Showing posts with label Lampung Peduli. Show all posts
Showing posts with label Lampung Peduli. Show all posts

Wednesday, June 11, 2014

Guru yang Mengubah Indonesia

Rini/Lampung Peduli

Pelatihan pembelajaran kreatif dengan tema “Guru yang Mengubah Indonesia”, di Wisma Dahlia Unila, 30 Mei 2014 lalu. (Foto: Dok Lampung Peduli)
BANDARLAMPUNG - Kreativitas  modal utama  guru. Guru yang memiliki kreativitas tinggi, akan mudah mengimplementasikan proses pembelajaran di kelas, termasuk penerapan kurikulum 2013 yang tengah digalakkan pemerintah.

Menyadari pentingnya peran guru dalam kesuksesan pembelajaran di kelas, LAMPUNG PEDULI bersama Sekolah Guru Indonesia DOMPET DHUAFA (SGI-DD), didukung Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandarlampung menyelenggarakan pelatihan pembelajaran kreatif dengan tema “Guru yang Mengubah Indonesia”, pada 30 Mei 2014 lalu.

Kegiatan yang digelar di Wisma Dahlia Universitas Lampung itu diikuti 50 guru madrasah ibtidayah (MI)  se-kecamatan Bumi Waras, Bandarlampung. Puluhan guru madrasah itu antusias menambah ilmu untuk pembelajaran siswa yang lebih baik.

Saat membuka kegiatan, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Bandarlampung, Rita Linda, S.Ag., M.Ag, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada LAMPUNG PEDULI-SGI DD yang dia nilai telah turut memikir-kan pendidikan di Lampung dengan melatih dan meningkatakan kemampuan guru-guru.

“Sebelumnya LAMPUNG PEDULI turut menyelenggarakan program sekolah berkualitas dan berasrama gratis di SMART Ekselensia Indonesia, Bogor, untuk siswa duafa asal Lampung,” kata Rita Linda.

Rita Linda menyampaikan pentingnya pembelajaran kreatif dalam menunjang profesionalitas guru. Beliau pun menyebutkan lima aspek yang mengindikasikan seorang guru profesional: komitmen, kompeten, tanggung jawab, sistematis, dan kreativitas.

Susi Susanti, alumni SGI-DD angkatan IV yang didapuk menjadi pemateri dalam kegiatan ini, sumringah dengan sambutan guru yang hangat selama sesi pelatihan.

Susi berharap mudah-mudahan sharing yang ia berikan turut memperkaya dan memberi dorongan kepada guru-guru untuk mengajar kreatif dan penuh cinta.

Pelatihan berdurasi enam jam tersebut terbagi dalam tiga sesi, yakni dua sesi materi dan satu sesi praktik. Dalam sesi terakhir, peserta dikenalkan dengan "Logico", alat peraga dan alat permainan edukatif.

Hepayanti, peserta dari MI Ujung Bom mengungkapkan bahwa pelatihan ini telah menanamkan konsep yang bermakna mengenai pembelajaran kreatif. “Pelatihan ini juga menginspirasi kami untuk lebih kreatif dalam mendidik anak-anak bangsa menjadi lebih cerdas, kreatif, inovatif dan berimtak.”

Manajer LAZ LAMPUNG PEDULI, Umaruddinul Islam, mengharapkan ada tindak lanjut positif dari peserta pelatihan, terutama dalam metode pembelajaran di kelas.

“Dukungan para donatur akan memastikan kegiatan serupa ini terlaksana secara kontinyu dan berkelanjutan. Semoga donatur yang bersedia memberikan "Logico" untuk  pelajar dari keluarga duafa mendapat pahala dan amal jariahnya. Aamiin,” kata dia. (Editor: Juperta Panji Utama)

Wednesday, June 4, 2014

Berdakwah Bersama “Sajada”

Juperta Panji Utama/Lampung Peduli

Tiga belas tahun LAMPUNG PEDULI hadir membersamai derap masyarakat Lampung. Selama itu pula, LAMPUNG PEDULI konsisten menjalankan program-program yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Salah satunya adalah penerbitan "Sajada" sebagai media untuk mengokohkan kesadaran dan nurani beragama (Islam).
   
Sajada cetak 5000 eksemplar full colour saban minggunya. Sekalipun jumlahnya terbatas, Sajada menyapa rutin pembacanya di masjid-masjid sekitar Bandarlampung. Tak jarang menyambangi masjid-masjid di Metro, Pesawaran, Lampung Timur atau Lampung Selatan.
   
Selama ini, Sajada hadir dengan dukungan dermawan yang ingin ikut andil berdakwah dengan pena lantaran "tak" punya waktu dan ilmu. Salah satu dermawan LAMPUNG PEDULI  itu adalah keluarga Pak Tito.
   
Pak Tito mengenal pertama Sajada saat  salat Jumat di Masjid Terminal Rajabasa Bandarlampung. Membaca lembar yang informatif dengan wawasan keislaman, Pak Tito tergerak berinfak untuk membiayai Sajada.
   
“Infak melalui Sajada berarti saya berkesempatan untuk berdakwah secara langsung kepada masyarakat,” ujar Pak Tito saat ditanya ketertarikannya berinfak untuk kemandirian Sajada.

Lebih jauh, Pak Tito menceritakan masa lalunya yang jauh dari masjid. Baru mendekati paruh baya saja ayah satu anak ini mengaku sudah hampir berkeliling Indonesia dari Aceh hingga Papua demi hidup dan kehidupan! Namun kini, bersama sang Istri, Pak Tito menjaga musala yang menjadi salah satu fasilitas terminal Induk Rajabasa Bandarlampung.

“Setiap hari musala ini kami bersihkan dan jaga,” lanjut Pak Tito. “Istri saya menyediakan sajadah dan  mukenanya,” lanjutnya dengan bangga.
   
Selain itu, Pak Tito dan Istri membangun hubungan baik kepada pemakai terminal dengan menjaga dan membersihkan toilet umum terminal. Amanah yang bagi sebagian orang dipandang rendah itu, tidak membuat Pak Tito dan istrinya kelu.
   
Kebersahajaan hidup membuat Pak Tito dan keluarganya memiliki keyakinan bahwa di setiap rezeki yang diberikan kepada mereka, ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Mereka yakin, infak harta menjadi pilihan turut bertanggung jawab terhadap situasi dan kondisi masyarakat.
Umaruddinul Islam, manager LAZ LAMPUNG PEDULI, mengapresiasi langkah Pak Tito dan keluarga yang peduli dengan masyarakat dengan ikut berdakwah melalui Sajada.

“Apalah arti Rp15.000/minggu kalau kita bawa ke mal? Namun,  dengan dana sebesar itu ada peluang pahala dengan turut berdakwah kepada 50 orang melalui Sajada,” pungkas Umar.

Thursday, May 8, 2014

Infak Pemersatu Umat

Rini Kurniawati, J. Panti Utama/Teraslampung.com

Slamet Syamsuri (paling kanan) bersama sebagian pengurus TPQ Mar'atush Sholihah, Srimenanti, Lampung Timur bersama Manajer LAMPUNG PEDULI Umaruddinul Islam (kedua dari kiri)
BANDARLAMPUNG - Sedikitnya 17.000 buruh migran Indonesia (BMI) asal Lampung mengadu nasib menjadi pekerja di sektor informal di luar negara demi kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung Timur kabupaten termiskin di Lampung. Jumlah BMI nya pun tertinggi di Lampung.

"Kabur" dari kampung halaman "yang kering", bukan berarti BMI asal Lampung Timur ini tidak memiliki keinginan untuk memajukan daerahnya. Mar’atus Sholihah, perkumpulan BMI asal Lampung di Hong Kong membuktikan itu.
           
Dikungkung keterbatasan jauh dari negeri sendiri, di tengah perjuangan di Negeri Beton, para penyumbang devisa Negara ini masih bermimpi membangun negera. Mereka menyisihkan sedikit dari upah jerih payahnya sehingga terkumpul sejumlah dana untuk tujuan yang mulia. Membangun  Taman Pendidikan Quran (TPQ) untuk anak bangsa menimba ilmu agama.
           
Pengujung 2012, LAMPUNG PEDULI mendapat kepercayaan dari Mar’atus Sholihah untuk menyalurkan dana mereka. Setelah melalui penilaian kelayakan dan kebutuhan, dana ini disalurkan untuk membangun TPQ di Desa Sri Menanti, Kecamatan Bandar Sri Bhawono, Lampung Timur.
           
Para siswa-siswi TPQ Desa Sri Menanti, Kecamatan Bandar Sri Bhawono, Lampung Timur.
Daerah ini dipilih karena banyak penduduk desa yang menjadi BMI. Anak-anak usia sekolah yang ditinggalkan sang ibu sangat banyak. Anak-anak ini pun membutuhkan bimbingan keagamaan yang intensif.
           
Menurut Slamet Syamsuri, tokoh masyarakat setempat, sebelum ini TPQ sudah berjalan. “Selama ini anak-anak belajar di selasar masjid,” ungkapnya.
           
Sumbangan dari Mar’atus Sholihah  yang LAMPUNG PEDULI kelola membawa angin segar bagi pengurus TPQ. Dana yang ada, ditambah dengan swadaya masyarakat dan sumbangan dermawan setempat yang direncanakan sedemikian rupa, akhirnya berdirilah gedung TPQ. Dua kelas dan satu  ruang kantor pengajar dengan kekuatan konstruksi untuk dua lantai, TPQ itu mewarnai halaman Masjid Miftahul Huda, Desa Sri Menanti.
           
“Walaupun belum selesai total, TPQ langsung digunakan sesat setelah berdiri. Bahkan, jumlah santri bertam-bah 2 kali lipat,” tutur Slamet. Sebelum gedung TPQ dibangun, jumlah santri baru 60 orang. Sekarang sudah mencapai 120 orang. “Karena ruangan belum cukup, terpaksa selasar masjid dipakai lagi,” lanjutnya sambil tersenyum simpul.
           
“Alhamdulillah, keberadaan TPQ ini bisa menginspirasi siapapun kita, di mana pun kita, untuk turut membangun negara,” ungkap Umar. "LAMPUNG PEDULI siap menyampaikan amanah anda hingga pelosok Lampung."
           
Cukup lama umat Islam di sekitar masjid Miftahul Huda itu pingin punya TPQ tersendiri. Agar tidak kehujanan atau kepanasan. Kini impian umat terwujud melalui infak umat di sekitar masjid hingga umat Islam asal Lampung di Hong Kong yang sedang mengadu nasib.
           
"Semoga persatuan ini Allah swt langgengkan hingga akhirat kelak," doa Nur Halimah ketua Mar'atush Sholihah atas nama BMI Hong Kong asal Lampung. (Lampung Peduli)


Wednesday, April 30, 2014

Zakat dan Infak, Anda pun Bisa Memanen Padi

Bandarlampung, Teraslampung.com - Saban tahun, luas lahan pertanian Lampung selalu berkurang hampir 100 hektare akibat alih fungsi lahan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010, luas lahan pertanian di Lampung sekira di angka 474 ribu hektare. Tahun 2013, luas lahan tinggal 327.835 hektare!

Penurunan lahan ini berpengaruh terhadap produksi bahan pangan, terutama padi. Masyarakat terkecoh untuk mengalihfungsikan lahan karena memberikan keuntungan yang lebih menjanjikan. Ketiadaan modal di awal musim menjadi alasan lain petani enggan bersawah, alih-alih menggadaikan sawahnya: kalaupun tetap menanam, mereka terpaksa meminjam modal dari rentenir!

Kondisi masyarakat desa yang terus-terusan tergerus budaya instan ini menggerakkan LAMPUNG PEDULI untuk melestarikan usaha pertanian demi  turut swasembada pangan. Selain itu,mengikis ketergantungan terhadap rentenir dengan memberikan alternatif penyediaan modal dari sumber yang halal. Dana zakat, infak/ sedekah (ZIS) disalurkan kepada petani untuk modal “nyawah”. Modal yang baik demi memanen hasil yang baik.

Musim tanam kali ini, 87 mitra tani duafa LAMPUNG PEDULI yang mukim di Siraman, Pekalongan, Lampung Timur siap panen di atas lahan 55,75 hektare.

Ahad (27/04), secara simbolik, panen raya 55,75 hektare sawah warga Siraman yang bergabung dalam program Pertanian Unggul (Tanggul) LAMPUNG  PEDULI digelar. Diawali tasyakuran yang diadakan pada Sabtu (26/04) dengan pengajian dan pemotongan tumpeng. Acara pun dihadiri kepala desa Siraman, Bambang Heriyanto yang berharap warganya terus didampingi dan dibina LAMPUNG PEDULI.

Umaruddinul Islam, manajer LAZ LAMPUNG PEDULI menyambut baik harapan kepala desa dan petani.

Selain pemberian modal, program Tanggul juga memfasilitasi pertemuan mitra untuk meningkatkan wawasan keagamaan, sosial, pertanian dan kebangsaan. Khusus penguatan keagamaan diberi peningkatan kesadaran untuk menunaikan zakat dan infak/sedekah.


“Alhamdulillah, hampir  tiga  tahun pendampingan, hasil panen memuaskan. Terima kasih donatur, ibadah dan kepedulian Anda tidak saja menyemai pahala, namun turut memberi duafa memanen cita-cita,” kata Umar di sela pemanenan perdana di demplot LAMPUNG PEDULI. (Rini Kurniawati/Editor: Juperta Panji Utama

Monday, April 28, 2014

Mahasiswa pun Sedekah Darah

Bandarlampung, Teraslampung.com--Matahari mulai merangkak punggung pagi yang cerah. Sebuah kampus di bilangan Sukarame masih lengang. Kesunyian melengkapi keseriusan pekan ujian tengah semester (UTS). Namun, pojok parkiran di perpustakaan utama kampus itu meramai. 

Beberapa mahasiswa mengatur kursi-kursi plastik merah. Sebagian merapikan kendaraan roda dua yang terparkir. Spanduk yang membentang seakan mewakili kesibukan mereka: DONOR DARAH.

Tepat pukul 09.00 WIB, bus PMI Lampung memasuki  parkiran. Kesibukan makin menjadi. Petugas PMI segera menyiapkan perlengkapan untuk donor. Panitia turut membantu. Mahasiswa yang berminat untuk mendonorkan darahnya mulai mengisi lembar registrasi dan formulir.

Kamis (17/4), kampus yang bernama IAIN Radin Intan itu pun ‘banjir darah’. Normalnya, donor darah dibatasi waktu tiga jam setelah pengambilan darah pertama. Artinya, tepat pukul 12.00 WIB, pengambilan darah harus dihentikan.

Namun, semangat awak kampus untuk SEDEKAH DARAH cukup tinggi. Hari menjelang siang pun tak me-nyurutkan pengantre yang memanjang. Kantong darah yang disediakan pun kurang!

“Alhamdulillah, peserta melampaui target,” ungkap koordinator kegiatan , Arif Gangsal, mahasiswa setempat yang juga penerima program beastudi dari LAMPUNG PEDULI.  "Kami menargetkan 39 pendonor saja. Tetapi ternyata terdaftar 3 kali lipat. Alhasil, setelah pemeriksaan, terkumpul 77 kantong darah!

Menurut Tim PMI, ketersediaan darah di PMI selalu berhadapan dengan keterbatasan. Bahkan sering terjadi kekosongan stok darah.

Manajer LAZ LAMPUNG PEDULI Umaruddinul Islam mengapresiasi apa yang dilakukan rekan-rekan mahasis-wa IAIN. “Sebelumnya, rekan-rekan yang tergabung dalam beastudi LAMPUNG PEDULI itu sudah terlebih dahulu berpartisipasi dalam kegiatan donor darah sebagai peserta. Kini saatnya mereka menginspirasi yang lain dengan sebagai penyelenggara kegiatan."

LAMPUNG PEDULI, harap Umar, kemitraan yang baru dibangun dengan mahasiswa semakin menunjukkan sinergitas komponen bangsa. “Dengan demikian, semakin banyak program-program LAMPUNG PEDULI yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat di banyak bidang bidang.”

"Sedekah Darah", ungkapnya, cara LAMPUNG PEDULI menghidupkan kepedulian kepada sesama tanpa harus "mengeluarkan" harta. ( Rini K/Juperta Panji Utama/Lampung Peduli)


Monday, March 24, 2014

Pak Zaini, Riwayatmu Kini

Juperta Panji Utama/Teraslampung.com

Pak Zaini bersama istri, Teguh Prasetyo (pegiat Save Daswati), dan pengurus LampungPeduli. 
Bandarlampung—Ahmad Zaini mencoba tegak berdiri. Sang istri membimbing langkahnya dari sebelah kiri. Di sebelah kanan, tongkat besi mulai setia menemani. Mereka menuju kursi plastik di bawah tenda sederhana yang disediakan Lampung Heritage, penyelenggara diskusi #SAVEDASWATI, Minggu pekan lalu (16/3).

Batik yang dikenakan Pak Zaini, begitu ia disapa peserta diskusi, sudah mulai tak cerah. Persis tuanya dengan tas berisi arsip-arsip penting yang ia tenteng.Tidak tampak bila beliau salah satu “pahlawan” pendiri Provinsi Lampung. Namanya pun tidak popular bak selebritas atau tokoh. Di Lampung saja, namanya kalah tersohor dengan nama calon legeislatif yang mejeng di pohon-pohon!

Begitulah nasib sebagian besar “pahlawan” kita hari ini. Pak Zaini satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan kemajuan zaman. Pahlawan ketika berjuang memang tidak pernah berniat namanya tenar dan patut dikenang.

Mereka terbiasa bekerja dan berkarya hanya untuk kejayaan Indonesia. Mereka tak pernah berfikir di kemudian hari gelar pahlawan melekati nama mereka. Jangan heran, pemberian gelar pahlawan pada masa kini harus didukung dengan bukti-bukti otentik, bukan sekadar pengakuan pribadi.

Mancari bukti-bukti otentik yang menyatakan bahwa Pak Zaini adalah pahlawan tentu tidak mudah, mengingat pemerintah negeri ini sudah mulai rabun dalam memandang sejarah dan kebenaran.

Jangankan kisah Pak Zaini yang sudah puluhan tahun lewat, kisah para atlet yang mengharumkan negeri ini dengan bukti  sederet piala penghargaan saja masih sering lepas dari perhatian pemerintah, terutama pemerintah daerah.

Pengakuan Pak Zaini, dirinya salah satu dari  dua belas orang anggota persiapan pembentukan Daerah Swatantra Tingkat (Daswati) I Lampung.

Lelaki kelahiran Tebingtinggi, 5 Mei 1934 ini mengisahkan keterlibatannya di dalam penitia Daswati  I Lampung berawal dari ajakan Achmad Ibrahim. Sejak itulah beliau selalu mengikuti kegiatan rapat yang diadakan di kediaman Achmad Ibrahim di Jalan Tulangbawang, Enggal, Bandarlampung.

Panjang kisah yang dituturkan Pak Zaini pada tahap awal perjuangan pemisahan Lampung dari Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Ujungnya, perjuangan itu membuahkan hasil kala timnya itu  bertemu dengan Presiden RI Soekarno di Istana Bogor pada 10 Mei 1963.

Pertemuan dengan Bung Karno itulah yang menjadi kenangan tak terlupakan baginya. Fotonya ia pajang di rumah tipe sederhana atas kebaikan mantan Gubernur Lampung Oemarsono.

“Saya sakit hati ketika pernah ada orang yang menyebut kalau foto itu bohong,” ujarnya menahan air mata ketika LAMPUNG PEDULI berkunjung di rumahnya yang ditempati tiga KK.

Pada 13 Februari 1964 terbitlah Perpu No. 3 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daswati I Lampungyang berdiri sendiri, memisahkan diri dari Sumbagsel. Usai itu Zaini pun seperti tertelan hiruk-pikuk perpolitikan masanya sampai Gubernur Lampung Oemarsono pada tahun 90-an ingin menetapkan ulang tahun Lampung, Pak Zaini orang yang bisa menunjukkan dokumen yang berkaitan dengan pembentukan Provinsi Lampung.

“Saya sudah lama tidak pernah lagi mendapatkan undangan memperingati ulang tahun Lampung. Terakhir di masa Gubernur Oemarsono dan Tursandi Alwi,” aku Pak Zainiyang mengisi waktu bersama istri, anak-cucu, dan beribadah ke masjid yang tak jauh datri rumahnya di Perumahan Karunia Indah, Sukabumi, Bandarlampung.

Thursday, March 20, 2014

Dari Lampung untuk Korban Sinabung

Rini K/Lampung Peduli

Bandarlampung-
-"Aku mau sekolah, Bang,” ujar seorang bocah kepada Tim Ubah Arah LAMPUNG PEDULI, yang melawat korban erupsi Sinabung. Keceriaan yang terbit sebelumnya tatkala menggocek bola bersama rekan-rekan seusianya seolah sirna. “Sudah lama aku tidak sekolah,” keluhnya mengundang iba.

Di tepi lapangan, segerombol anak–anak perempuan bermain lompat tali. Memanfaatkan karet gelang bekas pengikat bungkus makanan. Debu–debu bercampur abu yang beterbangan seolah ikut meramaikan suasana.

Aura kebosanan seolah–olah melingkupi pengungsian yang tersebar di tempat– tempat ibadah di sekitar Gunung Sinabung.

Sejak letusan besar pada 21 Januari 2014 , warga radius 3 KM belum diperbolehkan kembali ke rumah. Warga pun mondok di pengungsian. Menggantungkan diri kepada uluran tangan para dermawan.

Masa gawat darurat dianggap pemerintah telah lewat, tapi dari kejauhan masih terlihat asap hitam mengepul di puncak gunung pada medio Maret.

Keberadaan LAMPUG PEDULI (LP) di Karo, Sumatera Utara, mengantar donasi kemanusiaan masyarakat Lampung untuk korban Sinabung secara langsung.

Terbatasnya dana masyarakat yang terkumpul memaksa LP berkreasi agar bantuan benar-benar berguna, bermakna, dan tepat sasaran. Penyaluran paket pendidikan untuk pelajarlah yang LP lakukan selain tambahan sembako.

Sebagai lembaga kemandirian sosial dan kemanusiaan lokal, sejak pendiriannya tiga belas tahun silam, LP berjuang untuk menggenjot kepedulian sosial masyarakat Lampung lebih cepat lagi.
“Walaupun masyarakat masih mudah teralih isu,” ungkap Umar, manajer LAZ LAMPUNG PEDULI.

“Contoh paling dekat bencana Sinabung yang disusul bencana Kelud. Masyarakat yang awalnya membantu Sinabung, berubah haluan berempati kepada korban Kelud.”

LAMPUNG PEDULI mengajak masyarakat untuk menunaikan ibadah hartanya, menyalurkan kepedulian sosialnya sepanjang waktu melalui koordinasi lembaga yang dipercaya. Bencana tidak memilih waktu maupun korbannya untuk dijadikan seketika duafa.

Sahrul, tokoh masyarakat yang setia menjaga Posko Masjid Agung Karo, mengucapkan terima kasih untuk bantuan masyarakat Lampung. "Hanya Allah yang membalasnya," ujarnya.

|Editor: Panji Utama

Wednesday, March 12, 2014

Mahasiswa Siap Berdakwah

Rini K

Bandarlampung, Teraslampung.com--“Salah satu guru saya pernah berkata, jika kita grogi saat berbicara di depan publik, anggap saja yang berada di depan kita adalah kambing,”  ucap mahasiswa yang didaulat bertausiyah singkat di hadapan rekan-rekannya sesama penerima manfaat Pro-gram Beastudi LAMPUNG PEDULI (BaLaP), di Ruang kelas Cerdas LAMPUNG PEDULI (LP), Ahad (9/3).

“Jadi, mohon maaf, jika saya menganggap teman-teman kambing,” ungkapnya diiringi derai tawa “ikhlas” rekannya.

Sejenak saja, ia menjelaskan maksud sebenarnya, bukan untuk menyamakan manusia dengan kambing, tetapi untuk membuat perbedaan jelas, jangan sampai manusia berkelakuan kambing! “Kalau kambing ditawari seonggok emas dan  sekarung rumput,  pastilah kambing memilih rumput. Padahal, kalau memilih emas, dia bisa beli rumput lebih banyak,” bebernya dalam logat Lampung yang kental.

Abizar nama mahasiswa tersebut. Kuliah pada semester VI IAIN Radin Intan Jurusan Pendidikan Biologi.

Sekira tujuh menit ia menyampaikan petuah, guyonan segar selalu meniti bijaksana bibirnya. Rekan-rekannya tidak merasa digurui, meskipun ada kalimat-kalimat yang menyentil.

Kepiawaian Abizar mengolah kata dan menyampaikan rasa, menggugah  asa LP. Umaruddinul Islam, manajer LAZ LAMPUNG PEDULI, yang setia mendampingi pembinaan mingguan sekalipun baru usai dari lawatan siaga bencana di Sinabung menyatakan hal itu.

“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, salah satu misi LP mempersiapkan da’i andal bisa terlaksana. Pembinaan mingguan penerima BaLaP menjadi ajang mengeluarkan potensi mahasiswa untuk siap menjadi public speaker dalam segala bidang, termasuk berdakwah,” jelas Umar.
           
Lebih lanjut, Umar berharap, mahasiswa–mahasiswa ini setelah menyelesaikan kuliahnya, menjadi orang–orang yang tidak hanya ekspert di program studi nya,  juga bisa menjadi penyeru kebaikan di mana pun mereka berada.
           
“Program ini masih bisa berjalan hingga hari ini, tak lepas dari uluran tangan donatur yang menyisihkan sebagian rezekinya melalui LAMPUNG PEDULI,” pungkas Umar seraya mengucapkan terima kasih tiada batas.
           

Penerima beastudi di LAMPUNG PEDULI selain menerima dana belajar bulanan, mereka juga mendapat bimbingan meningkatkan kualitas diri, iman dan Islam saban minggu. (Lampung Peduli)

Editor: Juperta Panji Utama

Sunday, March 2, 2014

Bersaing Meraih Sekolah Gratis Bermutu

Rini/Teraslampung.com

Bandarlampung—Keinginan masyarakat menyekolahkan putra-putrinya mengenyam pendidikan di sekolah ber-kualitas menyentuh pelosok Lampung.  Pencarian bibit-bibit unggul berprestasi pun bersambut. Sebulan lamanya, LAMPUNG PEDULI (LP) mempromosikan SMART Ekselensia Indonesia (SEI), sekolah menengah akselerasi berasrama gratis untuk siswa berprestasi, namun lemah dukungan ekonomi keluarga. SEI adalah salah satu program pendidikan DOMPET DHUAFA, induk nasional LP.

Akhir Januari 2014, pendaftaran ditutup. Pertengahan Februari, hasil seleksi berkas diumumkan. Seleksi yang terbuka secara nasional ini meluluskan sepuluh siswa asal Lampung dan berhak mengikuti seleksi tahap berikutnya.

Umaruddinul Islam, Manajer LAZ LAMPUNG PEDULI, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2004, LP sudah menjadi mitra SEI untuk seleksi di wilayah Lampung.

Untuk menjadi siswa SEI, harus melalui seleksi yang ketat. “Setelah lulus seleksi berkas, calon siswa harus mengikuti seleksi akademik,” jelas Umar.

Materi yang diujikan meliputi pelajaran matematika, Agama Islam, dan Bahasa Indonesia. “Jika dinyatakan lulus, mereka masih harus menjalani tes psikologi dan home visit,” lanjut Umar.

Penyaringan siswa berlapis ini, beber Umar, diterapkan untuk mendapatkan calon siswa yang tepat. Calon siswa yang lulus tidak hanya berprestasi secara akademik, juga memiliki kesiapan mental untuk berpisah dengan orang tua. Demikian juga sebaliknya, orang tuanya ikhlas untuk mengantar anaknya belajar ke seberang.

Seleksi akademik dilaksanakan secara serentak, baik oleh panitia pusat maupun panitia daerah. Seluruh peserta asal Lampung mengikuti tes yang diselenggarakan pada Minggy (16/2).

Peserta yang lolos seleksi tahap pertama asal Lampung didominasi dari Way Kanan, sebanyak empat siswa. Selain itu, Lampung Selatan dan Bandarlampung di-wakili 2 anak. Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah masing-masing satu anak.

“Aku siap tes hari ini,” ungkap Yogi, peserta dari Tanjungbintang, Lampung Selatan. “Aku mau sekolah di SEI, supaya pintar,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai materi tes, sambil meringis ia mengatakan bahwa soal-nya sulit, namun ia berusaha mengerjakan sungguh-sungguh. Meskipun berasal dari daerah, Lampung memiliki putra-putra yang berkualitas. Semenjak bermitra dengan SEI, setiap tahunnya Lampung menempatkan siswa di SEI.

Tercatat sedah tiga angkatan siswa Lampung yang lulus. Angkatan pertama satu orang, sekarang kuliah di UNHAS Sulawesi Selatan. Angkatan berikutnya dua orang, kedua-duanya kuliah di UNPAD. Angkatan ketiga, seorang orang di UPI, seorang di UNIBRAW, dan seorang di UNDIP. Sedangkan siswa yang sedang menempuh pendidikan di SEI ada 15 orang.

“InsyaAllah, anak-anak ini menjadi harapan keluarga. Menjadi calon pemimpin bangsa. Memfasilitasi pendidikan terbaik untuk anak-anak duafa yang berpotensi adalah investasi masa depan untuk negeri. terima kasih kepada donatur yang mendukung program LP ini,” tekad Umar menutup perbincangan. (LP)


Wednesday, February 19, 2014

LAMPUNG PEDULI Berjaringan Dunia

Rini/Lampung Peduli
 
LAMPUNG PEDULI (LP) tidak main-main dalam mengembangkan kapasitas lembaga maupun pengembangan dan penguatan amil sebagai upaya meningkatkan layanan dan kepercayaan umat.

Untuk itu, menjelang usia LP yang ke-13, LP bergabung ke dalam Association Fundraising Professional (AFP) International melalui AFP chapterIndonesia pada acara “Retret AFP”, Sabtu (15/2) Di Hotel Mercure, Jakarta.

Sebagai lembaga sosial,  dikenal sebagai NGO (non goverment organitation), ke-berlangsungan LP sangat ditunjang dengan dukungan para donatur.

Fungsi fundraiser, penghimpun “sumberdaya”, sangatlah penting. Hal itu beriringan dengan program LP yang terus meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Pada acara yang juga mengukuhkan anggota baru AFP Chapter Indinesia, LP menjadi satu-satunya perwakilan NGO Indonesia dari luar Jawa.

Pertemuan itu menghadirkan narasumber Andrew Watt, President and CEO AFP International, Susan Madon, President AFP Chapter Hongkong, dan Vincent Law, AFP International Board Member.

Pertemuan yang berlangsung  akrab dan hangat ini membahas  fundraising lembaga filantropi, termasuk kondisi jatuh bangun NGO di Indonesia.

Andrew Watt dalam pemaparannya menjelaskan beberapa komitmen AFP dalam fundraising filantropi, yaitu: to support fundraising, provide the tools to fundraise, ethical framework, and public education. “The most important is, fundraising is community engagement,” ungkapnya.

Keterlibatan masyarakat, yakinya, akan memberikan dampak sosial yang melahirkan tanggung jawab bersama sehingga menjamin keberlangsungan hidup lembaga filantropi.

AFP retreatdiselenggarakan Institute of Fundraising Indonesia (IFI) bersinergi dengan AFP Internasional. Selain LP, hadir dalam acara itu perwakilan dari Dompet Dhuafa, Unika Atmajaya, Yayasan Bhumiksara, International Award for Young People Indonesia, ABBR (Ayoberbuatbaik), Baitul Mal Tazkia, ACT Indonesia, Yayasan Tahija, Independent Advisor, dan Yayasan Ronal Mc Donald. Semuanya anggota AFP terdahulu dan telah berkiprah banyak di Indonesia maupun mancanegara.

Bagi LP, aku Juperta P. Utama, penggagas LP, menjadi bagian dari AFP bukan sekadar menunjukkan keberadaan LP saja, melainkan merupakan investasi sosial jangka panjang.

Menurut lelaki yang masuk “100 Tokoh Lampung” versi Lampung Post itu, AFP menjadi wahana belajar, mengembangkan diri dan menguatkan kemampuan fundraising serta menjalin relasi dengan NGO-NGO di Indonesia, bahkan di dunia. “Semuanya untuk kemajuan Lampung dan kemandirian Indonesia.”

Umaruddinul Islam, manajer LAZ LP, mengungkapkan, “LP bermimpi menjadi lembaga yang bermanfaat bagi kemajuan masyarakat. Itu sangat bergantung dari peran aktif dan kepercayaan donatur terhadap program-program yang dijalankan LP. Selain itu, mendorong organisasi lokal untuk turut dalam memberi solusi bagi problem yang diemban masyarakat atas kemampuan fundraising mandiri.”

Sesungguhnya, ujar lelaki alumi Sosial Entreupreunership Leader itu, penggerak kemajuan dan kemandirian masyarakat bukan hanya pemerintah, melainkan masyarakat itu sendiri. “Kesadaran saling peduli satu sama lain perlu disuburkan. Hingga iklim filantropis menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat itu sendiri.”

Sebagai perwakilan DOMPET DHUAFA di Provinsi Lampung, sejak lahir LP sudah “diarahkan” untuk berkiprah tidak saja pada cakupan lokal, nasional, atau regional. “Selama ini, partisipasi masyarakat Lampung untuk korban bencana alam/kemanusian di Jalur Gaza, Mesir, Hong Kong, Myanmar, misalnya, sudah dilaksanakan LAMPUNG PEDULI,” pungkas Umar membeberkan peran fundraising yang pernah dilakoni LP.


Sunday, February 16, 2014

Membantu Orang Miskin dengan Pemberdayaan

Bandarlampung, teraslampung,com--“Kalau ingin membantu orang miskin, berilah pancing, jangan beri mereka ikan”. Kalimat alegoris ini benar-benar diterapkan oleh Lembaga Amil Zakat Lampung Peduli. Lembaga yang banyak membantu orang miskin melepaskan diri dari kemiskinan lewat pengelolaan zakat, dan sedekah ini kini menjadi salah satu donatur bagi orang miskin.

Berdiri di Bandarlampung pada 17 April 2001, lembaga yang menekankan memberikan pemberdayaan kepada orang miskin ini kini menjadi model filantropi dan penyaluran bantuan bagi beberapa lembaga. Keberhasilan orang-orang yang dibantu Lampung Peduli menjadikan lembaga yang kini mengelola dana infak dan sedekah sebesar Rp 200 juta/tahun dan zakat sebesar Rp 154 juta/tahun ini menjadi tempat belajar banya pihak, baik itu LSM, lembaga pemerintah, maupun lembaga sosial lainnya.

“Dana yang kami kumpulkan dan kami salurkan memang jauh lebih kecil dibanding bantuan langsung tunai (BLT), bantuan operasional sekolah (BOS), dana beasiswa untuk anak terancam putus sekolah, dana jaring pengaman sosial bidang kesehatan (JPS-BK), atau bantuan sejenis yang diberikan oleh pemerintah daerah. Namun, kami sangat bersyukur karena sebagian besar orang miskin yang kami bantu benar-benar bisa keluar dari masalah kemiskinan,” ujar Juperta Panji Utama, direktur Lampung Peduli.

Menurut Panji, dana dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota di Lampung sebenarnya sudah cukup untuk menyelamatkan penduduk miskin dari kemiskinan. Ditambah dengan aneka dana bantuan yang dianggarkan pemerintah pusat untuk keluarga miskin, menurut Panji, seharusnya tidak ada alasan kalau angka kemiskinan di Lampung tak juga berkurang.

Panji mengaku banyak program bantuan yang tidak terintegrasi sehingga peluang tumpang tindihnya bantuan sangat besar. Sebuah kelompok masyarakat sudah dibantu program bantuan pemerintah pusat, misalnya, sering masih mendapat kucuran bantuan dari pemerintah daerah.

“Itu karena tidak ada need assessment dan pendampingan, akibatnya justru banyak terjadi kasus penyelewengan dana,” kata Panji.

Menurut Panji dana bantuan dari pemerintah itu umumnya diberikan begitu saja tanpa pendampingan, pemantauan, dan evaluasi. Akibatnya, dana yang diberikan itu langsung habis dan tetap gagal menyelamatkan penduduk miskin.

“Orang miskin tetap banyak, bahkan cenderung bertambah tiap tahunnya karena bertambahnya jumlah pengangguran. Itu karena pemerintah memberikan dana ibarat memberikan ikan. Dana diberikan bukan untuk memberdayakan rakyat miskin,” katanya.

Slamet dan kebunnya (dok LP)
Panji mengatakan, untuk memberikan bantuan kepada warga miskin agar mereka bisa mandiri harus melakukan need assesment lebih dulu. Setelah hal yang paling dibutuhkan oleh calon penerima bantuan itu diketahui, pihak Lampung Pedulu akan memberikan kebutuhan tersebut. Setelah itu, selama enam bulan orang yang menerima bantuan peralatan akan diberi tunjangan untuk mencukupi kebutuhan pokok.

“Kalau petani miskin butuh pompa air, ya kami berikan pompa air, bukan televisi atau uang tunai. Kalau diberi uang tunai akan langsung habis,” ujarnya.

Panji mencontohkan Slamet, 40, ayah empat orang anak yang kini berkebun di tanah milik orang lain dengan sistem pinjam gratis. Sebelum menerima bantuan pompa air dari Lampung Peduli, petani sayur-mayur yang rumahnya masih berdinding geribik dan berlantai  tanah itu mengalami kesulitan pada musim kemarau.

”Sekarang produksi sayuran milik Pak Slamet meningkat karena pengairannya terjamin. Meskipun rumahnya geribik bambu, semua anak Slamet masih sekolah,” kata Panji.

Bantuan yang diberikan oleh Lampung Peduli sebenarnya terfokus pada para siswa dan mahasiswa miskin berprestasi yang terancam drop out. Penerima yang bukan siswa dan mahasiswa biasanya adalah mereka yang karena pertimbangan tertentu harus dibantu. Misalnya, pedagang kecil yang terjerat utang pada rentenir, penjahit yang perlu bantuan peralatan, atau petani yang sangat membutuhkan alat pertanian.

”Kalau orang miskin pada umumnya sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tapi, aneka bantuan itu kan tidak terintegrasi dengan baik sehingga bantuan itu seperti halnya menggarami lautan (sia-sia). Lebih parahnya lagi, bantuan itu banyak bermuatan politis,” ujarnya.

Dengan mengandalkan dana yang dihimpun dari para wajib zakat, selama ini Lampung Peduli sudah menyelamatkan ratusan siswa dan mahasiswa miskin dari ancaman drop out. Mereka umumnya siswa yang berprestasi. ”Salah satu siswa SMA yang kami bantu sekarang kuliah di Universitas Lampung. Dia sekarang juga membantu menjadi amil (pengumpul uang zakat) di Lampung Peduli,” kata Panji.

Salah satu kendala pengumpulan dana publik, kata Panji, adalah meyakinkan orang bahwa dana yang dikumpulkan akan sangat membantu orang miskin dari keterpurukan.

 ”Tetapi kalau kita transparan dan tidak melakukan korupsi, orang sebenarnya mau memberikan zakat. Persoalannya bagi orang muslim di Indonesia, pengetahuan tentang zakat masih rendah sehingga banyak orang kaya yang tidak mengeluarkan zakat,” kata dia.

Untuk mengumpulkan dan menyalurkan dana zakat,  Panji mengaku dibantu oleh empat orang staf yang siap mengambil uang zakat dan menyalurkannya hingga ke pelosok Lampung.

Panji mengaku banyak kisah suka-duka dalam mengelola uang sumbangan. Kerap terjadi, kata Panji, Lampung Peduli harus mengantar bantuan ke daerah terpencil, padahal pemberi dana tidak memberikan ongkos untuk mengantar uang.

”Pernah suatu ketika orang yang memberikan zakat berpesan agar bantuan Rp 3 juta diberikan kepada sebuah sekolah dasar di Pagardewa, Kabupaten Tulangbawang. Kami harus naik perahu untuk melintasi sungai. Sekolah miskin yang bangunannya hampir roboh itu memang di daerah terpencil,” ujarnya.

Selain memberikan bantuan kepada siswa dan mahasiswa miskin dari ancaman drop out, Lampung Peduli kini bekerja sama dengan  Lembaga Pengembagan Insani (LPI) Badan Amil Zakat Nasional-Dompet Dhuafa menjaring siswa SD yang miskin tetapi cerdas dan berpretasi untuk disekolahkan secara gratis di SMART Ekselensia Indonesial di Bogor, Jawa Barat. Pendidikan tingkat SMP—SMA yang umum ditempuh dalam enam tahun, di SEI ditempuh dalam 5 tahun. Lampung Peduli bertugas menjaring siswa miskin berprestasi, sementara LPI bertugas memberikan fasilitas pendidikan gratis.

”Tiap tahun kami memberangkatkan empat lulusan SD. Kami berharap, siswa dari keluarga miskin itu akan berhasil mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan,” kata Panji. (Dewira/Mas Alina Arifin)

Thursday, February 13, 2014

Mengelola Zakat Produktif

Umar/Lampung Peduli


“Assalamualaikum Pak Panji, sudah sampai di mana?” tanya Pak Sholihin, ketua pelaksana “Pembinaan Teknis Pengelolaan Zakat Produktif bagi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) se-Lampung Timur”, via hand phone ketika Tim LAMPUNG PEDULI (LP)  baru saja memasuki pelataran kantor Kemenag Kabupaten Lampung Timur yang jauh dari hiruk-pikuk penduduk.

Setelah mencari tempat yang tepat untuk memarkirkan kendaraan, Tim LP langsung menuju ruang yang ditentukan. Sesampainya di aula, semua kursi  penuh diduduki peserta.

Dalam acara tersebut, LP didaulat sebagai pembicara tunggal untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengelola dana zakat dan infak/sedekah (ZIS) untuk kegiatan ekonomi produktif kaum duafa.

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Timur, yang diwakili Bapak Masturi, S.Ag., menyatakan dukungan dan apresiasinya atas diselenggarakannya seminar zakat produktif.

“Lampung Timur ini menurut fakta lapangan dan data BPS adalah kabupaten termiskin di Provinsi Lampung. Karena itu, Kemenag Lampung Timur ingin menggali potensi dana ZIS untuk kegiatan produktif yang diharapkan mampu memberi perubahan signifikan bagi masyarakat Lampung Timur.”

Langkah awal yang dilakukan Kemenag Lampung Timur adalah dengan merevitalisasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lampung Timur dan UPZ tingkat kecamatan yang dikelola oleh tokoh agama dan penghulu se-Lampung Timur.

Setelah terbentuk UPZ kecamatan, maka diberikan pelatihan terencana, dengan fasilitas Kemenag Lampung Timur,dalam pengelolaan ZIS, utamanya pengelolaan zakat produktif.

Sebelum menyampaikan materi, Head of LAMPUNG PEDULI, Juperta P. Utama sebagai narasumber menekankan kepada peserta yang hadir untuk menjunjung nilai-nilai keislaman dalam menjalankan amanah sebagai seorang amil. “Paling tidak seorang amil harus memiliki tiga karakter dasar manusia unggul: disiplin, jujur, dan tidak egois. Dengan karakter itu, mudah-mudahan, seorang amil mampu mengelola dana ZIS sebagai upaya memproduktifkan kaum duafa.”

Meski hari makin siang, awal tahun 2014 yang  basah, tak menyu-rutkan antusias peserta pembinaan. Pada bagian tanya-jawab banyak peserta yang bertanya. Apalagi kala nara sumber mengarahkan peserta untuk saling mengungkapkan gagasan yang dapat diwujudkan sebagai upaya zakat produktif. Bahkan, kegiatan yang dijadwalkan selesai jam 12.00 harus dilanjutkan kembali setelah break salat dan makan siang.

Pada akhir pertemuan LP membuka kesempatan kerjasama kepada seluruh UPZ untuk sinergi program pemberdayaan masyarakat di tiap-tiap kecamatan yang menjadi binaan.

Bentuk kerja sama yang ditawarkan LP yaitu UPZ kecamatan yang telah memiliki dana program, akan mendapatkan tambahan dana program sebesar 10% dari total dana yang akan dikelola dari LP. “Selain itu, mendapat bimbingan teknis dan pendampingan selama program berjalan.

Kerja sama ini, beber Juperta, bertujuan  memaksimalkan peran UPZ dalam penyaluran dana ZIS secara produktif  melalui program pemberdayaan berbasis kelompok.

“Sebab, selama ini pengelolaan ZIS di masyarakat kebanyakan untuk program konsumtif,” aku Supri Hartono, salah satu peserta dari Pekalongan yang diamini peserta lainnya.

Juperta mengingatkan, dalam mengelola zakat produktif jangan buru-buru berorientasi hasil. “Fokuslah menikmati proses yang telah disepakati bersama. Apalagi duafa itu perlu  bimbingan untuk meraih kemandiriannya.”

Thursday, February 6, 2014

Belajar kepada Petani

Rini K/Lampung Peduli

BANDARLAMPUNG--Sayap-sayap kabut perlahan sekali menge-pak terbang ke langit yang masih temaram. Embun yang terikat di ujung-ujung rumput pematang sawah bersama kokok ayam mengantar subuh ke peraduannya. Aroma lumpur yang menggeliat dari pesawahan  memenuhi udara yang basah.

Di rumah seorang penduduk Dusun III, Desa Siraman, Pekalongan, Lampung Timur, keriuhan lahir jauh sebelum azan Subuh berkumandang. Beranda pun ber-denyut meningkahi dapur yang mengepul.

Sebagian jamaah salat Subuh yang belum lama lerai dari masjid sebelah rumah, bercengkrama ditemani seteko wedang jahe, seceret teh panas, undukan jagung rebus, singkong goreng dan sukun goreng. Pembahasan rencana tanam padi, biasa petani sebut tandur (tanam mundur), bertahta.

Pembicaranya bukan petani, melainkan maha-siswa yang kebanyakan berasal dari perguruan tinggi Islam binaan LAMPUNG PEDULI (LP).

Mereka sengaja didatangkan ke desa di pinggir jalan menuju ibu kota Lampung Timur dari arah Kota Metro itu untuk melihat, mempraktikkan penanaman padi seka-ligus berhubungan langsung dengan masyarakat desa yang juga masuk dalam Program Ekonomi Produktif yang dibina LP.

Ketika kudapan hangat berpindah alamat ke perut yang dingin secara tuntas, rombongan mahasiswa pun bergerak menuju sawah percontohan LP. Celoteh sepanjang perjalanan meyakinkan bahwa  antusiasme mereka tinggi terhadap acara yang hingga akan naik tidur semalam baru diberi tahu lengkapnya.

Tepat pukul enam, mereka tiba di sawah. Seorang petani sudah menanti di lokasi. Beberapa petani lainnya sudah masuk sawah dan membuat garis-garis jalur menanam padi. Sang petani pun hari itu didaulat menjadi instruktur tandur, mengajari mahasiswa yang belum pernah membenamkan kakinya ke lumpur sawah, meski mayoritas mereka anak petani!

Pak tani menjelaskan proses penanaman padi. “Padi termasuk tanaman yang mudan ditanam. Asalkan akarnya terkena lumpur, insyaAllah akan hidup,” ujarnya. “Ingat, jangan terlalu dalam membenamkan akarnya, kira-kira cukup satu ruas jempol saja,” lanjutnya.

Instruksi jelas. Lahan pun siap. Para mahasiswa menjadi petani sehari. Semua ikut berpartisipasi menanam padi. Tak ragu berkubang dalam pekat lumpur. Berlomba-lomba menanam mundur mencapai tepi pematang.

Ketika matahari memperjelas garis penanaman, sawah seluas 375m2 telah mahasiswa tanami padi. Gelak tawa dan canda petani-petani dadakan ini terus ber-derai. Apalagi saat sarapan diantar. Betapa nikmat sarapan usai bertanam padi.

“Kegiatan hari ini merupakan salah satu pembinaan mahasiswa penerima manfaat Program Beastudi LAMPUNG PEDULI (BaLaP 2013-1014). Belajar dari petani, mereka akan menyadari bahwa orangtua mereka di kampung harus bekerja keras untuk terus menyekolahkan mereka hingga ke perguruan tinggi. Kemiskinan tidak boleh berulang,” ungkap Umaruddinul, Manajer LAZ LAMPUNG PEDULI yang ikut mendampingi mereka.

Dengan demikian, imbuhnya, mahasiswa akan lebih menghargai diri sendiri dan mampu menempatkan diri di masyarakat.

Selain itu, Umar menjelaskan  Program Ekonomi Produktif di desa itu bernama  Pertanian Unggul (Tanggul). “Jadi, mahasiswa juga mengetahui program-program LP di masyarakat.

Hari itu, Kamis (22/1/2014), mahasiswa tidak saja belajar kepada petani mereka juga diingatkan untuk belajar kepada imbauan bijak: Belajarlah dari padi, makin berisi makin merunduk.

Adapun petani senang desa mereka didatangi mahasiswa, calon pemimpin masa depan. “Kalau mereka jadi pemimpin, kita turut bangga karena kita pernah bersama mereka belajar di desa,” ungkap seorang petani yang enggan namanya dikabarkan.