Showing posts with label Bahasa Lampung. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Lampung. Show all posts

Friday, February 28, 2014

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (3)

Kees Groeneboer*

Dia mengalami kesulitan untuk mempelajari dialek Aboeng, karena semua yang dikatakan oleh penduduk setempat harus dia catat, tanpa dia dapat mengacu ke teks-teks tertulis. Dia hanya memiliki sejumlah puisi yang dikumpulkannya, yang dalam dialek Aboeng disebut bandoeng dan dalam bahasa Teluk Betung sagata. Bandoeng ini merupakan surat-surat cinta bersajak, lagu-lagu ratapan dan cerita-cerita, tetapi menurut Van der Tuuk semua ini sering tidak dapat dimengerti, karena banyak kata yang digunakan bukan kata sehari-hari. Selebihnya menurutnya tidak ditemukan sumber tertulis yang dapat digunakan:

‘Buku-buku tua yang terbuat dari kulit pohon, hanyalah berhubungan dengan kepercayaan pada takhayul, dan ditulis dalam bahasa campuran Jawa dan Melayu yang memuakkan. Bahkan orang Lampung sendiri tidak dapat mengerti isinya. Yang penting untuk mereka hanyalah iramanya dan mereka memang tidak dapat disalahkan: ada banyak negara yang beradab yang membayangkan dirinya akan ke surga bila mereka membaca cerita-cerita takhayul.’ [...].

Mengenai penduduk Aboeng: mereka masih sangat primitif tetapi masih berbicara bahasa Lampung yang sempurna. Bahasa itu kadang-kadang naif dan seringkali orang menggunakan cara yang lucu untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya mereka belum lama kenal. Misalnya orang menyebut potlot dawat tjelit, dengan kata lain tinta yang dikenakan ke lidah yang dilujurkan (untuk membuat potlot basah dan kemudian dapat dipakai untuk menulis). Lentera dinamakan damar koeroeng, sebuah lampu yang terkurung. Dialek Aboeng memiliki banyak kata asli, yang di dalam bahasa Lampoeng paminggir, dari daerah pesisir, diambil dari sebuah bahasa yang lain [...]. 

Seberapa naif penduduk di sini, terbukti antara lain dari penjelasan tentang bendera Belanda. Menurut mereka merah sebagai warna yang paling atas, karena bangsa Ingris berwarna merah. Putih melambangkan orang Belanda, sedangkan hitam merupakan warna kulit orang pribumi sendiri. Jika mereka membalik bendera tersebut, mereka khawatir, bahwa hal tersebut akan diartikan bahwa mereka menentang pemerintah Hindia-Belanda, karena warna hitam akan berada di bagian atas.’ (03-03-1869)

Kekurangan akan sumber-sumber tertulis memaksa Van der Tuuk untuk juga mengumpulkan surat-surat dalam bahasa Lampung dari berbagai daerah yang pernah disinggahinya. Tetapi banyak dari surat-surat tersebut yang menurut dia tidak berguna untuk studi bahasa. Untuk Van der Tuuk berbagai kitab-kitab hukum Lampung yang masih dipakai secara umum, yang ditulis dalam tulisan Arab, cukup aneh. Berikut contoh-contoh yang dia berikan:

‘Jika seorang laki-laki bertemu seorang wanita yang sedang mandi atau sedang buang hajat di sungai (tanpa memberitahu seperti yang seharusnya laki-laki itu lakukan) maka dia akan dikenakan denda sebesar 5000 pitis. Itu disebut sikarabaja. [...]. Jika seorang laki-laki mengambil anak dari gendongan seorang wanita yang menggunakan cadar atau mencium anak itu, maka dia akan dikenakan denda 6000 pitis. Itu namanya anjamarbaja.’ (03-03-1869)


Tanda anak panah adalah tempat yang disinggahi Van der Tuuk 
Pada bulan April 1869 dia berjalan lebih jauh ke arah barat dari Tarabanggi lewat Kotaboemi dan Tjoebalak menuju Boemi Agoeng dan terus sampai ke Moearadoea. Akhir bulan Mei dia berangkat dari sana ke arah timur menuju Menggala, dan pada bulan Juni 1869 dia mengarah ke selatan lewat Tarabanggi menuju Teluk Betung. Kecuali beberapa bagian perjalanan dengan kapal, jarak yang panjang lainnya ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dan selama perjalanan dia hanya tiga kali bertemu orang Belanda, pegawai pemerintahan di daerah Lampung yang menurutnya melalui bahasa Melayu mereka yang kacau telah memberi pengaruh buruk pada dialek Aboeng yang murni. Tetapi justru karena dia hampir hanya berhubungan dengan orang pribumi, dia dapat mengumpulkan banyak bahan untuk kamusnya. 

Dalam perjalanan dia menyusun kamus bahasa Lampung. Namun, kamus yang terdiri dari enam ratus halaman itu tidak jadi dipublikasikan. Barangkali karena dia belum dapat cukup banyak waktu untuk membandingkan kumpulan kata Lampung itu dengan bahasa-bahasa Nusantara yang lain. Barangkali juga karena dia kurang percaya diri mengenai kosa katanya, karena kurangnya sumber tertulis dan dia harus mendasari pada bahasa pergaulan sehari-hari. Dan barangkali juga karena pada saat itu belum ada cetakan huruf bahasa Lampung yang cocok. Pada saat perjalanannya dia sudah mengirimkan beberapa laporan ke Batavia mengenai penelitiannya terhadap bahasa Lampung, yang kemudian dipublikasikan. 

Bulan Juni 1869 padanya dijajaki apakah untuk selamanya mau bekerja untuk pemerintah Hindia-Belanda. Namun, mengenai hal itu sebenarnya Van der Tuuk ragu-ragu. Memang pemerintah menawarkan gaji yang lebih tinggi, tetapi bekerja untuk Persekutuan Alkitab sudah pasti dia memiliki lebih banyak kebebasan. Oleh karena pada saat itu dia sudah merasa jenuh dengan distrik Lampung, dia menyatakan bahwa dia hanya mau bekerja untuk pemerintah apabila dia dikirim ke Bali, tempat dia mengharapkan kehidupan yang lebih menyenangkan.

* Dr. Kees Groeneboer adalah Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (2)

Kees Groeneboer*

Dari banyak perbandingan bahasa dalam semua publikasinya terbukti bahwa Van der Tuuk juga sudah memiliki pengetahuan mengenai berbagai bahasa lagi, seperti bahasa Nias, Aceh, Rejang, Mentawai dan Melayu-Minangkabau, bahasa-bahasa Filipina seperti bahasa Tagalog dan Visaya, bahasa Hindustan, bahasa Favorlang dan bahasa-bahasa lain dari Taiwan, juga mengenai bahasa Cina, Vietnam, dan bahasa Siam. Melalui publikasi-publikasi dari rekannya, yang juga bekerja sebagai ahli bahasa untuk Persekutuan Alkitab, dia memperoleh pengetahuan tentang bahasa Dayak, Bugis dan Makasar.

Persekutuan Alkitab Belanda pada tahun 1862 sudah mendesak Van der Tuuk untuk menyelesaikan pekerjaannya mengenai bahasa Batak, dan memintanya untuk berangkat ke Hindia-Belanda lagi, kali ini untuk menyusun kamus dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Namun, dia senantiasa menunda keberangkatannya untuk dapat menyelesaikan berbagai publikasi yang lain dahulu. Dia misalnya menyusun beberapa buku bacaan dalam bahasa Melayu untuk anak sekolah di Hindia-Belanda,  menerbitkan studi mengenai bahasa Melayu-Batavia,  dan suatu uraian mengenai koleksi naskah berbahasa Lampung.  Baru pada bulan Mei 1868 dia berangkat lagi ke Hindia-Belanda.

Pada saat kedatangannya di Batavia pada bulan Juli 1868 Van der Tuuk mendapat berita bahwa untuk sementara waktu dia tidak dapat pergi ke Bali karena terjadi pemberontakan di distrik Buleleng. Dia mendapat tawaran untuk selama lima bulan melakukan studi bahasa di daerah Lampung atas biaya pemerintah Hindia-Belanda.

Akhir Agustus 1868 dia berangkat ke Teluk Betung, dan menginap selama hampir empat bulan di rumah Daniel W. Schiff, yang pada periode 1868-1870 menjabat sebagai residen di daerah Lampung. Dia sangat cocok dengannya dan bahkan darinya dia mendapat dua pemuda Lampung – Sandi dan Abdullah – untuk membantunya belajar bahasa Lampung yang dipakai di Teluk Betung. Rumah residen terletak di bukit Talang di mana udaranya sejuk dan bahkan jauh lebih sehat daripada di Teluk Betung sendiri yang berada di kawasan berawa.

Dia sangat positif mengenai penduduk setempat: ‘mereka terbebas dari sikap penjilat orang Jawa, dan mereka mengingatkan saya pada orang Batak yang jika memungkinkan ingin saya kunjungi lagi’ (15-11-1868). Dia memang mengeluhkan tentang kurangnya percakapan intelektual, seperti yang terjadi di mana-mana di Hindia-Belanda: ‘Kelompok terbesar dari penduduk berkulit putih lahir di Hindia-Belanda dengan ibu pribumi dan ayah orang Eropa, dan hiburan terbesar mereka di sini adalah: bermain kartu dan berdansa. Oleh karena saya tidak berpartisipasi dalam kedua hal tersebut, di sini saya kadang-kadang merasa terasing dan tersendiri, terutama pada malam hari (15-11-1868).

Pendapatnya mengenai kedua gurunya – Sandi dan Abdullah – sangat baik, mereka pintar dan dalam waktu satu setengah bulan dia sudah lumayan dapat mengerti dan berbicara bahasa Lampung. Memang menurutnya sangatlah sulit untuk mempelajari bahasa Lampung karena hampir tidak ada teks-teks tertulis: ‘Oleh karena itu setiap frasa, yang diucapkan oleh guru-guru saya, saya tulis, dan dari situ saya belajar mengenal arti dan penggunaan semua kata. Dengan cara ini saya dapat belajar bahasa Lampung dengan baik, seperti bila saya belajar dengan menggunakan teks-teks bahasa Lampung yang tertulis.

Melalui cara ini kosa kata saya bertambah setiap hari, dan saya baru akan mulai mempelajari dialek lainnya saat saya sudah menguasai bahasa ini dengan baik, dan saya sudah dapat mengerti sebagian besar apa yang dikatakan kepada saya’ (17-12-1868). Pada bulan November 1868 dia melaporkan bahwa untuk studi bahasa dia akhirnya dapat memakai dua cerita epik: Tjarita Anag Dalom dan Tjarita Dajang Rindoe. 

Kedua cerita ini terkenal di seluruh masyarakat Lampung, bahkan tokoh-tokoh yang ada didalamnya dipakai di berbagai sajak. Dia tetapi mengalami kesulitan menggunakannya untuk mempelajari bahasa Lampung, karena walaupun tertulis dengan huruf bahasa Lampung, teks-teks ini mengandung campuran dari bahasa Jawa dan Melayu dengan di sana-sini menggunakan sebuah kata dari bahasa Lampung atau sejenisnya.  ‘Kadang-kadang saya putus asa saat mencari sumber tertulis yang cocok untuk meneliti bahasa Lampung, karena di dalamnya ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti, ataukah karena kecerobohan saat menyalin, ataukah karena di dalamnya terselip kata-kata yang berasal dari bahasa-bahasa lain.’ (20-03-1869). Oleh sebab itu Van der Tuuk merasa terpaksa mendalami bahasa lisan. Setelah tiga bulan tinggal di Teluk Betung Van der Tuuk sudah mengirim sebuah daftar kata bahasa Lampung ke Batavia untuk diterbitkan.

Pada akhir 1868 dia meminta kepada Pemerintah untuk dapat tinggal lebih lama di daerah Lampung sehingga dia dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai berbagai dialek. Dia mendapat perpanjangan enam bulan dan dia memberi tahu kepada Persekutuan Alkitab bahwa situasi di Bali belum memungkinkannya untuk pergi ke sana. Selain gejolak yang belum mereda, di sana juga muncul epidemi kolera.


Pada akhir bulan November dengan berjalan kaki dia pergi ke daerah pedalaman dan selama beberapa saat tinggal di Lehan di pinggir Sungai Seputih (tidak jauh dari Tarabanggi), kurang lebih seratus kilometer di sebelah utara Teluk Betung. Dia mendalami bahasa Aboeng, dialek terpenting dari bahasa Lampung, yang dipakai di daerah dataran tinggi. Bahasa Aboeng itu agak banyak berbeda dengan dialek yang dipakai di Teluk Betung. Untuk dapat mempelajari dialek ini, dia tinggal di tengah-tengah penduduk setempat untuk dapat sebanyak mungkin  menyusun sebuah daftar kata yang berguna. Dia menulis:

‘Saya duduk di sini, di sebuah ruang terbuka di seberang Sungai Seputih dan dikelilingi hutan belantara. Tempat tinggal saya adalah sebuah rumah tanpa pintu depan dan belakang. Di bagian tengah rumah yang memisahkan dua ruangan yang suram, yang saya tinggali bersama dua pembantu saya, menyala sebuah pipa yang terbuat dari daun pisang dan damar. Lampu itu menjaga agar harimau tidak menghampiri kami. Dengan penerangan lampu minyak tanah saya menulis surat ini, dan saya merokok seperti kapal uap untuk mengusir serangga yang pada musim hujan mengerubungi orang. [...].

Saya berada sepenuhnya di antara orang Lampung dan belajar banyak sekali. Keberadaan saya di sini penting untuk Persekutuan Alkitab karena saya sudah belajar hidup terisolasi. Saya berencana, nanti di Bali juga akan mengasingkan diri dari masyarakat Indo-Eropa yang gemar bermain kartu, yang menyita begitu banyak waktu dan tidak memberikan kepuasan apa pun. Waktu saya di sini mungkin akan sedikit diperpanjang; dan bila tidak, maka saya dengan senang hati akan meninggalkan tanah ini yang berhutan belantara, dengan buaya, rawa-rawa, dan harimau. Saya tidak ingin tinggal lama di sini sebab di tempat ini hampir-hampir tidak ada kesusastraan, sehingga saya harus menangkap semuanya dari mulut penduduk pribumi.‘ (17-12-1868)