Showing posts with label Heboh Sastra. Show all posts
Showing posts with label Heboh Sastra. Show all posts

Friday, February 14, 2014

Hati-Hati, Jangan Mem-"bully"Rumah Dunia

Gola GongSaudaraku, yang sastrawan atau bukan, perbedaan pendapat tentang buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" " jangan sampai memecah-belah persaudaraan kita. Sebagai sastrawan (penulis) harus mau terbuka menerima sebuah gagasan baru. Kisruh ini sudah irasional, tidak mencerminkan lagi ciri-ciri sastrawan ; intelektual, berbudi pekerti luhur.

Sikap saya terhadap buku "33" sudah jelas, buku itu tidak sesuai dengan selera saya. Itu versi tim 8. Jika di dalamnya ada "rekayasa sastra" (Firman Venayaksa, Koran Tempo), itu persoalan moral. Bukankah selama ini kita mengagungkan adagium "pengarang itu sudah mati"? Jika kita mengatakan buku itu lemah dalam metode, itu berarti kapasitas tim 8 sebagai penulis patut dipertanyakan. Beberapa nama juga ada yag tidak layak masuk, itu kalau versi saya.

Saya tetap menghargai buku "33" sebagai sebuah gagasan. Saya tidak setuju dengan teman-teman yang ingin menarik buku itu dari peredaran. Tugas para akademisilah yang menguji buku itu di seminar, bukan lantas membombardir dengan caci-maki, apalagi meminta pemerintah menarik buku "33" dengan alasan sesat.

Saya sangat menyayangkan strategi dari teman-teman yang menolak buku "33" itu, yang sangat kasar, tidak beretika, sehingga jadi tidak produktif. Awalnya ingin meminta dukungan kepada kami, pada akhirnya jadi tidak bersimpati.

Saya mengalaminya. Padahal saya bukan penulis buku "33" itu. Bahkan jadi bagiannya pun tidak. Saya, Ahda Imran, Toto St Radik, Ahmadun Herfanda, Firman, Halim HaDe dan Leak Sosiawan hanya ingin "menengahi" saja dengan menggelar diskusi di Rumah Dunia pada 9 Maret. Jamal D Rahman dan Halim HD sudah bersedia,. tapi sayang Katrin Bandel menolak.Alasannya, tidak terrtarik dengan ide saya yang oportunis, memancing di air keruh, bahkan saya disuruh diam dengan ancaman akan menyerang Rumah Dunia.

Saya tidak paham, serangan apa yang dimaksud, karena rumah Dunia dibangun bukan untuk menyerang sesama sastrawan, kecuali kalau ia korup merugikan masyarakat.

Faruk HT yang direkomendasikan Halim mengganrikan Katrin juga tidak bisa hadir, karena teman-temannya (yang menolak buku "33") tidak setuju Faruk hadir di Komunitas Literasi Rumah Dunia.

Tapi kemudian timbul perlakuan yang tidak menyenangkan; saya dibully, oleh kelompok yang ingin menarik buku "33" di grup FB anti pembodohan "33 Tokoh Sastra. Saya dianggap oportunis, bahkan yang paling tidak masuk akal, Rumah Dunia, komunitas yang kita bangun bersama-sama untuk menyiapkan penulis dan pembaca sastra di masa depan dituduh bagian dari DJA.

Saya menyarankan kepada teman-teman semua, agar tetap berpikir jernih. Saya hanya ingin mengingatkan, Rumah Dunia adalah perwujudan dari surat Alaq dan agama yang kami yakini; Islam. Jika ngebully saya, itu wajar dan saya anggap itu dialektika dan kritik kepada saya. Tapi jika ngebully Rumah Dunia adalah bagian dari DJA atau hal negatif lainnya, itu sama saja mencari banyak musuh, karena Rumah Dunia tidak hanya saya, tapi juga sastrawan se-Indonesia. Rumah Dunia itu sudah milik semua. Dan secara pribadi, saya tidak akan tinggal diam.

Sebaiknya kita harus tetap penuh cinta, menjaga ruh kesusasteaan Indonesia agar tetap indah. Jika ada yang mengotorinya, kita harus sama-sama melenyapkannya. Kita harus buang sampah yang mengotori kesusateraan kita. Sastra itu budi pekerti.

Abdul Salam, sastrawan muda dari Banten beranalogi, "Pernah di Chili rakyatnya berpesta pora merayakan nobel Pablo Neruda, tapi di kita, yang dirayakan 'caci maki' seperti ini. Tidak menarik."

Justru yang harus kita rumuskan adalah tujuan besar kita sebagai sastrawan dalam berkarya. Menurut Fakhrunnas Jabbar, sastrawan dari Riau, "Hal yang paling penting adalah mengangkat martabat sastrawan Indonesia di luar negeri, misalnya."

Sekali lagi, status ini substansinya hanya satu: jangan ngebully Rumah Dunia. Ingat itu.

Tetap semangat, penuh cinta damai. Jayalah sastra kita.

Serang, 14 Februrari 2014




Monday, February 10, 2014

Tantangan Debat Publik kepada Denny JA

Cecep Syamsul Hari
BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Kontroversi masuknya nama Denny J.A. dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh masih terus berlanjut. Meski buku yang melegitimasi ketokohan seseorang itu sudah mulai berkurang legitimasinya--karena salah satu juri sudah mundur dan mencabut tulisannya-- Denny JA tidak kehabisan akal untuk melakukan penolakan terhadap gugatan terhadapnya.

Kubu Denny akhir-akhir mulai kampanye di media sosial dengan membandingkan para penentang buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu dengan FPI yang melarang seminar tentang Tan Malaka.

Rahasia di balik penyusunan buku itu pun kini makin benderang. Namun, Denny tetap tidak goyah. Dia dan para pendukungnya yakin bahwa Denny JA memang layak sebagai tokoh. Bukti ketokohan itu ditunjukkan dengan jutaan hits atas karya Denny yang dipasang di sebuah website.

Berikut ini adalah tantangan dari sastrawan Cecep Syamsul Hari kepada Denny JA untuk melakukan debat publik sehubungan dengan 'ketokohan" Denny JA di dunia sastra Indonesia:


Yth. Sdr. Denny JA

Dengan hormat,

I. Menimbang

(1) Kontroversi dan penolakan akibat terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, selanjutnya ditulis “33 TSIPB”, belum pernah ada presedennya dalam sejarah sastra Indonesia;

(2) Kontroversi dan penolakan itu, sepanjang yang dapat saya amati sejak buku itu diluncurkan pada 3 Januari 2014 hingga tantangan debat publik ini ditulis, patut diduga bermuara pada satu hal, yaitu masuknya dan/atau terpilihnya nama Anda ke dalam buku itu;

(3) Masuknya nama Anda ke dalam buku itu patut diduga merupakan suatu kekeliruan sejarah karena bertentangan dengan makna tersurat maupun tersirat judul buku itu;

(4) Pada hemat saya, masuknya nama Anda pada buku itu belum saatnya, sebagaimana yang telah saya sebutkan dalam surat terbuka pengunduran diri saya dari Majalah Sastra Horison pada 16 Januari 2014;

(5) Bahwa masyarakat Indonesia, khususnya publik sastra Indonesia, menurut pendapat saya, tidak cukup hanya mendengar penjelasan dari sebagian anggota Tim 8 sekaitan alasan masuknya nama Anda dalam buku itu, baik dari anggota Tim 8 yang mendukung maupun yang menolak masuknya nama Anda ke dalam buku itu (termasuk penjelasan dari Sdr. Maman S. Mahayana yang pada 6 Februari 2014 telah menyatakan diri secara terbuka mengundurkan diri dari Tim 8, dan yang sebagai salah seorang penulis buku “33 TSIPB” telah menyatakan meminta 5 tulisannya dari buku itu dicabut);

(6) Bahwa masyarakat Indonesia, khususnya publik sastra Indonesia, berhak untuk mendengar penjelasan langsung dan terbuka dari Anda sebagai pribadi;

(7) Bahwa debat publik (public debate) merupakan bagian dari tradisi masyarakat demokratis sebagai salah satu bentuk proses dan aktivitas edukasi untuk menemukan kebenaran.

II. Mengingat

(1) Pasal 28D ayat (1) Perubahan Kedua UUD RI Tahun 1945;
(2) Pasal 28J ayat (1) dan ayat (2) Perubahan Kedua UUD RI Tahun 1945;
(3) Pasal 14 ayat (2) UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
(4) Pasal 23 ayat (2) UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
(5) Pasal 25 UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Dengan ini saya memutuskan menantang Anda untuk melakukan debat publik dalam kapasitas masing-masing sebagai pribadi dan tidak mewakili siapa pun dan/atau pihak-pihak mana pun.

Debat publik difokuskan pada dua hal berikut:

(1) Anda harus dapat membuktikan dan meyakinkan saya bahwa Anda sudah saatnya masuk dan/atau terpilih masuk ke dalam buku “33 TSIPB”;

(2) Saya akan membuktikan dan meyakinkan Anda bahwa Anda belum saatnya masuk dan/atau terpilih masuk ke dalam buku “33 TSIPB”.

Apa pun hasil debat publik itu, baik sebagian maupun seluruhnya, akan menjadi milik publik, tetapi tidak memiliki kekuatan mempengaruhi dalam bentuk apa pun atau kekuatan mengikat secara apa pun terhadap opini publik, baik sebelum maupun sesudah debat publik itu dilakukan.

Saya mempersilakan Anda untuk menentukan tempat dan waktu debat publik itu, sejauh tempat debat publik itu dilakukan di tempat yang netral di Jakarta atau di Bandung; dan selama debat publik itu dilaksanakan sebelum 4 Maret 2014.

Saya akan datang sendiri ke tempat debat publik itu dilakukan. Namun demikian, apabila Anda memandang perlu, saya mempersilakan Anda datang ke tempat debat publik didampingi oleh sastrawan dan/atau ahli sastra Indonesia mana pun yang Anda pilih.

Mengenai moderator debat publik, saya persilakan Anda mengajukan satu nama yang dapat saya anggap netral.

Sangat penting, dan menjadi syarat utama debat publik itu dilakukan, adalah kehadiran seorang psikolog yang secara sukarela dan di bawah sumpah bersedia bertindak sebagai pengamat aktif selama debat publik itu berlangsung. Psikolog itu haruslah yang memiliki keahlian/spesialisasi dan kompetensi dalam bidang ekspresi-mikro tubuh untuk mendeteksi sekecil apa pun kemungkinan terdapatnya dusta atau kebohongan dari masing-masing pelaku debat publik.

Saya menunggu jawaban Anda selambat-lambatnya pada tanggal 25 Februari 2014, atau 14 hari sejak tantangan debat publik ini saya unggah melalui status saya di media sosial Facebook (FB).

Apabila setelah tanggal 25 Februari 2014, pukul 23.59 WIB., saya tidak menerima jawaban Anda sekaitan tantangan debat publik ini (melalui akun FB Anda atau saluran terbuka lain yang Anda pilih), maka hal itu dapat saya artikan bahwa Anda telah menolak tantangan debat publik ini.

Demikian tantangan debat publik ini diajukan semata-mata dengan menimbang dan mengingat butir-butir yang disebutkan sebagai perincian pada Angka (Romawi) I dan Angka (Romawi) II di atas.

Cimahi, 11 Februari 2014

Hormat saya,

Cecep Syamsul Hari

Memahami Penolakan terhadap Denny JA

Makyun Subuki*

Setelah lama sunyi dari perdebatan berarti –karena mungkin saya kurang perhatian dan tidak melek sastra--, awal tahun 2014 dunia sastra Indonesia tiba-tiba gaduh dengan terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Paling berpengaruh. Akan tetapi, rupanya saya tidak bisa nimbrung dalam kegaduhan tersebut karena saya tidak dapat bukunya. Lagipula, saya juga tidak paham-paham amat sastra. Sudah begitu, yang ribut teman ketemu teman. Tampaknya, kali ini karir menjadi penonton memang tampak lebih menjanjikan.

Meskipun awalnya saya tidak peduli, tetapi lama-lama perdebatannya menarik juga. Karena saya suka ikut campur urusan orang, akhirnya saya tertarik mempelajari buku (pinjaman) tersebut. Perlu dicatat, awalnya saya ingin membuat tulisan panjang untuk mengomentari beberapa hal dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh ini secara detail, per bagian yang bermasalah dibahas satu per satu. Namun, tampaknya hal ini memerlukan energi yang luar biasa besar. Saya menduga, kalau saya terlalu serius, panjang tulisan saya akan bersaing dengan panjang seluruh tulisan dalam buku tersebut. Di pihak lain, Maman S. Mahayana yang menjadi bagian dari tim penulisan buku 33 TSIPB ini mengundurkan diri. Jadi, tulisan saya yang belum jadi tersebut telah layu sebelum berkembang.

Baiklah, mari kita mulai.

Pertama kali saya mendapatkan pinjaman buku ini, saya terkejut dan terkagum-kagum karena sampulnya begitu bagus. Dan saya lebih terkejut lagi, dan kali ini dengan terheran-heran, begitu mengetahui bahwa sampulnya curian. Maksudnya, yang punya lukisan ini, Hanafi, merasa tidak dikonfirmasi lukisannya bakalan jadi sampul buku ini (Silakan cari sendiri berita tentang ini. Ini bukan puisi esai, jadi nggak ada footnote-nya: pokoknya tidak ilmiah).

Selanjutnya, yang pertama kali saya baca adalah kata pengantarnya. Sangat menarik. Di mana-mana kata pengantar memang lebih menarik daripada isi bukunya.

Sulit bagi saya untuk menceritakan dan juga membahas seluruh isi kata pengantar itu. Selain terlalu panjang, saya yakin yang baca tulisan ini pasti juga sudah baca kata pengantar itu. Tim 8 menyebutkan tiga kriteria dengan pertanyaan-pertanyaan turunan yang begitu banyak dan tidak mungkin semuanya saya bahas di sini. Oleh karena itu, saya fokus kepada maksud tulisan ini, yaitu memahami argumen penolakan terhadap Denny JA sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh.

Catat lagi ini. Dalam mempersoalkan buku 33 TSIPB ini, saya hanya ingin membicarakan Denny JA, sehingga yang saya ulas hanya seputar orang ini. Tokoh yang lain adalah penggembira dalam tulisan saya. Namun demikian, untuk menolak nama tersebut dari barisan 33 secara keseluruhan, kita harus menggunakan beberapa metode: dan saya memilih metode dengan menggunakan kriteria Tim 8 sebagai tolok ukur ketokohan Denny JA. Jadi, harap maklum, pertama kita harus menampilkan kriteria yang dibuat oleh Tim 8 yang terdapat dalam kata pengantar.

Kriteria tersebut (saya ringkas sedemikian rupa supaya tulisan ini tidak terlalu panjang) adalah sebagai berikut.

Pertama, karya dan atau pemikiran. Pertanyaan turunannya adalah (1) Seberapa penting karya/pemikiran tokoh? (2) Apakah karya/pemikiran memberikan inspirasi bagi sastrawan sesudahnya? (3) Bagaimana dampak karya/pemikiran tersebut terhadap sastra dan kehidupan sosial budaya? (4) Apakah karya/pemikiran tersebut membuka jalan baru sastra yang bisa diasalkan ke karya tersebut? (5) Apakah karya/pemikiran tersebut menjadi semacam monumen? (6) Apakah karya/pemikiran menjadi pemicu dalam hal kebudayaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan?

Kedua, kiprah dan kegiatan sang tokoh. Pertanyaan turunannya adalah (1) Seberapa penting kiprah/kegiatannya? (2) Bagaimana dampaknya terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan? (3) Apakah kiprah tersebut mendorong lahirnya gerakan serupa/berbeda yang berdampak luas bagi kesastraan dan kebudayaan? (4) Apakah kiprah tersebut melahirkan pendukung atau penentang?

Ketiga, Keberpengaruhan tokoh.

Lalu ada pula penyederhanaan ini. Apakah pengaruhnya bersifat nasional dan atau berkesinambungan? Apakah tokoh tersebut menempati posisi kunci dan atau perintis?

Pertama-tama saya ingin mengemukakan bahwa seluruh kriteria dan pertanyaan turunannya itu sangat sulit untuk diverifikasi batasan ilmiahnya secara rigid. Ini bukan pertanyaan penelitian yang jelas, karena seluruh hal di atas sangat sulit untuk diukur, jangankan secara objektif, intersubjektif saja sulit. Jadi, bagi saya kriteria ini tampak megah dari luar tetapi kosong dari dalam. Tetapi, mari kesampingkan itu dan bahas yang lain.

Seperti sudah saya bilang ini tulisan tentang Denny JA. Jadi, dalam konteks buku ini dengan segudang kriteria di atas, kita harus menguji tulisan Ahmad Gaus tentang Denny JA.

Menurut Ahmad Gaus, Denny JA adalah salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh. Tentu saja, Ahmad Gaus sebaiknya menjawab kriteria pertama tentang karya, yaitu seberapa penting karyanya? Kenyataannya, Ahmad Gaus tidak menjawab apa-apa. Karena selain kriteria itu sulit dipenuhi, memang secara kajian puisi tidak ada apa-apa dalam puisi Denny JA itu. Biar saya kutipkan kata-kata Gaus mengenai konsep estetik puisi Denny JA:
....
Konsep keindahan yang ditawarkan "Atas Nama Cinta" tidak terletak pada rima atau persajakan, juga tidak melulu pada pilihan kata (diksi) sebagaimana pada puisi baru, namun pada keseluruhan bangunan puisi itu sendiri, termasuk struktur cerita yang ditampilkan, dan pesan-pesan moral yang disampaikan.. . . . .
(33 TSIPB hal. 658)

Jadi memang Ahmad Gaus menyadari bahwa puisi Denny JA dari sudut pandang kajian puisi tidak indah atau kurang indah. Nilai lebihnya ada pada struktur cerita, kata Gaus. Sayangnya, struktur cerita bukan bagian penting dari puisi, dan bahkan bukan bagian puisi. Tetapi Ahmad Gaus, dan tentu saja Denny JA ini memang aneh dan ngeyel, mereka ini ngotot dalam beberapa ulasan membenar-benarkan alur menjadi bagian penting dari puisi, termasuk dalam buku 33 TSIPB ini.

Jadi, alasan pertama saya menerima penolakan terhadap Denny JA sebagai tokoh sastra adalah karena puisinya jelek. Kata siapa? Kata Ahmad Gaus.

Bagaimana dengan kenyataan bahwa puisi ini menginspirasi banyak sastrawan dan bukan sastrawan untuk menggubah puisi serupa? Ahmad Gaus menampilkan data yang lumayan banyak untuk ini (silakan baca sendiri bukunya). Tetapi sekali lagi, saya ingin menyatakan keberataan. Hampir seluruh puisi esai yang terbit itu diterbitkan oleh Jurnal Sajak yang didanai oleh Denny JA, dan sebagian besar puisi yang terbit itu juga merupakan hasil sayembara yang hadiahnya besar dan juga didanai oleh Denny JA. Jadi, menurut saya Ahmad Gaus tidak berpikir jernih dalam menilai hal ini. Dia tidak mampu membedakan antara memberi inspirasi dan/atau memberi pengaruh dengan memberi hadiah dan/atau memberi motivasi.

Mungkin Denny JA masih berkukuh mengatakan bahwa dia membuat inovasi dengan puisi-esainya itu yang konon tujuannya adalah supaya lebih mudah dipahami. Dan benar saja. Untuk memperkuat hal ini, Ahmad Gaus bilang catatan kaki hadir untuk memperjelas tujuan komunikasi puisi esai. Dengan demikian, puisi menjadi lebih “familiar” dan lebih “understandable” untuk orang awam. Bingung saya. Sejak kapan orang awam senang catatan kaki? Siapa yang dimaksud awam di sini? Apa tukang becak (maaf nih, bukan berarti tukang becak awam semua) di gang tempat tinggal Denny JA dan Gaus suka catatan kaki? Atau mungkin Denny JA dan Gaus ini sedang berbicara tentang orang awam di Eropa atau Amerika sana yang gandrung catatan kaki. Entahlah.

Baiklah. Tidak semua pertanyaan itu saya akan jawab, karena hal itu dapat membuat makalah ini sepanjang kata pengantar buku 33 TSIPB. Saya hanya akan mempersoalkan satu hal lagi.

Bagaimana kiprah Denny JA dan pengaruhnya. Tentu saja, kita harus melihat tulisan Ahmad Gaus dalam hal ini. Apa hasilnya? Tidak ada. Ahmad Gaus tidak menulis apa-apa.
Mungkin kita semua tahu bahwa Denny JA mengadakan sayembara puisi dan membiayai Jurnal Sajak. Tapi apa itu cukup. Sayembara itu bahkan digunakannya untuk “memaksa” orang lain menulis puisi dengan gayanya, dan Jurnal Sajak menjadi alat sosialisasi “puisi” tersebut. Apa ini kiprah yang baik? Tentu saja, bagi Denny JA dan kawan-kawannya itu.

Bagaimana kiprah lainnya di dunia sosial? Ahmad Gaus tidak menulis apa-apa selain LSI. Selain itu, Gaus Cuma bisa nulis tanpa referensi yang jelas bahwa Denny JA waktu muda pernah bikin kelompok studi yang bernama Proklamasi. Hanya itu.

Padahal, Ada KH Musthafa Bisri yang aktif di NU hampir atau malahan seumur hidupnya. Semua kegiatan dan kiprahnya di NU dan pesantren yang diurusnya sejalan dengan apa yang dikemukakannya lewat puisi. Dan kurang berpengaruh apa Gus Mus bagi sastrawan berikutnya yang lahir dari pesantren? Tetapi itulah anehnya Gaus, menganggap LSI lebih penting daripada NU. Saya malahan mau bertanya perihal persoalan ini kepada Acep Zamzam Nur. Sebagai orang NU, apa dia juga menganggap LSI lebih penting daripada NU? Saya malahan berani bilang bahwa NU dalam bidang sastra masih lebih penting daripada Jurnal Sajak!

Jadi, kalau ada alasan lain kenapa saya menolak Denny JA adalah karena dia tidak melakukan apa-apa. Kata siapa? Kata Ahmad Gaus.

Terakhir, kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Tim 8 melakukan kesalahan metodologi yang fatal dari awal penulisan buku. Alih-alih berangkat dari data yang sedapat mungkin harus tersedia, Tim 8 berangkat dari inventarisasi nama-nama. Setiap orang mengajukan nama untuk didiskusikan dalam tim. Heran saya. Ini tim apa ya? Mau menulis tokoh sastra paling berpengaruh kok didasarkan pengetahuan personal dan selera individual. Kenapa tidak mulai dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya data, kemudian dipelajari, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, baru kemudian inventarisasi nama-nama. Tentu saja hal ini berat dilakukan. Dan tim 8 tampaknya tidak mau susah. Hasilnya, mereka memilih nama dan mencari pembenaran ala kadarnya untuk nama-nama tersebut.

Jadi di atas semua itu, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pantas ditolak karena cacat metodologis.


*pembaca buku

Friday, February 7, 2014

Penyelesaian Terbaik Kasus Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh

Ahmadun Yosi Herfanda

Kawan-kawan, suasana pergaulan sastra kita setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terbit menjadi kisruh, penuh intrik, dan fitnah. Saya kira ini suasana yang sangat tidak produktif. Kiranya perlu penyelesaian yang arif dan bijaksana, sekaligus jelas dan tegas, dengan tanpa merugikan siapapun, demi menyelamatkan sastra Indonesia yang kita cintai. Penyelesaian ini menyangkut dua pokok akar masalah:

I. Berkaitan dengan buku 33 Tokoh Sastra Paling .... Akar masalah buku ini ada dua: (1) penempatan Denny JA sebagai salah tokoh sastra paling berpengaruh yang menjadi akar utama pemicu kontroversi. dan (2) penyebutan dalam judul "tokoh sastra paling berpengaruh yang rawan kontroversi.

Untuk penyelesaian masalah ini saya kira Tim 8 dan Denny JA perlu berendah hati mencari solusi terbaik, misalnya mengganti istilah "paling berpengaruh" dengan sebutan lain yang lebih netral. Bisa juga disertai dengan mereposisi Denny JA dan tokoh-tokoh lain yang "kurang pas" dari daftar tokoh utama ke daftar tokoh "potensial". Tim 8 dan pihak-pihak terkait perlu mempertimbangkan ini sebagai langkah paling bijak untuk mengakhiri kontroversi yang kurang sehat, lalu menarik buku-buku itu dari peredaran, merevisinya, baru mengedarkannya kembali.

II. Berkaitan dengan buku antologi puisi esai karya 23 penyair Indonesia. Pihak sponsor (Denny JA), perantara (Fatin Hamama , dan ke-23 penyair itu perlu bertemu untuk mencari jalan keluar terbaik tanpa merugikan siapa pun. Untuk bagian ini saya siap menjadi penengah yang netral tanpa bayaran. Kita bicarakan dengan terbuka bagaimana sebaiknya buku itu dan posisi kawan-kawan di dalam buku itu.

Mungkin tidak penerbitannya dibatalkan atau direvisi seluruhnya tanpa embel-embel puisi esai yang politis itu. Tentu, poisisi dan sikap saya pribadi sudah jelas, menarik puisi saya dari buku itu. Yang lain tentu boleh saja punya sikap yang berbeda, asal bisa dicapai kesepakatan yang paling baik demi menjaga kehormatan dunia kepenyairan Indonesia.

Demikian, semoga mendapat tanggapan yang positif dan konstruktif demi membangun kembali tradisi sastra Indonesia yang lebih sehat dan bebas dari kepentingan yang hanya mengotorinya.

Wassalam wrwb
Ahmadun Yosi Herfanda

Catatan Terakhir tentang Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Kuikuti Saranmu Kawan, Saya akan Melanjutkan Berkarya...

Sihar Ramses Simatupang*


Mudah-mudahan ini pendapat terakhir saya soal buku "33 Tokoh Sastrawan Paling Berpengaruh" dan selanjutnya atas saran kawan-kawan lain yang saya temui, lebih baik saya meneruskan berkarya daripada berkomentar kelewat panjang seperti yang saya lakukan selama ini.

Kawanku Chavchay Syaifullah, 21 penyair dan para penyair lainnya di dalam buku-buku yang pernah ada di dalam puisi esai yang saya hormati.

Aku tahu karya kita saat membuat puisi adalah kerja profesional. Tak mudah untuk menghasilkan tulisan, puisi, buah pikiran dan perasaan kita. Puisi dibangun tak hanya dengan teknik berbahasa, dari diksi, pilihan kata-kata yang baru, konsep dan visi dunia dan kemanusiaan yang ditanggapi oleh seorang penyair sejak dia lahir atau pun sejak dia merasa pertama kali menulis puisi.

Namun, pernyataanku bahwa aku mencabut puisiku dan mengembalikan honorrli di hadapan publik (di media sosia dunia maya) tetap aku harus hormati. Kata-kata itu aku tuliskan dengan penuh emosi, bahkan agak sentimental, luka dan perih. Aku subyektif sekali pada saat itu. Tapi, kawan-kawan, aku tak mau dikatakan sebagai personal yang ingin menjilat ludahku sendiri. Sehingga, aku memutuskan untuk tetap mengirimkan uang untuk dikembalikan kepada Denny JA.

Kalau saja tak membuat pernyataan di depan publik, aku pasti membatalkan niatku untuk mengembalikan honorku yang kupakai untuk keperluan sehari-hari keluargaku. Aku pasti batal mengembalikannya karena semua pendapat Chavchay itu benar. Itu memang honor kita, halal bahkan hak kita.

Yang penting, kawan, aku tak akan berbeda, karena aku tetap setuju pada pendapat Chavchay, bahwa kita jangan dipecah-belah, karena kita sama sekali tak tahu bahwa akan ada buku "33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" (selanjutnya saya singkat 33 TSPB) yang ada nama Denny JA disana, padahal dia sama sekali tak layak ada disana karena selama ini tidak memberikan pengaruh apa-apa di dunia estetik sastra. Denny-lah yang tak tahu, juga tim 7 (yang sekarang menjadi tim 7 minus pengunduran diri Maman S Mahayana - salut dan hormat aku padamu Pak Maman, tegakkanlah dunia sastra itu!). 

Denny JA dan Tim 7 pun tak tahu, bahwa tubuh puisi esai Denny JA, bukan karya baru di dalam dunia sastra Indonesia. Bahkan konsep prosa liris beberapa puisiku - di antaranya puisi "Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta" - adalah karya yang aku buat sejak dua tahun yang lalu. Kepada seorang penyair, aku sempat menyatakan keinginanku membuat prosa liris seperti "Pengakuan Pariyem" mendiang Linus Suryadi atau pun "Sumo Bawuk" Agus Sunyoto, juga puisi-puisi mendiang Rendra. Tapi, jangan dengan teknik perpuisian bergaya tembang seperti Agus Sunyoto dan Linus Suryadi, namun mencari teknik prosa liris ala puisi Sumatera (kawan penyairku bernama Irman Syah itu sebenarnya - sungguh ini subyektif saya saja - tentu lebih kuat bila membuat prosa liris karena bahasa ibunya adalah bahasa Sumatera sedangkan aku seorang Sumatera yang kelahiran Jakarta. Gaya puisinya pun mantap kali ketika mengalunkan puisi plus dendang menggunakan saluang).

Kepada Agus Sunyoto, yang kukenal lewat bukunya, dan aku surprise bertemu orangnya di Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 (bah, aku masih mahasiswa di Surabaya ketika aku membaca karyanya!), bahkan kukatakan bahwa aku salut dia mampu mengeluarkan prosa liris yang unik dan cantik. Puisi "Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta" hanyalah satu puisi dari sepuluh puisiku, yang aku kirimkan kepada Fatin Hamama lewat email dia - tanpa footnote sehingga Fatin pun menelepon aku lagi. Padahal, ini aku lakukan untuk bermain teknik prosa lirisku dan benar, Fatin menerima tubuh puisi itu! Aku hanya diminya untuk menambahkan saja footnote sekedar bedak di bawah puisi itu. Genaplah sudah, puisi esai benar-benar sama dengan prosa liris dan puisi naratif - minus footnote.

Padahal, sungguh, tubuh puisi yang diagungkan tim 8 (yang sekarang menjadi tim 7 minus pengunduran diri Maman S Mahayana) itu adalah prosa liris, prosa (bangunan imaji yang menghadirkan karakter, penokohan, protagonis dan antagonis) yang dihadirkan dengan teknik puitik - menjadi liris. Itulah persoalannya, puisi-puisi Denny JA, kalau saja dihapus footnotenya tetap adalah prosa liris. Aku bahkan tak pernah menyimak puisi (yang dikatakan puisi esai itu) pada halaman ke tiga dan ke empat karena isinya seperti prosa liris atau pun puisi naratif (puisi yang berkisah, disinilah dua genre prosa liris dan puisi naratif dapat berbenturan) lainnya.

Kawan-kawan, tak ada maksud saya ingin berbicara tentang ini, tapi biarlah persoalan sok serius ini saya utarakan agar pembaca awam atau pun pemula sastra mengetahuinya. Karena itulah yang kita perjuangkan, melahirkan tradisi baru di dalam penciptaan karya sastra. Ini harus kita sibak, karena teknik yang dibuat oleh Denny JA sungguh adalah pola atau teknik gaya lama.


Seolah ini perkara sederhana dan sepele. Tapi tahukah bahwa kita telah menghancurkan sejarah Rendra, Linus, Agus Sunyoto, Sindhunata dalam puisinya? Sejarah inilah yang ditiadakan oleh buku "33 TSPB". Jadi, kalau kita bicara pengaruh, ya tentunya pengaruh genre seperti inilah yang kita bincangkan (juga pengaruh perjuangan, visi penyair atau pun pendobrakan bentuk teknik sastra tertentu seperti Amir Hamzah yang lebih membebaskan tradisi ketatnya pantun, Chairil Anwar yang memulai tradisi bentuk puisi modern, Sutardji Calzoum Bachri dengan  puisi mantera yang membebaskan kata dari makna). Ada juga puisi mbeling Remy Silado dengan puisi mbelingnya lengkap dengan penataan tipografi atau puisi rupa karya Gendut Riyanto.

Jadi, definisi pengaruh itu bukan pengaruh karena bikin ramai dengan membiayai diam-diam perbukuan, event lomba di dunia sastra dan membuat buku "33 TSPB" yang bermasalah di arus sejarah sastra Indonesia juga buku-buku puisi yang mengagetkan para penyaur karena tujuannya membuat publik sastra terhenyak!

Betapa mereka - bahkan kita saat ini - terus bergumul, memeluk, mencabik, mengelus kata, tema, teknik pengucapan, pemilihan kata baru, dalam puisi, bahkan cerpen dan novel kita. Membaca banyak penyair lain sejak kita muda untuk kemudian menegakkan gaya kita di atas sikap tematik, estetik dan visi sendiri.

Demikianlah saya merancang puisi saya "Semadi Akar Angin" yang membuat pendekatan alam pepohonan sebagai diksi di dalam puisi-puisi saya belakangan ini. Dunia tanaman, pohon, yang belakangan saya geluti, adalah bagian dari peradaban kebudayaan di setiap lokal wilayah di dunia, seperti pohon bodi (ficus religiosa) dikenal sebagai tempat Sang Buddha Gautama beroleh pencerahan, beringin (ficus benyamina) dikenal dalam agama-agama lokal Indonesia seperti Kejawen dan Parmalim, waru sebagai pohon yang magis, hingga pohon baobab yang dekat dengan kebudayaan masyarakat Afrika. Bila saya mengambil diksi itu, maka saya beresiko akan berhadapan dengan sastrawan seperti F. Rahardi yang pernah memimpin majalah Trubus, penyair dan pencinta lingkungan Eka Budianta dan mantan pebonsai Kurniawan Junaedhi. Tapi itu kan hanya dunia pohonnya, kalau diksinya saya kan beda dengan mereka. Saya menjadikan pohon sebagai simbol kehidupan manusia, masyarakat dan simbol hidup saya sendiri sebagai penyair. Saya tak mencantumkan huruf besar di dalam puisi-puisi saya, kecuali untuk Tuhan atau Nya (kata ganti ketiga untuk Tuhan). Saya juga menggunakan metafora berlapis - itu saya ungkapkan pada penyair Sutan Iwan Soekri Munaf pada tahun 2003 - sebelas tahun yang silam. Itu tetap beda dengan mereka yang juga kuhormati tadi.

Pergulatan teknik puisi, diksi, metafora, visi, tema dan lain sebagainya itulah yang begitu berat dalam perjuangan panjang seorang penyair. Seorang Soetardji Calzoun Bachri bertahun silam bahkan pernah mengatakan kepada saya pribadi bahwa dia membela puisinya dengan kredo, dengan pemikiran, bahkan dengan esai yang terus dia perjuangkan.

Mengingat semua perbendaharaan dan pandanganku tadi, malam itu keluarlah emosi - lebih tepatnya sedih dan luka - kendati saya sadari emosi saya kemarin itu subyektif, kawan. Tapi aku tak akan menjilat ludahku di publik kendati aku katakan sejujurnya ini adalah HONOR, benar, tepat, layak. Kalau aku tak membuat pernyataan kepada publik, yang kemudian dikutip beberapa media tu, sudah kuikuti pendapat Chavchay! Sebab, dengan kepala dingin dan nalar pun kita akan tetap tahu bahwa pemasukan nama Denny JA di buku "33 TSPB" lah yang sungguh perbuatan salah kaprah dan tak mengerti sejarah sastra Indonesia. Bukan buku puisi, prosa liris dan puisi naratif berisi footnote itu!

Buku salah kaprah "33 TSPB" itulah yang harus dijatuhkan kedudukannya dalam dunia perbukuan sastra Indonesia. Karya para penyair - di buku 23 penyair - juga puluhan penyair lain bahkan di penyair muda dalam acara lomba puisi esai - tak bisa jadi alat untuk melegitimasi pengaruh sastra oleh tim 8 (minus Maman S Mahayana). Hore, hore, kata penyair dan jurnalis Mustafa Ismail, memang begitulah kenyataannya. Semua kegiatan yang dibiayai Denny JA - bila dia ikhlas awalnya - sontak seketika menjadi sia-sia dan menjadi "hore, hore" begitu dia lewat tim 8 (minus Maman S. Mahayana) tersertakan namanya disana dengan semua masalah teknis dan genre perpuisian seperti yang saya jabarkan di atas.

Orang kaya dapat berpuisi dengan cara yang lebih ideal. Sebagaimana saya mengenal penyair Slamet Widodo yang pengusaha itu, namun sejak bertahun silam dia bekerja dengan jerih-payah berkarya terus tanpa kenal lelah, seharusnya Denny JA konsultasi pada penyair, Bapak Slamet - demikian saya menyapa - yang saya anggap sahabat atau mas atau bapak karena beliau lebih tua dari saya. Banyak kawan mendukung dia, tetap tak merasa dipecundangi dan berteman dengan bahagia sampai sekarang. Karya dia, mulanya, bagi saya berada di bawah bayang gaya puisi mendiang penyair Rendra, terkadang seperti gaya puisi penyair yang puisinya kocak, Joko Pinurbo. Tapi saya yakin, dan akan terlihat gejalanya, dia akan memiliki cita rasa estetik sendiri atas puisinya. Pengacara Todung Mulya Lubis saja pernah mengirim karyanya di media massa cetak dan dimuat, bahkan penyair yang terhormat ini pernah melakukan orasi budaya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ya, semua penyair pada hakekatnya berusaha untuk mencari bentuk pada puisinya. Betapa semua akan berbeda bila itu juga dilakukan oleh Denny JA, menitinya dengan semangat berkarya yang tulis dan ikhlas. Bersabar, terus berkarya, berkeringat, hadir dalam diskusi sastra, banyak membaca sastra, mengolah diksi, mencari kata baru, tentu suatu saat kelak, akan ada hasilnya. Ajak sastrawan dan mahasiswa mengkritik puisi Anda, misalnya apa pilihan kataku sangat biasa, tidak memiliki simbol, metafora, gaya bahasa yang kuat, apa membosankan karena dalam pengisahan di balik puisinya tak banyak tokoh dihadirkan. Tapi mencari pembohong yang memuji puisi kita itu lebih mudah lho daripada mencari orang jujur yang mengkritik karya puisi kita.

Tapi, kalau pun karya kita, anak imajinasi kita ternyata tak lekat di sejarah sastra Indonesia, ya kita gagal, itu takdir namanya. Tak mengapa, tujuan bersastra bukan untuk mencari nama dan menempatkan kita dan karya kita di dalam sejarah sastra! Tapi berbagi dunia kata, menawarkan kata baru di jagat publik yang suntuk dengan bahasa konvensional dan bahasa jargon selama ini. Lagi pula, cukup dengan berpuisi kita sudah membela rakyat, membela negara kita, membela kaum miskin, membela orang tertindas, kaum papa, itu saja sudah hebat kok. Yang penting kuncinya, cobalah bersabar, dan percayailah takdir. Para tokoh pendahulu kita pasti tak memikirkan nama dan karyanya dalam sejarah sastra Indonesia.

Tapi, lihatlah hasilnya kalau Anda tak sabar. Akibat buku "33 TSPB" maka, para penyair yang saya sebutkan di atas bisa tertutupi jasa-jasanya di dunia sastra atau pun perpuisian di Indonesia, setidaknya ketika dia membaca buku "33 TSPB" itu. Bukan cuma pelajar SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa pun dapat tersesat oleh isi buku itu. Apalagi bila buku itu masuk dalam kurikulum!

Saran saya, tariklah buku "33 TSPB" itu. Kalau sudah terlanjur beredar, buatlah pernyataan bersama tim 7 lainnya di hadapan publik untuk menganggap beberapa halaman disana tak pernah ada. Untuk buku yang masih di toko buku, tariklah buku itu lebih dulu lalu direvisi. Atau ada saran lain dari saya, hadirkan "tiga puluh tiga sastrawan berpengaruh" lainnya, selama lima puluh edisi - mirip buku Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern (empat volume) karya Linus Suryadi yang sahih itu. Jadi ada seribu enam ratus lima puluh penyair setidaknya sampai generasi penyair yang lamanya berpuisi sama dengan Anda. Antara sastrawan pendahulu dengan sastrawan seumur Anda berkarya - dan para sastrawan pemula, di pinggiran daerah dan di luar negeri pun dihadirkan - semua dibuat bervariasi pada tiap buku. Jadi edisi kedua "33 TSPB II" sampai edisi ke lima puluh edisi, tim kuratornya harus berganti dan setiap tim isinya 8 kurator. Total, ada 64 kurator selama 50 edisi buku itu diterbitkan. Kalau dikurangi, 40 atau 30 edisi buku pun bolehlah...

Jadi, generasi muda memiliki banyak nama bandingan untuk sastra yang memiliki beragam kekuatan diksi, tipologi, madzab, kredo, visi dan lain-lain. Kita pun tak perlu merasa janggal lagi, karena pola seleksinya bervariasi - bukannya acak dan arbitrer seperti di buku "33 TSPB" ini. Dipilah, ditimbang, jangan ada satu pun karya para penyair itu lolos dalam sejarah sastra di 50 buku itu.

Menjadi penyair hak setiap orang. Para penyair pun berbeda profesinya, ada yang dosen, pengacara, pengusaha, kerja survei, karyawan, supir, tukang tanaman, wartawan. Tapi, janganlah mengubah sejarah dan tak menghargai perjuangan para penyair di sepanjang masa kesusasteraan Indonesia. Itulah masalah paling besar, Singkatnya, saran saya, usahakanlah penarikan untuk TSPB itu. Saya tak pernah bertemu bahkan tak pernah berdialog lewat telepon, email dan media sosial sekali pun kecuali lewat Fatin Hamama. Tapi, betapa indahnya dunia kesenian, kesusasteraan, bila perkawanan dibalas dengan perkawanan, terbuka, sehingga sang kawan yang baru Anda kenal (dan Anda yang baru dikenal oleh kawan baru Anda) tak sedih perasaannya, lunglai, kecewa, marah, merasa dibohongi dan hatinya pun tersayat. Begitu saja Bang Denny JA, Anda lebih tua dari saya, kalau saja Anda melakukan cara sebagai penyair atau penulis puisi lainnya, tentu tak begini bentuk komunikasi kita.


Yang terpenting, aku berharap buku itu segera dicabut agar persoalan ini cepat selesai karena begitu banyak masalah dalam kehidupan masyarakat kita, dari bencana alam hingga kekerasan yang terjadi beberapa waktu yang lalu karena miskinnya pemikiran dan wacana - semua dapat kita bantu dan sikapi masing-masing dengan pikiran, tindakan dan tulisan kita.

Salam,
Dinihari, 8 Februari 2014

Sihar Ramses Simatupang

* Penyair

Ketika Denny JA Bangga dengan 23 Penyair

Oyos Saroso H.N./Teraslampug.com


BANDARLAMPUNG--Selain buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, ternyata ada masalah lain yang tak kalah serius, yaitu lahirnya sejumlah buku antologi puisi esai karya 23 sastrawan Indonesia (silakan baca ulasan lengkap penyair Chavchay Syaifullah). Ke-23 sastrawan itu diminta Denny JA menulis puisi esai, yaitu jenis puisi panjang yang ada catatan kakinya. Itulah genre sastra yang diklaim Denny JA sebagai genre baru di Indonesia.

Belakangan baru terbongkar 'rahasia' di balik penerbitan beberapa antologi puisi esai itu. Beberapa sastrawan yang namanya masuk dalam antologi (karena diminta, dengan honor besar pula), belakangan menarik diri. Ada karena yang tegas-tegas merasa dikelabui seperti Ahmadun  Yosi Herfanda (sbaca juga dan , silakan cek http://www.teraslampung.com/2014/02/saya-sudah-kembalikan-honor-puisi-esai.html). Penyair Sihar Ramses Simatupang memilih mencabut karyanya yang sudah dibukukan dan siap mengembalikan honor yang sudah diterimanya (http://www.teraslampung.com/2014/02/heboh-tokoh-sastra-saya-mencabut-puisi.html). Tak kurang banyaknya sastrawan yang karyanya masuk dalam antologi puisi esai itu yang diam. Mungkin malas menanggapi atau masygul tetapi ada perasaan tidak enak untuk memberikan tanggapan.

Yang pasti, 23 sastrawan itu adalah kebanggaan Denny JA. Mereka mau menulis puisi esai. Dus, itu berarti, sehebat apa pun mereka, tetap dianggap berada di belakang Denny alias epigon. Mungkin istilah epigon terlampau kasar. Barangkali agak lebih pas kalau mereka disebut mendukung Denny JA untuk menyokong Denny JA sebagai pioner puisi esai di Indonesia. Dan itu maknanya: kelak--disengaja atau tidak--mereka dianggap mendukung Denny JA sebagai tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia, selain 32 nama tokoh lainnya.


Berikut tulisan Denny JA yang bersumber dari inspirasi.com:



Biarlah Seribu Puisi Berkembang


Denny JA


Biarlah seribu bunga berkembang. Genre puisi esai menjadi salah satu bunga di taman puisi Indonesia. Yang bukan penyair boleh ambil bagian. Yang sudah menjadi penyair silahkan pula memetik bunganya.

 Segera terbit, 5 buku baru puisi esai yang ditulis oleh 23 penyair ternama. Total buku puisi esai yang sudah terbit dengan 5 buku baru itu sebanyak 15 buku puisi esai. Tahun ini juga sekitar bulan Febuari 2014 akan terbit lagi 5 buku puisi esai pemenang lomba tahun 2013. Sebelum tengah tahun 2014, akan terbit sekitar 20 buku puisi esai, yang ditulis oleh sekitar 80 penyair dari Aceh sampai Papua.

 Saya ucapkan terima kasih kepada semua kritik atas terpilihnya saya sebagai salah satu dari 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh. Dokumen pemilihan itu direkam di sebuah buku yang diterbitkan Gramedia untuk PDS HB Jassin. Team juri yang memilih berjumlah delapan orang yang kompenten di dunia sastra, baik sebagai kritikus, praktisi ataupun pengajar sastra. Dua di antara mereka mengajar sastra di Jerman dan di Korea Selatan.


Sungguh belum pantas saya masuk dalam jajaran 33 sosok itu. Namun saya menghargai kerja Team 8 dan PDS HB Jassin yang memilihnya. Mereka sudah pula menyiapkan buku setebal 777 halaman sebagai pertanggung jawaban akademik atas pilihannya itu. Pro dan kontra hal yang biasa. Juri dimanapun tak akan bisa memuaskan semua pihak.


Lagi pula saya tidak bercita-cita menjadi tokoh sastra. Saya hanya hendak memperjuangkan isu sosial melalui puisi esai. Alhamdulilah jika puisi esai ini dianggap sebagai genre baru. Jika tidak dianggappun, tak apa juga. Kepedulian saya memang bukan pada wacana sastra tapi nasib manusia yang hendak diperjuangkan dalam sastra itu.

Inilah list penyair dan judul puisinya. Mereka  mencoba merekam batin Indonesia, dan menangkap isu sosial dengan gaya puisi esai.

  
1. Sujiwo Tejo:                       HONG
2. Ahmadun Yosi Herfanda:   GRAFITI  SULASTRI
3. Fatin Hamamah :                Jelaga Kembang Raya
4. Agus Noor:             
        MOMENTO MEMORI
        SEORANG ALGOJO
5. Akidah Gauzillah :              Orang-orang Gila Berpuisi
6. Anis Sholeh Ba'asyin:         SERAT KLARA ATI
7. Anwar Putra Bayu:      DI BALIK CERITA SUNGAI MUSI
                                            (Mengenang hari pembantaian kaum komunis di Palembang)
8. Bambang Widiatmoko:      JALI JALUT: JULA JULI BINTANG TUJUH
9. Handry TM:                       Mestikah Kuterima Salam Itu?
10. Isbedy Stiawan ZS:    Kisah dari Moro-Moro, Negeri Asing itu
11. Mustafa Ismail:                LANGIT SAMPANG MERAH  SAGA
12. Nia Samsihono:                PEREMPUAN DAN PEREMPUAN
13. Salman Yoga S:                Panglima Muda Dan Kopi Ganja
14. Sihar Ramses Simatupang:   KISAH POHON ASAM DI TANAH JAKARTA  
15. Anisa Afsal:                         Sajak Penunggang Harimau
16. Chavchay Sayfullah :            RINTIH PERIH GLOBALISASI
17. D.Kemalawati :            DI BABAH PINTO, SYAIR PEREMPUAN SUNYI
18. Dianing Widya:                Kisah Luka Mutiara
19. Kurnia Effendi:                JOKOWI
20. Mezra E. Pellondou:       Teringat Mahkamah Konstitusi
21. Rama Prabu:                   Testamen di Bait Sejarah
22. Remmy Novaris:               Mencari Ida yang Hilang
23. Zawawi Imron:                   Kanvas Merah Putih

Tentang Hits yang Spektakuler, Inilah Jawaban Pendukung Denny JA

Pengantar Redaksi: Pada 2 Februari teraslampung,com memuat berita berjudul "Denny JA Berbohong?: Sahrul Fuad Membongkar Modus Puisi Esai Hingga Menghasilkan Hits 7.502.981". Berita itu menjadi perbincangan secara luas di publik karena ada rahasia di balik pemasifan puisi esai-nya Denny JA. Agar informasi menjadi berimbang, berikut ini kami muat opini yang berseberangan, yaitu pendapat Wira Kusuma yang juga dimuat di www.inspirasi.co. Kami muat opini Wira Kusuma secara utuh.

***

Membongkar kesesatan Sahlul Fuad
 – tentang situs puisi-esai.com 

Oleh: Wira Kusuma

Tulisan Sahlul Fuad berjudul “Membongkar Statistik Puisi Esai Denny JA” yang belakangan ramai dibicarakan, bahkan menjadi berita di sebuah situs berita online, adalah analisis menggelikan yang pernah ada mengenai sebuah website/blog yang ramai dibicarakan. Lebih menyedihkan lagi adalah gerbong komentator yang menyukai, memuji, dan menyebarkan tulisan tersebut ke berbagai situs jejaring sosial.

Menyedihkan karena banyak di antara nama-nama pendukung analisis penuh asumsi dan fitnah yang ditulis Sahlul ini adalah para penyair, pegiat seni, dan lainnya. Saya mengerti tulisan Sahlul didasari atas ketidaksetujuan masuknya Denny JA pada buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh yang menghebohkan itu, tapi membuat tulisan atau analisis yang seolah-olah argumentatif padahal penuh prasangka, asumsi, bahkan fitnah adalah tindakan menyesatkan yang tak bisa dimaafkan. Bagi para pendukung Sahlul, saya heran mengapa kebencian begitu mudah membuat mereka melupakan logika dan segera menjadi bodoh?

Dalam tulisan ini saya akan mengemukakan mengapa analisis Sahlul Fuad begitu mudah untuk dipatahkan. Pertama, Sahlul mengakui secara terang-terangan bahwa pertama-tama ia “googling” sejumlah situs web checker dan web analyzer seperti www.stathow.com, www.checkpagerank.net, dan www.fortiguard.com. Dengan tingkat pemahaman Sahlul yang seadanya itu, saya bisa mengerti bahwa dua website pertama bisa saja digunakan untuk “mengintip” statistik sebuah website/blog, tapi menggunakan fortiguard untuk melakukan itu benar-benar mengherankan. Fortiguard adalah situs penyedia jasa riset dan asistensi keamanan dan vulnerabilitas sebuah website, bukan web checkergratisan yang bisa dilakukan untuk mengecek sebuah website/blog.  

Anggaplah Sahlul konon bisa mengintip statistik website puisi-esai dengan dua toolsyang ia sebutkan pertama, statshow dan checkpagerank, kita bisa menganggapnya sangat hebat dan seolah-olah mengerti teknologi. Tapi, come on, statshow dan checkpagerank hanyalah situs gratisan yang melakukan “estimasi”, bahkan “rough estimation”, terhadap sebuah situs berdasarkan aktivitas tertentu yang terekam situs pencarian seperti Google atau lainnya. Lagipula, hamper semua tools seperti ini tidak bisa diuji legitimasinya, karena masing-masing menggunakan cara perhitungan yang berbeda-beda: Itulah sebabnya hasil yang dikeluarkannya pun akan berbeda-beda. Situs-situs semacam ini hanya bisa dipakai untuk melihat informasi domain dan hosting secara umum, estimasi pengunjung website setiap hari dan setiap bulan (daily and monthly),estimate web value, estimate ads revenue, dan alexa rank.

Lalu apa itu alexa rank? Saya bisa menjelaskan ini panjang lebar pada Anda, juga memberikan kulaih tersendiri kepada Sahlul, tapi berikut saya berikan penjelasan sederhana: “In simple terms, Alexa Traffic Rank is a rough measure of a website's popularity, compared with all the others out there on the internet, taking into account both the number of visitors and the number of pages viewed on each visit” (Baca lebih lanjut: http://en.wikipedia.org/wiki/Alexa_Internet). Dengan penjelasan itu mudah-mudahan bisa dipahami bahwa alexa rank tak bisa ujug-ujug dipakai untuk mengukur dan menganalisis sebuah website/blog dari kapan website itu lahir hingga kapan website tersebut berhenti. Alexa rank hanyalah estimasi perbandingan dari setiap kunjungan sebuah website dibandingkan dengan seluruh kunjungan ke seluruh website yang ada di dunia. 

Saya akan angkat topi untuk Sahlul jika ia melakukan analisis lain yang lebih masuk akal secara teknologi, bukan sekadar “googling” dan memasukkan “kata kunci” atau “nama domain”, atau sekadar klik kanan lalu save PNG image seperti pelajaran komputer Internet pertama anak-anak Sekolah Dasar. Juga barangkali akan lebih legitimate jika Sahlul meng-hire sebuah perusahaan penyedia web analyzer atau paling tidak menggunakan jasa berbayar web checker kelas premium. Mengapa ini penting? Karena sepengetahuan saya tidak ada satupun situs penyedia layanan checking/analyzing gratisan yang menampilkan statistik pengunjung sebuah website secara penuh dan akurat day by day, month by month, year by year. Mereka hanya menyediakan data terakhir yang bisa terlacak (recent data), yang dalam kasus website puisi-esai, pencapaian 7 juta hits terjadi pada tahun 2012 sedangkan Sahlul “berusaha menganalisisnya dengan tools gratisan” pada tahun 2014.

Kedua, dengan subjudul gagah berani “Pengujian Angka” Sahlul mencoba memvalidasi hits website puisi-esai dengan cara “right click-save-as” pada hit counter yang tersedia di web puisi-esai. Lalu ia membuka stats-counter plug-ins dan menginstallnya di blognya sendiri (saya harus menahan tertawa di sini), kemudian dengan penuh asusmi dan prasangka ia mencoba memasukkan angka tertentu bahkan hingga 9 miliar. Analisis macam apa ini?

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa hits adalah jumlah berapa kali sebuah halaman website (web page) dipanggil (didownload) oleh sebuah web browser, jadi bukan semata-mata stats yang diasumsikan Sahlul. Hits memang tidak mencerminkan visitor bahkan unique visitor secara langsung, hits juga bukan alat ukur terbaik untuk mengukur traffic sebuah website (baca: http://dianev.com/blog/2006/03/20/website-stats-what-are-hits/), tapi hits merupakan salah satu cara mengukur berapa kali sebuah website diunduh content-nya (dalam bentuk text, gambar, video dan lainnya) dari sebuah browser yang digunakan pengguna internet di manapun di dunia.

Kita bisa berdebat panjang soal teknis begini, dan boleh jadi perdebatannya kurang produktif karena tidak ada satupun pihak yang bisa menjadi acuan untuk memvalidasi kebenaran datanya (setidaknya sampai ada seseorang yang membayar jasa professional untuk melakukannya), tapi apa yang dilakukan Sahlul adalah kesesatan berpikir yang sangat menyedihkan untuk terus disebarkan. Ia melakukan analisis (atau diagnosis, meminjam bahasa Sahlul) tetapi terlebih dahulu diawali asumsi kotor dalam kepalanya. Hasilnya, ia keluar dengan sejumlah fitnah dan tuduhan yang seolah-olah benar padahal begitu rapuh. Lihatlah bagaimana Sahlul mencoba menghubung-hubungkan, utak-atik gathuk, antara apa yang terjadi di tanggal tertentu (rata-rata terjadi di 2013) dengan jumlah traffic website puisi-esai, boleh jadi itu berhubungan, tetapi sambil mempertanyakan darimana angka 7 juta hits puisi-esai.com Sahlul telah begitu saja melupakan data yang tercantum di website puisi esai bahwa hits 7 juta didapatkan pada tahun 2012. 


Dengan tulisan Sahlul yang penuh fitnah tersebut, jika saya jadi Denny JA, sudah cukup legal standing bagi saya untuk memperkarakan Sahlul ke jalur hukum, jika mau. Jelas sekali yang dilakukannya termasuk pencemaran nama baik. Juga, fitnah yang dilakukan Sahlul mudah sekali untuk dibuktikan. Untuk soal ini, terserah, saya tidak tahu-menahu dan tidak mau terlibat.

Akhirnya, tulisan ini dibuat untuk mengklarifikasi salah kaprah massal yang terjadi. Barangkali kita boleh tak suka pada sesuatu atau membenci sesuatu, tetapi mempertontonkan kebodohan sambil membabi buta memfitnah seseorang di depan publik adalah kesesatan yang nyata. Dan mereka yang mendukung bahkan mengagung-agungkan kebodohan itu, bisa dibayangkan tingkat kesesatan dan kebodohannya.



Wira Kusuma| Pembelajar Web Programming dan Peminat Isu-isu Teknologi

Prospek Puisi Esai dan Fitnah Seputarnya

Denny JA

“Jangan ada Denny JA di antara kita. Kisah Bunda Putri Denny JA di Dunia Sastra. Denny JA Menerapkan Strategi Politik di Sastra. Aksi Tipu-Tipu Denny JA di kebudayaan. Denny JA Membeli Penghargaan Sastra Dengan Harga Murah. Sastrawan mengembalikan uang Denny JA. Kejahatan Kultural Denny JA. ” Inilah beberapa contoh topik yang berseliweran di sosial media sejak awal Januari hingga tulisan ini dibuat di awal Febuari 2014.

Perdebatan sengit mengenai isu seputar saya di dunia sastra  lebih panas dan keras dari yang saya duga.  Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh hasil Team 8 dan PDS HB Jassin menempatkan saya sebagai salah satu tokoh di antara 33 tokoh itu. Lima buku puisi esai yang ditulis oleh 23 penyair kondang menambah “desingan peluru” tepat di jantung saya. Di kalangan sebagian aktivis sastra itu seolah berkembang satu genre sastra yang baru: sastra hujat, “aku menghujat Denny JA, karena itu aku ada.”

 Sejak pertama kali social media hadir di Indonesia, mungkin tak ada isu sastra atau budaya di Indonesia yang mendapatkan perhatian, debat, polemik, celotehan, pujian, hujatan dan fitnah seintensif itu. Di social media,  isu ini mungkin pula sudah mengalahkan aneka isu politik, ekonomi atau olah raga untuk bulan Januari dan Febuari 2014.

Merespon aneka desingan peluru itu, saya ingin mengekspresikan suasan batin, imajinasi dan visi saya tentang puisi esai. Saya duduk merenung di kompleks vila di Mega Mendung. Di antara suara sungai dan kicauan burung, tiga hal ini yang pertama kali berkunjung ke benak saya.


Pertama, apa yang akan terjadi dengan puisi esai di tahun mendatang?

Sebuah gambar bergerak seperti video melintas di kepala saya. Sebuah suasana  tergambar dengan jelas.
Itu adalah  satu momen di masa depan. Saat itu tahun kelima pertemuan penyair puisi esai dari seluruh Indonesia. Semua hadirin  menanti pidato kebudayaan yang dipersiapkan secara matang. Seorang tokoh berwibawa akan mengajak kita merenung bersama mengenai masalah pokok kebudayaan dan sastra yang tengah dihadapi.

Perwakilan komunitas puisi esai dari seluruh Indonesia sudah tiga hari berkumpul di situ. Mereka di satukan oleh spirit berkarya. Mereka memberikan kesaksian isu sosial dengan menggali batin personal dan menyampaikannya melalui puisi esai. Saat itu sudah terbit lebih dari 50 buku puisi esai, yang ditulis oleh lebih dari 200 penyair dan intelektual, dari Aceh sampai Papua.

Ini pertemuan spiritual karena memberikan pencerahan batin,  ujar banyak peserta. Acara ini tidak hanya segar tapi kita mengenal teman-teman seperjuangan.  Alhamdulikah, komunitas kita semakin besar dan semakin berkarya, komentar yang lain. Mereka sungguh menikmati aneka pembacaan puisi, dramatic reading, lagu, film, teater, diskusi yang semuanya bersumber pada puisi esai.

Dalam pertemuan  itu ada ruangan dan acara khusus untuk gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Sungguhpun topik puisi esai sudah begitu beragam, namun awalnya yang diangkat oleh puisi esai adalah topik Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Isu diskiminasi anak batin saya sejak menjadi aktivis. Saya sudah tuangkan isu itu ke dalam kolom, makalah ilmiah, film, teater, lagu, lukisan. Namun dalam karya budaya, isu itu pertama-tama saya tuangkan dalam puisi esai. Itu sebabnya untuk batin saya pribadi, isu Indonesia Tanpa Diskriminasi dan Puisi Esai adalah sebuah perkawinan yang terus melekat.

Kegiatan saya selaku peneliti, pengusaha dan aktivis yang berpolitik memang cukup memberikan gairah.  Namun keterlibatan saya di dunia sastra memberikan aroma yang berbeda, yang lebih spiritual dan menyentuh makna hidup.

Media massa mencatat pertemuan tahunan itu sebagai tradisi baru budaya yang dilahirkan oleh generasi sastrawan, intelektual dan pengusaha di era social media.

Visual suasana ini kini agak sering mengunjungi rumah batin saya. Dengan segala tenaga saya berjuang mewujudkannya. Aneka kritik,  hujatan dan fitnah yang saya alami menguap segera, seketika visi masa depan puisi esai itu hinggap kembali di sukma saya.


Kedua, isu puisi esai ditulis oleh ghost writer.

Disebarkan isu bahwa puisi esai itu ditulis oleh seorang ghost writer yang disewa Denny JA.  Definisi  baku dari aneka kamus tentang  ghost writer itu adalah “seseorang yang menulis buku atau karangan tapi  hak serta prestise kepengarangannya diberikan kepada orang lain.”  Buku itu anak batin dan pikiran dari sang ghost writer tapi secara publik ia melimpahkannya  kepada orang lain.

Demi apapun,  puisi esai ini adalah murni anak batin dan perenungan batin saya yang terdalam. Tak ada satu orangpun yang menjadi ghost writer dari lima puisi esai saya apalagi konsep puisi esai itu. Saya yang merumuskan format puisi esainya. Saya yang menyusun filsafat dari plot setiap cerita. Saya yang membuat drama, opening dan endingnya. Namun tentu saja saya mempekerjakan individu dan team untuk membantu riset dan penulisannya.

Sejak tahun 2010, saya sudah menceritakan kepada teman-teman dekat bahwa saya merasa sedang “hamil tua.” Ada sesuatu yang harus saya lahirkan tapi belum tahu wujudnya. Sudah lama saya berhenti dari tradisi tulis menulis dan masuk ke dalam dunia politik praktis dan bisnis.

Saya ingin menumpahkan perhatian saya tentang isu diskriminasi yang melanda Indonesia. Seseorang diperlakukan begitu buruk hanya karena ia berada dalam satu identitas sosial minoritas, entah itu agama, etnis, gender sampai oriientasi seksual. Di era reformasi, memang terjadi kebebasan di tingkat supra struktur politik. Namun di arus bawah terjadi lebih sering aksi kekerasan komunal, primordial yang  penuh diskriminasi.

Saya ingin mengekspresikan isu itu dengan cara yang menyentuh hati. Kolom, makalah ilmiah hanya berhasil memberikan analisisnya namun tidak suasana batin pihak korban yang menderita. Tak tergambarkan juga sisi interior psikologis pihak yang mendiskriminasi. Agar merasuk, saya harus masuk ke tulang sumsum dan sukma manusia. Kisahnya pun harus dramatis agar lebih menggugah pembaca.

Saya merasa bahwa kebutuhan itu hanya bisa diberikan oleh sebuah fiksi. Seringkali kita tak menemukan fakta apa adanya untuk menggali sisi batin itu. Pertautan kisah yang faktual kadang tak sedramatik yang kita butuhkan untuk lebih menyentuh hati. Fiksi adalah solusinya.

Namun fiksi yang ada, spt puisi atau  cerpen terlalu ringan untuk membawa pesan itu. Sedangkan novel itu terlalu panjang. Saya inginkan puisi yang bisa juga berargumen menampilkan data, fakta, rincian hasil riset. Puisi itu pasti harus panjang dan berbabak. Sisi fakta harus dimasukkan kedalam puisi,  bisa di batang tubuh, atau di catatan kakinya. Catatan kaki yang biasa di makalah ilmiah menjadi sentral dalam puisi esai.

Kisah diskriminasi yang hendak saya gambarkan harus juga kental sisi human interestnya. Harus ada kisah cinta di sana. Sang korban tak harus selalu menang.  

Aneka kegelisahan itulah awal dan adonan lahirnya puisi esai. Dan itu murni pergulatan batin saya berbulan-bulan ketika saya “hamil tua.”

Untuk saya yang super sibuk, tentu saya tak perlu kerja sendiri. Saya juga harus terus memimpin perusahaan saya yang berjumlah lebih dari dua puluh, yang bergerak mulai dari konsultan, properti, food and beverages hingga tambang. Saya juga harus terus memantau aneka klien baik calon presiden, gubernur atau walikota.  Jika ingin berkarya di dunia sastra, saya harus mempekerjakan individu dan team agar cukup waktu saya untuk semua.

Di pengantar buku sudah saya ceritakan semua yang membantu saya, yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Termasuk di dalamnya penyair senior Sapardi Djoko Damono. Juga akademisi sastra senior Ignas Kleden. Juga teman-teman aktivis dan sastrawan mulai dari Ahmad Gaus, Fatin Hamama, Eriyanto, kawan-kawan di Ciputat School lainnya, dan peneliti di LSI. Sayapun meminta komentar yang kemudian ikut saya adopsi sarannya seperti  Rocky Gerung, Effendi Gazali, Hamid Basyaib,    dan belasan lainnya.

Semua hasil riset penulisan dan komentar dari individu dan team itu saya masukkan ke dalam kerangka puisi esai yang murni hasil batin saya. Kepada teman-teman dekat, saya sering menceritakan proses editing akhir yang saya lakukan. Setiap satu puisi esai saya edit dan saya finalkan dengan diawali mengambil air wudhu. Lalu saya duduk di depan komputer, membuka sebuah puisi esai. Sebelum pikiran dan tangan saya bergerak, saya bacakan dalam hati terdalam surat Al-fateha. Saya sucikan diri saya. Saya kontak sumber Alam gaib di dunia sana untuk menggerakkan tangan saya melakukan editing terakhir dengan mendengar aneka komentar dan saran aneka pihak yang memang saya minta.

Kadang saya mengeditnya dengan mengeluarkan air mata. Kadang saya mengetik di komputer dengan mengoceh sendiri. Saya hilang dari dunia dan fokus tenggalam di layar komputer. Satu yang saya niatkan. Saya ingin buku puisi esai ini mengawali kembalinya saya ke dunia sosial setelah melanglang jauh ke dunia politik dan bisnis.

Sejak mahasiswa saya sudah menulis ratusan kolom di semua media nasional. Saya sudah tahunan pula menjadi host di TV dan radio. Saya sudah pula membuat ratusan makalah riset di LSI. Semua sudah dibukukan dalam buku berjumlah lebih dari dua puluh. Namun baru kali ini saya merasa memiliki medium ekspresi batin. Yaitu puisi esai.

Demi apapun,  puisi esai bukan karya ghost writer sesuai definisi yang baku.  Itu adalah fitnah. Info itu tentu harus diluruskan demi apa yang benar dan sesungguhnya terjadi.

Ketiga, isu  puisi esai ditulis untuk target politik praktis meraih jabatan.

Aneka analisi dan prediksipun muncul menjelaskan mengapa saya bersedia mengeluarkan dana hingga miliar untuk kerja sastra dan kebudayaan. Ada yang menyatakan Denny JA ingin menjadi presiden di 2019. Yang lain berkata, oh tidak, 2019 masih terlalu lama. DI 2014, ia ingin diangkat menjadi mentri kebudayaan. “Bukan,” kata yang lain lagi. “ targetnya bukan politik, tapi bisnis.  Ia hanya ingin bargaining bisnis dan menggunakan ketokohannya di dunia sastra.”  Ada pula yang menyatakan Denny JA hanya seorang megalomania yang ingin dikenang sebagai pembaharu untuk semua bidang yang ditekuninya. Dan lain sebagainya.

Penyebabnya bukan itu semua. Kepada aneka teman dekat, saya sering cerita percakapan saya dengan istri dan anak-anak. Jika hidup hanya kaya raya dan menikmati seluruh kemewahan dunia, saya tak akan mati dengan tersenyum. Mati saya tidak mesem.

Sejak kecil, saya tumbuh dengan suasana yang miskin dan sulit. Hati saya sejak remaja ingin ikut melakukan sesuatu yang bersifat sosial. Namun itu akan lebih leluasa jika saya puya dana yang cukup.  Saya tekun bekerja agar mencapai financial freedom terlebih dulu. Saya sangat senang dengan pameo: “Carilah uang sebanyak-banyaknya, dan gunakan untuk membantu orang lain juga sebanyak-banyaknya.” Atau ungkapan: “ orang yang terpilih adalah orang yang kaya raya dan bekerja di jalan Tuhan.”

Saya memang berupaya secara sengaja menjadi kaya raya. Namun sebagaian kekayaan itu adalah hak orang lain. Hak itu saya harus kembalikan melalui kerja sosial. Istri dan anak-anak saya minta ikhlas dan mereka memang ikhlas jika sebagian dari rejeki Tuhan ini saya pulangkan kembali ke dunia sosial.

Saya ingin mewakafkan diri saya, gagasan, sebagian harta saya untuk gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Saya tahu ini kerja lintas generasi, yang tak akan selesai hanya dengan satu generasi. Namun saya ingin dalam dinding besar peradaban baru Indonesia Tanpa Diskriminasi itu  saya ikut meletakkan fondasinya.

Saya senang dengan pernyataan seorang pemikir bahwa politisi itu adalah tamu dari peradaban. Tapi seorang penggagas budaya adalah tuan rumah peradaban. Politisi datang dan pergi setiap pemilu. Namun penggagas budaya bertahan di sana membangun peradaban.

Saya ingin mewakafkan diri saya menjadi penggagas budaya itu. Topik dan brandingnya sudah saya pilih dalam slogan atau tagline: Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Namun agar gagasan itu merasuk, ia harus diekspresikan dalam karya budaya: puisi, teater, lagu, film, lukisan, fotograpgy, dan sebagainya. Inilah awal saya masuk ke dunia sastra dan budaya.

Bukan jabatan politik yang menjadi target saya dalam bersastra tapi ikut menggaungkan isu dan perlawanan diskriminasi melalu kerja budaya. Saya tidak terlalu hirau dengan terpilih menjadi 33 tokoh sastra, atau nanti terpilih pula menjadi 50 pembaharu politik Indonesia, atau 25 aktivis sosial yang berpengaruh, atau 3 intelektual paling kaya, dan lain sebagainya. Saya hanya ingin dicatat sebagai pejuang gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Salah satunya melalui puisi esai.


Sumber: inspirasi.co


Tugas Tambahan Sebagai Penyair Kondang



Chavchay Syaifullah*

Chavchay Syaufullah (dok pribadi)
Rupanya Denny JA atau tim suksesnya senang sekali dengan istilah-istilah yang bombastis, hiperbolis, dan sensasional. Setelah memamekan istilah “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh” sekarang giliran pamer istilah “penyair kondang”. Dalam hal ini, saya harus akui kalau Denny JA dan tim suksesnya itu peka terhadap istilah-istilah yang kelak punya implikasi terhadap kebutuhan promosi. 

Kalau suatu saat saya berjumpa dengan Denny JA, sepertinya saya perlu juga belajar padanya soal bagaimana sebuah istilah bisa mendapatkan momentumnya dan merebut pasar. Kalau saya diajarinya tentang hal itu, sebagai kompensasinya, karena saya telah dijulukinya sebagai penyair kondang, maka saya akan mengajarinya bagaimana menulis puisi yang keren sehingga penulis puisinya layak disebut penyair kondang.

Sebetulnya saya belum punya keinginan untuk menulis soal buku antologi puisi dari 23 penyair yang diminta puisinya oleh Denny JA melalui Fatin Hamama. Pertama, karena buku itu belum saya pegang (konon dalam proses cetak, menurut Fatin Hamama dalam wawancara di www.merdeka.com). Tadinya saya benar-benar ingin memastikan dulu apa judul buku itu (setidaknya agar dalam tulisan ini saya tidak bingung menulis judul untuk buku antologi puisi dari 23 penyair kondang itu), bagaimana isi buku tersebut, kemasannya, adakah proses “editing” yang karenanya bisa “menyesatkan” isi dan estetika puisi itu. 

Hal terpenting lainya yang perlu saya pastikan, adakah pemelintiran yang bisa dikatakan sebagai “manuver politis” pada buku itu, yang bisa mengakibatkan buku itu jadi buruk rupa dan rusak isi secara keseluruhan. Seperti misalnya terdapat kata pengantar atau kata penutup atau kata-kata endorsement yang mengatakan bahwa “penerbitan buku puisi oleh 23 penyair ini adalah bukti nyata bahwa Denny JA adalah tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh”. Kalau hal ini sampai terjadi, barulah saya bisa merespon secara lebih asyik, karena buku itu bisa bermasalah pada dirinya. Kedua, karena saya belakangan ini sedang berkonsentrasi dalam aksi melakukan gugatan terhadap Sitok Srengenge yang diduga atau dilaporkan telah melakukan pemerkosaan terhadap mahasiswi UI berinisial RW (dan 2 korban lainnya yang juga telah diBAP) yang tidak ditanggapi secara serius oleh pihak Polda Metro Jaya. 

Di samping itu, seperti juga telah diketahui banyak orang, kalau saya akhir-akhir ini juga sedang menentang keberadaan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (33 TSIPB, terbitan KPG, yang disusun oleh Jamal D Rahman dkk/Tim 8). Jadi sempat juga saya menduga-duga bahwa Denny JA menerbitkan buku puisi “23 Penyair Kondang” untuk lebih menjelaskan posisi keterpengaruhan Denny JA di dunia sastra. 

Di samping itu, ia ingin menyerang beberapa penyair dari 23 penyair kondang itu yang menggugat keberadaannya dalam buku 33 TSIPB itu. Misalnya telah terjadi ungkapan dalam hati Denny begini: “Sialan luh, udah gue deketin, kok malah nyerang gue!” Selain itu ada juga dugaan saya yang sekarang saya rasakan bahwa penerbitan buku 23 penyair kondang itu selain untuk memecah konsentrasi isu penolakan pembodohan atas buku 33 TSIPB juga untuk memecah kekuatan kawan-kawan yang tergabung dalam Aliansi Anti Pembodohan (AAP) dan Gerakan Ciputat Menolak Pembodohan dll. Semoga saya salah!

Soal buku “23 Penyair Kondang” tentu ia akan menjadi bermasalah kalau terdapat upaya-upaya pemelintiran di luar dari kesepakatan awal, seperti adanya klaim-klaim yang dapat menyesatkan pembaca. Kalau buku itu hanya kumpulan puisi yang ditulis oleh 23 penyair kondang semata, maka buku itu pada dirinya tidak bermasalah. Lain halnya dengan buku 33 TSIPB di mana buku itu menjadi bermasalah karena memang pada dirinya terdapat masalah substansial dan manipulasi sejarah sastra Indonesia yang bisa menyesatkan pemahaman pembaca.

Buku yang belum juga beres cetak itu, barangkali dianggap bikin “heboh” di mata banyak orang karena sejak terbitnya buku 33 TSIPB persoalan motif Denny JA masuk ke dunia sastra terlihat jelas. Ada ambisi pribadi Denny JA yang benar-benar di luar dugaan masyarakat sastra, termasuk juga kawan-kawan 23 penyair kondang itu. 


Denny dinilai telah merekayasa satu pekerjaan penulisan sejarah di mana ia bisa tampil sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh seperti halnya Chairil Anwar, WS Rendra, Sutan Takdir Alisyahbana dll, seperti telah ia lakukan dalam penerbitan buku sejarah tentang tokoh-tokoh reformasi di mana ia bisa sejajar dengan Amin Rais, Abdurrahman Wahid dll. Dalam konteks inilah saya dan kawan-kawan merasakan diperalat, dicipoa, dan ditunggangi. Ia buat istilah puisi esai (istilah yang menurut saya masih problematis), ia gemakan, ia sayembarakan, lalu ia minta puisi pada penyair-penyair kondang untuk bergabung berkarya, dan golnya ia mainkan peran Tim 8 untuk menobatkan Denny JA sejajar dengan para tokoh sastra yang memang punya pengaruh dalam dunia kesusasteraan Indonesia.

Langkah-langkah Denny JA memang agak sulit ditebak, apalagi ia didukung oleh tim sukses yang benar-benar licin dan tidak hanya terdiri atas Tim 8 itu, melainkan dari tim Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi, juga para mantan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang kini memilih kerja untuk Denny JA. Atas aksi-aksi Denny dan tim suksesnya dalam politik pencitraan Denny JA, sampai saat ini saya juga belum tahu apakah golnya dia akan merebut kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau Gubernur atau Bupati atau entahlah pada 2014 ini, atau tepatnya kalau kliennya, Abu Rizal Bakrie, benar-benar jadi Presiden RI. Ini hanya spekulasi saya saja yang bisa jadi salah kaprah, seperti yang sudah ia bantah dalam tulisan terbarunya berjudul “Propeknya Puisi Esai dan Fitnah Seputarnya”.

Lalu setelah mengetahui motif dan ambisi Denny di dunia sastra pada Januari 2014, para penyair kondang yang diminta puisinya pada September-Oktober 2013 silam itu mau bagaimana? Mau menarik puisinya dari buku itu? Mau mengembalikan uang honor ke Denny? Dalam hal inilah saya rasa harus diambil langkah-langkah yang realistis, terukur, dan menjaga kebersamaan para “penyair kondang” yang merasa dikorbankan oleh ambisi Denny.

Untuk menarik puisi dari buku itu, saya rasa sudah tidak ada gunanya. Buku itu sudah dicetak dan tinggal nunggu waktu untuk diedarkan. Di samping itu saya rasa para penyair kondang itu harus sadar juga bahwa sejak awal Fatin memang menjelaskan bahwa mereka diminta menulis puisi bukan untuk dimuat di koran atau majalah, melainkan dalam bentuk buku bersama penyair-penyair lainnya. Jadi, sejauh itu dimuat dalam buku antologi puisi, dan tidak dimuat di koran atau majalah, tidak ada masalah. Kalau tidak jadi buku antologi puisi, malah itu bermasalah, karena sejak awal janji Fatin akan jadi buku. Namun buku itu akan bermasalah pada dirinya dan harus ditolak keberadaanya kalau di dalam buku itu ada pernyataan-pernyataan pemelintiran yang menegaskan bahwa penyair-penyair kondang itu proses kreatifnya dipengaruhi oleh Denny JA. Saya rasa selain itu tidak benar, Denny JA bisa saja mengalami kutukan “Dewi Puisi” seperti bisa saja impoten atau keremian sepanjang masa.

Apakah honor penulisan puisi harus dikembalikan? Saya kok sependapat dengan Saut Situmorang dalam komentarnya: “Kenapa duitnya harus dipulangkan? Bukankah sajaknya udah dipakek walo pemakekannya gak sesuai dengan info awal? Kemudian, kerna si penyair ditipu sejak awal, maka duit yang dibayarkan ke dia adalah resiko si penipu. Kalok si penyair harus jugak mengembalikan duit tsb, bukankah si penyair sudah dua kali dikerjain!” Saya juga setuju dengan pendapat Isbedy Stiawan yang telah dipublikasi di www.teraslampung.com dan pendapat Agus Noor yang telah dipublikasi oleh www.bukuonlinestrore.com

Selain itu, harus saya tegaskan di sini bahwa honor penulisan puisi boleh diterima oleh penyair mana pun jika memang terdapat ketentuan atau kesepakatan. Misalkan saja penyair berhak mendapat honor dari perusahaan koran atau majalah karena memang dalam perusahaan koran atau majalah itu ada ketentuan untuk melakukan pembayaran jasa penulisan puisi. Bahkan kini jasa penulisan puisi bisa dibayar oleh perusahaan-perusahaan iklan, karena memang ada ketentuannya. Begitu pun dalam lomba-lomba yang mencantumkan ketentuan honor juara penulisan puisi. Jadi, honor penulisan puisi itu adalah honor yang halal. Kalau saya disuruh membunuh Denny JA dan saya melakukannya, lalu saya menerima honor dari perbuatan saya, itulah honor haram.

Karena itu ketika ada keinginan Sihar Ramses Simatupang untuk mengembalikan honornya, langsung saya jelaskan bahwa honor itu tidak bermasalah sama sekali. Itu uang keringat penulisan puisi yang sah diterima oleh penyair yang berhak. Sebelumnya saya sudah komentar dalam status facebook Saut Situmorang bahwa: “Cara melawan yang paling simpel adalah mengembalikan uang dan menarik puisi. Tapi apakah semua kawan yang (konon jumlahnya) 23 orang itu punya cukup uang untuk mengembalikannya? Honor penulisan puisi yang memang halal itu mungkin sudah habis saat diberikan untuk kebutuhan ini dan itu. Di luar 23 orang itu, banyak lagi yang lebih awal terjebak dalam permainan Denny JA, yaitu mereka yang mengikuti lomba penulisan puisi-esai, yang menulis di Jurnal Sajak di rubrik khusus Puisi-Esai yang (kalau ditotal) jumlahnya mungkin ratusan (penyair). 

Apakah mereka juga harus mengembalikan honor? Atau karena kita benci sama Surya Paloh, maka honor menulis puisi di Media Indonesia harus juga dikembalikan? Kalau kita gak suka dengan Jakob Oetama apakah honor puisi di Kompas harus dikembalikan? Ini agak problematis. Kalau saat ini saya berstatus konglomerat, dalam suasana hati yang sedang marah saat ini, pastilah akan saya kembalikan seluruh uang Denny JA yang diterima kawan-kawan saya itu, meski totalnya mencapai miliaran rupiah. 

Saya rasa harus dipikirkan jalan perlawanan yang lebih realistis dan menyelamatkan nama baik mereka yang telah merasa ditunggangi oleh Denny JA untuk meraih statusnya sebagai "Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh". Kawan-kawan lainnya yang memang saling bersahabat sebelum ada Denny JA, agar tidak menambah merusak perasaan kawan-kawan yang sedang merasa jadi korban. Korban penipuan. Korban cipoa. Korban tunggangan liar. Jangan gara-gara Denny tatanan persaudaraan sastrawan malah rusak, justru tatanan itu harus bertambah kuat untuk menghajar arogansi Denny JA!”

Dalam komentar lainnya juga saya menulis: “……..Sampai di rumah saya baca tulisan Sihar Ramses Simatupang, Ahmadun Yosi Herfanda, Isbedy Stiawan Z S, dan Kurnia Effendi. Saya jadi terharu. Meski saya melihat benang merah tulisan mereka, yaitu merasa dicipoain oleh Denny JA dan tim suksesnya, namun saya melihat respon yang berbeda-beda dan efek luka batin yang berbeda-beda kualitasnya. Ada yang mengutuk dirinya jadi pelacur, ada yang mau narik puisinya sambil mengembalikan honor, ada yang menyesal dan lain sebagainya. 

Saya cuma berharap perasaan sentimentil ini hanyalah sesaat. Ngapain juga berlarut dalam penyesalan yang toh memang kawan-kawan (termasuk saya sendiri) benar-benar tidak tahu apa maksud Denny JA dulu. Bagi saya sendiri, yang dibutuhkan saat ini bukan penyesalan, karena tidak ada yang perlu disesalkan! Juga bukan pertaubatan karena tidak ada dosa besar yang harus dipersalahkan! Yang dibutuhkan saat ini adalah PERLAWANAN. Kita harus melawan klaim propagon Denny JA, sebab Denny memang tidak punya epigon. Kita harus melawan politisasi sastra oleh Denny JA untuk kepentingan pencitraan dirinya sendiri secara tidak pantas dan merusak tatanan persaudaraan dalam dunia sastra. Saya rasa hanya Denny dan Tuhan yang tahu isi hati Denny. Saya pribadi baru tahu manuver "politis" Denny setelah terbit buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Itu pun tidak langsung tahu. Karena ketika 3 Januari diluncurkan saya masih berada di sekitar Danau Toba dan pedalaman Sumut.”

Kembali kepada pengembalian honor. Saya tegaskan di sini bahwa saya tidak akan mengembalikan honor saya yang sebesar 3 juta kepada Denny JA. Bahkan saya mengancam akan meminta lebih kalau sampai ada klaim Denny JA bahwa dengan saya ikut serta dalam kumpulan puisi 23 Penyair Kondang itu maka saya dikatakannya sebagai pengikut Denny JA. Kalau begitu, saya akan tuntut dia uang pengganti rugi sebesar 3 trilyun. Ya, 3 trilyun. Itu angka paling rendah bagi mereka yang ingin merendahkan nama baik saya. Tolong Wicaksono Adi mencatatnya sebagai jawaban saya atas tulisannya berjudul: Sastra “Gorengan” Prabayar.

Saya ingin menegaskan bahwa pekerjaan mengembalikan uang sebesar 3 juta bagi saya adalah pekerjaan yang terlalu ringan. Saya justru ingin yang berat-berat. Saya tidak ingin dikatakan bersih dengan pengembalian uang. Kalau saya harus dikatakan kotor dan hina karena menerima hak saya sebagai penyair yang menerima honor penulisan puisinya, itulah resiko yang harus saya terima. Saya akan melawan mereka dengan menelusuri apakah mereka hidupnya bersih dari honor-honor? Apakah mereka benar-benar sepanjang hidupnya bersih dari menerima honor yang berhak mereka dapatkan dari hasil pekerjaannya? Saya akan melawan mereka dalam konteks ini.

Selain itu, saya tegaskan di sini bahwa pengembalian honor bukanlah penyelesaian masalah. Sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Saya tidak mau mengembalikan honor puisi dengan gagah perkasa hanya untuk dikatakan orang-orang di media sosial bahwa saya “hebat” atau “jujur pada hati nurani”. Inilah kesesatan yang harus dilawan. Kalau saya kembalikan honor itu, lalu saya dikatakan “hebat” dan “jujur pada hati nurani”, lalu bagaimana dengan kawan-kawan lainnya yang memang tidak punya uang untuk mengembalikan uang itu? Apakah mereka menjadi orang yang “tidak hebat” dan “tidak jujur pada hati nuraninya”? 

Naïf sekali saya. Pada titik ini saya terpanggil untuk menjaga nama baik mereka. Saya tidak tega mendengar kawan-kawan kita yang tidak punya uang terpaksa harus meminjam uang ke mana-mana atau menjual ini-itu hanya untuk mengembalikan uang 3 juta ke Denny? Bagi sebagian penyair, uang 3 juta mungkin adalah nominal kecil, tapi bagi lainnya itu adalah nominal besar. Apakah saya harus memaksa mereka yang menerima honor kerja mereka untuk mengembalikannya? 

Bukan hanya 23 penyair kondang itu loh, tapi mereka yang terlibat dalam antologi pusi esai sebelumnya, seperti Peri Sandi Hauizche, Beni Setia, dan Saifur Rohman (dalam antologi puisi esai: Mata Luka Sengkon-Karta), Katherine Ahmad, Kedung Darma Romansha, Rahmad Agus Supartono, Wendoko, dan Yustinus Sapto Hardjanto (dalam antologi puisi esai: Dari Rangin ke Telpon). Arief Setiawan, Arif Fitra Kurniawan, Catur Adi Wicaksono, Hanna Fransisca, dan Jenar Aribowo (dalam antologi puisi esai: Dari Singkawang ke Sampit), Nur Faini, Onik Sam Nurmalaya, Sahasra Sahasika, Syifa Amori, Stefanus P. Elu, dan Yudith Rosida (dalam antologi puisi esai: Mawar Airmata), Alex R. Nainggolan, Baiq Ratna Mulyaningsih, Carolina Betty Tobing, Chairunnisa, Damhuri Muhammad, dan Huzer Apriansyah (dalam antologi puisi esai: Penari Cinta Anak Koruptor). Saya tidak tahu apakah orang-orang itu menerima honor atau tidak dan besarnya berapa? Saya tidak tahu.

Kepada kawan-kawan yang masuk dalam barisan “23 penyair kondang” dan “penyair-penyair kondang sebelum kami” yang telah menerima honor penulisan puisi dan uang honor itu sudah dinikmati untuk makan bersama keluarga di rumah atau untuk beli susu anak atau untuk nambal genteng bocor atau untuk beli buku sastra atau untuk servis motor, berarti kalian telah menghormati hasil kerja kalian. Uang halal itu telah kalian belanjakan untuk kebutuhan yang halal. Luar biasa! Salam saya untuk keluarga kalian.

Dalam kasus Ahmadun Yosi Herfanda, saya hormati sikapnya meski ada beberapa langkahnya yang saya tidak setuju. Terutama soal mengatakan diri sebagai pelacur dan mengembalikan uang 10 juta. Beberapa kawan langsung menghubungi saya bahwa itu berbahaya sebab menjadi presenden bahwa para penyair yang menulis puisi yang diminta Fatin Hamama adalah para pelacur. Sementara mereka telah bekerja secara professional, serta menghabiskan waktu dan pikirannya. Honor 10 juta yang dikembalikan Ahmadun seperti ia tulis bahwa itu ia lakukan karena sejak awal memang dirinya mengaku melalui proses yang tidak wajar. Tidak seperti kawan-kawan lainnya, Ahmadun melakukan negosiasi langsung dengan Denny JA soal angka 10 juta, karena dirinya merasa tidak puas dengan angka 3 juta. Entah persoalan apa-apa lagi yang ia negosiasikan saya tidak tahu, namun yang jelas negosiasi dengan Denny JA itulah bagian yang ia sesalkan. 

Ahmadun mengalami pergolakan batin ketika merasa dirinya dicaci maki sejumlah orang di media sosial. Mungkin selama ini ia belum pernah diserang orang sehingga membuatnya kaget bukan kepayang dan tidak bisa melawan secara frontal. Begitulah Ahmadun, dia saya kenal baik sebagai orang baik. Dia bukan tipe orang yang bisa menyerang, ketika ia bisa mengalah. Ia memilih mengalah dan menyakiti diri sendiri dengan menyatakan diri sebagai pelacur. Saya bisa merasakan kepedihan hati Ahmadun ketika menghadapi serangan yang tak terduga itu, yang antara lain datang dari teman baiknya sendiri. Lain Ahmadun, lain saya. Saya yang merasa dikorbankan dalam politik pencitraan Denny JA dalam dunia sastra, maka saya memilih melawan.

Perlu saya catat di sini bahwa kalau saya kembalikan uang honor dalam konteks ini berarti saya tidak punya karakter, itu sama saja saya tidak berani melawan mereka yang tidak memahami konteks. Kalau pun saya kembalikan uang honor itu, saya benar-benar tidak akan menjadi seperti Jean-Paul Sartre yang menolak Hadiah Nobel, melainkan mirip Goenawan Mohamad yang mengembalikan Achmad Bakrie Award. Boro-boro saya akan dikenang sebagai pahlawan, yang ada malah terkulai sebagai pecundang. 

Saya tidak mau disebut sebagai pecundang. Kalau pun ada yang mau mengembalikan uang honornya, karena mungkin rekeningnya terlalu gendut, saya malah menyarankan daripada mengembalikan uang honor yang halal dan sah itu kepada Denny JA yang berlimpah uang itu, lebih baik uang honornya diberikan kepda mereka yang sedang berduka di Tanah Karo akibat meletusnya Gunung Sinabung atau berikan kepada mereka di Manado yang masih memerlukan dana karena rumahnya hancur oleh banjir bandang. Anggap saja sedekah uang honor itu sebagai zakat profesi kalian sebagai penyair. Itu lebih bermanfaat dan lebih elegan. Namun kalau pun anda melakukan sedekah atau zakat profesi itu, tidak usah pula digembar-gemborkan. Biasa saja. Kalau perlu tangan kiri anda tidak usah tahu, ketika tangan kanan anda memberi.

Soal puisi yang saya tulis berjudul “Rintih Perih Globalisasi” yang masuk dalam antologi puisi “23 Penyair Kondang” itu, perlu saya jelaskan bahwa ada Fatin Hamama atau tidak, ada Denny JA atau tidak, puisi itu memang sudah saya tulis. Puisi itu saya tulis cukup intens karena saya rencanakan untuk menjadi semacam catatan pengantar saya yang berbentuk puisi untuk buku kajian ilmiah saya yang dalam proses terbit berjudul Pemuda dan Globalisasi (sekarang masih dalam proses revisi akhir). Buku ini gagal terbit di tahun 2013, karena menurut masukan beberapa orang yang sudah melihat drafnya, termasuk Radhar Panca Dahana, meminta saya untuk menambahkan poin ini dan poin itu. Terpaksa saya menundanya untuk menambahkan beberapa hal, termasuk catatan kakinya.

Pada September akhir, tanggal persisnya lupa, Fatin Hamama menghubungi saya dan meminta saya untuk menulis puisi panjang, bertema bebas, dan diberi catatan kaki. Fatin Hamama adalah seorang penyair perempuan yang saya kenal sudah lama. Saya suka dengan banyak puisinya yang bicara tentang Timur Tengah dan cara ia membacakan puisi-puisinya. Saya mengenalnya karena ia aktif juga dalam Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang acara-acaranya sering saya datangi. Karena saya kenal baik dengan Ahmadun Yosi Herfanda dan Wowok Hesti Prabowo sebagai dedengkot KSI, begitu pun Fatin kenal baik sama kedua orang ini, saya pun akhirnya berkenal baik dengan Fatin. Namun saya tidak mengenal kehidupan pribadinya seperti apa. Saya cuma tahu bahwa Fatin adalah isteri dari salah seorang pejabat penting negeri ini. Namanya siapa, persisnya sebagai pejabat apa dan di mana, saya juga tidak tahu.

Ajakan Fatin saya penuhi, karena saya sama sekali tidak merasa direcoki harus begini dan begitu, apalagi harus dimirip-miripkan seperti Denny JA. Tidak ada sama sekali. Saya benar-benar dalam kondisi bebas. Kalau pun Fatin suka menghubungi saya pertanyaannya tidak jauh: “Sudah beres belum puisinya?” Sampai deadline tiba, puisi yang diminta Fatin belum juga saya tulis. Ditambah 10 Oktober 2013 lalu, isteri saya melahirkan. Saya lebih banyak mengurus isteri dan bayi keempat saya di rumah sakit.

Setelah urusan keluarga aman terkendali, saya menghubungi Fatin untuk meminta maaf karena saya tidak bisa memenuhi permintaannya. Walaupun tidak ada kontrak kerja tertulis antara saya dan Fatin, apalagi antara saya dan Denny JA, tapi saya tidak mau hubungan saya sesama kawan sastra terganggu. Tak disangka, ketika saya mencoba minta maaf, Fatin malah jawab tetap menunggu puisi dari saya. Mendengar jawabannya, saya tambah merasa tidak enak hati dengan kawan yang sudah lama saya kenal baik. Saya takut dia merasa kecewa dan menuding saya tidak mau memenuhi undangannya, sementara dia beberapa kali mau memenuhi undangan saya untuk membacakan puisi dalam acara-acara yang saya selenggarakan.

Namun karena deadline sudah lama saya langgar, maka saya ingat puisi saya yang akan saya jadikan pengantar buku saya, yang berjudul Rintih Perih Globalisasi, yang belum pernah saya publikasikan di mana pun. Saya ingat puisi itu panjang, jadi saya tidak perlu membuat puisi baru lagi, melainkan cukup membacanya kembali, merevisinya, dan memberinya catatan kaki. Lalu saya ambillah catatan-catatan kaki dari draf buku saya yang akan terbit itu, Pemuda dan Globalisasi. Setelah beres, puisi itu lalu saya kirimkan ke email yang diberikan Fatin.

Lama juga saat itu saya tidak berhubungan dengan Fatin, sampai kami bertemu di Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud yang berada di dekat Pasar Senen itu, di mana kami sama-sama jadi juri sayembara buku puisi. Dia lalu meminta maaf kepada saya bahwa honor saya terlambat, saya pun tidak mempersoalkannya karena juga terlambat mengirim puisinya.

Fatin lalu menjelaskan perihal keterlambatan honor itu karena dari pihak Denny JA belum menyetor kepadanya. Di situlah saya baru “ngeh” bahwa uang yang dia janjikan 3 juta sebagai honor penulisan puisi datang dari pihak Denny JA. Saya baru benar-benar “ngeh” uang itu adalah uang Denny JA karena ketika Fatin pertama kali bicara pada saya tentang permintaan puisi itu dan honornya sejumlah Rp3 juta adalah ketika saya sedang mengendarai sepeda motor, selanjutnya ia sama sekali tidak pernah bicara soal honor. Ia hanya bertanya “puisinya sudah beres belum?” 

Saya pun tidak terlalu mempersoalkan uang itu dari Denny JA atau bukan, karena saya beranggapan bahwa tidaklah berdosa orang yang punya kelebihan uang untuk memberi apresiasi, sarana, dan dorongan bagi perkembangan kehidupan sastra. Malah bukan hanya tidak berdosa, dunia sastra saat ini masih membutuhkan para pengusaha atau pemilik uang berlebih atau investor untuk bersama-sama membangun kehidupan sastra Indonesia yang lebih maju. Kalau perlu sama-sama berkarya. Saya selalu berbaik sangka dengan para pengusaha yang punya perhatian kepada sastra dan kebetulan saya kenal dengan beberapa nama untuk kategori itu.

Namun saya tidak menyangka beberapa bulan kemudian pengusaha dan konsultan politik itu, tepatnya pada 3 Januari 2013, disebut di dalam buku 
33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh, yang antara lain disebabkan oleh kampanye puisi esainya dan web puisi esainya yang dikunjungi oleh 7 juta pembaca. Ada manipulasi dalam isi buku tersebut, khususnya mengenai Denny JA. Ada juga indikasi kuat tim penyusun buku tersebut sejak awal memang merencanakan buku tersebut sebagai panggung pembaptisan Denny JA sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. 

Di antara indikasinya ialah adanya Ahmad Gaus di dalam Tim 8, adanya keterangan dari Maman S Mahayana sebagaimana termuat dalam Koran Jakarta, dan pengakuan Jamal D Rahman tentang mandat tim penyusun yang bertentangan dengan penjelasan PDS HB Jassin. Dana pengerjaan buku yang cukup besar, belum juga dijelaskan oleh Jamal D Rahman secara jujur dan terbuka, padahal banyak pihak sudah menduga kuat berasal dari Denny JA. Barangkali mengakui dana penyusunan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dari Denny JA atau dari perusahaan-perusahaan Denny JA merupakan upaya bunuh diri.

Berbeda dengan buku 33 TSIPB yang bermasalah pada dirinya dan karenanya harus ditolak, saya menunggu dengan perasaan tidak sabar kehadiran buku yang ditulis oleh 23 penyair kondang itu. Saya akan membacanya, apalagi di sana terdapat nama-nama penyair yang saya tidak ragukan kapasitasnya, seperti: D. Zawawi Imran, Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, Bambang Widiatmoko, Isbedy Stiawan ZS, Mustafa Ismail, Salman Yoga S, D Kemalawati, Mezra E. Pellondou, Rama Prabu, dan Remmy Novaris DM.

Sejauh tidak ada klaim-klaim yang menyesatkan yang tertulis secara sengaja di dalam buku itu oleh Denny JA atau oleh tim suksesnya, sekali lagi, saya mau bilang kalau buku itu bukanlah buku yang bermasalah. Kita harus benar- benar melihat eksistensi buku yang bakal hadir itu dengan akal sehat. Saya yakin buku itu bisa menjadi sarana belajar bagi masyarakat tentang puisi, khususnya bagi Denny JA sendiri. Saya tidak setuju juga kalau ada sekelompok manusia dengan tanpa alasan menolak buku ini dan menolak buku itu, tarik buku ini dan tarik buku itu, dengan tanpa alasan yang benar-benar kuat. Kalau kondisinya demikian, saya dan kawan-kawan yang memang setiap hari senang baca buku bisa mati berdiri.

Akhir kalam, sebagai penyair kondang, ternyata saya masih punya tugas tambahan selain menulis puisi, yaitu memberi apresiasi dan nasehat kepada Denny JA. Kepada pengusaha yang ia bilang sendiri memiliki lebih dari 20 perusahaan dan konsultan politik yang ia bilang sendiri terlalu sibuk dengan beberapa kliennya yang adalah pejabat-pejabat penting negeri ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda yang telah mau menerbitkan buku-buku sastra dari kawan-kawan penyair. Semoga ke depan anda bisa lebih produktif menulis puisi dan lebih aktif membiayai acara sastra dan penerbitan buku sastra. Saya rasa tidak hanya itu saja, melainkan anda perlu kembangkan lagi area dukungan moril dan materil anda di dunia sastra. Saya tegaskan, pekerjaan membangun sastra itu adalah pekerjaan yang mulia. Merawat kesusasteraan adalah merawat kebudayaan dan kehidupan. Namun demikian, izinkan saya menasehati anda untuk beberapa hal saja:

1. Pastikan niat anda memasuki dunia sastra dengan niat yang tulus dan lurus, dengan niat yang ikhlas dan hanif, bukan untuk mencari sensasi murahan atau memanipulasi sejarah sastra. Bawalah diri anda ke dalam dunia sastra secara alamiah, maka sejarah sastra akan mencatat prestasi anda secara alamiah juga. Tidak perlu rekayasa sejarah sastra, sebab itu hanya menghabiskan uang dan melelahkan hati anda karena anda bakal diejek banyak orang.

2. Anda punya kewajiban moral untuk menarik peredaran buku 
33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dari masyarakat, karena di dalam buku itu terdapat nama anda yang terang saja itu merupakan kesesatan yang dilakukan oleh tim penyusun/Tim 8. Kalau anda yang mengatur Tim 8 untuk berbuat demikian, baik secara langsung maupun tidak langsung, cobalah anda meminta maaf kepada masyarakat secara terbuka bahwa anda telah merekayasa penerbitan buku itu dengan cara-cara yang tidak pantas dalam dunia sastra. Setelah itu, dengan cara yang tentu mudah bagi anda, anda bisa tarik buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu dari peredaran. 

Catatlah, saya tidak pernah melarang atau pun menggugat anda untuk menulis puisi, baik puisi esai maupun puisi catatan kaki. Itu hak anda sejuta persen. Jangankan hanya menulis lima buah puisi, lima juta puisi pun, silakan saja. Saya malah angkat topi setinggi-tingginya. Saya hanya menentang kalau anda melakukan politisasi dengan cara memanipulasi sejarah sastra untuk kepentingan pencitraan pribadi anda. Bukan apa-apa, namanya juga manipulasi, isinya pasti bersumber pada kebohongan dan berakibat pada pembodohan. Sederhana sekali.

3. Perlu anda ketahui bahwa akhir-akhir ini anda tampil begitu kontroversial, sehingga membuat ketidaknyamanan di dalam masyarakat. Bahkan tatanan kehidupan sastrawan cukup terganggu, karena kerap terjadi caci maki yang tidak perlu sesama sastrawan. Memang ada sejumlah dinamika kritik yang cerdas dalam menyikapi kasus anda, namun ada juga yang isinya kontraproduktif. Anda punya kewajiban moral untuk meminta maaf kepada masyarakat luas, khususnya kalangan sastrawan, dengan tidak sekadar lewat ungkapan kata-kata atau lewat puisi esai, melainkan lewat aksi dan perbuatan yang lebih nyata. Anda perlu pikirkan hal-hal itu lalu segera wujudkan bentuknya secara nyata sebagai upaya harmonisasi kehidupan sastra.

4. Janganlah anda membuat klaim bahwa 23 Penyair Kondang itu menjadi penyair karena pengaruh anda. Jika itu terjadi, saya akan menuntut kerugian sebesar 3 trilyun rupiah. Untuk hal ini, saya harap anda jangan main-main dengan saya.

5. Bentuk “puisi esai” yang anda katakan dan anda tulis dalam buku anda Atas Nama Cinta, sebetulnya bukan satu hal yang baru, di mana anda harus ngotot sekuat tenaga mengatakan bahwa itu adalah temuan anda. Dilihat dari segi pendekatan bahasa, struktur puisi, pola pengucapan, tema-tema yang diangkat juga tipografinya, bukanlah sesuatu hal yang baru. Yang anda katakan “puisi esai” dalam buku anda sudah banyak saya temukan di dalam karya penyair-penyair berpengaruh terdahulu, baik yang ada maupun yang tidak ada catatan kakinya. Saya sendiri lebih merasa cocok dengan istilah “puisi plus catatan kaki” untuk merujuk pada maksud bentuk puisi esai yang Anda maksud. 

Daripada anda menerbitkan buku-buku puisi yang kemudian diberi label “puisi esai” lebih baik anda membuat simposium dulu tentang apa itu “puisi esai”. Simposium atau seminar atau diskusi intensif itu usahakan berkelanjutan dan diadakan di beberapa kampus penting di Indonesia. Anda uji lebih dahulu istilah teknis “puisi esai” itu. Apakah ia merupakan genre tersendiri dalam sastra, ataukah ia merupakan label dagang saja, ataukah puisi-puisi yang bergaya itu tidak bisa lain dikatakan selain puisi esai. Lalu kita cari rumusan puisi esai secara benar dan lebih ilmiah, dan jangan berhenti pada asumsi-asumsi anda sendiri. Sebab bisa saja asumsi anda salah, misalkan saja puisi esai harus ada catatan kaki, padahal banyak pula puisi yang bisa anda sebut itu sebagai puisi esai tapi tidak ada catatan kakinya, karena bagi si penyairnya tidak perlu catatan kaki atau bila diberi catatan kaki malah melemahkan estetika puisinya itu sendiri. Hal-hal semacam ini, perlu dibicarakan dalam forum-forum yang serius. Undanglah mereka yang benar-benar mengerti teori puisi dan kritik puisi. Minta kepada mereka baik-baik untuk membuat penelitian yang mendalam dengan tanpa pretensi apapun di luar kepentingan ilmu sastra.

6. Dengan Anda menyampingkan label “puisi esai” anda akan lebih leluasa mengembangkan puisi Indonesia. Anda bisa berbuat lebih banyak. Bisa menggalang kebersamaan para penyair Indonesia, bisa menerbitkan majalah puisi yang memuat puisi-puisi cerdas tanpa embel-embel “puisi esai atau puisi mbeling atau puisi gelap atau puisi mantra atau puisi ngebor atau puisi patah-patah atau puisi alam barzah”. Anda dengan demikian tidak membuat diskriminasi genre sastra. Anda juga tidak akan membuat diskriminasi antara tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh, setengah berpengaruh, atau pengaruhnya ada tetapi sepoi-sepoi. Selain mengembangkan karya puisi, anda juga bisa mengembangkan pusat dokumentasi sastra, pusat penelitian sastra, juga mengembangan studi kritik sastra. Untuk studi kritik sastra, saya rasa anda bisa lebih serius lagi karena pada bidang inilah Indonesia sedang mengalami penurunan kuantitas dan kualitasnya.

7. Sebagaimana pengakuan anda bahwa setiap ingin mengedit puisi esai anda perlu berwudhu dan membaca surat al-Fatehah, saya pastikan itu semua sudah benar. Saya hormat pada anda dalam hal ini. Namun saran saya setelah membaca surat al-Fatehah perlu ditambah juga dengan membaca istigfar 33 kali, lalu ayat kursi 7 kali, dan shalawat nariyah 7 kali. Ada baiknya juga anda meningkatkan shalat sunah, seperti shalat dhuha, shalat tahajud, dan shalat tasbih. Usahakan juga puasa sunah Senin dan Kamis. Selama menjalakan puasa sunah, usahakan semua anggota tubuh ikut puasa kecuali hati yang yang terus tiada henti menyebut nama Allah. Utamakan juga wudhu anda jangan pernah batal, kalau batal cepat ambil wudhu lagi. Tadarus al-Quran juga jangan sampai putus. Usahakan membaca minimal 5 lembar ayat al-Quran setelah shalat 5 waktu. Setelah anda bisa memastikan diri anda dekat dengan Allah, maka dekatkanlah diri anda pada manusia. Suasana nanti pasti akan lebih baik daripada suasana sekarang. Percayalah sama saya. Saya tidak main-main.

8. Sebagai penyair yang disebut-sebut penyair kondang, saya ingin bertanya apakah saya memang pantas disebut penyair kondang?. Bukankah saya lebih pantas disebut “penyair kondangan” alias penyair yang suka menghadiri undangan. Istilah “kondangan” biasanya digunakan sebagai menghadiri undangan pesta pernikahan. Dalam pesta itu, saya ingin bersalaman sama pengantin, sama wali pengantin, sama saudara-saudara dan kawan-kawan pengantin sekalian. Saya ingin merasakan kebersamaan yang bisa ketawa-ketiwi sambil minum es campur yang di dalamnya ada buah-buah yang berlainan dan berwarna-warni plus dicampur susu. Saya ingin kebersamaan yang tidak saling menunggangi dan menyakiti. Saya juga ingin berjoget sampai berkeringat bila dalam pesta pernikahan itu kebetulan ada hiburan organ tunggal atau marawisan atau gambusan. Kolesterol sastra saya kemungkinan akan normal kembali.

Saya rasa cukup sekian dulu. Saya lanjutkan bila ada waktu dan bila saya dalam kondisi sehat wal afiat. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya. Al haqqu mir rabbikum wa laa takunanna minal mumtariin. Wallahu muwaafiq ilaa aqwaamith thaariq. Terima kasih. Salam damai, jagat sastra!

* Penyair dan Ketua Majelis Kedaulatan Penyair Indonesia (MAKPI).