Showing posts with label HN Van der Tuuk. Show all posts
Showing posts with label HN Van der Tuuk. Show all posts

Friday, February 28, 2014

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (4)

Kees Groeneboer*

Sudah sejak di perjalanan kembali dari Tarabanggi ke Teluk Betung pada bulan Juni Van der Tuuk mengeluhkan serangan demam yang terus-menerus, dan kemudian ditambah lagi dengan disentri yang parah. Pada akhir Agustus dia benar-benar tak berdaya, dibawa dengan kapal dari Teluk Betung ke Batavia. Dia langsung meneruskan perjalanan ke Bogor untuk memulihkan kekuatannya. 

Dia menekuni studi bahasa Sunda dan mengerjakan beberapa publikasi mengenai bahasa Lampung, yang dikirimkannya pada bulan November 1869 ke Batavia. Karya itu mengenai dialek-dialek Lampung yang akan diterbitkan pada tahun 1872,  serta bagian pertama dari buku bacaan bahasa Lampung yang selanjutnya tidak dipublikasikan karena tidak adanya huruf cetak yang tepat - cetakan percobaannya ditolak oleh Van der Tuuk.  Dia juga mempublikasikan sembilan belas inskripsi (piagem), karena hanya dari piagem-piagem ini dapat kita ketahui sesuatu mengenai sejarah daerah Lampung. Apalagi hanyalah teks-teks macam ini yang merupakan teks prosa tidak bersajak. Publikasi mengenai piagem-piagem ini baru pada tahun 1884 akan dicetak.

Desember 1869 Van der Tuuk kembali bekerja untuk Persekutuan Alkitab, berangkat ke Surabaya dan beberapa bulan kemudian ke Buleleng (Singaraja), bagian utara Bali yang berada di bawah kekuasaan Belanda. Van der Tuuk membangun rumah beberapa kilometer di sebelah selatan Singaraja di Kampung Baratan. Dia menulis:

‘Saya membangun rumah di suatu tempat yang terpencil, dengan maksud agar saya dapat sesedikit mungkin berhubungan dengan orang Eropa yang lain. Bila tidak begitu saya tidak melihat kesempatan untuk mempelajari bahasa Bali secara mendasar. [...]. Keadaan saya di sini tidaklah terlalu menyenangkan sebab sama sekali tidak ada percakapan intelektual, tetapi saya akan terhibur bila saja ada kemajuan dalam pekerjaan saya. Untuk bersenang-senang di Hindia-Belanda, orang tidak dapat pergi ke sana sebagai seorang ahli bahasa sebab sepenuhnya dia akan terisolasi. Kebanyakan orang Eropa di sini sama sekali tidak berminat terhadap studi apa pun. Pegawai dengan gaji cukup besar menganggap orang yang memiliki kegemaran meneliti bahasa-bahasa dan puas dengan gaji yang minim sebagai orang gila.‘ (31-07-1870)

Dia mulai tinggal di Bali dan dengan cepat dia terikat pada kehidupan barunya:

‘Hidup di sini cukup membosankan, meskipun demikian, saya tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi. Saya sudah terikat dengan rumah saya, anjing saya (empat), monyet (tiga), ayam (tidak pernah dihitung jumlahnya) dan hal-hal remeh lainnya yang ternyata merupakan inti dari kehidupan. (Saya mempunyai sepuluh ekor bebek). Anda sekarang dapat membayangkan kehidupan saya di sini. Percakapan yang ada di sini tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan saya mengobrol dengan orang Bali. [...]. Mereka tidak lebih beradab dibandingkan orang Batak [...] dan mereka agak lebih buruk tabiatnya. Sebuah contoh dari kurangnya moral di sini adalah popularitas gandrung (penari laki-laki yang berpakaian seperti perempuan) yang dapat diajak menari, bercanda, dan sebagainya. Apabila di suatu tempat ada gandrung, maka penari perempuan tidak akan mendapat uang! Memuakkan melihatnya, bagaimana mereka itu diciumi dan dijamah oleh publik.‘ (09-11-1871)

Seperti sebelumnya di daerah Batak, di Bali dia lagi-lagi terusik oleh penindasan terhadap penduduk yang dilakukan oleh raja-raja Bali, oleh ketidakberdayaan pemerintah Hindia-Belanda terhadap hal tersebut, dan oleh tingkah laku para penginjil. Dia juga mengeluhkan kembali mengenai ‘keserakahan‘ orang Cina dan Arab. [...]. Meskipun demikian, dia lebih tertarik pada kehidupan di Bali dibandingkan Sumatra sebab dia menganggap orang Bali lebih berbudaya dan lebih halus perangainya, juga ada kesusastraan yang lebih berkembang.

Dia bekerja giat untuk menyusun kamus bahasa Bali dan menentukan bahwa bahasa Bali tidak akan dapat dimengerti tanpa bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno), karena seluruh kesusastraan Bali sebenarnya merupakan lanjutan dari kesusastraan Kawi. Dia bermaksud untuk memasukkan kata-kata Kawi dalam kamusnya, dan karena itu kamus itu tentu saja akan lebih luas. Sudah jelas baginya bahwa pekerjaan itu harus dilakukan sebelum menerjemahkan Alkitab. 

Pada tahun 1871 dia menulis bahwa Persekutuan Alkitab tidak boleh berkhayal mengenai cepatnya penerbitan terjemahan Alkitab dalam bahasa Bali, dan bahwa secara keseluruhan orang Bali belum cukup matang untuk agama Kristen. Dia juga menanyakan apakah Persekutuan Alkitab bersedia menerbitkan kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda, tetapi ketika mereka ingin mengetahui seberapa luas kamus itu, dia menganggap hal itu sebagai suatu penolakan. Barangkali karena itu dia merasa terdorong untuk mulai berdinas bagi pemerintah Hindia-Belanda. Dia juga menganggap kebijakan Persekutuan Alkitab untuk mempelajari suatu bahasa dan pada saat yang bersamaan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut, adalah suatu kekeliruan.

Pada April 1873, pada usia empat puluh sembilan tahun, akhirnya dia diangkat oleh permerintah menjadi ‘pegawai untuk mempelajari bahasa-bahasa Nusantara‘. Dia merasa lega dapat mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari bahasa Bali,  tanpa perlu menerjemahkan Alkitab, suatu kesibukan yang selalu tidak disukainya: ‘Apabila Anda menerjemahkan berdasarkan kehendak bahasa, maka seorang penginjil akan menyalahkan Anda karena Anda telah memperkosa sabda Tuhan. Apabila Anda mengorbankan bahasa untuk Alkitab, maka para pakar bahasa akan meributkannya‘. (31-07-1870)

Sejak tahun 1873 sampai dia meninggal dunia di tahun 1894, dia hidup ‘seperti orang Bali‘ di sebuah rumah kecil terbuat dari bambu dan kayu. Mengenai cara hidupnya, tetapi juga mengenai tingkah lakunya yang eksentrik, beredar berbagai cerita. Misalnya dia mandi di antara orang Bali di pancuran dekat rumahnya. Dia berjalan-jalan hanya dengan mengenakan sarung, setengah telanjang, dan selalu membawa sebuah pentungan besar. Rumahnya makin lama makin kotor dan lebih menyerupai sebuah gudang buku dan naskah. Sebaliknya dia memiliki makanan Eropa yang paling lezat di Bali dan mempunyai persediaan minuman anggur terbaik. Bagi orang Eropa di Bali rumahnya menjadi semacam objek wisata untuk dapat mengamati sosok yang aneh itu dari dekat. Hal itu sama sekali tidak disukai olehnya. Namun, rumah Van der Tuuk selalu terbuka untuk penduduk pribumi dan dia selalu dimintai pendapatnya mengenai berbagai hal oleh banyak orang Bali terkemuka. Bahkan, salah satu dari raja Bali mengatakan: ‘Hanya ada satu orang di seluruh Bali yang mengenal dan memahami bahasa Bali, dan orang itu adalah Goesti Dertik (Van der Tuuk)‘.

Pada tanggal 17 Agustus 1894 Van der Tuuk, yang berusia tujuh puluh tahun, meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya – dia dengan segera dilarikan dari Buleleng ke sana – karena penyakit disentri. Kamus bahasa Kawi-Bali-Belandanya, mahkota dari seluruh karyanya, saat itu belum selesai dan baru diterbitkan setelah kematiannya dalam empat jilid yang tebal, dengan jumlah 3.600 halaman.***

* Dr. Kees Groeneboer, 
Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta


Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (3)

Kees Groeneboer*

Dia mengalami kesulitan untuk mempelajari dialek Aboeng, karena semua yang dikatakan oleh penduduk setempat harus dia catat, tanpa dia dapat mengacu ke teks-teks tertulis. Dia hanya memiliki sejumlah puisi yang dikumpulkannya, yang dalam dialek Aboeng disebut bandoeng dan dalam bahasa Teluk Betung sagata. Bandoeng ini merupakan surat-surat cinta bersajak, lagu-lagu ratapan dan cerita-cerita, tetapi menurut Van der Tuuk semua ini sering tidak dapat dimengerti, karena banyak kata yang digunakan bukan kata sehari-hari. Selebihnya menurutnya tidak ditemukan sumber tertulis yang dapat digunakan:

‘Buku-buku tua yang terbuat dari kulit pohon, hanyalah berhubungan dengan kepercayaan pada takhayul, dan ditulis dalam bahasa campuran Jawa dan Melayu yang memuakkan. Bahkan orang Lampung sendiri tidak dapat mengerti isinya. Yang penting untuk mereka hanyalah iramanya dan mereka memang tidak dapat disalahkan: ada banyak negara yang beradab yang membayangkan dirinya akan ke surga bila mereka membaca cerita-cerita takhayul.’ [...].

Mengenai penduduk Aboeng: mereka masih sangat primitif tetapi masih berbicara bahasa Lampung yang sempurna. Bahasa itu kadang-kadang naif dan seringkali orang menggunakan cara yang lucu untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya mereka belum lama kenal. Misalnya orang menyebut potlot dawat tjelit, dengan kata lain tinta yang dikenakan ke lidah yang dilujurkan (untuk membuat potlot basah dan kemudian dapat dipakai untuk menulis). Lentera dinamakan damar koeroeng, sebuah lampu yang terkurung. Dialek Aboeng memiliki banyak kata asli, yang di dalam bahasa Lampoeng paminggir, dari daerah pesisir, diambil dari sebuah bahasa yang lain [...]. 

Seberapa naif penduduk di sini, terbukti antara lain dari penjelasan tentang bendera Belanda. Menurut mereka merah sebagai warna yang paling atas, karena bangsa Ingris berwarna merah. Putih melambangkan orang Belanda, sedangkan hitam merupakan warna kulit orang pribumi sendiri. Jika mereka membalik bendera tersebut, mereka khawatir, bahwa hal tersebut akan diartikan bahwa mereka menentang pemerintah Hindia-Belanda, karena warna hitam akan berada di bagian atas.’ (03-03-1869)

Kekurangan akan sumber-sumber tertulis memaksa Van der Tuuk untuk juga mengumpulkan surat-surat dalam bahasa Lampung dari berbagai daerah yang pernah disinggahinya. Tetapi banyak dari surat-surat tersebut yang menurut dia tidak berguna untuk studi bahasa. Untuk Van der Tuuk berbagai kitab-kitab hukum Lampung yang masih dipakai secara umum, yang ditulis dalam tulisan Arab, cukup aneh. Berikut contoh-contoh yang dia berikan:

‘Jika seorang laki-laki bertemu seorang wanita yang sedang mandi atau sedang buang hajat di sungai (tanpa memberitahu seperti yang seharusnya laki-laki itu lakukan) maka dia akan dikenakan denda sebesar 5000 pitis. Itu disebut sikarabaja. [...]. Jika seorang laki-laki mengambil anak dari gendongan seorang wanita yang menggunakan cadar atau mencium anak itu, maka dia akan dikenakan denda 6000 pitis. Itu namanya anjamarbaja.’ (03-03-1869)


Tanda anak panah adalah tempat yang disinggahi Van der Tuuk 
Pada bulan April 1869 dia berjalan lebih jauh ke arah barat dari Tarabanggi lewat Kotaboemi dan Tjoebalak menuju Boemi Agoeng dan terus sampai ke Moearadoea. Akhir bulan Mei dia berangkat dari sana ke arah timur menuju Menggala, dan pada bulan Juni 1869 dia mengarah ke selatan lewat Tarabanggi menuju Teluk Betung. Kecuali beberapa bagian perjalanan dengan kapal, jarak yang panjang lainnya ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dan selama perjalanan dia hanya tiga kali bertemu orang Belanda, pegawai pemerintahan di daerah Lampung yang menurutnya melalui bahasa Melayu mereka yang kacau telah memberi pengaruh buruk pada dialek Aboeng yang murni. Tetapi justru karena dia hampir hanya berhubungan dengan orang pribumi, dia dapat mengumpulkan banyak bahan untuk kamusnya. 

Dalam perjalanan dia menyusun kamus bahasa Lampung. Namun, kamus yang terdiri dari enam ratus halaman itu tidak jadi dipublikasikan. Barangkali karena dia belum dapat cukup banyak waktu untuk membandingkan kumpulan kata Lampung itu dengan bahasa-bahasa Nusantara yang lain. Barangkali juga karena dia kurang percaya diri mengenai kosa katanya, karena kurangnya sumber tertulis dan dia harus mendasari pada bahasa pergaulan sehari-hari. Dan barangkali juga karena pada saat itu belum ada cetakan huruf bahasa Lampung yang cocok. Pada saat perjalanannya dia sudah mengirimkan beberapa laporan ke Batavia mengenai penelitiannya terhadap bahasa Lampung, yang kemudian dipublikasikan. 

Bulan Juni 1869 padanya dijajaki apakah untuk selamanya mau bekerja untuk pemerintah Hindia-Belanda. Namun, mengenai hal itu sebenarnya Van der Tuuk ragu-ragu. Memang pemerintah menawarkan gaji yang lebih tinggi, tetapi bekerja untuk Persekutuan Alkitab sudah pasti dia memiliki lebih banyak kebebasan. Oleh karena pada saat itu dia sudah merasa jenuh dengan distrik Lampung, dia menyatakan bahwa dia hanya mau bekerja untuk pemerintah apabila dia dikirim ke Bali, tempat dia mengharapkan kehidupan yang lebih menyenangkan.

* Dr. Kees Groeneboer adalah Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (2)

Kees Groeneboer*

Dari banyak perbandingan bahasa dalam semua publikasinya terbukti bahwa Van der Tuuk juga sudah memiliki pengetahuan mengenai berbagai bahasa lagi, seperti bahasa Nias, Aceh, Rejang, Mentawai dan Melayu-Minangkabau, bahasa-bahasa Filipina seperti bahasa Tagalog dan Visaya, bahasa Hindustan, bahasa Favorlang dan bahasa-bahasa lain dari Taiwan, juga mengenai bahasa Cina, Vietnam, dan bahasa Siam. Melalui publikasi-publikasi dari rekannya, yang juga bekerja sebagai ahli bahasa untuk Persekutuan Alkitab, dia memperoleh pengetahuan tentang bahasa Dayak, Bugis dan Makasar.

Persekutuan Alkitab Belanda pada tahun 1862 sudah mendesak Van der Tuuk untuk menyelesaikan pekerjaannya mengenai bahasa Batak, dan memintanya untuk berangkat ke Hindia-Belanda lagi, kali ini untuk menyusun kamus dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Namun, dia senantiasa menunda keberangkatannya untuk dapat menyelesaikan berbagai publikasi yang lain dahulu. Dia misalnya menyusun beberapa buku bacaan dalam bahasa Melayu untuk anak sekolah di Hindia-Belanda,  menerbitkan studi mengenai bahasa Melayu-Batavia,  dan suatu uraian mengenai koleksi naskah berbahasa Lampung.  Baru pada bulan Mei 1868 dia berangkat lagi ke Hindia-Belanda.

Pada saat kedatangannya di Batavia pada bulan Juli 1868 Van der Tuuk mendapat berita bahwa untuk sementara waktu dia tidak dapat pergi ke Bali karena terjadi pemberontakan di distrik Buleleng. Dia mendapat tawaran untuk selama lima bulan melakukan studi bahasa di daerah Lampung atas biaya pemerintah Hindia-Belanda.

Akhir Agustus 1868 dia berangkat ke Teluk Betung, dan menginap selama hampir empat bulan di rumah Daniel W. Schiff, yang pada periode 1868-1870 menjabat sebagai residen di daerah Lampung. Dia sangat cocok dengannya dan bahkan darinya dia mendapat dua pemuda Lampung – Sandi dan Abdullah – untuk membantunya belajar bahasa Lampung yang dipakai di Teluk Betung. Rumah residen terletak di bukit Talang di mana udaranya sejuk dan bahkan jauh lebih sehat daripada di Teluk Betung sendiri yang berada di kawasan berawa.

Dia sangat positif mengenai penduduk setempat: ‘mereka terbebas dari sikap penjilat orang Jawa, dan mereka mengingatkan saya pada orang Batak yang jika memungkinkan ingin saya kunjungi lagi’ (15-11-1868). Dia memang mengeluhkan tentang kurangnya percakapan intelektual, seperti yang terjadi di mana-mana di Hindia-Belanda: ‘Kelompok terbesar dari penduduk berkulit putih lahir di Hindia-Belanda dengan ibu pribumi dan ayah orang Eropa, dan hiburan terbesar mereka di sini adalah: bermain kartu dan berdansa. Oleh karena saya tidak berpartisipasi dalam kedua hal tersebut, di sini saya kadang-kadang merasa terasing dan tersendiri, terutama pada malam hari (15-11-1868).

Pendapatnya mengenai kedua gurunya – Sandi dan Abdullah – sangat baik, mereka pintar dan dalam waktu satu setengah bulan dia sudah lumayan dapat mengerti dan berbicara bahasa Lampung. Memang menurutnya sangatlah sulit untuk mempelajari bahasa Lampung karena hampir tidak ada teks-teks tertulis: ‘Oleh karena itu setiap frasa, yang diucapkan oleh guru-guru saya, saya tulis, dan dari situ saya belajar mengenal arti dan penggunaan semua kata. Dengan cara ini saya dapat belajar bahasa Lampung dengan baik, seperti bila saya belajar dengan menggunakan teks-teks bahasa Lampung yang tertulis.

Melalui cara ini kosa kata saya bertambah setiap hari, dan saya baru akan mulai mempelajari dialek lainnya saat saya sudah menguasai bahasa ini dengan baik, dan saya sudah dapat mengerti sebagian besar apa yang dikatakan kepada saya’ (17-12-1868). Pada bulan November 1868 dia melaporkan bahwa untuk studi bahasa dia akhirnya dapat memakai dua cerita epik: Tjarita Anag Dalom dan Tjarita Dajang Rindoe. 

Kedua cerita ini terkenal di seluruh masyarakat Lampung, bahkan tokoh-tokoh yang ada didalamnya dipakai di berbagai sajak. Dia tetapi mengalami kesulitan menggunakannya untuk mempelajari bahasa Lampung, karena walaupun tertulis dengan huruf bahasa Lampung, teks-teks ini mengandung campuran dari bahasa Jawa dan Melayu dengan di sana-sini menggunakan sebuah kata dari bahasa Lampung atau sejenisnya.  ‘Kadang-kadang saya putus asa saat mencari sumber tertulis yang cocok untuk meneliti bahasa Lampung, karena di dalamnya ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti, ataukah karena kecerobohan saat menyalin, ataukah karena di dalamnya terselip kata-kata yang berasal dari bahasa-bahasa lain.’ (20-03-1869). Oleh sebab itu Van der Tuuk merasa terpaksa mendalami bahasa lisan. Setelah tiga bulan tinggal di Teluk Betung Van der Tuuk sudah mengirim sebuah daftar kata bahasa Lampung ke Batavia untuk diterbitkan.

Pada akhir 1868 dia meminta kepada Pemerintah untuk dapat tinggal lebih lama di daerah Lampung sehingga dia dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai berbagai dialek. Dia mendapat perpanjangan enam bulan dan dia memberi tahu kepada Persekutuan Alkitab bahwa situasi di Bali belum memungkinkannya untuk pergi ke sana. Selain gejolak yang belum mereda, di sana juga muncul epidemi kolera.


Pada akhir bulan November dengan berjalan kaki dia pergi ke daerah pedalaman dan selama beberapa saat tinggal di Lehan di pinggir Sungai Seputih (tidak jauh dari Tarabanggi), kurang lebih seratus kilometer di sebelah utara Teluk Betung. Dia mendalami bahasa Aboeng, dialek terpenting dari bahasa Lampung, yang dipakai di daerah dataran tinggi. Bahasa Aboeng itu agak banyak berbeda dengan dialek yang dipakai di Teluk Betung. Untuk dapat mempelajari dialek ini, dia tinggal di tengah-tengah penduduk setempat untuk dapat sebanyak mungkin  menyusun sebuah daftar kata yang berguna. Dia menulis:

‘Saya duduk di sini, di sebuah ruang terbuka di seberang Sungai Seputih dan dikelilingi hutan belantara. Tempat tinggal saya adalah sebuah rumah tanpa pintu depan dan belakang. Di bagian tengah rumah yang memisahkan dua ruangan yang suram, yang saya tinggali bersama dua pembantu saya, menyala sebuah pipa yang terbuat dari daun pisang dan damar. Lampu itu menjaga agar harimau tidak menghampiri kami. Dengan penerangan lampu minyak tanah saya menulis surat ini, dan saya merokok seperti kapal uap untuk mengusir serangga yang pada musim hujan mengerubungi orang. [...].

Saya berada sepenuhnya di antara orang Lampung dan belajar banyak sekali. Keberadaan saya di sini penting untuk Persekutuan Alkitab karena saya sudah belajar hidup terisolasi. Saya berencana, nanti di Bali juga akan mengasingkan diri dari masyarakat Indo-Eropa yang gemar bermain kartu, yang menyita begitu banyak waktu dan tidak memberikan kepuasan apa pun. Waktu saya di sini mungkin akan sedikit diperpanjang; dan bila tidak, maka saya dengan senang hati akan meninggalkan tanah ini yang berhutan belantara, dengan buaya, rawa-rawa, dan harimau. Saya tidak ingin tinggal lama di sini sebab di tempat ini hampir-hampir tidak ada kesusastraan, sehingga saya harus menangkap semuanya dari mulut penduduk pribumi.‘ (17-12-1868)


Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (1)


Kees Groeaneboer*

Tulisan ini bercerita mengenai sosok ahli bahasa Herman Neubronner van der Tuuk, yang sebagai ahli bahasa lapangan meneliti daerah Lampung pada tahun 1868-1969.  Sudah sejak masa hidupnya Van der Tuuk menjadi sosok legendaris – ilmuwan besar dan mungkin dapat disebut sebagai seorang ahli bahasa terbesar di abad 19, tetapi juga sebagai pribadi yang mengesankan, berbuat sekehendak hatinya, kurang sopan-santun dan eksentrik –, seseorang yang dengan cara yang jelas, ironis, dan terkadang kasar, menentang segala sesuatu yang dianggapnya memuakkan pada masanya. Misalnya dia tidak pernah merahasiakan bahwa dia tidak suka kepada agama Kristen, bahwa dia tidak suka kepada para penginjil, dan tidak suka kepada masyarakat dan pemerintahan Hindia-Belanda. Dia juga tidak merahasiakan rasa jengkelnya terhadap kemajuan agama Islam, terhadap apa yang disebutnya ‘keserakahan‘ pedagang Cina, ‘kebodohan‘ penduduk pribumi, dan sebagainya.

Herman Neubronner van der Tuuk lahir pada tahun 1824 di Malaka, tapi dia tumbuh di Surabaya dan mungkin di masa remajanya dia telah belajar bahasa Melayu, bahasa Jawa, serta bahasa Madura. Barangkali dia bahkan telah belajar bahasa Portugis dari ibunya yang dilahirkan di Malaka dan berbicara semacam bahasa Portugis Kreol. Pada tahun 1837 Herman dikirim ke Belanda untuk pendidikannya. Dia studi di Groningen, kemudian di Leiden dan Delft, dan belajar bahasa Arab, Persia, Portugis, Ibrani dan Inggris. Pada tahun 1846 Van der Tuuk telah mengadakan studi yang mendalam mengenai bahasa Melayu dan mempublikasikan beberapa telaah mengenai naskah-naskah Melayu.  Dia diangkat oleh Persekutuan Alkitab Belanda sebagai ahli bahasa untuk daerah Batak dan berangkat ke Hindia-Belanda pada tahun 1849. Dia tertarik pada pekerjaannya sebagai ahli bahasa lapangan, walaupun sebenarnya dia bukan orang yang saleh dan tidak terlalu tertarik pada Persekutuan Alkitab itu sendiri. Sebenarnya sikapnya agak ateis. Dia menulis kepada temannya:

‘Apakah hidup ini? Tanpa persetujuan, kita memperolehnya dan oleh karena itu kita pun harus berterima kasih dan kita tidak boleh membuangnya tanpa izin Tuhan. Memang sebuah kontrak yang aneh, hubungan antara manusia dan Tuhan. Dia membiarkanmu merasa bosan di dunia tanpa menanyakan apakah kamu suka atau tidak, dan apabila kado itu sudah kamu peroleh, kamu mendapat pilihan ini: neraka atau surga. Kontrak itu pastilah suatu tipuan sebab salah satu pihak tidak memberikan persetujuannya […]. Kita diajarkan dan kebanyakan orang mempercayainya bahwa kehidupan adalah sebuah kado; tetapi orang harus sadar bahwa itu adalah kado yang bersyarat dan tanpa persetujuan dari yang memperolehnya.’ (01-06-1849)

Pada bulan September 1849 Van der Tuuk tiba di Batavia dan pertama-tama menyibukkan dirinya dengan bahasa Melayu. Akan tetapi dia jatuh sakit parah dan keberangkatannya ke daerah Batak harus ditunda. Dalam masa penyembuhan selama beberapa bulan dia tinggal di Buitenzorg (Bogor) dan di sana dia mendalami bahasa Sunda. Baru pada awal 1851 dia berangkat ke Padang dan kemudian ke Sibolga di daerah Tapanuli. Tahun 1851 dia pindah ke Barus, lima puluh kilometer di sebelah utara Sibolga, karena sebagian besar penduduknya saling berbicara dalam bahasa Batak secara sempurna dan di sana pengaruh bahasa Melayu belum begitu terasa. Pada tahun 1852 dia melakukan perjalanan ke Mandailing, daerah yang sudah berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda. 

Dia menempuh jarak yang panjang ke Padang Sidempuan, Sipirok, dan Panyabungan, yang sebagian besar dilakukannya dengan berjalan kaki. Di mana pun dia berada, dia membuat catatan, menulis lagu dan sajak, cerita-cerita, dan menyalin pustaha. Pada tahun 1853 dia menuju Silindung, yang terletak di daerah Batak yang belum berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda. Perjalanan itu membawanya ke tepi Danau Toba yang suci dan yang belum pernah dilihat oleh orang Eropa. Namun, perjalanan itu hampir mencelakakannya. Perjalanan pulang pada bulan April lebih merupakan suatu pelarian, karena menurut ceritanya, dia dua kali hampir dimakan oleh para penduduk. Barangkali hal itu membuatnya takut sehingga Van der Tuuk kemudian tidak lagi berani pergi ke daerah pedalaman Batak.

Dia sering mengeluh mengenai tugas yang dibebankan kepadanya untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Batak. Dia selalu menekankan betapa pentingnya untuk pertama-tama mengumpulkan bahan untuk menyusun kamus dan tata bahasa, dan dia mengusulkan untuk menunda penerjemahan Alkitab. Penerjemahan yang ditugaskan itu merintangi studi bahasanya. Dia juga sering mengeluhkan masalah-masalah praktis seperti kesulitan untuk mengambil uang di daerah terpencil seperti di Barus, kurangnya penulis Batak yang andal, kurangnya pembantu yang baik sehingga dia tidak diurus dengan benar dan rumahnya selalu saja menjadi seperti ‘kandang binatang‘. Dia mengeluh mengenai biaya hidup di Sumatra yang mahal. Juga tentang cuaca yang tidak sehat dan tentang serangga yang membuatnya berulang kali harus menyalin naskah.

Dia juga mengeluh tentang kurangnya percakapan intelektual dan tentang harus tinggal sendiri di dalam kesepian. Akan tetapi, untuk orang Batak rumah Si Pan Dor Toek atau Radja Toek, seperti itulah orang menyebutnya, selalu terbuka dan sepanjang hari dia berbicara dengan mereka dan membuat catatan, yang pada malam harinya diolahnya. Meskipun dia juga sering merasa terganggu dengan apa yang disebutnya dengan ‘kemalasan, kejorokan, dan keserakahan orang Batak‘. Dalam melaksanakan pekerjaannya dia senantiasa mempergunakan narasumber orang Batak yang sekaligus dia sewa sebagai penulis untuk menyalin naskah cerita. Dengan bantuan mereka, dia membuat kumpulan besar tentang kesusastraan Batak-Toba, Batak-Dairi, dan Batak-Mandailing. Dia juga membuat terjemahan dari berbagai ayat Alkitab yang pada keesokan harinya dibicarakan dengan mereka dan selanjutnya diperbaiki. Tetapi dia ternyata tidak mempercayai para narasumbernya. Dia menulis:

‘Saya sendiri tahu bagaimana sulitnya untuk menerjemahkan Alkitab karena berkonsultasi dengan orang Batak seperti bertanya kepada kucing atau anjing. Dalam membaca terjemahan saya, saya mengalami bahwa komentar mereka pada apa yang sudah saya terjemahkan sama sekali tidak berhubungan dengan yang dibacakan, dan hanya dibuat untuk memberi gagasan bahwa mereka mendengarkan saya [...]. Anda mengerti bahwa saya enggan untuk berkonsultasi dengan mereka, dan pada penerjemahan lebih dapat bermanfaat dari studi yang mendalam tentang naskah-naskah Batak, daripada nasihat mereka, yang masih asing dengan isi dari Alkitab.’ (20-2-1856)

Akhir tahun 1856 Van der Tuuk memutuskan untuk kembali ke Belanda. Dia menempuh perjalanan panjang dari Barus ke Padang dengan berjalan kaki supaya dalam perjalanan itu dia masih dapat memperoleh info mengenai bahasa Batak-Mandailing. Dari Padang dia naik kapal ke Batavia dan kemudian dia berangkat ke Eropa. Pada bulan Oktober 1857 Van der Tuuk tiba di Belanda, dan kali ini dia menetap di Amsterdam, karena kantor Persekutuan Alkitab ada di kota ini. 

Di Amsterdam dia mengolah bahan yang sangat banyak yang telah berhasil dikumpulkannya selama enam tahun di daerah Batak, dan mempublikasikan karyanya tentang bahasa Batak pada periode 1857-1868: diterbitkan tata bahasa dalam dua jilid,  kamus bahasa Batak yang luas,  dan terjemahan Alkitab.  Untuk membuat para penginjil dan pegawai pemerintah dapat mempelajari bahasa Batak, dia menyusun tiga buku bacaan dengan teks kesusastraan Batak yang asli, dilampiri dengan sebuah buku panduan untuk menggunakan teks-teks tersebut. 

*Dr. Kees Groeneboer, Erasmus Taalcentrum Jakarta

Thursday, February 27, 2014

Mawardi Harirama: Nilai-Nilai Lampung akan Tetap Hidup

Mawardi Harirama
Bandarlampung, teraslampung.com—Masyarakat Lampung tidak perlu khawatir bahasa Lampung akan terkikis atau punah. Budaya Lampung akan tetap hidup karena mengandung nilai-nilai luhur yang menyatu dalam diri orang Lampung.

“Nilai-nilai itulah yang ada dalam konsep pi’il pesinggiri. Orang luar seperti Van der Tuuk bisa menjadi ahli dalam menyusun bahasa Lampung pada abad 19. Namun, dipastikan tidak akan bisa menyerap semua nilai budaya yang mewujud dalam bahasa Lampung,” kata budayawan Lampung, Mawardi Harirama, dalam Dialog “Mengembalikan Harga Diri Lampung” di Hotel Emersia Bandarlampung, Kamis (27/2).

Mawardi mengaku tidak begitu risau dengan adanya fakta makin terdesaknya bahasa Lampung dalam praktik berbahasa sehari-hari di Lampung. Mawardi juga meyakini bahwa bahasa Lampung akan tetap eksis sepanjang masyarakat pemiliknya masih mau menggunakan bahasa Lampung.

“Sebab, bicara soal bahasa dan budaya berarti bicara soal nilai-nilai. Nenek moyang orang Lampung itu benar-benar hebat, mereka memiliki kearifan untuk mewariskan nilai-nilai luhur. Salah satunya dengan peninggalan aksara Lampung. Di Nusantara ini, hanya sedikit suku yang memiliki aksara sendiri. Dan Lampung punya itu,” kata dia.

Terkait dengan manuskrip kamus bahasa Lampung yang disusun HN Van der Tuuk, meskipun sempat mengritik Van der Tuuk sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang memiliki misi tertentu, Mawardi Harirama mengaku tetap memberikan apresiasi yang tinggi.

“Terlepas dari motif dia, peninggalan manuskrip kamus bahasa Lampung itu  sangat penting artinya bagi kita. Meski begitu, kita tidak bisa menjadikan karya Van der Tuuk sebagai acuan tunggal, karena Van der Tuuk tidak lama di Lampung dan hanya sempat tinggal di Abung dan Teluk Betung,” kata dia.

Mawardi mengaku tidak heran Van der Tuuk tidak bisa menyerap semua ilmu tentang budaya dan bahasa Lampung. Sebab, kata dia, nenek moyang orang Lampung pada zaman dulu sudah cukup cerdas sehingga tidak memberikan semua data yang dimilikinya.

"Maka itu, ketika mendengar seni bebandung yang menggunakan bahasa Lampung Van der Tuuk bingung dan mengaku seni itu aneh," ujarnya.   (oyos saroso hn)

Empat Rekomendasi Dialog "Mengembalikan Harga Diri Lampung"

Tajudin Nur wakl Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL)
Oyos Saroso H.N,/Teraslampung.com

Bandarlampung—Dialog “Mengembalikan Harga Diri Lampung” untuk menyambut pulangnya kamus bahasa Lampung karya HN Van der Tuuk di Hotel Emersia Bandarlampung, melahirkan empat rekomendasi penting. Rekomendasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kamus pertama bahasa Lampung yang disusun Van der Tuuk, tetapi berhubungan dengan pengembangan dan pemasyaratan bahasa Lampung sebagai identitas daerah pada masa kini dan masa depan.

Empat rekomendasi itu adalah: pertama, perlu adanya tindak lanjut berupa pertemuan yang melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mengembangkan dan memasyarakatkan bahasa Lampung. Kedua, perlu dibukanya kembali program studi Bahasa Lampung atau Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Lampung. 

Ketiga,mendesak pemeritah daerah (provinsi, kabupaten/kota) untuk mewujudkan budaya Lampung sebagai identitas lokal. Keempat, perlu penerbitan dan sosialisasi kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk dan berbagai manuskrip Lampung kuno yang saat ini tersebar di berbagai tempat.

Para peserta dialog sepakat bahwa pengembangan bahasa Lampung merupakan kerja besar dan berat yang tidak bisa dilakukan satu pihak saja. 

Penentu kebijakan pada akhirnya adalah pejabat eksekutif. Jadi, kehadiran kamus ini selayaknya juga disambut dengan kerja-kerja konkret yang dilakukan banyak pihak dan didukung pemeritah daerah,” kata Dr. Farida Ariyani, ahli bahasa Lampung dari FKIP Universitas Lampung.

Pada kesempatan itu Farida mengungkapkan bagaimana beratnya merintis dibukanya program Pendidikan Bahasa Lampung di Unila. Sayangnya, kata Farida, program itu kemudian ditutup karena tidak adanya dukungan biaya operasional dari Pemda.

"Padahal peminat calon mahasiswa yang mau mengambil program studi bahasa Lampung sangat banyak.Sattu angkatan bisa 700-an orang," kata dia.

Kamus Van der Tuuk Bisa Jadi Acuan Pembelajaran Bahasa Lampung

Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

Kees Groenberg mewakilo Duta Besar Belanda menyerahkan manuskrip kamus bahasa Lampung karya HN Van der Tuuk kepada masyarakat Lampung, yang secara simbolis diwakili Direktur LAZ Lampung Peduli Juperta Panji Utama, di Bandarlampung, Kamis (27/2).  Foto: Tri Sujarwo
Bandarlampung--Setelah lebih dari satu abad berada di Universitas Leiden, Belanda, kamus pertama bahasa Lampung yang karya HN Van der Tuuk diserahkan secara resmi diserahkan kepada masyarakat melalui Lampung Peduli. Penyerahan secara simbolis dilakukan di Hotel Emersia Bandarlampung, Kamis (27/2), dihadiri sejumlah pemangku kepentingan.

Dari 16 kepala daerah yang diundang panitia, hanya Bupati Tulangbawang Barat yang mengirimkan wakilnya. Acara penyerahan kamus bahasa Lampung itu dirangkaikan dengan pemutaran film “Risalah Van der Tuuk” dan dialog terbatas.

“Kami senang jika masyarakat Lampung sebagai penutur bahasa Lampung mempelajari dan mengembangkan kamus yang disusun Van de Tuuk,” kata Kees Groenberg,  mewakili Duta Besar Belanda untuk Indonesia, saat menyerahkan manuskrip kamus.

Penulis biografi Van der Tuuk itu  memberikan apresiasi kepada masyarakat Lampung yang peduli terhadap kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk.

“Tentu kami senang kamus pertama bahasa Lampung berada di tengah-tengah masyarakat Lampung,” kata Kees.

Beberapa peserta dialog juga menaruh harapan besar terhadap kehadiran kamus tersebut. Apalagi, Perpustakaan Universitas Leiden, sebagaimana diungkapkan Kees Groenberg, tidak akan menarik royalti seandainya kamus itu dicetak dan disebarluaskan.

Dr. Junaiyah H.M., linguis asli Lampung yang kini bekerja sebagai tenaga ahli di DPR RI, mengungkapkan kegembiraannya begitu mendengar salinan manuskrip kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk sudah berada di Lampung. Menurut Junaiyah,kamus karya Van der Tuuk bisa jadi bahan pembelajaran pengembangan bahasa Lampung, karena kamus tersebut merupakan kamus pertama berbahasa Lampung yang ditulis oleh orang asing.

“Apa pun latar belakang Van der Tuuk menyusun kamus itu, kita layak berterima kasih. Nah, sekarang ketika manuskrip kamus itu sudah ada di Lampung, pertanyaan besarnya adalah mau diapakan kamus ini? Kini bukan saatnya berdebat lagi, tetapi waktunya bekerja. Mari kita bekerja bersama-sama menyelamatkan dan mengembangkan bahasa Lampung,” kata dia.

Pensiunan Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengakui kamus Van der Tuuk hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Lampung pada masa lalu. Menurut dia masih banyak manuskrip Lampung yang masih tercecer.

“Itu semua perlu didokumentasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat Lampung. Sebagai orang Lampung asli saya sering miris ketika menghadapi kenyataan bahasa Lampung kurang mendapatkan tempat di Lampung. Dari Sumatera Barat hingga Lampung, hanya masyarakat Lampung yang tidak menggunakan bahasa Lampung dalam praktik berbahasa sehari-hari,” kata ahli bahasa Lampung dan staf ahli DPR RI yang sudah menyusun kamus bahasa Lampung itu.

Wednesday, February 26, 2014

Pagi Ini, Manuskrip Kamus Pertama Bahasa Lampung Diserahkan Wakil Pemerintah Belanda

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

B
Kamus bahasa Lampung (dok front-roll)
andarlampung—
Pagi ini, Kamis (27/3) salinan manuskrip kamus Bahasa Lampung pertama karya HN Van der Tuuk akan diserahkan secara simbolis oleh perwakilan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia kepada maasyarakat Lampung melalui Lampung Peduli.

Penyerahan manuskrip yang akan dilaksanakan di Hotel Emersia Bandarlampung itu akan dirangkaikan dengan pemutaran film “Risalah Van der Tuuk” karya sineas Lampung Irwan Wahyudi dan dialog terbatas tentang warisan budaya Lampung.

Umarudin Islam, manajer LAZ Lampung Peduli, mengatakan lembaganya hanyalah perantara yang turut memfasilitasi pengembalian manuskrip kamus bahasa Lampung yang sudah ratusan tahun tersimpan di Negeri Belanda.

“Setelah ada di Lampung, terserah pemerintah daerah provinsi di Lampung tindak lanjutnya. Yang pasti, kamus itu akan sangat bermanfaat jika bisa disosialisasikan secara luas kepada publik,” kata dia.
Menurut Umarudin, dialog terbatas hanya bisa diikuti oleh pihak-pihak yang diundang panitia. Diskusi lebih luas kemungkinan juga akan digelar setelah kamus tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Ini baru proses awal. Kami ingin mendapatkan masukan dari pelbagai pemangku kepentingan. Utamanya pihak eksekutif, legislatif, dinas/satuan kerja, lembaga kesenian, komunitas seni, tokoh adat, dan akademikus,” kata Umarudin.

Umarudin mengatakan dua narasumber sudah siap menyampaikan pandangannya dalam dialog. Pertama, Kees Groenberg (penulis biografi Van der Tuuk) yang mewakili Kedutaan Besar Belanda untuk menyerahkan manuskrip kamus bahasa Lampung. Kedua, Djadjat Sudradjat (budayawan) yang selama ini dikenal sebagai esais dan jurnalis di grup Media Indonesia.

“Tuan Kees akan berbicara tentang peran HN Van der Tuuk  selama ada di Lampung pada abad ke-19. Sementara Pak Djadjat akan membahas ihwal kebudayaan Lampung kini dan mendatang di tengah berbagai potensi, tantangan, dan problemnya,” kata Umarudin.

Baca juga van-der-tuuk-pahlawan-bahasa-lampung

Monday, February 24, 2014

Orang Lampung Harus Bisa Manfaatkan Kamus Van der Tuuk

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampung--Setelah manuskrip kamus bahasa Lampung yang disusun HN Van der Tuuk bisa diambil dari Negeri Belanda, Tim Ekspedisi Lampung, Lampung Peduli, dan para seniman di Lampung menyerahkan “nasib” kamus tersebut kepada warga Lampung. Meskipun ditulis oleh orang berkebangsaan Belanda, kalangan seniman Lampung berharap warga Lampung memberikan apresiasi pada kamus tersebut.

“Apresiasi itu bukan dalam bentuk penghormatan, tetapi dengan memanfaatkan kamus tersebut untuk pengembangan bahasa Lampung,” kata Direktur Lampung Peduli, Juperta Panji Utama, Senin (24/2).

Menurut Panji, upaya untuk mengembangkan bahasa Lampung tidak hanya menjadi tanggung jawab warga Lampung bersuku Lampung, tetapi juga semua penduduk Lampung.

“Tentu, yang mestinya paling mampu untuk mendukung pengembangan kamus Lampung dan apa pun yang terkait dengan budaya Lampung adalah para pemimpin daerah. Sebab, mereka itulah yang memiliki kuasa atas pengelolaan dana daerah (APBD). Namun, sampai hari ini bisa kita cek, berapa sih dana APBD yang dipakai untuk pengembangan budaya Lampung?” ujar Panji.

Panji mengungkapkan kamus bahasa Lampung yang disusun oleh HN Van der Tuuk hanyalah salah satu ‘pintu masuk’ untuk mengajak kembali warga Lampung untuk peduli terhadap warisan budayanya sendiri. Kalau kamus itu terus disimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda, tidak bermanfaat bagi warga Lampung.

“Sebaliknya, kalau sudah diterjemahkan dan diterbitkan menjadi buku, maka akan sangat berguna bagi generasi mendatang,” kata dia.

Untuk menyambut kehadiran manuskrip kamus bahasa Lampung yang sudah ratusan tahun tersimpan di Perpustakaan Leiden, Lampung Peduli akan menggelar dialog terbatas bertema “Mengembalikan Harga Diri Lampung”, di Hotel Emersia, Kamis (27/2). Kees Groeneboer (wakil Kedutaan Besar Belanda) akan menjadi salah satu pembicara pada forum tersebut. Kees adalah Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta yang selama ini banyak membantu Tim Ekspedisi Lampung dan Lampung Peduli membawa salinan manuskrip kamus bahasa Lampung ke Lampung.