Showing posts with label Kontoversi Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Show all posts
Showing posts with label Kontoversi Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Show all posts

Monday, February 10, 2014

Memahami Penolakan terhadap Denny JA

Makyun Subuki*

Setelah lama sunyi dari perdebatan berarti –karena mungkin saya kurang perhatian dan tidak melek sastra--, awal tahun 2014 dunia sastra Indonesia tiba-tiba gaduh dengan terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Paling berpengaruh. Akan tetapi, rupanya saya tidak bisa nimbrung dalam kegaduhan tersebut karena saya tidak dapat bukunya. Lagipula, saya juga tidak paham-paham amat sastra. Sudah begitu, yang ribut teman ketemu teman. Tampaknya, kali ini karir menjadi penonton memang tampak lebih menjanjikan.

Meskipun awalnya saya tidak peduli, tetapi lama-lama perdebatannya menarik juga. Karena saya suka ikut campur urusan orang, akhirnya saya tertarik mempelajari buku (pinjaman) tersebut. Perlu dicatat, awalnya saya ingin membuat tulisan panjang untuk mengomentari beberapa hal dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh ini secara detail, per bagian yang bermasalah dibahas satu per satu. Namun, tampaknya hal ini memerlukan energi yang luar biasa besar. Saya menduga, kalau saya terlalu serius, panjang tulisan saya akan bersaing dengan panjang seluruh tulisan dalam buku tersebut. Di pihak lain, Maman S. Mahayana yang menjadi bagian dari tim penulisan buku 33 TSIPB ini mengundurkan diri. Jadi, tulisan saya yang belum jadi tersebut telah layu sebelum berkembang.

Baiklah, mari kita mulai.

Pertama kali saya mendapatkan pinjaman buku ini, saya terkejut dan terkagum-kagum karena sampulnya begitu bagus. Dan saya lebih terkejut lagi, dan kali ini dengan terheran-heran, begitu mengetahui bahwa sampulnya curian. Maksudnya, yang punya lukisan ini, Hanafi, merasa tidak dikonfirmasi lukisannya bakalan jadi sampul buku ini (Silakan cari sendiri berita tentang ini. Ini bukan puisi esai, jadi nggak ada footnote-nya: pokoknya tidak ilmiah).

Selanjutnya, yang pertama kali saya baca adalah kata pengantarnya. Sangat menarik. Di mana-mana kata pengantar memang lebih menarik daripada isi bukunya.

Sulit bagi saya untuk menceritakan dan juga membahas seluruh isi kata pengantar itu. Selain terlalu panjang, saya yakin yang baca tulisan ini pasti juga sudah baca kata pengantar itu. Tim 8 menyebutkan tiga kriteria dengan pertanyaan-pertanyaan turunan yang begitu banyak dan tidak mungkin semuanya saya bahas di sini. Oleh karena itu, saya fokus kepada maksud tulisan ini, yaitu memahami argumen penolakan terhadap Denny JA sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh.

Catat lagi ini. Dalam mempersoalkan buku 33 TSIPB ini, saya hanya ingin membicarakan Denny JA, sehingga yang saya ulas hanya seputar orang ini. Tokoh yang lain adalah penggembira dalam tulisan saya. Namun demikian, untuk menolak nama tersebut dari barisan 33 secara keseluruhan, kita harus menggunakan beberapa metode: dan saya memilih metode dengan menggunakan kriteria Tim 8 sebagai tolok ukur ketokohan Denny JA. Jadi, harap maklum, pertama kita harus menampilkan kriteria yang dibuat oleh Tim 8 yang terdapat dalam kata pengantar.

Kriteria tersebut (saya ringkas sedemikian rupa supaya tulisan ini tidak terlalu panjang) adalah sebagai berikut.

Pertama, karya dan atau pemikiran. Pertanyaan turunannya adalah (1) Seberapa penting karya/pemikiran tokoh? (2) Apakah karya/pemikiran memberikan inspirasi bagi sastrawan sesudahnya? (3) Bagaimana dampak karya/pemikiran tersebut terhadap sastra dan kehidupan sosial budaya? (4) Apakah karya/pemikiran tersebut membuka jalan baru sastra yang bisa diasalkan ke karya tersebut? (5) Apakah karya/pemikiran tersebut menjadi semacam monumen? (6) Apakah karya/pemikiran menjadi pemicu dalam hal kebudayaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan?

Kedua, kiprah dan kegiatan sang tokoh. Pertanyaan turunannya adalah (1) Seberapa penting kiprah/kegiatannya? (2) Bagaimana dampaknya terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan? (3) Apakah kiprah tersebut mendorong lahirnya gerakan serupa/berbeda yang berdampak luas bagi kesastraan dan kebudayaan? (4) Apakah kiprah tersebut melahirkan pendukung atau penentang?

Ketiga, Keberpengaruhan tokoh.

Lalu ada pula penyederhanaan ini. Apakah pengaruhnya bersifat nasional dan atau berkesinambungan? Apakah tokoh tersebut menempati posisi kunci dan atau perintis?

Pertama-tama saya ingin mengemukakan bahwa seluruh kriteria dan pertanyaan turunannya itu sangat sulit untuk diverifikasi batasan ilmiahnya secara rigid. Ini bukan pertanyaan penelitian yang jelas, karena seluruh hal di atas sangat sulit untuk diukur, jangankan secara objektif, intersubjektif saja sulit. Jadi, bagi saya kriteria ini tampak megah dari luar tetapi kosong dari dalam. Tetapi, mari kesampingkan itu dan bahas yang lain.

Seperti sudah saya bilang ini tulisan tentang Denny JA. Jadi, dalam konteks buku ini dengan segudang kriteria di atas, kita harus menguji tulisan Ahmad Gaus tentang Denny JA.

Menurut Ahmad Gaus, Denny JA adalah salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh. Tentu saja, Ahmad Gaus sebaiknya menjawab kriteria pertama tentang karya, yaitu seberapa penting karyanya? Kenyataannya, Ahmad Gaus tidak menjawab apa-apa. Karena selain kriteria itu sulit dipenuhi, memang secara kajian puisi tidak ada apa-apa dalam puisi Denny JA itu. Biar saya kutipkan kata-kata Gaus mengenai konsep estetik puisi Denny JA:
....
Konsep keindahan yang ditawarkan "Atas Nama Cinta" tidak terletak pada rima atau persajakan, juga tidak melulu pada pilihan kata (diksi) sebagaimana pada puisi baru, namun pada keseluruhan bangunan puisi itu sendiri, termasuk struktur cerita yang ditampilkan, dan pesan-pesan moral yang disampaikan.. . . . .
(33 TSIPB hal. 658)

Jadi memang Ahmad Gaus menyadari bahwa puisi Denny JA dari sudut pandang kajian puisi tidak indah atau kurang indah. Nilai lebihnya ada pada struktur cerita, kata Gaus. Sayangnya, struktur cerita bukan bagian penting dari puisi, dan bahkan bukan bagian puisi. Tetapi Ahmad Gaus, dan tentu saja Denny JA ini memang aneh dan ngeyel, mereka ini ngotot dalam beberapa ulasan membenar-benarkan alur menjadi bagian penting dari puisi, termasuk dalam buku 33 TSIPB ini.

Jadi, alasan pertama saya menerima penolakan terhadap Denny JA sebagai tokoh sastra adalah karena puisinya jelek. Kata siapa? Kata Ahmad Gaus.

Bagaimana dengan kenyataan bahwa puisi ini menginspirasi banyak sastrawan dan bukan sastrawan untuk menggubah puisi serupa? Ahmad Gaus menampilkan data yang lumayan banyak untuk ini (silakan baca sendiri bukunya). Tetapi sekali lagi, saya ingin menyatakan keberataan. Hampir seluruh puisi esai yang terbit itu diterbitkan oleh Jurnal Sajak yang didanai oleh Denny JA, dan sebagian besar puisi yang terbit itu juga merupakan hasil sayembara yang hadiahnya besar dan juga didanai oleh Denny JA. Jadi, menurut saya Ahmad Gaus tidak berpikir jernih dalam menilai hal ini. Dia tidak mampu membedakan antara memberi inspirasi dan/atau memberi pengaruh dengan memberi hadiah dan/atau memberi motivasi.

Mungkin Denny JA masih berkukuh mengatakan bahwa dia membuat inovasi dengan puisi-esainya itu yang konon tujuannya adalah supaya lebih mudah dipahami. Dan benar saja. Untuk memperkuat hal ini, Ahmad Gaus bilang catatan kaki hadir untuk memperjelas tujuan komunikasi puisi esai. Dengan demikian, puisi menjadi lebih “familiar” dan lebih “understandable” untuk orang awam. Bingung saya. Sejak kapan orang awam senang catatan kaki? Siapa yang dimaksud awam di sini? Apa tukang becak (maaf nih, bukan berarti tukang becak awam semua) di gang tempat tinggal Denny JA dan Gaus suka catatan kaki? Atau mungkin Denny JA dan Gaus ini sedang berbicara tentang orang awam di Eropa atau Amerika sana yang gandrung catatan kaki. Entahlah.

Baiklah. Tidak semua pertanyaan itu saya akan jawab, karena hal itu dapat membuat makalah ini sepanjang kata pengantar buku 33 TSIPB. Saya hanya akan mempersoalkan satu hal lagi.

Bagaimana kiprah Denny JA dan pengaruhnya. Tentu saja, kita harus melihat tulisan Ahmad Gaus dalam hal ini. Apa hasilnya? Tidak ada. Ahmad Gaus tidak menulis apa-apa.
Mungkin kita semua tahu bahwa Denny JA mengadakan sayembara puisi dan membiayai Jurnal Sajak. Tapi apa itu cukup. Sayembara itu bahkan digunakannya untuk “memaksa” orang lain menulis puisi dengan gayanya, dan Jurnal Sajak menjadi alat sosialisasi “puisi” tersebut. Apa ini kiprah yang baik? Tentu saja, bagi Denny JA dan kawan-kawannya itu.

Bagaimana kiprah lainnya di dunia sosial? Ahmad Gaus tidak menulis apa-apa selain LSI. Selain itu, Gaus Cuma bisa nulis tanpa referensi yang jelas bahwa Denny JA waktu muda pernah bikin kelompok studi yang bernama Proklamasi. Hanya itu.

Padahal, Ada KH Musthafa Bisri yang aktif di NU hampir atau malahan seumur hidupnya. Semua kegiatan dan kiprahnya di NU dan pesantren yang diurusnya sejalan dengan apa yang dikemukakannya lewat puisi. Dan kurang berpengaruh apa Gus Mus bagi sastrawan berikutnya yang lahir dari pesantren? Tetapi itulah anehnya Gaus, menganggap LSI lebih penting daripada NU. Saya malahan mau bertanya perihal persoalan ini kepada Acep Zamzam Nur. Sebagai orang NU, apa dia juga menganggap LSI lebih penting daripada NU? Saya malahan berani bilang bahwa NU dalam bidang sastra masih lebih penting daripada Jurnal Sajak!

Jadi, kalau ada alasan lain kenapa saya menolak Denny JA adalah karena dia tidak melakukan apa-apa. Kata siapa? Kata Ahmad Gaus.

Terakhir, kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Tim 8 melakukan kesalahan metodologi yang fatal dari awal penulisan buku. Alih-alih berangkat dari data yang sedapat mungkin harus tersedia, Tim 8 berangkat dari inventarisasi nama-nama. Setiap orang mengajukan nama untuk didiskusikan dalam tim. Heran saya. Ini tim apa ya? Mau menulis tokoh sastra paling berpengaruh kok didasarkan pengetahuan personal dan selera individual. Kenapa tidak mulai dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya data, kemudian dipelajari, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, baru kemudian inventarisasi nama-nama. Tentu saja hal ini berat dilakukan. Dan tim 8 tampaknya tidak mau susah. Hasilnya, mereka memilih nama dan mencari pembenaran ala kadarnya untuk nama-nama tersebut.

Jadi di atas semua itu, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pantas ditolak karena cacat metodologis.


*pembaca buku

Thursday, February 6, 2014

Goenawan Mohammad: “Saya Tak Layak Masuk Daftar 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh”


Goenawan Mohammad (dok ubudwriterfesival)
JAKARTA--Beberapa hari terakhir ini ada perbincangan mengenai buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disusun oleh Tim 8 dengan Ketua Tim Juri adalah Jamal D. Rahman. Buku itu rupanya jadi bahan perbincangan karena — seperti halnya buku sejenis itu– ada banyak kritik dan catatan mengenai pilihan nama-nama yang masuk.

Ini adalah wawancara parvati.com dengan Goenawan Mohamad, salah satu nama yang masuk ke dalam 33 nama itu. Berikut wawancaranya:

Parvati.com: Anda termasuk di dalam daftar 33 sastrawan Indonesia paling berpengaruh. Selamat, ya. Kapan Anda mengetahui hal itu?

GM: Saya lihat ada buku yang baru terbit yang memuat itu. Pekan lalu Penulis ZenHae menunjukkannya kepada saya di Salihara.

Parvati.com: Bagaimana pendapat Mas Goen?

GM: Saya belum baca lengkap. Cuma baca tentang diri saya. Narsis, ya?

Parvati.com: Anda senang?

GM: Dengan segala hormat kepada penyusun buku itu, saya anggap saya tak layak masuk ke dalam daftar 33 orang itu.

Parvati.com: Mas Goen sok rendah-hati nih…

GM: Serius. Mungkin waktu jadi wartawan, dengan kerja jurnalistik saya, dengan majalah Tempo, saya punya pengaruh. Tetapi selain saya tak aktif lagi di jurnalisme, karya puisi saya rasanya tidak ada pengaruhnya. Berbeda dengan puisi Chairil, Sitor, Rendra, Sutardji. Setidaknya saya tidak melihat ada semacam “aliran” baru dalam sastra Indonesia karena puisi saya.

Parvati.com: Kalau Danny J.A.? Nama itu disebut, padahal dia tidak dikenal sebagai sastrawan. Ia baru setahun coba-coba menulis yang disebut puisi esei, dan tidak jelas apa pengaruhnya.

GM: Hmm. No comment.

Parvati.com: Danny J.A. masuk, sementara itu Asrul Sani, Sitor Situmorang, Umar Kayam, Mangunwijata tidak. Aneh, kan? Wiji Thukul dianggap kurang memenuhi syarat, tapi Wowok penulis dari Boemipoetra yang karyanya tidak dikenal itu juga masuk ke dalam yang 33 itu.

GM: Njoto, HR Bandaharo, Agam Wispi, Amarzan Lubis masuk nggak dalam yang 33 itu?

Parvati.com: Nggak saya lihat. Satu-satunya orang Lekra yang disebut ya Pramoedya Ananta Toer.

GM: Sayang sekali. Tapi saya lebih baik tidak mempersoalkan selera orang. Lagipula cita-cita saya bukan untuk jadi sastrawan berpengaruh. Cita-cita saya jadi juara maraton .

Parvati.com: Mas Goen serius?

GM: Ya, anggap saja serius, meskipun itu cita-cita yang pasti gagal.

Parvati.com: Mengapa maraton, Mas?

GM: Lari maraton itu membutuhkan persiapan yang tidak main-main. Latihan lari sampai lebih 100 km tiap pekan. Siap sakit kaki. Disiplin. Fokus. Terus menerus. Dan ada ukuran yang jelas untuk menentukan mana yang unggul dan mana mana yang tidak.

Dalam sastra Indonesia, lebih gampang. Sekarang ini orang bisa jadi sastrawan karena didukung teman-teman sendiri, atau karena gencar berpromosi — atau ikut pertemuan sastrawan, atau berpolemik. Polemik itu termasuk teknik pemasaran juga..

Sumber: parvati.com

Saya Sudah Kembalikan Honor Puisi Esai dengan Permintaan Maaf

Ahmadun Yosi Herfanda

Salam Sastra,

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, serta dengan permintaan maaf kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas ketidaknyamanan ini, sebagai konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” (ikut menulis puisi esai pesanan) itu hari ini, tepat pukul 14.50 wib, saya sudah mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta melalui rekening BCA Fatin Hamama (perantara pesanan puisi esai ini). Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan uang itu – bukti setoran pengembalian dana itu terlampir. Semoga dengan kerendahan hati pula Denny JA berkenan menerimanya kembali. Sebelum ini sebenarnya saya sudah mengontak Fatin untuk membatalkan kesertaan saya itu, tapi Fatin tentu tak dapat berbuat apa-apa karena bukunya sudah telanjur dicetak.

Dengan pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama puisi-puisi esai karya para penyair lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya. Yang penting, bagi saya pribadi, saya sudah jujur pada suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu. Sekali lagi, maaf dan terima kasih kepada Denny JA dan Fatin Hamama yang telah memberikan penghargaan begitu tinggi pada saya lewat pesanan puisi esai itu.

Mohon maaf, jika pengembalian honor itu membuat perasaan jadi tidak nyaman. Ide puisi esai itu sebenarnya menarik jika tidak dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Yang memang senang menulis puisi esai tentu tidak ada salahnya juga, dan terus saja lajutkan asal memang sesuai dengan pilihan hati masing-masing.

Perlu saya tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Soal honor puisi esai yang sudah terlanjur kawan-kawan terima, silakan kembalikan saja ke suara hati nurani masing-masing. Semoga honor itu tetap berkah untuk kawan-kawan belanjakan. Hanya, uang yang saya terima memang agak beda jumlahnya dan prosesnya pun berbeda sehingga hati nurani saya meragukan kehalalannya. Karena itu, sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari kekhilafan, hanya pengembalian honor itu yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” itu.

Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat dalam "politik puisi esai" dan penokohan Denny JA itu. Saya sekali lagi minta maaf sedalam-dalamnya kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas semua tidaknyamanan ini.
 
Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun, memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek samping: menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau sepahit apapun.”

Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama, karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT meridloi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam wr wb.

Saya Mundur dari Tim 8 dan akan Mengembalikan Honorarium Rp 25 Juta

Maman S. Mahayana*

Sejak awal kesediaan saya terlibat dalam penyusunan buku tokoh-tokoh sastra Indonesia yang kemudian diberi judul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, didasari oleh tiga hal yang tidak dapat saya tolak: (1) buku tentang tokoh sastra (Indonesia), (2) sahabat Jamal D Rahman, (3) PDS HB Jassin, lembaga yang sangat saya hormati.

Tentang (1) tokoh sastra Indonesia, kesediaan saya didasari oleh kesadaran, bahwa kontribusi sejumlah sastrawan dalam kehidupan bangsa dan negara ini sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah penjadian dan perkembangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, peranan dan kiprah mereka perlu ditempatkan secara proporsional, seperti juga profesi lain dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan di negeri ini.

Tentang (2) sahabat Jamal D Rahman yang saya kenal sebagai sosok yang dapat saya percaya itikad dan kebaikannya dalam memaknai persahabatan.

Tentang (3) PDS HB Jassin. Saya memahami sejarah perjalanan lembaga itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan HB Jassin, karena saya pernah terlibat dalam penyusunan buku biografi HB Jassin (Darsjaf Rahman, Antara Imajinasi dan Hukum, Jakarta: Gunung Agung, 1986). HB Jassin adalah guru dan salah seorang pembimbing skripsi saya, sehingga saya pernah cukup intens berdiskusi dengan Manusia sederhana yang sangat saya hormati itu.

Saya juga mengenal baik para pengelola dan karyawan lembaga itu, karena selama beberapa bulan saya pernah menjadi volunter di PDS HB Jassin. Maka, saya cukup akrab dengan pengurus dan karyawan lembaga itu, sejak masa kepengurusan Sri Wulan Rujiati, Titis Basino, Endo Senggono, sampai Ariany Isnamurti. Mereka adalah orang-orang yang punya integritas, loyal, dan penuh dedikasi dalam menjalankan pekerjaan mulianya memelihara dan merawat begitu banyak arsip dan dokumen penting yang berkaitan dengan kesusastraan Indonesia.

Setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu terbit dan kemudian mendapat begitu banyak reaksi, saya mencermati, bahwa tiga alasan keterlibatan saya dalam penyusunan buku itu tidak dapat saya pertahankan lagi. Pertimbangannya adalah berikut ini:


Tentang (1) tokoh sastra Indonesia yang menjadi alasan pertama saya, saya sudah menyatakan, bahwa sejak proses pemilihan nama ke-33 sastrawan yang terhimpun dalam buku itu sampai sekarang, saya tetap pada pendirian saya, bahwa saya menolak masuknya nama Wowok Hesti Prabowo dan Denny JA.

Khusus mengenai penolakan pada nama Denny JA, saya sudah pula menyampaikan alasannya yang menyangkut tiga hal: (i) pengaruhnya yang belum menunjukkan sesuatu yang signifikan bagi perkembangan sastra Indonesia; (ii) kiprah dan kontribusinya yang masih harus dilihat dalam tahun-tahun ke depan, dan (iii) kepantasannya jika dibandingkan sastrawan lain.


Tentang (2) sahabat Jamal D Rahman yang saya kenal sebagai sosok yang dapat saya percaya itikad dan kebaikannya dalam memaknai persahabatan, belakangan saya sadari, bahwa di atas persahabatan masih ada nilai yang lebih berharga, yaitu keterbukaan dan kejujuran. Sejak awal keterlibatan saya dalam penyusunan buku itu sampai keterangan Jamal D Rahman dimuat majalah Tempo, 2 Februari 2014, halaman 48—49, saya semakin sadar, bahwa ada beberapa fakta yang sengaja disembunyikan, dan menurut saya, tak sesuai dengan makna kejujuran.


Tentang (3) PDS HB Jassin. Dalam e-mail yang dikirim Jamal D Rahman sebelum saya terlibat dalam diskusi untuk menentukan nama-nama tokoh sastra Indonesia, dinyatakan, bahwa: “Kegiatan ini secara formal dilaksanakan oleh PDS HB Jassin. PDS HB Jassin telah memberikan mandat kepada Jamal D. Rahman untuk mengkoordinir kegiatan dimaksud,” ternyata, PDS HB Jassin tidak terlibat secara formal dan tidak pernah memberikan mandat kepada Jamal D. Rahman dalam pelaksanaan penyusunan buku itu.

Saya kutip pernyataan Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana PDS HB Jassin berikut ini: “PDS H.B. Jassin tidak terlibat sama sekali dengan proses penyusunan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, baik dalam hal keberadaan tim penyusun (Jamal D Rahman dkk) yang sering disebut Tim 8, pemilihan 33 sastrawan yang dimaksud dalam buku tersebut, maupun penentuan judul dan ungkapan persembahan: “Diterbitkan Untuk PDS H.B. Jassin”. Semua itu adalah urusan tim penyusun/Tim 8.”

Dengan pencermatan pada butir (2) dan adanya pernyataan Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana PDS HB Jassin itu, kini tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tetap berada sebagai anggota Tim 8, penyusun buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Dengan kesadaran, bahwa saya ikut berkewajiban (1) menjaga integritas dan apresiasi pada sastra Indonesia dan tokoh-tokoh sastra Indonesia, (2) menempatkan keterbukaan dan kejujuran di atas persahabatan, dan (3) menghormati PDS HB Jassin dan menghargai dedikasi dan pengabdian segenap pengurus dan karyawan PDS HB Jassin, dengan ini saya menyatakan, bahwa saya, Maman S Mahayana, mengundurkan diri dari Tim 8 sebagai salah seorang anggota penyusun buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sebagai konsekuensi pernyataan ini, saya minta agar Jamal D Rahman sebagai Ketua Tim 8, mencabut lima esai saya tentang (1) Marah Rusli, (2) Muhammad Yamin, (3) Armijn Pane, (4) Sutan Takdir Alisjahbana, dan (5) Achdiat Karta Mihardja dari buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.


Honorarium sebesar Rp 25 juta sebagai pembayaran kelima esai saya itu, akan saya kembalikan segera setelah kelima esai itu dicabut dari buku tersebut.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan kesadaran pada ketiga alasan sebagaimana yang sudah saya sampaikan tadi.

Seoul, 6 Februari 2014

*Anggota Tim 8 Penyusun Buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh", dosen FIB UI, sedang bertugas mengajar di Seoul, Korea Selatan

Tuesday, February 4, 2014

Denny JA Memang Top dan Sangat Berpengaruh

Oyos Saroso H.N.

Punya uang banyak, punya atensi ‘yang bagus’ terhadap dunia sastra, mau ‘mengidupi sastra, pandai membangun relasi, banyak sastrawan yang mau diajak kerja sama. Semua itu adalah poin penting yang dimiliki Denny J.A. untuk "menancapkan" pengaruhnya di dunia sastra Indonesia. Maka, ketika nama dia masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, sebenarnya bisa dikatakan wajar.

Wajar saja. Sebab, lebih dari 50 persen anggota tim yang menyeleksi para tokoh sastra paling berpengaruh adalah pendukung Denny J.A.. Menjadi perdebatan dan membuat heboh karena demi memasukkan nama Denny .JA. kemudian banyak hal yang dilesapkan sembari menonjolkan keunggulan Denny.

Kunjungan 7 jutaan orang yang konon menyukai puisi-puisi Denny JA adalah satu hal yang masih pantas diperdebatkan. Benarkah angka itu? Hal lain yang mestinya dijawab panitia penyusunan buku dan Tim 8 adalah: (1) Benarkah sumber dana penerbitan buku dan peluncuran buku itu berasal dari Denny JA? (2) Apakah sumber dana itu kemudian yang menjadi alasan nama Denny JA harus masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh?

Kalau soal 7 juta pengunjung yang menyukai 'puisi esai' Denny dijadikana acuan Denny populer—bahkan berpengaruh—lalu ternyata ada temuan bahwa data itu tidak benar, maka gugurlah alasan untuk memasukkan Denny JA sebagai tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia.

Kalau pertanyaan pertama dan kedua dijawab ‘ya’, maka sebenarnya tidak perlu ada kehebohan, menolak, mengritik, mencerca, membuat petisi. Lalu Tim 8 mempertahankan diri  bahwa pilihan itu adalah benar bin sahih. Sebab, kalau jawabannya adalah “ya”, maka publik pun akan mafhum bahwa penerbitan buku adalah sebuah proyek. Dan, tidak ada salahnya sastrawan  mendapatkan proyek.

Maka, ketika Jamal D. Rahman mengatakan bahwa para pengritik sebagai pihak yang tidak siap berdemokrasi  (cek di sini), nah, di sinilah persoalannya. Kita sepakat bahwa sebuah bebas diterbitkan oleh siapa pun. Namun, jika buku itu sejak awal diancangkan sebagai panduan, tonggak sejarah, dan catatan penting perkembangan sastra Indonesia—apalagi kemudian disebarkan secara masif ke sekolah-sekolah--, maka persoalan pun akan terjadi. Maka, dalam konteks inilah penilaian Jamal terhadap para penggiat sastra dan pemerhati sastra yang kritis itu menjadi tidak pas. Tidak pas karena Jamal seolah-olah ingin menyamakan para pemrotes itu sebagai pokrol bambu yang maunya menang sendiri.

Untuk mereview bagaimana Denny JA bermurah hati berjuang untuk sastra Indonesia, ada baiknya kita tengok kembali kegiatan-kegiatan yang sudah dia buat. Selain lomba menulis resensi sastra untuk bukunya sendiri dengan hadiah yang ‘aduhai’, Denny juga membiayai sejumlah penerbitan jurnal sastra. Ia juga membuat kegiatan di kampus-kampus. Kegiatan-kegiatan melibatkan sebagian juri (Tim 8) yang kemudian memilih Denny JA sebagai tokoh sastra paling berpengaruh.

Mungkin publik harus berpikir positif:: Denny JA memang tokoh sastra Indonesia yang top dan paling berpengaruh. Setidaknya bagi sebagian orang yang memilihnya.

Berikut ini adalah laporan utuh media LPM Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (diunggah

Puisi-Esai, Gaya Baru Penulisan Karya Sastra“Saya curiga jika para penyair sebenarnya tidak benar-benar mencintai puisi dan tak mengerti arti sebenarnya puisi. Padahal Indonesia adalah negara pencinta puisi terbanyak didunia, silahkan cari tak ada satu negarapun dimanapun yang dimana rakyatnya mencintai puisi seperti rakyat Indonesia.” Joni Ariadinata


LPMARENA.com Jurnal Sajak bekerjasama dengan Komunitas Penulis Kutub menyelenggarakan Workshop Penulisan Puisi, Esai dan Puisi-Esai di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (18/07).

Workshop ini menghadirkan beberapa pemateri seperti Agus R Sarjono, penyair sekaligus esais, Acep Zamzam Noor dan dimoderatori oleh Joni Ariadinata, peraih Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 1994.

Menurut Agus R Sarjono, puisi-esai merupakan sesuatu realitas faktual masyarakat yang diapresiasikan dalam bentuk puisi-esai yang panjang. “Memang bentuk karya sastra ini masih tergolong baru di kalanganmasyarakat, namun dalam perkembangannya tentu sudah muncul beragam karya serupa, hanya bentuknya yang masih tergolong dalamPuisi” ungkap  redaktur Jurnal Sajak  ini.

Tema-tema yang diangkatpun, lanjutnya,  lebih merupakan realitas masyarakat. Zaman telah berubah kini puisi tak lagi diminati dan menjadi trend yang dibicarakandimasyarakat, seakan puisi telah kehilangan jati dirinya, atau fenomena puisi kehilangan ruhnya. kalau jaman dahulu puisi selalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Oleh karena itu, Jurnal Puisi dan Komunitas Penulis Kutub berusaha menghidupkan kembali puisi terutama dikalangan mahasiswa. Sebagaimana dikatakan salah satu panitia acara, Maghfur MR.”workshop penulisan ini adalah untuk menghdupkan kembali semangat bersastra bagi mahasiswa, sekaligus mengenalkan salah satu karya sastra yang disebut dengan puisi-esai yang tergolong baru dimasyarakat.

“Jogja adalah yang pertama, kemudian menyusul Bandung dan Madura untuk acara yang sama karena kegiatan ini sebenarnya juga sebagai sarana sosialisasi terhadap masyarakat agar lebih mengerti bagaimana dan seperti apa Puisi Esai itu.” Tambah Sarjono kemudian.

Acara yang dihadiri oleh pelajar, mahasiswa dan beberapa komunitas penulis sastra yogyakarta ini ditutup dengan follow Lomba Penulisan Puisi-esai yang diadakan oleh Denny JA dengan hadian total 50 Juta. [Hasbul&Icus]

Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, Jamal D. Rahman: "Reaksinya Terlalu Berlebihan.."

Jamal D. Rahman (dok SH)
BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menuai kritik dan gugatan dari banyak kalangan sastra. Selain menyampaikan pesisi, banyak penggiat sastra yang mendesak agar pihak Tim 8 sebagai penyusun buku menyampaika klarifikasi seputar sumber dana pembuatan buku.

Ada sebagian kalangan sastrawan yang mensinnyalir pembuatan buku itu direkayasa untuk mendongkrak nama Denny J.A., bos lembaga survei politik. Proyek buku ini dikabarkan hanya sebagian kecil saja dari upaya Denny untuk memajukan sastra Indonesia.

Tim 8 yang terdiri atas Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah sejauh ini lebih banyak diam. Hanya Maman S. Mahayana yang menyampaikan klarifikasi (periksa di sini). Berikut ini adalah hasil wawancara Ranang Aji SP dari KoranOpini.com dengan Jamal D. Rahman. Kami muat kembali hasil wawancara tersebut secara utuh.

Ranang Aji SP (RASP) :Masyarakat sastra kita guncang dengan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Ada apa dengan mereka? 

Jamal D. Rahman (JDR) :Reaksi terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh sungguh berlebihan. Dan reaksi berlebihan itu merupakan fenomena atau kecenderungan sebagian masyarakat sastra dalam menyikapi suatu gagasan yang berbeda dengan gagasan mereka, atau gagasan yang tidak mereka setujui. Tapi reaksi berlebihan itu muncul terutama di media sosial. Jumlah mereka sesungguhnya relatif kecil dilihat dari masyarakat sastra yang luas, para sastrawan, kritikus, pemikir, akademisi sastra, mahasiswa sastra, guru sastra, komunitas-komunitas sastra, masyarakat umum pecinta sastra dll.

Pada hemat saya, reaksi berlebihan itu menunjukkan 3 hal. Pertama, sikap antidemokrasi pada sebagian kecil masyarakat sastra. Yang paling jelas adalah Petisi. Mereka membuat Petisi, yang intinya mendesak pemerintah melarang buku itu. Ini sangat menyedihkan. Di zaman Orde Baru kita melawan pemerintah yang melarang buku, pentas teater, film, dll. Sekarang, malah masyarakat meminta pemerintah melarang buku. Ini kemunduran luar biasa dalam demokrasi dan tradisi intelektual kita. Saya hampir tidak percaya bahwa sikap antidemokrasi justru muncul dari masyarakat sastra, bahkan meskipun hanya sebagian kecil dari mereka. Masyarakat sastra seharusnya paling siap berdemokrasi, sebab sastra pada dasarnya meniscayakan perbedaan.

Bagaimanapun, Petisi itu adalah fakta bahwa sebagian masyarakat sastra kita antidemokrasi. Syukurlah bahwa itu hanya sebagian kecil. Saya yakin sebagian besar masyarakat sastra kita tetap pro demokrasi, dan bersikap demokratis dalam menerima berbagai gagasan.

Kedua, ketidaksiapan sebagian kecil masyarakat sastra dalam menyikapi gagasan yang, katakanlah secara radikal, berbeda dengan pendapat mereka, atau gagasan yang tidak mereka setujui. Apa yang tidak mereka setujui mereka anggap salah bahkan sesat, sehingga secara apriori mereka tak mau memahaminya, dan ingin melarangnya. Karena mereka tidak setuju dengan buku itu, mereka menganggapnya sesat. Tanpa membacanya pula. Rupanya, meski Reformasi sudah berjalan 15 tahun dan demokrasi kita berkembang cukup baik, masih ada kalangan masyarakat sastra yang tidak siap menerima gagasan yang tidak mereka setujui.

Ketiga, kecenderungan sebagian kecil masyarakat sastra menggunakan “kekuasaan”
dalam menolak gagasan yang tidak mereka setujui, yakni menggalang dukungan, mau meminjam tangan pemerintah, berunjuk rasa, menfitnah, mengolok-olok, menghujat, mencaci-maki, dengan berbagai prasangka, dll. Kenapa mereka tidak menggunakan gagasan untuk menyanggah gagasan, tidak menggunakan pikiran untuk membantah pikiran, dan tidak mau menulis buku untuk menanggapi buku? Saya dengar mereka sudah ditawari untuk menulis buku menyanggah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, tapi mereka menolak. Aneh sekali.

Rupanya ekstremisme atau radikalisme mulai menggejala dalam masyarakat sastra kita.
Keempat, sebagian kecil masyarakat sastra kita rupanya menyukai gosip di dunia sastra. Reaksi di media sosial terhadap buku itu bagaimanapun penuh gosip.

RASP: Sebenarnya bagaimana Anda dkk membuat penilain setiap tokoh? Ada metode yang bisa dijelaskan? Apa yang dimaksud pengaruh itu? 

JDR: Kami melihat kembali perjalanan sastra Indonesia dari awal abad ke-20 sampai sekarang. Jelas bahwa yang memberikan kontribusi terhadap dunia sastra bukan hanya sastrawan dan karya sastranya, melainkan juga pribadi-pribadi yang dengan satu dan lain cara berkiprah di dunia sastra. Mereka adalah kritikus, pemikir, akademisi, dokumentator, penggiat sastra, dll. Itu sebabnya kami tak hanya melihat para sastrawan, melainkan juga tokoh sastra yang memainkan pengaruh di dunia sastra. Dengan demikian, yang dimaksud dengan tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh adalah orang yang melalui karya sastranya, gagasannya, pemikirannya, kiprahnya, dan tindakannya memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual, sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas. Jadi, tokoh sastra bukan hanya sastrawan.

Sebagaimana kami jelaskan dalam buku, ada 3 hal yang kami pertimbangkan dari tokoh sastra yang kami maksud. Pertama, karya dan/atau pemikirannya, yakni karya sastra (puisi, cerpen, novel, dan drama) dan pemikiran sang tokoh, baik pemikiran itu dikemukakan dalam karya sastra  atau esai dan sejenisnya. Kedua, kiprah dan kegiatan sang tokoh, yakni berbagai tindakan dan kegiatan sang tokoh di bidang sastra dan budaya secara lebih luas. Ketiga, sejauhmana pengaruh sang tokoh khususnya bagi kehidupan sastra, dan umumnya bagi kehidupan sosial, budaya, dan politik di tanah air. Makin besar dan luas pengaruh seorang tokoh makin besar peluangnya untuk dipilih.

Lalu, ada empat kriteria. Tokoh sastra dinilai layak masuk dalam 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh apabila sekurang-kurangnya memenuhi satu dari empat kriteria berikut. Pertama, pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional. Kedua, pengaruhnya relatif berkesinambungan. Ketiga, dia menempati posisi kunci, penting dan menentukan. Keempat, dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang.

RASP: Apa sebenarnya yang Anda inginkan dengan buku itu? 

JDR: Buku itu ingin menunjukkan apa dan sejauhmana peranan sastra dalam kebudayaan kita, di lapangan sosial, politik, dan kebangsaan kita. Bahwa sastra bukan sekadar khayalan atau imajinasi yang tak ada kena-mengenanya dengan kehidupan konkret kita. Sejak awal abad ke-20, sastra kita terlibat langsung dengan masalah kebangsaan. Bahkan gagasan tentang Indonesia dideklarasikan dalam puisi, yakni Sumpah Pemuda, yang dikonsep oleh Muhammad Yamin, penyair yang juga seorang aktivis. Dua hari sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan, Muhammad Yamin menulis puisi “Indonesia Tumpah Darahku”.

Dalam puisi inilah Muhammad Yamin mengemukakan impiannya tentang Indonesia, sebelum gagasan tentang Indonesia dideklarasikan lewat Sumpah Pemuda. Seterusnya Sutan Takdir Alisjahbana mengajukan gagasan tentang orientasi kebudayaan bagi Indonesia yang baru digagas, apakah kita mau mengambil  kebudayaan Barat atau Timur, lalu muncullah Polemik Kebudayaan. Demikian seterusnya di zaman revolusi, sastra mendorong semangat kemerdekaan, seperti tampak misalnya dalam puisi Chairil Anwar. Sampai sekarang, sastra tetap memainkan peranan dalam kehidupan konkret kita. Dengan melihat peranan, kiprah, dan pengaruh tokoh-tokoh sastra, sumbangan sastra pada kehidupan kita kiranya tampak lebih jelas.

RASP: Menurut saya setiap tokoh punya pengaruh. Tapi yang masif hanya Charil Anwar,Pramudya, WS Rendra dan GM. Kalau di Amerika Latin tentu  G.G. Marquez dan Borges. Denny JA adalah episentrum dari gelombang protes ini. Sebenarnya layak tdak dia menurut Anda secara jujur? Sejauh mana pengaruhnya terhadap peradaban sastra kita?

JDR: Tentu setiap tokoh sastra punya pengaruh. Dan mengukur pengaruh ini tidak mudah, karena bersifat kualitatif. Tidak bisa diukur secara pasti. Itu sebabnya, meski pertimbangan dan kriteria sudah disetujui oleh Tim 8, pada akhirnya ada satu-dua nama yang disetujui tidak secara bulat oleh Tim 8 sendiri. Maka sejak kami memutuskan 33 nama, kami sadar tak seorang pun akan setuju seratus persen dengan 33 tokoh pilihan kami. Tapi kami anggap itu wajar, dan berharap menjadi bahan diskusi atau polemik. Diskusi yang sehat tentu saja.

Ya, Denny JA merupakan episentrum dalam gelombang protes ini. Argumen kenapa kami memilih dia telah kami kemukakan dalam buku. Intinya, dia menulis dan menggagas apa yang disebutnya puisi esai. Judul buku puisi esainya adalah Atas Nama Cinta, berisi 5 puisi panjang tentang berbagai diskriminasi di Indonesia. Penting saya kemukakan bahwa kami tidak menilai mutu puisi esai Denny, melainkan menilai sejauhmana pengaruhnya. Bagi saya sendiri, dilihat dari mutu sastranya, puisi esai Denny tidak memuaskan. Tapi bagaimanapun pengaruh Denny dengan puisi esainya sangat besar.

Ada beberapa penyair menulis puisi esai ala Denny, dan sudah terbit sebagai buku. Setidaknya sudah ada 6 buku puisi esai, ditulis oleh banyak penyair. Lalu, ada film, lukisan, pembacaan puisi, pentas teater, musik, yang dibuat berdasarkan puisi esai Denny. Jadi, puisi esai Denny tak hanya berpengaruh di dunia sastra, melainkan juga ke bidang-bidang seni yang lain.

Di samping itu, puisi esai menjadi bahan diskusi relatif luas di kalangan kritikus sastra. Ada satu buku khusus yang merupakan kumpulan tulisan tokoh-tokoh penting sastra kita, mendiskusikan tentang puisi esai. Buku itu disunting oleh Acep Zamzam Noor, berjudul Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia. Jadi, pengaruh Denny tampak pada munculnya puisi esai karya beberapa penyair, beberapa bidang kesenian, yaitu film, pembacaan puisi, lukisan, teater, dan musik, yang diciptakan berdasarkan puisi esai Denny. Juga pada diskusi sekitar gagasan puisi esai. Tentu saja, banyak juga keberatan dan kritik atas puisi esai. Tapi bagaimanapun itu menunjukkan pengaruhnya juga.

Penting ditambahkan, pengaruh Denny lewat dunia maya. Puisi esai dan karya-karya turunannya seperti film, musik, teater, pembacaan puisi diunggah di internet, termasuk You Tube. Pada tahun 2012, puisi esai Denny di dunia maya memperoleh hits 7,5 juta lebih; pada tahun 2013, 4 juta lebih. Sementara, pembacaan puisi, teater, dan musik di You Tube ditonton oleh ratusan ribu orang. Lebih dari itu, 5 film garapan Hanung Bramantyo yang diangkat dari puisi esai Denny masing-masing ditonton oleh lebih dari sejuta orang. Tentu saja ada reduplikasi di sana. Tapi dengan asumsi maksimal reduplikasi sekali pun, angka-angka itu tetap fantastis.

RASP: Pro kontra dalam masyarakat demokratis wajar dan pasti niscaya. Menurut Anda seberapa besar jumlah yang pro buku ini?

JDR : Betul. Pro-kontra dalam masyarakat demokratis itu wajar. Tapi dalam kasus buku itu reaksi sebagian masyarakat sastra tidak wajar, antidemokrasi, sangat emosional, bahkan tidak beradab. Namun itu hanya sebagian kecil masyarakat sastra. Itu pun hanya sebagian pula dari masyarakat sastra yang aktif di media sosial. Sementara, masyarakat sastra kita sangat luas.

Saya yakin sebagian besar masyarakat menerima buku itu secara wajar dan rasional. Apalagi sastrawan-sastrawan senior yang disegani. Itu tidak berarti mereka setuju dengan pandangan kami. Tentu saja buku itu harus disikapi secara kritis, sekritis mungkin, dibarengi dengan sikap terbuka, tidak apriori, apalagi berprasangka. Yang kita butuhkan adalah polemik atau diskusi yang konstruktif dan dewasa dalam sastra kita.

RASP: Anda ingin meyampaikan sesuatu pada yang menuduh anda dkk sebagai penindas akal sehat?

JDR: Ah, tidak.

Sumber: www.koranopini.com

Sunday, January 26, 2014

Menolak 'Tokoh Sastra': Seniman Yogya Gelar Diskusi Mengurai Cengkeraman Rezim

BANDARLAMPUNG, teraslampung.com—Penolakan terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus bergulir. Setelah melalui petisi yang diinisasi para sastrawan dan akademikus Yogya, diskusi juga digelar di berbagai daerah.

Hari ini, Senin (27/1/2014) para seniman, sastrawan,dan publik sastra Yogya menggelar Diskusi Sastra dan Kebudayaan dengan tema “Menolak Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Mengurai Cengkeraman Rezim Pasar di Ranah Kebudayaan”.

Halim Halim Hade (Solo)  dan  Anindita S Thayf (Makasar) akan menjadi pembicara. Sementara Kamerad Kanjeng (Jakarta) akan jadi moderator.

Diskusi yang digelar mulai pukul 13.30 WIB di Gendhong, Kebun Laras, Jl. Sorowajan, Yogyakarta (depan Hotel Satya Nugraha) itu diharapkan akan bisa mengurai metabolisme sastra Indonesia yang tidak sehat.