Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts
Tuesday, June 3, 2014
Tanda Kehancuran Seni di Tangan Para Sarjana
Herry Dim
Saya, sejak dulu, tak percaya seni akan berjalan di tangan tunggal sarjana seni. Berbeda dengan bidang keilmuan lain yang bisa (bahkan seharusnya) ditempuh dengan metoda akademik, sementara seni --baik untuk menjadi ilmu dan apalagi untuk menjadi karya seni-- niscaya mesti berdasarkan prinsip terjalani.
Astronomi, misalnya, lahir dan menjadi ilmu bukan karena orang per orang sarjananya pernah tiba di berbagai bimasakti di jagat raya, melainkan ditempuh melalui tabungan akademik serta dukungan teknologi. Demikian halnya sejarah dan/atau antropologi kebudayaan, itu lahir sebagai ilmu setelah berabad-abad suatu kebudayaan berlangsung.
Di sisi lainnya, ilmu atau pengetahuan itu sangat mungkin mengalami percepatan; sementara seni cenderung mesti berjalan dengan prinsip alamiahnya. Gambaran sederhananya sebagai berikut:
Katakanlah normalnya daya tahan seseorang baca buku itu sebanyak empat halaman per hari. Demi percepatan ilmu, ia masih mungkin dipacu hingga bisa baca sepuluh halaman per hari. Dengan kemampuan barunya itu, maka ia bisa menyelesaikan baca buku "Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia" (Claire Holt) yang setebal 534 halaman itu menjadi hanya 53 hari saja.
Bayangkan, dengan 53 hari seseorang bisa mendapatkan pengetahuan tentang seni sejak masa pra-sejarah hingga awal modern. Masa tentang peradaban dan kebudayaan manusia sepanjang 5.000 tahun itu bisa diketahui dalam waktu kurang dari dua bulan saja.
Sementara dalam hal menjalani seni dalam arti dengan kelengkapan menjadi faham tentang seni, mungkinkah bisa ditempuh dalam dua bulan?
Tentu, jawabnya adalah tidak mungkin. Bahkan hampir selalu terbukti bahwa seseorang itu menjalani kehidupan dan pemahaman tentang seninya itu sepanjang usia dan/atau berjalan hingga kematiannya.
**
Tapi kemudian di Indonesia. Seluruh pranata seni, itu diserahkan atau dikuasakan kepada gelombang baru yang dalam 20 tahun terakhir ini seperti air bah. Mereka itu adalah para sarjana dengan imbuhan S1, S2, S3 hingga gelar-gelar profesor.
Merekalah yang kini menjadi birokrat-birokrat seni di tingkat kecamatan hingga di pusat kekuasaan di Jakarta.
Para sarjana ini, tentu, tak bisa disalahkan keberadaannya. Mereka tak lain merupakan bagian dari sistem negara yang menetapkan pola rekruitmen hingga hierarki kepegawaian itu berdasarkan ijazah kesarjanaan. Maka dalam 20 tahun terakhir ini tak ada lagi tempat bagi para Empu atau sejatinya pakar seni.
Akibat kekeliruan sistem negara yang menempatkan gelar akademik bidang seni sebagai pusat kebenaran, maka muncul keangkuhan baru, feodalisme baru, bahkan kegilaan baru untuk menjadi sarjana seni.
Tulisan ini tak bermaksud ambil posisi anti-akademi. Tidak. Sebab penulis sendiri termasuk yang tak henti-henti mendorong siapapun agar sekolah (seni). Tapi, dengan tulisan ini, hendak mengingatkan bahwa khusus untuk bidang seni itu perlu menempatkan 'jalan alamiah' yang justru seharusnya menjadi rujukan utama dunia akademik.
Jika posisi kebijakannya terbalik, bukan tidak mungkin perjalanan seni di Indonesia ini akan konyol bahkan sangat mungkin menuju kehancuran.
Sebagai penutup kiranya cukuplah dengan mengingatkan bahwa sekolah itu tak mungkin menciptakan Asep Sunandar Sunarya, Mimi Rasinah, hingga Gugum Gumbira.
Pada kesempatan lain bisa dibuktikan pula bahwa seniman-seniman yang "menjadi" tapi sekaligus nenempuh pendidikan formal, itu umumnya tumbuh di luar bangku sekolah dan masa tumbuhnya itu jauh lebih panjang jika dibanding dengan masanya sekolah.
Tolong pula diperhatikan 'alarm' Herbert Marcuce bahwa manakala kekuasaan (birokrasi) selingkuh dengan pedagang (dalam hal ini tepatnya calo) seni, itu tandanya sebuah peradaban/kebudayaan akan berakhir.
Selamatkan seni Indonesia.***
Herry Dim adalah perupa asal Bandung, Jawa Barat. Pernah menjadi illustrator dan desain grafis Majalah Sastra Horison. Herry Dim adalah CEO dan Founder di Studio Pohaci sejak 1994
Tuesday, May 27, 2014
Pelayarputihan Novel dalam Film Indonesia
Dias P Samsoerizal*
Belakangan ini, perfilman Indonesia dibanjiri oleh cerita yang diadaptasi dari novel. Beberapa contoh yang dapat dikemukakan disini antara lain: 5Cm karya Donny Dirgantoro, 99 Cahaya karya Hanum Rais, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di bawah Lindungan Kabah karya Buya Hamka, dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Animo masyarakat dalam menonton film tersebut sangat antusias. Hal ini terlihat bahwa ketika film- film tersebut ditayangkan di bioskop-bioskop ternama menarik minat jutaan penonton. Fenomena ini cukup menarik. Terutama, ketika masyarakat yang awam akan karya-karya sastra mengenal sastra ketika di layarputihkan. Kedua, pelayarputihan novel ternyata sangat menarik untuk dikemas menjadi sebuah film yang berbobot.
Di sisi lain, pelayarputihan novel ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada tahapan proses ketika sineas (pekerja film) memutuskan pilihan mengangkat novel menjadi film. Hal ini disebabkan cerita novel yang menarik sekalipun harus divisualisasikan secara menarik.
Ekranisasi
Pelayarputihan novel dikenal dengan istilah ekranisasi. Menurut Eneste (1984: 60-61) ekranisasi merupakan pelayarputihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya pelbagai perubahan.
Alat utama dalam novel ialah kata-kata; segala sesuatu disampaikan dengan kata-kata. Cerita, alur, penokohan, latar, suasana dan gaya sebuah novel dibangun dengan kata-kata. Pemindahan novel ke layar putih, berarti terjadinya perubahan pada alat-alat yang dipakai, yakni mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Sebab di dalam film, cerita, alur, penokohan, latar, suasana dan gaya diungkapkan melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Apa yang tadinya dilukiskan atau diungkapkan dengan kata-kata, kini harus diterjemahkan ke dunia gambar-gambar.
Proses penggarapannya pun terjadi perubahan. Novel adalah kreasi individual dan merupakan hasil kerja perseorangan. Tidak demikian dengan pembuatan film. Film merupakan hasil kerja kolektif. Bagus- tidaknya sebuah film, banyak bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit didalamnya: produser, penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata artistik, perekam suara, para pemain, dan lain-lain.
Membaca novel ialah suatu proses mental. Kata-kata yang ditulis pengarang akan menimbulkan imajinasi bagi yang membacanya dan selanjutnya mengerti apa yang hendak disampaikan pengarang. Tidak demikian dengan film. Penonton film disuguhi gambar-gambar hidup, konkret, dan visual, seakan-akan penonton sedang menyaksikan barang-barang atau benda-benda yang sesungguhnya. Dengan demikian, ekranisasi berarti terjadinya perubahan pada proses penikmatan, yakni dari membaca menjadi menonton; penikmatnya sendiri berubah dari pembaca menjadi penonton.
Wajarlah apabila sering terjadi tanggapan yang beragam ketika seseorang yang telah membaca novel dan menontonnya sekaligus. Ada yang mengatakan novelnya lebih bagus daripada filmnya begitupun sebaliknya. Faktor ekranisasilah yang membuat berbagai tanggapan muncul.
Pelayarputihan Novel dari Masa ke Masa
Novel yang pertama difilmkan ialah Salah Asuhan karya Abdul Muis yang disutradarai oleh Asrul Sani pada tahun 1972. Film ini dibintangi oleh Ruth Pelupessy dan Dicky Zulkarnaen. Film tersebut berkisah tokoh Hanafi (Dicky Zulkarnaen), yang gagal studinya di Eropa, pulang ke kampungnya di Sumatera Barat. Mulailah pertentangan antara kebiasaan Hanafi di Eropa dengan adat setempat. Hanafi menaruh hati kepada Corrie du Bussee (Ruth Pelupessy), wanita peranakan Prancis.
Hubungan ini ditentang oleh orang tua masing-masing. Hanafi sudah dijodohkan dengan Rapiah (Rima Melati), sedang ayah Corrie tidak ingin anaknya kawin dengan orang Melayu. Selanjutnya, kawinlah Hanafi dengan Rapiah, meski sudah diduga tidak akan lancar. Hanafi menyusul Corrie yang pergi ke Jakarta. Pasangan terakhir ini kemudian kawin. Ternyata rumah tangga Hanafi-Corrie juga tidak seperti yang diharapkan, hingga bercerai. Corrie kemudian meninggal, dan Hanafi pulang kampung lagi dengan perasaan kalah dan menyerah.
Novel kedua yang berhasil menembus pasaran dan tentu sangat populer adalah Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo. Novel selanjutnya ialah Atheis merupakan film drama tragedi romantis tahun 1974 yang disutradarai oleh Sjuman Djaya dan dibintangi oleh Deddy Sutomo dan Christine Hakim. Film yang dibuat berdasarkan novel sastra kanon tahun 1949 ini merupakan karya Achdiat K. Mihardja.
Selanjutnya, pada tahun yang sama sekitar tahun 1970-an dunia perfilman Indonesia didominasi dengan munculnya berbagai film remaja yang berasal dari novel pop, seperti karya Ashadi Siregar dalam film Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir (1976–1977).
Cintaku di Kampus Biru adalah film drama percintaan Indonesia yang diproduksi pada tahun 1976 dan disutradarai oleh Ami Prijono. Film Kugapai Cintamu merupakan film remaja yang disutradarai oleh Wim Umboh berdasarkan novel yang juga ditulis oleh Ashadi Siregar. Kugapai Cintamu merupakan film terlaris kelima di Jakarta pada tahun 1977 dengan jumlah penonton 128.409, menurut data Perfin (Perindustrian Film Indonesia).
Film Terminal Cinta Terakhir adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1977 yang mengangkat dari novel Ashadi Siregar berjudul sama dengan disutradarai oleh Abrar Siregar. Film ini dibintangi antara lain oleh WS Rendra dan Marini.
Film yang muncul pada era 1980 hingga 1990-an diantaranya ialah Serpihan Mutiara Retak karya Nina Pane, kemudian film Lupus yang di layarputihkan dari novel karya Hilman Hariwijaya yang disutradarai oleh Achiel Nasrun pada tahun 1987. Selanjutnya film Taksi yang di layarputihkan dari karya sastra Edi Suhendro pada tahun 1990.
Setelah larisnya film Laskar Pelangi yang dilayarputihkan berdasarkan novel Andrea Hirata, muncul film yang diangkat dari novel Habiburahman El-Shirazy: Ayat-Ayat Cinta dan Sajadah Cinta yang keduanya disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Ada juga Perempuan Berkalung Sorban yang dikarang oleh Abidah El Khalieqy dan disutradarai pula oleh Hanung Bramantyo. Selanjutnya pada 2013 film bertema percintaan dengan judul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kedua novel tersebut karya lama Buya Hamka.
Pelayarputihan novel memiliki sejarah yang cukup panjang. Pelayarputihan ini menarik tidak saja untuk menjadi bahan bacaan tetapi dapat menjadi tontonan dan tuntunan. Dalam perjalanan film Indonesia, pelayarputihan novel Indonesia dimulai dari tahun 1972 dan berkembang terus bahkan tidak menutup kemungkinan di masa-masa yang akan datang.
*) Penulis adalah mahasiswi semester 4 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta
Monday, May 26, 2014
Festival Musik Tradisi Anak 2014: Lampung Masuk Lima Besar Terbaik Nasional
| Tim wakil Lampung pada ajang Festival Musik Tdi TMII Jakarta yang baru saja meraih sukses masuk lima besar penampil terbaik nasional. |
Di belakang Jawa Timur yang tampil terbaik, menyusul ada lima penampil terbaik, masing-masing Lampung, NTB, Bengkulu, Sumatera Utara dan Jawa Tengah.
Di luar enam grup yang dinilai tampil terbaik oleh tim pengamat, masih ada 28 grup yang juga tampil keren dan lengkap dengan semangat kelokalan yang diusung masing-masing grup.
Di hadapaan dewan juri yang terdiri dari Embie C Noer (musisi), Prof.Djohan Salim (ISI Yogyakarta), Dr, Suhendi Afrianto, S.Sn (STSI Bandung), Jabatin Bangun (IKJ) dan Jodhy Yudono (musisi dan wakil media).
Kelompok Musik Anak Lampung yang digawangi; Alexandra Ade Kurnia Jati , Lauretta Weny Fortuna, Karen Audrey Angelica,. I Gusti Ngurah Pradiva Jayastu , I Gusti Ngurah Rai Mahardika, Alviando Satya Wijaya,Reynald Oktavius Tan, Bonaventura Dimas Hadi.N, Nathanael Setiawan dan Fergus Brlyant Santoso dengan ceria membawakan musik tradisi Lampung bertajuk: Upih Ngisut..
Djuwita Novrida, ketua tim pendamping yang juga Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung, mengaku bangga dengan prestasi anak-anak Lampung. “ Meskipun bukan juara pertama, ini sangat membanggakan,” kata dia.
Sementara penata musik Ricky mengatakan musik yang dibawakan kelompok anak-anak ini terinspirasi dari suatu permainan anak-anak sedang menunggu orng tua mereka yang pergi melaut.
“Permainan ini biasanya di lakukan di pinggir pinggir pantai.khususnya di daerah Lampung Barat. Permainan ini disebut Upih Ngisut, Upih (perahu) dan biasanya terbuat dari karung. Sedangkan ngisut berarti ngesot,” papar Ricky.(*)
.
Saturday, May 24, 2014
Pentas “Pinangan” Anton Chekov: Ada Rock 'N Roll Rasa Melayu
Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
Bandarlampung—Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung memanggungkan “Pinangan” karya Anton P. Chekov di UKMBS Universitas Lampung, Sabtu (24/5) malam.
Pertunjukan ini dalam rangka merayakan 12 tahun komunitas seni yang tetap eksis di tengah pasang-surut perteateran di daerah ini. Perayaan hari jadi ke-12 KoBer kali ini mengusung tema “4 tanda cinta” dan berlangsung tiga malam.
Malam pertama KoBer menyuguhkan diskusi dan peluncuran buku puisi Suluh (dwibahasa) karya Fitri Yani dan Pembatas Buku (Yuli Nugharani), Kamis (22/5). Malam kedua, memanggungkan “Pada Suatu Hari” (Arifin C. Noer) sutradara Yulizar Fadli, Kamis (23/5), dan terakhir, “Pinangan” karya Anton P. Ckekov (sutradata Ari Pahala Hutabarat).
Bagi KoBer, “Pinangan” karya Anton Chekov sudah dipentaskan pertama kali pada tahun 2006, dan sekira 6 kali dipanggungkan di berbagai kota di Tanah Air. Sebelum ditampilkan pada perayaan hari jadi, naskah Chekov ini dihadirkan di Palembang, April 2014.
Naskah “Pinangan” Anton P. Chekov ini sudah dipentaskan hampir seluruh grup teater di Indonesia, bahkan dunia. Setiap kelompok teater dipastikan punya pendekatan dan gaya dalam memahaminya. Di tangan KoBer, “Pinanggan” mampu membuat penonton tertawa sepanjang pertunjukan.
Adalah Ari Pahala Hutabarat, sebagai sutradara, menangkap getaran humoris dalam “Pinangan” ini. Meski, boleh jadi, cerita yang dibangun Chekov ini sesungguhnya serius. Bicara soal hubungan cinta kasih (yang akhirnya) tak sampai. Sejatinya kedua pasangan kasih ini sudah mencinta, tetapi sebab masalah kecil yang justru dibesa-besarkan akhirnya fatal.
Melalui pendekatan tetaer rakyat dengan kultur Lampung—terlihat dari cara dialek ke-Lampung-an, celetukan para pemain yang terkesan asal “ceplos”—membuat pementasan ini menjadi “cair” dan komunikatif. Tidak itu saja, ketiga pemain KoBer, benar-benar hidup sekaligus menghidupkan pergelaran menjadi asyik, gembira, namun tetap punya hikmah.
“Pinangan” mengisahkan seorang pemuda bernama Deswan (Yulizar Fadli) hendak meminang putri H. Ibrahim (Ahmad Tohamudin) bernama Mega, yang notabene tetangga Deswan. Sayangnya, sang pemuda, begitu “gagap” tatkala hendak mengutarakan keinginannya, selain itu penyakit jantungan yang kerap kambuh.
Sementara H. Ibrahim adalah tokoh materialistis. Memandang suatu masalah dari untung-rugi, ia juga kamaruk dan tidak bisa disanggah pendapatnya karena fiil. Sifat-sifat yang dimiliki ayahnya itu, juga tertular pada diri Mega.
![]() |
| Ala film India: berjoget saat gembira... (foto: isb) |
Karena soal ladang ini menjadi pertengkaran antara Deswan dan Mega, hingga Deswan keluar dari rumah Ibrahim. Namun, ternyata Mega sangat ingin menjadi isteri Deswan. Upaya Ibrahim mendatangkan kembali Deswan membuat Mega tak jadi bunuh diri.
Tetapi kedatangan Deswan yang kedua kali ini, kembali berujung pertengkaan. Hanya soal anjing peliharaan mereka, Deswan dan Mega yang dibantu sang ayah ricuh lagi. Deswan nyaris mati karena penyakitnya.
Pertunjukan berdurasi sekira 60 menit ini begitu cepat. Sepertinya Ari Pahala Hutabarat terlalu “pelit” sehingga tak memberi jeda untuk sekadar menarik napas. Pasalnya, pementasan ini mengaduk rasa tawa penonton dari awal menjelang akhir pementasan.
Kekuatan para pemain yang seimbang dan rasa humor yang dimiliki masing-masing aktor adalah faktor keberhasilan pertunjukan ini menjadi berhasil. Juga sepanjang 60 menit penonton dibuat “gerrr”.
Tampaknya Ari Pahala Hutabarat suka dan lebih memilih speed cepat, seperti pengebut di jalan raya yang ingin segera sampai di garis finish. Sehingga tak terasa pementasan berakhir, padahal penonton masih ingin tertawa, ingin terhibur, ingin beriang.
Kita sudah capek direcoki perpolitikan di Tanah Air, berita-berita korupsi dan gosip, berlaga lantaran beda pilihan: Jokowi atau Prabowo. Yes! KoBer memang rock ‘n roll!
Monday, May 19, 2014
Menjaga Dusun Indah Indonesia Bersama Leo Kristi
Oleh Taufik Wijaya*
BILA dibandingkan dengan dua sahabatnya yakni Gombloh dan Franky Sahilatua, Leo Kristi dapat dikatakan kalah popular. Ketiganya pernah mendirikan sebuah kelompok musik di Surabaya, bernama Lemon Tree’s. Tapi lagu-lagu Leo Kristi lebih menggetarkan hati saya. Liriknya jauh lebih jujur membaca Nusantara. Yang disajikan dalam irama folk dan country.
Mungkin, seperti yang banyak berpendapat, kekuatan Leo terjaga sebab dia tidak pernah terjun ke bisnis musik, yang lebih kompromi dengan penggemar musik Indonesia, seperti dilakukan Franky dan Gombloh, meskipun keduanya tetap menyampaikan kritik sosial, nasionalisme, dan tentang alam.
Dalam melakukan proses kreatif, Leo yang kini berusia 64 tahun (8 Agustus 1949) mengembara Nusantara. Dia membaca tiap denyut air sungai, air laut, air danau, getaran pohon, gunung, bukit, serta kesunyian yang riuh dari hujan tropis.
Kita beruntung memiliki Leo Kristi, yang bernama lengkap Leo Imam Sukarno, seorang muslim, tapi banyak belajar musik dari bapaknya Raden Ngabei Iman dan gereja saat di sekolah dasar.
Bagaimana tidak, hampir semua keindahan Nusantara terekam dari sejumlah albumnya mulai Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka(1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985) yang gagal beredar, Deretan Rel Rel Salam Dari Desa(1985, aransemen baru), (Diapenta) Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, yang direkam pada CD terbatas). Yang terakhir album Warm, Fresh and Healthy (diluncurkan 17 Desember 2010).
Artinya, jika kita rindu Nusantara sebelum hutannya rusak, dusunnya hilang, sungai dan lautnya rusak, petaninya miskin dan menjadi korban dari eksploitasi sumber daya alam, maka dengarkanlah lagu-lagu Leo Kristi.
Mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi, kita seakan lupa jika 32 juta dari 104,9 juta hektar hutan Indonesia rusak. Rusak oleh berbagai aktifitas yang akan menjadikan daratan Indonesia berupa padang pasir atau padang rumput, seperti pertambangan batubara, emas, timah, nikel, kelapa sawit, migas, dan industri lainnya.
Dan, sesuatu yang diharapkan—pasti juga yang dimimpikan Leo Kristi—kita bergerak menjaga lingkungan hidup Indonesia.
Saya pun saat mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi membayangkan air jernih yang mengaliri ratusan anak Sungai Musi yang tersisa, ikan-ikan berenang bersama girangnya anak-anak yang mandi.
Perahu pak nelayan
Laju memecah ombak
Perahu Pak nelayan
(buih-buih memercik di kiri-kanan, buih-buih memercik di kiri-kanan)
Perahu…
Lihat-lihat nelayan rentang jala pukat
Tarik-tariklah tambang
Umpan sudah lekat
(ikannya melompat-lompat, ikannya melompat-lompat)
Riang riaaang…
Jauh di kaki langit terbentang layarmu
Kadang naik
Kadang turun
Dimainkan oleh ombak
Badai laut biru
Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…
Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…
![]() |
| Leo Kristo (foto: sekaringpengabdian.blogspot.com) |
Mungkin, seperti yang banyak berpendapat, kekuatan Leo terjaga sebab dia tidak pernah terjun ke bisnis musik, yang lebih kompromi dengan penggemar musik Indonesia, seperti dilakukan Franky dan Gombloh, meskipun keduanya tetap menyampaikan kritik sosial, nasionalisme, dan tentang alam.
Dalam melakukan proses kreatif, Leo yang kini berusia 64 tahun (8 Agustus 1949) mengembara Nusantara. Dia membaca tiap denyut air sungai, air laut, air danau, getaran pohon, gunung, bukit, serta kesunyian yang riuh dari hujan tropis.
Kita beruntung memiliki Leo Kristi, yang bernama lengkap Leo Imam Sukarno, seorang muslim, tapi banyak belajar musik dari bapaknya Raden Ngabei Iman dan gereja saat di sekolah dasar.
Bagaimana tidak, hampir semua keindahan Nusantara terekam dari sejumlah albumnya mulai Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka(1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985) yang gagal beredar, Deretan Rel Rel Salam Dari Desa(1985, aransemen baru), (Diapenta) Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, yang direkam pada CD terbatas). Yang terakhir album Warm, Fresh and Healthy (diluncurkan 17 Desember 2010).
Artinya, jika kita rindu Nusantara sebelum hutannya rusak, dusunnya hilang, sungai dan lautnya rusak, petaninya miskin dan menjadi korban dari eksploitasi sumber daya alam, maka dengarkanlah lagu-lagu Leo Kristi.
Mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi, kita seakan lupa jika 32 juta dari 104,9 juta hektar hutan Indonesia rusak. Rusak oleh berbagai aktifitas yang akan menjadikan daratan Indonesia berupa padang pasir atau padang rumput, seperti pertambangan batubara, emas, timah, nikel, kelapa sawit, migas, dan industri lainnya.
Dan, sesuatu yang diharapkan—pasti juga yang dimimpikan Leo Kristi—kita bergerak menjaga lingkungan hidup Indonesia.
Saya pun saat mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi membayangkan air jernih yang mengaliri ratusan anak Sungai Musi yang tersisa, ikan-ikan berenang bersama girangnya anak-anak yang mandi.
Banyak pohon tropis berjajar
Padang rumput yang menghijau
Kebun mawar merah mengharum
Basah dengan pancuran air segar
Padang rumput yang menghijau
Kebun mawar merah mengharum
Basah dengan pancuran air segar
Semua impian beludru
Sutera dusunku
Sentausalah negeri
Bahagia dusunku
Sutera dusunku
Sentausalah negeri
Bahagia dusunku
Jembatan kayu cantik mungil
Air sungai yang jernih dingin
Dentang lonceng gereja sayup
Bagai musik yang sengit semarak
Air sungai yang jernih dingin
Dentang lonceng gereja sayup
Bagai musik yang sengit semarak
Semua impian beludru sutera dusunku
Sentausalah negeri; Bahagia dusunku
Sentausalah negeri; Bahagia dusunku
(Aaaaaaahhhhh aaaaaa)
Duhai, lirik dari lagu “Beludru Sutera Dusunku” yang diambil dari album Nyanyian Fajar (1975) serasa mengiris hati. Sebab perekaman Leo pada kondisi dusun, dan harapan kondisi itu bertahan selamanya, sudah hilang saat ini. Hanya 39 tahun dari lagu tersebut diluncurkan semuanya telah hilang atau rusak. Entah apa yang terjadi pada 5-10 tahun mendatang.
Getaran yang sama juga dirasakan dari lagu “Salam Dari Desa”, sebuah lagu yang cukup popular di kalangan aktifis lingkungan hidup dan agraria. Lagu yang menggambarkan masyarakat desa, para petani yang kini hidupnya kian sensara.
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang roda giling berputar-putar
Siang malam tapi bukan kami punya
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar – putar siang malam
Tapi bukan kami punya
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya
Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak
Kan kutunggu sepanjang hari
Kita makan bersama-sama berbincang-bincang
Di gubuk sudut dari desa
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang roda giling berputar-putar
Siang malam tapi bukan kami punya
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar – putar siang malam
Tapi bukan kami punya
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya
Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak
Kan kutunggu sepanjang hari
Kita makan bersama-sama berbincang-bincang
Di gubuk sudut dari desa
BUKAN hanya petani atau masyarakat dusun yang menjadi bacaan Leo Kristi, kehidupan para nelayan pun digambarkan dengan indah dan dramatis, seperti dalam lagu “Gulagalugu Suara Nelayan”.
Lagu ini mungkin yang paling popular di kalangan penggemar musik balada rock di Indonesia.
Berayun-ayun lajuPerahu pak nelayan
Laju memecah ombak
Perahu Pak nelayan
(buih-buih memercik di kiri-kanan, buih-buih memercik di kiri-kanan)
Perahu…
Lihat-lihat nelayan rentang jala pukat
Tarik-tariklah tambang
Umpan sudah lekat
(ikannya melompat-lompat, ikannya melompat-lompat)
Riang riaaang…
Jauh di kaki langit terbentang layarmu
Kadang naik
Kadang turun
Dimainkan oleh ombak
Badai laut biru
Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…
Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…
Sebenarnya apa yang diinginkan Leo Kristi maupun rakyat Nusantara ini, kita hidup merdeka, dan bebas membangun kemakmuran bangsanya di negeri yang kaya ini. Ini tercermin dalam liriknya di lagu “Nyanyian Tanah Merdeka”.
Seperti satu meriam kala meledak
Seribu bedil adakah berarti
Kalau laras - laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata “ Merdeka ! “
Merah putih mawar melati
Merah putih bara hati
Merah putih mawar hati
Merah putih setiap hati
Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka
Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka
Seribu bedil adakah berarti
Kalau laras - laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata “ Merdeka ! “
Merah putih mawar melati
Merah putih bara hati
Merah putih mawar hati
Merah putih setiap hati
Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka
Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka
Sebenarnya begitu banyak yang dapat dikupas dari lirik lagu milik Leo Kristi, tapi setidaknya tulisan ini dapat membuat kita kembali mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi, sehingga jiwa menjadi tenang. Terkhusus para pemusik Indonesia, tampaknya perlu mengambil spirit Leo Kristi, sehingga pada masanya hanya karya yang akan dikenang, bukan perilaku buruknya yang membuat generasi muda jauh dari persoalan bangsa dan negara ini.
* Pekerja budaya
Sunday, May 18, 2014
UKMBS Unila Gelar ‘Art Drawing on the Road’
Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
Bandarlampung—Divisi Senirupa Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Lampung (UKMBS Unila) akan menggelar pameran senirupa di beberapa tempat di Bandarlampung. Kegiatan bertajuk “Art Drawing on the Road” dibuka di Graha Kemahasiswaan (Gedung PKM) Unila, Jumat (23/5).
Menurut Qorri Hadayati dari Divisi Senirupa UMBS Unila, selain digelar pertama kali sekaligus pembukaan di Gedung PKM Unila, pameran ini juga akan dilangsungkan di Tugu Adipura, kawasan sekitar Masjid Al-Furqon, Lungsir, dan kawasan Saburai Enggal.
“(Namun) Tempat dan waktu dapat berubah sewaktu-waktu,” katanya, sebagaimana dirilis di dinding facebook Qorri Hadayati, Senin (19/5) sekira pukul 01.26.
Dikatakannya, untuk pameran di Tugu Adipura, Bandarlampung, dijadwalkan akan dilaksanakan pada Sabtu-Minggu (24-25/5), kemudian kawasan sekitar Masjid Al-Furqon, Lungsir (27-29/5), dan kawasan Saburai, Enggal (31/5-1/6).
Qorri mengajak masyarakat, pecinta seni, perupa Lampung untuk menghadiri kegiatan “Art Drawing on the Road” yang ditaja Divisi Senirupa UKMBS Unila ini.
12 Tahun KoBer
Sementara di Gedung PKM Unila, 22-25 Mei, Komunitas Berkat Yakin (KoBer) sekaitan merayakan hari jadi ke-12, akan menggelar beberapa kegiatan kesenian.
Dimulai Kamis (22/5) peluncuran dan diskusi dua buku puisi, yaitu karya Yuli Nugrahani (Pembatas Buku) dan Fitri Yani (Suluh). Lalu, dilanjutkan pementasan teater oleh KoBer pada Jumat (23/5) memanggungkan “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer dengan sutradara Yulizar Fadli, dan Sabtu (24/5) menaikkan “Pinangan” Anton P. Chekov, sutradara Ari Pahala Hutabarat.
Alexander GB menjelaskan, kegiatan ini selain merayakan hari jadi KoBer ke-12 juga untuk menghidupkan apresiasi berkesenian di kalangan generasi muda.
“Kami mengundang seniman, pecinta seni, pengamat seni, mahasiswa, dan pelajar untuk hadir di Gedung PKM Unila,” katanya.
Thursday, April 3, 2014
Kejutan Jelang Pemilu Candra Malik-Raja Monolog: "... Piye, enak jamanku tho?"
Yogyakarta, teraslampung.com—Musikus sufi Candra Malik kembali membuat kejutan. Ia mengajak Raja Monolog Butet Kartaredjasa untuk menyambut Pemilu 2014 dengan merilis sebuah single bertema kritik sosial politik. Featuring aktor senior panggung teater itu, Candra meluncurkan lagu berjudul Akulah Penguasa (Menang Pemilu) dan bisa diunduh gratis.
"Dalam lagu berdurasi 4.27 menit itu, Butet bermain monolog sebagaimana yang dulu ia lakukan menjelang masa jatuhnya penguasa Orde Baru. Di lagu ini, ia seolah menghidupkan kembali kekuasaan sang raja lama," ungkap Candra, Kamis (3/4)
Candr Malik mengatakan dirinya sudah mengumumkan rilis lagu ini menjelang tanggal 1 April. "Anggaplah kebangkitan penguasa Orde Baru itu April Mop," seloroh Gus Can, demikian ia kerap disapa.
Menurut Candra, video klip lagu ini akan segera dibuat dan dapat diakses melalui YouTube. "Disutradarai Triyanto Hapsoro, video klip akan digarap di Yogyakarta," ujar kepala Biro dan Sastra (Busas) AJI Indonesia itu.
Bagaimana Butet menyampaikan kritiknya dalam lagu ciptaan Candra Malik dan dinyanyikan sang sufi ini?
"Kepada seluruh rakyat, saya umumkan bahwa mulai hari ini saya lagi yang berkuasa. Kekayaan bangsa dan negara ini harus saya lindungi untuk sebesar-besarnya kepentingan saya dan keluarga saya. Anda sekalian tidak kebagian. Piye, penak jamanku tho?," ujar Butet, sebagaimana monolog-nya dalam lagu yang musiknya ditata oleh Minladunka Band, di Bandung, itu.
Triyanto Hapsoro, sutradara film dari Yogyakarta, mengatakan bahwa ia suka menerima tantangan kreatif dari Candra Malik untuk membesut video klip lagu Akulah Penguasa.
"Ini kali kedua saya diajak Gus Can. Saya juga yang menggarap video klip Fatwa Rindu, lagunya yang featuring Trie Utami, dua tahun silam. Gus Can tidak suka ikut campur dalam proses kreatif meski ia yang punya gawe. Kami bisa leluasa berekspresi," ujarnya. Video klip akan diproduksi Sanggit Citra Films Yogyakarta.
Triyanto masih menyimpan kejutan yang akan muncul dalam video klip. Ia hanya memastikan, karyanya akan diwarnai parodi yang pedas. "Satu hal yang menarik, sosok Gus Can akan muncul hanya dalam wujud foto, tapi di dalam bingkai foto yang selama ini kita kenal sebagai bingkai foto wakil presiden; bersebelahan dengan foto Mas Butet sebagai presiden," jelas Triyanto. Aksi pajang foto ala presiden dan wakil presiden ini sudah dilakukan Candra Malik di Twitter sejak 1 April dinihari. (Rl)
Kontak:
Candra Malik
081210805790
Candra Malik
081210805790
Triyanto Hapsoro
0817275394
0817275394
==
AKULAH PENGUASA
(Menang Pemilu)
Candra Malik featuring Butet Kartaredjasa
(Menang Pemilu)
Candra Malik featuring Butet Kartaredjasa
LIRIK LAGU
SONG1:
E G
Menang, menang, aku menang pemilu
A. E
Bisa kumakan rakyat sesukaku
E. G
Menang, menang, aku menang pemilu
A. E
Bisa kujual pulau, kau tak tahu.
E G
Menang, menang, aku menang pemilu
A. E
Bisa kumakan rakyat sesukaku
E. G
Menang, menang, aku menang pemilu
A. E
Bisa kujual pulau, kau tak tahu.
REFF:
E. D. A. E
Sekarang akulah yang jadi penguasa
E. D. A.
Sembarang bertindak, berbuat yang aku
E
suka
E. D. A. E
Sekarang akulah yang jadi penguasa
E. D. A.
Sembarang bertindak, berbuat yang aku
E
suka
SONG2:
Menang, menang, aku menang pemilu
O banyak uang-uang di mejaku
Menang, menang, aku menang pemilu
O banyak uang-uang di mejaku
Menang, menang, aku menang pemilu
Kubuat undang-undang memihakku
Kubuat undang-undang memihakku
REFF:
Sekarang akulah yang jadi penguasa
Sembarang bertindak, berbuat yang aku suka
Sekarang akulah yang jadi penguasa
Sembarang bertindak, berbuat yang aku suka
CHORUS:
A. E
Pesta pora lagi
A. E
Kekasihku gonta-ganti
A. E
Akulah Raja Negeri..
A. E
Pesta pora lagi
A. E
Kekasihku gonta-ganti
A. E
Akulah Raja Negeri..
_
Monolog Butet Kartaredjasa
"Kepada seluruh rakyat, saya umumkan bahwa mulai hari ini saya lagi yang berkuasa. Kekayaan bangsa dan negara ini harus saya lindungi untuk sebesar-besarnya kepentingan saya dan keluarga saya. Anda sekalian tidak kebagian. Piye, enak jamanku tho?"
--
AKULAH PENGUASA
AKULAH PENGUASA
(Menang Pemilu)
Ciptaan: Candra Malik
Vokal: Candra Malik
Monolog: Butet Kartaredjasa
Musik: Minladunka Band
Monolog: Butet Kartaredjasa
Musik: Minladunka Band
Penata Lagu:
1. Rizki Soekirno
2. Jaka Nurdian
1. Rizki Soekirno
2. Jaka Nurdian
Penata Musik:
Rizki Soekirno
Rizki Soekirno
Produser:
Rizki Soekirno
Rizki Soekirno
Produser Eksekutif:
Sabda Cinta Management
Sabda Cinta Management
Wednesday, March 19, 2014
Novelis Aceh Arafat Nur akan Tampil dalam Asean Literary Festival
![]() |
| Arafat Nur |
Jakarta--Novelis Arafat Nur dari Acwh akan tampil mengisi dua sesi acara di Asean Literary Festifal (ALF) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta yang akan berlangsung 21-23 Maret 2014. Arafat Nur akan tampil memaparkan masalah konflik Aceh di sesi Writter’s Coner. Malamnya akan tampil membacakan petikan novel terbarunya Burung Terbang di Kelam Malam dalam sesi Performance Arts.
Asean Literary Festival merupakan festival sastra pertama kali digelar untuk negara-negara ASEAN, dengan mengusung tema "Anthems for the Common People" yang terinspirasi dari "Nyanyian Akar Rumput", sajak dari penyair Indonesia, Wiji Thukul.
“Saya senang sekali mendapat undangan mengisi acara ini. Setidaknya, saya dapat mengabarkan situasi Aceh pada waktu perang dan pengaruhnya di masa sekarang,” tutur Arafat Nur, Kamis (20/3), di Jakarta.
Novel terbaru Arafat "Burung Terbang di Kelam Malam" menggambarkan situasi sosial dan politik akibat kebijakan buruk pemerintah di masa lalu. Namun, karena novel itu baru saja terbit Februari 2014 lalu, tentu belum banyak penikmat di Indonesia yang membacanya.
Lebih dari 40 penulis, akademisi, dan kritikus dari Indonesia dan negara lainnya, baik ASEAN dan non-ASEAN akan ikut andil. Tak kurang dari 600 sastrawan dari seluruh daerah di Indonesia dan luar negeri menyatakan diri untuk hadir memeriahkan perhelatan yang digelar selama tiga hari berturut-turut ini.
Para peminat dipersilakan datang mengikuti semua acara tersebut tanpa dipungut biaya. Di antaranya dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Cina, Korea, Inggris, Australia, dan Belanda.
ALF ingin mendedikasikan diri sebagai festival untuk semua orang yang suaranya selama ini tidak terdengar. Di dalamnya, setiap orang bebas merayakan seni dan sastra secara bersama-sama. “Dalam hal ini saya juga akan menyinggung tentang ketidak-pedulian Pemerintah Aceh terhadap sastra,” ujarnya.
Disebutkan, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), memiliki banyak kesamaan termasuk dalam hal sastra dan budaya. Kedekatan tersebut tampak dari beberapa hal, seperti sejarah menjalani masa penjajahan, demokratisasi, ekonomi, seni budaya, serta bahasa.
Banyaknya kesamaan tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorong digelarnya ASEAN Literary Festival (ALF) oleh Yayasan Muara, dengan dukungan penuh dari Hivos dan Kementrian Luar Negeri.
Wednesday, January 8, 2014
Lampung Seru: Pi'i Kembali Beraksi di Bundaran Tugu Gajah
![]() |
| Aksi Pi'i di Saburai, 22 Desember 2013. |
BANDARLAMPUNG—Kawasan Tugu Gajah (Bundaran Tugu Adipura) Bandarlampung akan menjadi arena pemanasan Lampung Seru 2014, Kamis pagi (9/1), sekitar pukul 09.00 WIB. Pi’i, seniman dari Tanggamus, kembali akan melakukan performance art di ruang publik.
Sebelumnya Pi’i melakukan aksi performance art, Minggu (22/12/2013) di Jalan Sriwijaya, Enggal, Bandarlampung.
Aksi Pi’i di Tugu Gajah merupakan pembuka rangkaian even kesenian dan Pameran “LAMPUNG SeRu (Lampung Seribu Rupa) yang ditaja Dewan Kesenian Lampung, pada 11-15 Januari 2014 mendatang.
Ketua Bidang Seni Rupa Dewan Kesenian Lampung, Dana E. Rahmat, mengatakan ‘LAMPUNG SeRu’ akan dimeriahkan dengan pameran seni rupa, melukis bersama dengan melibatkan 1.000 pelajar (PAUD hingga SMA), pentas seni, diskusi, dan bazar seni.
Pameran Seni Rupa akan menampilkan karya perupa dengan rentang usia 17 – 50 tahun.
“Kami berharap kegiatan ini bisa memacu gairah berekspresi dalam berbagai bentuk sehingga terjadi regenerasi perupa di Lampung. Dalam even ‘Melukis Bersama 1.000 pelajar’, sekitar 1.000 pelajar PAUD hingga SMU akan melukis bersama-sama dengan perupa Lampung, komunitas seni, dan masyarakat umum,” kata Dana.
Sunday, December 29, 2013
DKL Siap Luncurkan Portal Berita ‘Warta Seni’
Bambang Satriaji/Teraslampung.com
BANDARLAMPUNG—Dewan Kesenian Lampung (DKL) siap meluncurkan portal berita seni pada pertengahan Januari 2014 mendatang. Portal berita beralamat di www.wartaseni.com itu diharapkan benar-benar menjadi kanal informasi para seniman dan budayawan di Lampung dan Indonesia.
Ketua Harian DKL, Hari Jayaningrat, mengatakan portal berita seni milik DKL itu sengaja dibuat umum agar bisa menjangkau publik lebih luas. Isinya, kata Hari, tidak hanya berupa ulasan seni (esai) dan berita seni serius yang benar-benar bernilai ‘art’.
“Seni popular dan seni tradisi yang hidup di komunitas-komunitas suku di Lampung dan Indonesia pada umumnya pun bisa dipublikasikan. Intinya, kami mengajak publik untuk mengenal dan memperkenalkan seni-budaya,” kata Hari, Senin (30/12).
Menurut Hari, selain melibatkan para seniman yang sudah biasa menulis, portal berita www.wartaseni.com juga akan mengajak para anggota komunitas seni di Indonesia untuk mengirimkan berita.
“Status publik yang menjadi pengirim berita adalah contributor atau relawan informasi. Pada tahap awal kami memang belum bisa memberikan honorarium untuk tiap berita yang dikirim. Namun, ke depan kami akan berusaha agar setiap kontributor atau relawan,” kata dia.
Beberapa nama seniman ‘top’ Lampung akan turut menggawangi portal berita tersebut. Antara lain Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, Syaiful Irba Tanpaka, Iwan Nurdaya Djafar, Ahmad Yulden Erwin, dan Ari Pahala Hutabarat.
“Kami juga mengundang redakdur tamu dari beberapa daerah di Indonesia. Cita-cita kami adalah menjadikan portal berita ini menjadi rumah bersama bagi para seniman Indonesia. Dengan begitu, pada masa mendatang tidak ada lagi seniman yang merasa susah mendapat akses ke media massa,” kata Hari.
BANDARLAMPUNG—Dewan Kesenian Lampung (DKL) siap meluncurkan portal berita seni pada pertengahan Januari 2014 mendatang. Portal berita beralamat di www.wartaseni.com itu diharapkan benar-benar menjadi kanal informasi para seniman dan budayawan di Lampung dan Indonesia.
Ketua Harian DKL, Hari Jayaningrat, mengatakan portal berita seni milik DKL itu sengaja dibuat umum agar bisa menjangkau publik lebih luas. Isinya, kata Hari, tidak hanya berupa ulasan seni (esai) dan berita seni serius yang benar-benar bernilai ‘art’.
“Seni popular dan seni tradisi yang hidup di komunitas-komunitas suku di Lampung dan Indonesia pada umumnya pun bisa dipublikasikan. Intinya, kami mengajak publik untuk mengenal dan memperkenalkan seni-budaya,” kata Hari, Senin (30/12).
Menurut Hari, selain melibatkan para seniman yang sudah biasa menulis, portal berita www.wartaseni.com juga akan mengajak para anggota komunitas seni di Indonesia untuk mengirimkan berita.
“Status publik yang menjadi pengirim berita adalah contributor atau relawan informasi. Pada tahap awal kami memang belum bisa memberikan honorarium untuk tiap berita yang dikirim. Namun, ke depan kami akan berusaha agar setiap kontributor atau relawan,” kata dia.
Beberapa nama seniman ‘top’ Lampung akan turut menggawangi portal berita tersebut. Antara lain Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, Syaiful Irba Tanpaka, Iwan Nurdaya Djafar, Ahmad Yulden Erwin, dan Ari Pahala Hutabarat.
“Kami juga mengundang redakdur tamu dari beberapa daerah di Indonesia. Cita-cita kami adalah menjadikan portal berita ini menjadi rumah bersama bagi para seniman Indonesia. Dengan begitu, pada masa mendatang tidak ada lagi seniman yang merasa susah mendapat akses ke media massa,” kata Hari.
Wednesday, December 25, 2013
Pentas Empat Generasi Sastrawan Lampung
Oyos Saroso H.N.
Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung yang dihelat Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL), Selasa malam (24/12/2013) pada dasarnya merupakan sebuah pertemuan empat generasi sastrawan di Lampung. Yaitu generasi 80-an, Generasi 90-an, generasi 2000-an, dan generasi 2010-an. Generasi 80-an diwakili Asaroeddin Malik Zulqornain, Isbedy Stiawan ZS, dan Syaiful Irba Tanpaka. Generasi 90-an yang tampil antara lain Iswadi Pratama, Ahman Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, dan Udo Z. Karzi. Generasi 2000-an diwakili Inggit Putria Marga, Iskandar GB, dan Fitriyani. Kalau kita tinjau jejak sastrawan Lampung, Isbedy dan kawan-kawan bukanlah generasi pertama sastrawan Lampung. Sebab, sebelumnya sudah ada sastrawan Lampung yang namanya kemudian menasional, yaitu Motinggo Busye.
Sastrawan bernama asli Bustami Djalid itu lahir di Kupangkota, Bandarlampung, 21 November 1937 dna meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun. Motinggo dikenal sebagai sastrawan terkemuka, sutradara teater, dan penulis lakon. Sebelum menulis lakon Malam Jahanam pada 1958, kemungkinan besar Motinggo Busye sudah berkarya sejak tinggal di Lampung. Artinya, ia tidak bisa dilepaskan dari jejak sejarah sastra modern di Lampung. Selain Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tanpaka, dan Asaroiddin Malik Zulqornain, pada barisan generasi 80-an sastrawan Lampung sebenarnya ada nama-nama lain. Di antaranya Iwan Nurdaya Djafar, Dadang Ruhiyat, Sugandi Putra, Djuhardi Basri, Sutarman Sutar, Christian Heru, Hasanuddin ZA, dll.
![]() |
| Isbedy Stiawan Z.S. |
![]() |
| Ari Pahala Hutabarat |
![]() |
| Fitri Yani |
Sementara generasi kedua ada nama Juperta Panji Utama, Rifian Chepy, Ivan Bonang, dll. Sebagian di antara nama-nama itu tidak aktif lagi mempublikasikan karya-karyanya. Sementara beberapa sastrawan yang masih aktif, karena alasan tertentu tidak bisa hadir pada malam silaturahmi sastrawan.
![]() |
| Yulizar Fadli |
Generasi 2000-an, selain Inggit Putria Marga, ada nama lain yang menonjol yaitu Jimmy Maruly Alfian, Dina Oktaviani, Agit Yogi Subandi, Lupita Lukman, dan Dyah Merta. Sementara generasi 2010 saya baru melihat untuk pertama kalinya Yulizar Fadli. Malam itu, Yulizar membacakan cerpen yang lumayan bagus: "Sapi".
Monday, November 18, 2013
Taman Budaya Lampung Lakukan Revitalisasi
![]() |
| Pergelaran seni tradisi Lampung di Teater Terbuka Taman Budaya Lampung,(TBL) Jl. Cut Nyak Dien Bandarlampung, Selasa (19/11) menandai revitalisasi TBL. (Foto:Prana Sukma Adji) |
BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Taman Budaya Lampung akan menggelar pekan Seni Budaya Lampung. Gelaran seni budaya itu untuk merevitalisasi Taman Budaya yang kian dilupakan.
Ketua Taman Budaya Lampung, Yusup Rusman mengatakan, selain untuk melestarikan seni dan budaya Lampung, gelaran tersebut juga untuk merevitalisasi Taman Budaya Lampung agar kembali menjadi pusat kesenian dan kebudayaan di Lampung.
"Dahulu Taman Budaya Lampung adalah pusat kesenian dan semacam kawah candradimuka untuk dunia kesenian di Lampung. Sangat disayangkan kini mulai dilupakan," katanya, usai pembukaan Gelar Seni Budaya Lampung di Taman Budaya Lampung, Selasa (19/11/2013).
Pembukaan gelaran seni dan budaya yang akan dilaksanakan selama tiga hari, Selasa-Kamis, 19 - 21 November itu berlangsung meriah. Tari tradisional yang dikreasikan diiringi musik tetabuhan tradisional dan orkestra menjadi hiburan dalam pembukaan tersebut.
Gelaran yang diikuti oleh seluruh kabupaten di Lampung itu juga menggelar pameran lukisan, pentas teater, bazar, dan dialog seni budaya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung, Gatot Hudi Utomo mengatakan, tidak mungkin menahan gencaran kebudayaan modern seiring globlisasi. Namun, seni tradisional dipastikan tidak akan hilang. "Selama rasa atau taste masih ada, seni tradisional tidak akan hilang," katanya.
Untuk itu, tambahnya, diharapkan seniman mampu beradaptasi terhadap kebudayaan modern serta mampu berkolaborasi.
"Manfaatkan Taman Budaya Lampung ini sebagai laboratorium seni budaya. Silakan bereksperimen," pungkasnya.
Penulis: Prana Sukma Adji
Subscribe to:
Posts (Atom)















