Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

Sunday, June 8, 2014

LPA Lampung Sinyalir Banyak Kekerasan Seks terhadap Anak tidak Dilaporkan

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

Ilustrasi kekerasan pada anak
BANDARLAMPUNG – Pelaksana tugas (Plt). Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Lampung, M. Zainudin, mengatakan peran orang tua sangat penting dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Zaenudin mensinyalir, kasus kekerasan seks terhadap anak, termasuk pedofilia, yang muncul ke permukaan akhir-akhir merupan fenomena gunung es. Artinya, baru sebagian kecil yang muncul ke permukaan, sementara jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.

Menurut  Zaenudin, banyak faktor pendorong terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Selain faktor kelainan seksual  pelaku, minimnya pemahaman korban dan orang-orang terdekatnya juga memicu terjadinya kekerasan seksual pada anak.

“Keluarga sangat bereran sangat penting Keluarga merupakan ring pertama yang menjadi benteng bagi anak-anak,” kata Zaenudin, Minggu (8/6)

Terkait kasus kekerasan terhadap anak di Lampung, Zaenudin mengatakan hingga kini pihaknya baru memiliki data laporan kekerasan terhadap anak dari dua daerah. Yakni Bandarlampung dan Lampung Selatan. Di Bandarlampung hingga kini terjadi 40 kasus kekerasan seksual terhadap anak, sementara di Lampung Selatan ada 30 kasus.

“Kami siap siap untuk melakukan pendampingan terhadap korban maupun pelaku yang masih di bawah umur hingga kasus selesai. Namun, keluarga korban maupun korban harus terlebih dahulu membuat pengaduan,” kata dia.

Menurut Zaenudin, korban perlu didampingi karena ada tekanan psikilogis. “Sayangnya banyak orang jika anaknya mengalami kekerasan malu untuk melaporkan ke aparat penegak hukum. Pasalnya, kejadian tersebut masih dikategorikan aib oleh mereka. Apalagi, kebanyakan korban mengenal dengan pelaku," tambahnya.

Zaenudin mengatakan, berdasarka data, berbagai kasus kekerasan seksual yang dialami anak pelakunya banyak dari kalangan terdekat korban. Misalnya paman, sepupu, bahkan ayah kandungnya sendiri.

“Lemahnya pengawasan orang tua menjadikan anak rentan menjadi korban kekerasan seksual. Korban perbuatan asusila ini tidak mengenal jenis kelamin, anak laki-laki pun sekarang juga menjadi sasaran. Ini terkait kelainan seksual pada diri pelakunya, seperti fedofilia. Makanya pengawasan terhadap anak  harus ditingkatkan,” kata dia.

Zaenudin menyarankan para orang tua tidak mudah memberi kepercayaan pengasuhan atau penjagaan anak sepenuhnya kepada orang lain. “Orang tua sendiri yang harus memaksimalkan pengawasan. Semua kembali pada keluarga. Suatu hubungan harmonis dan adanya pendidikan agama menjadi modal untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual,” kata dia.

Menurut Zaenudin, perkembangan teknologi telepo genggam dan internet menjadi salah satu pemicu kekerasan seks terhadap anak. Sebab itu, kata Zaenudin, para orang tua harus rajin melakukan pengawasan kepada anak.

“Saat ini aplikasi porno dengan mudah bisa dilihat anak-anak di internet, baik melalui Blackberry maupun di warung internet.Meskipun pemerintah sudah memblokir beberapa situs porno dan mengampanyekan internet sehat, tetapi hal itu bisa dijebol,” kata dia.


Sunday, June 1, 2014

Peradah Indonesia Gelar Diskusi Makna Budaya di Mata Capres

Pada Pilpres 2014, Peradah Netral

Diskusi membedah pentingnya budaya bagi Indonesia bertema "Makna Budaya di Mata Capres", di Perwakilan Provinsi Bali di Jakarta, Minggu (1/6).  

JAKARTA, Teraslampung.com -
Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPN Peradah Indonesia) menggelar diskusi publik “Makna Budaya di Mata Capres”, di Gedung Perwakilan Provinsi Bali, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (1/6).

Acara yang digelar bertepatan dengan momentum hari lahir Pancasila 1 Juni itu menghadirkan Ahmad Reza Patria (Ketua DPP Partai Gerindra), Eva Kusuma Sundari (Tim Jokowi-JK), dan I.B Rai Dharmawijaya Mantra (Budayawan/ Walikota Denpasar) sebagai narasumber. Turut hadir pada diskusi tersebut antara lain Prof IBG Yudha Triguna (perwakilan Parisada Pusat), Prajaniti Hindu, Ikatan Cendekiawan Hindu, KMHDI, WHDI dan para tokoh umat Hindu.


IB Rai Dhamawijaya Mantra mengatakan budaya dapat mengakselerasi pembangunan terutama tingkat indeks pertumbuhan manusia dan ekonomi. Kebudayaan yang baik, menurut Rai Dharmawijaya, akan mampu membangun peradaban yang baik pula.

“Pada prinsipnya kebudayaan itu sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan,” jelasnya.

Sedangkan Ahmad Reza dan Eva Sundari menekankan dan memaparkan visi dan program masing-masing calon presiden.

Menurut Wayan Sudane, Ketua Umum Peradah Indonesia, acara diskusi tersebut merupakan tindak lanjut dari seminar budaya di DI Yogyakarta pada 15 Desember 2013 lalu.

“Melalui diskusi budaya ini kami ingin memberikan kesadaran dan mendorong aksi nyata pemimpin bangsa untuk lebih menguatkan kepemilikan terhadap budaya, situs dan tradisi bangsa yang harus dilestarikan,” kata Sudane.

Wayan Sudane menyatakan Peradah Indonesia merupakan organisasi pemuda yang bersifat independen dan mandiri. Untuk itu dalam kaitannya dengan pemilihan presiden dan wakil presiden.

“Peradah Indonesia tidak memihak calon mana pun. Terkait pilihan diserahkan kepada masing-masing individu sebagai warga negara sesuai dengan hati dan nuraninya,” kata dia.

Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dalam rangka 69 tahun Pancasila dan simakrama hari raya Galungan dan Kuningan.

Sunday, May 25, 2014

Komnas Perlindungan Anak akan Benahi Organisasi Perlindungan Anak di Daerah

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

Samsul Ridwam
BANDAR LAMPUNG - Komisi Nasional Perlindngan Anak akan membenahi sistem keorganisasian lembaga perlindungan anak di daerah-daerah. Menurut Sekjen Komnas Anak ,Samsul Ridwan, pembenahan itu dilakukan karena makin beratnya tantangan yang dihadapi lembaga perlindungan anak.

"Lembaga perlindungan anak akhir-akhir ini mendapat perhatian banyak pihak, mulai presiden hingga masyarakat. Hal ini menyusul terbukanya kasus kekerasan terhadap anak, khususnya kejahatan seksual, yang pada kwartal pertama, Januari—April 2014 tercatat lebih dari 450 kasus di Komnas Perlindungan Anak (KPA)," kata Samsul Ridwan, Minggu (25/5).

Samsul Ridwan mengatakan, Gerakan Nasional Melawan Kejahatan Seksual dan istilah Darurat Nasional Kejahatan Seksual yang pernah diangkat Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) pada Desember 2012, baru mendapat respon serius dari pemerintah pada tahun ini, dengan akan diterbitkannya Inpres Anti Kejahatan Seksual pada Anak.

Menurut Samsul, menyusul makin banyaknya pihak yang empati sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam perlindungan anak, lahirlah beberapa organisasi peduli anak. Yakni salah satunya adalah Lembaga Perlindungan Anak (LPA) baik tingkat Prov/Kab/Kota.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendorong agar gerakan perlindungan anak makin kuat dan masif. Namun, lahirnya dan bertambahnya organisasi ,ternyata tidak secara otomatis berpengaruh signifikan pada perlindungan anak. Bahkan tidak jarang, pendirian lembaga (LPA) di daerah, seringkali melenceng dari tujuannya,” kata dia.

Kelembagaan LPA di daerah-daerah, kata Samsul,  harus dibenahi agar kinerjanya baik dan tidak dijadikan alat oleh oknum tertentu.

“Beberapa LPA di daerah seperti, di Provinsi/Kab/Kota di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi  ada yang justru digunakan oleh pengurusnya untuk mencari keuntungan pribadi, dijadikannya sebagai kendaraan politik, dan alat bergaining kasus," papar dia.

Samsul mengatakan untuk membenahi LPA di daerah, Komnas Anak sebagai induk organisasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) tingkat Prov/Kab/Kota seluruh Indonesia melakukan beberapa pembenahan. Antara lain, pertama, berdasarkan AD/ART Komnas Anak, pasal 6, pasal 8, dan pasal 17 bahwa LPA Provinsi bagian dari Komnas Anak dalam melaksanakan program perlindungan anak di ting provinsi. LPA Provinsi harus mendapat Surat Keputusan (SK) dari Komnas Anak.

Kedua,  dasar ART, penggunaan kesamaan logo/lambang Komnas Anak oleh LPA harus yang sudah mendapat SK dari Komnas Anak. Ketiga, SK dan Logo LPA Kab/Kot ayang dapat SK dari LPA Provinsi, Jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan tidak sesuai dengan AD/ART.
“Kami akan menertibkan baik secara organisasi/hukum," kata dia.

Menurut Samsul, LPA Provinsi yang sah adalah di bawah kepemimpinan sdr. M. Zainuddin (mantan Ketua LPA Lampung Selatan). Sementara LPA Kab/Kota di Provinsi Lampung yang sah adalah yg mendapat SK LPA Lampung di bawah kepemimpinan almarhum Budiono  sebelumnya dan sekarang kepada saudara M. Zainuddin.

"Kami selaku Komnas Perlindungan Anak (KPA) hanya mengizinnkan pemakaian lambang/atribut/logo kepada LPA Prov/Kab/Kota di lampung yang sesuai degan AD/ART Komnas Anak," tegas dia.

Sementara Plt. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Lampung, Muhammad Zainuddin saat ditemui di kediamannya mengatakan, menyikapi dengan adanya dualisme kepemimpinan lembaga perlindungan anak (LPA) di Provinsi lampung, maka Sekjen Komnas Perlindungan Anak (KPA) pusat sudah memberikan tanggapannya tentang aturan penggunaan nama dan logo LPA.

“Itu agar LPA yang ada di tingkat Provinsi, Kab/Kota menginduk kepada aturan komnas perlindungan anak (AD/ART) yang sudah dibuat oleh Komnas Perlindungan Anak. Tujuannya tadak lain agar LPA yang ada d tingkat Provinsi dan kab/kota, dalam menjalankan roda organisasi harus sesuai dengan aturan yang ada di AD/ART Komnas PA dan tidak dijadikan sebagai alat kendaraan politik oleh sekelompok orang, dan tidak dijadikan alat untuk memperoleh keuntungan pribadi,” kata Zaenudin.


Bakti Sosial: Yayasan Arrohman Gelar Khitan Massal dan Berobat Gratis

Adi Nur Pracoyo, AN Andoyo/Teraslampung.com
Bupati Pringsewu K.H. Sujadi (kiri)

PRINGSEWU-Yayasan Arrohman, Pekon Bulok Karto, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, menggelar bakti sosial, Minggu (25/5). Kegiatan baksi sosial itu dilakukan dalam bentuk khitanan massal sebanyak 200 anak,  pembagian kaca mata gratis kepada 400 orang, dan pengobatan gratis sebanyak 300 orang.

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Yayasan Arrohman, di Jl. Pasir Luhur, Dusun Bulusari, Pekon Bulok Karto, hal itu merupakan  hasil kerja bareng bersama Harian Radar Lampung dan PWI Kabupaten Pringsewu.

Pengurus Yayasan Arrohaman Ustadz Fadholi mengatakan, yang dikhitan, mendapat kacamata gratis,  dan berobat gratis berasal dari beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu.”Khusus yang dikhitan juga mendapatkan bingkisan sarung, peci, baju koko dan perlengkapan sekolah,” kata Ustad Fadholi, Minggu (25/5).

Ustadz Fadholi menuturkan,  kegiatan tersebut memang rutin dilaksanakan dalam setiap tahunnya, untuk tahun 2014 ini sudah yang ke-8 kali dilaksakan, pesertamya  cukup meningkat dari tahun sebelumnya.”Baik  yang dikhitan, pengobatan gratis juga pembagian kaca mata gratis,”jelasnya.

Ustadz Fadholi mengatakan tujuan diadakan kegiatan tersebut semata-mata hanya rasa kepedulian terutama kepada masyarakat yang kurang mampu. ”Hal ini pun berkat bantuan dan kerja sama semua pihak, baik unsure pemerintah juga pihak sponsor yang tidak mengikat. Juga sesuai dengan moto kami yakni ‘Indahnya Berbagai Untuk Bersama dan Senyum Jadi Ibadah,”ungkapnya.

Sementara itu kata Kabag Umum RSUD Pringsewu Sugeng. HS. SKm menuturkan,karena anak yang dikhitan dan warga yang berobat jumlahnya banyak, pihaknya mengerahkan 20-an dokter yang dipimping oleh dr. Arum.

”Proses khitan imulai sejak pukul 06.00 Wib, sehingga pukul 10 sudah selesai,”jelasnya.

Dokter sebanyak itu berasal dari RSUD Pringsewu dan RS. Wisma Rini serta dokter dan perawat dari beberapa puskesmas terdekat .”Juga dibantu puluhan Mahasiswa Kedokteran Malahayati BandarLampung,” kata Sugeng.

 Dewan Pengawas Yayasan Arrohman KH. Sujadi yang juga Bupati Kabupaten Pringsewu berkesempatan mengunjungi kegiatan tersebut dan langsung meninjau tempat praktek cek kir mata dan pengobatan gratis, bahkan Sujadi juga sempat mencoba alat cek kir mata. Namun ketika akan meninjau lokasi pelaksanaan khitan, ternyata sudah selesai lebih dulu.

Tuesday, May 20, 2014

Setelah Menangkan Jokowi, Sjachroedin Ingin Jadi Wartawan

Sjachroedin Z.P.
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG.com  – Memenangkan calon presiden-calon wakil presiden yang diusung PDIP akan menjadi pekerjaan berat Sjachroedin Z.P. Setelah Pemilu Presiden usai, ketua DPD PDIP Lampung yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Lampung akan  beristirahat.

“Saya akan mengampanyekan Jokowi dengan maksimal agar menang. Setelah itu saya mau istirahat,” kata Sjachroedin, Selasa (20/5.

Pria yang hobi melucu saat memberikan sambutan sebuah acara itu mengaku, dia sebenarnya tidak akan benar-benar istirahat setelah pilpres usai. “Saya mau menjadi wartawan! Saya akan berhenti di politik. Tidak akan mencalonkan lagi sebagai ketua DPD PDIP,” kata dia, ketika para wartawan menanyakan apa saja yang akan dia lakukan saat ‘pensiun’ sebagai politikus.

Tentang  strategi kampanye untuk memenangkan Jokowi, Oedin—sapaan akrab Sjachroedin—mengatakan akan  membincarakan dengan para ketua dan pengurus partai pendukung Jokowi. Yakni PDIP, Partai Nasdem, PKB, dan Hanura.

 “Rapat hari ini saya tidak bisa hadir  karena kaki saya sedang sakit. Saya sudah mengutus  sekretaris   untuk  mewakili saya mengikuti pertemuannya hari ini,” jelas dia.

Sementara itu, tentang keberadaan relawan yang akan membantu kampanye Jokowi, Sjahroedin mengaku harus berhati-hati  betul karena sekarang ada yang relawan betulan  atau jadi-jadian .

“Kami akan kumpulkan mereka dengan hati-hati, karena sekarang ada mengaku-ngaku relawan ,padahal bukan,” katanya.


Saturday, May 17, 2014

Lamteng Sumbang 52 Persen Penduduk Berbadan Pendek di Lampung

Supriyanto/Teraslampung.com
Bupati Lampung Tengah Ahman Pairin

GUNUNGSUGIH - Berdasarkan angka kelahiran, Lampung Tengah berpotensi menyumbang  52 persen penduduk berbadan pendek di Provinsi Lampung.  Hal itu terungkap pada rapat kordinasi bulanan pemkab setempat pada awal Mei lalu, sesuai pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Lamteng terhadap bayi  dan balita, Jumat (16/5).

”Pendataan indikasi penduduk pendek itu atas perintah saya terhadap setiap balita di Lampung Tengah, dengan data tersebut kita akan melakukan langkah-langkah perbaikan pertumbuhan balita mulai dari kandungan,”ungkap Bupati Lampung Tengah A.Pairin, kemarin.

Menurut Bupati, sebetulnya kondisi ini sudah terjadi sejak lama, hanya sepertinya idealnya tinggi sesorang belum menjadi masalah serius dan mungkin masih dianggap hal yang wajar. Padahal, saat ini tinggi ideal sesorang sudah harus menjadi perhatian serius, karena termasuk dalam persoalan kesehatan seseorang.

“Untuk mengetahui sesorang itu bakal bertubuh pendek dapat diperoleh dari data perkembangan bayi. Bila hingga umur empat tahun tinggi badannya masih dibawah satu meter, maka berpotensi pertumbuhan  badannya tidak akan mencapai tinggi yang ideal,”ujarnya.

Pairin mengaku dirinya sengaja minta kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan pendataan. Menurut Pairin ketika anak sudah mencapai umur lima tahun, kondisi ini masih bisa dibenahi untuk mencapai tinggi yang ideal.

”Diharapkan jangan sampai sudah masuk usia dewasa tinggi badan hanya mencapai 160 Cm atau kurang,  tentu sangat kecil kemungkinan bisa di tingkatkan. Dengan diketahui pertumbuhan sejak dini, kita bisa melakukan  upaya ideal setidaknya mencapai 165 Cm,”katanya.

Pairin mengatakan pendataan ini sangat penting sehingga mempermudah perbaikan pertumbuhan balita dari awal.

“Memang, dengan data yang kita peroleh saat ini akan mendapatkan banyak kritikan. Pemerintah daerah dinilai telah mengabaikan kepentingan rakyat, tapi tidak mengapa kita terima saja. Yang penting kita sudah ada usaha untuk memperbaiki pertumbuhan tinggi badan penduduk Lampung Tengah kepada yang lebih baik, yang selama ini belum menjadi perhatian serius,”katanya.

Sesorang itu pendek, ujar Pairin,  bisa saja disebabkan karena kurang gizi saat proses dalam kandungan hingga pertumbuhan bayi setelah lahir. Hal ini karena asupan makan yang belum memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin atau bayi. Penyebab lain, kata dia,  juga bisa dimungkinkan oleh  faktor genetik. ”Tubuh pendek karena faktor genetik masih bisa diusahakan perbaiannya dengan peningkatan asupan gizi sejak dini,” katanya.

Pairin mengatakan program ke depan yang harus dilakukan Pemkab Lampung Tengah adalah memberikan pemahaman kepada penduduk tentang pentingnya gizi balita.

“Setelah masyarakat  paham dengan sendirinya akan melakukan upaya dini agar anaknya kelak lahir dengan tinggi badan yang ideal,”katanya.

Saturday, May 10, 2014

Berebut Saweran Gubernur, Sutrisno Nyaris Pingsan

Sutrisno (belakang) diselamatkan pettugas Polisi Pamong Praja saat akan pingsan dalam acara saweran uang di halaman Kantor Gubernur, Bandarlampung, Sabtu (10/5).
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG - Seorang tukang becak , Sutrisno (50)  nyaris pingsan saat berebutan uang saweran dari Gubernur Lampung Sjahroedin ZP dalam acara silaturahmi gubernur dengan tukang becak dan tambal ban di halaman kantor Gubernur Lampung, di Bandarlampung, Sabtu (10/5).

Kericuhan tersebut berawal dari adanya uang saweran pecahan Rp50 ribu  yang akan dibagikan gubernur saat istirahat sehabis makan siang. Awalnya beberapa tukang tambal ban menyumbangkan sebuah lagu diiringi organ.

Tak lama kemudian  Gubernur menunjuk Kadis Sosial Theresia untuk membagikan saweran di dekat panggung. Dalam hitungan menit,  puluhan tukang becak dan tambal ban merangsek kedepan  panggung. Akibatnya seorang tukang becak , Sutrisno  nyaris pingsan karena berdesak desakan.

Sutrisno, tukang becak yang biasa mangkal Bumi Waras , Kecamatan Telukbetung Selatan nyaris pingsan karena berdesakan sehingga sakit jantungnya kumat. Untunglah beberapa anggpota Polisi Pamong Praja dan Kadis Kesehatan Reihana  sigap dan langsung memberikan pertolongan.Sutrisno dipapah untuk isttirahat.

Acara silatuharmi Gubernur Sjachroedin Z.P. dengan para tukang becak dan tukang tambal ban diniatkan sebagai salah satu bentuk kepedulian sosial dan  perhatian Pemprob Lampung terhadap masyarakat golongan menengah ke bawah.

"Sebanyak 500 tukang becak dan 100 tukang tambal ban mendapat tali asih berupa bingkisan sembako," kata Kadis Sosial Pemprov Lampung Theresia.

Sementara itu, Gubernur Sjahroedin menyatakan bahwa pembangunan di Provinsi Lampung tidak akan berjalan dengan lancar tanpa bantuan dari masyarakat . Semua lapisan ikut andil dalam pembangunan termasuk tukang becak dan tambal ban.

"Saya harap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik baiknya sebagai bentuk apresiasi pemda terhadap profesi tukang becak dan tambal ban," kata Gubernur.

Dia juga meminta agar para tukang becak dan tambal ban hidup dengan baik dan benar jangan ikut ikutan demonstrasi , jangan berbuat kejahatan karena hidup harus punya harga diri.

Dalam acara itu juga Gubernur Sjachroedin  berpamitan kepada masyarakat karena akan memasuki masa pensiun. Dia memohon maaf lahir batin jika dalam masa kepemimpinannya selama dua periode  ada kesalahan.

Thursday, May 8, 2014

BKKBN Gandeng IBI Darmajaya Gelar Pemilihan Duta Genre

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Lampung menggandeng Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, menggelar pemilihan duta mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) 2014, Kamis (8/5).

Pemilihan dilakukan untuk mengatasi permasalahan remaja yang rentan dengan berbagai permasalahan seperti  nikah muda yang dinilai masih memiliki resiko  tinggi dari segala aspek mulai kesehatan, psikologis, sosial, ekonomi dan pendidikan.

Berlangsung di Aula Pascasarjana IBI Darmajaya, pemilihan duta diikuti 19 pasang calon duta yang mewakili
kabupaten dan kota se-Lampung. Sebagai mitra BKKBN, ini kali kelima IBI Darmajaya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan pemilihan Duta Genre Lampung.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pengembangan Sumber Daya, Novita Sari, S.Sos.M.M. mewakili Rektor IBI Darmajaya, Dr. Andi Desfiandi, SE.MA, menyambut baik kegiatan tersebut dengan harapan bisa memberikan manfaat bagi remaja Lampung dalam memahami kesehatan reproduksi.

Remaja, kata dia, sebagai generasi penerus bangsa, harus bisa memberikan kontribusi dalam mengisi pembangunan bangsa. Namun tak bisa dipungkiri, remaja rentan dengan permasalahan kesehatan reproduksi (seksualitas), mulai dari seks bebas, HIV AIDS, aborsi dan pernikahan diri.

"Permasalahan tersebut mengurangi kesempatan remaja untuk merencanakan dan menikmati masa depan yang gemilang. Tentunya permasalahan ini harus ditanggulangi dengan baik. Melalui pemilihan duta Genre, diharapkan dapat meminimalisir permasalahan yang menimpa remaja" harapnya.

Dalam sambutannya Kepala BKKBN Provinsi Lampung, Ida Bagus Wirama, SH. M.Kes  mengatakan, pemilihan duta genre digelar untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa yang sehat dan berakhlak, serta mempromosikan program Genre melalui figur duta mahasiswa.

Menurut Ida Bagus Wirama, kegiatan ini bekerjasama dengan sejumlah Pusat Informasi Konseling (PIK) perguruan tinggi di Lampung. "Para calon duta Genre harus memahami tentang konsep pendewasaan perkawinan, delapam  fungsi keluarga dan penerapan nilai-nilai moral," ujarnua.

Pemilihan duta mahasiswa ini diharapkan menjadi model, figur atau contoh bagi remaja lainnya agar menunda usia perkawinan di usia muda. Selain itu agar dapat menghindari bahaya triad (seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS).


“Para duta Genre Mahasiswa juga diharapkan dapat mempromosikan serta memberikan pemahaman dan prilaku  positif bagi para remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga. Sebagai duta mereka harus bisa menjadi figur teladan serta motivator dikalangan mahasiswa dan remaja lainnya dalam mendukung program Genre,”  tandasnya. (*)

Wednesday, May 7, 2014

Peringatan BBGRM Bukan Sekadar Seremoni

Supriyanto/Teraslampung.com

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP melakukan inseminasi buatan pada acara peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat di Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Rabu, 7 Mei 2014. (teraslampung.com/supriyanto)
PUNGGUR - Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat yang diperingati setiap tahun harus memberikan tujuan yang jelas, selama ini pemerintah pusat masih sekedar merayakan tapi tidak pernah mengolah pontensi yang ada. Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP pada peringatan ke-11 Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Provinsi Lampung yang dipusatkan di Kecamatan Punggur Lampung Tengah, Rabu (7/5).

Menurut Gubernur, pada peringatan ini yang perlu kita tingkatkan adalah bagaimana kita menggerakkan kembali dan menghidupkan semangat gotong royong sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia.

Sjachroedin mengingatkan, Bulan Bakti Gotong Royong mestinya menjadi sarana introspeksi terhadap apa yang sudah capai maupun yang belum kita lakukan dalam membangun daerah.

“Peringatan BBBGRM bukan sekadar acara seremonial,  tetapi harus mempu menggugah rasa kesatuan dan persatuan ditingkat desa.  Penilaian terhadap keberhasilan gotong royong dalam peringatan BBGRM jangan hanya sebatas mengejar pancapaian juara, tapi indikator apa yang di nilai sebagai juara, lalu pelaksanaan kegotongroyongannya seperti apa.Ini yang saya rasa kurang dipahami dan kurang dilaksanakan mulai dari pusat sampai ke daerah,” kata Gubernur.

Gubernur mengatakan masyarakat harus  membangun kebersamaan yang  melibatkan elemen masyarakat dan pemuda. Setiap masalah kita selesaikan di desa jangan semua persoalan dibawa ke bupati, untuk apa ada tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, bila tidak terlibat dalam mambangun masyarakat.

“Untuk membangun daerah tegas Gubernur, kita tidak hanya terpaku pada acara seremoni seperti ini atau kepada peraturan menteri, tetapi kita harus mempu melaksanakan kegiatan sesuai kondisi daerah. Bupati/Walikota harus mampu menginventarisasi potensi masing-masing daerah, lalu membangun sinergi dengan kabupaten lain dalam pengembangan potensi,” kata dia.

Gubernur mencontohkan, kerjasama antara Provinsi Yogyakarta dengan Kalimatan dalam pengembangan kerajinan topi. Dalam kerjasama itu kata Sjachroedin, Kalimantan menyetok bahan baku topi, sedang Jogyakarta yang melakukan finising  topi dan melakukan pemasarannya.

”Kerjasama antara kabupaten dalam mengembangkan potensi derah ini saya kira belum berjalan dengan  baik di Lampung, itulah gunanya kordinasi antar provinsi dan antar kabupaten. Yogya mampu mengekspor topi ke Malaysia, sedang Kalimantan kesulitan dalam hal pemasaran, nah ini contoh bersinergi antar daerah yang saya maksud,”tegas Gubernur.

Pada peringatan Bulan Bakti Gotong Royong ini mari kita renungi apa yang telah kita perbuat untuk membangun daerah sesuai dengan tujuan kegiatan ini. Masih banyak hal-hal yang perlu kita kordinasikan. Pembangunan bukan hanya tanggunjawab Gubernur, tapi juga tanggungjawab Bupati/walikota, karena tanggung jawab Gubernur masih tarbatas.

Diingatkan Gubernur, pada 2015 Indonesia dihadapkan kepada Asean Free Trade Area (AFTA) yakni bentuk  kerjasama perdagangan dan ekonomi di wilayah ASEAN. Pelaksanaan pasar bebas tingkat Asean ini tentunya sudah harus kita siapkan, agar kita tidak kalah bersaing. Pemerintah daerah harus menyosialisasikan tantangan ini, agar kita mampu meningkatkann produktivitas sektor pertanian dan ketahanan pangan.

”Kepala SKPD tidak lagi melakukan program pembangunan sesuai dengan program APBD, tanpa melakukan pendampingan secara maksimal, mulai dari proses peningkatan roduksi hingga pemasaran,”katanya.

Sebagai upaya peningkatan pembangunan pertanian, Pemerintah provinsi Lampung  telah membangun terminal Agrobisnis di Gayam Lampung Selatan, serta telah menendatangani kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pangan, seperti daging, ikan, sayur dan buah. Kerjasama ini tegas Gubernur, untuk membantu para petani dan petambak agar bisa lebih maju.

“Kita sudah menanda tangani MoU dengan DKI untuk pengadaan daging. Sapi dipotong dan di packing di Lampung, sehingga DKI tidak lagi dihadapkan sampah-sampah pertanian, dana untuk pengendalian sampah tersebut dapat digunakan untuk membangun coldstorage di terminal agrobisnis,”katanya.

Monday, April 21, 2014

Program MenCare+ Diaprisiasi Warga Bandarlampung

Syailendra Arif/Teraslampung.com

Bandarlampung—Sejumlah warga Kota Bandarlampung mengapresiasi positif program MenCare+  sebagai upaya menumbuhkan kepedulian kaum lelaki terhadap kaum perempuan setempat dan bergabung menjadi relawan.
 
Koordinator Distrik Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung Anggalana,mengungkapkan apresiasi itu menyusul digelarnya serangkaian kegiatan program Man Care oleh PKBI Lampung dan Rutgers WPF.

Belum lama ini, misalnya, PKBI dan Rutgers WPS menggelar pelatihan relawan  MenCare di aula institusi tersebut dengan peserta berasal dari masyarakat Kelurahan Sumberrejo dan Kelurahan Sumberagung Kecamatan Kemiling Kota Bandarlampung.
   
"Pelatihan Fasilitator Kelompok Remaja ini ditujukan untuk mendorong remaja menjadi agen sosialisasi program MenCare dan berperan aktif dalam diskusi komunitas di setiap wilayah desa/kelurahan, dengan terlebih dahulu melalui proses rekruitmen anggota," kata Anggalana, Selasa (22/4).
   
Masing-masing peserta pelatihan diharapkan dapat merekrut satu orang peserta sehingga dalam satu desa paling tidak terdapat 24 remaja yang aktif melakukan diskusi komunitas.
   
"Saya mengucapkan terima kasih karena diajak terlibat program ini. Dengan waktu yang singkat ini mungkin pemahaman kami masih kurang. Bagi kami atau saya pribadi, pendidikan ini sangat penting dan yang paling saya ingat bahwa menjadi ayah harus bisa membantu istri agar keluarga harmonis dan tidak ada ketimpangan gender," ujar Nurhadi, salah seorang relawan.

Nurhadi membenarkan bahwa seorang suami bertugas mencari nafkah bagi keluarga. Namun, kata dia, ada spiritual jika suami melakukan pekerjaan rumah tangga pun ada ganjarannya sehingga kalau isteri sakit dia bisa melakukan pekerjaan rumah.
 
"Saya senang dan bangga ikut serta dalam kegiatan ini dan menjadi relawan MenCare semoga tercapai perubahan. Saya sangat setuju dengan yang disampaikan tentang kekerasan terhadap perempuan, karena seharusnya laki- laki itu harus ada perasaan, atas dasar apapun tidak menggunakan kekerasan sebagai wujud menunjukkan kekuatan dan keinginan supaya dipatuhi oleh perempuan," ujar relawan lain, Ali Bana.
   
Hal serupa diungkapkan Ali Bana. Menurut Ali, program MenCare memberikan banyak pengetahuan, salah satunya mengenai AIDS yang dulu dirinya tidak tau banyak mengenai hal itu.
   
"Tapi dengan di sini saya jadi tahu apa dampak dan resiko dari perilaku berisiko. MenCare yang terbaik, semoga dapat saya share kepada teman-teman dan keluarga saya," katanya.
 
Direktur Eksekutif PKBI Lampung, Herdimansyah, mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan setelah melakukan pelatihan refreshing  bagi relawan program MenCare Tahun 2013.
 
"Kegiatan pelatihan menggunakan modul yang diperoleh manager program MenCare dan koordinator program Bandarlampung ketika mengikuti pelatihan di Yogyakarta ditambah pengalaman melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan sebelumnya," kata dia.
 
Selain Herdimansyah, fasilitator kegiatan MenCare berasal dari fasilitator lokal yang dimiliki PKBI antara lain Enny Nadia Simanjorang, Anggalana dengan didukung  Sindung Haryanto, Rahmad Cahya Aji, Dwi Hafsah H,  Regina Locita Pratiwi, Heriyansyah, dan Rena Utari.