Showing posts with label Kisah Lain. Show all posts
Showing posts with label Kisah Lain. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

Didit Hediprasetyo, Putra Prabowo yang Jauh dari Hiruk Pikuk Politik

Mengharumkan Nama Indonesia Lewat Rancangan Adibusana 



Didit Hediprasetto (dok anggunesia.tkf.yuku.com)
Bambang Satriaji/Teraslampung.com

JAKARTA - Nama Didit Hediprasetyo nyaris tidak pernah terpublikasi secara luas di Indonesia. Padahal, selain memiliki trah keluarga Cendana, Didit adalah putra calon presiden Prabowo Subianto dengan Siti Hediati  Hariyadi Soeharto (sudah cerai) yang punya prestasi membanggakan.

Putra semata wayang pasangan Prabowo-Titik itu telah mengharumkan nama Indonesia di kancah fesyen internasional. Karya-karya rancangannya dikagumi banyak perancang dan model kelas dunia.

Sebuah tulisan di majalah Tempo tentang Didit, baru-baru ini, yang kemudian tersebar di jejaring sosial ramai dibicarakan banyak orang. Rata-rata para pemberi komentar memberikan apresiasi untuk Didit yang tidak pernah ikut campur dengan aktivitas politik ayahnya itu.

Dalam laporannya Tempo menulis: Didit adalah Parsons New York, Amerika Serikat, sebelum melanjutkan sekolah desain Parsons di Paris, Prancis. Sekitar dua tahun silam, produsen BMW memilihnya sebagai salah satu perancang interior BMW Individual Series 7.

“Desain Didit sangat hit di Asia, jadi tidak heran jika BMW menawarkan kesempatan untuk mendesain produk mobilnya kepada Didit,” demikian dilansir situs Motorauthority.com. Mobil itu sendiri diproduksi terbatas, hanya lima unit saja.

“Karya Didit juga pernah dipakai oleh penyanyi Kanada, Carly Rae Jaepsen, saat menghadiri MTV Video Music Awards Jepang pada 2013 lalu. Sejumlah aktris Indonesia pun pernah memakai gaun-gaun rancangan Didit, salah satunya Anggun. Bahkan, pada pagelaran couture Paris Fashion Week 2014 pada Januari lalu, Anggun datang untuk menyimak karya Didit,” tulis Tempo.

Kabarnya,  gaun adibusana terbaru karya Didit juga dipublikasikan oleh Vogue Inggris melalui situs www.vogue.co.uk. Didit menjadi satu-satunya perancang  Indonesia yang mencatatkan namanya di situs majalah mode paling disegani di dunia itu. Dalam rancangan terbarunya, Didit menampilkan songket dengan motif houdstooth—alias gigi anjing—dalam warna-warna cokelat atau pun warna pastel. Didit memadukan songket dengan bahan kulit menjadi gaun dengan siluet feminin, tapi tetap modern.

Sejumlah model mengenakan busana rancangan deasiner Prancis Nicolas Ghesquiere untuk koleksi musim dingin 2014 rumah mode Louis Vuitton, di ajang Paris Fashion Week, Rabu (5/3). Foto: Reuters
Sementara seorang blogger, Esther Lima, di kompasiana menulis bahwa selain belajar desain fasyen selama 4 tahun di Parsons New York (Parsons School of Design, sekarang Parsons the New School for Design) dan Parsons Paris (Ecole Parsons à Paris), putra Prabowo itu juga memperkaya wawasan dia juga mengambil kursus melukis, fotografi, dan sejarah seni.

“Didit memperoleh penghargaan Silver Thimble 2006 untuk karyanya sebagai pelajar, dan lulus 2007,” tulis Esther.

Menurut Eshter, di panggung Paris Fashion Week, rancangan Didit Hediprasetyo berada bersama karya Giorgio Armani, Christian Dior, Georges Chakra, Zuhair Murad, Versace, Jean-Paul Gaultier, dan desainer kelas dunia yang lain. Didit tercatat sebagai perancang busana yang masuk daftar official of calendar Paris Fashion Week yang menggelarkan peragaan untuk perancang internasional.

Didit juga tercatat sebagai desainer kedua setelah Karl Lagerfeld dan pertama di Asia, yang diajak berkolaborasi oleh perusahaan mobil papan atas Jerman, BMW. Didit adalah perancang desain interior dan eksterior BMW Individual 7 Series yang diluncurkan pada 2012 dan hanya diproduksi lima unit.

Dunia seni yang kini ditempuh Didit sebenarnya sudah mulai tampak ketika dia duduk di bangku SMP, yaitu di SMP Labschool (sekolah milik Yayasan IKIP Rawamangun Jakarta/Universitas Negeri Jakarta).

Pada awal tahun 1990-an,ketika Didit masih duduk di bangku SMP, dia dan kawan-kawannya menggelar pementasan drama di Gedung Teater Sastra eks UI di Kompleks IKIP Rawamangun Jakarta. Ukim Komarudin, guru pembimbing Didit, mengatakan bahwa Didit memiliki bakat akting yang bagus.

“Dia juga memiliki solidaritas yang tinggi. Semua kostum pemain yang mendesain Didit,” kata Ukim.

Sumber: tempo.co, kompasiana


Wednesday, May 28, 2014

Anggota Tim Penculik Aktivis 1998 Tetap Punya Karir Militer yang Baik

Made  Supriatma/Indoprogress


ilustrasi (©indoprogress)
NEW YORK -  Anggota-anggota Tim Mawar dari Kopassus yang pernah melakukan penculikan terhadap aktivis pro-demokrasi pada tahun 1997-1998 ternyata tidak menanggung akibat apapun dari tindakan kriminal yang pernah mereka lakukan.

Lewat proses pengadilan yang penuh teka-teki, mereka dihukum pidana penjara, namun tidak dipecat. Pemecatan hanya dialami oleh komandan tim, Mayor Inf. Bambang Kristiono. Dalam laporan investigasi yang berjudul “Melacak Tim Mawar” yang akan dipublikasikan oleh media online IndoProgress (http://indoprogress.com/) terungkap bahwa para perwira ini menjalani karir militer mereka dengan normal.

Ada empat hal yang disorot dalam laporan ini. Pertama, perjalanan karir para perwira ini. Kedua, kaitan mereka dengan dunia intelijen Indonesia. Ketiga, kemungkinan peranan mereka di daerah konflik, terutama di Aceh. Keempat, hubungan mereka dengan mantan komandan mereka,
Prabowo Subianto.

Perjalanan karir para perwira yang terkait dengan kasus penculikan ini ternyata sangat lancar. Bahkan mereka mendapatkan promosi jabatan diatas rata-rata rekan seangkatan di Akademi Militer. Sebagian besar dari mereka saat ini berpangkat kolonel dan tinggal selangkah lagi menjadi perwira tinggi (Brigadir Jendral). Setengah dari mereka tetap berkarir di intelijen.

Mereka mengisi posisi-posisi di Badan Intelijen Negara, Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, maupun sebagai perwira intelijen di komando-komando territorial TNI-AD. Diperkirakan hampir semua dari mereka pernah bertugas di Aceh, baik dalam komando tempur maupun dinas intelijen. Namun secara khusus ada dua perwira yang menjalankan karir militernya di Aceh.

Tidak ada bukti-bukti konklusif yang mendukung keterlibatan para perwira intelijen ini dengan koalisi partai Gerindra dan Partai Aceh dalam pemilihan umum legislatif 2014. Semua dari mereka yang tidak aktif lagi di dunia militer bergabung dengan Partai Gerindra dan menduduki jabatan penting dalam partai itu. Masih ada ikatan kuat antara perwira-perwira ini dengan mantan komandan mereka, Prabowo Subianto.

Selengkapnya bida dilihat di sini: Melacak Tim Mawar

Wednesday, May 21, 2014

Che, Leo Krisiti, dan Saya

Oleh Taufik Wijaya*

SEKALI lagi saya mau menulis mengenai lagu karya Leo Kristi. Tulisan ini pun sebagai kenangan bagi anak saya Abdurrachman Che Wijaya (11) yang telah berpulang kepada Allah pada 10 April 2014 lalu, karena menderita penyakit leukimia.

Sejak mendengar lagu Leo Kristi saat sekolah menengah atas (SMA) sekitar tahun 1988, saya langsung jatuh cinta dengan lagu-lagu Leo Kristi. Hampir semua lagu Leo Krisiti saya menyukainya. Yang favorit “Sendiri” dan “Hitam Putih”.

Saat proses reformasi, tepatnya setelah menikmati album Catur Paramita (1993),  saya sempat tidak pernah mendengar lagu-lagu Leo Kristi, sebab kasetnya hilang. Tapi jika bertemu sejumlah teman pekerja seni di Palembang, seperti Conie Sema, Warman Pluntas, Filuz Mursalim, atau Efvhan Fajrullah, yang pandai bermain gitar dan menyukai lagu-lagu Leo Kristi, saya pun dengan suara fals mencoba menyanyikannya. Dengan menegak sebotol vodka atau kopi hitam yang sedikit gula, kami bernyanyi berjam-jam, hingga larut malam, sehingga istri atau orangtua kami merasa risih.

Saingan saya, yang tidak pandai bermain gitar, tapi ingin selalu menjadi vocalis, macam aktivis J.J. Polong dan Tarech Rasyid. Juga seniman seperti Anwar Putra Bayu dan Dimas Agoes Pelaz.

Tahun 2007, saya mendapatkan CD yang berisi semua lagu Leo Kristi dari Conie Sema. Betapa senangnya. Hampir setiap hari saya mendengar lagu-lagunya. Sejumlah kawan di Palembang pun turut mengopinya.
  
Anak saya yang kedua yakni Che (Abdurrachman Che Wijaya) yang saat itu berumur lima tahun, ternyata juga menyukai lagu-lagu Leo Kristi. Dan kebetulan pula dia menyukai lagu “Sendiri”. Saat saya tanya, kenapa menyukai lagu “Sendiri”? Dia hanya tersenyum dan tertawa, terus menari-nari.

Setahun kemudian, Che dan kakaknya Kinan (Bachtiar Syahri Wijaya) tengah bersedih karena dimarahi ibunya karena tidak diizinkan menonton panjat pinang dalam perayaan 17 Agustus 2008. Saya mencoba menghibur dengan memotretnya. Lalu, malam itu kami sepakat membuat sebuah video yang kemudian kami upload di youtube. Judul video kami 17 Agustus 2008 (http://www.youtube.com/watch?v=C2H8U0EKtE8), yang berisi lagu “Sendiri” dan foto kesedihan Che dan Kinan.

Lima tahun kemudian, tepatnya 10 April 2014. Che berpulang di Rumah Sakit Umum Moehammad Husin, setelah hampir setahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya leukimia atau kanker darah.

Dua hari kemudian, saya mencoba membuka youtube buat mengenang Che. Saya dan beberapa sepupunya menonton video “17 Agustus 2008”. Lirik lagu “Sendiri” pun mengalun. Pada lirik ini;  Sejuta genta di dalam hati. Sejuta benang engkau terpisah. Tak terjangkau oleh tangan. Jalinan panjang rambutmu sayang. Engkau sendiri kini. Aku sendiri kini. Slalu kita bersama. Walau hanya di hati....Laylelay lay lay lay....Sampai saatnya tiba, saya tak mampu menahan air mata. Kami pun menangis. Dan, entah kenapa tiba-tiba laptop mati.

Berdasarkan pemeriksaan dokter saat kali pertama Che dibawa ke rumah sakit, kemungkinan Che terkena leukimia saat dia berusia enam tahun, tepatnya tahun 2008! Tahun kami membuat video “17 Agustus 2008”. Ternyata selama lima tahun, dia berperang dengan penyakitnya dengan menampakan kebahagiaan, kegembiraan bersama kami, seperti saat dia menari dalam video  “Burung Kakak Tua Disenandungkan Anneke Groloh”  di kamar kakaknya, Kinan.

Malam ini, 40 hari mengenang Che, saya pun kembali mendengarkan lagu tersebut:

Meja kayu sepasang kursi
Bunga mawar merah dan putih
Nyala lilin sinar bintang
Sonata lembut petikan gitar

Sejuta genta di dalam hati
Sejuta benang engkau terpisah
Tak terjangkau oleh tangan
Jalinan panjang rambutmu sayang

Engkau sendiri kini
Aku sendiri kini
Slalu kita bersama

Walau hanya di hati
Laylelay lay lay lay
Sampai saatnya tiba



Saya ikhlas dengan kepergian Che. Tapi saya selalu gemetar jika teringat siang hari pada 10 April 2014, ketika Che mengalami sesak napas sambil memukul kasur sepanjang lorong pedestrian., saat mau dibawa ke ruang IGD dari ruang perawatan anak.

Perasaan tersebut seakan terwakili lagu “Solus Aegroti Suprema Lexest”, dan merasa ikhlas saat mendengarkan lirik; Serasa tak lagi ada kotor dan perang Karena saat telah dekat jalan Tuhan. Solus Aegroti Suprema Lexest.

Lirik itu seperti mengingatkan saya bahwa setiap manusia merupakan milik Allah. Che setelah hampir setahun “perang”, dan beberapa hari membersihkan “kotoran” di tubuhnya, akhirnya menuju jalan Allah.

Lilin putih di tepi taman biru
Gedung putih luar tenang damai
Serasa tak lagi ada kotor dan perang
Karena saat telah dekat jalan Tuhan
Solus Aegroti Suprema Lexest
Di lorong pedestrian tunduk melangkah
Lorong pedestrian basah air mata
Serasa tak lagi ada kotor dan perang
Karena saat telah dekat jalan Tuhan
Solus Aegroti Suprema Lexest
Di lorong pedestrian tunduk melangkah
Lorong pedestrian, basah air mata
Solus Aegroti Suprema Lexest.

Kini, Alhamdulillah, terima kasih Allah, telah dijadikan Che sebagai safaat kami, yang insyallah akan menuntun kami menuju surgaMu kelak.*



Thursday, May 1, 2014

Penculikan Aktivis 1998: Kesaksian Andi Arief

ANDI ARIF: “PENCULIKAN ITU KARENA TAKUT KOALISI KAUM OPOSISI” 


Andi Arief (dok Andi Arief)
Penculikan ini tidak mungkin salah prosedur. Jika salah prosedur, kok operasi sampai setahun, bahkan sampai ada pergantian Pangab. Seperti diketahui, Pius dan beberapa kawan yang lain diculik waktu Pangabnya Feisal Tanjung, sementara ketika saya, Pangabnya sudah ganti Wiranto. Juga bukan oknum. Kalau dilihat dari materi interogasi, mereka mewakili sebuah rejim,
bukan mewakili faksi tertentu dalam tentara. Karena mereka tanyakan semua,
mereka mewakili rejim lama, rejim Soeharto.

Salah seorang interogator saya mengaku mereka pernah menginterogasi kawan-kawan saya Budiman dan Wignyo. Semua sudah saya sampaikan ke POM ABRI saat saya diperiksa di Polda, sehingga tak ada alasan POM untuk tak segera menyimpulkan. Logika paling gampang, POM memanggil saja Letkol Lubis yang menerima saya di Mabes Polri. Jika ini dilakukan, semua selesai dan tak perlu lama-lama, berbulan-bulan.

Saat saya diculik, saya bertemu tiga orang di sel. Mereka Waluyo Jati, Haryanto Taslam, Faisol Reza. Kami sempat bercakap-cakap, dari mana, apa saja penyiksaan yang dialami; kami diskusi. Taslam saat saya di sana dalam keadaan sakit, mengerang, dan sempat diperiksa dokter.
Ketika saya di ruangan atas ada juga keteledoran mereka. Yang menjaga saya sempat menyebut nama beberapa orang misalnya Aan, Mugiyanto, Faisol Reza, Waluyo Jati, Suyat, Herman Hendrawan, Pius, Desmon, Deddy Hamdun.

Penjaga itu bilang, Mas Andi kalau jawab pertanyaan yang baik, supaya tak di-dedi hamdun-kan. Saya bingung. Apa maksudnya mau dijadikan suami Eva Arnas? Saya bisa berdikusi panjang dengan penculik, mereka tak melakukan kekerasan pada saya. Bahkan ada yang sering memeluk saya: Aduh Mas Andi, kami terpaksa karena menjelankan tugas. Mungkin hati kecil mereka menolak juga. Kami sempat diskusi soal Timtim. Komandannya cerita bahwa dia baru
beberapa minggu pulang sekolah dari Inggris, dia sebut nama sekolahnya, saya lupa namanya. Ada rasa keleluargaan. Sampai-sampai dia keluarkan kaset kecil berisi lagu soundtrack Pocahontas. “Ini lagu kesenangan anak saya!”

Dia sebut nama anaknya dan dia telepon anaknya. “Halo, ini papa di Jakarta Kamu jangan panas-panasan, nanti kamu jelek”.

Bisa masuk akal disebut kepribadian terbelah. Yang aneh lagi, mereka sediakan dokter. Saya ada empat kali diperiksa dokter, diambil darah saya dan diperiksa air kencing, dikasih obat maag dan sakit perut. Rokok kadang diberi, juga makan dan minum.

Saya tak terlalu parah disiksa. Yang paling parah saya rasakan waktu mata saya ditutup selama 10 hari. Dalam keadaan tegang saya sulit berpikir ke depan. Jadi bayang-bayang masa lalu muncul. Dugaan saya, yang mereka inginkan adalah informasi sebanyak-banyaknya, supaya saya ingat yang sudah-sudah. Tangan saya tetap diborgol dua, diikatkan di kursi.

POM ABRI tak ada alasan untuk tak mengeluarkan teman-teman lain yang masih hilang. Pertama, pelaku sudah disebut; kedua, kita yang memberikan testimoni sudah menyebutkan semua korban ada di sana. Cacat, hidup atau mati, segera dikeluarkan. Kalau mati, tulang-tulang, kafan, tanah mereka dikubur kembalikan ke kami agar menjadi bukti bagi rakyat bahwa ada tindakan kekerasan yang selama ini terjadi di Indonesia.

Umumkan terbuka dan berjanji tak akan mengulangi, maka rakyat akan sedikit lega. Kalau ditutup dengan salah prosedur dan hukum, bukan hanya aktivis tapi wartawan nanti juga akan diculik.

Sikap terhadap POM. Saya hargai kerja-kerja POM tapi untuk sementara saya tak mau diperiksa dulu karena saya anggap tiga keterangan di Polda sudah cukup untuk memgeluarkan teman-teman lain. Tanpa saya beri keterangan lagi, POM sudah bisa mengeluarkan mereka. Ini persoalan nyawa manusia! Rakyat, kita semua akan puas. Persoalan hukum, kita bicarakan nanti. Jadi keluarkan dulu kawan-kawan saya, baru saya sebut nama dan instansi lain.

Berikut cuplikan tanya jawab Andi Arief dengan wartawan

Wartawab (W): Apakah tempat X itu maksudnya Kopassus?
Andi Arif (AA): Sepakat tak sebut sebelum teman-teman saya dikeluarkan

W: Dugaan anda siapa yang sudah meninggal?
AA: Semua bisa, tapi itu dugaan, saya tak bisa pastikan. Lama mengapa
tak dliepas, muncul opini jangan-jangan mati. Saya tak ada bukti, tapi
saya sering dengar suara penyiksaan, tiga empat kali.

W: Ada limit waktu untuk kerja POM?
AA: Saya tuntut seminggu ini agar mereka dikeluarkan!

W: Kalau tidak?
AA: Akan ada tindakan lain, konsultasi dulu dengan Kontras dan pengacara saya.
Mengapa yang lain belum dilepas? Ada kecenderungan mereka bingung bagaimana
cara melepas. Ditaruh polisi, pasti polisi menolak. Ditaruh pinggir jalan,
mereka nanti kasih testimoni. Kalau ada yang cacat atau mati, tambah
bingung. Kalau saya jadi mereka, kawan-kawan itu hidup atau mati harus
dilepas, konsekuensinya pelakunya dihukum, minta maaf dan berjanji tak akan
ulangi. Saya menolak sebut nama dan instansi, karena curiga dengan POM.
Banyak kasus TPF yang tak jelas hasilnya dan tak obyektif.

W: Berapa instansi di luar kopassus?
AA: Paling tidak ada dua. Yang penting dalang sudah ketahuan dan cukup
bukti, yang hilang ada di sana

Sumber: From: apakabar@access.digex.net Date: Thu Jul 23 1998
Dimuat ulang oleh http://aksarasahaja.wordpress.com/

Penculikan Aktivis 1998: Kesaksian Raharja Waluya Jati

Raharja Waluya Jati
” Sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku pengalaman hidup yang telah menguras keberanianku hingga tersisa takut yang berlebihan sampai saat ini.”

1 . PENCULIKAN DAN PENGANIAYAAN

Kamis, 12 Maret 1998. Pada kurang lebih pukul 12.00 WIB aku datang ke YLBHI Jl. Diponegoro 74 untuk menyaksikan Konperensi Pers dari kawan-kawan KNPD. Ketika waktu menunjukkan antara pukul 14.00 -14.30, kami (aku dan Faizal Reza) pamit kepada kawan-kawan untuk makan siang di seputar RS.Cipto Mangunkusumo.

Di tengah perjalanan, kami merasa diikuti oleh orang-orang yang mencurigakan sehingga niat kami makan kami urungkan, kemudian kami menyeberang menuju Unit Gawat Darurat RSCM sambil berlari kami naik ke lantai II yang ternyata buntu. Ketika aku mau turun, diujung tangga kulihat Faizal Reza telah ditelikung dan dipukul oleh dua orang berbadan tegap dan besar, kemudian aku menyelinap ke WC.  Tetapi, tidak berapa lama telah digedor oleh seseorang yang mengancam akan menembakku, begitu aku keluar mereka menyambut dengan pukulan kearah perutku dan menggelandangku turun kebawah sambil terus memukuli. Sampai di pelataran parkir aku masih sempat berteriak keras untuk minta dipanggilkan pengacara, hal ini membuat mereka memukul ulu hati dan membungkam mulutku hingga kacamataku jatuh pecah.

Aku dinaikkan ke sebuah kendaraan Jeep yang sempat kulihat berwarna merah dengan kap putih, kemudian mataku ditutup kain hitam dengan tangan diborgol kebelakang dan didudukkan dibawah. Selama perjalanan mereka katakan bahwa mereka tidak salah tangkap karena telah mengamatiku sejak lama dan mereka akan gunakan aku untuk menunjukkan dimana Andi Arief berada. Kurang lebih setengah jam sampailah aku pada suatu tempat, aku dibawa masuk di sebuah bangunan ( aku merasakan jarak antara mobil berhenti dengan bangunan dimana aku dibawa tidak terlau jauh, hanya beberapa meter ).

2 . INTEROGASI DAN PENYIKSAAN

Hari ke I hingga kira-kira Hari ke IV. Sore itu juga aku dimasukan ke sebuah ruangan yang aku perkirakan cukup luas sebab teriakan-teriakan pertanyaan mereka kudengar menggema di ruangan, sambil memukul mereka bertanya tentang dimana Andi Arief berada, setiap aku jawab aku tidak mengetahuinya maka, pukulan yang datang semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya aku dibawa ke sebuah ruang yang mereka sebut ruang eksekusi, aku dinaikkan keatas kursi dan leherku dijerat dengan seutas tali, pertanyaan tentang di mana Andi Arief aku jawab sama, karena aku memang tidak tahu persis dimana dia berada, tali yang menjerat leherku ditarik ke atas sehingga aku tercekik hingga aku tidak bisa bernafas sampai beberapa detik, dan leherku terasa sakit selama beberapa hari (susah untuk menelan). Tapi hal tersebut kemudian dihentikan karena aku sempat mendengar omongan mereka agar aku diturunkan dengan alasan terlalu enak bagiku bila terlau cepat mati.

Selanjutnya aku dibawa masuk ke sebuah ruang lain dan didudukkan di sebuah kursi lipat dengan tangan terikat ke belakang, di depanku duduk seseorang yang meng-interogasi-ku. Setiap pertanyaan selalu diikuti dengan penganiayaan dengan memukul baik dengan tangan maupun dengan kursi lipat, bahkan aku sempat terjatuh dari kursi kemudian mulut dan perutku dinjak-injak. Nampaknya mereka sudah tidak memiliki rasa iba sedikitpun bahkan tendangan-tendangan yang mengarah ke tulang kering sering kudapatkan juga di bahu dan punggungku. Sundutan rokok pun mulai mereka lakukan baik dipunggung maupun ditanganku, satu siksaan yang hingga sekarang membuatkan trauma terhadap listrik adalah penyetruman dengan tongkat yang dialiri listrik hal tersebut dilakukan berulang-ulang dibagian-bagian badanku (ujung jari kaki, kaki sampai pangkal paha, perut, dada, tangan dan leher bagian belakang).

Selama itu aku selalu dalam posisi duduk dengan interval istirahat hanya 1 sampai 2 jam untuk makan dan ke WC, secara phisik aku sangat menderita bahkan sampai tidak mampu lagi merasakan rasa sakit dan secara mental aku mengalami penurunan pada titik yang paling bawah. Aku sempat tiga kali dibuka tutup mataku, untuk difoto dan diminta mengenali foto dua orang kawanku, kesempatan yang lain adalah saat menulis biodata yang tidak pernah selesai, karena terlalu capek dan jadi kacau. Namun selama mata terbuka tetap saja aku tidak pernah melihat wajah-wajah mereka karena mereka mengenakan tutup muka dan kepala ala ninja.

Pernah dalam interograsi, salah seorang dari mereka menanyakan sebuah tempat di gang Salon, di kawasan Cilincing. Di mana waktu itu aku datang bersama Herman dan Reza. Aku sudah lupa kejadian dan lokasi tersebut. Tapi kemudian orang itu mengaku bahwa dia yang waktu itu menanyakan pada kami apakah kontraknya masih diteruskan, karena Suyat jarang sekali datang ke rumah itu. Dengan detil dia menyebut kapan kami datang dan jam kami pergi dari tempat itu. Kemudian dia mengaku kenal dengan Suyat dan orang yang mengontrakkan rumah itu. Dia juga mengaku bahwa dialah yang mengambil Suyat di Solo beberapa waktu lalu. Sedangkan rumah tersebut adalah rumah yang dicarikan dan dikontrakkan oleh Munif Laredo, karena dia tidak mau memberikan bantuan dalam bentuk uang.

Hal ini menarik perhatianku, karena sehari sebelum penculikanku sudah muncul dalam analisaku terhadap peristiwa penguntitan tersebut, berhubungan dengan keberadaan Munif (mantan Ketua SMID) selama + 1 minggu secara intensif di YLBHI. Kenapa aku mempunyai analisa seperti itu, karena pada 11 Maret 1998 Munif terlihat sekali menunggui kepulanganku. Dan begitu aku keluar dari kantor YLBHI, Munif juga segera bergegas keluar dari YLBHI dan ketika sampai halte Megaria di Jl. Diponegoro, aku diikuti oleh 2 orang, namun aku berhasil lolos dan masuk kembali ke YLBHI. Aku segera mengaitkan analisaku tersebut dengan pengakuan orang (saat aku masih disekap) yang mengambil Suyat, dan kejanggalan-kejanggalan di tempat yang dikontrakkan oleh Munif.

Hari ke IV hingga Hari ke VI:

Aku dipindahkan ke sebuah ruangan yang dilengkapi dengan kasur busa dan kipas angin, aku diperkenankan tiduran dengan tangan satu tetap terikat dikursi dan mata selalu ditutup dengan kain gelap. Kegiatan interogasi mulai agak mengendor dan mereka mulai bersikap agak lunak sesekali memberikan nasehat agar tidak melakukan kegiatan politik lagi.
Pada hari ke V akau dibawa masuk kesebuah ruang mirip ruang ceramah, ruangan tersebut cukup luas dan sangat dingin. Aku di tanya oleh seseorang yang menurutku dari cara bertanya dan bobot pertanyaannya nampaknya merupakan salah seorang pimpinan dari kelompok penculik tersebut.
Selama hari-hari itu (masih di ruang atas) aku sempat mendengar suara yang aku kenal sebagai suara Herman Hendrawan serta sayup kudengar suara satu lagi yang kemungkinan besar adalah suara Nezar Patria.  

Setelah itu aku dibawa ke sebuah ruangan dan seluruh pakaianku dilepas hingga telanjang bulat dan dipaksa tidur tengkurap diatas balok es selama kurang lebih 10 – 15 menit sambil menanyakan kepadaku bagaimana cara menemukan Andi Arief, dalam situasi yang sangat tertekan aku sempat berpikir sedemikian profesional cara-cara mereka melaksanakan tekanan kepadaku baik secara phisik maupun mental.

Selesai melakukan penyiksaan yang nyaris membuat aku beku mereka masih sempat memukulku beberapa kali, katanya untuk melancarkan peredaran darah. Kemudian dengan mata tertutup aku dibawa kesebuah ruangan yang kurasakan adalah menurun karena melewati beberapa anak tangga. Nampaknya aku mulai dipindahkan kesebuah ruang lain yang senyap namun saat aku dibawa turun ada bunyi dengungan yang cukup keras, belakangan kuketahui suara itu berasal dari radio yang sudah habis waktu siar namun tidak dimatikan dan dihidupkan dengan volume yang amat keras.

Hari ke VII hingga Rabu, 1 April 1998: Kehidupan di ruang bawah tanah:

Setelah pindah di ruang bawah aku mulai merasakan berbeda karena ada suara radio dan suara mereka yang menempati sel lain, lalu kami saling memanggil walau tanpa bisa saling menatap. Saat-saat radio mati, antara pukul 02.00 dinihari sampai 05.00 pagi, merupakan kesempatan kami saling berkomunikasi dan siaran radio juga memberikan gambaran tentang hari, tanggal dan bulan.

Selama di bawah aku sempat dibawa naik ke atas lima (5) kali, materi pertanyaannya seputar Andi Arief dan sekali diantaranya sempat dihadiri banyak orang (aku merasakannya dengan mata tertutup). Seperti biasanya makian, ancaman akan dibunuh dan siksaan berupa pukulan tendangan dan penyetruman masih mereka lakukan.

Pernah ketika dibawa ke bawah selesai ditanya, aku disuruh berendam sampai kepala tenggelam selama beberapa menit. Materi pertanyaan yang sempat aku ingat pada saat interogasi adalah, aku diminta agar dalam melakukan gerakan jangan merugikan rakyat kecil, lebih baik membakar toko cina saja kata mereka. Bahkan aku sempat ditanya siapa yang ada dibelakang kami, mereka menyebut-nyebut kalau pun LB.Moerdani di belakang kami, mereka tidak akan pernah segan-segan untuk menyikatnya. Juga kami sempat ditanya berapa duit kami dikasih oleh Sofyan Wanandi. Pertanyaan ini mereka lontarkan setelah aku mengalami tekanan mental dan fisik yang berat.

Karena aku merasa tidak pernah tahu dan berhubungan dengan orang-orang yang disebut tadi, maka aku jawab tidak tahu dan kami secara sukarela (bantingan) mendanai kegiatan kami dari kantong sendiri.

Aku di bawah mulai mengenali kawan-kawan, yang paling aku kenal adalah suara Faizol Reza kemudian kami bisa saling mengerti, selain itu ada Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang dan Desmon.

Janji akan dilepaskan.

Pada hari Rabu, 1 April 1998 kecuali Haryanto Taslam, kami mengalami pemrosesan yang katanya ada kaitannya dengan pelepasan kami. Tentang janji pembebasan sudah sering diomongkan kepadaku dan Reza jika Andi Arief telah tertangkap.

Tanggal 2 April pagi hari, Pius dilepaskan selang sehari kemudian Desmon pun dibebaskan.
Selama disekap di bawah, kami mendapatkan perawatan atau kunjungan dari dokter seminggu sekali terutama Haryanto Taslam yang tekanan darahnya naik tinggi.

Pada tanggal 6 April ada penghuni baru di sel bawah dan ternyata Andi Arief, dia bercerita diculik di Lampung dan nampaknya dia mengalami siksaan yang tidak kalah berat.
Pada tanggal 15 April sore Haryanto Taslam dibebaskan. Dan kurang lebih pukul 21.00 hingga 24.00 Andi Arief dibawa keatas, setelah kembali lagi dalam sel dia bercerita kalau mendapatkan siksaan lagi. Tak berapa lama aku mendengar dia mengaji, selama + 1 jam dan kemudian meminta maaf kepada kami bila nanti tidak kuat menahan siksaan.

Tanggal 16 April, Andi Arief dibawa ke atas dan kami tidak pernah mendengar lagi suaranya sampai terakhir aku menghuni sel bawah tanah.

Kamis, 23 April aku dan Reza diproses lagi untuk persiapan pembebasanku dan untukku telah dipersiapkan skenario kalau aku ngumpet dan diminta untuk tidak melaksanakan konferensi pers, aku juga diminta mengaku korban salah culik oleh mafia belakang diskotik Menteng karena dikira musuh mereka ketika tawuran di diskotik. Aku diancam untuk tidak melanggar hal tersebut karena resikonya seluruh keluargaku akan dihabisi. Aku mulai di foto-foto lagi.

Pagi tanggal 24 April aku diambil lagi diminta untuk menghafal skenario dan diminta untuk membuat surat pernyataan secara sukarela tanpa tekanan yang berisi untuk tidak menceritakan kepada siapapun terhadap apapun yang kualami dan rasakan selama dalam sekapan dan tidak akan melakukan kegiatan politik setelah keluar. Jika melanggar maka aku dan seluruh keluargaku akan mengalami resiko terburuk. Surat pernyataan tersebut dicap dengan jempol tangan kananku. Aku ditanya ingin pulang ke Jepara pakai apa, aku menjawab naik kereta ke Semarang kemudian naik bus ke Jepara.

Malamnya kembali aku dibawa ke atas untuk bertemu dengan pimpinan mereka yang bersuara agak berat, dia bersumpah demi Allah untuk tetap memburuku kemana pun dan kapan pun untuk menghabisiku jika melanggar pernyataan itu. Lalu dia menyalamiku dan mendoakan agar menjadi orang yang berguna bagi orang tua dan masyarakat.

3 . Saat Kebebasan Dipenuhi Ancaman.

Pagi, Sabtu 26 April 1998 pukul 06.00 aku dibawa keatas, diperiksa dokter dan diberi vitamin, lalu disuruh pakai sepatu dan ganti celana dalam (sebelumnya aku sempat ditanya berapa ukuran celana dan sepatuku). Kemudia aku dibawa ke sebuah kamar kosong dan di foto puluhan kali.
Sambil menunggu orang yang akan mengantarku ke stasiun Jatinegara, ada seseorang yang mengaku sebagai pimpinan operasi di lapangan, yang mengancamku untuk tidak bercerita kepada siapapun selama berada dalam sekapan, bahkan mereka mengatakan tidak peduli kepada siapapun yang akan memberikan jaminan keamanan.

Mereka berpesan bahwa orang-orang mereka sudah disebar di sekitar stasiun, bahkan di kereta pun mereka sudah siapkan orang-orang mereka, aku diturunkan didekat perempatan pintu kereta Jatinegara kearah Cipinang dan tidak boleh menoleh kebelakang.

4. Hal-hal lain yang masih sempat aku ingat:
a/ Ada suara orang-orang sedang bersenam atau berolahraga sambil bernyanyi-nyanyi secara serempak.
b/ Suara Adzan dengan jelas kudengar terutama saat aku masih di ruangan atas, dan suara itu jadi terdengar sayup bila berada di bawah dan suara radio mati.
c/ Dari kontruksi bangunan yang digunakan untuk menyekapku yaitu ada ruang bawah tanah, maka secara logis harus punya saluran pembuangan air yang dekat dengan tempat yang lebih rendah (lereng/sungai yang cukup curam).
d/ Untuk menuju ruang bawah tanah harus menuruni 7 + 4 anak tangga (ini karena aku yang paling sering dibawa ke atas selama berada di bawah).
e/ Pada saat aku dibawa keluar untuk dilepas aku menghitung melewati polisi tidur 3 (tiga) kali.
f/ Ubin yang di pasang di koridor dan ruangan yang ada di atas didominasi warna merah dan putih.
Kesaksian ini aku lakukan dengan membangun sisa keberanian untuk menegakkan kebenaran dan didorong oleh kasih sayang keluarga besarku dan dorongan kawan-kawan KONTRAS serta Surat Jaminan Keamanan dari PUSPOM ABRI yang ditandatangani oleh Ka PUSPOM ABRI Mayor Jenderal Syamsu.
Sebersit harapan agar kesaksian ini dapat membantu banyak pihak, yaitu kawan senasib sependeritaan yang saat ini belum jelas nasibnya beserta keluarganya, pihak ABRI dan tentunya negara dengan tatanan hukum dan tegaknya demokrasi serta di hormatinya hak-hak asasi manusia.

Jakarta, 5 Juni 1998

Raharja Waluya Jati

Pemberi Kesaksian

Sumber: http://aksarasahaja.wordpress.com/

Penculikan Aktivis 1988: Kesaksian Nezar Patria

Nezar Patria (dok http://aksarasahaja.files.wordpress.com/)
Saya Nezar Patria. Dilahirkan di Sigli, DI Aceh , pada 5 Oktober 1970. Saya lulus dari Fakultas Filsafat UGM pada Agustus 1997. Selama menjadi mahasiswa saya aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Jamaah Shalahuddin UGM (1990-1991), Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (1992-1996) dan terakhir sebagai Sekretaris Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) pada 1996.

Keterlibatan saya di SMID dimotivasi oleh realitas kehidupan sosial dan politik Indonesia yang sangat jauh dari standar negara modern yang demokratis. Perlakuan politik Orde Baru yang penuh dengan penindasan hak azasi manusia, ketidakadilan politik dan ekonomi membuat saya mengambil sikap yang kritis terhadap praktik kediktatoran Orde Baru. Lewat kelompok-kelompok diskusi mahasiswa yang intensif dan melelahkan namun tak merubah keadaan, akhirnya saya memutuskan untuk aktif dalam aksi-aksi protes mahasiswa dan advokasi kasus-kasus rakyat yang hak-haknya dirampas, ditindas secara ekonomi dan politik oleh Rezim Orde Baru.

Agaknya sudah menjadi takdir bagi seluruh aktivis prodemokrasi yang berjuang melawan politik kediktatoran Orde Baru untuk bersiap menghadapi penjara, intimidasi, teror dan berbagai bentuk penindasan lain yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Salah satunya adalah apa yang saya alami pada 13 Maret 1998, dua hari setelah Sidang Umum 1988 yang penuh kepalsuan, menjelang bangkitnya gemuruh perlawanan rakyat yang mengakhiri episode kediktatoran Orde Baru.

1 . Tamu tak dikenal pada Jumat Malam, 13 Maret 1998

Saya dan tiga orang kawan lainnya (Mugiyanto, Bimo Petrus dan Aan Rusdianto) tinggal di Rumah Susun Klender. Kami adalah penghuni baru di sana, baru sekitar sepuluh hari. Tepatnya mulai 28 Februari 1998. Kami semua adalah anggota SMID, yang setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hidup dalam perburuan aparat kediktatoran Orde Baru.

Setelah gagal menuding PRD sebagai “dalang” peristiwa 27 Juli 1996 itu, kediktatoran tetap mempersalahkan PRD sebagai organisasi yang tidak sah karena tidak menggunakan Pancasila sebagai asas, melainkan Sosial-Demokrasi Kerakyatan. Walaupun tak ada maksud sedikitpun dari PRD untuk anti Pancasila–justru memberikan tekanan khusus dari orientasi nilai Pancasila pada azas Sosial-Demokrasi Kerakyatan, namun kediktatoran tetap saja memenjarakan para pimpinan PRD serta setahun kemudian melarang PRD dan juga SMID sebagai salah satu organisasi yang berafiliasi dengannya.

Dalam kondisi seperti itu, kami para anggota SMID tetap bergerak walau dalam kondisi yang sangat terbatas. Sebagian besar anggota kami kembali ke kampus dan yang lainnya dengan setia masuk ke basis-basis komunitas rakyat yang tertindas.

Pada 13 Maret 1998, sekitar pukul 19.00 saya baru pulang dari Depok. Saya adalah orang yang pertama pulang pada malam itu. Rumah ini memang sepi kalau siang hari. Kami rata-rata punya aktivitas di luar rumah penuh seharian. Bukan cuma aktivitas yang berkaitan dengan politik (kami tetap menjaga kontak dengan komunitas mahasiswa dan sektor rakyat lainnya dalam rangka pengorganisiran), namun juga melakukan pekerjaan untuk dukungan finansial (menterjemahkan dan menulis artikel). Sepuluh menit kemudian, Aan pulang. Kami menjerang air untuk membuat minuman. Saat itulah terdengar pintu diketuk oleh orang.

Aan membuka pintu. Empat orang bertubuh tegap dan menggunakan penutup kepala dari wol berdiri di depan pintu. Aan memanggil saya yang masih berada di dapur, karena tamu itu tak dikenal olehnya. Saya melihat salah seorang langsung masuk ke dalam dan memegang lengan Aan. Saya bertanya mereka siapa dan ada keperluan apa. Jawabannya adalah sebuah bentakan
“Jangan banyak tanya, mari ikut kami!”.

Aan dicengkeram oleh dua orang yang langsung menggiringnya keluar. Demikian juga saya. Saya mencoba meronta, tapi seseorang mengapit di sebelah kanan saya langsung mencabut pistol jenis semi otomatis. Ia berjaket hitam, bercelana jins, dan menggunakan penutup kepala (seperti topi wol pendaki gunung warna hijau). Pistol itu ditodongkan ke perut saya. Sementara, seseorang yang mengapit di sebelah kiri saya (tak sempat saya identifikasi ciri-cirinya) langsung memborgol kedua tangan saya. Mereka menggiring kami dengan paksa menuruni tangga rumah susun (rumah kami di lantai dua). Mereka bekerja begitu cepat. Tak sampai semenit kami sudah dimasukkan ke dalam sebuah mobil Jip yang telah menungu diluar. Saya juga sempat melihat mobil jip lainnya, kelihatannya juga satu kelompok dengan mereka, parkir persis di belakang mobil yang kami dipaksa naik ke dalamnya.

Di dalam mobil, mata saya dan Aan langsung ditutup dengan kain hitam dan ditambah lagi dengan penutup kepala dari wol hitam. Kami berdua duduk di tengah. Sementara di kedua sisi diapit oleh dua orang. Masing-masing tangan kami diborgol bergandengan. Tangan kanan saya dengan tangan kiri Aan diborgol jadi satu, sementara kedua tangan kami yang lainnya diborgol bersama dengan tangan orang-orang tak dikenal itu.

Mobil itu ber-AC. Sebelum mata saya ditutup, saya sempat melihat dua orang duduk di depan, seorang berfungsi sebagai supir dan seorang lagi duduk disampingnya. Mobil langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Semua kaca mobil tertutup rapat. Musik diputar cukup keras, sehingga saya tak mendengar suara bising lalu lintas di sepanjang perjalanan. Di dalam Jip itu seseorang menanyakan nama saya dan apa aktivitas saya selama ini. Setelah saya menyebut nama dan kegiatan saya, seseorang menyela “Aktivis SMID, kita nggak salah tangkap!”

Tak ada percakapan lagi setelah itu. Saya berpikir keras menduga siapa yang menangkap saya. Jelas, mereka bukan orang biasa. Mereka cukup profesional dan sikapnya keras serta dingin. Saya berdoa dan berdzikir, Saya tak bisa menerka arah dan jalur mana yang ditempuh oleh mereka. Namun, saya mencermati selama perjalanan itu, kaset musik sempat berganti side. Jadi kurang lebih satu jam. Setelah itu saya merasa mobil berhenti di satu tempat, dan terdengar seseorang melakukan komunikasi dengan radio. Terdengar tanda panggil “Merpati, Merpati!” Namun, saya tak mendengar balasannya.

Kelihatannya mereka telah tiba di tempat tujuan, dan sedang menunggu konfirmasi izin untuk masuk. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil meluncur ke sebuah bangunan. Saya dan Aan diturunkan dengan mata tertutup dan tangan terborgol. Kaki saya yang telanjang terasa menginjak rumput, lalu tanah berpasir dan kemudian lantai tegel. Kami digiring masuk ke sebuah ruangan.

2 . Suara sepatu lars yang berderap-derap

Ketika masuk ke dalam ruangan yang ber-AC itu, kami langsung dipisah, walaupun masih dalam satu ruangan. Saya merasa banyak orang yang berada dalam ruangan tersebut mengelilingi saya dan juga Aan. Celana saya dibuka dengan paksa sehingga tinggal celana dalam dan baju kaos saja. Saya langsung didudukan pada sebuah kursi lipat, borgol dibuka namun sebelah tangan saya diborgol pada besi kursi.

Saya merasa berhadapan dengan sebuah meja dan ada seseorang di seberang sana melontarkan pertanyaan dengan cukup keras “Sebagai Sekjen SMID kamu pasti tahu dimana Andi Arief. Katakan segera di mana dia sekarang!”. Saya menjawab, tidak tahu persis di mana Andi Arief berada, karena saya bertemu terakhir dengan dia di Yogyakarta sekitar setengah tahun sebelumnya.

Mendengar jawaban itu mereka segera menghajar saya. “Bangsat, pembohong!” kata salah seorang. Lalu saya merasakan sebuah pukulan keras di rahang saya dan diikuti dengan puluhan pukulan lain. Mereka mengulangi pertanyaannya, dan saya jawab tidak tahu. Lalu saya mendengar ada suara perintah untuk mengambil alat setrum. Sebuah benda terasa menempel di betis dan paha saya, dan sebuah aliran listrik yang cukup kuat menyentak seluruh sendi tubuh saya. Saya berteriak “Allahu akbar!” sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Aliran listrik itu menyerang bertubi-tubi, sehingga tubuh dan kursi yang saya duduki bergeletar. Saya merasa sebuah tendangan keras menghantam dada saya hingga saya terjengkang ke belakang dan kursi lipat tempat saya duduk jadi ringsek.. Setelah mengganti kursi yang lebih kuat, mereka kembali mengulang pertanyaan tersebut. Saya dalam keadaan setengah sadar, lalu mengatakan bahwa Andi Arief berada di Lampung. Tempat persisinya saya tidak tahu, mungkin saja di rumah orang tuanya.

Setelah itu saya dibaringkan di sebuah velbed. Kedua kaki saya diikat kencang pada tepi velbed, dan kedua tangan saya diborgol juga pada tepi velbed. Mereka menanyai tentang aktivitas politik yang pernah saya lakukan, dan selalu saja entah menjawab atau tidak saya disetrum berkali-kali. Mereka menanyakan apakah saya mengenal Waluyo Djati, Faisol Reza, dan Herman. Mereka juga menanyakan apakah saya mengenal Desmond dan Pius. Saya juga disuruh menceritakan apa saja aktivitas mereka.

Lalu mereka menanyakan apakah saya pernah bertemu dengan Megawati dan Amien Rais. Dan apakah PRD atau SMID pernah menerima dana dari Sofjan Wanandi. Saya menjawab tidak pernah bertemu dengan ketiga orang tokoh tersebut. Secara politik PRD memang mendukung Amien Rais dan Megawati . Namun PRD atau SMID tak pernah menerima dana dari Sofjan Wanandi, dan saya jelaskan secara politik posisi kepentingan PRD dan Sofyan Wanandi sangat berseberangan. Jadi, tak mungkin kami mau berhubungan dengan dia apalagi menerima bantuan dari dia.

Setelah pertanyaan ini sejenak mereka menghentikan penyiksaannya terhadap saya.
Samar-samar saya mendengar Aan yang sedang ditanyai oleh sejumlah orang. Posisi dia tak jauh dari saya dan kami masih berada dalam satu ruangan. Tak lama kemudian suasana menjadi sepi dan hening. Dan saya kaget ketika terdengar langkah-langkah sepatu yang baru saja masuk. Lalu, saya mendengar teriakan-teriakan kesakitan seseorang yang juga sedang disiksa dan diinterogasi di ruang yang sama. Saya mengenal persis suara itu sebagai suara Mugiyanto.

Kemudian kami bertiga diberi makan nasi bungkus dengan lauk ikan. Selama makan kami tetap di velbed dengan posisi duduk serta tangan kiri terborgol dan mata tertutup. Selesai makan pertanyaan berlanjut tentang riwayat hidup saya dan pengalaman aktivitas politik saya.

Sepanjang malam itu sampai dengan subuh kami tetap terus disetrum dan diteror dengan suara alarm yang sangat memekakkan (bunyinya mirip dengan alarm mobil). AC dihidupkan dengan sangat kencang, sehingga tubuh saya yang setengah telanjang menggigil. Lalu seorang petugas datang mendekat memeriksa tubuh saya (kelihatannya tenaga medis) dan lewat suaranya samar-samar saya dengar bahwa ia melarang untuk menyetrum daerah perut dan dada. Lalu saya dan kawan-kawan dipakaikan kembali celana panjang kami. Kami tak bisa tidur sampai pagi hari, sampai para petugas penjaga berganti regu. Karena mata tertutup kami sepertinya kehilangan orientasi waktu. Petugas yang baru masuk juga mengulangi pertanyaan seperti regu sebelumnya. Siksaan terus kami alami sepanjang hari.

Saya berpikir dan coba menduga siapa mereka. Namun sangat sulit, karena mereka tak penrnah menyapa sesamanya dengan panggilan nama. Ruangan itu juga kedap suara. Namun, pada pagi hari itu terdengar samar-samar suara derap sepatu lars di luar. Saya menduga karena pintu agak terbuka sedikit, sehingga suara-suara di luar merambat ke dalam ruangan X itu. Kedengarannya seperti sekelompok serdadu yang sedang senam militer dan berlari-lari kecil secara serempak. Juga terdengar mereka menyanyikan lagu-lagu pembangkit semangat serta yel-yel yang tak jelas benar kata-katanya.

Keesokannya (hari kedua) posisi kami masih tetap di velbed dan masih dalam ruangan tersebut. Pagi-pagi saya ditanyai tentang biodata. Saya kemudian dipaksa untuk mencari cara menangkap Andi Arief, dengan menanyakan watak, kebiasaan dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Andi. Saya tak dapat menjawabnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Saya disetrum lagi dan dipukuli. Saya juga ditanya tentang struktur PRD setelah Budiman Sujatmiko, Ketua PRD, di penjara. Mereka juga menyakan jaringan gerakan prodemokrasi yang lainnya.

Kemudian para interogator itu menanyakan program politik PRD saat ini. Dan juga mereka menanyakan tentang kenapa PRD mendukung referendum bagi rakyat Timor-timur. Saya menjawab, bahwa persoalan Timor-timur telah menjadi bumerang yang merugikan citra bangsa Indonesia di pergaulan internasional. Selain itu, perang yang berkepanjangan telah membawa banyak korban baik dari serdadu Indonesia maupun juga rakyat Timor-timur. Referendum adalah jalan yang adil dan demokratis bagi Timor-timur untuk menentukan sikap. Terjadi “diskusi” disini antara kami bertiga dan para interogator. Mereka mengaku cukup lama bertugas di Timor-timur dan juga Aceh. Untuk beberapa jam tidak ada siksaan yang kami alami selama “diskusi ” tersebut.

Saya minta izin untuk ke toilet karena ingin buang air kecil. Mereka kemudian melepaskan borgol saya, dan dengan mata tertutup lalu sebelah tangan saya diborgol ke tangan seorang petugas yang mengantarkan saya ke toilet. Saya berjalan melintasi ruang ber-AC tersebut dan begitu keluar menuju toilet saya kembali mendengar suara sepatu lars yang sedang berdarap-derap serempak. Kali ini lebih jelas suara itu berasal dari mereka yang sedang latihan berlari-lari kecil dan serempak. Namun saya tak tahu lagu apa yang dinyanyikan dan juga bunyi yel-yel yang mereka teriakkan.

Setelah makan pagi , kami ditanyai lagi oleh kelompok petugas yang berbeda. Siksaan berupa setrum dan pukulan serta tendangan kembali saya rasakan. Bahkan ketika mereka minta saya menyebut secara persis alamat teman-teman Andi Arief di Lampung, mereka memposisikan velbed saya secara terbalik. Kepala saya di bawah sementara kaki di atas, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Seseorang bahkan membungkam mulut saya dengan tumit sepatu sampai bibir saya pecah, karena saya berteriak keras “Allahu akbar” ketika aliran listrik itu begitu gencar seperti meluluhlantakkan sendi-sendi tulang saya. Sampai dengan malam hari terus-menerus terjadi interograsi. Terkadang pertanyaannnya mengulang-ulang dan kadangkala pertanyaan diajukan berdasarkan data yang didapat dari kedua kawan yang lain.

Besoknya, (tanggal 15/3) saya digiring ke toilet oleh dua orang petugas. Mata saya tetap tertutup dan kedua tangan terborgol. Mereka membuka borgol dan kedua mata saya ketika berada di toilet. Saya melihat dua orang petugas itu memakai topeng dari wol hitam. Hanya matanya saja yang terlihat. Saya dipotret di sana dengan kamera otomatis langsung jadi. Toilet itu kelihatan bersih, ada wastafel dan cermin. Keramiknya warna biru muda dan lantainya warna merah bata.

Dinding warna krem. Setelah selesai mata saya kembali ditutup, sebelumnya saya dizinkan cuci muka. Saya kembali ke ruangan semula dimana saya dibaringkan kembali ke velbed. Lalu seorang petugas mengatakan bahwa kami bertiga sebenarnya bukan target mereka, dan karena itu kami akan dibawa ke suatu tempat. Namun walaupun begitu mereka akan tetap mengawasi kami dimanapun kami berada, dan adalah persoalan yang gampang untuk menyelesaikan kami bertiga jika kami membuat ulah yang tak menyenangkan mereka.

3 . Menuju Polda Metro Jaya

Sekitar tengah hari, lalu kami di bawa ke suatu tempat. Masing-masing kami diangkut dengan satu mobil. Saya dibawa dengan mobil Jip jenis Jimni. Perjalanan sekitar 1,5 jam, sebelum akhirnya saya tiba di sebuah tempat. Dalam perjalanan mata saya tetap ditutup dan tangan diborgol ke belakang. Kami kemudian dibawa turun dan berjalan memasuki sebuah gedung.

Saya merasa menaiki anak tangga untuk bangunan bertingkat. Sampai di sebuah ruangan mata saya dan borgol dibuka. Saya melihat ada sejumlah petugas berpakaian preman dan menggunakan HT berada di depan saya. Saya lalu dipersilahkan duduk dan diberi makan.

Ruangan itu cuma 2×2 M dan di pintu saya sempat melihat tulisan dari karton putih yang di tempelkan di daun pintu. Kalau tak salah ingat bunyi tulisan tersebut adalah “Koladaops 05″. Seorang petugas lalu melakukan proses verbal terhadap saya melalui pertanyaan-pertanyaan seperti layaknya berkas acara pemeriksaan (BAP). Saya juga disuruh menandatangani sebuah surat (surat penangkapan?) yang kopnya telah dihapus. Jadi saya tak tahu institusi formal mana yang melakukan proses verbal tersebut.

Tak lama kemudian, mata saya ditutup lagi. Kelihatannya ada petugas lain yang menjemput. Kami bertiga lalu dinaikkan ke sebuah mobil Kijang . Mobil itu membawa kami ke suatu tempat, yang setelah sampai disana kami ketahui sebgai Polda Metro Jaya. Mata kami dibuka, borgol juga dilepas. Lalu kami dibawa ke sebuah ruang dan diperiksa. Setelah itu menandatangai surat penahanan dengan dugaan bahwa kami melakukan tindak pidana Subversi. Sebelum mendapat penangguhan penahanan, kami ditahan dan diisolasi (1sel untuk 1 orang) selama lebih kurang tiga bulan. Selama dalam tahanan Polda Metro Jaya kami sempat dipanggil oleh tiga orang perwira dari Puspom ABRI. Mereka menanyakan proses penangkapan kami oleh orang-orang tak dikenal itu.

Jakarta, 7 Juni 1998

Nezar Patria

Sumber:PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE’S DEMOCRATIC PARTY, INDONESIA
Europe Office
E-mail : prdeuro@xs4all.nl
Date: Tue, 16 Jun 1998 00:38:26 +0200

Dipublikasikan ulang di http://aksarasahaja.wordpress.com/

Friday, April 25, 2014

Menjadi Pelatih Pelawak

Tri Adi Sarwoko*
 

Pelatih lawak, julukan ini sempat melekati kami bertiga: saya, Indrotomo Brigandono, dan Bayu Segara Trisunu. Ya, karena kami bertiga yang rajin mencarikan joke dan melatih bagaimana mereka mengucapkan dan melontarkan agar bisa mengundang tawa. Kami bertiga ketika itu bekerja tanpa pamrih. Yang kami latih pada awalnya terbatas hanya mahasiswa yang tergabung di Unit Kesenian mahasiswa (UKM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Ketika RCTI mengadakan lomba Humor ala Mahasiswa tahun 1997 Kami mengirim tiga tim. Tim pria adalah grup Kelakar dan Cagur. Adapun kelompok lawak wanita adalah Gandess. Yang pertama, Kelakar sesungguhnya kelompok lawak senior kami. Kemudian Cagur yang lebih junior. Gandess adalah kelompok lawak wanita. Waktu itu saya dan teman-teman yang berinisiatif membentuk kelompok lawak wanita. Pasalnya, kelompok lawak lebih banyak didominasi kelompok lawak pria.

Kami berlatih sore hingga malam hari. Latihan sesungguhnya lebih menekankan bagaimana sebuah joke bisa dimainkan dengan apik dengan mempertimbangkan timing. Nah, pada kelompok wanita, kami memberikan perhatian ekstra. Mulai dari cara mengucapkan joke hingga gestur ataupun gerakan tubuh kami latih secara selangkah demi selangkah.

Hasilnya, Cagur yang memang sudah bisa membuat joke sendiri menyabet juara dua, Gandess mendapat juara harapan dua. Adapun Kelakar tidak mendapat nomor kendati termasuk finalis.

Cagur—beranggotakan Denny, Narji, dan Sapto, yang dalam perjalanan Sapto diganti Bedu, dan Bedu lalu diganti Wendy—kemudian rajin berpentas di mana-mana dibayar ataupun hanya menerima ucapan terimakasih. Akhirnya Cagur memetik buah di TPI.

Gandess, yang anggotanya Wiwi, Hesti, dan Putri, akhirnya bubar karena kesibukan kuliah personelnya. Kendati pernah berusaha bangkit, tapi tidak pernah terlaksana karena sukar mengatur waktunya—sudah bekerja semua. Sayang sekali ya. Adapun Kelakar, personelnya kini lebih banyak bergiat sebagai kreatif berbagai program di berbagai stasiun teve.

Kekecewaan Lenong Alternatif distop begitu saja sesungguhnya amat menurunkan mental kami—kelompok Lenong Alternatif. Apalagi kemudian ada rumor, setahun setelah itu sesungguhnya Lenong alternatif akan ditayangkan kembali, tapi terjegal karena jam tayangnya akan dipakai oleh teman-teman saya dalam kelompok Cagur. Memang setelah itu ada program Chating—Canda itu Penting—di TPI.

Kendati hanya rumor, saya sempat agak kecewa, tapi saya malas untuk mencari tahu kebenarannya. Semoga saja itu tidak benar adanya. Sejatinya anak-anak kelompok Cagur ini adalah mitra belajar saya. Mereka belajar melucu melalui Lenong Alternatif yang naskahnya saya tulis, kendati saya bisa bilang mereka memang punya kemampuan melucu juga. Ya, beberapa leluconnnya bisa menjadi batu loncatan untuk membuat joke berikutnya. Ketika mereka mengikuti lomba Humor ala Mahasiswa di RCTI tahun 1997 sehingga keluar sebagai juara kedua, pun saya dan dua teman lainnya—Indro dan Bayu—yang mengkreatifi. Ketika ikut lomba formasi Cagur adalah Narji, Denny, dan Sapto.


Menjadi Kreatif Lawak

Saya kecewa acara Lenong Kreatif  berhenti. Ya, sudahlah. Bagi saya Lenong Alternatif adalah sejarah dan sebuah workshop bagi keterlibatan saya di dunia televisi. Dua tahun setelah Chating tayang, anak-anak Cagur ini menawari saya untuk ikut terlibat sebagai tim kreatif/penulis naskah lawak mereka. Lama saya tidak menyanggupi. Pasalnya, perbedaan media ucap  menghambat saya untuk bisa berekspresi menulis sebuah treatment.

Saya ketika itu terbiasa menulis naskah panggung yang setnya bisa semau-maunya. Padahal, dalam lawak setnya hanya satu untuk dipakai berbagai adegan. Selain itu, saya juga tidak yakin bisa membuat adegan lucu dalam sebuah treatment. Pasalnya, saya biasa menguraikan naskah lengkap dengan dialog dan deskripsi aksi si pelakon.

Akhirnya saya bisa mengatasi semua persoalan, mulailah saya menjadi penulis treatment komedi. Saya menulis pertama-tama bukan untuk program Chating-nya Cagur tapi untuk Asep Show di TPI pada tahun 2000. Saya menulis bersama Bambang Seno, Mas Darminto, dan Dikcy Chandra. Sejak saat itu saya tergabung dalam tim kreatif Cagur bersama Bambang Seno dan Rudy Sipit. Setahun kemudian, dua teman karib saya Bayu dan Indro juga ikut bergabung.

Namun, akhirnya saya, Indro, Bayu, dan Rudy Sipit—yang lebih banyak berperan sebagai pengatur laku—yang bertahan terus mengkreatifi Cagur. Adapun Bambang Seno lebih banyak nongkrong di TPI, apalagi ketika progam API diluncurkan.


Keluar biar lebih berkembang

Setelah lima tahun kami mulai dihinggapi kejenuhan. Padahal, program komedi yang kami tulisi naskahnya selama menjadi kreatif Cagur dan sekaligus menjadi kreatif PH-nya cukup banyak. Mulai dari Asep show, Chating, Mat Dongeng, Komedi Putarr, Show Time, Ngabuburit Kocag, Ketawa Sebelum Buka, dan Buka Pake Ketawa, dan sebagainya.

Kejenuhan itu memuncak, kendati didahului dengan perselisihan kecil, saya ingin mencari pengalaman baru. Akhirnya pada tahun 2005 saya, Indro, dan Bayu resmi mundur sebagai tim kreatif Cagur. Saya akhirnya menulis untuk Ngelenong Nyok di Trans TV, Bayu ikut bergabung dengan PH yang didirikan Komeng bersama Rudy Sipit. Adapun Indro asyik menekuni hobi melukisnya dan berkebun.

Kendati begitu, saya masih membantu menulis untuk PH yang menaungi Cagur jika diminta. Biar bagaimanapun, kami pernah sebagai satu keluarga yang menjalani susah dan senang bersama-sama.

Saya sudah sekitar sepuluh tahun lebih menulis naskah komedi untuk televisi. Sudah lama ya. Seperti para resi dan empu zaman dulu, ketika merasa ilmu sudah dikuasai dengan baik dan sudah berpengalaman maka harus bersiap-siap menyebarkan ilmu. Maaf, kalau saya terkesan agak sombong.

Nah, karena berpinsip yang sama dengan para empu, saya merasa kini sudah saatnya menulis buku perihal komedi. Semua yang namanya komedi mulai dari lawak hingga sinetron pernah saya tulis. Lika-liku menulis komedi pernah saya alami.

Kini saya ingin menyoroti dunia lawak kita. Saya sering melihat, para peserta lomba lawak yang begitu semangat ketika akan lomba. Swear, saya gembira melihatnya. Sejatinya, semangat dan keyakinan adalah permulaan untuk kemenangan. Tapi, apa boleh buat, yang saya lihat kemudian sang peserta itu kemudian tertunduk lesu bahkan menangis ketika usai beraksi di depan juri. Apa pasal? Ternyata lawakannya tidak “dibeli” para juri dan audiens yang melihat.

Di sini memang ada kesalahan. Semangat yang begitu besar ternyata tidak dibarengi oleh pengetahuan bagaimana melawak itu sebenarnya. Bermodal pengalaman mengkreatifi sebuah grup lawak dan menulisi naskah para pelawak, saya ingin memberikan beberapa trik dan tip melawak dalam buku yang saya tulis. Mulai dari persiapan, cara membuat joke dan naskah hingga pemampilan di panggung.

Buku itu  berjudul Jangan Coba-Coba Melawak. Pasalnya, kebanyakan kita yang sudah bisa melucu di depan teman-temannya merasa sudah bisa melawak. Memang, sebab melucu itu gampang, melawak belum tentu!

* Tri Adi Sarwoko, alumnus jurusan Bahasa dan Sastra IKIP Negeri Jakarta (sekarang UNJ). Selain menjadi redaktur bahasa tabloid Kontan, ia juga menulis buku dan banyak naskah program komedi di televisi . Antara lain  Asep Show (TPI), Show Time (TPI), Mat Dongeng (Anteve), Bebas mangkal (TV7), Opera Opor Ayam (TV7), Siaga I (Trans7), Chating (TPI), Ngelenong Nyok (Trans TV), Komedi Betawi (Trans TV), Sahur Cagur (Global TV), Opera Anak Endong (Trans7).

Temanjak Sijin

Fadilasari*

Gerimis turun menjelang senja, membuat aroma basah tanah semakin menyeruak. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Di tengah kebun karet yang berderet rapat, perempuan dengan baju basah itu masih duduk bersimpuh. Mata sembabnya masih menatap lurus ke pusara yang dipenuhi dengan bunga-bunga harum aneka warna. Di sampingnya duduk sang suami, yang berusaha terus menguatkan perempuan itu.

Oh anakku, desahnya dalam hati. Jalan hidup telah kau pilih. Kini hidup yang kau pilih adalah keabadian.

Hatinya masih terasa berat meninggalkan pusara anak laki-lakinya.  Seorang anak yang sudah memberikan sinyal kehidupan selama dua bulan sembilan hari. Waktu yang teramat singkat untuk mensyukuri sebuah kesempurnaan, dengan memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki. Anak bujangnya itu lalu hidup dalam kematian.  Hidup dalam arti sebenarnya. Suasana kebun karet yang biasa riuh dengan suara daun bergesek, kicau burung atau tupai yang bercanda, lenyap. Senyap. Dirinya makin berat untuk beranjak pergi.

Tidak ada penanda waktu khusus ketika Temanjak lahir.. Denting jarum jam bergerak biasa. Tangisnya begitu lantang dan membawa keceriaan bagi ibunya yang baru saja terbebas dari sakit melahirkan. “Saya bukan tidak bisa menangkap pertanda. Meski samar biasanya pertanda yang selalu dihubungkan dengan hal-hal khusus, yang bisa saya baca. Itu suatu hal lumrah,” tutur Fahrani, nama perempuan yang sedang berduka itu, kepada kerabat dan tetangganya yang tengah meriung di beranda rumah panggung mereka.

Meski masih letih dan lantak oleh kesedihan, Fahrani terus berusaha meladeni pertanyaan orang-orang yang bertandang. Anehnya pertanyaan itu membuatnya sejenak melupakan kesedihan ditinggal putranya. Pertanyaan para kerabat berkisar penyebab kematian anaknya, penyakit apa yang diderita, bagaimana dokter menangani hingga berapa biaya selama dirawat di rumah sakit. Obrolan itu terus mengalir hingga larut malam, dengan diselingi nasehat sabar dan harus berpasrah dari para kerabat.

“Sudahlah. Itu cobaan dari Tuhan. Dibalik musibah ini ada rahasia Tuhan yang hendak ditunjukan kepada keluarga kalian. Mungkin kalian belum diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengurus, mendidik, dan membesarkan anak laki-laki. Cukuplah saat ini mengurus anak perempuan saja. Sudah jangan bersedih dan jangan cengeng,” kata Yusni, seorang tetangga dekat.

Yusni memang dikenal pandai menentramkan hati. Kabarnya, dia banyak belajar dari berbagai guru mengaji di berbagai tempat. Dia juga keluaran pesantren. Selama ini Fahrani memang kerap mengadu padanya bila sedang menghadapi ujian hidup. Tapi saat ini, ucapan wanita  setengah baya itu membuat Fahrani seperti terperosok ke dasar kesedihan yang dalam. Yusni masih terus menyerocos. Tega betul Yusni.

“Maaf, apa tante Yusni pernah kehilangan?

Pertanyaan balik Fahrani itu membuat Yusni terdiam. Riungan itu menjadi hening. Sepi. Yusni, yang mendapat pertanyaan tiba-tiba juga terdiam. Dia merasakan ada ketersinggungan atas nasihat panjangnya.

“Belum,” jawab Yusni memecah kesenyapan.

 Dia memang belum pernah mengalami kehilangan. Seluruh keluarganya masih utuh. Terlebih dia memang belum dikaruniai anak meski telah belasan tahun menikah. Dan pertanyaan Fahrani, justru membuatnya tersadar betapa naif dirinya menasihati orang yang sudah pernah merasakan arti memiliki lalu kehilangan. Yusni belum pernah merasakan dua hal itu. Dia tidak pernah berada dalam posisi seperti Fahrani bahwa semua orang adalah salah.

Apalagi dokter yang telah merawat. Bagi Fahrani, dokter merupakan makhluk Tuhan yang paling bersalah di muka bumi ini, karena tidak mampu menyelamatkan nyawa anaknya, meski sudah dijejali dengan obat-obat paten. Entah berapa kali Fahrani diminta menandatangani kesediaan membayar obat yang harganya jutaan rupiah. Ada yang bisa dibayar belakangan, ada pula yang harus dibayar dan beli cash dari rumah sakit.

Saat pertama masuk ke rumah sakit, kata Fahrani lagi, petugas dan dokter langsung menyodori suaminya satu lembar pernyataan kesanggupan membayar uang muka biaya perawatan di ruang ICU.

“Anak bapak harus dirawat di ICU. Dia terkena infeksi berat di rongga pernapasan. dikhawatirkan infeksinya sudah sampai ke otak. Untuk dirawat di ruang tersebut bapak harus membayar uang muka empat juta rupiah agar bisa mendapat tindakan medis. Tanpa uang itu, kami tidak bisa melakukan tindakan apa pun,” kata Fahrani menirukan petugas rumah sakit.

Surat pernyataan itu hanya berlaku dua hari. Mereka diwajibkan membayar uang perawatan setiap dua hari sekali. Era industrialisasi dan kapitalisme agaknya telah merambah ke dunia pengobatan. Belum lagi sikap para perawat dan dokter yang tidak ramah.

Semakin berkisah soal pelayanan rumah sakit, membuat Fahrani makin terpuruk dalam kesedihan. Hingga ujung-ujungnya menyalahkan diri dan semua tindakan atau apa saja yang tidak ada hubungannya dengan urusan kematian seseorang. Mulai dari  baju, lemari, tempat tidur hingga bedak bayi yang selalu bertabur.

***

Fahrani tampak sedang sibuk melipat semua baju, celana, bedong, selimut, kaos tangan, dan kaos kaki. Air matanya menetes satu-satu. Ia ingin mengenyahkan semua perabotan yang hanya mengingatkan pada luka ditinggal Temanjak. Botol-botol obat yang sudah kosong, minyak telon, sabun mandi, shampo, dibuangnya jauh-jauh. Dadanya semakin sesak ketika tangannya meraih sebuah tas kulit berwarna hitam. Di keluarkannya sebuah akta kelahiran, kartu imunisasi, dua lembar foto hasil rontgen, dan sejumlah kartu berobat.

Semasa Temanjak hidup, Fahrani memang rajin membawanya berobat dari dokter spesialis satu ke dokter spesialis lain. Fahrani merobek semua kertas-kertas yang kini tak lagi berarti apa-apa itu. Fahrani ingin menghapus kedukaan dengan menghilangkan semua kenangan manis yang berujung kesedihan itu.

Layaknya masyarakat suku Lampung, kelahiran anak laki-laki sangat membahagiakan. Laki-laki adalah pemimpin dan panutan dalam keluarga. Bahkan bukan hanya bagi adik-adik dan kakak perempuannya, seorang anak laki-laki adalah pemimpin bagi para keponakan, dari adik dan kakak perempuan orang tuanya. Bagi para keponakan ini,  seorang paman

disebut kelama ataukelamo. Namun kehebatan seorang kelama tentu tidak sama dengan sekedar paman, dia punya otoritas yang sangat besar, sehingga dalam adat Lampung dikenal istilah Kelama penoktokgalah” (kelama pemotong leher).

Begitulah, seorang anak kali-laki adalah pewaris. Bahkan dalam kebiasaan adat Lampung semua harta orang tua akan diwariskan pada anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan, bila dapat jatah dari orang tuanya, tidak disebut harta waris, tapi hanya sekedar “hibah”. Besarnya warisan dari orang tua tersebut karena seorang laki-laki kelak akan menghidupi anak dan istrinya.

“Mungkin kami salah memberinya nama Temanjak Sijin. Tapi, pertanda itu terlambat kubaca,” kata Fahrani  membatin sambil masih terus melipat pakaian Temanjak. Semua perabotan itu akan diberikan pada tetangga jauhnya yang juga punya bayi seusia Temanjak. Seperti orang-orang kebanyakan yang selalu bercerita soal pertanda menjelang kematian orang terdekatnya, mereka biasa mengatakan setelah peristiwa itu benar-benar terjadi.

Nama Temanjak Sijin adalah pemberian ayah Fahrani, kakek Temanjak, seorang tokoh adat di kampung itu. Dalam adat Lampung seorang anak baik laki-laki maupun perempuan diberi nama adat alias gelar yang dalam bahasa Lampung disebut adok, selain namanya sehari-hari. Semua keluarga dekat maupun keluarga jauh wajib memanggil dengan adok tersebut. Bila ada keluarga yang memanggilnya dengan nama (bukan adok), maka dianggap orang tidak tahu adat bahkan dicap tidak tahu etika. Begitulah, betapa pentingnya sebuah gelar bagi masyarakat Lampung.

Selain adok, seorang anak tentunya memiliki nama formal. Dalam budaya Lampung, itu disebut “nama sekolah”, yang maksudnya nama yang akan digunakannya saat mendaftar sekolah. Temanjak memiliki “nama sekolah” Alvin Rafa Semenguk, pemberian kedua orang tuanya. Semenguk adalah salah satu marga di kalangan masyarakat Lampung Way Kanan.

Nama Temanjak Sijin mengandung arti berdiri sendiri. Temanjak Sijin berarti seorang yang mampu hidup mandiri tanpa harus merepotkan orang lain. Sang kakek terinspirasi dengan jalan hidup anak sulungnya, Fahrani, yang sejak dulu hidup sangat mandiri. Saat kuliah Fahrani sudah bekerja sehingga dia mampu membayar uang kuliah sendiri bahkan membantu biaya sekolah adik-adiknya.

Ketika Fahrani menikah, ternyata dia menemukan sosok laki-laki yang juga sangat mandiri. Sejak kecil suaminya sudah menghidupi diri dan tinggal jauh dari orang tua. Sang kakek berharap, Temanjak, cucunya itu akan menjadi orang yang mandiri pula, seperti kedua orang tuanya. Fahrani dan suaminya pun setuju dengan gelar itu. Mereka berharap Temanjak akan menjadi sosok perintis dalam segala hal. Berani mengambil sikap dan berani berbeda di dunia yang serba beragam.  Jiwanya merdeka. Langkahnya cepat dan tak mudah menyerah.

Tak disangka harapan keluarga besarnya benar-benar terwujud meski dalam bentuk yang tidak pernah terbayangkan. Temanjak benar-benar telah membuktikan jati dirinya. Dia menjadi yang pertama untuk hidup dalam kesendirian di padang kebun karet milik keluarga itu. Temanjak sudah benar-benar mandiri, bahkan tak lagi butuh asuhan sayang orang tuanya. Sampai ketika tubuh Temanjak dikafani di hadapan Fahrani, dia merasakan tubuh anak laki-lakinya itu tidak dingin membeku. Temanjak seperti masih hidup. Dia seolah hanya terlelap seperti biasa, setelah menangis semalaman karena sakit yang dideritanya.

Temanjak oh Temanjak… Alang gelukmu mulang….
Balak harop di niku, rupana niku mak muni

(Temanjak oh Temanjak, alangkah cepat mu berpulang
Besar harapan padamu, rupanya kamu hidup tak lama)


Monday, April 21, 2014

Kisah Kromo-Sariyem: Sampai Tua Tinggal di Gubuk Reyot

Datang dari Solo untuk mengubah nasib, kemiskinan yang didapat Kromo-Sariyem di Lampung


Siti Nur’aeni/Teraslampung.com

Mbah Kromo dan Mbah Sariyem  
Bandarlampung—Sepasang suami-istri jompo di Gedung Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung hidup bertahun-tahun tinggal bersama kambing peliharaannya di sebuah gubuk reyot. Gubuk reyot pasangan suami-istri Kromo Supardi (82) dan Sariyem (84) itu letaknya persis di tepi jalan raya Negeri Sakti. Itu merupakan salah satu ruas jalan lintas barat Lampung yang tidak jauh dari pusat pemerintahan Pemkab Pesawaran.

Keseharian Supardi mengurus kambing peliharaan milik orang lain. Ia juga menggarap kebun singkong dan cokelat tepat yang letaknya berseberangan tempat tinggalnya. Tanah perkebunan yang digarapnya itu juga milik orang lain.

"Karena tetangga saya kasihan sama saya, makanya saya diberi tempat untuk memanfaatkan  lahan sepetak itu untuk menanam singkong, hasilnya untuk saya sendiri," kata Mbah Kromo.

Demikian juga dengan kambing yang dipeliharannya di bagian ruang lain gubuk tersebut, adalah  milik orang lain dan hasil gaduhannya menjadi miliknya.

"Kalau saya sedang tidak punya uang, kambing ini juga saya jual untuk makan," ujarnya.

Mbah Kromo dan Mbah Sariyem datang dari Solo puluhan tahun silam. Ia tergiur datang ke Lampung karena berharap bisa berdagang dan bertani. Cita-cita itu, sebelumnya sempat tercapai, Sariyem berdagang kelapa dan hasil bumi lainnya di pasar terdekat, sedangkan Supardi menggarap areal padi.

Mbah Kromo dengan kambing gaduhannya.
Kini, di usia senjanya, kedua pasangan itu hidup miskin. Keempat anak ada yang merantau ke Bogor, Klaten, dan Solo. "Saya tidak mau menyusahkan anak-anak. Biarlah kami hidup begini asal tetap bisa bersama bapak," ujar Sariyem dengan dialek Jawa, dengan suara lirih dan kurang jelas.

Pasangan renta itu kerap mendapat perhatian dari sekeliling tetangganya. Namun demikian, pasangan tersebut paling tidak suka kalau dikasihani orang lain. "Saya tidak enak hati kalau datang ke tetanggan lalu sepulangan saya diberi sesuatu oleh orang lain," kata Kromo Supardi.

Ia juga mengatakan, meski dalam kesusahan, hidup mereka bersih dari hutang dan satu dengan lainnya saling menghargai.

Saat ditanya apa yang diinginkan dalam hidupnya, Sariyem mengaku ingin memiliki rumah yang lebih baik serta bertemu dengan cucu-cucunya.

Rahman, salah satu tetangga Mbah Kromo  menceritakan kedua pasangan jompo ini baik terhadap tetangga dan mandiri. "Biar miskin tidak pernah berhutang dan tidak pernah berkeluh kesah. Dari pengalaman hidup mereka saya belajar mensyukuri hidup dalam keadaan apapun," ujarnya.

Berdasarkan catatan BPS, Lampung merupakan provinsi termiskin ke dua se-Sumatera setelah Aceh. Yakni sebanyak 1.136,06 ribu jiwa atau 14,39 persen, angka tersebut masih lebih tinggi daripada rata-rata nasional 11,47 persen. Padahal provinsi tersebut merupakan daerah agraris pemasok beras dan gula terbesar nasional.

Kisah Kromo dan Sariyem merupakan gambaran di depan mata protret kemiskinan di Lampung dan sangat dekat dengan pusat pemerintahan. Apakah pemerintahan baru ini bisa mengurai benang kemiskinan di Lampung selama lima tahun ke depan?