Showing posts with label Heboh Tokoh Sastra. Show all posts
Showing posts with label Heboh Tokoh Sastra. Show all posts

Friday, March 14, 2014

“Perseteruan” Ahmadun—Denny JA Berakhir

Ahmadun Yosi Herfanda
Jakarta, Teraslampung.com--Penyair Ahmadun Yosi Herfanda akhirnya mengakhiri perselisihan yang disebutnya sebagai “tidak produktif” terkait dengan penerbitan puisinya dalam buku “Antologi Puisi Esai 23 Penyair Kondang” yang didanai Denny J.A.

Dalam rilisnya, Sabtu (15/3) Ahmadun mengatakan dia dan Fatin Hamama selaku perantara penerbitan buku tersebut telah bertemu untuk bermusyawarah di Pamulang pada 14 Maret 2014, difasilitasi penyair Mustafa Ismail dan disaksikan Miranda Putri (panitia peluncuran buku tersebut).

Hasil musyawarah antara dia dengan Fatin, kata Ahmadun, pertama, puisi berjudul . Puisi berjudul “Grafiti Sulastri” karya Ahmadun Yosi Herfanda tidak dapat ditarik kembali (dicabut) dari buku tersebut karena buku itu sudah terlanjur dicetak.

Kedua, “dana tidak bertuan” sebesar Rp 10 juta, yang berasal dari pengembalian honor Ahmadun Yosi Herfanda, disepakati untuk disalurkan ke sebuah pesantren yatim piatu.

Ketiga, dalam kaitan dengan penerbitan buku tersebut, perlu dijelaskan pula bahwa Fatin Hamama hanya berposisi sebagai “jembatan” antara Denny JA (pihak yang memiliki program penerbitan buku tersebut) dengan para penyair yang diminta kesediaannya menulis puisi esai untuk buku itu.

“Kesepakatan telah dicapai, disertai permintaan maaf kepada semua pihak yang terimbas oleh persoalan ini,” kata Ahmadun.

Setelah perdamaian tersebut, Ahmadun bergarap kehidupan sastra Indonesia pada masa mendatang akan lebih baik. “Semoga kehidupan sastra Indonesia kembali sehat, lebih independen, lebih kreatif, dan lebih produktif,” kata penyair asal Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah itu.  (Rls)

Berita terkait: Saya Sudah Kembalikan Honor Puisi Esai
Berita terkait: Fatin Hamama: Saya tidak Membeli Kawan-Kawan Sastrawan
Baca juga: Tugas Tambahan Penyair Kondang

Friday, February 7, 2014

Prospek Puisi Esai dan Fitnah Seputarnya

Denny JA

“Jangan ada Denny JA di antara kita. Kisah Bunda Putri Denny JA di Dunia Sastra. Denny JA Menerapkan Strategi Politik di Sastra. Aksi Tipu-Tipu Denny JA di kebudayaan. Denny JA Membeli Penghargaan Sastra Dengan Harga Murah. Sastrawan mengembalikan uang Denny JA. Kejahatan Kultural Denny JA. ” Inilah beberapa contoh topik yang berseliweran di sosial media sejak awal Januari hingga tulisan ini dibuat di awal Febuari 2014.

Perdebatan sengit mengenai isu seputar saya di dunia sastra  lebih panas dan keras dari yang saya duga.  Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh hasil Team 8 dan PDS HB Jassin menempatkan saya sebagai salah satu tokoh di antara 33 tokoh itu. Lima buku puisi esai yang ditulis oleh 23 penyair kondang menambah “desingan peluru” tepat di jantung saya. Di kalangan sebagian aktivis sastra itu seolah berkembang satu genre sastra yang baru: sastra hujat, “aku menghujat Denny JA, karena itu aku ada.”

 Sejak pertama kali social media hadir di Indonesia, mungkin tak ada isu sastra atau budaya di Indonesia yang mendapatkan perhatian, debat, polemik, celotehan, pujian, hujatan dan fitnah seintensif itu. Di social media,  isu ini mungkin pula sudah mengalahkan aneka isu politik, ekonomi atau olah raga untuk bulan Januari dan Febuari 2014.

Merespon aneka desingan peluru itu, saya ingin mengekspresikan suasan batin, imajinasi dan visi saya tentang puisi esai. Saya duduk merenung di kompleks vila di Mega Mendung. Di antara suara sungai dan kicauan burung, tiga hal ini yang pertama kali berkunjung ke benak saya.


Pertama, apa yang akan terjadi dengan puisi esai di tahun mendatang?

Sebuah gambar bergerak seperti video melintas di kepala saya. Sebuah suasana  tergambar dengan jelas.
Itu adalah  satu momen di masa depan. Saat itu tahun kelima pertemuan penyair puisi esai dari seluruh Indonesia. Semua hadirin  menanti pidato kebudayaan yang dipersiapkan secara matang. Seorang tokoh berwibawa akan mengajak kita merenung bersama mengenai masalah pokok kebudayaan dan sastra yang tengah dihadapi.

Perwakilan komunitas puisi esai dari seluruh Indonesia sudah tiga hari berkumpul di situ. Mereka di satukan oleh spirit berkarya. Mereka memberikan kesaksian isu sosial dengan menggali batin personal dan menyampaikannya melalui puisi esai. Saat itu sudah terbit lebih dari 50 buku puisi esai, yang ditulis oleh lebih dari 200 penyair dan intelektual, dari Aceh sampai Papua.

Ini pertemuan spiritual karena memberikan pencerahan batin,  ujar banyak peserta. Acara ini tidak hanya segar tapi kita mengenal teman-teman seperjuangan.  Alhamdulikah, komunitas kita semakin besar dan semakin berkarya, komentar yang lain. Mereka sungguh menikmati aneka pembacaan puisi, dramatic reading, lagu, film, teater, diskusi yang semuanya bersumber pada puisi esai.

Dalam pertemuan  itu ada ruangan dan acara khusus untuk gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Sungguhpun topik puisi esai sudah begitu beragam, namun awalnya yang diangkat oleh puisi esai adalah topik Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Isu diskiminasi anak batin saya sejak menjadi aktivis. Saya sudah tuangkan isu itu ke dalam kolom, makalah ilmiah, film, teater, lagu, lukisan. Namun dalam karya budaya, isu itu pertama-tama saya tuangkan dalam puisi esai. Itu sebabnya untuk batin saya pribadi, isu Indonesia Tanpa Diskriminasi dan Puisi Esai adalah sebuah perkawinan yang terus melekat.

Kegiatan saya selaku peneliti, pengusaha dan aktivis yang berpolitik memang cukup memberikan gairah.  Namun keterlibatan saya di dunia sastra memberikan aroma yang berbeda, yang lebih spiritual dan menyentuh makna hidup.

Media massa mencatat pertemuan tahunan itu sebagai tradisi baru budaya yang dilahirkan oleh generasi sastrawan, intelektual dan pengusaha di era social media.

Visual suasana ini kini agak sering mengunjungi rumah batin saya. Dengan segala tenaga saya berjuang mewujudkannya. Aneka kritik,  hujatan dan fitnah yang saya alami menguap segera, seketika visi masa depan puisi esai itu hinggap kembali di sukma saya.


Kedua, isu puisi esai ditulis oleh ghost writer.

Disebarkan isu bahwa puisi esai itu ditulis oleh seorang ghost writer yang disewa Denny JA.  Definisi  baku dari aneka kamus tentang  ghost writer itu adalah “seseorang yang menulis buku atau karangan tapi  hak serta prestise kepengarangannya diberikan kepada orang lain.”  Buku itu anak batin dan pikiran dari sang ghost writer tapi secara publik ia melimpahkannya  kepada orang lain.

Demi apapun,  puisi esai ini adalah murni anak batin dan perenungan batin saya yang terdalam. Tak ada satu orangpun yang menjadi ghost writer dari lima puisi esai saya apalagi konsep puisi esai itu. Saya yang merumuskan format puisi esainya. Saya yang menyusun filsafat dari plot setiap cerita. Saya yang membuat drama, opening dan endingnya. Namun tentu saja saya mempekerjakan individu dan team untuk membantu riset dan penulisannya.

Sejak tahun 2010, saya sudah menceritakan kepada teman-teman dekat bahwa saya merasa sedang “hamil tua.” Ada sesuatu yang harus saya lahirkan tapi belum tahu wujudnya. Sudah lama saya berhenti dari tradisi tulis menulis dan masuk ke dalam dunia politik praktis dan bisnis.

Saya ingin menumpahkan perhatian saya tentang isu diskriminasi yang melanda Indonesia. Seseorang diperlakukan begitu buruk hanya karena ia berada dalam satu identitas sosial minoritas, entah itu agama, etnis, gender sampai oriientasi seksual. Di era reformasi, memang terjadi kebebasan di tingkat supra struktur politik. Namun di arus bawah terjadi lebih sering aksi kekerasan komunal, primordial yang  penuh diskriminasi.

Saya ingin mengekspresikan isu itu dengan cara yang menyentuh hati. Kolom, makalah ilmiah hanya berhasil memberikan analisisnya namun tidak suasana batin pihak korban yang menderita. Tak tergambarkan juga sisi interior psikologis pihak yang mendiskriminasi. Agar merasuk, saya harus masuk ke tulang sumsum dan sukma manusia. Kisahnya pun harus dramatis agar lebih menggugah pembaca.

Saya merasa bahwa kebutuhan itu hanya bisa diberikan oleh sebuah fiksi. Seringkali kita tak menemukan fakta apa adanya untuk menggali sisi batin itu. Pertautan kisah yang faktual kadang tak sedramatik yang kita butuhkan untuk lebih menyentuh hati. Fiksi adalah solusinya.

Namun fiksi yang ada, spt puisi atau  cerpen terlalu ringan untuk membawa pesan itu. Sedangkan novel itu terlalu panjang. Saya inginkan puisi yang bisa juga berargumen menampilkan data, fakta, rincian hasil riset. Puisi itu pasti harus panjang dan berbabak. Sisi fakta harus dimasukkan kedalam puisi,  bisa di batang tubuh, atau di catatan kakinya. Catatan kaki yang biasa di makalah ilmiah menjadi sentral dalam puisi esai.

Kisah diskriminasi yang hendak saya gambarkan harus juga kental sisi human interestnya. Harus ada kisah cinta di sana. Sang korban tak harus selalu menang.  

Aneka kegelisahan itulah awal dan adonan lahirnya puisi esai. Dan itu murni pergulatan batin saya berbulan-bulan ketika saya “hamil tua.”

Untuk saya yang super sibuk, tentu saya tak perlu kerja sendiri. Saya juga harus terus memimpin perusahaan saya yang berjumlah lebih dari dua puluh, yang bergerak mulai dari konsultan, properti, food and beverages hingga tambang. Saya juga harus terus memantau aneka klien baik calon presiden, gubernur atau walikota.  Jika ingin berkarya di dunia sastra, saya harus mempekerjakan individu dan team agar cukup waktu saya untuk semua.

Di pengantar buku sudah saya ceritakan semua yang membantu saya, yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Termasuk di dalamnya penyair senior Sapardi Djoko Damono. Juga akademisi sastra senior Ignas Kleden. Juga teman-teman aktivis dan sastrawan mulai dari Ahmad Gaus, Fatin Hamama, Eriyanto, kawan-kawan di Ciputat School lainnya, dan peneliti di LSI. Sayapun meminta komentar yang kemudian ikut saya adopsi sarannya seperti  Rocky Gerung, Effendi Gazali, Hamid Basyaib,    dan belasan lainnya.

Semua hasil riset penulisan dan komentar dari individu dan team itu saya masukkan ke dalam kerangka puisi esai yang murni hasil batin saya. Kepada teman-teman dekat, saya sering menceritakan proses editing akhir yang saya lakukan. Setiap satu puisi esai saya edit dan saya finalkan dengan diawali mengambil air wudhu. Lalu saya duduk di depan komputer, membuka sebuah puisi esai. Sebelum pikiran dan tangan saya bergerak, saya bacakan dalam hati terdalam surat Al-fateha. Saya sucikan diri saya. Saya kontak sumber Alam gaib di dunia sana untuk menggerakkan tangan saya melakukan editing terakhir dengan mendengar aneka komentar dan saran aneka pihak yang memang saya minta.

Kadang saya mengeditnya dengan mengeluarkan air mata. Kadang saya mengetik di komputer dengan mengoceh sendiri. Saya hilang dari dunia dan fokus tenggalam di layar komputer. Satu yang saya niatkan. Saya ingin buku puisi esai ini mengawali kembalinya saya ke dunia sosial setelah melanglang jauh ke dunia politik dan bisnis.

Sejak mahasiswa saya sudah menulis ratusan kolom di semua media nasional. Saya sudah tahunan pula menjadi host di TV dan radio. Saya sudah pula membuat ratusan makalah riset di LSI. Semua sudah dibukukan dalam buku berjumlah lebih dari dua puluh. Namun baru kali ini saya merasa memiliki medium ekspresi batin. Yaitu puisi esai.

Demi apapun,  puisi esai bukan karya ghost writer sesuai definisi yang baku.  Itu adalah fitnah. Info itu tentu harus diluruskan demi apa yang benar dan sesungguhnya terjadi.

Ketiga, isu  puisi esai ditulis untuk target politik praktis meraih jabatan.

Aneka analisi dan prediksipun muncul menjelaskan mengapa saya bersedia mengeluarkan dana hingga miliar untuk kerja sastra dan kebudayaan. Ada yang menyatakan Denny JA ingin menjadi presiden di 2019. Yang lain berkata, oh tidak, 2019 masih terlalu lama. DI 2014, ia ingin diangkat menjadi mentri kebudayaan. “Bukan,” kata yang lain lagi. “ targetnya bukan politik, tapi bisnis.  Ia hanya ingin bargaining bisnis dan menggunakan ketokohannya di dunia sastra.”  Ada pula yang menyatakan Denny JA hanya seorang megalomania yang ingin dikenang sebagai pembaharu untuk semua bidang yang ditekuninya. Dan lain sebagainya.

Penyebabnya bukan itu semua. Kepada aneka teman dekat, saya sering cerita percakapan saya dengan istri dan anak-anak. Jika hidup hanya kaya raya dan menikmati seluruh kemewahan dunia, saya tak akan mati dengan tersenyum. Mati saya tidak mesem.

Sejak kecil, saya tumbuh dengan suasana yang miskin dan sulit. Hati saya sejak remaja ingin ikut melakukan sesuatu yang bersifat sosial. Namun itu akan lebih leluasa jika saya puya dana yang cukup.  Saya tekun bekerja agar mencapai financial freedom terlebih dulu. Saya sangat senang dengan pameo: “Carilah uang sebanyak-banyaknya, dan gunakan untuk membantu orang lain juga sebanyak-banyaknya.” Atau ungkapan: “ orang yang terpilih adalah orang yang kaya raya dan bekerja di jalan Tuhan.”

Saya memang berupaya secara sengaja menjadi kaya raya. Namun sebagaian kekayaan itu adalah hak orang lain. Hak itu saya harus kembalikan melalui kerja sosial. Istri dan anak-anak saya minta ikhlas dan mereka memang ikhlas jika sebagian dari rejeki Tuhan ini saya pulangkan kembali ke dunia sosial.

Saya ingin mewakafkan diri saya, gagasan, sebagian harta saya untuk gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Saya tahu ini kerja lintas generasi, yang tak akan selesai hanya dengan satu generasi. Namun saya ingin dalam dinding besar peradaban baru Indonesia Tanpa Diskriminasi itu  saya ikut meletakkan fondasinya.

Saya senang dengan pernyataan seorang pemikir bahwa politisi itu adalah tamu dari peradaban. Tapi seorang penggagas budaya adalah tuan rumah peradaban. Politisi datang dan pergi setiap pemilu. Namun penggagas budaya bertahan di sana membangun peradaban.

Saya ingin mewakafkan diri saya menjadi penggagas budaya itu. Topik dan brandingnya sudah saya pilih dalam slogan atau tagline: Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Namun agar gagasan itu merasuk, ia harus diekspresikan dalam karya budaya: puisi, teater, lagu, film, lukisan, fotograpgy, dan sebagainya. Inilah awal saya masuk ke dunia sastra dan budaya.

Bukan jabatan politik yang menjadi target saya dalam bersastra tapi ikut menggaungkan isu dan perlawanan diskriminasi melalu kerja budaya. Saya tidak terlalu hirau dengan terpilih menjadi 33 tokoh sastra, atau nanti terpilih pula menjadi 50 pembaharu politik Indonesia, atau 25 aktivis sosial yang berpengaruh, atau 3 intelektual paling kaya, dan lain sebagainya. Saya hanya ingin dicatat sebagai pejuang gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Salah satunya melalui puisi esai.


Sumber: inspirasi.co


Thursday, January 30, 2014

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai: Tanggapan untuk Maman S Mahayana


Leon Agusta*

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu dibawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu-terhadap sesuatu-misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian eleman sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman gererasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigm dan wacana lama. Hasilnya adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebut sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakan dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tercermin dalam bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia kedalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat menghantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi-esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan Baru

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya sastra bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan Rendra. “Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan social politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan tehnik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya “prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, “….setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisi-puisi Toeti Heraty.”
Jadi prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toety Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul “Kisah Perempuan Korban Patriaki” dan mendedikasikan karyanya kepada “setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga member petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul “Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi Dalam Untaian Kisah Cinta Yang Menggetarkan Hati”, dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamplet, puisi esai, prosa lirik, atau apapun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekpresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita Rasa

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, diantaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai “Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan penganut agama Islam (http://icrp-online.org/082008/post-17.html ).. Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat menghantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi-esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikan dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra . Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekedar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi-esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Disinilah peranan puisi-esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi-esai Atas Nama Cinta.
Kritik MSM dalam artikel “Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi-esai Denny JA: “Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutarji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada terkesan merendahkan: “Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi.”

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi-esai harus dilegitimasi? Apakah puisi-esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, dan kepatuhan?.

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan “stempel legitimasi” terhadap konsep puisi-esai atau konsep puisi penyair manapun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berfikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75) dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makasar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

*Penyair

**Tulisan pernah dimuat di inspirasi.co

Wednesday, January 22, 2014

Horison Makin Mendung: Tentang Buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'

Akmal Nasery Basral (Dok Akmal Nasery Basral)
Akmal Nasery Basral*

Sehari setelah Natal 2013 saya menerima telpon dari kawan saya Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Riny, nama panggilan Ariany, menanyakan alamat rumah saya untuk pengiriman sebuah buku baru yang akan dirilis 3 Januari 2014 di kantornya disertai pesan, “Teman-teman mengharapkan mas Akmal datang sebagai peserta aktif dalam diskusi setelah peluncuran buku,” katanya di ujung telepon.

“Untuk bahan diskusi mas Akmal baca saja pengantar yang ditulis Jamal (D. Rahman) pada buku yang akan
kami kirim,” katanya.

Dua hari setelah itu sebuah buku setebal 734 halaman tiba di rumah saya. Pada sampul kiri atas tertera tulisan: Jamal D. Rahman dkk. Yang disebut “dkk” ternyata tujuh orang, yakni Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Mereka menamakan diri Tim 8.
selera literer: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Judul yang membawa saya teringat sejenak pada karya ikonik Martin Seymour Smith,  The 100 Most Influential Books Ever Written: The History of Thought from Ancient Times to Today (1998).  Pada daftar Smith--seorang penyair, penulis biografi dan kritikus sastra asal Inggris--terdapat The Koran (Al Qur’an, no. 26) yang mengundang perdebatan tentang apakah kitab suci bisa digolongkan ke dalam “buku yang pernah ditulis” seperti dalam pengertian Smith.

Sebelum membaca pengantar Jamal, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, saya lebih dulu memindai daftar isi secara cepat--sebuah kegiatan praktis yang bisa memberikan gambaran awal isi buku. Nama-nama familiar langsung terbaca: Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, HAMKA, Armijn Pane, Amir Hamzah, HB Jassin, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Remy Silado, Emha Ainun Nadjib, Afrizal Malna, Denny JA …

Hah? Denny JA? Pengamat politik yang gencar beriklan tentang keampuhan metode surveinya itu?

Untuk beberapa detik saya merasa terserang absent minded. Apakah saya tidak salah baca? Atau buku ini yang salah cetak? Saya baca untuk kedua kalinya dengan perlahan: tetap tidak ada perubahan aksara di sana. Dan ini menimbulkan rasa penasaran luar biasa di benak, sehingga saya putuskan untuk membaca lebih dulu bagian yang beranak judul “Penggagas Puisi Esei” dan ditulis oleh Ahmad Gaus itu (h. 647-663).

Salah satu poin yang ditulis Gaus--pengajar mata kuliah Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan di Swiss German University (SGU) Tangerang, Banten, adalah pengakuannya bahwa kumpulan puisi esai Denny JA Atas Nama Cinta (2012) telah memengaruhi sejumlah penulis untuk mengekor dengan gaya puisi esai yang sama. Gaus mencatat sembilan buku yang terpengaruh oleh Denny JA sampai akhir 2013.

Dan siapakah pengekor yang menempati urutan pertama? Tak lain buku Ahmad Gaus sendiri yang berjudul Kutunggu Kamu di Cisadane (2012), dengan kata pengantar oleh Jamal D. Rahman. Lalu dari delapan buku sisanya, nama Jamal kembali muncul, biasanya sebagai pemberi kata pengantar, selain beberapa nama anggota Tim 8 lain seperti Acep atau Nenden. Artinya satu hal jelas sudah: Denny JA memang berpengaruh secara personal kepada anggota Tim 8.

Usai membaca pemaparan Gaus, alih-alih teryakinkan oleh argumentasinya yang mempostulatkan bahwa “puisi esai merupakan pembaruan dari puisi yang lazim dikenal selama ini” (h. 653), intuisi saya bereaksi membentuk sebuah imajinasi visual seakan-akan menyaksikan seorang shaman sedang merapal mantra pengundang badai. Bayangkan, perasaan itu terjadi bahkan tiga hari sebelum fajar tahun baru menyobek horison!  Mendadak saya begitu ingin  3 Januari 2014 cepat datang, dan saya akan hadir untuk menjadi saksi mata dari sebuah “sejarah sastra”.

Sebuah perasaan lain sempat menyelinap di hati saya, terutama menyangkut Jamal dan Joni Ariadinata, yang dengan mereka--selain puluhan sastrawan lain--saya sempat menghabiskan waktu beberapa hari pada Maret 2013 di Sumatra Barat, untuk mengikuti Deklarasi Hari Sastra di SMA 1 Birugo, Bukittinggi.

Mereka tak pernah sekalipun keceplosan menceritakan tentang penulisan buku ini. Bahkan ketika pada satu malam tinggal saya, Joni, dan Fadli Zon--yang juga anggota dewan redaksi Horison--mengisi puncak malam dengan berkaraoke di Aie Angek Cottage tempat kami menginap, Joni yang punya cengkok suara bagus dalam menyanyikan lagu-lagu Melayu itu pun lebih banyak memberikan komentar tentang novel terbaru saya Tadarus Cinta Buya Pujangga, yang memang pada siang hari sebelumnya sempat diperkenalkan kepada hadirin bersama kumpulan puisi terbaru D. Zawawi Imron Mengaji Bukit Mengeja Danau.

Kalau dipikir lagi sekarang, agak “kesal” juga saya--dalam arti positif bukan negatif--mengapa sampai tak mendengar selentingan adanya proses penulisan sepenting itu. Apalagi kalau diingat bahkan dengan Riny Isnamurti,   pada akhir Nopember 2013 selama beberapa hari, kami menghabiskan waktu bersama mengikuti acara Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negeri Serumpun yang diikuti peserta lima negara berbahasa Melayu dan dua peninjau dari Italia.   

Jadikah saya datang ke PDS HB Jassin pada 3 Januari? Sayangnya tidak.  Jadwal peluncuran buku yang bersamaan dengan akhir musim liburan pendek anak sekolah, membuat saya harus mendahulukan libur bersama dengan ketiga putri saya. Dari luar kota saya mencoba memantau perkembangan diskusi melalui media sosial. Dan “mantra pengundang badai” yang disisipkan dalam buku tebal karya Tim 8 itu pun menunjukkan keampuhannya dengan cepat: badai kontroversi langsung datang dan terus membesar sampai sekarang.

“Kekesalan” saya sebelumnya juga mendadak sirna begitu membaca wall Facebook penulis dan mantan wartawati senior Linda Djalil yang menginformasikan bahwa penyair Taufiq Ismail bersama istri sedang bertandang ke rumahnya. Salah satu poin ucapan Taufiq--salah seorang pengampu Horison--adalah bahwa dia pun tak pernah tahu tentang proyek buku itu yang dikomandani Jamal, yang disebut Linda sebagai “anak didik” Taufiq di majalah sastra itu.

Syahdan, penyair dan aktor kawakan Aspar Paturusi juga mengirimkan pesan pendek kepada Taufiq menyatakan kegalauannya menyangkut posisi majalah Horison yang ikut terkena getah. Sebab selain Jamal, Joni pun anggota dewan redaksi majalah itu, seperti halnya Agus R. Sarjono yang baru mundur pada 2013. Syahdan pula, kerisauan Aspar dijawab Taufiq dengan menyatakan pesan sedih bahwa ini merupakan masa ujian bagi Horison sebagai institusi.

Intensitas badai itu kian terasa mencambuk dengan Surat Terbuka Cecep Syamsul Hari, Redaktur Pelaksana Horison, yang menyatakan mengundurkan diri dari majalah sastra legendaris itu dengan “satu alasan, dan satu-satunya alasan” adalah terkait dengan terbitnya buku tersebut. Cecep mengumumkan sikapnya dalam situs www.sastradigital.com yang dikelolanya pada 16 Januari 2014.

Satu per satu dari 33 tokoh sastra dalam buku ini pun menyuarakan semacam keberatan. Goenawan Mohamad menyatakan tak layak terpilih, karena pengaruhnya saat masih berkecimpung di majalah Tempo sebagai jurnalis mungkin ada, tapi sekarang tidak lagi.  Dengan humor satirnya yang khas, GM mengatakan tak pernah bercita-cita sebagai sastrawan berpengaruh karena cita-citanya dulu adalah sebagai “juara (lari) marathon, meskipun itu cita-cita yang pasti gagal.”

Remy Silado yang dikenal sebagai sastrawan mbeling, dan salah seorang  “paling urakan” dari daftar itu, juga menyatakan keinginan untuk “mencabut diri saya dari ke-33 tokoh tersebut.”

Saat “Paus Sastra” HB Jassin masih hidup--di buku ini Agus Sarjono memperkenalkan Jassin dengan istilah baru sebagai “Pengacara Sastra Indonesia Modern--beliau pernah pasang badan di pengadilan untuk melindungi Ki Panji Kusmin (nama samaran) penulis cerpen Langit Makin Mendung yang mendulang kontroversi dahsyat menyusul publikasi di Majalah Sastra (Tahun VI. No. 8, Edisi Agustus 1968).  Entah bagaimana sikap Jassin seandainya kini menghadapi “horison makin mendung” yang memayungi ranah sastra tanah air. Akankah Jassin tetap akan pasang badan demi kebebasan ekspresi, yang kali ini digunakan Tim 8?

Menarik ditunggu kelanjutan badai kontroversi buku ini, karena sejumlah penggiat sastra yang menamakan diri Tim 17, yang antara lain dimotori penyair Saut Situmorang, sudah pula mengibarkan bendera penentangan terbuka terhadap Tim 8, yang diikrarkan di PDS HB Jassin, tempat yang sama dengan buku itu diluncurkan dua pekan sebelumnya. 

*Akmal Nasery Basral novelis, cerpenis, pengampu mata kuliah penulisan fiksi di Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) Ikapi Pusat.  Bisa dihubungi lewat akun Twitter: @akmal_n_basral atau surat elektronik: akmal.n.basral@gmail.com

 
Sumber: 
http://www.mizan.com/news_det/horison-makin-mendung-tentang-buku-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh.html

Tuesday, January 21, 2014

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”

Ahmad Gaus*

Setelah diluncurkan pada 3 Januari 2014 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus menuai polemik. Salah satu titik polemik ialah: siapa yang mendanai program buku ini? Sebagai anggota Tim 8 yang melahirkan buku tersebut saya merasa perlu menjelaskan ini agar tidak muncul kesalahpahaman dan fitnah—yang sebenarnya sudah terjadi, bahkan merajalela.

Mula-mula polemik itu berlangsung di media sosial, terutama Facebook dan Twitter. Sebagian sastrawan dan pegiat sastra menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap hasil kerja tim yang menghasilkan buku tersebut. Sebagian orang menulis di blog, dan ada beberapa pegiat sastra yang menulis di media cetak. Tak perlu dijelaskan rumor dan gosip yang disebar melalui broadcast messenger dan pesan pendek (SMS) yang ditujukan kepada Tim 8.

Terhadap polemik-polemik itu sikap kami pertama-tama tentu harus menerima ketidakpuasan tersebut. Namun, ketika ketidakpuasan itu diekspresikan melalui hujatan, caci-maki, bahkan fitnah, kami merasa itu sudah tidak proporsional. Belakangan, sebagian pegiat sastra bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan mengeluarkan petisi yang berisi ajakan kepada publik untuk melakukan aksi boikot, mendesak pemerintah menarik buku itu dari peredaran, bahkan juga berencana membakar buku tersebut.

Ketika diwawancarai wartawan apa pendapat saya perihal rencana boikot dan aksi pembakaran itu, saya katakan bahwa aksi itu sangat memprihatinkan. Sastrawan seharusnya memberi pencerahan kepada masyarakat tentang bagaimana cara berbeda pendapat, bukan memberi contoh tindakan anti-intelektual dan cenderung barbar. Para penandatangan petisi itu akan dicatat oleh sejarah sebagai orang-orang yang ikut membungkam kebebasan berpendapat. Mereka tidak berhak bicara apapun lagi tentang kebebasan berkarya jika mereka sendiri ingin mengambil paksa hak itu dari orang lain, dan mereka hendak melakukan itu dengan meminjam tangan kekuasaan.

Kenapa Denny JA?

Titik krusial lain dari polemik itu adalah masuknya nama Denny JA ke dalam buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tersebut. Kami Tim 8 terdiri dari Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noer, Nenden Lilis Aisyah, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, dan Ahmad Gaus, tentu memiliki pertimbangan mengapa nama Denny JA dianggap pantas masuk ke dalam buku tersebut. Argumen-argumen mengenai ini sudah kami jelaskan panjang lebar di dalam buku setebal 767 halaman. Namun, para pencerca itu rupanya tidak mau menerima penjelasan tersebut, atau jangan-jangan malah belum membacanya. Lebih gawat lagi ada yang menuduh kami (Tim 8) telah “dibeli” oleh Denny JA supaya namanya dimasukkan. Walhasil, buku tersebut dianggap tidak valid sebagai karya akademik.

Tim 8 sebetulnya dibentuk sendiri oleh beberapa orang dari kami, kemudian mengajak yang lainnya. Dananya pun tidak dimintakan kepada pemerintah (APBN), sehingga Tim ini sebenarnya tidak bertanggung jawab kepada pemerintah atau publik kecuali pertanggungjawaban akademik karena ini karya ilmiah. Beberapa orang dari Tim 8 menghubungi para filantrofis seperti ET dan FE yang pernah berencana membuat majalah sastra namun belum terealisasi. Ternyata, mereka mau mendanai kegiatan ini. 

Tentu tidak etis menyebut nama lengkap orang-orang ini sampai mereka sendiri yang mengatakannya. Tapi yang pasti, di negara demokrasi masyarakat sipil mengambil inisiatif mendanai kegiatan apa saja dibolehkan, asalkan bukan kegiatan makar atau tindakan kriminal. Demikian juga kegiatan membuat ranking, misalnya ranking; 20 politisi paling kontroversial sepanjang masa, 30 pejabat negara berpakaian paling rapi, 10 artis paling dibenci, dst. Kita boleh tidak setuju, tapi tidak boleh melarang publikasi hasil ranking tersebut.

Kembali ke masalah mengapa nama Denny JA masuk ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Banyak orang menanyakan hal itu kepada saya, karena sayalah yang ditunjuk oleh Tim 8 untuk menulis bagian itu. Selain menulis tentang Denny JA, saya juga menulis artikel tentang Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, dan Ayu Utami. Nama yang terakhir ini pun dipersoalkan oleh beberapa penulis senior (perempuan) yang hadir dalam acara peluncuran buku di PDS HB Jassin yang menganggapnya tidak pantas masuk ke dalam daftar tersebut. Saya jawab, baca saja dulu sampai tuntas karena di situ ada argumennya, kalau sudah membaca tetapi tidak setuju juga, berarti memang kita berbeda paham. Kalau berbeda paham, kita harus saling menghargai, dan tidak perlu memaksa kami menghapus nama itu dari buku.

Tentang pertanyaan mengapa nama Denny JA masuk ke dalam daftar itu, jawaban saya adalah, justru aneh kalau nama dia tidak masuk. Sebab, dialah yang paling fenomenal dengan puisi esainya sekarang ini. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir. Sampai saat ini saya belum mendengar ada penyair yang karya puisinya dibaca oleh begitu banyak orang seperti puisi esai yang digagas oleh Denny JA. Hanya satu tahun setelah buku puisi esainya yang berjudul Atas Nama Cinta dipublikasikan di web (2012), puisi itu dibaca oleh hampir 8 juta orang dengan ribuan respon, seperti bisa dilihat di website puisi-esai.com. Sebagai perbandingan, di kalangan selebriti saja, rekor semacam itu hanya bisa dicapai oleh Agnes Monica yang video Youtube--nya “Matahariku” dihit oleh 7 juta netters.

Bagi saya ini prestasi Denny JA yang sangat fenomenal, dan sekaligus keajaiban puisi esai yang baru berkembang namun telah memikat begitu banyak orang. Sebab saya pernah membaca sebuah buku yang di situ ditulis bahwa ada penyair yang menerbitkan buku puisinya 1.000 eksemplar, dan sudah lebih dari 20 tahun menumpuk di gudang alias tidak terjual. 

Artinya, masyarakat tidak meminati puisi itu. Padahal setiap puisi ditulis untuk dibaca. Denny JA menulis puisi yang diminati dan dibaca masyarakat, yaitu puisi esai, puisi yang bahasanya mudah dipahami, dan pesannya jelas karena berbicara tentang realitas masyarakat. Lima puisi esai Denny JA itu semuanya berbicara tentang isu-isu diskriminasi orientasi seksual, gender, keyakinan, ras, dan pandangan agama. Semua isu itu riil, ada dan menjadi persoalan dalam masyarakat kita.

Puisi di Era Cyber

Yang paling penting dalam puisi esai-nya Denny JA ialah mengubah isi kepala orang tentang apa yang disebut puisi. Selama ini mainstream puisi kita ialah puisi liris yang berbicara tentang daun, angin, hujan, pohon cemara, atau dalam ungkapan Rendra: “tentang anggur dan rembulan”. Puisi esai berbicara tentang manusia di dalam sejarah yang konkret, tentang isu-isu yang bergetar dalam komunitas. Mungkin itu sebabnya puisi esai Denny JA sangat digemari (tapi sekaligus juga dibenci oleh sebagian sastrawan sehingga selalu dihujat-hujat sebagai bukan puisi).

Sekarang zaman sudah berubah. Sastra sekarang berkembang di dunia cyber. Ini juga yang mungkin tidak diperhatikan oleh para sastrawan kita. Padahal, saat ini kebanyakan anak muda tidak membaca puisi kecuali di internet. Denny JA melihat peluang itu untuk menyosialisasikan karya-karya puisinya. Dan dia berhasil memkampanyekan temuan barunya itu (puisi esai) melalui website yang diakses oleh banyak orang.

Para penghujat seharusnya melihat dan menghargai sisi ini. Bukan melulu mempersoalkan bahwa dia bukan sastrawan, atau orang baru di dunia sastra, dan seterusnya. Apakah dunia sastra begitu sakralnya sehingga “orang luar” tidak boleh menulis puisi. Rupanya bagi mereka itu, persoalan Denny JA ialah dia bukan saja “orang luar” yang menulis puisi tapi juga “orang luar” yang sangat gegabah mengubah bentuk puisi yang sudah mapan. Bagi kami Tim 8, puisi-puisi esai Denny JA telah mencapai bentuk yang otonom sebagai sebuah karya yang memiliki estetika yang berbeda dengan puisi lirik. Sebagai bukti bahwa inovasi itu telah absah sebagai sebuah karya yang otonom ialah lahirnya buku-buku puisi esai dari penulis lain (saat ini telah terbit 10 buku puisi esai).

Tim 8 memilih Denny JA karena sesuai dengan kriteria yang dibuat, terutama kriteria nomor 4 yaitu: “Dia menempati posisi pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, dan akhirnya menjadi semacam konvensi, fenomena, dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.”

Saya kira sastrawan jenis ini tidak terlalu banyak. Kita bisa menyebut Chairil Anwar yang melawan konvensi bahasa Melayu ala Amir Hamzah yang notebene Raja Penyair Pujangga Baru. Kemudian WS Rendra yang mengembalikan puisi dari kata ke bahasa. Lalu Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari makna, dan sedikit nama lainnya. Denny JA membuat inovasi baru dalam penulisan puisi yang menurut John Barr, seorang pengamat sastra Amerika, sudah puluhan tahun tidak mengalami perubahan berarti. Denny JA mengembalikan puisi dari kalangan elit penyair ke pangkuan khalayak. 

Jika dulu orang berpegang pada ungkapan Chairil Anwar: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian.” Maka sekarang, melalui kredo puisi esainya, Denny JA menyeru: “Yang bukan penyair pun boleh ambil bagian”. Dulu tidak terbayang bahwa pengacara, hakim, pengusaha, politisi, dsb, menulis puisi karena mereka bukan penyair. Sekarang, seperti seruan Denny JA, mereka dapat menulis puisi berdasarkan problem yang mereka temukan dalam profesinya masing-masing. Puisi esai membuka kemungkinan untuk itu, karena puisi esai pada dasarnya “cara baru beropini” melalui karya sastra.

Penutup

Tulisan ini tidak hendak membela Denny JA sebagai pribadi, melainkan meluruskan hujatan dan fitnah keji yang menimpa Tim 8. Denny JA dipilih karena dia memang layak. Dan Tim 8 tidak dibeli untuk menentukan pilihan itu. Semua nama yang dibawa oleh setiap anggota Tim 8 ke dalam forum diperdebatkan secara bebas dan bertanggungjawab, dalam arti bisa dijelaskan dengan argumen proporsional, tidak mengada-ada. Tapi sejak awal kami memang menyadari bahwa apapun yang kami hasilkan pasti akan menimbulkan kontroversi. Hanya saja, yang tidak kami bayangkan ialah munculnya hujatan dan cercaan yang sama sekali di luar batas nilai-nilai kebudayaan sastra.

Belum lama ini sastrawan yang karyanya tidak dipilih sebagai juara oleh tim juri Katulistiwa Literary Award (KLA) marah-marah dan menggugat keabsahan dewan juri. Polemik merebak di jejaring sosial. Sampai-sampai ada sastrawan yang menulis bahwa para juri pemilihan itu sama sekali tidak bermutu. Pilihan mereka menunjukkan rendahnya selera mereka terhadap sastra, lemahnya pengetahuan mereka, dan kurangnya wawasan mereka. Begitu dia menggugat dewan juri. Lucunya, juri KLA yang kemarin lusa digugat itu kini justru mengolok-olok kami (Tim 8). Rupanya dia sudah lupa bagaimana rasanya sebagai juri yang dihujat dan dicurigai.

Menanggapi polemik tersebut, Richard Oh yang menyelenggarakan acara tahunan KLA tersebut menulis di akun Twitternya pada 27 November 2013, Pukul 12.05 AM, sbb: “Salah satu ketidakmajuaan sastra kita di dunia rupanya bukan pada kurangnya karya-karya bagus, tapi semangat sikut-menyikut antarsastrawan.”

Sesungguhnya saya berharap bahwa apa yang dikatakan Richard Oh itu tidak benar. Dan dengan ini saya tutup artikel ini, semoga dapat memberi penjelasan memadai sehingga tidak ada lagi fitnah dan hujatan kepada Tim 8 yang telah bersusah payah menyusun buku ini. Terima kasih.

* Anggota Tim 8 Penyusun Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Sumber: admadgaus.wordpress.com

Heboh Tokoh Sastra: Seandainya Denny J.A. Sedikit Lebih Sabar

Monica Anggi Puspita (Dok pribadi Monica)
Oyos Saroso H.N.

Seandainya nama Denny J.A. tidak masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh barangkali dunia sastra Indonesia tidak seheboh sekarang.

Denny J.A. kemungkinan besar akan mendapatkan apresiasi yang baik—tanpa melalui upaya pemasifan dengan menggencarkan pola pemasaran—dan diterima oleh kalangan sastrawan Indonesia. Denny pun, bisa jadi, suatu saat akan benar-benar menjadi tokoh sastra berpengaruh di Indonesia.

Peluang Denny J.A.untuk bisa diterima secara ‘alami’ sebagai sastrawan atau setidaknya ‘penulis puisi esai’ sudah tampak, misalnya, dengan banyaknya pelaku sastra Indonesia mau terlibat dalam kerja-kerja Denny untuk memasyarakatkan karyanya yang diklaim sebagai puisi esai itu. Sejumlah penyair senior mau memberikan komentar untuk buku barunya (artinya mereka melegitimasi Denny JA sebagai penyair yang melahirkan puisi esai--OSHN). Beberapa penulis karya sastra yang lebih muda pun banyak yang mendukung Denny.

Bahkan, di Yogya—kota pertama kali ada sastrawan berteriak lantang ketika nama Denny masuk dalam buku 33 Tokoh Sastrawan Indonesia Paling Berpengaruh—pada tahun lalu nama Denny JA sudah mulai dikenal sebagai penulis puisi esai yang diperhitungkan. Selain (mungkin) karena buku puisi esainya yang baru diluncurkan, pada 18-19 Januari 2013 ada pementasan teater monolog (panitia menyebutnya sebagai monoplay) cukup meriah di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta dengan naskah berjudul “Bunga Kering Perpisahan”. Naskah  tersebut ditulis Monica Anggi Puspita (mahasiswa dari Jakarta) dan dimainkan oleh artis Olivia Zalianty.

Menurut www.gudeg.net (18 Januari 2013), gadis itu menulis naskah drama setelah terinspirasi puisi-esai Denny JA.Dengan judul “Ketua Senat yang Hobi Nulis Naskah”, www.gudeg.net menulis teras berita seperti ini: Menjadi penulis naskah termuda di Teater Monoplay membuat Monica Anggi Puspita merasa terhormat. Itu karena karyanya  bersanding dengan penulis naskah senior seperti Indra Tranggono, Isti Nugroho, Simon Hate, Toto Raharjo dan Denny JA yang mengembangkan puisi esai dan kemudian digarap menjadi aneka pertunjukan baik film pendek maupun teater.

Di bawah teras berita, www.gudeg.net menulis: “Inovasi semacam ini membuat Monica bersemangat menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk membuat naskah teater bedasarkan buku karya Denny J.A. berjudul Atas Nama Cinta. Naskah ini saya buat bedasarkan puisi esai karangan beliau (Denny J.A)," kata Monica.

Dari berita-berita media online publik akan mudah tahu tahu bahwa pementasan naskah teater yang ‘terinspirasi’ oleh buku puisi-esai karya Denny JA sukses. Setidaknya, banyak penontonnnya dan mendapatkan liputan yang memadai di media massa. Beberapa seniman juga menulis ulasan pementasan itu di media online dan blog. Penulis karya sastra Odi Shalahuddin, misalnya, menulis ulasan pementasan yang lumayan panjang di blog www.odishalahudin.wordpress.com.

Ketika buku 33 Tokoh Sastrawan Indonesia Paling Berpengaruh terbit dan masuknya nama Denny menjadi polemik, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang baru menerbitkan buku puisi-esai Imaji Cinta Halima (12 November 2013) Novriantoni Kahar, pun menulis 'semacam' pembelaaan untuk Denny di www.inspirasi.co. Tulisan Novriantoni tersebut tak lama kemudian dihapus dari www.inspirasi.co, tetapi sempat diselamatkan redaksi www.teraslampung.com.

Sedikit fakta itu setidaknya bisa memberi gambaran bahwa Denny J.A. juga memiliki pendukung di dunia sastra Indonesia. Meskipun ia melakukan 'penggemparan'—meminjam istilah Afrizal Malna—tetapi gaungnya mungkin tidak akan sedahsyat ketika namanya masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Mungkin sebuah kebetulan atau memang sudah dirancang sebelumnya, peluncuran buku yang menghebohkan tersebut bertepatan dengan ulang tahun ke-51 pria asal Palembang bernama asli Denny Januar Ali itu.

Sumber data:

1. http://gudeg.net/id/news/2013/01/7321/Ketua-Senat-yang-Hobi-Nulis-Naskah.html#.Ut4ReLSyTIU

2. http://www.extratravel.co.id/component/content/article/3-jogja-events/185-olivia-zalianty-bermain-monoplay-di-jogja.html
3. http://odishalahuddin.wordpress.com/2013/01/22/membangkitkan-sejarah-yang-ditenggelamkan-untuk-melawan-lupa/

Surat Eko Tunas untuk Halim Hade: Puisi Esai*

Eko Tunas (dok FB Eko Tunas)
Maafkan, saya terpaksa berkabar tentang puisi esei, Lim, satu istilah yang kini sedang ramai dibicarakan. Terlebih, model ‘puisi panjang’ dan berisi pemikiran penyairnya tentang persoalan-kehidupan nyata, seakan baru ada pada 2013 ini dan dilahirkan oleh seorang penyair dadakan. Saya hanya mau mengingatkan, di 1975-an, di Yogya puisi model itu sudah marak, lalu dalam perjalanan waktu mempengaruhi puisi penyair se-Nusantara.

Entahlah, mungkin dimulai dari Rendra, yang harus diakui menyebarkan virus melalui puisi-puisi ‘baladanya’. Seperti sebutlah puisi: Rick Dari Corona, Khotbah, Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Dari konteks yang lebih sosial-politik, Simon Hate muncul dengan puisi-puisi eseinya. Sungguh dalam satu diskusi pembacaan puisi-puisinya bersama Joko Kamto, Simon menyebut puisi-puisi dia dan Joko Kamto sebagai puisi esei.

Bahkan, dalam diskusi yang cukup serius itu, Simon menegaskan satu teori mengejutkan. Bahwa, menurutnya, puisi yang baik ialah puisi-esei, puisi yang mengandung esei, berisi pemikiran intelektual-kontekstual penyairnya. Bukan soal panjangnya, tambah Simon, tapi puisi paling pendek sekalipun mesti berupa puisi-esei. Sebab, tegasnya, puisi panjang atau pendek, membutuhkan pengalaman membumi dan keilmuan umum.

Di samping Simon Hate atau Joko Kamto, bukankah kau menerbitkan puisi-puisi senapas? Misalnya “Nyanyian Gelandangan” Emha Ainun Nadjib, kalau tidak salah melalui penerbit Rajawali Pers. Juga puisi-puisi Wiji Tukul, meski kau terbitkan fotokopian Lalu melalui beberapa buletin Yogya, bermunculan puisi-puisi senapas dari berbagai kota. Dari situ tertampunglah puisi-puisi esei yang tidak bakal dimuat di mediamasa formal.

Tak disangka, dari puisi baladanya, muncul puisi esei terpanjang Rendra, yang pernah menjadi sisipan satu majalah terbitan Jakarta. Saya lupa judulnya, satu puisi yang berbicara tentang kondisi sosial-politik rezim Orde Baru, dalam metafora “Anak”. Satu embrio, yang menurut saya cikal-bakal lahirnya puisi-puisi pamplet Rendra. Bahkan, dari Tegal, puisi-puisi karya Nurhidayat Poso senapas puisi-pusi Simon, Emha, atau Rendra.

Sebagai ilustrasi tambahan, saya pun terpengaruh model puisi Simon, dan puisi inilah yang saya sertakan dalam Forum Penyair 1978 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Salah satunya yang saya bacakan berjudul “Sajak Lawan Kosong”, dan “Katakanlah Saudaraku” (dimuat di majalah Refleksi Yogya). Dalam obrolan di luar forum saya dengar Sutardji Calzoum Bachri meledek: puisi apa itu, puisi kok kayak artikel.

Kemudian puisi-puisi itu saya bacakan di rumah Rendra, dan Rendra menyatakan suka, sambil mengutarakan mengenai puisi yang berpikir. Di hadapan Hamsad Rangkuti dia bilang, agar pusi saya dikirim ke Horison. Usul Rendra saya lakukan, tapi pada kenyataannya tidak pernah dimuat. Satu hal, puisi jenis ini memang tersingkir, dunia sastra di mediamasa lebih diwarnai puisi-puisi yang menurut istilahmu: 'puisi gelap'.

Di atas ketersingkiran, terkalahkan oleh struktur dan sistem, mendadak muncul puisi sejenis. Puisi ini ditasbihkan sebagai pelopor puisi esei, oleh tim juri, guna mendongkrak nama si penyair. Satu nama baru dalam dunia sastra tapi punya uang, untuk menerbitkan buku lux, dan membayar kritikus bertaraf nasional. Bukankah jelas-jelas disamping sebagai praktek kapitalistik, ini adalah tindakan senyatanya pencurian karya intelektual.

Saya yakini, Lim, bahwa puisi penyair Yogya 1975-an, Rendra, Emha, hingga Wiji Thukul itulah yang dimaksudkan Simon sebagai puisi-esei. Belum lagi, dalam konteks yang berbeda, terbitnya buku puisi dalam satu judul, karya Linus Suryadi Ag, “Pengakuan Pariyem”. Baiklah, Lim, saya hanya berkabar saja, sambil mengingatkan soal etika. Bahwa, penasbihan pelopor puisi esei di 2013 bisa jadi melakukan pembenaran temuannya.

Tapi, menurut saya, kebenaran saja tidak cukup, dalam pembenaran mesti ada riset dan etika, satu hal penting dalam dunia intelektual atau kepenyairan.

Salam dari saya,

Eko Tunas



* Eko Tunas adalah penyair, pekerja seni, tinggal di Semarang

Wednesday, January 8, 2014

Inilah yang Membuat Denny JA Jadi Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh


Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG--Selain naiknya harga gas elpiji, awal 2014 juga diramaikan dengan heboh sastra. Kehebohan terjadi setelah peluncuran buku "33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia", pada Jumat pekan lalu (3/1/2014) di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta. 


Buku baru sebenarnya lumayan mentereng: tebal, cetakannya bagus, diterbitkan penerbit top, dan peluncurannya dihadiri para sastrawan dan pencinta sastra.

Salah satu pemicu kehebohan adalah bertenggernya nama Denny J.A., seorang ahli survai opini publik, dalam buku tersebut. Delapan juri yang terdiri atas para sastrawan memasukkan nama Denny JA karena Denny dianggap memenuhi syarat sebagai tokoh sastra Indonesia yang sangat berbepengaruh di Indonesia.

Empat kriteria dijadikan acuan untuk menetapkan tokoh sastra Indonesia berpengaruh. Pertama, pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional. Kedua, pengaruhnya berkesinambungan, tidak menjadi kehebohan temporal atau hanya sezaman.

Ketiga, tokoh itumenempati posisi kunci, penting dan menentukan. Keempat, tokoh itu sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau penentang.

Sementara beberapa pengritik menilai masuknya Denny sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sastra Indonesia sebagai hal yang aneh. 

Salah satu yang menjadi pertimbangan juri dalam menetapkan Denny sebagai tokoh adalah karya-karya 'puisi esai' yang ditawarkan pria beramput keperakan itu. Denny dianggap berjasa memasyarakatkan 'puisi esai' sebagai genre baru dalam sastra Indonesia.

Seperti apa 'puisi esai' itu? Berikut ini contoh 'puisi esai' karya Denny yang diambil dari website pribadi Denny J.A. Seolah ingin memperjelas puisinya, Denny pun menulis catatatan kaki di bawah puisinya. Benar-benar 'genre baru' sastra Indonesia...


Sapu Tangan Fang Yin

/1/

Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu,
tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu.
Korek api di tangan, siap membakarnya
menjadi abu masa lalu.

Namun, sebelum api menjilat, hatinya bergetar;
Ditiupnya api itu – terdiam ia dalam senyap malam.
Dibukanya jendela kamar: kelam langit Los Angeles
Yang dihuninya sejak 13 tahun lalu.

Terlintas ingatan minggu pertama di kamar ini
Ketika setiap malam ia menangis;
Ya, panggil saja ia Fang Yin – hamparan rumput harum artinya.
Nama sebenarnya dirahasiakan, menunggu sampai semua reda.

Waktu itu usianya dua puluh dua
Terpaksa kabur dari Indonesia, negeri kelahirannya
Setelah diperkosa segerombolan orang
Tahun 1998, dalam sebuah huru-hara.

Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin kepada dirinya sendiri.
Ribuan keturunan Tionghoa1 meninggalkan Indonesia:
Setelah Mei yang legam, setelah Mei yang tanpa tatanan
Setelah Mei yang bergelimang kerusuhan.2

/2/

Hari itu negeri berjalan tanpa pemerintah
Hukum ditelantarkan, huru-hara di mana-mana
Yang terdengar hanya teriakan
Kejar Cina! Bunuh Cina! Massa tak terkendalikan.

Langit menghitam oleh kobaran asap
Dari rumah-rumah dan pertokoan –
Semua terkesima, tak ada yang merasa siap
Melindungi diri sendiri dari keganasan.

Ada keluarga yang memilih bunuh diri
Di hadapan para penjarah yang matanya bagai api
Yang siap menerkam; yang siap merampas apa saja
Yang siap memperkosa perempuan tak berdaya.

Apa arti Indonesia bagiku? bisik Fang Yin
Kepada dirinya sendiri, yang hidupnya telah dirampas
Yang tak lagi bisa merasakan sejuknya angin
Sebab kebahagiaannya tinggal ampas.

Waktu itu terdengar anjing melolong panjang
Seperti minta tolong aparat keamanan;
Mereka melemparkan binatang itu ke kolam
Menggelepar-gelepar: airnya pun memerah.

/3/

Fang Yin sekeluarga mengungsi ke Amerika
Bersama sejumlah warga keturunan Tionghoa;
Mereka tinggal berdekatan di New York, Philadelphia,
Los Angeles, New Jersey – bagaikan perkampungan Indonesia.

Minggu-minggu pertama di AmerikaFang Yin belum sadar apa sebenarnya yang terjadi
Raga dan jiwanya lemah, perlu pemulihan dari dahsyatnya trauma,
Ke mana pun ia pergi, orang tuanya dan seorang psikolog mendampingi.
Setelah tiga bulan hidupnya menjadi normal.

Ia pun ikut kursus bahasa Inggris, ingin meneruskan kuliah.
Namun Fang Yin sudah berubah –
Ia tak lagi ceria, suka menyendiri saja.

Ketika seorang pemuda Korea mendekatinya
Fang Yin malah menjauh, khawatir kalau-kalau tak berbeda
Dengan Kho, pacarnya dulu di Jakarta,
Yang meninggalkannya setelah tahu ia diperkosa.

13 tahun sudah ia di Amerika, tumbuh keinginannya
Untuk pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia;
Waktu itu usianya menginjak tiga puluh lima
Ia ingin memulai hidup baru, membangun keluarga.

Ingin punya suami, ingin punya anak
Rindu kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan
Rindu teman-teman remaja, rindu masa-masa menghabiskan waktu
Jalan-jalan dan bercanda ria di Mal Citraland.

Tapi kemarahannya pada Indonesia masih menyala
Trauma diperkosa masih berujud horor baginya.
Fang Yin membatalkan niatnya untuk kembali
Baginya Indonesia masa silam yang kelam

Kenangan pada Kho membekas di benaknya.Tak ia ketahui di mana kini pemuda itu berada.
Dibukanya secarik surat yang sejak 12 tahun lalu
Akan dikirimkannya ke pemuda itu, tapi selalu dibatalkannya.

Kho, apa kabarmu
Aku sendiri di sini
Dulu katamu akan menemaniku
Terutama di kala susah
Itu sebabnya kuterima cintamu
Aku sangat susah hati, Kho
Aku ingin dengar suaramu.

Ia sering coba menghubunginya lewat telepon
Tak pernah ada jawaban, bagai raib begitu saja.
Mungkin Kho juga mengungsi, tapi entah ke mana
Fang Yin tidak pernah tahu lagi tentangnya.

Satu-satunya kenangan dari Kho
Yang sampai sekarang masih disimpannya
Adalah selembar sapu tangan
Yang saat ini ia genggam erat-erat, merisaukannya.

/4/

Ingin ia bakar selembar kenangan itu
Saksi satu-satunya, sisa trauma masa lalu
Selama ini disimpannya diam-diam setangan itu

Tak ingin ada orang lain mengganggu.
Ditatapnya kembali sapu tangan itu
Ia sentuh permukaannya, masih terasa
Bekas air mata yang tetes demi tetes membasahinya dulu
Bagian abadi dari hidupnya.

Setahun lalu psikolognya, warga Amerika, bilang
Ia nyaris sembuh. Dan akan lengkap sembuhnya
Jika ia ikhlas menerima masa lalu yang telah hilang
Sebagai bagian dari permainan nasib manusia.

Kepada psikolog itu Fang Yin berhutang nyawa.
Beberapa kali perempuan itu nyaris bunuh diri
Tetapi karena ia menemaninya setiap hari
Jiwa anak keluarga kaya itu pun beranjak sembuh kembali.

Ia ulang-ulang mantra psikolog itu,
Ia coba pahami apa yang ada di balik kata-katanya:
Terimalah kenyataan apa adanya!
Berdamailah dengan masa lalu.

Di bulan ke empat, ia mulai rasakan khasiat
Masa lalu tidak lagi menjadi bom di kepala
Namun kenangan itu bagai tawon yang tak henti menyengat
Tidak dengan mudah minggat.

/5/

Ditatapnya kembali sapu tangan itu:
Tampak tayangan sinema di permukaannya:
Tergambar rumahnya di Kapuk, Jakarta Utara
Sebuah bangunan yang tinggi temboknya.

Berjajar di samping rumah-rumah lain
Yang pagarnya seakan berlomba
Mana yang paling tinggi, mana yang paling kokoh.
Semua dihuni warga keturunan Tionghoa.3

Namun, tembok setinggi apa pun
Ternyata tak mampu mengamankannya
Tak mampu membendung gelombang huru-hara
Yang membakar Jakarta.

Hari itu Selasa 12 Mei 1998.
Fang Yin tidak kuliah, di rumah saja;
Ia hanya menonton televisi
Semuanya menyiarkan berita itu-itu juga.

Mimbar bebas di kampus-kampus
Unjuk rasa di mana-mana
Menuntut Soeharto turun
Dianggap tak mampu pulihkan ekonomi negara.

Perusahaan-perusahaan gulung tikar
Pengangguran merajalela
Harga barang-barang pokok melambung
Nilai rupiah semakin terpuruk.

Gerakan mahasiswa yang mula-mula hanya unjuk rasa
Gerakan Reformasi mula-mula namanya
Segera berubah menjadi gelombang besar demonstrasi
Tak bisa dibendung lagi.

Sore hari, Selasa 12 Mei
Di depan Universitas Trisakti
Empat mahasiswa tewas tertembak:
Malam pun mencekam, gejolak merebak.

Rabu 13 Mei 1998
Ribuan mahasiswa berkumpul
Di Universitas Trisakti
Duka cita berbaur teriakan kerumunan massa.

Tak diketahui dari mana rimbanya
Siang hari semakin dipenuhi massa
Dan, tiba-tiba saja, sekelompok orang
Membakar ban-ban bekas di tengah jalan.

Asap hitam pun membubung tinggi
Truk yang melintas dihentikan massa
Dan teriakan bergema, semakin liar:
Bakar! bakar!

Massa bagai kerumunan semut
Merangsek ke tengah-tengah kota
Turun dari truk-truk yang muncul tiba-tiba
Entah dari mana datangnya.

Teriakan pun berubah arahnya
Dan terdengar Bakar Cina! Bakar Cina!

Gerombolan yang tegap dan gagah
Menyisir toko, kantor, dan pemukiman Tionghoa.

Mereka memasuki rumah-rumah kaum sipit mata
Menyeret para penghuninya, menghajar para pria
Memperkosa perempuannya. Dan semakin siang
Semakin tak terbilang jumlahnya.

Ditemani seorang pembantu, Fang Yin menyaksikan
Adegan demi adegan horor itu di televisi. Ketakutan menyergapnya!
Ia telepon ayahnya di kantor, tak bisa pulang
Jalanan dipenuhi massa, tak terbilang.

/6/

Hantu yang ditakutinya pun menjelma –
Didengarnya suara-suara memekakkan telinga
Segerombolan orang merusak pagar rumahnya
Mereka masuk dan membunuh anjing herdernya.

Pembantunya sempat berteriak, lalu terkapar
Oleh para berandal itu ia dihajar.
Fang Yin lari mengunci diri di dalam kamar
Berteriak, melolong, meminta tolong.

Tak ada yang mendengar. Mungkin tetangganya
Juga tengah menghadapi ketakutan yang sama.
Pintu kamar Fang Yin didobrak, masuklah lima pria
Bertubuh tegap – ke ranjang mereka menyeretnya.

Rambutnya dijambak
Pakaiannya dikoyak-moyak
Dan dengan kasar
Mereka pun memukul, menampar.

Fang Yin pun menjerit, mohon ampun,
Jangan…Jangan…
Saya punya uang.
Ampun. Jangan.

Bagai sekawanan serigala mereka:
Seseorang memegang kaki kirinya
Seorang lagi merentang kaki kanannya
Yang lain menindih tubuhnya.

Wahai, terenggut sudah kehormatannya!
Yang lain bersiap menunggu giliran
Ganas seringainya, tak ada belas
Bagi seorang perawan.

Fang Yin meronta sebisa-bisanya
Berteriak sekuat-kuatnya
Bergerak-gerak mempertahankan kehormatannya
Memukul, menjambak sekenanya.

Di antara sakit dan cemas yang tiada taranya
Sempat didengarnya para berandal tertawa
Melahapnya: Hihihihi, hahahaha
Fang Yin pun kehilangan kesadarannya.

/7/

Fang Yin, ya, Fang Yin yang malang –
Ketika dibukanya mata
Didapatinya dirinya terbaring
Di rumah sakit.

Saat itu Kho, pacarnya, datang menjenguk
Memberinya sapu tangan;
Fang Yin menghapus tetes air matanya –
Sapu tangan itulah yang setia menyertainya.

Tersimpan di sapu tangan itu tetes air matanya yang pertama
Tetes air matanya yang kedua
Tetes air matanya yang kesepuluh
Tetes air matanya yang keseribu

Tersimpan pula di sana malam-malamnya yang sepi
Ketika ia meminta Tuhan membuatnya mati saja
Ketika ia merasa diri lunglai, tak lagi bertulang
Sapu tangan itu merekam seperti buku diary.

Rina, sahabat dekatnya, membelainya
Yang menyertai Kho menjenguknya.
Rina sangat memahaminya,
Rina banyak membantunya.

Infus mengalir di sebelah tangannya
Ayah dan ibunya menangis memeluknya;
Fang Yin mengingat-ingat apa yang terjadi
Membayangkan apa yang telah dialami.

Memar tersebar di sekujur tubuh
Dan teringatlah: ia telah diperkosa!4
Fang Yin menjerit kuat sekali
Seisi rumah sakit mendengarnya,

Tolong…tolong…
Ampun, ya Tuhan
Tolong aku
Ampun, ampun…

/8/

Jakarta lautan api! Di mana pula aparat keamanan?
Tak tampak sama sekali.
Kerusuhan pun menjalar liar
Bagaikan api, bagaikan ular.

Warga Jakarta terkesima.
Begitu banyak orang-orang datang
Begitu saja, entah dari mana
Tak ada yang kenal mereka.

Didrop truk di lokasi tertentu
Mereka kekar dan tegap –
Mereka merusak, mereka membakar,
Mereka menjarah – dan massa pun terpancing.

Dan ketika kerumunan semakin banyak
Dan ketika tak ada lagi aturan yang tegak
Para penjarah meninggalkan lokasi –
Massa pun mengamuk tanpa sebab yang pasti.

Mereka berebut menjarah, saling mendahului
Tunggang-langgang, tindih-menindih terjebak api
Dalam bangunan yang menyala-nyala
Terpanggang hidup-hidup – dan tewas sia-sia.5

/9/

Fang Yin dan keluarga tidak paham politik
Apa lagi masalah militer.6
Mereka cari nafkah berdagang saja
Dan ketika bingung, tak tahu harus mengadu ke mana.

Bumi Indonesia gonjang-ganjing, langit berkilat-kilat
Sedangkan Presiden Soeharto berada di Mesir sana;
Situasi menjadi semakin parah
Menanti Sang Presiden kembali.

Tahun 1998, tanggal 15 Mei
Pukul 4.30 dini hari
Soeharto menyatakan tak bersedia mundur;
Ketegangan memuncak, ketenteraman pun hancur.

Warga Tionghoa yang mulai tenang
Kembali khawatir kalau huru-hara kembali datang;
Mereka jual barang-barang mereka, banting harga
Bersiap-siap hengkang ke mancanegara.

Di rumah sakit, Fang Yin masih terbaring lemah.
Ia menduga kerusuhan akan kembali terjadi
Dan orang-orang tegap yang brangasan
Akan memperkosanya lagi.

Papi, apa salah saya? Kenapa saya diperkosa?
Apa salah saya, Papi?
Ayahnya tak menjawab,
Dipeluknya anaknya erat-erat.

Kho, pacarnya, terdiam dan mulai dingin sikapnya.
Fang Yin menjerit-jerit –
Seorang guru spiritual coba menghentikannya
Mengajarkan keikhlasan Konghucu.

Disampaikannya hakikat shio;
Fang Yin adalah gadis Naga, dan 1998 adalah Macan –
Naga kurang beruntung di tahun itu
Dan harus menerima dengan dada terbuka.

Diuraikannya prinsip Ren Dao
Ajaran tentang hubungan antarmanusia;
Ya, sebuah kitab kecil, Kitab Meng Zi:
Dan dibacakannya,

Dengarkan:
Yang tidak susila jangan dilihat
Yang tidak susila jangan didengar
Yang tidak susila jangan dibicarakan.

Dengan penuh kasih dipegangnya kening Fang Yin
Ia tatap matanya, dialirkannya enerji,
Ditumbuhkannya semangat hidup,
Dan dengan tenang dikatakannya,

Fang Yin, Ini bencana sudah terjadi
Lupakan saja. Mulailah hidup baru –
Keikhlasan akan mengalahkan kemalangan
Keyakinan akan mengalahkan derita.

Di televisi rumah sakit, Fang Yin mendengar diskusi:
Dalam sejarah Indonesia, warga Tionghoa
Acap jadi korban amuk massa.7
Uhhhh… Fang Yin tidak paham sejarah.

/10/

Demikianlah seminggu setelah peristiwa
Fang Yin dan keluarga terbang ke Amerika;
Bukan karena tidak cinta Indonesia, kata ayahnya,
Tetapi keadaanlah yang telah memaksa.

Ayah bercerita tentang kerabat kakek buyut mereka
Pejuang kemerdekaan, sahabat Bung Karno;
Sie Kok Liong namanya
Pemilik Gedung Kramat 106.

Di gedung itu dulu diselenggarakan Kongres Pemuda
Yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928;
Apa gerangan arti Indonesia bagi Fang Yin dan keluarganya?
Mereka harus hengkang demi keselamatan jiwa.

/11/

Kini 13 tahun setelah musibah itu
Fang Yin mendengar Indonesia sudah stabil kembali;
Beberapa warga keturunan Tionghoa menjadi menteri
Tradisi Imlek diberi hak hidup seperti dulu lagi.

Barongsai bebas melanggak-lenggok,
Koran berbahasa Cina sudah boleh beredar
Program berbahasa Cina ditayangkan di televisi.
Agama Konghucu sudah diakui.8

Komunitas Tionghoa Indonesia di manca negara
Kadang jumpa, berbagi cerita tentang Imlek dan segala rupa;
Sudah banyak yang ganti negeri
Menjadi warga Amerika, Singapura, dan lain-lainnya.

Tampaknya, bagi mereka Indonesia adalah masa silam
Yang kelam hitam;
Namun, Imlek masih tetap menyatukan mereka
Walau berbeda agama dan negara.

Ayah Fang Yin teguh pendirian
Pantang jadi warga negara lain;
Kepada Fang Yin ayahnya sering berpesan
Dan mewanti-wanti,

Fang Yin, kau anak Indonesia sejati
Jangan pindah menjadi warga lain negeri.
Ayahnya mendapatkan rezeki di Indonesia
Pada waktunya harus kembali ke sana.

Dan ia tentu saja marah ketika diketahuinya
Fang Yin sudah pindah warga negara;
Paspor Amerika Serikat sudah di tangannya,
Prosesnya dibantu oleh seorang pengacara.

Fang Yin banyak diberi tahu ayahnya tentang Indonesia
Agar tumbuh kembali cinta tanah airnya
Negeri yang sejak dulu mereka bela –
Sejak zaman pergerakan yang melibatkan buyutnya.

Fang Yin adalah gadis yang rajin membaca:
Perpustakaan menyediakan segala macam buku,
Buku menyediakan segala macam ilmu,
Dan ilmu akan bisa mengubah manusia.

Tetapi gadis itu sudah pasti dengan dirinya
Tak ingin melihat Indonesia lagi;
Ayahnya sudah putus asa
Meyakinkan Fang Yin untuk kembali.

Dan ketika Ayah pulang ke Indonesia
Fang Yin tetap berkeras hati
Untuk tinggal di Amerika Serikat sendiri –
Budaya modern pegangannya, kebebasan sandarannya.

Fang Yin suka perlindungan hukum
Itu sebabnya ia marah kepada Indonesia;
Fang Yin tak suka kekerasan
Itu perkara ia benci Indonesia.
Namun, karang pun bisa goyah oleh ombak besar:

Samudra bisa menjadi padang pasir
Apa yang tak berubah di bawah Matahari?
Nasihat ayahnya sudah begitu dalam berakar.

Amerika hanyalah tempat sementara untuk singgah
Tapi kita lahir di Indonesia, jadi mati sebaiknya di sana –
Luka masa silam harus dilawan
Cinta Ibu Pertiwi harus ditumbuhkan.

Dan selangkah demi selangkah, dengan susah payah
Kemarahan Fang Yin pun mulai reda
Walau kesedihan atas huru-hara itu
Masih membayang seperti hantu.

Fang Yin mulai tumbuh jati diri
Bertahun buku filsafat, sastra, agama, politik dilahapnya;
Ilmu pengetahuan memahatnya
Derita panjang masa silam justru melezatkan sikap hidupnya.

Dan sesudah tiga belas tahun berlalu
Fang Yin mulai merasakan rindu.
Terkenang kampung halaman, masa remaja di Jakarta;
Tak sadar, disebutnya nama Albert Kho, cinta pertamanya.

Di manakah engkau kini, pujaan hatiku?
Sejak kepindahannya ke Amerika,
Mereka tak pernah lagi menjalin hubungan;
Hanya sapu tangan itu yang kini tersisa.

Selentingan ia dengar kabar, Kho sudah berkeluarga
Rina nama istrinya, dulu sahabat kental Fang Yin –
Ia juga seorang keturunan Tionghoa;
Keduanya telah menjadi Muslim dan Muslimah.

Terbayang olehnya saat Kho dan Rina
Menjenguknya di rumah sakit dulu;
Fang Yin hanya bisa diam, menyimpan kepedihan
Ditinggal orang yang sudah sangat lekat di hati.

/12/

Fang Yin kembali berlutut di hadapan sapu tangan,
Korek api ia nyalakan –
Ingin dibakarnya sisa kenangan pacarnya dulu:
Masa silam harus segera dihapus dari ingatan.

Albert Kho harus pula aku lupakan, katanya.
Tangan yang memegang korek kembali gemetar;
Ia ketakutan, seolah api itu akan menghanguskan dirinya;
Dan api pun tak jadi berkobar.

Fang Yin menangis.
Mula-mula perlahan, lama-lama semakin mengiris –
Ditahan-tahankannya
Agar tak ada orang lain mendengar.

Ia nyalakan lagi korek api –
Dan tanpa pikir panjang, ia bakar sapu tangan itu;
Api menyala, sapu tangan terbakar
Ia melihat seluruh dirinya yang lama menjadi abu.

Masa silam terbakar,
Derita panjang ikut terbakar,
Cinta pada Kho terbakar
Cemburu pada Rina pun lenyap terbakar.

Dan kemarahannya pada Indonesia?
Terbakar sudah, bagai ritus penyucian diri;

Semesta seolah berhenti
Waktu senyap – lama sekali.
Dan sapu tangan pun jadi seonggok abu.

Fang Yin merasa lahir kembali
Jadi perempuan yang sama sekali baru
Bersih dari kengerian masa lalu.
Air mata menetes mengiringi api,

Sapu tangan tak ada lagi.
Ia kini berhasil berdamai dengan masa silam
Ia kini berhasil menjadi Fang Yin yang baru.

Khusyuk ia berdoa: Ya Tuhan, tumbuhkan keberanian
Aku berniat kembali ke Ibu Pertiwi
Ijinkan kuhabiskan sisa hidup di sana
Tanah yang melahirkanku, jadikan juga tanah yang nanti menguburku.

/13/

Apa arti Indonesia bagi Fang Yin?
Lahir di sana tak ia minta
Ketika trauma masih menganga
Indonesia hanya kubangan luka.

Kini ia melihat Indonesia dengan mata berbeda
Negeri itu menjadi cermin dirinya yang terus berubah
Ia ingin seperti buyutnya
Lahir, cari nafkah, berjuang lalu mati di sana.

Indonesia masuk lagi dalam kalbunya
Seperti nyiur yang melambai-lambai
Mengimbaunya untuk segera pulang!
Fang Yin merasakan rindu, menitikkan air mata.

Menurut kalender Cina, 2012 adalah Shio Naga
Akan baik peruntungannya;
Ia rindu masa remaja,
Ia rindu tempat dulu menghabiskan senja di Jakarta.

13 tahun lalu, ia datang ke Amerika
Membawa kemarahan yang sangat
Membawa dendam kesumat
Kepada Indonesia.

Kini ia ingin pulang, rindunya membara
Ia ingin Indonesia seperti dirinya: menang melawan masa lalu
Musibah dan bencana datang tak terduga
Yang penting harus tetap punya mimpi.

Ini Indonesia baru, katanya, kata mereka.
Ya, ya – niatnya pun teguh: Aku segera kembali ke sana!
Aku segera pulang ke sana!
Aku segera hidup di sana!

***

Dalam puisi ini, kata Tionghoa dan Cina merujuk pada kelompok etnis yang sama. Tionghoa diekspresikan sebagai ucapan netral. Sedangkan Cina lebih merupakan “umpatan negatif” yang dilontarkan massa dalam kisah huru-hara.

Tercatat sekitar 70.000 warga keturunan etnis Cina meninggalkan Indonesia pascakerusuhan Mei 1998 itu. Lihat, Ivan Wibowo (ed.), COKIN: So What Gitu Lho! (Jakarta: Komunitas Bambu-Jaringan Tionghoa Muda, 2008), h. viii.

Kawasan-kawasan eksklusif yang menjadi hunian warga keturunan Cina mirip dengan kebijakan penjajah Belanda di masa lalu. Mereka sengaja ingin memisahkan orang-orang Cina supaya tidak berinteraksi dengan pribumi. Sebab kalau itu dibiarkan, ia bisa menjadi kekuatan sosial yang besar dan membahayakan penjajah. Kebijakan ini disebut Wijkenstelsel di mana Belanda menciptakan pemukiman etnis Cina atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia, Era Kolonial. Anehnya, model pemukiman seperti itu tetap dilanjutkan sampai sekarang.

Pada 13-14 Mei itu, banyak gadis Cina yang bernasib sama dengan Fang Yin. Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung, Solo, Medan, Makassar dan kota-kota lain. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat 78 orang perempuan Cina menjadi korban perkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual, disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam. Korban yang meninggal dunia tercatat sekitar 1.217 orang (1.190 orang di antaranya meninggal akibat terbakar), luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. Lihat dalam Ester Indahyani Jusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom, Sondang Frishka, Kerusuhan Mei 1998 Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Jakarta: SNB dan APHI, 2007), h. 177.

Sehari setelah pecah kerusuhan 13 Mei, para jenderal pergi ke Malang untuk menghadiri upacara komando pengendalian (Kodal) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari divisi I ke divisi II. Huru-hara masih berlangsung, korban masih bergelimpangan. Ketika kerusuhan itu terjadi, Presiden Soeharto sedang berada di Kairo, Mesir, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15. Ia dengan penuh percaya diri meninggalkan tanah air pada 9 Mei 1998 karena yakin tak akan terjadi peristiwa besar seperti kerusuhan atau kudeta tentara, karena pada saat itu demonstrasi sering terjadi dan menjadi kegiatan rutin. Lihat, misalnya, Tjipta Lesmana, Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (Jakarta: Gramedia, 2009), h. 120.

Para pengamat menyebutkan, saat itu sedang terjadi rivalitas Prabowo dan Wiranto. Letjen TNI Prabowo yang pada saat itu menjabat Pangkostrad ingin mengalahkan seniornya Panglima ABRI Wiranto. Peristiwa Trisakti dituduhkan kepada Prabowo. Tapi pihak Prabowo membantahnya. Prabowo juga dituding terlalu dekat dengan tokoh-tokoh reformasi, dan ditengarai menyetujui tuntutan Soeharto mundur. Katanya, ia sedang mematangkan situasi untuk ambil alih kekuasaan. Sementara itu, Wiranto dianggap tetap menginginkan Soeharto bertahan. Maka ketika Ketua MPR Harmoko menuntut Soeharto mundur, Wiranto mengatakan bahwa itu pendapat pribadi Harmoko yang sama sekali tidak konstitusional. Begitu banyak kabar burung yang beredar. Kajian menarik menyangkut hal ini lihat, misalnya, Dian Andika Winda dan Efantino Febriana, Rivalitas Wiranto-Prabowo : Dari Reformasi 1998 hingga Perebutan RI-1 (Yogyakarta: Bio Pustaka, 2009).

Beberapa kasus kerusuhan anti-Cina yang pernah terjadi yaitu: (dikutip dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/11/riwayat-kerusahan-rasial-di-indonesia/… Lihat juga, Karta Raharja Ucu, “Tionghoa dan Sejarah Kelam Kerusuhan di Indonesia”, http://m.today.co.id/index.php?kategori=nasional&sub=nasional&detail=8182)

Bandung, 10 Mei 1963. Kerusuhan anti-Cina terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa pribumi dan non-pribumi. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota-kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.

Pekalongan, 31 Desember 1972. Terjadi keributan antara orang-orang Arab dan keturunan Cina. Awalnya, perkelahian yang berujung terbunuhnya seorang pemuda Cina. Keributan terjadi saat acara pemakaman.
Palu, 27 Juni 1973. Sekelompok pemuda menghancurkan toko Cina. Kerusuhan muncul karena pemilik toko itu memakai kertas yang bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus dagangan.
Bandung, 5 Agustus 1973. Kasus serempetan gerobak dengan mobil berbuntut perkelahian. Kebetulan penumpang mobil orang-orang Cina. Akhirnya, kerusuhan meledak di mana-mana.
Ujungpandang, April 1980. Suharti, seorang pembantu rumah-tangga meninggal mendadak. Kemudian beredar desas-desus: Ia mati karena dianiaya majikannya Cina-nya. Kerusuhan rasial meledak. Ratusan rumah dan toko milik warga keturunan Cina dirusak.

Medan, 12 April 1980. Sekelompok mahasiswa USU (Universitas Sumatera Utara) bersepeda motor keliling kota, sambil memekikkan teriakan anti-Cina. Kerusuhan itu bermula dari perkelahian.
Solo, 20 November 1980. Kerusuhan melanda kota Solo dan merembet ke kota-kota lain di Jawa Tengah. Bermula dari perkelahian pelajar Sekolah Guru Olahraga, antara Pipit Supriyadi dan Kicak, seorang pemuda keturunan Tionghoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang-orang Cina.

Surabaya, September 1986. Pembantu rumah tangga dianiaya majikannya yang keturunan Cina. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya. Mereka melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang Cina.

Pekalongan, 24 November 1995. Yoe Sing Yung, pedagang kelontong, menyobek kitab suci al-Quran. Akibat ulah penderita gangguan jiwa itu, masyarakat marah dan menghancurkan toko-toko milik orang-orang Cina.

Bandung, 14 Januari 1996. Massa mengamuk seusai pertunjukan musik Iwan Fals. Mereka melempari toko-toko milik orang-orang Cina. Pemicunya, mereka kecewa tak bisa masuk pertunjukan karena tak punya karcis.

Rengasdengklok, 30 Januari 1997. Mula-mula ada seorang keturunan Cina yang merasa terganggu suara beduk Subuh. Percekcokan terjadi. Masyarakat mengamuk, menghancurkan rumah dan toko Cina.

Ujungpandang, 15 September 1997 Benny Karre, seorang keturunan Tionghoa dan pengidap penyakit jiwa, membacok seorang anak pribumi, kerusuhan meledak, toko-toko Tionghoa dibakar dan dihancurkan.
Februari 1998 Kraksaan, Donggala, Sumbawa, Flores, Jatiwangi, Losari, Gebang, Pamanukan, Lombok, Rantauprapat, Aeknabara: Januari – Anti Tionghoa

Kerusuhan Mei 1998 Salah satu contoh kerusuhan rasial yang paling dikenang masyarakat Tionghoa Indonesia yaitu Kerusuhan Mei 1998.

5-8 Mei 1998 Medan, Belawan, Pulobrayan, Lubuk-Pakam, Perbaungan, Tebing-Tinggi, Pematang-Siantar, Tanjungmorawa, Pantailabu, Galang, Pagarmerbau, Beringin, Batangkuis, Percut Sei Tuan: Ketidakpuasan politik yang berkembang jadi anti Tionghoa.

Jakarta, 13-14 Mei 1998. Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu jadi kerusuhan anti-Cina. Peristiwa ini merupakan peristiwa anti-Cina terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sejumlah perempuan keturunan Tionghoa diperkosa.

Solo, 14 Mei 1998. Ketidakpuasan politik yang kemudian digerakkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Tionghoa.

Salah satu pencapaian penting ialah keluarnya UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia di mana dalam Pasal 2 disebutkan: “Yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.” Itu berarti eksistensi warga keturunan Cina semakin terlindungi secara hukum dan konstitusi.