
Fatin menjelaskan, penerbitan buku 23 penyair ini niatnya untuk mengangkat persoalan diskriminasi, sosial, kemarjinalan, pelanggaran HAM di suatu daerah di mana penyair berada atau yang terjadi di Tanah Air. "Gagasan saya ini ditangkap dan difasilitasi oleh mas Denny," katanya.
Sementara Denny JA juga menerangkan bahwa antara buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dengan 5 buku puisi esai tidak ada kaitannya sama sekali. Apalagi sampai dicurigai buku 23 penyair Indonesia bagian dari desain untuk memperkuat ketokohannya.
“Tidak benar itu. Bahkah, bagi saya, menjadi tokoh atau tidak, tidak begitu penting. Sebab, terpenting bagi saya daripada uang saya untuk hidup hedonis lebih baik saya salurkan ke hal-hal yang berguna, yaitu kebudayaan,” katanya.
Dia juga mengakui kalau dirinya bukan sastrawan, namun hanya peduli pada persoalan diskriminasi, pelanggaran HAM, ketertindasan, serta masalah sosial yang ada di masyarakat. “Indonesia ini sudah penuh oleh hiruk-pikuk politik, karena itu mesti diimbangi dengan kebudayaan.”
Ingkari Kesepakatan
Dalam kesempatan itu, Fatin juga menerangkan kronologi honor untuk Ahmadun Yosi Heranda, dari Rp3 juta menjadi Rp10 juta. "Tak lebih karena perkawanan, dan mas Ahmadun saat itu sangat membutuhkan dana," jelasnya.
Lalu, ketika Ahmadun bersikap mencabut karyanya dan mengembalikan uang, dirinya sangat tidak bisa mengerti. "Apalagi dibarengi dengan pengakuan kalau dirinya diperdaya, dan mengatakan saya mucikari."
Menurut Fatin, akhirnya beberapa waktu lalu ia menemui mantan redaktur Republika itu didampingi Mustafa Ismail dan Putri Miranda. Pada pertemuan tersbeut disepakati bahwa honor Rp10 juta dikembalikan ke Ahmadun dan menurut penulis puisi “Sembahyang Rumputan” akan diserahkan kepada yayasan anak yatim, dan ia tidak mencabut puisinya karena sudah dicetak.
"Mas Ahmadun juga sepakat akan meminta maaf telah mengatakan saya mucikari di media soasial (facebook,Red) dan bersedia meminta maaf kepada keluarga saya. Tapi kenyataannya, dia menulis di status facebook tak ada satu kata pun permintaan maaf. Mas Ahmadun mengingkari kesepakatan,” cerita Fatin tak mampu menahan sedih.
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts
Thursday, March 20, 2014
Saturday, March 15, 2014
Indonesia Jadi Tamu di Frankfurt Book Fair
Linda Christanty*
Teman-teman, apa yang Anda ketahui tentang persiapan pemerintah Indonesia untuk Frankfurt Book Fair di tahun 2015, ketika Indonesia menjadi tamu kehormatannya (guest of honor)?
Pemerintah sudah membentuk komite nasional untuk persiapan Indonesia menyambut pasar itu. Kerja komite nasional untuk Frankfurt Book Fair ini langsung dipertanggungjawabkan kepada wakil presiden Boediono (yang sekarang ramai diberitakan lagi oleh berbagai media di Indonesia tentang keterkaitannya dengan kasus lama, yaitu kasus tindak pidana korupsi Bank Century.
Itulah yang saya dengar langsung dari Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti di Jakarta.
Menurut Wiendu, sudah terbentuk 5 komite dalam komite nasional ini. Siapa saja yang berada di komite nasional dan 5 komite itu, saya tidak tahu. Seperti apa proses kerjanya, saya juga tidak tahu. Salah satu dari 5 komite tersebut (yang berkaitan dengan kita sebagai penulis buku atau pembaca buku) adalah komite buku dan penerjemahan.
Komite ini terdiri dari sejumlah orang (para juri) yang bertugas menyeleksi atau memilih buku-buku untuk dipamerkan (tidak diterjemahkan, tetapi dirasa penting untuk diketahui khalayak luar Indonesia), dan diterjemahkan serta dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair itu.
Dana untuk komite buku dan penerjemahan ini sebesar Rp18 milyar dari pemerintah Indonesia. Bukan dana yang sedikit.
Menurut Wiendu, Indonesia menyiapkan 100 judul buku untuk bookfair itu. Sudah 100 buku diterjemahkan dan masih membutuhkan 50 buku lagi berdasarkan usulan publik melalui website resmi yang diluncurkan pada 5 Maret 2014.
Sedangkan menurut orang Frankfurt Book Fair, dibutuhkan 300 judul. Siapa yang keliru menyebut jumlah, saya juga tidak tahu. Saya hanya juru catat saja.
Saya dan beberapa teman di komite sastra Dewan Kesenian Jakarta pernah berkunjung ke sekretariat atau markas atau kantor persiapan khusus untuk Frankfurt Book Fair itu di kementerian pendidikan nasional, di Jakarta, bulan lalu.
Sebuah kunjungan kelembagaan dan resmi. Waktu itu kami ingin menanyakan apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung Frankfurt Book Fair itu atau minimal, apakah kami bisa mengusulkan buku-buku sastra dari para penulis Indonesia yang kami anggap layak diterjemahkan dan dipamerkan di Frankfurt (tentunya, kami tidak akan dan tidak boleh mengusulkan buku-buku kami sendiri, karena ketika kami dilantik untuk bekerja di komite sastra ini kami harus menjalankan sejumlah kewajiban, antara lain tidak boleh mempromosikan diri sendiri dengan memanfaatkan komite ini dan tidak boleh memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok sendiri melalui komite ini).
Pejabat di kantor khusus yang menemui kami itu intinya mengatakan bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa kami lakukan, karena semua komite sudah siap dan dia menyebutkan nama-nama, yang menunjukkan persekongkolan itu. Kami diam saja dan mencatat.
Tiba-tiba dia berkata, "Di Indonesia, sastra itu punya banyak kubu ya." Kami tertawa.
Saya bilang pada Eka Kurniawan dan Fikar W Eda sepulang kami dari sana, bahwa perbedaan kubu bukan masalah sama sekali. Perbedaan pendapat adalah hal biasa dalam masyarakat. Tetapi masalahnya adalah ketika kubu itu menentukan akses terhadap uang dan kekuasaan. Dengan kata lain, menentukan hidup dan mati orang. Kebetulan kami bertiga juga memang berbeda kubu.
Pejabat itu kemudian menghibur kami dengan cerita-ceritanya di masa kuliah dan pengalamannya melihat ikan-ikan pesut di Kalimantan. Hahahaa.... Dia lalu menawari kami bekerja sama untuk pementasan teater. Tetapi masalahnya, kami dari komite sastra dan tidak mengurus teater. Teater akan menjadi tanggung jawab komite teater.
*sastrawan, anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dan jurnalis
Sumber:Catatan Linda Cristanty, judul oleh Teraslampung.Com
Teman-teman, apa yang Anda ketahui tentang persiapan pemerintah Indonesia untuk Frankfurt Book Fair di tahun 2015, ketika Indonesia menjadi tamu kehormatannya (guest of honor)?
Pemerintah sudah membentuk komite nasional untuk persiapan Indonesia menyambut pasar itu. Kerja komite nasional untuk Frankfurt Book Fair ini langsung dipertanggungjawabkan kepada wakil presiden Boediono (yang sekarang ramai diberitakan lagi oleh berbagai media di Indonesia tentang keterkaitannya dengan kasus lama, yaitu kasus tindak pidana korupsi Bank Century.
Itulah yang saya dengar langsung dari Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti di Jakarta.
Menurut Wiendu, sudah terbentuk 5 komite dalam komite nasional ini. Siapa saja yang berada di komite nasional dan 5 komite itu, saya tidak tahu. Seperti apa proses kerjanya, saya juga tidak tahu. Salah satu dari 5 komite tersebut (yang berkaitan dengan kita sebagai penulis buku atau pembaca buku) adalah komite buku dan penerjemahan.
Komite ini terdiri dari sejumlah orang (para juri) yang bertugas menyeleksi atau memilih buku-buku untuk dipamerkan (tidak diterjemahkan, tetapi dirasa penting untuk diketahui khalayak luar Indonesia), dan diterjemahkan serta dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair itu.
Dana untuk komite buku dan penerjemahan ini sebesar Rp18 milyar dari pemerintah Indonesia. Bukan dana yang sedikit.
Menurut Wiendu, Indonesia menyiapkan 100 judul buku untuk bookfair itu. Sudah 100 buku diterjemahkan dan masih membutuhkan 50 buku lagi berdasarkan usulan publik melalui website resmi yang diluncurkan pada 5 Maret 2014.
Sedangkan menurut orang Frankfurt Book Fair, dibutuhkan 300 judul. Siapa yang keliru menyebut jumlah, saya juga tidak tahu. Saya hanya juru catat saja.
Saya dan beberapa teman di komite sastra Dewan Kesenian Jakarta pernah berkunjung ke sekretariat atau markas atau kantor persiapan khusus untuk Frankfurt Book Fair itu di kementerian pendidikan nasional, di Jakarta, bulan lalu.
Sebuah kunjungan kelembagaan dan resmi. Waktu itu kami ingin menanyakan apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung Frankfurt Book Fair itu atau minimal, apakah kami bisa mengusulkan buku-buku sastra dari para penulis Indonesia yang kami anggap layak diterjemahkan dan dipamerkan di Frankfurt (tentunya, kami tidak akan dan tidak boleh mengusulkan buku-buku kami sendiri, karena ketika kami dilantik untuk bekerja di komite sastra ini kami harus menjalankan sejumlah kewajiban, antara lain tidak boleh mempromosikan diri sendiri dengan memanfaatkan komite ini dan tidak boleh memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok sendiri melalui komite ini).
Pejabat di kantor khusus yang menemui kami itu intinya mengatakan bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa kami lakukan, karena semua komite sudah siap dan dia menyebutkan nama-nama, yang menunjukkan persekongkolan itu. Kami diam saja dan mencatat.
Tiba-tiba dia berkata, "Di Indonesia, sastra itu punya banyak kubu ya." Kami tertawa.
Saya bilang pada Eka Kurniawan dan Fikar W Eda sepulang kami dari sana, bahwa perbedaan kubu bukan masalah sama sekali. Perbedaan pendapat adalah hal biasa dalam masyarakat. Tetapi masalahnya adalah ketika kubu itu menentukan akses terhadap uang dan kekuasaan. Dengan kata lain, menentukan hidup dan mati orang. Kebetulan kami bertiga juga memang berbeda kubu.
Pejabat itu kemudian menghibur kami dengan cerita-ceritanya di masa kuliah dan pengalamannya melihat ikan-ikan pesut di Kalimantan. Hahahaa.... Dia lalu menawari kami bekerja sama untuk pementasan teater. Tetapi masalahnya, kami dari komite sastra dan tidak mengurus teater. Teater akan menjadi tanggung jawab komite teater.
*sastrawan, anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dan jurnalis
Sumber:Catatan Linda Cristanty, judul oleh Teraslampung.Com
Sunday, March 9, 2014
Penerbit Indepth Publishing Bedah Buku di Eropa
Bandarlampung, teraslampung.com—Penerbit Indepth Publishing kembali membuat terobosan. Pada 11—30 April mendatang, penerbit yang dikembangkan AJI Bandarlampung itu akan bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menggelar acara bedah buku di beberapa kota di Eropa.
Kepala Humas Indepth Publishing, Andi Apriyadi, dalam rilisnya mengatakan sudah ada konfirmasi bedah buku bisa digelar di tiga kota, yakni di Paris, Marseile ,dan Nijmeigen Belanda. Acara di Roma, kata Andi, masih menunggu konfirmasi.
“Buku yang akan didiskusikan tersebut adalah karya Oki Hajiansyah Wahab yang berjudul Akses Relasi dan Konflik. Buku ini merupakan hasil riset penulisnya pada akhir 2013 lalu,dan saat ini tengah dalam proses cetak dan rencananya didiskusikan di Paris dan Marseile,” kata Andi, di Bandarlampung, Minggu (9/3).
Satu buku lainya yang berjudul konstitusionalisme dan HAM karya Manunggal K Wardaya rencananya juga akan didiskusikan di Rabroud University, Nijmeigen. "Bedah Buku yang diterbitkan PKKPHAM FH Unila dan Indepth diiikuti oleh mahasiswa doktoral di Rabroud University",ungkap Andi.
Andi mengatakan sejauh ini proses komunikasi terus berjalan dengan baik dengan kontak person kami dan teman-teman PPI. “Tiket keberangkatan juga sudah didapat,hanya tinggal menunggu visa,kemungkinan akhir bulan ini keluar,”jelas Andi.
Terpisah, pegiat PPI Marseile, Rudi Natamihardja, menjelaskan,kegiatan diskusi ini dilakukan disela-sela kunjungan akademik penulisnya ke beberapa universitas di Eropa.
Kepala Humas Indepth Publishing, Andi Apriyadi, dalam rilisnya mengatakan sudah ada konfirmasi bedah buku bisa digelar di tiga kota, yakni di Paris, Marseile ,dan Nijmeigen Belanda. Acara di Roma, kata Andi, masih menunggu konfirmasi.
“Buku yang akan didiskusikan tersebut adalah karya Oki Hajiansyah Wahab yang berjudul Akses Relasi dan Konflik. Buku ini merupakan hasil riset penulisnya pada akhir 2013 lalu,dan saat ini tengah dalam proses cetak dan rencananya didiskusikan di Paris dan Marseile,” kata Andi, di Bandarlampung, Minggu (9/3).
Satu buku lainya yang berjudul konstitusionalisme dan HAM karya Manunggal K Wardaya rencananya juga akan didiskusikan di Rabroud University, Nijmeigen. "Bedah Buku yang diterbitkan PKKPHAM FH Unila dan Indepth diiikuti oleh mahasiswa doktoral di Rabroud University",ungkap Andi.
Andi mengatakan sejauh ini proses komunikasi terus berjalan dengan baik dengan kontak person kami dan teman-teman PPI. “Tiket keberangkatan juga sudah didapat,hanya tinggal menunggu visa,kemungkinan akhir bulan ini keluar,”jelas Andi.
Terpisah, pegiat PPI Marseile, Rudi Natamihardja, menjelaskan,kegiatan diskusi ini dilakukan disela-sela kunjungan akademik penulisnya ke beberapa universitas di Eropa.
“Kami akan mengatur jadwalnya di sini untuk kegiatan bedah buku tersebut,kata Rudi. Ia berharap kegiatan ini juga akan menjadi jembatan kerjasama dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Eropa, khususnya di Prancis,” kata Rudi.
Andi berharap Indepth Publishing makin sering bekerja sama dengan pihak lain untuk makin mempopurkan buku-buku yang diterbitkan.
“Pada masa mendatang semoga bisa jalan terus. Pada 2012 lalu Indepth juga pernah bekerjasama dengan PPI Universitas Kebangsaan Malaysia untuk diskusi dan bedah buku terbitan Indept Publishing di Universitas Kebangsaan Malaysia,” kata Andi. (Rls)
Sunday, February 16, 2014
Karakter Konflik di Lampung akan Bersifat Hibrida
Syailendra Arif/Teraslampung.com
Bandarlampung—Sosilog Universitas Lampung, Dr. Hartoyo, mengatakan karakter konflik-konflik sosial di Lampung ke depan diperkirakan akan bersifat hibrida. Meskipun konflik berlatar belakang sosio-ekonomi sebagai alasan utama munculnya konflik, menurut Hartoyo dalam perkembangannya peluang munculnya konflik sosial berdasarkan himpitan dua faktor dasar atau lebih sangat memungkinkan terjadi.
“Karena itu ke depan perlu ada usaha bersama lintas sektoral untuk mencegah potensi konflik di Lampung,”kata Hartoyo, saat membahas buku Mengapa Kita Berkonflik,di ruang kuliah Magister Hukum Universitas Lampung (17/2).
Sementara Mgr Yohanes Harun Yuwono memaparkan dewasa ini penting untuk terus menerus mempromosikan dialog dan nilai-nilai perdamaian dalam kosmologi masyarakat Lampung yang plural.
Ahli Islamologi ini juga berharap dalam masyarakat yang plural ini, setiap elemen masyarakat bisa mengoptimalkan mekanisme sosial kultural, kearifan lokal untuk dapat mengurangi potensi konflik.
Buku Mengapa Kita Berkonflik diterbitkan atas kerjasama Indepth Publishing,Yabima dan Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM) FH Unila sebagai upaya membangun pemahaman bersama dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian, ujar Tisnanta.
"Seperti kita ketahui Lampung adalah provinsi yang memiliki potensi konflik yang tinggi," tambahnya.
Buku ini sendiri ditulis oleh berbagai penulis dari berbagai perspektif, mulai dari agamawan, akademisi, jurnalis, praktisi dan peneliti S3 di dalam dan luar negeri. Belum lama ini di Lampung juga terbit buku tentang konflik yang diterbitkan AJI Bandarlampung dan Indepth Publishing. Buku berjudul “Merajut Jurnalisme Damai” itu berisi tulisan tentang konflik bernuansa etnis di Lampung Selatan.
"Buku-buku terbitan Indepth Publishing banyak yang sudah menjadi koleksi Perpustakaan Leiden. Termasuk buku Mengapa Kita Berkonflik," kata manajer Indepth Publishing, Tri Purna Jaya.
Bandarlampung—Sosilog Universitas Lampung, Dr. Hartoyo, mengatakan karakter konflik-konflik sosial di Lampung ke depan diperkirakan akan bersifat hibrida. Meskipun konflik berlatar belakang sosio-ekonomi sebagai alasan utama munculnya konflik, menurut Hartoyo dalam perkembangannya peluang munculnya konflik sosial berdasarkan himpitan dua faktor dasar atau lebih sangat memungkinkan terjadi.
“Karena itu ke depan perlu ada usaha bersama lintas sektoral untuk mencegah potensi konflik di Lampung,”kata Hartoyo, saat membahas buku Mengapa Kita Berkonflik,di ruang kuliah Magister Hukum Universitas Lampung (17/2).
Sementara Mgr Yohanes Harun Yuwono memaparkan dewasa ini penting untuk terus menerus mempromosikan dialog dan nilai-nilai perdamaian dalam kosmologi masyarakat Lampung yang plural.
Ahli Islamologi ini juga berharap dalam masyarakat yang plural ini, setiap elemen masyarakat bisa mengoptimalkan mekanisme sosial kultural, kearifan lokal untuk dapat mengurangi potensi konflik.
Buku Mengapa Kita Berkonflik diterbitkan atas kerjasama Indepth Publishing,Yabima dan Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM) FH Unila sebagai upaya membangun pemahaman bersama dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian, ujar Tisnanta.
"Seperti kita ketahui Lampung adalah provinsi yang memiliki potensi konflik yang tinggi," tambahnya.
Buku ini sendiri ditulis oleh berbagai penulis dari berbagai perspektif, mulai dari agamawan, akademisi, jurnalis, praktisi dan peneliti S3 di dalam dan luar negeri. Belum lama ini di Lampung juga terbit buku tentang konflik yang diterbitkan AJI Bandarlampung dan Indepth Publishing. Buku berjudul “Merajut Jurnalisme Damai” itu berisi tulisan tentang konflik bernuansa etnis di Lampung Selatan.
"Buku-buku terbitan Indepth Publishing banyak yang sudah menjadi koleksi Perpustakaan Leiden. Termasuk buku Mengapa Kita Berkonflik," kata manajer Indepth Publishing, Tri Purna Jaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)



