Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Wednesday, June 11, 2014

Bahasa Indonesia pada Dunia Maya dan Jejaring Sosial; Ancaman atau Peluang?

Syarifudin Yunus*

Hari ini dunia maya dan jejaring sosial makin membahana. Fakta bahwa pengguna internet di Indonesia hingga 2013 menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan  Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 71,19 juta orang .Jumlah tersebut berarti tumbuh 13 persen dibandingkan catatan akhir 2012 yang sebanyak 63 juta orang. Kondisi ini diperkuat dengan adanya 29 juta orang peng-akses internet secara mobile sebagai tanda tingkat produktivitas pemakaian bahasa. Proyeksi ini akan terus berkembang hingga mencapai 80 juta orang pada tahun 2014 ini.

Di sisi lain, jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia juga sangat besar. Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif hingga tahun lalu. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya. Selain Twitter,  jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah  Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.


Kondisi ini bertolak belakang dengan kenyataan adanya 15 bahasa daerah yang sudah punah dan 139 bahasa daerah yang terancam punah dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadikan pengguna bahasa memanfaatkan dunia maya dan jejaring sosial  sebagai sarana berkomunikasi yang cepat, murah dan praktis. Bahkan di 'musim' Pilpres 2014 sekarang, tidak sedikit kandidat Capres & Cawapres, Tim Sukses, maupun  simpatisan pendukungnya menggunakan dunia maya atau jejaring sosial sebagai alat propaganda untuk “menarik” dukungan publik.

Dalam hitungan detik, kita dapat terhubung ke seluruh penjuru dunia tanpa batas ruang dan waktu. Inilah yang dinamakan dunia maya. Kita dapat dengan mudah beranjang sana kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun asalkan memiliki dukungan teknologi yang dibutuhkan dan terkoneksi melalui internet. Jika saja teknologi mampu “bergerak cepat”,  kini ada persoalan bahasa yang muncul di dalamnya?

Bahasa merupakan medium utama pada setiap aktivitas komunikasi di dunia maya dan jejaring sosial. Bahasa memiliki peran yang sangat penting. Bahasa menjadi alat yang paling efektif dalam menyampaikan ekspresi setiap orang. Maka, bahasa pun menjadi sangat beragam.

Salah satu fenomena berbahasa yang paling pesat saat ini adalah penggunaan bahasa yang didukung oleh perangkat teknologi, khususnya bahasa yang digunakan pada dunia maya dan jejaring sosial, seperti internet, facebook, twitter, chatting, email, sms, dan sebagainya.

Penggunaan bahasa di dunia maya dan jejaring sosial inilah yang patut mendapat perhatian bersama, dari para praktisi dan pemerhati bahasa. Munculnya fenomena “bahasa alay”, maraknya bahasa dunia maya dan jejaring sosial patut disikapi dengan bijak. Khusunya di kalangan remaja dan anak muda.

Bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial semakin mendapat tempat di kalangan anak muda. Fenomena “bahasa alay” kini muncul menjadi bahasa pertama” di kalangan remaja daripada Bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena anak muda sekarang membutuhkan pengakuan akan eksistensi. Mereka hampir tidak punya ruang untuk mewujudkan eksistensi. Jadi, anak muda yang tidak memakai bahasa alay maka tidak dianggap sebagai anak gaul. Maka, status sosial seseorang menjadi faktor utama yang memengaruhi penggunaan bahasa (Meyerhofff, 2006:108).

Jadi, bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial menjadi ancaman atau peluang bagi Bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia adalah salah satu aset penting bangsa Indonesia. Kenapa? Karena Bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa resmi yang membantu berbagai suku di Indonesia untuk berkomunikasi secara baik (Mustakim, 1994 : 2). Memang, Bahasa Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berat seiring intervensi dan realitas penggunaan bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial yang bertolak belakang dengan prinsip penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mari kita simak salah satu contoh “bahasa alay” dalam status Facebook seorang anak muda:
haii, namaq aiiu (Ayu), quwtinggal dii dkeeet mumphunk (mampang) quw niie tmenndna kakag kaoo sii mhilaa, lam knall ya, oiyawh, aq single lowh. kaloo kmuu minadd maoo xmxx aq, xmx quuw jaa dii 0816xxxxxx, quwwtunggu yaachh !! aiiu-chann. XoXoo !

Ada juga yang menulis: “beiibbhskuw chayaanx!kuuw chaiang kalii ma kmuuwh, cnenxz beuudh niiy arii bsaa ktmuuw kmuwhh!!!! cmogaaa qtaa bsaa slamanaaablsamaaa….. nathaacwamiikuwww-loubhe chaaaduuds..20072009 tilltheendophtaimm.. lophelophe phorepherr.

Sungguh tidak mudah untuk memahami bahasa di atas. Namun apabila dikaji, tampak sudah ada kesepahaman dalam penggunaan kombinasi huruf dan angka untuk merujuk pada kata tertentu yang dimaksudkan. Tentu, kesepahaman ini tidak membutuhkan “Kongres Bahasa Alay” tetapi cukup dengan saling belajar dan meniru melalui sms dan media sosial lainnya.

Kita juga patut bersyukur generasi alay ini belum muncul saat perumusan Sumpah Pemuda tahun 1928. Bayangkan, jika generasi alay diberi mandat membuat teks Sumpah Pemuda maka kalimat-kalimat yang dihasilkan seperti berikut ini:

Smph PMd4
K54tu: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndn35i4 m3n64qu brt0mP4H d4Rh j4N6 54t03, t4n4h A1r 1ndn35i4
K
dw4: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndon35i4 m3n64qu brBngs4 j4ng 54t03 B4n654 1ndn35i4
KTi64: kaM1 p03tR4 d4n p03tr1 1ndon35i4 m3n64qu m3njUnj0En6 b4h454 pr54tU4n b4h45a 1ndon35i4

Hal yang menarik dari fenomena “bahasa alay” adalah salah satu lembaga survei besar di Indonesia menyatakan bahwa penggunaan “bahasa alay” dalam marketing produk, membuat para remaja tertantang untuk membacanya dan 83% dari mereka akhirnya tertarik dan memutuskan untuk membelinya! Promosi memakai bahasa alay = kenaikan penjualan, sungguh dampak yang luar biasa! Ciyusss? Enelan ….. Miapah, begitulah kata-kata bahasa dunia maya dan jejaring sosial yang sedang menjadi tren saat ini. Ada yang benar-benar benci dengan bahasa tersebut, ada yang apatis, ada yang senang-senang saja.


Bahasa dunia maya dan jejaring sosial

Satu hal yang pasti dalam bahasa dunia maya dan jejaring sosial adalah adanya peralihan dari komunikasi lisan menjadi komunikasi tulisan. Hal ini terjadi karena dilakukan melalui internet. Cara berkomunikasi ini yang mendorong terjadinya eksplorasi untuk memperkaya bahasa tulis yang dipakai, termasuk penggunaanemotikon sebagai simbol ekspresi tertentu. Dari segi sifatnya, bahasa dunia maya biasanya terjadi pada pemakai bahasa yang sudah saling kenal, meskipun berada di ruang publik. Penggunaan singkatan-singkatan yang umum, seperti km dan u untuk ’kamu’ atau ’Anda’; thx atau tks untuk ’terima kasih’; gpp untuk ’tidak apa-apa’; ce untuk ’cewek’; countuk ’cowok’, menjadi contoh adanya konsensus atau kedekatan emosional di antara pemakainya.

Bahasa dunia maya dan jejaring sosial telah menjadi realitas. Dalam konteks berbahasa, kita hanya perlu mencermati beberapa ciri bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial, antara lain:
1. Adanya sisipan istilah atau kosakata bahasa Inggris yang digunakan dalam konstruksi kalimat bahasa Indonesia, seperti: install, blogging, googling, dan sebagainya).
2. Adanya singkatan pada sebagian besar konstruksi kalimat yang digunakan, seperti: met pagi, pa kbr?
3. Kalimat yang digunakan relatif lebih singkat dan cenderung tidak lengkap.
4. Dihiasi dengan beragam bentuk emotikon sebagai simbol ekspresi wajah, di samping untuk menghadirkan nuansa emosi dalam komunikasi tulisan.
5. Disisipi dengan kosakata khas penyedia layanan tertentu di internet, seperti facebook, Google, Yahoo!, friendster, Wikipedia, dan lain-lain.
6. Tulisan mencampuradukan huruf besar, huruf kecil, angka, dan emotikon.
7. Tulisan sering ditambahkan huruf yang tidak perlu dan tidak penting.
8. Tidak ada pola baku yang diterapkan dalam penulisan bahasa dunia maya dan jejaring sosial.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, bahasa dunia maya dan jejaring sosial dalam bentuk kosakata, ejaan, atau singkatan pada dasarnya dapat dengan mudah dikreasikan oleh siapapun. Bahasa “gaya maya dan alay” telah menjadi bahasa pemersatu pergaulan kalangan anak muda dan remaja saat ini. Karena sifatnya yang santai, bahasa dunia maya dan jejarimg sosial perlu dikawal agar tidak merambah ke aktivitas komunikasi dan berbahasa yang bersifat formal. Inilah sikap penting yang harus dijunjung setiap pemakai bahasa.

Bahasa dunia maya; ancaman atau peluang?

Ada yang menerima, ada yang menolak penggunaan bahasa dunia maya dan jejaring sosial. Sebagian kalangan tetap “ngotot” pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, ada juga yang menganggap Bahasa Indonesia terlalu kaku dan terlalu banyak aturan. Di sisi lain, fakta membuktikan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hasilnya tidak cukup menggembirakan. Pada UN 2011 lalu, pelajaran Bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, bahkan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih menjadi bahasa yang sulit untuk digunakan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Jika demikan, salahkahkemunculan bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial? Tidak ada yang salah. Peradaban manusia, budaya, dan lingkungan/demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang (Meyerhoff, 2006:108). Sikap bangsa Indonesia terhadap Bahasa Indonesia cenderung ambivalen, sehingga terjadi dilematis. Artinya, di satu pihak kita menginginkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta menginginkan pemakaian yang baik dan benar, tetapi di pihak lain, kita telah melunturkan identitas dan citra bahasa sendiri dengan lebih banyak mengapresiasi bahasa asing sebagai lambang kemodernan (Warsiman, 2006:42-43).

Atas dasar itu, tidak heran jika kalangan muda dan remaja masa kini lebih cenderung menggunakan varian bahasa baru/asing sebagai bagian dari dinamika peradaban manusia.
Satu hal yang harus tetap disepakati adalah penggunaan Bahasa Indonesia yang bercampur kode dengan bahasa gaul, dunia maya, alay, slang, ataupun bahasa daerah selagi tidak dipakai dalam situasi formal tidaklah perlu dirisaukan. Namun, yang menjadi kerisauan kalau ragam formal bahasa Indonesia (baku) itu digunakan tidak sebagaimana mestinya (Nababan, 1993).
Jadi, bahasa dunia maya dan jejaring sosial akan menjadi ancaman apabila penggunaannya yang marak mulai merambah pada aktivitas berbahasa formal, baik lisan maupun tulisan. Selain itu, kita juga harus mencermati pergerakan bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial pada akhirnya memiliki “nilai ekonomi” yang semakin tinggi atau tidak? Karena bahasa yang memiliki “nilai ekonomi tinggi” biasanya langgeng dan tidak bersifat sesaat sehingga mampu menggeser keberadaan bahasa utama atau formal.

Di sisi lain, fenomena bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial dapat memberi peluang kepada Bahasa Indonesia untuk semakin menegaskan posisinya sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Setiap pemakai Bahasa Indonesia menjadi “hati-hati” terhadap perkembangan varian bahasa yang berkembang di masyarakat. Kita menjadi semakin “peduli” terhadap Bahasa Indonesia yang baik dan benar setelah munculnya fenomena bahasa dunia maya dan jejaring sosial.

Secara jujur, inilah momentum bagi pemakai Bahasa Indonesia untuk menerapkan pola tutur yang baik dan benar secara lisan maupun tulisan. Kita harus bersikap bangga terhadap Bahasa Indonesia dan selalu menjunjung tinggi kaidah pemakaiannya agar tidak hilang akibat dinamika peradaban manusia dan intervensi dari bahasa lain. Kita harus aktif dan tepat dalam menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja. Bahasa adalah keharmonian. “Tidak ada satupun negara di dunia ini yang monolingual secara murni” (Meyerhoff, 2006:103).
           
Bahasa pada dumia maya dan jejaring yang semakin marak merupakan realitas akibat dinamika peradaban manusia. Bahasa dunia maya dan jejaring sosial merupakan pola bahasa peralihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Tidak ada yang salah dalam bahasa dunia maya karena dinamika peradaban manusia, budaya, dan lingkungan/demografis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang.

Dunia maya dan jejaring sosial akan menjadi ancaman apabila penggunaannya yang marak mulai merambah pada aktivitas berbahasa formal, baik lisan maupun tulisan. Namun, bahasa dunia maya dan jejaring sosial akan memberi peluang kepada Bahasa Indonesia untuk semakin menegaskan posisinya sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Setiap pemakai Bahasa Indonesia menjadi “hati-hati” terhadap perkembangan varian bahasa yang berkembang di masyarakat, di samping semakin “peduli” terhadap Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setiap pemakai Bahasa Indonesia harus aktif dalam menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja. Bravo Bahasa Indonesia !


* Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia UNINDRA PGRI dan UNJ


Memenangkan Cita-Cita Kemerdekaan Nasional

Oleh : Nyoman Adi Irawan*

Secara resmi KPU sudah menetapkan nomor urut dua pasang calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang siap bertarung merebut simpati rakyat dalam momentum puncak tahun politik 2014, yakni Pilpres pada 9 Juli  mendatang. Dua pasangan itu adalah Prabowo Subianto – Hatta Rajasa nomor urut 1 dan Joko Widodo – Jusuf Kalla dengan nomor urut 2. Keempatnya merupakan tokoh politik nasional yang sudah sangat dikenal rekam jejaknya selama ini.

Uniknya, kedua pasangan ini merupakan representasi kekuatan politik oposisi yang berbaur dengan unsur kekuatan politik petahana. Semisal Jokowi dari PDI-P berpasangan dengan mantan wakil Presiden JK mantan ketua umum partai Golkar dan wapres periode 2004-2009. Sementara Prabowo dari Gerindra berpasangan dengan Hatta Rajasa yang menjabat menteri selama dua periode Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Duel Nasionalis

Terlepas itu semua, tahun ini memang telah menjadi momentum kemenangan bagi kekuatan politik baru yang punya kecenderungan membangkitkan kembali semangat ideologi nasionalisme ala Bung Karno dahulu. Hasil Pileg bulan Juli kemarin menunjukkannya dengan perolehan suara yang diraih oleh PDI Perjuangan di posisi pertama dengan jumlah 18,95 %, Gerindra di posisi ketiga dengan jumlah 11, 81 %, sementara pendatang baru Nasdem bertengger di posisi 8 dengan jumlah 6,72 %.

Ketiga partai politik ini memang yang selama ini paling getol menyatakan diri sebagai oposisi dan menghidupkan kembali nuansa politik ideologis yang kental dengan jargon dan retorika nasionalisme, semisal semangat restorasi bangsa, trisakti, kebangkitan bangsa, dan sebagainya. Sementara partai-partai politik lainnya cenderung selalu mengambil langkah moderat demi menjaga eksistensinya di dalam pemerintahan.

Persoalannya memang selama lebih satu dasawarsa terakhir, bangsa kita menghadapi situasi pelik yang kian menjauhi cita-cita kemerdekaan. Alih-alih memenangkan demokrasi politik, reformasi malah melahirkan gegar kebebasan politik yang membuat para elit sibuk berebut kursi kekuasaan demi mengamankan posisi kelompok masing-masing. 

Situasi ini telah begitu melemahkan bangsa kita hingga cengkraman penjajahan asing gaya baru yang kerap disebut neoliberalisme semakin kokoh meluas. Bagaimana sumber daya alam kita yang begitu kaya telah dikuasai oleh berbagai perusahan raksasa asing hingga betapa kuasanya produk impor yang membuat kita ketergantungan. Betapa besarnya pula lonjakan kenaikan utang luar negeri yang harus kita tanggung sekarang. Ditambah banyaknya regulasi dan Undang-Undang yang diterbitkan untuk memuluskan semuanya. Karenanya tak salah jika banyak pihak berpendapat bahwa bangsa ini belum mencapai kemerdekaan yang seutuhnya.

Indonesia Menang
Jika kita merujuk pada dokumen resmi Visi Misi dan Program kedua capres yang dipublikasikan oleh KPU RI, sejatinya bernuansa selaras dengan mengusung tema kemandirian nasional. Tampaknya mereka cukup memiliki kesadaran yang sefaham tentang persoalan pokok yang paling mendesak untuk diatasi bangsa ini, yakni praktik neoliberalisme, serta penegakkan konsep clean and good government. Namun, agak disayangkan ketika secara programatik kedua kekuatan capres nasionalis ini relatif sama, amunisi yang digunakan untuk bertarung justru masalah-masalah personal dan rekam jejak. Akibatnya, rakyat bukan disuguhi gambaran konkret mengenai aplikasi program kemandirian nasionalnya itu, malah hidangan isu-isu kampanye negatif sampai hitam yang muncul berjejalan. Tentu situasi ini sangat kontra-produktif bagi semangat kemandirian bangsa itu sendiri.
Kemerdekaan nasional seharusnya menjadi jalan bagi kita untuk membangun bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Itu pula yang akan menjadi landasan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita nasionalnya: masyarakat adil dan makmur.

Penting bagi kita semua, seluruh kalangan rakyat Indonesia, baik yang sudah menentukan pilihan mau pun tidak, agar memahami betul esensi momentum Pilpres ini sebagai penentu arah masa depan Bangsa. Kemenangan parpol nasionalis ini harus dikerucutkan menjadi kemenangan sejati Bangsa Indonesia, siapa pun yang terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presidennya. 
Jika tidak, momentum pemilu ini hanya akan kembali berlangsung hampa sekadar sebagai prosedur suksesi kepemimpinan yang tidak sungguh-sungguh membawa perubahan. Hanya dengan mengusung kampanye positif yang kental nuansa programatik dan ideologis, seraya menempatkan semangat persatuan nasional sebagai batas perdebatan lah, kelak kedua pihak ini bisa didorong untuk saling menopang pemerintahan Indonesia yang baru.***

* Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung, Alumnus FKIP Universitas Lampung.

Tuesday, June 3, 2014

Tanda Kehancuran Seni di Tangan Para Sarjana


Herry Dim


Saya, sejak dulu, tak percaya seni akan berjalan di tangan tunggal sarjana seni. Berbeda dengan bidang keilmuan lain yang bisa (bahkan seharusnya) ditempuh dengan metoda akademik, sementara seni --baik untuk menjadi ilmu dan apalagi untuk menjadi karya seni-- niscaya mesti berdasarkan prinsip terjalani.

Astronomi, misalnya, lahir dan menjadi ilmu bukan karena orang per orang sarjananya pernah tiba di berbagai bimasakti di jagat raya, melainkan ditempuh melalui tabungan akademik serta dukungan teknologi. Demikian halnya sejarah dan/atau antropologi kebudayaan, itu lahir sebagai ilmu setelah berabad-abad suatu kebudayaan berlangsung.

Di sisi lainnya, ilmu atau pengetahuan itu sangat mungkin mengalami percepatan; sementara seni cenderung mesti berjalan dengan prinsip alamiahnya. Gambaran sederhananya sebagai berikut:
Katakanlah normalnya daya tahan seseorang baca buku itu sebanyak empat halaman per hari. Demi percepatan ilmu, ia masih mungkin dipacu hingga bisa baca sepuluh halaman per hari. Dengan kemampuan barunya itu, maka ia bisa menyelesaikan baca buku "Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia" (Claire Holt) yang setebal 534 halaman itu menjadi hanya 53 hari saja.

Bayangkan, dengan 53 hari seseorang bisa mendapatkan pengetahuan tentang seni sejak masa pra-sejarah hingga awal modern. Masa tentang peradaban dan kebudayaan manusia sepanjang 5.000 tahun itu bisa diketahui dalam waktu kurang dari dua bulan saja.
Sementara dalam hal menjalani seni dalam arti dengan kelengkapan menjadi faham tentang seni, mungkinkah bisa ditempuh dalam dua bulan?

Tentu, jawabnya adalah tidak mungkin. Bahkan hampir selalu terbukti bahwa seseorang itu menjalani kehidupan dan pemahaman tentang seninya itu sepanjang usia dan/atau berjalan hingga kematiannya.

**

Tapi kemudian di Indonesia. Seluruh pranata seni, itu diserahkan atau dikuasakan kepada gelombang baru yang dalam 20 tahun terakhir ini seperti air bah. Mereka itu adalah para sarjana dengan imbuhan S1, S2, S3 hingga gelar-gelar profesor.

Merekalah yang kini menjadi birokrat-birokrat seni di tingkat kecamatan hingga di pusat kekuasaan di Jakarta.

Para sarjana ini, tentu, tak bisa disalahkan keberadaannya. Mereka tak lain merupakan bagian dari sistem negara yang menetapkan pola rekruitmen hingga hierarki kepegawaian itu berdasarkan ijazah kesarjanaan. Maka dalam 20 tahun terakhir ini tak ada lagi tempat bagi para Empu atau sejatinya pakar seni.

Akibat kekeliruan sistem negara yang menempatkan gelar akademik bidang seni sebagai pusat kebenaran, maka muncul keangkuhan baru, feodalisme baru, bahkan kegilaan baru untuk menjadi sarjana seni.

Tulisan ini tak bermaksud ambil posisi anti-akademi. Tidak. Sebab penulis sendiri termasuk yang tak henti-henti mendorong siapapun agar sekolah (seni). Tapi, dengan tulisan ini, hendak mengingatkan bahwa khusus untuk bidang seni itu perlu menempatkan 'jalan alamiah' yang justru seharusnya menjadi rujukan utama dunia akademik.

Jika posisi kebijakannya terbalik, bukan tidak mungkin perjalanan seni di Indonesia ini akan konyol bahkan sangat mungkin menuju kehancuran.

Sebagai penutup kiranya cukuplah dengan mengingatkan bahwa sekolah itu tak mungkin menciptakan Asep Sunandar Sunarya, Mimi Rasinah, hingga Gugum Gumbira.
Pada kesempatan lain bisa dibuktikan pula bahwa seniman-seniman yang "menjadi" tapi sekaligus nenempuh pendidikan formal, itu umumnya tumbuh di luar bangku sekolah dan masa tumbuhnya itu jauh lebih panjang jika dibanding dengan masanya sekolah.

Tolong pula diperhatikan 'alarm' Herbert Marcuce bahwa manakala kekuasaan (birokrasi) selingkuh dengan pedagang (dalam hal ini tepatnya calo) seni, itu tandanya sebuah peradaban/kebudayaan akan berakhir.

Selamatkan seni Indonesia.***








Herry Dim adalah perupa asal Bandung, Jawa Barat. Pernah menjadi illustrator dan desain grafis Majalah Sastra Horison. Herry Dim adalah CEO dan Founder di Studio Pohaci sejak 1994