Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Thursday, May 22, 2014

Mahfud MD Resmi Masuk Gerbong Pemenangan Prabowo-Hatta

Mahfud MD
R. Usman/Teraslampung.com

JAKARTA - Setelah batal dicawapreskan PDIP untuk berpasangan dengan Jokowi, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)Mahfud MD  kini resmi tim sukses Prabowo-Hatta Rajasa. Mahfudh mengaku siap berjuang bersama untuk memenangkan Prabowo Hatta pada PemiluPresiden 9 Juli 2014 mendatang.

"Dengan mengucapBismillahirrohmannirrohim, sore ini saya nyatakan memulai perjuangan untuk memenangkan pasangan Prabowo-Hatta," kata Mahfud dalam jumpa pers di Kantor MMD Initiative, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/4).

Mahfud mengaku keputusannya bergabung dengan tim Prabowo-Hatta diambil Mahfud setelah dirinya merasa tidak pantas disebut sebagai negarawan atau guru bangsa yang semestinya tidak terlibat aktif dalam aksi dukung mendukung.

Mahfud mengatakan, beberpaa pihak sebelumnya sudah memintanya untuk tidak menerima tawaran sebagai ketua tim pemenangan nasional pasangan Prabowo-Hatta, dengan alasan dirinya adalah negarawan dan guru bangsa.

"Saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai negarawan ataupun guru bangsa. Bagi saya dua sebutan itu terlalu tinggi. Saya hanyalah pelaku politik yang harus menentukan pilihan dan perpolitikan nasional," kata dia.

Menurut Mahfud berjuang di politik sama pentingnya dengan memperjuangkan tegaknya agama. Ia pun mengaku bahwa keputusannya menerima tawaran untuk menjadi ketua tim pemenangan nasional pasangan Prabowo-Hatta sudah dipertingkan masak-masak.

Tuesday, May 20, 2014

Golkar Dapat Jatah 8 Menteri

Aburizal Bakri saat berkunjung ke rumah Prabowo di Sentul, Jawa Barat. (dok viva)
JAKARTA, Teraslampung.com– Manuver politik yang dilakukan Ketua DPP Partai Golkar Aburizal Bakri menjelang pendaftaran calon presiden-wakil presiden di  KPU berhasil. Kegigihannya melobi Prabowo akhirnya membuahkan hasil delapan kursi menteri, seandainya Prabowo-Hatta Rajasa terpilih sebagai presiden. Makanya, meski dukungan Partai Golkar pun akhirnya diarahkan kepada pasangan Prabowo-Hatta.

“Yang saya dengar, memang ada tawaran dari Gerindra kepada Golkar untuk mendapatkan jatah kursi Menteri, jumlahnya kalau tidak salah ada 8. Kami merasa keputusan itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. Hanya demi 8 kursi menteri, partai rela mendukung pasangan dari parpol lain,” kata Kepala Badan Pusat dan Penelitian dan Pengembangan Partai Golkar, Indra J. Piliang, seperti dilansir Suara Pembaruan, Selasa (20/5).

Menurut Indra, iming-iming itu yang membuat Golkar rela tidak mempunyai calon pada pemilu presiden nanti. Kata dia, kader muda di Partai Golkar merasa dikhianati dengan keputusan untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Indra mengatakkan sejumlah kader muda di Partai Golkar sempat memutuskan untuk memberikan dukungan kepada capres PDI Perjuangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kata dia, keputusan untuk tidak mendukung pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta Rajasa karena Ketua Umum Aburizal Bakrie telah melanggar mandat yang diberikan dalam Rapat Pimpinan Nasional.

Menurut Indra, Rapimnas memberikan mandat kepada Ketua Umum ARB untuk menentukan arah koalisi. Namun, mandat tersebut adalah untuk menjadi calon presiden atau calon wakil presiden. Mandat itu bukan untuk bergabung dengan parpol lain tanpa mengajukan kader dari Partai Golkar.

Monday, May 19, 2014

Koalisi Tenda Besar Deklarasikan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa

Siap menghadang Jokowi-JK

Bambang Satriaji/Teraslampung.com
Arena deklarasi pasangan Prabowo-Hatta Rajasa di Rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. (dok merdeka)

JAKARTA - Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres) Prabowo Subianto- Hatta Rajasa, Senin siang (19/5) dideklarasikan Partai Gerindra dan sejumlah partai lain di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Dalam deklarasi itu pengusung Prabowo-Hatta benar-benar menjadi ‘koalisi tenda besar’ sebagaimana yang semula diancangkan oleh Prabowo dan pengurus DPP Partai Gerindra.

Selain Gerindra, PAN, PPP, dan PKS yang sudah lebih dulu mengikrarkan diri dalam ikatan koalisi mendukung Prabowo-Hatta, beberapa jam sebelum deklarasi Partai Golkar dan Partai Bulan Bintang (PBB) turut bergabung. Sementara Hanura, meskipun Wiranto dan partainya resmi mendukung Jokowi-Jusuf Kalla, Harri Tanoe Soedibyo balik badan dan mendukung Prabowo-Hatta.

"Hari ini hari bersejarah bagi kita semua, karena pemimpin pengusung perubahan bangsa telah resmi dideklarasikan. Kami mohon doa restu kepada rakyat Indonesia atas pencalonan Prabowo–Hatta," kata Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi, di lokasi deklarasi, Rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Senin (19/5).

Suhardi mengatakan pasangan Prabowo-Hatta merupakan sosok pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Suhardi menilai latar belakang Prabowo di bidang militer dan Hatta yang telah berpengalaman di bidang pemerintahan, nanti dapat saling melengkapi.

 "Prestasi Prabowo dibidang militer sangat membanggakan. Begitu juga Hatta saat menjadi Menko Perekonomian, Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi pesat. Keduanya merupakan sosok yang nasionalis, berani, jujur, dan mempunyai integritas seorang pemimpin," katanya.

Dalam acara deklarasi ini, nampak hadir sejumlah petinggi dari Parpol pendukung, antara lain yakni Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali, Sekretaris Jenderal PPP M.Romahurmuziy, lalu Presiden PKS Anis Matta, Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais, Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, Ketua Umum PBB M.S. Kaban.

Ratusan pendukung dari masing-masing Parpol peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 pun juga tampak memadati area acara deklarasi ini sejak siang hari.


Sunday, May 18, 2014

Inilah Sembilan Butir Keputusan Rapimnas Partai Demokrat

Partai Demokrat Tutut Peluang Koalisi  Pilpres 2014 


R. Usman/Teraslampung.com
SBY ketika menyampaikan sembilan butir keputusan Rapimnas Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu malam, 18 April 2014 (dok DPP Partai Demokrat).

JAKARTA – Rapat Pimpinan Partai Demokrat yang baru saja usai, Minggu malam (18/5) menghasilkan sembilan butir keputusan penting. Salah satu butir keputusan penting itu adalah sikap netral Partai Demokrat dalam Pilpres 2014 mendatang. Sikap ini sekaligus menutup peluang untuk berkoalisi dengan parpol agar bisa mengajukan calon presiden-wakil presiden dan menjadi antiklimaks Konvensi Capres Partai Demokrat yang dimenangkan Dahlan Iskan.

Rapimnas PD 2014 dihadiri  Ibu Ani Yudhoyono, Pengurus Majelis Tinggi, Dewan Pembina, Dewan Kehormatan, Dewan Pimpinan Pusat, Komisi Pengawas, Fraksi Partai Demokrat DPR-RI, dan para Ketua DPD-PD se-Indonesia

Seusai rapimnas ditutup, dalam sebuah konferensi pers Ketua Majelis Tinggi sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo  Bambang Yudhoyono,  menyampaikan sembilan butir hasil Rapimnas Partai Demokrat. SBY mengharapkan sembilan butir hasil Rapimnas Partai Demokrat dapat diteruskan kepada seluruh rakyat Indonesia sebagai sebuah pertanggungjawaban publik.

Sembilan butir itu adalah:  Pertama, Partai Demokrat bertekad  melakukan pembenahan dan pembangunan partai 5 tahun mendatang secara serius dan berkelanjutan menuju partai yang makin modern, profesional, dan dedikatif kepada kepentingan rakyat.

Kedua, berkenaan dengan sikap dan pilihan Partai Demokrat dalam Pilpres ini, meskipun keputusan akhir diserahkan ke Ketua Umum dan Majelis Tinggi, preferensi Partai Demokrat dalam Rapimnas ini adalah tidak berpihak. Artinya Partai Demokrat tidak bergabung dalam kubu mana pun, baik kubu Joko Widodo maupun kubu Prabowo Subianto. 

Pilihan ini tidak berarti para kader menjadi golput dalam Pilpres mendatang. Para kader akan memberikan suaranya kepada capres yang memiliki platform segaris dengan Partai Demokrat. Di samping preferensi itu, dalam jajak pendapat yang disampaikan kepada para peserta, ternyata 56 persen peserta memilih tidak bergabung, meski masih ada sejumlah opsi yang persentasinya jauh lebih rendah.

Ketiga, SBY selaku Ketua Umum dan Ketua Majelis Tinggi dengan memperhatikan sikap Rapimnas kali ini akan segera mengambil sikap definitif paling lambat 20 Mei 2014 (lusa).

Keempat,  Rapimnas Partai Demokrat juga berpendapat lebih mulia dan terhormat untuk bersikap mandiri, serta tidak perlu meminta-minta dari pihak manapun untuk sebuah kekuasaan.

Kelima, Partai Demokrat mempersilakan capres dan partai pengusungnya untuk berkompetisi secara sehat dan mendidik serta menyerahkan kepada rakyat untuk dinilai siapa yang paling tepat menjadi capres lima tahun mendatang.

Keenam, jika Partai Demokrat  tidak berada di pemerintahan lima tahun mendatang, justru Partai  Demokrat dapat secara sungguh-sungguh melaksanakan pembenahan diri partai dan para kader sekaligus mendengarkan kritik yang membangun dari masyarakat luas.

Ketujuh, meski tidak berada di pemerintahan,  Partai Demokrat akan tetap melanjutkan perjuangan demi kepentingan rakyat di seluruh Indonesia.

Kedelapan, di parlemen, Partai Demokrat  bisa menjadi kekuatan penyeimbang yang efektif, kritis, dan cerdas untuk memastikan kebijakan pemerintah tetap rasional dan juga pro-rakyat.

Kesembilan, baik bagi Partai Demokrat memberikan kesempatan bagi parpol lain untuk menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan kehendak rakyat.  Partai Demokrat ingin menjadi kekuatan penyeimbang dan pengontrol yang baik.


Friday, May 16, 2014

Rhoma Irama Tarik Dukungan untuk PKB

JAKARTA, Teraslampung.com - Dukungan para nahdliyin untuk Jokowi melalui PKB dipastikan terpecah, menyusul penarikan dukungan Rhoma Irama. Setelah tidak dicapreskan PKB, penyanyi dan pencipta lagu dangdut itu  menyatakan sikapnya terhadap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terkait dukungan PKB kepada PDI-Perjuangan untuk mendorong Joko Widodo sebagai calon presiden.

“Hari ini, Jumat, 16 mei 2014 atas nama pribadi juga tim Rifori, ada forum silahturhmi, forsa, aliansi suara, wasiat ulama Indonesia, dengan kerendahan hati kami mencabut dukungan dari PKB, untuk pilpres 2014,” kata Rhoma Irama di Kantor Riforri di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Jumat (16/5/2014).

Rhoma mengatakan penarikan dukungan itu dilakukan karena tidak ada kesesuaian lagi antara pihaknya dengan visi dan orientasi politik PKB. Penarikan dukungan, kata dia, juga akan diikuti oleh para pendukung Rhoma yang pada Pemilu 2014 lalu diyakini turut mendongkrak perolehan suara PKB.

“Salah satu latar belakang penarikan dukungan adalah karena Rhoma Effect tidak dianggap PKB dalam mendongkrak suara PKB.PKB juga tidak mengakui adanya Rhoma Effect dalam Pileg kemren, itulah dua alasan kenapa kami mencabut dukungan dari PKB,” ujarnya.

Saturday, May 10, 2014

Duet Prabowo-Hatta Rajasa Ditetapkan Pekan Depan

Forum Alumni Trisakti Dukung Prabowo


Dewira, B. Satriaji/Teraslampung.com

Hatta Rajasa
JAKARTA - Pendamping calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, akan diumumkan pekan depan. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon megatakan cawapres pendamping Prabowo kuat mengarah pada Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajas.

“Komunikasi politik antara Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional, sangat baik dan maju. Kami (Gerindra) akan menghadiri Rakernas PAN, Rabu (14/5/2014) yang akan datang. Pak Prabowo akan hadir," kata Fadli Zon, di  Jakarta, Sabtu (10/5/2014).

Menurut Fadli Zon, selain PAN, pihaknya juga masih terus melakukan komunikasi secara intens dengan para pengurus partai lain yang akan berkoalisi untuk mendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Mereka adalah PKS, Hanura, dan PPP.

“Nanti yang menentukan cawapresnya langsung Pak Prabowo,” kata dia.

Sementara itu, pada Sabtu (10/5) Ketua Forum Alumni Trisakti Todo Tua Pasaribu mengatakan mendukung penuh  Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden (Capres) 2014.

Menurut Todo, dukungan kepada Prabowo ukan untuk menyakiti para keluarga korban tragedi berdarah 12 Mei 2998. Tapi sebaliknya, dukungan itu justru membongkar semua dalang dalam peristiwa tersebut.

"Kita ingin kasus 19 Mei terungkap, saya melihat Prabowo ingin mengungkapnya. Dia sudah menyampaikan dengan tegas akan mengungkap semuanya," kata Todo dalam acara deklarasi dukungan Prabowo di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (10/5/2014).

Todo mengaku sangat ingin mengungkap kasus tersebut. Namun ia menyatakan tidak ingin membawanya ke ajang politik. Apalagi, kasus itu menjadi cara untuk menolak calon presiden tertentu.

"Bagi kami penuntasan kasus adalah harga mati, untuk memberikan kejelasan atas yang terjadi terhadap tewasnya para pejuang reformasi dan tuntaskan oleh lembaga-lembaga hukum negara," tegasnya.

Selain itu, dia mengatakan alasan deklarasi dukungan kepada Prabowo karena seorang presiden harus tegas, berani, dan jujur memimpin Indonesia. "Bagi kami pak Prabowo adalah gambaran pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut," ujarnya.

“Visi misi yang diberikan oleh Prabowo dalam 6 aksi transformasi bangsa harus diperjuangkan. Inilah rasionalisasi yang konkret bagi kami saat ini untuk bersikap memberikan dukungan pada hari ini," kata Todo.

Thursday, May 1, 2014

Penculikan Aktivis 1998: Kesaksian Andi Arief

ANDI ARIF: “PENCULIKAN ITU KARENA TAKUT KOALISI KAUM OPOSISI” 


Andi Arief (dok Andi Arief)
Penculikan ini tidak mungkin salah prosedur. Jika salah prosedur, kok operasi sampai setahun, bahkan sampai ada pergantian Pangab. Seperti diketahui, Pius dan beberapa kawan yang lain diculik waktu Pangabnya Feisal Tanjung, sementara ketika saya, Pangabnya sudah ganti Wiranto. Juga bukan oknum. Kalau dilihat dari materi interogasi, mereka mewakili sebuah rejim,
bukan mewakili faksi tertentu dalam tentara. Karena mereka tanyakan semua,
mereka mewakili rejim lama, rejim Soeharto.

Salah seorang interogator saya mengaku mereka pernah menginterogasi kawan-kawan saya Budiman dan Wignyo. Semua sudah saya sampaikan ke POM ABRI saat saya diperiksa di Polda, sehingga tak ada alasan POM untuk tak segera menyimpulkan. Logika paling gampang, POM memanggil saja Letkol Lubis yang menerima saya di Mabes Polri. Jika ini dilakukan, semua selesai dan tak perlu lama-lama, berbulan-bulan.

Saat saya diculik, saya bertemu tiga orang di sel. Mereka Waluyo Jati, Haryanto Taslam, Faisol Reza. Kami sempat bercakap-cakap, dari mana, apa saja penyiksaan yang dialami; kami diskusi. Taslam saat saya di sana dalam keadaan sakit, mengerang, dan sempat diperiksa dokter.
Ketika saya di ruangan atas ada juga keteledoran mereka. Yang menjaga saya sempat menyebut nama beberapa orang misalnya Aan, Mugiyanto, Faisol Reza, Waluyo Jati, Suyat, Herman Hendrawan, Pius, Desmon, Deddy Hamdun.

Penjaga itu bilang, Mas Andi kalau jawab pertanyaan yang baik, supaya tak di-dedi hamdun-kan. Saya bingung. Apa maksudnya mau dijadikan suami Eva Arnas? Saya bisa berdikusi panjang dengan penculik, mereka tak melakukan kekerasan pada saya. Bahkan ada yang sering memeluk saya: Aduh Mas Andi, kami terpaksa karena menjelankan tugas. Mungkin hati kecil mereka menolak juga. Kami sempat diskusi soal Timtim. Komandannya cerita bahwa dia baru
beberapa minggu pulang sekolah dari Inggris, dia sebut nama sekolahnya, saya lupa namanya. Ada rasa keleluargaan. Sampai-sampai dia keluarkan kaset kecil berisi lagu soundtrack Pocahontas. “Ini lagu kesenangan anak saya!”

Dia sebut nama anaknya dan dia telepon anaknya. “Halo, ini papa di Jakarta Kamu jangan panas-panasan, nanti kamu jelek”.

Bisa masuk akal disebut kepribadian terbelah. Yang aneh lagi, mereka sediakan dokter. Saya ada empat kali diperiksa dokter, diambil darah saya dan diperiksa air kencing, dikasih obat maag dan sakit perut. Rokok kadang diberi, juga makan dan minum.

Saya tak terlalu parah disiksa. Yang paling parah saya rasakan waktu mata saya ditutup selama 10 hari. Dalam keadaan tegang saya sulit berpikir ke depan. Jadi bayang-bayang masa lalu muncul. Dugaan saya, yang mereka inginkan adalah informasi sebanyak-banyaknya, supaya saya ingat yang sudah-sudah. Tangan saya tetap diborgol dua, diikatkan di kursi.

POM ABRI tak ada alasan untuk tak mengeluarkan teman-teman lain yang masih hilang. Pertama, pelaku sudah disebut; kedua, kita yang memberikan testimoni sudah menyebutkan semua korban ada di sana. Cacat, hidup atau mati, segera dikeluarkan. Kalau mati, tulang-tulang, kafan, tanah mereka dikubur kembalikan ke kami agar menjadi bukti bagi rakyat bahwa ada tindakan kekerasan yang selama ini terjadi di Indonesia.

Umumkan terbuka dan berjanji tak akan mengulangi, maka rakyat akan sedikit lega. Kalau ditutup dengan salah prosedur dan hukum, bukan hanya aktivis tapi wartawan nanti juga akan diculik.

Sikap terhadap POM. Saya hargai kerja-kerja POM tapi untuk sementara saya tak mau diperiksa dulu karena saya anggap tiga keterangan di Polda sudah cukup untuk memgeluarkan teman-teman lain. Tanpa saya beri keterangan lagi, POM sudah bisa mengeluarkan mereka. Ini persoalan nyawa manusia! Rakyat, kita semua akan puas. Persoalan hukum, kita bicarakan nanti. Jadi keluarkan dulu kawan-kawan saya, baru saya sebut nama dan instansi lain.

Berikut cuplikan tanya jawab Andi Arief dengan wartawan

Wartawab (W): Apakah tempat X itu maksudnya Kopassus?
Andi Arif (AA): Sepakat tak sebut sebelum teman-teman saya dikeluarkan

W: Dugaan anda siapa yang sudah meninggal?
AA: Semua bisa, tapi itu dugaan, saya tak bisa pastikan. Lama mengapa
tak dliepas, muncul opini jangan-jangan mati. Saya tak ada bukti, tapi
saya sering dengar suara penyiksaan, tiga empat kali.

W: Ada limit waktu untuk kerja POM?
AA: Saya tuntut seminggu ini agar mereka dikeluarkan!

W: Kalau tidak?
AA: Akan ada tindakan lain, konsultasi dulu dengan Kontras dan pengacara saya.
Mengapa yang lain belum dilepas? Ada kecenderungan mereka bingung bagaimana
cara melepas. Ditaruh polisi, pasti polisi menolak. Ditaruh pinggir jalan,
mereka nanti kasih testimoni. Kalau ada yang cacat atau mati, tambah
bingung. Kalau saya jadi mereka, kawan-kawan itu hidup atau mati harus
dilepas, konsekuensinya pelakunya dihukum, minta maaf dan berjanji tak akan
ulangi. Saya menolak sebut nama dan instansi, karena curiga dengan POM.
Banyak kasus TPF yang tak jelas hasilnya dan tak obyektif.

W: Berapa instansi di luar kopassus?
AA: Paling tidak ada dua. Yang penting dalang sudah ketahuan dan cukup
bukti, yang hilang ada di sana

Sumber: From: apakabar@access.digex.net Date: Thu Jul 23 1998
Dimuat ulang oleh http://aksarasahaja.wordpress.com/

Penculikan Aktivis 1998: Kesaksian Raharja Waluya Jati

Raharja Waluya Jati
” Sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku pengalaman hidup yang telah menguras keberanianku hingga tersisa takut yang berlebihan sampai saat ini.”

1 . PENCULIKAN DAN PENGANIAYAAN

Kamis, 12 Maret 1998. Pada kurang lebih pukul 12.00 WIB aku datang ke YLBHI Jl. Diponegoro 74 untuk menyaksikan Konperensi Pers dari kawan-kawan KNPD. Ketika waktu menunjukkan antara pukul 14.00 -14.30, kami (aku dan Faizal Reza) pamit kepada kawan-kawan untuk makan siang di seputar RS.Cipto Mangunkusumo.

Di tengah perjalanan, kami merasa diikuti oleh orang-orang yang mencurigakan sehingga niat kami makan kami urungkan, kemudian kami menyeberang menuju Unit Gawat Darurat RSCM sambil berlari kami naik ke lantai II yang ternyata buntu. Ketika aku mau turun, diujung tangga kulihat Faizal Reza telah ditelikung dan dipukul oleh dua orang berbadan tegap dan besar, kemudian aku menyelinap ke WC.  Tetapi, tidak berapa lama telah digedor oleh seseorang yang mengancam akan menembakku, begitu aku keluar mereka menyambut dengan pukulan kearah perutku dan menggelandangku turun kebawah sambil terus memukuli. Sampai di pelataran parkir aku masih sempat berteriak keras untuk minta dipanggilkan pengacara, hal ini membuat mereka memukul ulu hati dan membungkam mulutku hingga kacamataku jatuh pecah.

Aku dinaikkan ke sebuah kendaraan Jeep yang sempat kulihat berwarna merah dengan kap putih, kemudian mataku ditutup kain hitam dengan tangan diborgol kebelakang dan didudukkan dibawah. Selama perjalanan mereka katakan bahwa mereka tidak salah tangkap karena telah mengamatiku sejak lama dan mereka akan gunakan aku untuk menunjukkan dimana Andi Arief berada. Kurang lebih setengah jam sampailah aku pada suatu tempat, aku dibawa masuk di sebuah bangunan ( aku merasakan jarak antara mobil berhenti dengan bangunan dimana aku dibawa tidak terlau jauh, hanya beberapa meter ).

2 . INTEROGASI DAN PENYIKSAAN

Hari ke I hingga kira-kira Hari ke IV. Sore itu juga aku dimasukan ke sebuah ruangan yang aku perkirakan cukup luas sebab teriakan-teriakan pertanyaan mereka kudengar menggema di ruangan, sambil memukul mereka bertanya tentang dimana Andi Arief berada, setiap aku jawab aku tidak mengetahuinya maka, pukulan yang datang semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya aku dibawa ke sebuah ruang yang mereka sebut ruang eksekusi, aku dinaikkan keatas kursi dan leherku dijerat dengan seutas tali, pertanyaan tentang di mana Andi Arief aku jawab sama, karena aku memang tidak tahu persis dimana dia berada, tali yang menjerat leherku ditarik ke atas sehingga aku tercekik hingga aku tidak bisa bernafas sampai beberapa detik, dan leherku terasa sakit selama beberapa hari (susah untuk menelan). Tapi hal tersebut kemudian dihentikan karena aku sempat mendengar omongan mereka agar aku diturunkan dengan alasan terlalu enak bagiku bila terlau cepat mati.

Selanjutnya aku dibawa masuk ke sebuah ruang lain dan didudukkan di sebuah kursi lipat dengan tangan terikat ke belakang, di depanku duduk seseorang yang meng-interogasi-ku. Setiap pertanyaan selalu diikuti dengan penganiayaan dengan memukul baik dengan tangan maupun dengan kursi lipat, bahkan aku sempat terjatuh dari kursi kemudian mulut dan perutku dinjak-injak. Nampaknya mereka sudah tidak memiliki rasa iba sedikitpun bahkan tendangan-tendangan yang mengarah ke tulang kering sering kudapatkan juga di bahu dan punggungku. Sundutan rokok pun mulai mereka lakukan baik dipunggung maupun ditanganku, satu siksaan yang hingga sekarang membuatkan trauma terhadap listrik adalah penyetruman dengan tongkat yang dialiri listrik hal tersebut dilakukan berulang-ulang dibagian-bagian badanku (ujung jari kaki, kaki sampai pangkal paha, perut, dada, tangan dan leher bagian belakang).

Selama itu aku selalu dalam posisi duduk dengan interval istirahat hanya 1 sampai 2 jam untuk makan dan ke WC, secara phisik aku sangat menderita bahkan sampai tidak mampu lagi merasakan rasa sakit dan secara mental aku mengalami penurunan pada titik yang paling bawah. Aku sempat tiga kali dibuka tutup mataku, untuk difoto dan diminta mengenali foto dua orang kawanku, kesempatan yang lain adalah saat menulis biodata yang tidak pernah selesai, karena terlalu capek dan jadi kacau. Namun selama mata terbuka tetap saja aku tidak pernah melihat wajah-wajah mereka karena mereka mengenakan tutup muka dan kepala ala ninja.

Pernah dalam interograsi, salah seorang dari mereka menanyakan sebuah tempat di gang Salon, di kawasan Cilincing. Di mana waktu itu aku datang bersama Herman dan Reza. Aku sudah lupa kejadian dan lokasi tersebut. Tapi kemudian orang itu mengaku bahwa dia yang waktu itu menanyakan pada kami apakah kontraknya masih diteruskan, karena Suyat jarang sekali datang ke rumah itu. Dengan detil dia menyebut kapan kami datang dan jam kami pergi dari tempat itu. Kemudian dia mengaku kenal dengan Suyat dan orang yang mengontrakkan rumah itu. Dia juga mengaku bahwa dialah yang mengambil Suyat di Solo beberapa waktu lalu. Sedangkan rumah tersebut adalah rumah yang dicarikan dan dikontrakkan oleh Munif Laredo, karena dia tidak mau memberikan bantuan dalam bentuk uang.

Hal ini menarik perhatianku, karena sehari sebelum penculikanku sudah muncul dalam analisaku terhadap peristiwa penguntitan tersebut, berhubungan dengan keberadaan Munif (mantan Ketua SMID) selama + 1 minggu secara intensif di YLBHI. Kenapa aku mempunyai analisa seperti itu, karena pada 11 Maret 1998 Munif terlihat sekali menunggui kepulanganku. Dan begitu aku keluar dari kantor YLBHI, Munif juga segera bergegas keluar dari YLBHI dan ketika sampai halte Megaria di Jl. Diponegoro, aku diikuti oleh 2 orang, namun aku berhasil lolos dan masuk kembali ke YLBHI. Aku segera mengaitkan analisaku tersebut dengan pengakuan orang (saat aku masih disekap) yang mengambil Suyat, dan kejanggalan-kejanggalan di tempat yang dikontrakkan oleh Munif.

Hari ke IV hingga Hari ke VI:

Aku dipindahkan ke sebuah ruangan yang dilengkapi dengan kasur busa dan kipas angin, aku diperkenankan tiduran dengan tangan satu tetap terikat dikursi dan mata selalu ditutup dengan kain gelap. Kegiatan interogasi mulai agak mengendor dan mereka mulai bersikap agak lunak sesekali memberikan nasehat agar tidak melakukan kegiatan politik lagi.
Pada hari ke V akau dibawa masuk kesebuah ruang mirip ruang ceramah, ruangan tersebut cukup luas dan sangat dingin. Aku di tanya oleh seseorang yang menurutku dari cara bertanya dan bobot pertanyaannya nampaknya merupakan salah seorang pimpinan dari kelompok penculik tersebut.
Selama hari-hari itu (masih di ruang atas) aku sempat mendengar suara yang aku kenal sebagai suara Herman Hendrawan serta sayup kudengar suara satu lagi yang kemungkinan besar adalah suara Nezar Patria.  

Setelah itu aku dibawa ke sebuah ruangan dan seluruh pakaianku dilepas hingga telanjang bulat dan dipaksa tidur tengkurap diatas balok es selama kurang lebih 10 – 15 menit sambil menanyakan kepadaku bagaimana cara menemukan Andi Arief, dalam situasi yang sangat tertekan aku sempat berpikir sedemikian profesional cara-cara mereka melaksanakan tekanan kepadaku baik secara phisik maupun mental.

Selesai melakukan penyiksaan yang nyaris membuat aku beku mereka masih sempat memukulku beberapa kali, katanya untuk melancarkan peredaran darah. Kemudian dengan mata tertutup aku dibawa kesebuah ruangan yang kurasakan adalah menurun karena melewati beberapa anak tangga. Nampaknya aku mulai dipindahkan kesebuah ruang lain yang senyap namun saat aku dibawa turun ada bunyi dengungan yang cukup keras, belakangan kuketahui suara itu berasal dari radio yang sudah habis waktu siar namun tidak dimatikan dan dihidupkan dengan volume yang amat keras.

Hari ke VII hingga Rabu, 1 April 1998: Kehidupan di ruang bawah tanah:

Setelah pindah di ruang bawah aku mulai merasakan berbeda karena ada suara radio dan suara mereka yang menempati sel lain, lalu kami saling memanggil walau tanpa bisa saling menatap. Saat-saat radio mati, antara pukul 02.00 dinihari sampai 05.00 pagi, merupakan kesempatan kami saling berkomunikasi dan siaran radio juga memberikan gambaran tentang hari, tanggal dan bulan.

Selama di bawah aku sempat dibawa naik ke atas lima (5) kali, materi pertanyaannya seputar Andi Arief dan sekali diantaranya sempat dihadiri banyak orang (aku merasakannya dengan mata tertutup). Seperti biasanya makian, ancaman akan dibunuh dan siksaan berupa pukulan tendangan dan penyetruman masih mereka lakukan.

Pernah ketika dibawa ke bawah selesai ditanya, aku disuruh berendam sampai kepala tenggelam selama beberapa menit. Materi pertanyaan yang sempat aku ingat pada saat interogasi adalah, aku diminta agar dalam melakukan gerakan jangan merugikan rakyat kecil, lebih baik membakar toko cina saja kata mereka. Bahkan aku sempat ditanya siapa yang ada dibelakang kami, mereka menyebut-nyebut kalau pun LB.Moerdani di belakang kami, mereka tidak akan pernah segan-segan untuk menyikatnya. Juga kami sempat ditanya berapa duit kami dikasih oleh Sofyan Wanandi. Pertanyaan ini mereka lontarkan setelah aku mengalami tekanan mental dan fisik yang berat.

Karena aku merasa tidak pernah tahu dan berhubungan dengan orang-orang yang disebut tadi, maka aku jawab tidak tahu dan kami secara sukarela (bantingan) mendanai kegiatan kami dari kantong sendiri.

Aku di bawah mulai mengenali kawan-kawan, yang paling aku kenal adalah suara Faizol Reza kemudian kami bisa saling mengerti, selain itu ada Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang dan Desmon.

Janji akan dilepaskan.

Pada hari Rabu, 1 April 1998 kecuali Haryanto Taslam, kami mengalami pemrosesan yang katanya ada kaitannya dengan pelepasan kami. Tentang janji pembebasan sudah sering diomongkan kepadaku dan Reza jika Andi Arief telah tertangkap.

Tanggal 2 April pagi hari, Pius dilepaskan selang sehari kemudian Desmon pun dibebaskan.
Selama disekap di bawah, kami mendapatkan perawatan atau kunjungan dari dokter seminggu sekali terutama Haryanto Taslam yang tekanan darahnya naik tinggi.

Pada tanggal 6 April ada penghuni baru di sel bawah dan ternyata Andi Arief, dia bercerita diculik di Lampung dan nampaknya dia mengalami siksaan yang tidak kalah berat.
Pada tanggal 15 April sore Haryanto Taslam dibebaskan. Dan kurang lebih pukul 21.00 hingga 24.00 Andi Arief dibawa keatas, setelah kembali lagi dalam sel dia bercerita kalau mendapatkan siksaan lagi. Tak berapa lama aku mendengar dia mengaji, selama + 1 jam dan kemudian meminta maaf kepada kami bila nanti tidak kuat menahan siksaan.

Tanggal 16 April, Andi Arief dibawa ke atas dan kami tidak pernah mendengar lagi suaranya sampai terakhir aku menghuni sel bawah tanah.

Kamis, 23 April aku dan Reza diproses lagi untuk persiapan pembebasanku dan untukku telah dipersiapkan skenario kalau aku ngumpet dan diminta untuk tidak melaksanakan konferensi pers, aku juga diminta mengaku korban salah culik oleh mafia belakang diskotik Menteng karena dikira musuh mereka ketika tawuran di diskotik. Aku diancam untuk tidak melanggar hal tersebut karena resikonya seluruh keluargaku akan dihabisi. Aku mulai di foto-foto lagi.

Pagi tanggal 24 April aku diambil lagi diminta untuk menghafal skenario dan diminta untuk membuat surat pernyataan secara sukarela tanpa tekanan yang berisi untuk tidak menceritakan kepada siapapun terhadap apapun yang kualami dan rasakan selama dalam sekapan dan tidak akan melakukan kegiatan politik setelah keluar. Jika melanggar maka aku dan seluruh keluargaku akan mengalami resiko terburuk. Surat pernyataan tersebut dicap dengan jempol tangan kananku. Aku ditanya ingin pulang ke Jepara pakai apa, aku menjawab naik kereta ke Semarang kemudian naik bus ke Jepara.

Malamnya kembali aku dibawa ke atas untuk bertemu dengan pimpinan mereka yang bersuara agak berat, dia bersumpah demi Allah untuk tetap memburuku kemana pun dan kapan pun untuk menghabisiku jika melanggar pernyataan itu. Lalu dia menyalamiku dan mendoakan agar menjadi orang yang berguna bagi orang tua dan masyarakat.

3 . Saat Kebebasan Dipenuhi Ancaman.

Pagi, Sabtu 26 April 1998 pukul 06.00 aku dibawa keatas, diperiksa dokter dan diberi vitamin, lalu disuruh pakai sepatu dan ganti celana dalam (sebelumnya aku sempat ditanya berapa ukuran celana dan sepatuku). Kemudia aku dibawa ke sebuah kamar kosong dan di foto puluhan kali.
Sambil menunggu orang yang akan mengantarku ke stasiun Jatinegara, ada seseorang yang mengaku sebagai pimpinan operasi di lapangan, yang mengancamku untuk tidak bercerita kepada siapapun selama berada dalam sekapan, bahkan mereka mengatakan tidak peduli kepada siapapun yang akan memberikan jaminan keamanan.

Mereka berpesan bahwa orang-orang mereka sudah disebar di sekitar stasiun, bahkan di kereta pun mereka sudah siapkan orang-orang mereka, aku diturunkan didekat perempatan pintu kereta Jatinegara kearah Cipinang dan tidak boleh menoleh kebelakang.

4. Hal-hal lain yang masih sempat aku ingat:
a/ Ada suara orang-orang sedang bersenam atau berolahraga sambil bernyanyi-nyanyi secara serempak.
b/ Suara Adzan dengan jelas kudengar terutama saat aku masih di ruangan atas, dan suara itu jadi terdengar sayup bila berada di bawah dan suara radio mati.
c/ Dari kontruksi bangunan yang digunakan untuk menyekapku yaitu ada ruang bawah tanah, maka secara logis harus punya saluran pembuangan air yang dekat dengan tempat yang lebih rendah (lereng/sungai yang cukup curam).
d/ Untuk menuju ruang bawah tanah harus menuruni 7 + 4 anak tangga (ini karena aku yang paling sering dibawa ke atas selama berada di bawah).
e/ Pada saat aku dibawa keluar untuk dilepas aku menghitung melewati polisi tidur 3 (tiga) kali.
f/ Ubin yang di pasang di koridor dan ruangan yang ada di atas didominasi warna merah dan putih.
Kesaksian ini aku lakukan dengan membangun sisa keberanian untuk menegakkan kebenaran dan didorong oleh kasih sayang keluarga besarku dan dorongan kawan-kawan KONTRAS serta Surat Jaminan Keamanan dari PUSPOM ABRI yang ditandatangani oleh Ka PUSPOM ABRI Mayor Jenderal Syamsu.
Sebersit harapan agar kesaksian ini dapat membantu banyak pihak, yaitu kawan senasib sependeritaan yang saat ini belum jelas nasibnya beserta keluarganya, pihak ABRI dan tentunya negara dengan tatanan hukum dan tegaknya demokrasi serta di hormatinya hak-hak asasi manusia.

Jakarta, 5 Juni 1998

Raharja Waluya Jati

Pemberi Kesaksian

Sumber: http://aksarasahaja.wordpress.com/

Penculikan Aktivis 1988: Kesaksian Nezar Patria

Nezar Patria (dok http://aksarasahaja.files.wordpress.com/)
Saya Nezar Patria. Dilahirkan di Sigli, DI Aceh , pada 5 Oktober 1970. Saya lulus dari Fakultas Filsafat UGM pada Agustus 1997. Selama menjadi mahasiswa saya aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Jamaah Shalahuddin UGM (1990-1991), Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (1992-1996) dan terakhir sebagai Sekretaris Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) pada 1996.

Keterlibatan saya di SMID dimotivasi oleh realitas kehidupan sosial dan politik Indonesia yang sangat jauh dari standar negara modern yang demokratis. Perlakuan politik Orde Baru yang penuh dengan penindasan hak azasi manusia, ketidakadilan politik dan ekonomi membuat saya mengambil sikap yang kritis terhadap praktik kediktatoran Orde Baru. Lewat kelompok-kelompok diskusi mahasiswa yang intensif dan melelahkan namun tak merubah keadaan, akhirnya saya memutuskan untuk aktif dalam aksi-aksi protes mahasiswa dan advokasi kasus-kasus rakyat yang hak-haknya dirampas, ditindas secara ekonomi dan politik oleh Rezim Orde Baru.

Agaknya sudah menjadi takdir bagi seluruh aktivis prodemokrasi yang berjuang melawan politik kediktatoran Orde Baru untuk bersiap menghadapi penjara, intimidasi, teror dan berbagai bentuk penindasan lain yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Salah satunya adalah apa yang saya alami pada 13 Maret 1998, dua hari setelah Sidang Umum 1988 yang penuh kepalsuan, menjelang bangkitnya gemuruh perlawanan rakyat yang mengakhiri episode kediktatoran Orde Baru.

1 . Tamu tak dikenal pada Jumat Malam, 13 Maret 1998

Saya dan tiga orang kawan lainnya (Mugiyanto, Bimo Petrus dan Aan Rusdianto) tinggal di Rumah Susun Klender. Kami adalah penghuni baru di sana, baru sekitar sepuluh hari. Tepatnya mulai 28 Februari 1998. Kami semua adalah anggota SMID, yang setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hidup dalam perburuan aparat kediktatoran Orde Baru.

Setelah gagal menuding PRD sebagai “dalang” peristiwa 27 Juli 1996 itu, kediktatoran tetap mempersalahkan PRD sebagai organisasi yang tidak sah karena tidak menggunakan Pancasila sebagai asas, melainkan Sosial-Demokrasi Kerakyatan. Walaupun tak ada maksud sedikitpun dari PRD untuk anti Pancasila–justru memberikan tekanan khusus dari orientasi nilai Pancasila pada azas Sosial-Demokrasi Kerakyatan, namun kediktatoran tetap saja memenjarakan para pimpinan PRD serta setahun kemudian melarang PRD dan juga SMID sebagai salah satu organisasi yang berafiliasi dengannya.

Dalam kondisi seperti itu, kami para anggota SMID tetap bergerak walau dalam kondisi yang sangat terbatas. Sebagian besar anggota kami kembali ke kampus dan yang lainnya dengan setia masuk ke basis-basis komunitas rakyat yang tertindas.

Pada 13 Maret 1998, sekitar pukul 19.00 saya baru pulang dari Depok. Saya adalah orang yang pertama pulang pada malam itu. Rumah ini memang sepi kalau siang hari. Kami rata-rata punya aktivitas di luar rumah penuh seharian. Bukan cuma aktivitas yang berkaitan dengan politik (kami tetap menjaga kontak dengan komunitas mahasiswa dan sektor rakyat lainnya dalam rangka pengorganisiran), namun juga melakukan pekerjaan untuk dukungan finansial (menterjemahkan dan menulis artikel). Sepuluh menit kemudian, Aan pulang. Kami menjerang air untuk membuat minuman. Saat itulah terdengar pintu diketuk oleh orang.

Aan membuka pintu. Empat orang bertubuh tegap dan menggunakan penutup kepala dari wol berdiri di depan pintu. Aan memanggil saya yang masih berada di dapur, karena tamu itu tak dikenal olehnya. Saya melihat salah seorang langsung masuk ke dalam dan memegang lengan Aan. Saya bertanya mereka siapa dan ada keperluan apa. Jawabannya adalah sebuah bentakan
“Jangan banyak tanya, mari ikut kami!”.

Aan dicengkeram oleh dua orang yang langsung menggiringnya keluar. Demikian juga saya. Saya mencoba meronta, tapi seseorang mengapit di sebelah kanan saya langsung mencabut pistol jenis semi otomatis. Ia berjaket hitam, bercelana jins, dan menggunakan penutup kepala (seperti topi wol pendaki gunung warna hijau). Pistol itu ditodongkan ke perut saya. Sementara, seseorang yang mengapit di sebelah kiri saya (tak sempat saya identifikasi ciri-cirinya) langsung memborgol kedua tangan saya. Mereka menggiring kami dengan paksa menuruni tangga rumah susun (rumah kami di lantai dua). Mereka bekerja begitu cepat. Tak sampai semenit kami sudah dimasukkan ke dalam sebuah mobil Jip yang telah menungu diluar. Saya juga sempat melihat mobil jip lainnya, kelihatannya juga satu kelompok dengan mereka, parkir persis di belakang mobil yang kami dipaksa naik ke dalamnya.

Di dalam mobil, mata saya dan Aan langsung ditutup dengan kain hitam dan ditambah lagi dengan penutup kepala dari wol hitam. Kami berdua duduk di tengah. Sementara di kedua sisi diapit oleh dua orang. Masing-masing tangan kami diborgol bergandengan. Tangan kanan saya dengan tangan kiri Aan diborgol jadi satu, sementara kedua tangan kami yang lainnya diborgol bersama dengan tangan orang-orang tak dikenal itu.

Mobil itu ber-AC. Sebelum mata saya ditutup, saya sempat melihat dua orang duduk di depan, seorang berfungsi sebagai supir dan seorang lagi duduk disampingnya. Mobil langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Semua kaca mobil tertutup rapat. Musik diputar cukup keras, sehingga saya tak mendengar suara bising lalu lintas di sepanjang perjalanan. Di dalam Jip itu seseorang menanyakan nama saya dan apa aktivitas saya selama ini. Setelah saya menyebut nama dan kegiatan saya, seseorang menyela “Aktivis SMID, kita nggak salah tangkap!”

Tak ada percakapan lagi setelah itu. Saya berpikir keras menduga siapa yang menangkap saya. Jelas, mereka bukan orang biasa. Mereka cukup profesional dan sikapnya keras serta dingin. Saya berdoa dan berdzikir, Saya tak bisa menerka arah dan jalur mana yang ditempuh oleh mereka. Namun, saya mencermati selama perjalanan itu, kaset musik sempat berganti side. Jadi kurang lebih satu jam. Setelah itu saya merasa mobil berhenti di satu tempat, dan terdengar seseorang melakukan komunikasi dengan radio. Terdengar tanda panggil “Merpati, Merpati!” Namun, saya tak mendengar balasannya.

Kelihatannya mereka telah tiba di tempat tujuan, dan sedang menunggu konfirmasi izin untuk masuk. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil meluncur ke sebuah bangunan. Saya dan Aan diturunkan dengan mata tertutup dan tangan terborgol. Kaki saya yang telanjang terasa menginjak rumput, lalu tanah berpasir dan kemudian lantai tegel. Kami digiring masuk ke sebuah ruangan.

2 . Suara sepatu lars yang berderap-derap

Ketika masuk ke dalam ruangan yang ber-AC itu, kami langsung dipisah, walaupun masih dalam satu ruangan. Saya merasa banyak orang yang berada dalam ruangan tersebut mengelilingi saya dan juga Aan. Celana saya dibuka dengan paksa sehingga tinggal celana dalam dan baju kaos saja. Saya langsung didudukan pada sebuah kursi lipat, borgol dibuka namun sebelah tangan saya diborgol pada besi kursi.

Saya merasa berhadapan dengan sebuah meja dan ada seseorang di seberang sana melontarkan pertanyaan dengan cukup keras “Sebagai Sekjen SMID kamu pasti tahu dimana Andi Arief. Katakan segera di mana dia sekarang!”. Saya menjawab, tidak tahu persis di mana Andi Arief berada, karena saya bertemu terakhir dengan dia di Yogyakarta sekitar setengah tahun sebelumnya.

Mendengar jawaban itu mereka segera menghajar saya. “Bangsat, pembohong!” kata salah seorang. Lalu saya merasakan sebuah pukulan keras di rahang saya dan diikuti dengan puluhan pukulan lain. Mereka mengulangi pertanyaannya, dan saya jawab tidak tahu. Lalu saya mendengar ada suara perintah untuk mengambil alat setrum. Sebuah benda terasa menempel di betis dan paha saya, dan sebuah aliran listrik yang cukup kuat menyentak seluruh sendi tubuh saya. Saya berteriak “Allahu akbar!” sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Aliran listrik itu menyerang bertubi-tubi, sehingga tubuh dan kursi yang saya duduki bergeletar. Saya merasa sebuah tendangan keras menghantam dada saya hingga saya terjengkang ke belakang dan kursi lipat tempat saya duduk jadi ringsek.. Setelah mengganti kursi yang lebih kuat, mereka kembali mengulang pertanyaan tersebut. Saya dalam keadaan setengah sadar, lalu mengatakan bahwa Andi Arief berada di Lampung. Tempat persisinya saya tidak tahu, mungkin saja di rumah orang tuanya.

Setelah itu saya dibaringkan di sebuah velbed. Kedua kaki saya diikat kencang pada tepi velbed, dan kedua tangan saya diborgol juga pada tepi velbed. Mereka menanyai tentang aktivitas politik yang pernah saya lakukan, dan selalu saja entah menjawab atau tidak saya disetrum berkali-kali. Mereka menanyakan apakah saya mengenal Waluyo Djati, Faisol Reza, dan Herman. Mereka juga menanyakan apakah saya mengenal Desmond dan Pius. Saya juga disuruh menceritakan apa saja aktivitas mereka.

Lalu mereka menanyakan apakah saya pernah bertemu dengan Megawati dan Amien Rais. Dan apakah PRD atau SMID pernah menerima dana dari Sofjan Wanandi. Saya menjawab tidak pernah bertemu dengan ketiga orang tokoh tersebut. Secara politik PRD memang mendukung Amien Rais dan Megawati . Namun PRD atau SMID tak pernah menerima dana dari Sofjan Wanandi, dan saya jelaskan secara politik posisi kepentingan PRD dan Sofyan Wanandi sangat berseberangan. Jadi, tak mungkin kami mau berhubungan dengan dia apalagi menerima bantuan dari dia.

Setelah pertanyaan ini sejenak mereka menghentikan penyiksaannya terhadap saya.
Samar-samar saya mendengar Aan yang sedang ditanyai oleh sejumlah orang. Posisi dia tak jauh dari saya dan kami masih berada dalam satu ruangan. Tak lama kemudian suasana menjadi sepi dan hening. Dan saya kaget ketika terdengar langkah-langkah sepatu yang baru saja masuk. Lalu, saya mendengar teriakan-teriakan kesakitan seseorang yang juga sedang disiksa dan diinterogasi di ruang yang sama. Saya mengenal persis suara itu sebagai suara Mugiyanto.

Kemudian kami bertiga diberi makan nasi bungkus dengan lauk ikan. Selama makan kami tetap di velbed dengan posisi duduk serta tangan kiri terborgol dan mata tertutup. Selesai makan pertanyaan berlanjut tentang riwayat hidup saya dan pengalaman aktivitas politik saya.

Sepanjang malam itu sampai dengan subuh kami tetap terus disetrum dan diteror dengan suara alarm yang sangat memekakkan (bunyinya mirip dengan alarm mobil). AC dihidupkan dengan sangat kencang, sehingga tubuh saya yang setengah telanjang menggigil. Lalu seorang petugas datang mendekat memeriksa tubuh saya (kelihatannya tenaga medis) dan lewat suaranya samar-samar saya dengar bahwa ia melarang untuk menyetrum daerah perut dan dada. Lalu saya dan kawan-kawan dipakaikan kembali celana panjang kami. Kami tak bisa tidur sampai pagi hari, sampai para petugas penjaga berganti regu. Karena mata tertutup kami sepertinya kehilangan orientasi waktu. Petugas yang baru masuk juga mengulangi pertanyaan seperti regu sebelumnya. Siksaan terus kami alami sepanjang hari.

Saya berpikir dan coba menduga siapa mereka. Namun sangat sulit, karena mereka tak penrnah menyapa sesamanya dengan panggilan nama. Ruangan itu juga kedap suara. Namun, pada pagi hari itu terdengar samar-samar suara derap sepatu lars di luar. Saya menduga karena pintu agak terbuka sedikit, sehingga suara-suara di luar merambat ke dalam ruangan X itu. Kedengarannya seperti sekelompok serdadu yang sedang senam militer dan berlari-lari kecil secara serempak. Juga terdengar mereka menyanyikan lagu-lagu pembangkit semangat serta yel-yel yang tak jelas benar kata-katanya.

Keesokannya (hari kedua) posisi kami masih tetap di velbed dan masih dalam ruangan tersebut. Pagi-pagi saya ditanyai tentang biodata. Saya kemudian dipaksa untuk mencari cara menangkap Andi Arief, dengan menanyakan watak, kebiasaan dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Andi. Saya tak dapat menjawabnya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Saya disetrum lagi dan dipukuli. Saya juga ditanya tentang struktur PRD setelah Budiman Sujatmiko, Ketua PRD, di penjara. Mereka juga menyakan jaringan gerakan prodemokrasi yang lainnya.

Kemudian para interogator itu menanyakan program politik PRD saat ini. Dan juga mereka menanyakan tentang kenapa PRD mendukung referendum bagi rakyat Timor-timur. Saya menjawab, bahwa persoalan Timor-timur telah menjadi bumerang yang merugikan citra bangsa Indonesia di pergaulan internasional. Selain itu, perang yang berkepanjangan telah membawa banyak korban baik dari serdadu Indonesia maupun juga rakyat Timor-timur. Referendum adalah jalan yang adil dan demokratis bagi Timor-timur untuk menentukan sikap. Terjadi “diskusi” disini antara kami bertiga dan para interogator. Mereka mengaku cukup lama bertugas di Timor-timur dan juga Aceh. Untuk beberapa jam tidak ada siksaan yang kami alami selama “diskusi ” tersebut.

Saya minta izin untuk ke toilet karena ingin buang air kecil. Mereka kemudian melepaskan borgol saya, dan dengan mata tertutup lalu sebelah tangan saya diborgol ke tangan seorang petugas yang mengantarkan saya ke toilet. Saya berjalan melintasi ruang ber-AC tersebut dan begitu keluar menuju toilet saya kembali mendengar suara sepatu lars yang sedang berdarap-derap serempak. Kali ini lebih jelas suara itu berasal dari mereka yang sedang latihan berlari-lari kecil dan serempak. Namun saya tak tahu lagu apa yang dinyanyikan dan juga bunyi yel-yel yang mereka teriakkan.

Setelah makan pagi , kami ditanyai lagi oleh kelompok petugas yang berbeda. Siksaan berupa setrum dan pukulan serta tendangan kembali saya rasakan. Bahkan ketika mereka minta saya menyebut secara persis alamat teman-teman Andi Arief di Lampung, mereka memposisikan velbed saya secara terbalik. Kepala saya di bawah sementara kaki di atas, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Seseorang bahkan membungkam mulut saya dengan tumit sepatu sampai bibir saya pecah, karena saya berteriak keras “Allahu akbar” ketika aliran listrik itu begitu gencar seperti meluluhlantakkan sendi-sendi tulang saya. Sampai dengan malam hari terus-menerus terjadi interograsi. Terkadang pertanyaannnya mengulang-ulang dan kadangkala pertanyaan diajukan berdasarkan data yang didapat dari kedua kawan yang lain.

Besoknya, (tanggal 15/3) saya digiring ke toilet oleh dua orang petugas. Mata saya tetap tertutup dan kedua tangan terborgol. Mereka membuka borgol dan kedua mata saya ketika berada di toilet. Saya melihat dua orang petugas itu memakai topeng dari wol hitam. Hanya matanya saja yang terlihat. Saya dipotret di sana dengan kamera otomatis langsung jadi. Toilet itu kelihatan bersih, ada wastafel dan cermin. Keramiknya warna biru muda dan lantainya warna merah bata.

Dinding warna krem. Setelah selesai mata saya kembali ditutup, sebelumnya saya dizinkan cuci muka. Saya kembali ke ruangan semula dimana saya dibaringkan kembali ke velbed. Lalu seorang petugas mengatakan bahwa kami bertiga sebenarnya bukan target mereka, dan karena itu kami akan dibawa ke suatu tempat. Namun walaupun begitu mereka akan tetap mengawasi kami dimanapun kami berada, dan adalah persoalan yang gampang untuk menyelesaikan kami bertiga jika kami membuat ulah yang tak menyenangkan mereka.

3 . Menuju Polda Metro Jaya

Sekitar tengah hari, lalu kami di bawa ke suatu tempat. Masing-masing kami diangkut dengan satu mobil. Saya dibawa dengan mobil Jip jenis Jimni. Perjalanan sekitar 1,5 jam, sebelum akhirnya saya tiba di sebuah tempat. Dalam perjalanan mata saya tetap ditutup dan tangan diborgol ke belakang. Kami kemudian dibawa turun dan berjalan memasuki sebuah gedung.

Saya merasa menaiki anak tangga untuk bangunan bertingkat. Sampai di sebuah ruangan mata saya dan borgol dibuka. Saya melihat ada sejumlah petugas berpakaian preman dan menggunakan HT berada di depan saya. Saya lalu dipersilahkan duduk dan diberi makan.

Ruangan itu cuma 2×2 M dan di pintu saya sempat melihat tulisan dari karton putih yang di tempelkan di daun pintu. Kalau tak salah ingat bunyi tulisan tersebut adalah “Koladaops 05″. Seorang petugas lalu melakukan proses verbal terhadap saya melalui pertanyaan-pertanyaan seperti layaknya berkas acara pemeriksaan (BAP). Saya juga disuruh menandatangani sebuah surat (surat penangkapan?) yang kopnya telah dihapus. Jadi saya tak tahu institusi formal mana yang melakukan proses verbal tersebut.

Tak lama kemudian, mata saya ditutup lagi. Kelihatannya ada petugas lain yang menjemput. Kami bertiga lalu dinaikkan ke sebuah mobil Kijang . Mobil itu membawa kami ke suatu tempat, yang setelah sampai disana kami ketahui sebgai Polda Metro Jaya. Mata kami dibuka, borgol juga dilepas. Lalu kami dibawa ke sebuah ruang dan diperiksa. Setelah itu menandatangai surat penahanan dengan dugaan bahwa kami melakukan tindak pidana Subversi. Sebelum mendapat penangguhan penahanan, kami ditahan dan diisolasi (1sel untuk 1 orang) selama lebih kurang tiga bulan. Selama dalam tahanan Polda Metro Jaya kami sempat dipanggil oleh tiga orang perwira dari Puspom ABRI. Mereka menanyakan proses penangkapan kami oleh orang-orang tak dikenal itu.

Jakarta, 7 Juni 1998

Nezar Patria

Sumber:PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE’S DEMOCRATIC PARTY, INDONESIA
Europe Office
E-mail : prdeuro@xs4all.nl
Date: Tue, 16 Jun 1998 00:38:26 +0200

Dipublikasikan ulang di http://aksarasahaja.wordpress.com/

Prlpres 2014: KSPI Dukung Prabowo

Jakarta, Teraslampung.com – Pada hari buruh internasional, Said Iqbal, Presiden KSPI, menyatakan bahwa seluruh buruh Indonesia mendukung Prabowo sebagai capres. Mengapa?

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar perayaan hari buruh tersebut di Gelora Bung Karno Senayan. Mereka juga telah mengundang ketiga capres yakni, Prabowo Subianto, Jokowi dan Aburizal Bakrie untuk hadir.

Menurut Said Iqbal, di antara ketiga capres tersebut, hanya Prabowo yang berani menandatangani kontrak politik untuk lebih mensejahterakan buruh. "Prabowo Subianto, capres yang berani menandatangani kontrak politik dengan buruh. Maka dari itu dukungan buruh akan diberikan kepada Prabowo, capres yang berani mensejahterakan buruh," tandas Said Aqil, pada Kamis (1/5/2014).

Di sisi lain, Capres Jokowi di rumah dinasnya, juga menerima kedatangan sejumlah buruh wanita. Dalam kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta tersebut berpesan agar para buruh tidak melakukan aksi demo saat merayakan hari buruh internasional.

Sebab, menurutnya, demo akan membuat banyak biaya terbuang sia-sia. Akan lebih baik uang demo digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Terkait masalah buruh, Capres Jokowi berjanji mewujudkan tiga layak bagi buruh dan pekerja Indonesia yakni kerja yang layak, upah layak dan hidup yang layak.

"Buruh adalah bagian integral dari warga negara Indonesia, dan karena itu adalah wajib untuk mendukung dan memperjuangkan terwujudnya Tiga layak bagi buruh dan pekerja Indonesia yakni kerja layak, upah layak dan hidup layak," kata Jokowi, pada Kamis (1/5/2014).

Siapapun capres yang terpilih, harapan para buruh adalah hidup yang layak dan sejahtera.

Sumber: nefosnews.com

Ryamizard: Pemimpin Itu Harus Cerdas, Berani, dan Berakhlak

Che. T.  W
Ryamizard Ryacudu (dok)
ijaya/Teraslampung.com


Palembang - Calon kuat cawapres  pendamping Jokowi dalam Pilpres 2014,  Ryamizard Ryacudu, memberikan gambaran ideal seorang pemimpin di Indonesia. Selain harus cerdas, seorang pemimpin itu harus  mampu mengambil keputusan dengan cepat.

“Intelektualnya harus 5 persen, lalu mampu mengambil keputusan cepat dan benar 10 persen, lainnya 10 persen. Sisanya yakni 25 persen harus memiliki karakter,” kata Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, dalam Seminar Nasional Stabilitas Politik dan Keamanan Indonesia Lima Tahun ke Depan di Hotel Arista Palembang, Kamis (1/5/2014).

Menurut putra daerah Sumsel dan Lampung ini, “Seorang pemimpin itu harus berani melakukan perubahan. Mengubah yang tidak bagus menjadi bagus. Yang sudah bagus diubah atau ditingkatkan menjadi sempurna. Jika tidak ada keberanian, maka tidak ada perubahan, maka jangan jadi
pemimpin,” katanya.

Dia pun mencontohkan seorang pemimpin harus berani mengatur hasil sumber daya alam (SDA) yang dikelola pihak asing, misalnya apa yang dikelola Freeport, sehingga menguntungkan untuk bangsa Indonesia.

"Kuasa pertambangan, seperti Freeport itu harus dipanggil. Jangan seperti sekarang ini 20:80. Sekarang gantian 80:20. Pemimpin harus berani. Kalau nggak berani jangan jadi pemimpin,"kata dia

Ryamizard pun menceritakan pengalamannya saat ceramah di atas kapal induk Abraham Lincon tentang Indonesia, sehingga yang menyaksikanmenjadi terkagum.

Lalu menceritakan pengalamannya di Aceh, yang menggunakan sepeda motor selama berada di sana. Meskipun dia menghargai HAM, tapi dalam bertugas dia harus tegas.

”Dalam agama Islam mendirikan negara dalam negara itu namanya Bughod. Maka 240 juta  rakyat Indonesia itu HAM saya. Pasukan di situ sekali jalan 2 kompi patroli GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Saya jenderal bintang empat. Saya bilang beranimaju sendiri. Saya serahkan kepada Tuhan. Kata orang Islam kita Istikharah,” ujarnya.


Maka, menurut lelaki kelahiran Palembang pada 21 April 1950 ini, seorang pemimpin itu memiliki akhlak yang baik.”Pemimpin itu memperbaiki akhlak orang-orang yang dia pimpin. Tapi bagaimana dia
bisa memperbaiki, kalau akhlaknya sendiri kurang bagus,” kata Ryamizard.

Friday, April 25, 2014

Pasar Masih Tunggu Pengumuman Cawapres Jokowi

Belum Jelasnya Cawapres Jokowi Pengaruhi Sentiman Pasar Bursa


Memantau pergerakan pasar uang (foto: Priyambodo/Kompas)
JAKARTA, Teraslampung.com – Joko Widodo (Jokowi) batal batal mengumumkan nama calon wakil presiden pendampingnya, Jumat sore ini (25/4). Ia masih harus menunggu kabar melalui telepon dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Nanti kalau sudah ditelepon Ibu Mega pasti langsung diumumkan. Kawan-kawan wartawan pasti dikasih tahu lebih dulu sebelum diumumkan ke publik,” kata Jokowi, di Jakarta, Jumat (25/4), saat meresmikan jembatan dan lapangan bola di taman Waduk Pluit Jakarta Utara.

Gubernur DKI Jakarta yang kini menjadi calon presiden PDIP itu mengakui sudah  punya cawapres. Namun,  untuk mengumukanna kepada publik harus melalui mekanisme yang sama seperti saat dirinya diberi mandat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menjadi capres.

Jokowi mengatakan pola pengumuman cawapres yang bakal mendampingi dirinya nanti sama seperti dirinya diberi mandat sebagai capres PDIP. Saat itu (14 Maret 2014) Jokowi berada di rumah Si Pitung Marunda Jakarta Utara. Ketika itu Megawati melarang Jokowi ke luar kota, dia hanya boleh blusukan di Marunda.

Saat ini sejumlah nama disebut-sebut bakal mendampungi Jokowi sebagai cawapres Jokowi . Antara lain mantan wapres Jusuf Kalla, mantan Menhan dan mantan ketua MK Mahfud M.D., dan mantan KASAD Ryamizard Ryacudu. Beredar pula nama-nama tokoh perempuan  bakal mendapingi cawapres, seperti Sri Mulyani, Puan Maharani, dan mantan Mendag Rini S. Suwandi.

"Jadi nanti kaya dulu itu waktu deklarasi capres, nanti saya undang, saya beri tahu," katanya kepada wartawan yang terus mencecar nama cawapresnya saat meresmikan jembatan dan lapangan bola di taman Waduk Pluit Jakarta Utara, Jumat (25/4/2014

Sementara itu, hingga Jumat siang (25/4) pasar masing menunggu pengumuman cawapres Jokowi. Tabloid Kontan melansir  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penambahan sebanyak 18,88 poin di sesi I. Alhasil, posisi terakhir indeks saat ini adalah 4.909,96.

Sepinya sentimen regional membuat pelaku pasar kembali fokus pada sentimen dalam negeri. "Pelaku pasar masih sabar menunggu pengumuman cawapres capres Jokowi," tambah Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker, sebagaimana halnya ditulis Kontan, Jumat (25/4).

Kondisi ini juga membuat pergerakan IHSG cenderung flat menurun dengan kisaran sempit, support 4.880 dan resistance 4.935. Sinyal negatif akan muncul jika indeks ditutup di bawah 4.880.

"Namun, jika indeks berhasil menembus resistance 4.935, kami tetap rekomendasikan sell on strength untuk posisi trading, terutama jika IHSG sudah mencapai kisaran 5.050-5.100," jelas Satrio.

William Surya Wijaya, analis Asjaya Indosurya Securites menambahkan, sentimen soal pengumuman cawapres yang bakal mendampingi capres membuat inflow yang masuk semakin deras, sehingga, secara teknikal IHSG akan menuju resistance 4.933 dan peluangnya lebih besar dika dibandingkan dengan tekanan yang bisa mendorong indeks hingga ke level support 4.886.

"Fase IHSG menuju pola uptrend kembali terjadi," pungkasnya. Saham ASII, PGAS, UNTR, UNVR, BBNI, BBCA, BBRI, BJTM, KAEF, dan TBIG menjadi saham rekomendasi William untuk sesi II. (Dewi Ria Angela, R. Usman)

Monday, March 17, 2014

Peneliti LIPI Siti Juhro: Para Caleg Itu Orang-Orang Nekat

Oyos Saroso HN/Teraslampung.com

Siti Juhro (tengah). Foto teraslampung/oshn
Bandarlampung--Jangan anggap remeh politik uang. Peringatan ini disampaikan peneliti LIPI, Prof. Dr. Siti Juhro,dalam acara penandatanganan Pakta Integritas yang difasilitasi Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), di Hotel Sahid Bandarlampung, .akhir pekan lalu.

Berbicara di hadapan puluhan caleg DPR RI dan caleg DPRD di Lampung, Siti Juhro menegaskan bahwa caleg yang melakukan politik uang berarti melakukan kekejaman. Sebab, caleg tersebut berarti telah membeli nasib rakyat dengan uang atau barang senilai yang telah diberikan kepada penerima money politic.

“Bayangkan, kalau rakyat diberi Rp 50 ribu kemudian itu akan menentukan nasibnya selama lima tahun ke depan. Bahkan, tidak hanya kejam. Itu menurut saya dosa,” ujar Juhro.

Juhro mengakui, rakyat sudah belajar banyak dari pengalaman. Janji-janji caleg selama ini, kata Juhro, membuat masyarakat bosan. Masyarakat menjadi skeptis dan apatis terhadap pemilu.

“Di sinilah letak pentingnya moral politik dimiliki para caleg. Moral politik dalam berdemokrasi sangatlah diperlukan dalam menjalankan sistem demokrasi yang telah mengarah ke arah parlementer. Dengan moral politik yang baik, caleg yang terpilih nanti dapat menghasilkan produk demokrasi yang berkualitas baik dan tidak merugikan publik,” kata Juhro.

Juhro mengaku kaget sekaligus gembira melihat antusiasme para caleg yang hadir dalam penandatanganan Pakta Integritas yang difasilitasi Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), di Hotel Sahid Bandarlampung, Jumat malam (14/4). Menurtut Juhro, para caleg yang mencalonkan diri dalam pemilu 2014 termasuk orang-orang nekat.

“Bagaimana tidak nekat? Sudah tahu lembaga parlemen itu selama ini menjadi sorotan publik dengan penilaian yang kita sama-sama sudah tahu (buruk). Tetapi bapak-bapak dan ibu-ibu ini tetap mau mencalonkan diri menjadi wakil rakyat,” ujarnya.

Meski diselimuti rasa pesimisme, Sito Juhro berharap para caleg yang pada malam itu menandatangani Pakta Ingritas kelak kalau terpilih benar-benar bisa memenuhi harapan rakyat.

“Caleg yang bertarung hendaknya mereformasi birokrasi dan reformasi terhadap partai politik, sehingga partai politik tidak menjadi lembaga politik yang melindungi pelaku korupsi. Selanjutnya, caleg diharapkan menghayati fungsi reprseentasi parlementer yang menimbulkan kesadaran masyarakat dalam pesta demokrasi

Monday, March 10, 2014

Alzier: Politik Uang Sangat tidak Mendidik

Paket sembako berganbar calon gubernur Lampung (dok TV One)
Bandarlampung, Teraslampung.com—Menjelang pemilihan legislatif (Pileg) dan Pemilihan Gubernur (PIlgub) serentak dilaksanakan 9 April 2014, indikasi politik uang  (money politic ) aromanya sudah terendus. Bahkan, buktinya sudah menyebar di berbagai daerah di Lampung.

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Pesawaran baru-baru ini misalnya, menemukan indikasi politik uang dari salah satu calon gubernur (Ridho Ficard-Bachtiar Basri) dan caleg dari partai berbendara Islam, sangat kuat sebagai bukti telah melanggar aturan  pesta demokrasi.

Sempritan Panwaslu Pesawaran kepada cagub dan caleg untuk mengingat politisi lain yang akan berlaga di Pileg dan Pilgub 204. Meski di lapangan, bagi-bagi sembako dari para politisi kepada masyarakat masih sering tejadi.

Gencarnya aksi membagi gula dan uang sebenarnya sudah terjadi sejak bulan Ramadan tahun lalu. Seorang warga di Telukbetung, misalnya, pada Ramadhan lalu melihat salah satu calon gubernur melempar sembako dan gula. Bersama dengan sembako yang dibungkus tas plastik itu terselip lembaran yang kertas Rp 50 ribu.

Hal sama dikatakan Rahman, 40, warga Kupang Kota, Telukbetung. Rahman mengaku melihat ada anggota tim sukses salah satu caleg yang mendatangi warga untuk membagi sembako dan amplop agar memilih caleg tertentu.

"Para anggota tim sukses sekarang ini makin gencar mendatangi rumah-rumah warga untuk membagi sembako," kata Rahman.

Cagub Lampung Alzier Dianis Thabranie menilau politik uang dengan membangi-bagi sembako sangat tidak mendidik rakyat dalam berdemokrasi. Calon gubernur berpasangan dengan Lukman Hakim yang diusung Partai Golkar dan Hanura itu mengajak tokoh politik peserta pilgub dan pileg dapat memberikan pembelajaran politik untuk masyarakat.

“Tanpa menabur-naburkan uang. Praktik politik uang sangat tidak mendidik,” ujarnya.

Alzier mengatakan, praktik politik uang  tidak saja akan berdampak terhadap  buruknya roda pemerintahan serta  pembangunan daerah di Provinsi Lampung, juga masyarakat akan sengsara.

Menurut ADT, biasa namanya disingkat, para calon pemimpin yang berlaku culas dan membodohi masyarakat dengan mengimingingi pemberian sembako, tidak akan pernah peduli pada kepentingan masyarakat.

“Dia hanya  akan berpikir pada kepentingan kelompok dan golongannya,” katanya.

Di tengah kompleknya persoalan sosial dan  ekonomi masyarakat saat ini, Alzier mengatakan,  masyarakat Lampung membutuhkan sosok pemimpin yang amanah. Seorang pemimpin yang memiliki visi dan misi perubahan, serta  benar-benar peduli untuk menyejahterakan masyarakat.

Dalam kesmepatan ini, Alzier juga mengimbau tim pemenangannya agar tetap solid dan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat tanpa melakukan praktik politik uang.

 “Kita berharap, dari pembelajaran politik yang tidak culas maka massyarakat dapat melihat perubahan yang lebih baik,” kata Alzier.

Bagi-bagi Sembako Makin Marak

Semenetara itu, indikasi politik uang yang ditemukan Panwaslu Kabupaten Pesawaran terjadi di Desa Cimanuk, Kecamatan Way Lima, Rabu sore pekan lalu.

Petugas pengawas lapangan Panwascam setempat, menemukan ratusan dus berisi ribuan paket gula dari salah satu pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Lampung. Rencananya paket tersebut akan dibagikan kepada warga.

Panwaslu Pesawaran mengamankan barang bukti berupa secarik kertas selebaran berisi ajakan mencoblos pasangan calon serta kartu nama pasangan calon gubernur yang tertera di belakangnya nomor urut, juga nama calon legislatif DPR RI dan DPRD Provinsi Lampung dari salah satu partai berbendera Islam.

Guna proses hukum temuan dugaan politik uang ini, Panwaslu Kabupaten Pesawaran akan berkoordinasi dengan Bawaslu Lampung untuk selanjutnya melaporkan hasil temuan indikasi politik uang ini ke pihak Gakumdu Polres Kabupaten Lampung Selatan.

Sementara sejumlah warga di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, mengaku menerima pemberian berupa bingkisan gula dan kartu nama pasangan kandidat calon gubernur yang juga turut tertara nomor urut. Selain itu, nama calon legislatif DPR-RI Gufron Azis Fuadi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dapil 1 Provinsi Lampung. (isb)

Saturday, March 8, 2014

Devita Janji akan Dorong UKM

Bandarlampung, teraslampung—Calon anggota legislatif (caleg) perempuan dari Partai NasDem Devita Komalasari akan memperjuangkan pertumbuhan di bidang ekonomi, terutama untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Provinsi Lampung.

"Ekonomi kerakyatan terutama sektor UKM untuk maju sangat terbuka lebar mengingat berbagai program pemerintah untuk penguatan modal usaha pelaku UKM terus digalakkan. Karena itu jika saya terpilih menjadi anggota legsilatif akan terus mendorong sektor ekonomi kecil itu untuk penguatannya terutama di modal usaha," kata caleg NasDem nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) I Kota Bandarlampung, di Bandarlampung, Sabtu, (8/3).

Devita mengaku termotivasi untuk memajukan perekonomian di daerah itu termasuk menyuarakan aspirasi masyarakat serta menyosialisasikan visi dan misi partai.

Ia menyebutkan, pemerintah telah menggulirkan beberapa program untuk menunjang kemajuan sektor UKM tetapi belum menyentuh di level masyarakat miskin.

 Karena itu, lanjutnya, perlu didorong pemberdayaan warga miskin terutama perempuan atau ibu-ibu rumah tangga melalui peningkatan ketrampilan dalam membuka usaha kecil.

"Pemerintah mengeluarkan berbagai program penunjang kemajuan sektor UKM, seperti Kredit Usaha Rakyat, program koperasi, dan lain-lain," jelasnya.

Namun demikian menurut dia, program optimalisasi tempat praktik keterampilan usaha belum menjamah seluruhnya rakyat miskin termasuk di Lampung.

Wanita kelahiran Tanjungkarang 18 Desember 1979 ini mengatakan kesempatan untuk meraih kesuksesan di sektor UKM sangat besar tapi juga harus didukung semua pihak. (partainasdem.org)

Friday, February 21, 2014

3 Kali Ganti Jadwal, KPU Tetapkan Pilgub Lampung Bareng dengan Pemilu Legislatif 9 April 2014

Isbedy Stiawan ZS/teraslampung.com

Ilustrasi pemilu (dok. thejakartapost)
Bandarlampung--Setelah tiga kali gagal menggelar pemilihan gubernur sesuai jadwal, akhirnya KPU Lampung akan melangsungkan Pilgub bersamaan dengan pemilihan legislatif pada 9 April 2014 mendatang.

“Semula kami menjadwalkan Pilgub Lampung digelar pada 27 Februari. Namun karena waktunya mepet, akhirnya kami memutuskan Pilgub Lampung digelar 9 April bersamaan dengan. Pilgub bersamaan dengan Pileg hanya diadakan di Lampung. KPU Pusat sudah menyetujui," kata Ketua KPU Pronvinsi Lampung Nanang Trenggono,  Jumat (21/2).

Sebelumnya, selalu terjadi tarik ulur antara KPU Lampung dengan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP soal jadwal Pilgub. Hingga tiga kali KPU mengubah jadwal, Sjachroedin ZP berkukuh Pemerintah Provinsi Lampung tidak memiliki dana sehingga Pilgub tidak bisa dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat KPU Lampung.

Nanang mengaku berani menetapkan jadwal Pilgub bareng dengan Pileg karena pihaknya sudah menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) pencairan anggaran Pilgub Lampung dengan Pemprov Lampung, pada 17 Februari 2014 lalu.

Awalnya KPU Lampung menjadwalkan Pilgub paa sejak 2 Oktober 2013, tetapi gagal karena tidak ada sinyal bagus dari Gubernur. Lalu jadwal diundur pada 2 Desember 2013. Hasilnya sama. Ketika jadwal diundur lagi menjadi 27 Februari 2014 pun tetap tidak membuahkan hasil.

"Pada 17 Februari anggaran hibah NPHD Pilgub Lampung baru disepakati KPU. Kalaupun 27 Februari Pilgub Lampung digelar, itu sangat tidak mungkin. Maka, jadwalnya kami mundurkan dan pilihannya 9 April harus dilaksanakan," jelasnya.

Dalam NPHD itu, kata Nanang, disepakati dana Pilgub Lampung sebesar Rp120 miliar. Perinciannya: Rp68 miliar untuk putaran pertama dan sisanya untuk putaran kedua. Dana Rp120 miliar berasal dari NPHD atas persetujuan Pemprov Lampung yang sudah ditandatangani KPU Lampung tersebut.

"Kami berharap akan berlangsung dan gangguan saat Pilgub dan Pileg digelar pada hari yang sama, yakni 9 April 2014" kata dia.

Komisioner KPU Pusat, Hadar Nafis Gumay, mengatakan keputusan untuk melaksanakan Pilgub Lampung bersamaan dengan Pileg karena ada situasi unik di Lampung. Menurut Hadar, KPU Pusat sudah memberikan kewewenangan kepada KPU Lampung untuk melaksanakan Pilgub, termasuk menentukan jadwal.

“Kewewenangan untuk menentukan jadwal Pilgub ada pada KPU Lampung. Kami tidak ikut campur. Kami hanya berkoordinasi dan memberikan arahan saja,” ujarnya.

Editor: Oyos Saroso HN


Monday, February 17, 2014

Wiranto dapat Gelar Adat “Suttan Pemimpin Negara”



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Wiranto diapit para penyimbang adat
Gunungsugih—Tidak seperti biasa, Desa Tanjungratu, Way Pengubuan, Lampung Tengah dipenuhi oleh warga, tokoh adat, dan para purnawirawan TNI. Tetabuhan alat musik tradisional menguar di desa ini. Matahari mulai menyengat.

Suasana ramai dan riang semakin terasa dilengkapi pernik budaya, setiap warga mengenakan pakaian adat. Memang Marga Beliuk tengah menggelar begawi adat.

Mengangkat saudara (begawi mewaghi) bagian dari budaya masyarakat Lampung. Prosesi mewghi seseorang menjadi saudara ini dilaksanakan dalam rangakaian begawi adat.

Marga Beliuk, Tanjungratu, Waypengubuan, Lampung Tengah, Senin (17/2) siang menggelar begawi adat untuk mengangkat Wiranto, ketua umum Partai Hanura, menjadi saudara.

Jenderan Purnawirawan Wiranto dianugerahi gelar adat kehormatan dengan gelar Suttan Pemimpin Negara oleh Penyimbang Adat Marga Beliuk, dan dihadiri tokoh masyarakat, purnawirawan TNI, dan warga setempat.

Anugerah mewaghi kepada Wiranto karena melihat rekam jejaknya yang bersih, tegas, dan jujur. Karena itu diharapkan dapat menjadi pemimpin yang amanah kelaknya.

Pemberian mewaghi atau angkat persaudaraan ini adalah salah satu budaya masyarakat Lampung. Setelah diangkat saudara, selanjutnya yang diangkat menjadi bagian dari adat yang ada dalam marga, khususnya Marga Beliuk, Tanjungratu, Waypengubuan.

 “Setelah mewaghi, Suttan Pemimpin Negara menjadi bagian dari adat karena sudah bersaudara,” kata Suttan Maharaja usai mengukuhkan Wiranto.

Pengukuhan gelar yang dipimpin Suttan Maharaja ini, diikuti  para penyimbang adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, purnawirawan TNI, dan masyarakat.

Menurut penyimbang adat Suttan Maharaja, mengangtak Wiranto sebagai saudara dari Marga Beliuk dilakukan secara ikhlas, setelah melihat  rekam jejak Ketua Umum Hanura ini yang bersih, tegas,  dan jujur.

Sesuai dengan gelar yang disematkan, yaitu Suttan Pemimpin Negara, diharapkan Wiranto dapat menjadi pemimpin yang mengayomi semua golongan.

Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sangat mengapresiasi gelar adat yang disematkan kepadanya. Menurut jenderal purnawirawan ini, gelar Suttan Pemimpinan Negara memiliki arti penting  bagi kelanjutan pengabdiannya  kepada negara.

Monday, February 10, 2014

Presiden: Jajaran Pemerintah Pusat-Daerah Harus Bantu Distribusi Logistik Pemilu

B, Satriaji/Teraslampung.com

Presiden SBY (tengah). Foto dok Jurnas
Jakarta—Presiden SBY mengimbau jajaran pemerintahan, baik pusat maupun daerah, membantu pendistribusian logistik Pemilu sehingga tidak terjadi keterlambatan.Menurut SBY pemerintah pusat dan daerah harus membantu KPU agar distribusi logistik pemilu tidak tersendat sehingga Pemilu pada April 2014 nanti lancar.

“Negara telah mengeluarkan anggaran cukup besar untuk penyelenggaraan Pemilu 2014. Presiden SBY meminta anggaran tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya. Pastikan tidak terjadi penyimpangan, dan jaga akuntabilitas dan pertanggungjawaban yang benar," kata Presiden SBY saat membuka Rakornas Pemantapan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 di Jakarta Convention Centre, Selasa (11/2).

Presiden berharap isu-isu penyimpangan dan akuntabilitas penyelenggaraan pemilu ini nantinya makin meningkatkan suhu politik bisa dicegah bahkan ditiadakan.

Menurut Presiden SBY pemerintah selama ini sering dituduh. Padahal, kata Presiden pemerintahan sekarang terdiri dari berbagai partai politik sehingga sulit untuk terjadinya kecurangan.

"Kalau ada yang berniat curang tidak mudah untuk melakukannya. Lain halnya kalau pemerintan pusat dan daerah berasal dari satu partai politik, berada satu garis dengan Presiden, barangkali kemungkinan itu bisa terjadi," SBY menjelaskan.

Jika dalam pelaksanaan Pemilu terdapat aduan, Presiden meminta dilakukan secara tertib sesuai aturan dan prosedur. Hal ini untuk mencegah tindakan kekerasan.

"Jangan coreng demokrasi kita yang kini makin matang. Jika dulu kita bisa, maka 2014 ini kita pun harus bisa," ujar SBY.

Kepada pers dan media massa, Presiden meminta pemberitaan yang disampaikan akurat dan konstruktif. SBY mengingatkan bahwa media massa adalah milik dan untuk publik, bukan milik kalangan tertentu.

"Saya yakin pers juga ingin menyukseskan Pemilu. Sungguhpun demikian, rakyat ingin siaran dan berita yang disampaikan faktual, fair, dan berimbang. Media massa adalah milik publik dan untuk publik, bukan milik kalangan tertentu," kata Presiden. Demikian juga dengan TNI dan Polri, harus menjaga netralitas mereka,” ujarnya.

Tuesday, February 4, 2014

DPR Tolak 3 Calon Hakim Agung

Rapat pleno Komisi III DPR RI untuk memilih calon hakim agung. (Dok DPR RI)
JAKARTA, teraslampung.com—Rapat pleno Komisi III DPR RI memutuskan menolak menyetujui 3 calon hakim agung yang telah dikirimkan Komisi Yudisial. Keputusan diambil setelah melewati proses pemungutan suara yang diikuti oleh 48 orang anggota komisi hukum ini.

"Berdasarkan hasil yang telah saya sampaikan karena jumlah suara tidak memenuhi ketentuan 50 persen plus 1 seperti yang telah kita sepakati maka ketiga calon hakim agung itu kita tolak, tidak mendapatkan persetujuan. Setuju?" tanya pimpinan sidang Pieter C. Zulkifli, Ketua Komisi III, dalam rapat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2/14).

Mayoritas anggota Komisi III menyatakan penolakan seperti terlihat dari perolehan suara, calon hakim agung Suhardjono SH, MH memperoleh suara Setuju 3, Tidak Menyetujui 44, Abstain 1. Calon hakim agung Maria Anna Samiyati SH, MH; Setuju 3, Tidak Menyetujui 44, Abstain 1, sedangkan DR. H. Sunarto SH, MH, Setuju 5, Tidak Menyetujui 42 dan Abstain 1.

Menjawab pertanyaan wartawan Pieter menekankan penolakan Komisi III ini bukan merupakan bentuk perlawanan terhadap hasil judicial review MK yang memangkas kewenangan DPR. "Anda bisa lihat sendiri disitu hasilnya. Bagaimana pertanyaan anggota dan jawaban calon pada saat fit and proper test jadi jangan ditafsirkan yang lain," ujarnya.

Pada bagian lain Politisi FPD ini menambahkan langkah Komisi III selanjutnya adalah melakukan rapat internal untuk menyikapi hasil fit and proper test yang disebutnya mengecewakan. "Dalam waktu dekat kita akan rapat internal pimpinan dan anggota. Kita akan bicara dengan KY untuk mengetahui terminologi apa yang dipakai KY sehingga 3 calon ini yang dikirim ke Komisi III," demikian Pieter.

Saturday, February 1, 2014

PKS Tetapkan 3 Kandidat Capres 2014

Kampanye PKS (dok detik)
Bambang Satriaji/Teraslampung.com

JAKARTA--
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menetapkan tiga kandidat calon presiden (capres) untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2014. Mereka adalah Hidayat Nur Wahid, Muhammad Anis Matta, dan Ahmad Heryawan.Mereka adalah tiga besar hasil Pemilihan Rakyat yang digelar PKS November—Desember 2013 lalu.

PKS sengaja memilih tiga kader dengan alasan ingin menyertakan bangsa Indonesia untuk memberikan pilihannya kepada kandidat capres dari PKS. Karena itu, PKS menyodorkan tiga bakal capres. Namun, banyak kalangan menilai istilah ‘bangsa Indonesia’ rancu dengan istilah ‘calon pemilih PKS’ dan ‘kader PKS’.

"Kami merasa bagian integral dari bangsa Indonesia. Maka, kami ingin menyertakan bangsa Indonesia dalam pemilihan ini. Kami tidak ingin memonopoli keputusan ini sepenuhnya. Bangsa Indonesia yang besar ini biarlah mereka yang menentukan," kata Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, saat konferensi pers di kantor DPP PKS, Jakarta, Sabtu (1/2).

Hilmi mengatakan setelah ditetapkan ketiga nama itu akan menjalani proses selanjutnya, yakni uji publik. Satu orang capres PKS baru akan resmi ditetapkan setelah pemilu legislatif 9 April 2014.

“Uji publik dilakukan untuk melihat sejauh mana para kandidat mendapat tempat di hati masyarakat,” kata dia.

PKS telah mengadakan Pemilihan Raya (Pemira) tanggal 29 dan 30 November 2013. Pemira dilakukan karena adanya dorongan dari kader untuk mempersiapkan capres yang diusung PKS dalam Pemilihan Umum 2014.

Pemira itu menghasilkan lima besar kandidat yang bakal diusung PKS untuk maju dalam Pilpres 2014. Posisi lima besar hasil Pemira adalah Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring dan Nur Mahmudi.

Hidayat mendapatkan dukungan 55.670 suara, Anis Matta 48.153 suara, Ahmad Heryawan 46.014 suara, Tifatul Sembiring 31.714 suara, sementara Nur Mahmudi 20.429 suara.

Anis unggul di 18 provinsi, Hidayat di 14 provinsi, sementara Ahmad Heryawan hanya unggul di Jawa Barat. Pendukung Tifatul dan Nur Mahmudi, menurut hasil Pemira PKS, merata di seluruh provinsi di Indonesia.