Showing posts with label Lampung. Show all posts
Showing posts with label Lampung. Show all posts

Monday, March 17, 2014

PLN: Menyala Terus, Terus Menyala



Isbedy Stiawan ZS, Ferdi Gunsan/Teraslampung.Com




 Sektor Pembamgkit Listrik Tarahan, Lampung Selatan. (teraslampung.com/isb)
Bandarlampung—Sudah empat hari ini, kelistrikan di Lampung kembali normal. Padahal sepanjang Februari dan Maret 2014, pemadaman listrik bergilir hampir tiap hari. Bahkan sehari bisa mengalami dua kali padam.

Biang masalah, yakni empat mesin di PLTU Tarahan dan PLTU Sibalang, kini sudah diatasi. PLTU Sibalang ketika dipantau, Sabtu (8/3/2014) petang, tak ada asap yang keluar dari cerobong tinggi sebagai indikasi tidak produksi namun kini sudah beroperasi.

“Ya, saya juga dapat informasi begitu. Dua mesin di PLTU Tarahan yang rusak dan overhaul, satu unitnya sudan diperbaiki. Begitu pula PLTU Sibalang yang selama ini tidak aktif, sudah produksi,” jelas Budi Agustian, ketua AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) Lampung, Selasa (18/3).

Budi yang ditemui di kantor AKKLINDO Jalan Way Abung, Pahoman, Bandarlampung, mengapresiasi kinerja PT PLN Pembangkit Sumbagsel yang tanggap terhadap keluhan masyarakat Lampung. Padahal, janji PLN baru April 2014 pelistrikan di Lampung benar-benar normal.

“Tapi, kenyataannya lebih cepat dari perkiraan,” kata dia.

Ketua AKKLINDO Lampung tetap berharap pada PLN agar transparan. Misalnya, dia menyebut, perlu adanya evaluasi bersama—PLN dan mitrakerja (stakeholder)—untuk proyek-proyek besar di PLN, baik di pembangkit, transmisi, maupun distribusi.

“Supaya tidak timpang antara keandalan mesin dengan energy listrik yang dikeluarkan,” tutup Budi.

Apresiasi buat PLN
Sejumlah warga yang ditemui membenarkan kalau beberapa hari belakangan inis udah tidak lagi mengalami pemadaman listrik bergilir. Padahal hampir satu bulan, tiada hari tanpa pemadaman.

“Malah sehari bisa dua kali mati. Apa tidak mengecewakan,” kata Ibu Fitri di Karang Anyar. “Katanya penyebab listrik sering mati, karena mesin pembangkit di Tarahan yang rusak.”

Hal sama diakui Heri. Warga Rawasubur, Enggal, Bandarlampung ini, mengetahui kalau persoalan di PLN Lampung selama ini pada mesin pembangkit. “Kalau sekarang sudah diperbaiki baguslah, apresasi tinggi umtuk kinerja PLN,” ujar Heri.

Tetapi, warga tetap belum yakin pada pihak PLN mampu member pelayanan kelistrikan yang maksimal kepada pelanggannya. Jangan-jangan, kata Heri, sifatnya hanya sementara untuk meredam kekesalan masyarakat.

“Siapa bisa menjamin mesin pembangkit yang ada di Tarahan dan Sibalang bisa bertahan hingga 5 atau 10 tahun kedepan. Tapi saya tetap mengharapkan, PLN terus menyala dan menyala terus,” harap Heri sambil mengutip salah satu iklan produk lampu.

Karena itu, kata Budi Agustian seperti dikutip Teraslampung.Com beberapa hari lalu, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi kelistrikan saat mesin pembangkit rusak atau overhaul. “Bukan seperti selama ini, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” katanya.

Sebagai ketua AKKLINDO Lampung, dia member apresiasi pada kinerja PLN yang cepat untuk keluar dari masalah ini. Sebab, jika berlaru-larut akan memicu kemarahan masyarakat. “Saya dengar, mesin pembangkit di PLTU Tarahan sudah diperbaiki, dan Sibalang sudah beroperasi,” terangnya.

Namun, apakah hanya di dua PLTU—Tarahan dan Sibalang—persoalan kelistrikan di Lampung dapat teratasi? Sementara, perlistrikan di daerah ini punya potensi menguntungkan, sekaligus menyimpan tantangan.

Sebuah tulisan bertajuk “Lampung: PeluangdanTantangannya” (http://optimus.pln.co.id/opi/index.php/catatan-pmo/70-lampung: peluang-dan-tantangannya), mengurai bahwa kelistrikan di Lampung sangat potensi. Lampung memiliki PLTU Tarahan, yang tidak saja didesain ramah lingkungan, juga kinerja pegawainya yang patut diacungi jempol. (baca “Lampung: Peluang danTantangannya”)

Hanya saja, kelistrikan di Bumi Ruwa Jurai ini tetap akan menghadapi tantangan amat besar. Karena itu, PLN perlu melakukan terobosan. Misalnya, perlu dipikirkan adalah jalur transmisi.

Terobosan ini, segara merealisasikan jalur transmi antara Gardu Induk Seputihbanyak dan GI Menggala. Satu-satunya dapat menolong saat terjadi maslaah seperti selama ini, interkoneksi dari gardu induk lain sangat mendukung.

Lantas, kenapa masalah jalur tranmisi dari Gardu Induk Seputih banyak ke Gardu Induk Menggala belum juga koneksi? Dari sumber di kalangan kontraktor kelistrikan di daerah ini, kendalanya adalah SUTT (Saluran Udara Tekanan Tinggi) yang melintasi kawasan PT Sugar Grup yang belum mendapat izin dari perusahaan gula putih itu.

"Ironinya, sejatinya tower sudah dibangun dan berdiri kokoh namun  kabel yang menghubungkan kedua Gardu Induk tersebut sampai sekarang belum ada. Sehingga GI Menggala selama ini mengalama overloud," katanya.

Seandainya interkoneksi transmisi GI Menggala-Seputihbanyak bisa terujud, bukan saja dapat mengatasi kelistrikan di Menggala dan sekitarnya, melainkan Lampung. “Transmisi GI Menggaladan GI Seputihbanyak, sebenarnya sedikit banyak bisa mengatasi persoalan listrik di sekitar itu, dan Lampung pada umumnya,” kata kontraktor kelistrikan itu lagi yang enggan ditulis namanya.

Sementaraitu, Sugar Grup mengklaim bukan pihaknya tidak memberikan izin lintas transmisi (SUTT) ke kawasannya. Persoalannya, perjanjian kerja sama yang belum dibahas oleh pihak PLN.

Sementara itu Handy, manager UPT GI dan SUTET saat dikonfirmasi tak bersedia menjawab, dan ia menyarankan menghubungi PLN Distribusi Lampung atau PLN Proyek Transmisi Lampung. "Karena kami lebih ke arah pemeliharaan transmisinya, bukan ke proyek pembangunannya. Jadi seluk-beluk dan isu mengenai hal tersebut, lebih tepat ditanyakan dan dijawab oleh 2 unit tersebut," kata Handy melalui pesan pendek.

Sedangkan GM  PLN Distribusi Lampung Made Artha, saat dihubungi untuk konfirmasi, telepon genggamnya tidak aktif.


baca: Lampung: Peluang dan Tantanggannya






Friday, February 28, 2014

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (4)

Kees Groeneboer*

Sudah sejak di perjalanan kembali dari Tarabanggi ke Teluk Betung pada bulan Juni Van der Tuuk mengeluhkan serangan demam yang terus-menerus, dan kemudian ditambah lagi dengan disentri yang parah. Pada akhir Agustus dia benar-benar tak berdaya, dibawa dengan kapal dari Teluk Betung ke Batavia. Dia langsung meneruskan perjalanan ke Bogor untuk memulihkan kekuatannya. 

Dia menekuni studi bahasa Sunda dan mengerjakan beberapa publikasi mengenai bahasa Lampung, yang dikirimkannya pada bulan November 1869 ke Batavia. Karya itu mengenai dialek-dialek Lampung yang akan diterbitkan pada tahun 1872,  serta bagian pertama dari buku bacaan bahasa Lampung yang selanjutnya tidak dipublikasikan karena tidak adanya huruf cetak yang tepat - cetakan percobaannya ditolak oleh Van der Tuuk.  Dia juga mempublikasikan sembilan belas inskripsi (piagem), karena hanya dari piagem-piagem ini dapat kita ketahui sesuatu mengenai sejarah daerah Lampung. Apalagi hanyalah teks-teks macam ini yang merupakan teks prosa tidak bersajak. Publikasi mengenai piagem-piagem ini baru pada tahun 1884 akan dicetak.

Desember 1869 Van der Tuuk kembali bekerja untuk Persekutuan Alkitab, berangkat ke Surabaya dan beberapa bulan kemudian ke Buleleng (Singaraja), bagian utara Bali yang berada di bawah kekuasaan Belanda. Van der Tuuk membangun rumah beberapa kilometer di sebelah selatan Singaraja di Kampung Baratan. Dia menulis:

‘Saya membangun rumah di suatu tempat yang terpencil, dengan maksud agar saya dapat sesedikit mungkin berhubungan dengan orang Eropa yang lain. Bila tidak begitu saya tidak melihat kesempatan untuk mempelajari bahasa Bali secara mendasar. [...]. Keadaan saya di sini tidaklah terlalu menyenangkan sebab sama sekali tidak ada percakapan intelektual, tetapi saya akan terhibur bila saja ada kemajuan dalam pekerjaan saya. Untuk bersenang-senang di Hindia-Belanda, orang tidak dapat pergi ke sana sebagai seorang ahli bahasa sebab sepenuhnya dia akan terisolasi. Kebanyakan orang Eropa di sini sama sekali tidak berminat terhadap studi apa pun. Pegawai dengan gaji cukup besar menganggap orang yang memiliki kegemaran meneliti bahasa-bahasa dan puas dengan gaji yang minim sebagai orang gila.‘ (31-07-1870)

Dia mulai tinggal di Bali dan dengan cepat dia terikat pada kehidupan barunya:

‘Hidup di sini cukup membosankan, meskipun demikian, saya tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi. Saya sudah terikat dengan rumah saya, anjing saya (empat), monyet (tiga), ayam (tidak pernah dihitung jumlahnya) dan hal-hal remeh lainnya yang ternyata merupakan inti dari kehidupan. (Saya mempunyai sepuluh ekor bebek). Anda sekarang dapat membayangkan kehidupan saya di sini. Percakapan yang ada di sini tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan saya mengobrol dengan orang Bali. [...]. Mereka tidak lebih beradab dibandingkan orang Batak [...] dan mereka agak lebih buruk tabiatnya. Sebuah contoh dari kurangnya moral di sini adalah popularitas gandrung (penari laki-laki yang berpakaian seperti perempuan) yang dapat diajak menari, bercanda, dan sebagainya. Apabila di suatu tempat ada gandrung, maka penari perempuan tidak akan mendapat uang! Memuakkan melihatnya, bagaimana mereka itu diciumi dan dijamah oleh publik.‘ (09-11-1871)

Seperti sebelumnya di daerah Batak, di Bali dia lagi-lagi terusik oleh penindasan terhadap penduduk yang dilakukan oleh raja-raja Bali, oleh ketidakberdayaan pemerintah Hindia-Belanda terhadap hal tersebut, dan oleh tingkah laku para penginjil. Dia juga mengeluhkan kembali mengenai ‘keserakahan‘ orang Cina dan Arab. [...]. Meskipun demikian, dia lebih tertarik pada kehidupan di Bali dibandingkan Sumatra sebab dia menganggap orang Bali lebih berbudaya dan lebih halus perangainya, juga ada kesusastraan yang lebih berkembang.

Dia bekerja giat untuk menyusun kamus bahasa Bali dan menentukan bahwa bahasa Bali tidak akan dapat dimengerti tanpa bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno), karena seluruh kesusastraan Bali sebenarnya merupakan lanjutan dari kesusastraan Kawi. Dia bermaksud untuk memasukkan kata-kata Kawi dalam kamusnya, dan karena itu kamus itu tentu saja akan lebih luas. Sudah jelas baginya bahwa pekerjaan itu harus dilakukan sebelum menerjemahkan Alkitab. 

Pada tahun 1871 dia menulis bahwa Persekutuan Alkitab tidak boleh berkhayal mengenai cepatnya penerbitan terjemahan Alkitab dalam bahasa Bali, dan bahwa secara keseluruhan orang Bali belum cukup matang untuk agama Kristen. Dia juga menanyakan apakah Persekutuan Alkitab bersedia menerbitkan kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda, tetapi ketika mereka ingin mengetahui seberapa luas kamus itu, dia menganggap hal itu sebagai suatu penolakan. Barangkali karena itu dia merasa terdorong untuk mulai berdinas bagi pemerintah Hindia-Belanda. Dia juga menganggap kebijakan Persekutuan Alkitab untuk mempelajari suatu bahasa dan pada saat yang bersamaan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut, adalah suatu kekeliruan.

Pada April 1873, pada usia empat puluh sembilan tahun, akhirnya dia diangkat oleh permerintah menjadi ‘pegawai untuk mempelajari bahasa-bahasa Nusantara‘. Dia merasa lega dapat mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari bahasa Bali,  tanpa perlu menerjemahkan Alkitab, suatu kesibukan yang selalu tidak disukainya: ‘Apabila Anda menerjemahkan berdasarkan kehendak bahasa, maka seorang penginjil akan menyalahkan Anda karena Anda telah memperkosa sabda Tuhan. Apabila Anda mengorbankan bahasa untuk Alkitab, maka para pakar bahasa akan meributkannya‘. (31-07-1870)

Sejak tahun 1873 sampai dia meninggal dunia di tahun 1894, dia hidup ‘seperti orang Bali‘ di sebuah rumah kecil terbuat dari bambu dan kayu. Mengenai cara hidupnya, tetapi juga mengenai tingkah lakunya yang eksentrik, beredar berbagai cerita. Misalnya dia mandi di antara orang Bali di pancuran dekat rumahnya. Dia berjalan-jalan hanya dengan mengenakan sarung, setengah telanjang, dan selalu membawa sebuah pentungan besar. Rumahnya makin lama makin kotor dan lebih menyerupai sebuah gudang buku dan naskah. Sebaliknya dia memiliki makanan Eropa yang paling lezat di Bali dan mempunyai persediaan minuman anggur terbaik. Bagi orang Eropa di Bali rumahnya menjadi semacam objek wisata untuk dapat mengamati sosok yang aneh itu dari dekat. Hal itu sama sekali tidak disukai olehnya. Namun, rumah Van der Tuuk selalu terbuka untuk penduduk pribumi dan dia selalu dimintai pendapatnya mengenai berbagai hal oleh banyak orang Bali terkemuka. Bahkan, salah satu dari raja Bali mengatakan: ‘Hanya ada satu orang di seluruh Bali yang mengenal dan memahami bahasa Bali, dan orang itu adalah Goesti Dertik (Van der Tuuk)‘.

Pada tanggal 17 Agustus 1894 Van der Tuuk, yang berusia tujuh puluh tahun, meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya – dia dengan segera dilarikan dari Buleleng ke sana – karena penyakit disentri. Kamus bahasa Kawi-Bali-Belandanya, mahkota dari seluruh karyanya, saat itu belum selesai dan baru diterbitkan setelah kematiannya dalam empat jilid yang tebal, dengan jumlah 3.600 halaman.***

* Dr. Kees Groeneboer, 
Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta


Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (2)

Kees Groeneboer*

Dari banyak perbandingan bahasa dalam semua publikasinya terbukti bahwa Van der Tuuk juga sudah memiliki pengetahuan mengenai berbagai bahasa lagi, seperti bahasa Nias, Aceh, Rejang, Mentawai dan Melayu-Minangkabau, bahasa-bahasa Filipina seperti bahasa Tagalog dan Visaya, bahasa Hindustan, bahasa Favorlang dan bahasa-bahasa lain dari Taiwan, juga mengenai bahasa Cina, Vietnam, dan bahasa Siam. Melalui publikasi-publikasi dari rekannya, yang juga bekerja sebagai ahli bahasa untuk Persekutuan Alkitab, dia memperoleh pengetahuan tentang bahasa Dayak, Bugis dan Makasar.

Persekutuan Alkitab Belanda pada tahun 1862 sudah mendesak Van der Tuuk untuk menyelesaikan pekerjaannya mengenai bahasa Batak, dan memintanya untuk berangkat ke Hindia-Belanda lagi, kali ini untuk menyusun kamus dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Namun, dia senantiasa menunda keberangkatannya untuk dapat menyelesaikan berbagai publikasi yang lain dahulu. Dia misalnya menyusun beberapa buku bacaan dalam bahasa Melayu untuk anak sekolah di Hindia-Belanda,  menerbitkan studi mengenai bahasa Melayu-Batavia,  dan suatu uraian mengenai koleksi naskah berbahasa Lampung.  Baru pada bulan Mei 1868 dia berangkat lagi ke Hindia-Belanda.

Pada saat kedatangannya di Batavia pada bulan Juli 1868 Van der Tuuk mendapat berita bahwa untuk sementara waktu dia tidak dapat pergi ke Bali karena terjadi pemberontakan di distrik Buleleng. Dia mendapat tawaran untuk selama lima bulan melakukan studi bahasa di daerah Lampung atas biaya pemerintah Hindia-Belanda.

Akhir Agustus 1868 dia berangkat ke Teluk Betung, dan menginap selama hampir empat bulan di rumah Daniel W. Schiff, yang pada periode 1868-1870 menjabat sebagai residen di daerah Lampung. Dia sangat cocok dengannya dan bahkan darinya dia mendapat dua pemuda Lampung – Sandi dan Abdullah – untuk membantunya belajar bahasa Lampung yang dipakai di Teluk Betung. Rumah residen terletak di bukit Talang di mana udaranya sejuk dan bahkan jauh lebih sehat daripada di Teluk Betung sendiri yang berada di kawasan berawa.

Dia sangat positif mengenai penduduk setempat: ‘mereka terbebas dari sikap penjilat orang Jawa, dan mereka mengingatkan saya pada orang Batak yang jika memungkinkan ingin saya kunjungi lagi’ (15-11-1868). Dia memang mengeluhkan tentang kurangnya percakapan intelektual, seperti yang terjadi di mana-mana di Hindia-Belanda: ‘Kelompok terbesar dari penduduk berkulit putih lahir di Hindia-Belanda dengan ibu pribumi dan ayah orang Eropa, dan hiburan terbesar mereka di sini adalah: bermain kartu dan berdansa. Oleh karena saya tidak berpartisipasi dalam kedua hal tersebut, di sini saya kadang-kadang merasa terasing dan tersendiri, terutama pada malam hari (15-11-1868).

Pendapatnya mengenai kedua gurunya – Sandi dan Abdullah – sangat baik, mereka pintar dan dalam waktu satu setengah bulan dia sudah lumayan dapat mengerti dan berbicara bahasa Lampung. Memang menurutnya sangatlah sulit untuk mempelajari bahasa Lampung karena hampir tidak ada teks-teks tertulis: ‘Oleh karena itu setiap frasa, yang diucapkan oleh guru-guru saya, saya tulis, dan dari situ saya belajar mengenal arti dan penggunaan semua kata. Dengan cara ini saya dapat belajar bahasa Lampung dengan baik, seperti bila saya belajar dengan menggunakan teks-teks bahasa Lampung yang tertulis.

Melalui cara ini kosa kata saya bertambah setiap hari, dan saya baru akan mulai mempelajari dialek lainnya saat saya sudah menguasai bahasa ini dengan baik, dan saya sudah dapat mengerti sebagian besar apa yang dikatakan kepada saya’ (17-12-1868). Pada bulan November 1868 dia melaporkan bahwa untuk studi bahasa dia akhirnya dapat memakai dua cerita epik: Tjarita Anag Dalom dan Tjarita Dajang Rindoe. 

Kedua cerita ini terkenal di seluruh masyarakat Lampung, bahkan tokoh-tokoh yang ada didalamnya dipakai di berbagai sajak. Dia tetapi mengalami kesulitan menggunakannya untuk mempelajari bahasa Lampung, karena walaupun tertulis dengan huruf bahasa Lampung, teks-teks ini mengandung campuran dari bahasa Jawa dan Melayu dengan di sana-sini menggunakan sebuah kata dari bahasa Lampung atau sejenisnya.  ‘Kadang-kadang saya putus asa saat mencari sumber tertulis yang cocok untuk meneliti bahasa Lampung, karena di dalamnya ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti, ataukah karena kecerobohan saat menyalin, ataukah karena di dalamnya terselip kata-kata yang berasal dari bahasa-bahasa lain.’ (20-03-1869). Oleh sebab itu Van der Tuuk merasa terpaksa mendalami bahasa lisan. Setelah tiga bulan tinggal di Teluk Betung Van der Tuuk sudah mengirim sebuah daftar kata bahasa Lampung ke Batavia untuk diterbitkan.

Pada akhir 1868 dia meminta kepada Pemerintah untuk dapat tinggal lebih lama di daerah Lampung sehingga dia dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai berbagai dialek. Dia mendapat perpanjangan enam bulan dan dia memberi tahu kepada Persekutuan Alkitab bahwa situasi di Bali belum memungkinkannya untuk pergi ke sana. Selain gejolak yang belum mereda, di sana juga muncul epidemi kolera.


Pada akhir bulan November dengan berjalan kaki dia pergi ke daerah pedalaman dan selama beberapa saat tinggal di Lehan di pinggir Sungai Seputih (tidak jauh dari Tarabanggi), kurang lebih seratus kilometer di sebelah utara Teluk Betung. Dia mendalami bahasa Aboeng, dialek terpenting dari bahasa Lampung, yang dipakai di daerah dataran tinggi. Bahasa Aboeng itu agak banyak berbeda dengan dialek yang dipakai di Teluk Betung. Untuk dapat mempelajari dialek ini, dia tinggal di tengah-tengah penduduk setempat untuk dapat sebanyak mungkin  menyusun sebuah daftar kata yang berguna. Dia menulis:

‘Saya duduk di sini, di sebuah ruang terbuka di seberang Sungai Seputih dan dikelilingi hutan belantara. Tempat tinggal saya adalah sebuah rumah tanpa pintu depan dan belakang. Di bagian tengah rumah yang memisahkan dua ruangan yang suram, yang saya tinggali bersama dua pembantu saya, menyala sebuah pipa yang terbuat dari daun pisang dan damar. Lampu itu menjaga agar harimau tidak menghampiri kami. Dengan penerangan lampu minyak tanah saya menulis surat ini, dan saya merokok seperti kapal uap untuk mengusir serangga yang pada musim hujan mengerubungi orang. [...].

Saya berada sepenuhnya di antara orang Lampung dan belajar banyak sekali. Keberadaan saya di sini penting untuk Persekutuan Alkitab karena saya sudah belajar hidup terisolasi. Saya berencana, nanti di Bali juga akan mengasingkan diri dari masyarakat Indo-Eropa yang gemar bermain kartu, yang menyita begitu banyak waktu dan tidak memberikan kepuasan apa pun. Waktu saya di sini mungkin akan sedikit diperpanjang; dan bila tidak, maka saya dengan senang hati akan meninggalkan tanah ini yang berhutan belantara, dengan buaya, rawa-rawa, dan harimau. Saya tidak ingin tinggal lama di sini sebab di tempat ini hampir-hampir tidak ada kesusastraan, sehingga saya harus menangkap semuanya dari mulut penduduk pribumi.‘ (17-12-1868)


Thursday, February 27, 2014

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak: H. Pangeran Suhaimi sebagai Sai Batin Raja Adat


Novan Saliwa*

Pangeran Suhaimi (dok Novan Saliwa)
H. Pangeran Suhaimi  adalah profil seorang pemimpin yang semasa hidupnya sebagai Sai Batin Raja Adat dan pejuang kemerdekaan dengan tanda jasa bintang gerilya serta satya lencana perang kemerdekaan 1 dan 2. Beliau adalah pensiunan Bupati di Kantor Gubernur Lampung. Istri Pangeran Suhaimi adalah Hj. Ratu Lela Amrin gelar Ratu Mas Ria Intan Ghalangan Dalom Ratu Paksi Buay Pernong yang merupakan sosok wanita yang lembut dan sholehah, mendampingi perjuangan Pangeran Suhaimi dengan setia.  Alhmarhum disemayamkan di Makam Pahlawan Tanjung Karang Bandar Lampung pada tanggan 6 Februari 1986 dengan meninggalkan 7 orang putra putri.

Pangeran Suhaimi gelar Sultan Lela Muda Raja Selalau Sangon Guru Dengian Paksi, selain sebagai Sultan Kepaksian Pernong juga Wedana yang kemudian menjadi Pejabat Tinggi Bupati Kantor Gubernur di Tanjung Karang. Sebelum memangku jabatan itu, Pangeran Suhaimi juga pernah terlibat dalam pertempuran melawan penjajah dalam dinas militer.

Tercatat dalam sejarah beliau pernah menjadi  Bupati Perang Lampung Tengah, Wedana Perang Pimpinan perlawanan Rakyat Bukit Kemuning Front Utara dan pada masa revolusi membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia ) dan masuk TNI sebagai wedana perang di Lampung Utara, beliau juga sebagai Bupati Perang di daerah Lampung Tengah serta bergerilya di Lampung Selatan. Di tengah segala perjuangan dan pengabdiannya, namun Pangeran Suhaimi tidak pernah meninggalkan fungsi dan kewajibannya sebagai pemuka masyarakat adat, pemimpin (Sultan) Kepaksian Pernong dan pemangku adat Sai Batin.

Pangeran Suhaimi merupakan silsilah ke XXI sebagai saibatin atau sultan turunan lurus tak terputus dari garis Ratu yang memimpin masyarakat adat Kepaksian Pernong yang merupakan salah satu dari empat Paksi dalam Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Beliau meneruskan amanah dari nenek moyangnya Pendiri Kepaksian Pernong yaitu Umpu Pernong bersama tiga saudaranya yang lain yakni Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa dan Umpu Bejalan Diway. 

Baik sebagai sultan maupun sebagai pejabat pemerintah, kepiawian Pangeran Suhaimi tak perlu diragukan lagi. Setiap masalah bisa diselesaikannya dengan baik. Dalam menyelesaikan masalah, Pangeran Suhaimi menggunakan kewibawaannya. “Biasanya, Pangeran Suhaimi memanggil para pihak, mendengar permasalahan. Kalau sudah jelas, Pangeran Suhaimi akan bilang ini begini, kamu begini ... yang lain begini ... begini dan selesai. Pangeran Suhaimi sangat cepat dan tangkas ambil kesimpulan dan putusan melalui kata-kata yang tepat dan mengena. Sudah itu, problem selesai ....,” urai Pangeran Edward yang merupakan cucu Pangeran Suhaimi.

Selain kepiawaian dalam memecahkan persoalan, pengetahuan Pangeran Suahaimi dikenal cukup luas. Pangeran Suhaimi menguasai bahasa Arab, bahasa agama. Apabila sedang bicara agama, bahasa Arab yang dituturkan atau disebut kawan bicaranya, oleh Pangeran Suhaimi langsung diterjemahkan. Bahkan, kalau kawan bicaranya mengajak omong dengan bahasa Arab pun, Pangeran Suhaimi langsung fasih bercakap dalam bahasa itu. Mungkin kemampuannya ini terasah dalam pergaulan dekatnya dengan orang-orang Al Irsyad.

Selain bahasa Arab, Pangeran Suhaimi juga menguasai bahasa Belanda.“Terus terang, figur Pangeran Suhaimi sangat saya kagumi. Saya tidak tahu, bagaimana bisa, Pangeran Suhaimi apa-apa tahu. Dari masalah agama, adat, sampai sejarah nenek moyang hingga sejarah pergerakan kebangsaan. Kalau sedang bicara, wibawa dan pengaruhnya luar biasa. Bukan karena apa-apa, tetapi karena yang diomongkan selalu pas, tepat sasaran. Bahasanya sangat efisien, langsung mengena. Bahkan gaya dan ekspresi Pangeran Suhaimi waktu berhadap-hadapan bicara dengan orang-orang, begitu membekas dalam ingatan saya,” katanya sambil menambahkan, postur dan wajah Pangeran Suhaimi mirip keturunan orang Cina. “Pangeran Suhaimi itu tahu apa yang dikatakannya sekaligus mampu bagaimana mengatakannya,” sambung Pangeran Edward menyimpulkan sosok Pangeran Suhaimi.

Saat ini Pangeran Suhaimi telah meninggalkan jejak dan nama baiknya, namun perjuangan dan pengabdiannya tak pernah  berhenti. Tempaan pendidikan yang  beliau berikan semasa hidup kepada anak anaknya juga sebagai lantaran kesuksesan seluruh anak keturunannya serta sekaligus doa dan munajat beliau kehadirat Alloh SWT agar kelak anak keturunannya mampu  berbakti dan mengabdi pada ibu pertiwi. Saat ini keturunan beliau selaku abdi Negara di antaranya adalah Pangeran ( Brigjend. Pol.) Edward Syah Pernong SH. MH., Brigjen. Pol. Ike Edwin SH, MH., Kombes. Pol. Ulung Sampurna Jaya, Letkol. CHK Zulkifli SH., Letkol. Topri Tohir Balaw SE, S.Sos.

Di bidang kesehatan diantaranya dr. Chairul Muluk, dr. Emilia SPPk, MKes., di bidang jurnalistik Hj. Syamsiar Sifarolla BA, sedangkan di bidang keilmuan di antaranya DR. Erlina Rufaidah M.Si dan DR. Muhammad Harya Ramdhoni Julizaryah. Seluruh anak keturunan beliau adalah penerus perjuangan untuk mengabdi pada masyarakat dan negara serta tak lupa pada Bumi Sekala Brak tanoh Asal Usul Lampung.  

Catatan : Jika terdapat kekurangan dalam tulisan ini dapat disempurnakan dalam laman komentar dibawah tulisan ini, Tabik...

* Putra asli Lampung. Pegiat seni-budaya Lampung. Tinggal di Yogyakarta. Penulis mempersilakan pembaca untuk mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Skala Brak di blog pribadinya aliwanovanadiputra.blogspot.com


Pedagang Diminta Pasang Lampu d Tiap Toko




Mas Bowo, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

 

Megah tapi rawan pencurian (Mas Bowo)
Lampung Tengah—Pedagang Bandarjaya Plaza diminta memasang lampu 5 watt pada malam hari di setiap kios ataupun toko.

Imbauan Wakil Bupati Lampung Tengah Mustafa ini, menyusul pasar terbesar di Lampung Tengah belakangan ini sering terjadi pencurian.

Rabu (26.02) puluhan pedagang Bandarjaya Plaza mendatangi rumah wakil Bupati Mustafa. Mereka mengadukan ketidaknyamanan dan keamanan berdagang di pasar modern itu. Pasalnya, belakangan ini sering terjadi pencurian. Selain itu, pasar ini dinilai semrawut.

Menanggapi keluhan itu, Mustafa meminta para pedagang bersabar. Pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menyelesaikan masalah di Pasar Bandarjaya Plaza tersebut.

Mustafa mengatakan, dengan dipasangnya lampu di setiap kios dan toko pada malam hari, minimal dapat mengantisipasi pencurian yang belakangan ini sering terjadi di sana.

Bahkan orang nomor 2 di Lamteng ini, juga mendesak kepala Dinas Pertambangan untuk memfasilitasi para pedangg agar tidak dibebankan iuran lampu jalan yang berada di Banarjaya Plaza.

Lisa (32) pedagang kain, menyambut baik imbauan Wakil Bupati Lampung Tengah. Dirinya akan segera memasang lampu di tokonya. Selain itu, dia berharap, para pedagang lain juga menyamhut permintaan pemerintah agar measang lampu pada malam hari di masing~masing toko.

“Asalkan dari pihak pedagang tidak lagi ditarik iuran lampu,” kata Lisa.

Sementara Uda (40 ), pedagang lain di Bandarjaya Plaza, meminta pemerintah dapat memfasilitasi segera pertemuan para pedagang seperti dijanjikan Wakil Bupati Mustafa. Karena kalau sampai kelamaan, dia khawatir pertemuan pedadang dan pemerintah tidak terlaksana.

“Kami siap kapan saja untuk berembuk antara pedagang dan pihak keamanan pasar, maupun lembaga dan instansi terkait. Baik mengenai kebersihan, kenyamanan, ataupun keamanan,” ujarnya.

Mawardi Harirama: Nilai-Nilai Lampung akan Tetap Hidup

Mawardi Harirama
Bandarlampung, teraslampung.com—Masyarakat Lampung tidak perlu khawatir bahasa Lampung akan terkikis atau punah. Budaya Lampung akan tetap hidup karena mengandung nilai-nilai luhur yang menyatu dalam diri orang Lampung.

“Nilai-nilai itulah yang ada dalam konsep pi’il pesinggiri. Orang luar seperti Van der Tuuk bisa menjadi ahli dalam menyusun bahasa Lampung pada abad 19. Namun, dipastikan tidak akan bisa menyerap semua nilai budaya yang mewujud dalam bahasa Lampung,” kata budayawan Lampung, Mawardi Harirama, dalam Dialog “Mengembalikan Harga Diri Lampung” di Hotel Emersia Bandarlampung, Kamis (27/2).

Mawardi mengaku tidak begitu risau dengan adanya fakta makin terdesaknya bahasa Lampung dalam praktik berbahasa sehari-hari di Lampung. Mawardi juga meyakini bahwa bahasa Lampung akan tetap eksis sepanjang masyarakat pemiliknya masih mau menggunakan bahasa Lampung.

“Sebab, bicara soal bahasa dan budaya berarti bicara soal nilai-nilai. Nenek moyang orang Lampung itu benar-benar hebat, mereka memiliki kearifan untuk mewariskan nilai-nilai luhur. Salah satunya dengan peninggalan aksara Lampung. Di Nusantara ini, hanya sedikit suku yang memiliki aksara sendiri. Dan Lampung punya itu,” kata dia.

Terkait dengan manuskrip kamus bahasa Lampung yang disusun HN Van der Tuuk, meskipun sempat mengritik Van der Tuuk sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang memiliki misi tertentu, Mawardi Harirama mengaku tetap memberikan apresiasi yang tinggi.

“Terlepas dari motif dia, peninggalan manuskrip kamus bahasa Lampung itu  sangat penting artinya bagi kita. Meski begitu, kita tidak bisa menjadikan karya Van der Tuuk sebagai acuan tunggal, karena Van der Tuuk tidak lama di Lampung dan hanya sempat tinggal di Abung dan Teluk Betung,” kata dia.

Mawardi mengaku tidak heran Van der Tuuk tidak bisa menyerap semua ilmu tentang budaya dan bahasa Lampung. Sebab, kata dia, nenek moyang orang Lampung pada zaman dulu sudah cukup cerdas sehingga tidak memberikan semua data yang dimilikinya.

"Maka itu, ketika mendengar seni bebandung yang menggunakan bahasa Lampung Van der Tuuk bingung dan mengaku seni itu aneh," ujarnya.   (oyos saroso hn)

Empat Rekomendasi Dialog "Mengembalikan Harga Diri Lampung"

Tajudin Nur wakl Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL)
Oyos Saroso H.N,/Teraslampung.com

Bandarlampung—Dialog “Mengembalikan Harga Diri Lampung” untuk menyambut pulangnya kamus bahasa Lampung karya HN Van der Tuuk di Hotel Emersia Bandarlampung, melahirkan empat rekomendasi penting. Rekomendasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kamus pertama bahasa Lampung yang disusun Van der Tuuk, tetapi berhubungan dengan pengembangan dan pemasyaratan bahasa Lampung sebagai identitas daerah pada masa kini dan masa depan.

Empat rekomendasi itu adalah: pertama, perlu adanya tindak lanjut berupa pertemuan yang melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mengembangkan dan memasyarakatkan bahasa Lampung. Kedua, perlu dibukanya kembali program studi Bahasa Lampung atau Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Lampung. 

Ketiga,mendesak pemeritah daerah (provinsi, kabupaten/kota) untuk mewujudkan budaya Lampung sebagai identitas lokal. Keempat, perlu penerbitan dan sosialisasi kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk dan berbagai manuskrip Lampung kuno yang saat ini tersebar di berbagai tempat.

Para peserta dialog sepakat bahwa pengembangan bahasa Lampung merupakan kerja besar dan berat yang tidak bisa dilakukan satu pihak saja. 

Penentu kebijakan pada akhirnya adalah pejabat eksekutif. Jadi, kehadiran kamus ini selayaknya juga disambut dengan kerja-kerja konkret yang dilakukan banyak pihak dan didukung pemeritah daerah,” kata Dr. Farida Ariyani, ahli bahasa Lampung dari FKIP Universitas Lampung.

Pada kesempatan itu Farida mengungkapkan bagaimana beratnya merintis dibukanya program Pendidikan Bahasa Lampung di Unila. Sayangnya, kata Farida, program itu kemudian ditutup karena tidak adanya dukungan biaya operasional dari Pemda.

"Padahal peminat calon mahasiswa yang mau mengambil program studi bahasa Lampung sangat banyak.Sattu angkatan bisa 700-an orang," kata dia.

Kamus Van der Tuuk Bisa Jadi Acuan Pembelajaran Bahasa Lampung

Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

Kees Groenberg mewakilo Duta Besar Belanda menyerahkan manuskrip kamus bahasa Lampung karya HN Van der Tuuk kepada masyarakat Lampung, yang secara simbolis diwakili Direktur LAZ Lampung Peduli Juperta Panji Utama, di Bandarlampung, Kamis (27/2).  Foto: Tri Sujarwo
Bandarlampung--Setelah lebih dari satu abad berada di Universitas Leiden, Belanda, kamus pertama bahasa Lampung yang karya HN Van der Tuuk diserahkan secara resmi diserahkan kepada masyarakat melalui Lampung Peduli. Penyerahan secara simbolis dilakukan di Hotel Emersia Bandarlampung, Kamis (27/2), dihadiri sejumlah pemangku kepentingan.

Dari 16 kepala daerah yang diundang panitia, hanya Bupati Tulangbawang Barat yang mengirimkan wakilnya. Acara penyerahan kamus bahasa Lampung itu dirangkaikan dengan pemutaran film “Risalah Van der Tuuk” dan dialog terbatas.

“Kami senang jika masyarakat Lampung sebagai penutur bahasa Lampung mempelajari dan mengembangkan kamus yang disusun Van de Tuuk,” kata Kees Groenberg,  mewakili Duta Besar Belanda untuk Indonesia, saat menyerahkan manuskrip kamus.

Penulis biografi Van der Tuuk itu  memberikan apresiasi kepada masyarakat Lampung yang peduli terhadap kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk.

“Tentu kami senang kamus pertama bahasa Lampung berada di tengah-tengah masyarakat Lampung,” kata Kees.

Beberapa peserta dialog juga menaruh harapan besar terhadap kehadiran kamus tersebut. Apalagi, Perpustakaan Universitas Leiden, sebagaimana diungkapkan Kees Groenberg, tidak akan menarik royalti seandainya kamus itu dicetak dan disebarluaskan.

Dr. Junaiyah H.M., linguis asli Lampung yang kini bekerja sebagai tenaga ahli di DPR RI, mengungkapkan kegembiraannya begitu mendengar salinan manuskrip kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk sudah berada di Lampung. Menurut Junaiyah,kamus karya Van der Tuuk bisa jadi bahan pembelajaran pengembangan bahasa Lampung, karena kamus tersebut merupakan kamus pertama berbahasa Lampung yang ditulis oleh orang asing.

“Apa pun latar belakang Van der Tuuk menyusun kamus itu, kita layak berterima kasih. Nah, sekarang ketika manuskrip kamus itu sudah ada di Lampung, pertanyaan besarnya adalah mau diapakan kamus ini? Kini bukan saatnya berdebat lagi, tetapi waktunya bekerja. Mari kita bekerja bersama-sama menyelamatkan dan mengembangkan bahasa Lampung,” kata dia.

Pensiunan Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengakui kamus Van der Tuuk hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Lampung pada masa lalu. Menurut dia masih banyak manuskrip Lampung yang masih tercecer.

“Itu semua perlu didokumentasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat Lampung. Sebagai orang Lampung asli saya sering miris ketika menghadapi kenyataan bahasa Lampung kurang mendapatkan tempat di Lampung. Dari Sumatera Barat hingga Lampung, hanya masyarakat Lampung yang tidak menggunakan bahasa Lampung dalam praktik berbahasa sehari-hari,” kata ahli bahasa Lampung dan staf ahli DPR RI yang sudah menyusun kamus bahasa Lampung itu.

Wednesday, February 26, 2014

Pagi Ini, Manuskrip Kamus Pertama Bahasa Lampung Diserahkan Wakil Pemerintah Belanda

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

B
Kamus bahasa Lampung (dok front-roll)
andarlampung—
Pagi ini, Kamis (27/3) salinan manuskrip kamus Bahasa Lampung pertama karya HN Van der Tuuk akan diserahkan secara simbolis oleh perwakilan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia kepada maasyarakat Lampung melalui Lampung Peduli.

Penyerahan manuskrip yang akan dilaksanakan di Hotel Emersia Bandarlampung itu akan dirangkaikan dengan pemutaran film “Risalah Van der Tuuk” karya sineas Lampung Irwan Wahyudi dan dialog terbatas tentang warisan budaya Lampung.

Umarudin Islam, manajer LAZ Lampung Peduli, mengatakan lembaganya hanyalah perantara yang turut memfasilitasi pengembalian manuskrip kamus bahasa Lampung yang sudah ratusan tahun tersimpan di Negeri Belanda.

“Setelah ada di Lampung, terserah pemerintah daerah provinsi di Lampung tindak lanjutnya. Yang pasti, kamus itu akan sangat bermanfaat jika bisa disosialisasikan secara luas kepada publik,” kata dia.
Menurut Umarudin, dialog terbatas hanya bisa diikuti oleh pihak-pihak yang diundang panitia. Diskusi lebih luas kemungkinan juga akan digelar setelah kamus tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Ini baru proses awal. Kami ingin mendapatkan masukan dari pelbagai pemangku kepentingan. Utamanya pihak eksekutif, legislatif, dinas/satuan kerja, lembaga kesenian, komunitas seni, tokoh adat, dan akademikus,” kata Umarudin.

Umarudin mengatakan dua narasumber sudah siap menyampaikan pandangannya dalam dialog. Pertama, Kees Groenberg (penulis biografi Van der Tuuk) yang mewakili Kedutaan Besar Belanda untuk menyerahkan manuskrip kamus bahasa Lampung. Kedua, Djadjat Sudradjat (budayawan) yang selama ini dikenal sebagai esais dan jurnalis di grup Media Indonesia.

“Tuan Kees akan berbicara tentang peran HN Van der Tuuk  selama ada di Lampung pada abad ke-19. Sementara Pak Djadjat akan membahas ihwal kebudayaan Lampung kini dan mendatang di tengah berbagai potensi, tantangan, dan problemnya,” kata Umarudin.

Baca juga van-der-tuuk-pahlawan-bahasa-lampung

Film "Hiwang" Tayang Perdana di Taman Budaya Lampung

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Film "Hiwang" produksi Dewan Kesenian Lampung diluncurkan di di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Rabu (26/02) pukul 15.00. Peluncuran film bermuatan lokal itu ditandai dengan pemutaran film yang ditonton oleh kalangan seniman dan masyarakat umum.

Film berdurasi 45 menit ini didukung Pemerintah Provinsi Lampung dan para pemain lokal, di antaranya Dedi Guswinto, Natasya Aldiba, Hermansyah GA. Syafariah Widianti.

Hadir pada pemutaran perdana antara lain Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Kadis Kebudyaaan dan Pariwisata Lampung Herlina Warganegara, Kepala Taman Budaya Lampung Yusup Rusman, Direktur dan sutradara Teater Satu Iswadi Pratama, sastrawan Syaiful Irba Tanpaka.

Ch Sapto Wibowo, sekretaris umum DKL mewakili Ketua Umum DKL Syafariah Widianti mengatakan, "Hiwang" adalah film pertama yang 80 persen menggunakan bahasa ibu, yakni Lampumg.

"Hiwang" dalam bahasa Lampung adalah sedih, mengangkat kehidupan manusia yang ada di pulau kecil dan asing. Film ini didukung lebih dari 20 pemain dari anak-anak hingga dewasa. Fillm ini juga berisi potret Lampung, baik keindahan pantai, alam, maupun masyarakatnya.

Dede Safara Wijaya , alumnus sinematografi IKJ yang menyutradarai film ini,mengatakan film berlatar budaya Lampung, lokalitas alam, budaya, dan sosial manusia Lampung ini bisa menjadi cermin bagi semua kalangan di Lampung.

"Lokalitas menjadi penting di tengah zaman modern yang terkadang membuat manusia melupakan nilai-nilai yang menjadi bagian dari dirinya," kata Dede.

Monday, February 24, 2014

Orang Lampung Harus Bisa Manfaatkan Kamus Van der Tuuk

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampung--Setelah manuskrip kamus bahasa Lampung yang disusun HN Van der Tuuk bisa diambil dari Negeri Belanda, Tim Ekspedisi Lampung, Lampung Peduli, dan para seniman di Lampung menyerahkan “nasib” kamus tersebut kepada warga Lampung. Meskipun ditulis oleh orang berkebangsaan Belanda, kalangan seniman Lampung berharap warga Lampung memberikan apresiasi pada kamus tersebut.

“Apresiasi itu bukan dalam bentuk penghormatan, tetapi dengan memanfaatkan kamus tersebut untuk pengembangan bahasa Lampung,” kata Direktur Lampung Peduli, Juperta Panji Utama, Senin (24/2).

Menurut Panji, upaya untuk mengembangkan bahasa Lampung tidak hanya menjadi tanggung jawab warga Lampung bersuku Lampung, tetapi juga semua penduduk Lampung.

“Tentu, yang mestinya paling mampu untuk mendukung pengembangan kamus Lampung dan apa pun yang terkait dengan budaya Lampung adalah para pemimpin daerah. Sebab, mereka itulah yang memiliki kuasa atas pengelolaan dana daerah (APBD). Namun, sampai hari ini bisa kita cek, berapa sih dana APBD yang dipakai untuk pengembangan budaya Lampung?” ujar Panji.

Panji mengungkapkan kamus bahasa Lampung yang disusun oleh HN Van der Tuuk hanyalah salah satu ‘pintu masuk’ untuk mengajak kembali warga Lampung untuk peduli terhadap warisan budayanya sendiri. Kalau kamus itu terus disimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda, tidak bermanfaat bagi warga Lampung.

“Sebaliknya, kalau sudah diterjemahkan dan diterbitkan menjadi buku, maka akan sangat berguna bagi generasi mendatang,” kata dia.

Untuk menyambut kehadiran manuskrip kamus bahasa Lampung yang sudah ratusan tahun tersimpan di Perpustakaan Leiden, Lampung Peduli akan menggelar dialog terbatas bertema “Mengembalikan Harga Diri Lampung”, di Hotel Emersia, Kamis (27/2). Kees Groeneboer (wakil Kedutaan Besar Belanda) akan menjadi salah satu pembicara pada forum tersebut. Kees adalah Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta yang selama ini banyak membantu Tim Ekspedisi Lampung dan Lampung Peduli membawa salinan manuskrip kamus bahasa Lampung ke Lampung.

Sunday, February 23, 2014

Sebuah Kampung Dulu Dihuni Harimau


Isbedy Stiawan ZS/teraslampung.com


Harimau di sungai (dok wikimedia)
Bandarlampung—Lemong adalah nama sebuah pekon (desa) di Kabupaten Pesisir Barat. Sebelumnya daerah ini bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Daerah ini berada di sepanjang bibir pantai Krui hingga perbatasan ujung Provinsi Bengkulu.

Lemong bukan saja terkenal karena sebagian wilayahnya menjadi hutan lindung Tanam Nasional Bukit Barisan Selatan, namun beberapa makam orang suci. Salah satunya Syekh Aminulah Ibrahim. Makam Syekh Aminullah atau sebagian orang Krui maupun Liwa menyebutnya Syekh Manullah, kerap diziarahi bahkan oleh warga luar Provinsi Lampung.

Daerah Pesisir Utara Krui ini juga berpotensi dijadikan objek wisata pantai, di samping Tanjung Setia yang sudah terkenal itu. Misalnya pantai yang berada di bawah Makam Syekh Aminullah Ibrahim yang terjal keberadaan persis di kaki bukit, sangatlah indah bagi wisata tualang.

Sejatinya penduduk Lemong ini merupakan “pindahan” dari Malaya, yaitu sebuah dusun pertama kali ada di wilayah ini. Malaya berarti orang (penduduk) yang pertama kali ada atau menempati dusun.


Karena pertumbuhan manusia, maka wilayah ini menjadi padat sehingga membuat sebagian warga pindah dan membuka daerah baru. Perpindahan warga untuk membuka lahan baru, sebenarnya juga dilakukan oleh penduduk Bengkunat saat membuka Way Heni, Lampung Barat.

Warga yang berpindah itu, tak jauh mecari daerah baru. Atau hanya bergeser beberapa kilometer dari pekon sebelumnya.

Daerah yang dituju masih asing dan belantara. Mereka kembali membabat lahan belukar. Berbagai hewan buas bekerliaran, bahkan tak jarang mengamcam keselamatan penduduk yang membuka lahan untuk bertani dan tempat tinggal.

Salah satu hewan buas yang kerap dijumpai warga adalah “maung” alias harimau. Penduduk setempat menyebutnya lemaung. Anehnya, “maung” di sini tidak membahayakan bagi penduduk yang baru menetap.

Peta Pesisir Barat, Lampung.
Menurut cerita turun-temurun, kala itu manusia dan hewan layaknya bersahabat. Cenderung saling membantu, dan tidak saling mengganggu. Ada cerita, seseorang yang kesasar di hutan belantara bisa meminta bantuan kepada harimau untuk menemukan jalan keluar.

Begitulah, daerah baru sebagai ladang penghidupan bagi warga Malaya ini terus berkembang. Bahkan, kini perkembangan Lemong lebih pesat dibanding pekon lama, yakni Malaya.

H. Samri Hakim, sesepuh Lemong menuturkan, nama Lemong disematkan ke daerah baru ini, diambil dari artinya yaitu “lemaung: mong” (harimau/macan).

Selain itu, Lemong dimaknai bahwa daerah ini sangat pesat berkembang. Karenanya, alasan kuat dijadikan kecamatan.

Kecamatan Lemong berada di utara Krui dan berbatasan dengan Provinsi Bengkulu. Daerah ini cukup ramai karena sebagai jalan alternatif menuju Bengkulu, dan provinsi lainnya.

Penduduk Lemong berpenghasilan dari pertanian, seperti cengkih, lada, dan kopi. Daerah ini sangat potensi bagi hasil bumi, wisata pantai, dan wisata religi.

H. Samri Hakim menuturkan, pertama kali warga Lemong tak seramai seperi sekarang. Penduduk Lemong adalah pribumi Lampung berasal dari Pekon Malaya. Malaya bukan identin dengan melayu, namun maknanya adalah penduduk (warga) lama.

Karena wilayah Malaya mulai ramai membuat lahan perkebunan dan pertanian semakin menyempit karena banyaknya perumahan, akhirnya sebagian penduduk pindah ke wilayah baru yang masih belantara.

Di daerah yang baru ini, penduduk memulai dari nol. Memangkas hutan belantara untuk dibangun tempat tinggal. Sementara belantara yang lain dipatok untuk perkebunan. Saat itu, setiap saat warga berjumpa dengan lemaung, selain hewan tambun berbelalai panjang, siamang, kera, dan jenis hewan lainnya.

Apakah warga takut? Samri Hakim menggeleng. Dia menuturkan bahwa dari cerita para orang tua, kala itu warga di sini umumnya sakti: memiliki kanuragan tiada tanding. “Kalau tak punya kemampuan yang tinggi, tak akan bertahan hidup di zaman seperti itu,” katanya.

Entah kenapa, lemaung-lemaung yang berkeliaran di daerah ini tidak mengancam keselamatan penduduk. Kedua mahluk ciptaan Tuhan ini saling tahu perannya masing-masing. Meski habitat mereka mau tak mau menyempit, karena masuknya manusia.

Untuk mengabadikan keberadan lemaung, penduduk yang pertama kali menetap di sini menamakan pekon ini dengan nama Lemong. Nama pekon ini sampai sekarang masih dipertahankan.

Lemong masih memiliki banyak hutan belantara, perkebunan dan pertanian, dan tidak jauh dari pantai Laut Hindia. Daerah ini juga dikenal dengan keberadaan makan Syekh Aminullah atau Syekh Manula, penyebar Islam berasal dari Samudera Pasai.

Keberadan makam Syekh Aminullah ini di dalam hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan dekat sekali dengan pantai Laut Hindia. Dari jalan lintas barat Pesisir Barat menuju makam Syekh Aminullah dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Jalannya licin, kerap terhalang pohon raksasana yang tumbang, terdapat jurang, udara lembab. Itulah gambaran perjalanan menuju mamak Syekh Aminullah.

Friday, February 21, 2014

Perbaikan Jembatan Belum Kelar, Gunungsugih—Terbanggi Besar Selalu Macet

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com


Jembatan putus di Jalinsum Lampung Tengah (ist)
Gunungsugih--Perbaikan kini Jembatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah,  yang tak kunjung beres menyebabkan ruas Gunungsugih--Terbanggi Besar setiap hari macet.

Jembatan di ruas Jalan utama di Jalan LintasTengah Sumatera yang dibangun pada 1983/1984 itu ambrol karena tak kuat menahan beban kendaraan.

Akibat kerusakan jembatan tersebut, kendaraan yang melintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) wilayah Lampung Tengah dialihkan ke tiga wilayah, yaitu melalui Kota Gajah--Buyut. Bagi bus/truk yang akan ke Palembang, masuk Terminal Betttan Subing , sementara untuk kendaraan pribadi dan umum melewati jembatan lama di Terbanggi Besar. Khusus kendaraan roda dua dapat meliwati jembatan yang rusak.

Kerusakan jembatan ini mengakibatkan macet kendaraan truk karena arus lalu lintas harus bergantian. Sekitar seratusan truk harus menunggu di Tugu Pepadun Gunung Sugih dan sebelum memasuki jembatan Gunung Sugih dari Kotabumi, Lampung Utara.

Tiap hari antrean terjadi pada kendaraan kecil dan pribadi mengular panjang, memasuki jembatan lama Terbanggi Suguh yang memang kecil.

Tobar, sopir truk yang ditemui di Terbanggi Besar, mengaku sudah menunggu 2 jam haya untuk giliran masuk ke Terminal Bettan Subing. "Kalau begini bisa habis uang makan kami, belum lagi kalau antre di Bakauheni," kata Tobar.

Hampir sama juga diakui Mamat, sopir truk yang antre di Tugu Pepadun Gunung Sugih. Ia sudah 2 jam lebih nongkrong di sana. "Petugas mendahului bus dan kemdaraan pribadi, akibatnya kami yang menunggu," ujarnya.

Subowo, warga Wates, mengaku diuntungkan dengan situasi ini. Pedagang asongan ini bisa menghasilkan penjualan tiga kali lipat dari biasanya.

Satu Syarat Saja Tidak Dipenuhi, Tenaga Honorer K2 Bisa Batal Jadi CPNS

Dewi Ria Angela/teraslampung.com


Jakarta—Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Eko Sutrisno mengakui banyaknya reaksi dari masyarakat terkait pengumuman hasil tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari jalur tenaga honorer kategori dua (K2). Reaksi tersebut umumnya mempertanyakan banyaknya peserta tenaga honorer K2 yang diluluskan meski yang bersangkutan tidak memenuhi syarat masa kerja minimal.

“Apabila salah satu syarat saja tidak dipenuhi, maka BKN tidak akan menetapkan Nomor Identitas Pegawai (NIP)-nya, sehingga yang bersangkutan tidak dapat diangkat sebagai CPNS,” kata Eko di Jakarta, Rabu (19/2).

Ia menegaskan, BKN akan terus mengawal proses honorer hingga pemberkasannya. Jika dikemudian hari diketemukan seorang honorer tidak memenuhi persyaratan administratif yang ditentukan, maka yang bersangkutan tidak dapat diangkat atau dibatalkan menjadi CPNS.

Untuk memastikan tenaga honorer K2 yang benar-benar berhaklah yang dapat diangkat menjadi CPNS,  menurut Eko, BKN akan mengambil langkah-langkah preventif diantaranya dengan menegaskan kembali kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) setiap Instansi untuk memeriksa dengan seksama berkas-berkas pengajuan nota usul penetapan Nomor Induk Pegawai (NIP)-nya honorer K2 yang dinyatakan lolos seleksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Sebelum usulan pemberkasan disampaikan kepada Kepala BKN/Kepala Kantor Regional BKN, PPK wajib memeriksa keabsahan berkas usulan tersebut secara seksama. Bahkan untuk usulan berkas penetapan NIP honorer K2 itu,harus disertai dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak bermaterai cukup  yang dibuat oleh PPK,” tegas Eko.

Surat pernyataan tersebut, kata Kepala BKN,  berisi pernyataan bahwa data tenaga honorer K2 yang diusulkan NIP-nya itu sudah dipastikan kebenaran dan keabsahannya,  dan apabila tenyata di kemudian hari dokumen honorer tidak benar/palsu (mal administrasi – red), maka PPK bertanggung jawab penuh baik secara administrasi maupun pidana.

Eko mengingatkan,  jika PPK terbukti mengusulkan honorer tidak sesuai kriteria yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor  56 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dapat terancam sanksi administrasi maupun pidana. “Ini sesuai Surat Edaran Menteri PAN- RB Nomor 05 Tahun 2010,” tegas Eko.

Eko menegaskan pemberkasan tenaga honorer K2 untuk menjadi CPNS harus sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan PNS sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 yang selanjutnya dimuat dalam Keputusan Kepala BKN Nomor 11/2002.

“Rencananya usul penetapan NIP PNS dari jalur honorer K2 sudah harus diterima secara lengkap di BKN/Kanreg BKN paling lambat pada 30 April 2014,” tandasnya.

 Sumber:

Tuesday, December 31, 2013

Diprediksi Hujan, Pesta Tahun Baru Diharapkan Tetap Meriah

Syailendra Arief dan Mas Alina/Teraslampung.com

Lumbok Seminung Resort (Foto LampungReview/Oyos Saroso HN)
BANDARLAMPUNG--Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Lampung memprediksi malam tahun baru akan hujan, pesta tahun baru di sejumlah tempat di Lampung diprediksi tetap meriah. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, misalnya, sudah menyiapkan perayaan tahun baru 2014 di Lumbok Seminung, Selasa (31/12). Selain pesta kembang api, acara tutup tahun di tempat wisata andalan Lampung Barat itu akan dimeriahkan oleh kehadiran penyanyi Novi KDI.

“Kami berharap hujan tidak menghalangi warga untu merayakan tahun baru. Kami sengaja menggelar acara perayaan tahun baru tidak pada satu tempat. Tiap tahun berganti. Tahun lalu perayaan tahun baru dipusatkan di Hamtebiu. Sekarang di Lumbok Seminung. Ini sekaligus promosi wisata,” kata kepala bagian Humas dan Protokol Pemkab Lampung Barat, Burlianto Eka Putra, Selasa (31/12).

Barlianto mengatakan lokasi wisata Lumbok Seminung dengan andalan Danau Ranau selama sudah banyak dikunjungi warga. Namun, kata dia, pengunjung dari luar daerah masih belum sepenuhnya bisa digaet.

“Mungkin karena akses jalannya masih kurang bagus. Dengan perayaan tahun baru bersama masyarakat di Lumbok Seminung, kami berharap wisatawan yang kebetulan ada di Lampung Barat juga tertarik menghabiskan akhir tahun di sana,” kata dia.
Sebelum pesta kembang api dan pentas hiburan, pada Selasa siang (31/12 Pemkab Lambar menggelar pawai. Iring-iringan pawai dimulai dari Islamic Center Kompleks Sekuting Terpadu menuju Lumbok Seminung pada pukul 13.00 WIB.

"Ada sejumlah kegiatan yang kita lakukan dalam rangka memberikan hiburan bagi masyarakat di akhir tahun ini, dan salah satunya saat malam pergantian tahun baru kita hadirkan artis KDI yaitu Novi yang kita kenal dengan lagunya yang berjudul Caka dan juga pesta kembang api," ujarnya.

Menurut Barlianto, pada perayaan malam tahun 2013 lalu, ratusan ribu orang memadati Hamtebiu. Tahun ini Pemkab Lampung Barat menargetkan jumlah warga yang terlibat bisa lebih banyak lagi.

“Untuk mengantisipasi hujan, kami menyiapkan tenda,” kata dia.

Di Bandarlampung, perayaan tahun dipusatkan di dua tempat berbeda. Pemprov Lampung menggelar pesta pergantian tahun di Lapangan Korpri Kompleks Pemprov. Sejumlah artis ibukota juga dijadwalkan memeriahkan pergantian tahun. Antara lain Victor Hutabarat, Edy Silitonga, dan Linda Moy.

Pemkot Bandarlampung juga ‘menggeser’ tempat pesta perayaaan tahun baru dari di sekitar Bundaran Gajah (Tugu Adipura) ke simpang Jl. Juanda—Jalan Cendana, di depan jalan layang baru ruas Jl.Juanda—Jl. Gajahmada.

“Pak Walikota dipastikan hadir karena akan meresmikan jalan layang baru,” kata Sekretaris Kota Bandarlampung, Badri Tamam.

Sejumlah warga Kota Bandarlampung juga memiliki cara sendiri-sendiri untuk merayakan tahun baru. Apip, 49, warga Gulak-Galik, misalnya, akan merayakan tahun baru bersama keluarga dan kolega di rumahnya dengan acara bakar ikan.

“Kami merayakan pergantian tahun di rumah saja. Saya sudah siap dengan sepuluh kg ikan untuk dibakar. Semoga saja cukup,” kata Apip.


Wednesday, December 18, 2013

Zonasi Inti Strategis Harus Persetujuan DPR

Kawasan pesisir Lampung. (Foto: Mas Alina Arifin)
Bambang Satriaji/Teraslampung.com
Jakarta--Perubahan peruntukkan dan fungsi zona inti pada kawasan konservasi untuk eksploitasi yang berdampak penting dan cakupan luas dan bernilai strategis ditetapkan oleh Menteri terkait dan persetujuan DPR.

"Perubahan tersebut didasarkan pada hasil penelitian terpadu yang dilakukan oleh tim yang terdiri atas unsur-unsur kementerian dan lembag aterkait, tokoh masyarakat, akademisi serta praktisi perikanan dan kelautan,"ujar Ketua Komisi IV DPR Romahurmuziy saat menyampaikan laporannya terkait RUU Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP3K) di Gedung Nusantara II, Rabu, (18/12).

Selain itu, terangnya, RUU PWP3K memberikan perlindungan bagi masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atas kewajiban memiliki izin lokasi dan izin pengelolaan.

Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya, harus diprioritaskan untuk kepentingan konservasi, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, budi daya laut, pariwisata, usaha perikanan dan kelautan serta industri perikanan secara lestari, pertanian organik, perternakan dan atau pertahanan dan keamanan negara.

"Pemanfaatan pulau kecil dan perairan disekitarnya dalam rangka penanaman modal asing harus mendapat izin menteri setelah mendapat rekomendasi dari bupati atau walikota dengan syarat tertentu,"ujarnya.

Wednesday, December 4, 2013

Tulang Bawang Diharapkan Jadi Pioner Transparansi

Juniardi


MENGGALA--Kabupaten Tulang Bawang (Tuba) diharapkan menjadi pioner transparansi di wilayah utara Provinsi Lampung. Demikian disampaikan Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung, Juniardi, usai melakukan monitoring dan evaluasi di Kabupaten Tulangbawang, Rabu (4/12).

"Sebenarnya kami berharap Tuba menjadi leading dan pioner keterbukaan informasi diwilayah utara provinsi Lampung," kata Juniardi.

Dengan menerapkan transparansi atau UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, lanjutnya, daerah-daerah lain di wilayah utara dapat tergerak untuk segera membenahi diri dan menerapkan UU ini.

Sayangnya, sudah tahun ketiga UU KIP diberlakukan, Tuba baru memiliki Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), namun tdk ada daftar informasi publik maupun SOP pelayanan informasi. "Implementasinya masih sangat minim," ujar Juniardi.

Meski demikian, Sekda menuturkan bahwa selama ini tuba telah berupaya mengimplementasikan KIP dengan membuka anggaran, rapat-rapat terbuka, dan lain-lain.

Tim monev KI Lampung di pimpin Ketua Juniaardi diterima Sekda, asisten, kadiskominfo. KI Lampung telah melakukan monev di sejumlah Kabupaten/Kota, SKPD maupun pemerintah provinsi. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun dengan tujuan untuk memberikan stimulus bagi Badan Publik di daerah agar segera menerapkan UU KIP.

"Kami berharap kegiatan kami ini selain sebagai sosialisasi juga sebagai stimulus bagi Badan Publik di daerah untuk transparan," harapnya.

Pada akhir monev, baik di pusat maupun di daerah biasanya memberikan award kepada Badan Publik terbaik yg menerapkan UU KIP.

Penulis: Batin Bangsawan

Perantau Lampung Galang Dana untuk Aqila





Aqila digendong Tulasmi (Dok Radar Lampung)
JAKARTA--Masyarakat Lampung yang tengah merantau di Jakarta berinisiatif menggalang dana bantuan bagi Aqila Zaneta, bayi berusia 10 bulan penderita atresia bilier.

Salah seorang relawan, Dyah Paramita (26) mengatakan, informasi mengenai Aqila diketahui dari temannya di Lampung. Setelah mengonfirmasi kebenaran berita tentang Aqila, Dyah kemudian mengajak teman-temannya untuk bersama-sama membantu meringankan biaya pengobatan Aqila.

"Ada juga teman-teman, yang dahulu kuliah di Lampung dan sudah kembali ke Jakarta, turut memberikan bantuan. Awalnya inisiatif pribadi karena sama-sama orang Lampung, ternyata banyak yang merespon," kata Dyah, Rabu (4/12/2013).

Penggalangan bantuan sudah mulai dilakukan sejak Senin (2/12/2013) secara swadaya. Bantuan dapat disalurkan melalui nomor rekening BRI 0329-01-037877-50-1 atas nama Dyah Paramita atau Bank Mandiri 115-000-559-4942 atas nama Hasaumi Mayaranti. Seluruh bantuan rencananya akan diberikan langsung kepada bapak Aqila, Tri Setyo Cahyono pada Minggu (8/12/2013).

"Seluruh bantuan yang terkumpul akan kami serahkan langsung ke Pak Tri. Semoga bisa berguna bagi Aqila," tutur Dyah.

Aqila merupakan warga Kabupaten Pringsewu, Lampung. Atresia bilier yang diderita Aqila adalah kondisi bawaan (kongenital), di mana terjadi penyumbatan pada saluran yang membawa cairan empedu dari hati ke kandung empedu. Kondisi itu terjadi ketika saluran empedu di dalam atau di luar hati tidak berkembang secara normal. Indikasi penderita atresia bilier adalah kekurangan cairan, demam, perut membuncit, dan kesulitan makan.

Setelah sempat telantar selama 9 hari di RSCM, Aqila kini menjalani rawat jalan. Untuk memudahkan memeriksakan Aqila ke RSCM, kedua orang tua Aqila kos di depat RSCM. Dengan begitu sehari-harinya Aqila hanya mendapat perawatan intensif dari kedua orang tua di tempat kos.

Tulasmi, ibunda Aqila, mengaku senang tinggal di kosan barunya itu daripada di RSCM.

"Alhamdulillah, saya bersyukur Aqila baik-baik saja. Perutnya juga sudah mulai mengecil, tidak panas. Diberi makan juga dia mau. Saya merasa nyaman di sini," kata Tulasmi.

Balita 10 bulan itu sehari-hari hanya diberi air susu ibu (ASI) dan susu formula. Sementara untuk makan, Aqila disuapi nasi bubur instan.

Selain itu, selama menjalani rawat jalan, Aqila diberikan obat generik dalam bentuk racikan sesuai yang disarankan dokter RSCM. Obat yang ditebus di apotek itu terdiri atas empat macam dan diminumkan rutin setiap hari dengan aturan pakai yang dianjurkan.

Penulis: J. Kalimasada