CERITA DARI LAPANGAN
Fernanda Gunsan PutraProgram KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa) UNPAD 2014 telah memasuki minggu ketiga dari total empat minggu yang diwajibkan bagi mahasiswa untuk melaksanakannya. Sebagai salah seorang mahasiswa dari jurusan Sastra Inggris, pedoman saya dan kawan-kawan untuk terjun ke desa adalah buku Pedoman KKNM Unpad. Berdasarkan buku tersebut, di lokasi KKNM saya dan kawan-kawan kemudian mengidentifikasi kelayakan fasilitas sekolah, sumber daya pengajarnya, serta akses para pelaku kegiatan belajar mengajar menuju sekolah.
Untuk mendapatkan informasi tersebut, saya dan beberapa rekan dari jurusan lain menemui beberapa kepala sekolah dari tiap sekolah dasar yang ada di Desa Sirnasari, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya.
Beberapa latar belakang pendidikan tenaga pengajar di sini cukup baik. Bahkan, di antaranya ada yang yang lulusan universitas favorit dan lulus S2. Kelas-kelas di sekolah juga semuanya layak pakai. Namun, sayangnya masih banyak prasaran sekolah yang kurang. Salah seorang kepala sekolah SD, misalnya, mengeluhkan fasilitas sekolah seperti perpustakaan yang masih belum tersedia. Juga kurangnya ruangan kelas. Jumlah ruang kelas tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada, sehingga memaksa pihak sekolah untuk mengadakan jadwal kelas siang hari.
Kami mengajukan cukup banyak pertanyaan kepada para kepala sekolah. Salah satunya adalah tentang tingkat putus sekolah di sini. Mereka mengatakan bahwa semua lulusannya melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA. Sayangnya kami tidak mendapat kesempatan untuk mewawancarai kepala sekolah SMP dan SMA.
Mengingat hal tersebut, di rumah kontrakan tempat saya tinggal terdapat beberapa anak SD di sini yang sering berkunjung untuk diajari bahasa Inggris dan matematika. Empat orang anak tersebut adalah Andi, Yuza dan si kembar Budi dan Badu (nama disamarkan). Mereka merupakan teman satu permainan dan berasal dari satu sekolah dasar yang sama, tetapi dari tingkatan kelas yang beda-beda.
Andi siswa kelas 3 SD, Yuza kelas 6, sedangkan Budi dan Badu kelas 5 SD. Saya sedikit heran khususnya pada si kembar Budi dan Badu. Mereka ternyata memiliki tingkat pemahaman dan pengetahuan yang lebih rendah dibanding dengan Andi. Padahal, Andi masih duduk di bangku kelas 3. Budi dan Badu juga tidak sepintar Andi ketika belajar matematika.
Begitu pula dengan bahasa Inggris. Kosa kata dan konstruksi kalimat sederhana yang saya berikan sesuai dengan materi pada buku sekolah sangat sulit dipahami siswa kelas 5 tersebut. Mereka berempat sangat sulit untuk menangkap materi pelajaran khususnya bahasa Inggris walaupun materi yang saya berikan sudah sesuai dengan buku sekolah yang mereka bawa. Hal ini saya rasa memang tidak heran mereka alami karena cara mengajar guru mereka dan keadaan budaya di sini.
Sehari-harinya mereka berempat menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Lalu bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di sekolah dalam kegiatan belajar mengajar, baru kemudian bahasa Inggris. Sebagai bahasa ketiga yang harus mereka pelajari, tak mengherankan jika anak-anak itu mengalami kesulitan. Sebab, para guru mereka di sekolah pun tak jarang menggunakan bahasa Sunda dalam menyampaikan materi pelajaran. Alasannya, menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar memberikan pelajaran di sekolah lebih mudah. Itu pula yang membuat saya dan kawan-kawan sangat sulit mengajari mereka bahasa Inggris.
Ketika saya sudah menerjemahkan sebuah kosa kata ke dalam bahasa Indonesia, mereka belum tentu dapat memahaminya. Saya terpaksa meminta bantuan teman untuk menerjemahkannya bahasa Sunda ke dalam Bahasa Indonesia agar mereka tahu maksunya.
Di samping mengajar, saya melakukan survai dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada mereka tentang jenjang studi setelah lulus SD. Mereka mengaku bahwa akan melanjutkan ke SMP kemudian ke SMA dan langsung menikah setelah lulus. Saya kaget mendengarnya. Soalnya, jawaban itu meluncur dari mulut empat orang anak SD!
Yang membuat saya tambah terkejut, jawaban itu diucapkan secara yakin. Mereka tidak diajari orang tuanya untuk memberikan atau siapa pun untuk punya jawaban seperti itu. Mereka bilang tidak ingin repot-repot kuliah karena mahal dan tidak ada biaya. Toh kalau sudah lulus SMA bisa lebih mudah langsung menikah.
Saya beberapa kali menjelaskan dan membujuk mereka untuk melanjutkan jenjang pendidikan mereka ke universitas. Maksudnya, biar anak-anak itu kelak bisa mengangkat derajat kesejahteraan keluarganya. Setidaknya cakrawala pandangnya biar lebih terbuka. Namun, saya dibuat tidak berkutik ketika mereka memberikan contoh tetangga-tetangga mereka yang tetap berpenghasilan layak walaupun tidak kuliah. Berbagai tawaran seperti beasiswa dan pemaparan fasilitas gratis di beberapa kampus di Indonesia telah saya berikan kepada mereka. Namu, mereka bergeming: tetap ingin cepat menikah setelah kelak lulus SMA!
Saya rasa pendidikan di Desa Sirnasari, mungkin di Kabupaten Tasikmayala secara umum, harus lebih diperbaiki lagi. Mulai dari kurikulum pelajaran, penggunaan bahasa dalam kegiatan belajar mengajar, dan motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dengan adanya motivasi diharapkan cakrawala pikir para siswa tingkat lanjutkan itu menjadi lebih baik dan mau melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Dengan begitu, diharapkan nantinya akan lahir generasi baru yang jauh lebih baik dibanding para orang tua mereka yang rata-rata menikah pada usia dini.
Showing posts with label Cerita dari Lapangan. Show all posts
Showing posts with label Cerita dari Lapangan. Show all posts
Thursday, January 30, 2014
Wednesday, January 22, 2014
Ironi Pemerataan Guru di Pedalaman Lampung
![]() |
| Sekolah kampung dengan fasilitas seadanya. |
Dwie Aroem Hadiatie
BERADA di tanah kelahiran, berkumpul dan mendengar banyak cerita langsung dari masyarakat, membuat kepekaan akan kehidupan masyarakat lebih tertanam dalam hati dan pikiran. Itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Usaha-usaha yang terus menerus untuk berada dekat dengan mereka, semakin membuka cakrawala berpikir. Hal yang paling mengusik pikiran adalah saat mengunjungi beberapa daerah terpencil di Lampung, yang harus ditempuh dengan perahu dan dengan waktu penyeberangan selama 4 jam.
Nasib pendidikan di sejumlah kampung di Lampung memang masih memprihatinkan. Selain akses jalan yang kurang memadai, kondisi bangunan sekolah juga sering memprihatinkan. Belum lagi masalah ketersediaan guru. Banyak sekolah di kampung-kampung di Lampung yang kekurangan guru. Rasio guru dengan murid tidak seimbang. Itu karena di Lampung guru terkonsertrasi di kota.
Faktor sarana dan fasilitas guru yang minim di pedalaman juga menjadi salah satu penyebab keengganan guru untuk mengabdikan diri di wilayah pedesaan pedalaman di Lampung. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Provinsi.
Dengan ketiadaan fasilitas seperti rumah tinggal, biaya transportasi yang tinggi untuk kembali ke tempat asal, sarana pendidikan yang tidak memadai, membuat guru lebih terkonsentrasi di perkotaan dan hal ini mengakibatkan kualitas pendidikan di wilayah pedesaan pedalaman menjadi hanya apa adanya saja, yang penting ada sekolah.
Selain jumlahnya minim, umumnya tingkat pendidikan guru juga rendah. Pelayanan pendidikan baru dalam tahap sekedar ada saja. Misalnya pernah terjadi di Lampung Selatan. Di salah satu sekolah dasar di desa Neglasari, hanya memiliki dua guru yang berstatus pegawai negeri sipil. Fakta ini jelas menunjukkan bagaimana pelayanan pemerintah dalam pendidikan terutama bagi daerah terpencil masih kurang dirasakan.
Pendapat lain tentang persoalan tenaga pendidik yang mayoritas terkonsentrasi di perkotaan ini disebabkan karena banyak sekolah yang masih dalam tahap rintisan, sehingga belum memikirkan kualitas dan kuantitas. Lalu ada juga yang berpendapat bahwa kondisi itu disebabkan banyaknya kalangan guru yang tidak memiliki kesiapan mental untuk memberikan pengabdian di daerah.
Padahal, ketika akan diangkat menjadi PNS, calon guru tersebut menandatangani surat komitmen yang berisi kesiapan untuk ditempatkan di daerah mana pun dalam wilayah nusantara. Namun, ketika sudah lulus, mereka banyak mengurus persyaratan supaya bisa pindah karena tidak siap mengabdi di daerah dengan segala kekurangan dan keterbatasannya.
Demikian pula masalah kesenjangan antar-wilayah, yang meliputi penyediaan tenaga pendidik dan kependidikan, gedung sekolah, sarana pendukung, dan sebagainya. Keberadaan guru, sebagai fasilitator dalam pembelajaran adalah sangat vital. Guru harus diposisikan sebagai pihak yang mengemban amanah pendidikan. Masalah penempatan dan peningkatan kualitas guru adalah wewenang pemerintah.
![]() |
| Sekolah SD dengan fasilitas seadanya. Para siswa harus duduk di lantai |
Sebetulnya, untuk mengatasi ketimpangan distribusi guru, pemerintah sudah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri. Keputusan disertai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 Tahun 2013 yang memungkinkan guru mengajar di luar bidang kompetensinya. Namun Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pernah menyatakan, sebetulnya masalah itu tidak berarti jika saja distribusi guru dilakukan secara adil. Kenyataannya ada guru SMP dan SMA yang dimutasi menjadi guru SD dan cara seperti itu dianggap tidak baik karena semakin jauh dari cita-cita meningkatkan mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan.
Belum lagi persoalan penataan guru berdasar SKB lima menteri ini juga dianggap gagal karena tidak ada basis data yang pasti tentang pemetaan guru di setiap sekolah. Dinas pendidikan di sejumlah daerah juga tidak melakukan pendataan dan pemetaan. Kalaupun ada data yang terkait, data tersebut kerap tidak digunakan saat mendistribusi atau memutasi guru dari satu sekolah ke sekolah lain.
Dengan alokasi anggaran Rp 284,250 miliar pada tahun 2013 ini, Dinas Pendidikan mengalokasikan untuk membiayai pendidikan mulai dari tingkat usia dini hingga ke tingkat pendidikan tinggi. Namun persoalan distribusi dan pemerataan guru belum juga terselesaikan. Seperti telah diketahui bahwa alokasi dana anggaran pendidikan pada Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2012 Provinsi Lampung hanya 10% dari total anggaran. Hal ini semua dikatakan karena kondisi keuangan Lampung belum mampu memenuhi ketentuan 20% anggaran pendidikan yang diamanatkan undang-undang. Dengan kata lain dana tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dunia pendidikan di Lampung saat ini. DPRD dan Pemprov Lampung sepakat APBD Lampung 2012 sebesar Rp2,809 triliun.
Sebesar Rp283 miliar lebih dialokasikan untuk pendidikan. Dinas Pendidikan mengelola kurang lebih Rp222 miliar, sisanya tersebar pada sembilan satuan kerja yang lain. Sebetulnya sudah ada peningkatan pengalokasian anggaran pendidikan dibanding tahun lalu. Pada APBD murni 2011 hanya menganggarkan 9% dari total jumlah dana yang ada atau sekitar Rp202 miliar. Namun peningkatan tersebut tidaklah terlalu memiliki hasil yang signifikan mengingat angka partisipasi sekolah pada pendidikan tingkat menengah belum mencapai angka 90%. Bahkan, angka partisipasi sekolah anak umur 16-18 tahun hanya sebesar 59,8%.
Mutu pendidikan yang baik hanya bisa dicapai dengan adanya tenaga penagajar yang memiliki kompetensi dan keahlian dibidangnya. Jika penyebaran tenaga pengajar masih kurang merata maka akan sulit tercapai kesamaan dalam proses belajar-mengajar. Ke depan, Dinas Pendidikan Provinsi Lampung harus bisa melakukan pemetaan dan melakukan pemerataan penyebaran guru-guru. Dengan begitu, sekolah-sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik akan diketahui dan bisa segera diambil solusinya.
Dengan semakin terpenuhinya fasilitas bagi para guru dan sarana-prasarana pendidikan di wilayah pedesaan pedalaman Lampung, maka kualitas dan kuantitas guru bisa terpenuhi sehingga akan mengurangi secara signifikan kesenjangan kualitas hasil pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan pedalaman di Lampung. Ya, semoga saja.
Sumber: www.dwiearoem.com
Saturday, January 18, 2014
Tentang Piabung dan Kita*
CERITA DARI LAPANGAN
Ratna Juwita**
Ratna Juwita**
Dari segala penjuru,
Kami datang ‘tuk bersatu
siang malam tak terasa,
suka duka di Piabung…
oaeo..oaeo…oaeo..oaeoo..
Selamat tinggal kekasihku,
Aku pergi takkan lama,
Hanya satu minggu saja,
Suka duka di Piabung…
oaeoo..oaeoo..oaeoo…oaeoo…
Lirik lagu itu kadang samar, timbul tenggelam, namun nadanya tak pernah lupa. Seminggu di Piabung, adalah lebih dari sebuah kenangan. Sebab kenangan hanyalah layaknya gambar, yang muncul lagi saat membentang layar. Sementara Piabung adalah tentang soul, jiwa, yang menetas pada hati-hati rapuh lalu meniupkan segumpal semangat, kekuatan, dan kesadaran. Menetap, meruap, mengisi seluruh ruang dan sudut. Hhmm…mungkinkah aku terlalu berlebihan? ‘Lebay’, kalau kata anak sekarang….
Tapi baiklah, aku coba runut satu-persatu agar pemahaman ini tidak dianggap lebay. Pertama kali tersiar kabar bahwa pelatihan penyegaran FK/FT PNPM MPd tahun ini akan dilakukan di Markas Komando Brigadir Infanteri 3 Beruang Hitam Piabung, tidak sedikit rekan-rekan yang berjuluk Fasilitator mengeluh, protes. Bahkan, bahkan menolak mentah-mentah. Ini benar-benar di luar kebiasaan. Lazimnya pelatihan dilakukan di hotel dengan fasilitas lengkap dan memadai. Padahal, di tempat terbuka para peserta akan menjalani latihan selama enam hari (26 November--1 Desember 2012).
Banyak sebab yang dilontarkan, terutama adalah tentang fasilitas di lokasi nanti. Membayangkan tidur di tenda selama enam hari, di tepi laut pula, yang ada di benak adalah masuk angin dan nyamuk malaria. Belum lagi lokasi yang jauh dari perkampungan, kemungkinan kami akan kesulitan mendapatkan barang-barang kebutuhan primer dan berpuluh kekhawatiran lainnya.
Ketika Korprov Lampung memposting foto-foto lokasi penyegaran di jejaring media sosial Facebook, makin gaduhlah rekan-rekan fasilitator. Kami harus membawa bantal sendiri? Bagaimana dengan MCK? Bagaimana kalau hujan turun? Banyak sekali perlengkapan yang harus dibawa, seperti “pindah rumah”, begitu kami menyebutnya.
Keriuhan meruah bukan hanya ketika berkumpul bersama saat rakor, tapi juga di dunia maya. Obrolan di beranda facebook makin ramai menjelang hari dimulainya pelatihan. Ada yang serius sampai adu otot, tapi ada juga yang enjoy dan menerimanya dengan canda. Satu hal yang kuingat waktu itu adalah komentar Pak Amir menanggapi pro-kontra teman-teman “ yang penting jangan bersugesti buruk dulu, kalau sudah bersugesti bakal sakit, ya sepertinya bakal sakit beneran. Positive thinking saja”.
Minggu malam itu, adalah malam pertama kami tidur di tenda. Ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Walau tidak senyaman kasur, tapi tempat tidur mungil dan bantal kecil bawaan dari rumah cukup menghangatkan malam hingga pagi datang. Namun itu baru permulaan, karena dini harinya ketika kami dengan terburu-buru ke lokasi MCK, di depan pintu kamar mandi sudah terdapat antrian panjang. Kemudian setelah terkantuk-kantuk mengantri, pada saat giliran tiba, air kamar mandi habis. Padahal semua tahu, bagaimana jadwal biologis seseorang ketika bangun tidur. Duh, keluhan pertama dimulai. Keluhan berikutnya adalah pada saat makan pagi. Kami yang datang belakangan mengambil menu sarapan, hanya mendapatkan kerupuk dan nasi saja. Syukurlah menu seadanya itu bisa kami santap dengan sukses. Entah karena memang teramat lapar atau karena pengaruh lanskap fajar dan laut pagi itu yang teramat indah.
Dua hari pertama, nampaknya atmosfer masih terasa berat. Masih ada teman yang menggagas ide untuk menyegerakan pelatihan, lalu dilanjutkan di masing-masing kabupaten saja. Untungnya pelatihan berada di luar ruangan dengan materi muatan lokal, sehingga kejenuhan dapat disingkirkan. Terutama ketika peserta diajak outbond dan diperkenalkan pada aktifitas marinir, khususnya pada sesi belajar menembak yang sepertinya paling banyak dikenang.
![]() |
| Sunrise di Piabung (Foto Ratna Juwita) |
Pada hari ketiga saat mulai belajar di kelas, lain lagi masalahnya. Lokasi belajar yang lumayan jauh, cukup melelahkan ketika ditempuh pada terik matahari yang memanggang garang. Alhasil, ketika di dalam kelas banyak dari peserta yang tidak mampu berkonsentrasi.
Sebagian ada yang sibuk berkipas-kipas ria, sebagian yang lain berjibaku menahan kantuk yang tidak tertahan. Malahan ada beberapa yang tak sanggup lagi membuka mata dan pulas di kursi masing-masing. Bayangkan saja, setelah berjalan jauh, berpeluh, lalu kami duduk di ruangan panas dan pengap berjam-jam. Jadi harap dimaklumi kalau hari pertama di kelas itu kami lalui dengan setengah sadar..
Sebagian ada yang sibuk berkipas-kipas ria, sebagian yang lain berjibaku menahan kantuk yang tidak tertahan. Malahan ada beberapa yang tak sanggup lagi membuka mata dan pulas di kursi masing-masing. Bayangkan saja, setelah berjalan jauh, berpeluh, lalu kami duduk di ruangan panas dan pengap berjam-jam. Jadi harap dimaklumi kalau hari pertama di kelas itu kami lalui dengan setengah sadar..
Yang tidak kalah serunya adalah suasana di dalam tenda. Adalah kisah tersendiri bagi sekitar tiga puluh orang yang enam hari bersama-sama mulai dari bangun tidur, sampai menjelang terlelap. Dengan segala keterbatasan fasilitas, kami harus bisa saling mengerti, berempati, berbagi, dan memahami. Ucapan dan tindakan yang sedikit tidak berkenan akan mudah menyulut emosi, apalagi bagi kami, para wanita yang memang sudah dari sananya sering menggunakan perasaan. Seni menahan diri, tidak merasa benar sendiri, harus lebih sering diterapkan untuk menghindari konflik dan membuat suasana tenda tetap nyaman.
Beruntung sekali dengan keterbatasan fasilitas itu kami diberikan banyak kelebihan dalam hal lain. Tentang ini bahkan aku tidak mampu merincinya dengan lengkap. Mulai dari yang paling dekat adalah cuaca. Beberapa hari sebelum kami datang, menurut cerita dari bapak-bapak marinir, Piabung kerap diguyur hujan karena memang ini musim penghujan. Bahkan sehari sebelum kami datang, hujan masih membasahi landasan. Saat kami tiba di minggu sore, sisa hujan masih menggenang di segala sudut.
Namun, Senin hingga kepulangan di Minggu siang, hujan tidak bertandang ke Piabung. Hanya sebentar ia mampir saat upacara pembukaan. Tentu saja ini adalah sebuah kemudahan dan kebijakan yang alam berikan. Seandainya hujan turun saat itu, pastilah suasana tenda akan hiruk-pikuk, proses belajar di kelas akan terganggu, aktifitas harian seperti mandi, olahraga, makan, semuanya akan berlangsung dengan beberapa kendala.
Kelebihan kedua adalah keramahan dan kesabaran marinir yang bisa aku katakan luar biasa. Hampir seluruh marinir baik pendamping pleton, petugas tenda konsumsi, sampai pelatih, memiliki kesabaran ekstra menghadapi kami yang jauh dari disiplin ini. Walaupun mayoritas usia kami lebih tua, tapi bisa dikatakan, mereka yang ‘ngemong’ kami. Nyaris tidak ditemui bentakan atau kemarahan mereka (kalaupun marah, aku yakin mereka mati-matian menahannya, hehehe). Marinir yang berkesan dekat dengan kekerasan dan peperangan itu, menunjukkan bagaimana menjalani masalah tanpa keluhan. Disiplin, cekatan, fokus, dan memegang komitmen, adalah nilai-nilai yang nyata tertanam sehingga yang muncul adalah kesabaran dalam menghadapi kesulitan (terutama kesulitan menghadapi kami).
Dan yang tidak bisa diabaikan adalah keindahan alam Piabung. Siapa yang mampu menolak pesona fajarnya? Ketika matahari terbangun di ujung horizon dengan semburat jingga, biru, merah, dan ungu. Siapa pula yang tak ingin berlama-lama menatap purnama di atas laut nya? Piabung, bersama laut, pantai, matahari, rembulan, bukit, dan sudut-sudut dermaga nya. Semua keindahan itu bersekutu menakhlukkan keluhan yang ada. Waktu mengantri mandi saat fajar dan senja, adalah saat mata tak jemu mencuri-curi keindahan laut Piabung.
Demi menikmati cahaya sunrise, aku lebih memilih memangkan sujud subuh di mushola tepi pantai. Bahkan ada yang menggelar sajadah dalam pondok bambu di bibir laut. Dengan segala keindahan itu, maka tidak heran jika setiap sudut Piabung menjadi sasaran bidikan lensa kamera. Mungkin hanya lokasi kamar mandi yang tidak digunakan sebagai ajang berfoto ria (atau mungkinkah ada yang menyalurkan bakat narsisnya di sana?).
Di antara semua itulah, perlahan kami menemukan ‘jiwa’ di sana, di Piabung. Diakui atau tidak, ‘jiwa’ itu hadir di setiap ruang hati kami, dengan kadar yang berbeda-beda tentunya. Bisa dirasakan saat pelatihan penyegaran tahap II dilanjutkan di kabupaten masing-masing. Seminggu berlelah-letih di Piabung tak mengurangi semangat kami menuntaskan agenda ini. Dua hari penuh kami lewati pelatihan lanjutan sampai lewat maghrib dengan tetap full power (ini kondisi di Lampung Timur, semoga di kabupaten lain juga begitu).
Tak pelak lagi, perbincangan tentang Piabung memberi nuansa tersendiri. Yel-yel atau salam seperti “semangat pagi”, “kekuatan 5.5”, “Are You ready” dan beberapa yel-yel khas lainnya menjadi penyemangat dan masih mewarnai hari-hari kami, hingga saat ini. Bagi sebagian lagi, membuka-buka rekaman lensa kamera di Piabung, adalah keasyikan yang belum juga menemukan titik jemu. Sampai hari ke-21 setelahnya, foto-foto episode Piabung masih wira-wiri bertebaran di beranda Facebook, dengan beragam gaya dan momen favorit (tak terkecuali aku).
Piabung telah memberi kesadaran bahwa banyak hal yang patut kita syukuri dalam hidup ini. Tugas yang kita sandang sebagai seorang fasilitator pemberdayaan memang tidak mudah. Padatnya RKTL, progress yang terhambat, aneka ragam karakter masyarakat, dan sederet masalah lain kerap membawa kita pada perasaan lelah tiada tara. Namun Piabung telah menunjukkan banyak cara bagaimana kita menikmati semua itu. Seperti sebuah kalimat bijak yang pernah aku baca bahwa “hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan”.
*Catatan tercecer dari kisah lama, Novemver--Desember 2012 lalu.
** Ratna Juwita, Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan di Lampung
** Ratna Juwita, Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan di Lampung
Subscribe to:
Posts (Atom)





