Showing posts with label Laporan Khusus. Show all posts
Showing posts with label Laporan Khusus. Show all posts

Friday, January 17, 2014

Kisah PT Ascho Menambang Pasir Gunung Anak Krakatau (1)


Oyos Saroso H.N.


Kapal yang disewa PT Ascho (Dok OyosHN)
BANDARLAMPUNG--Suatu siang pada pertengahan Oktober 1999, saya bertemu dengan para aktivis Walhi Lampung di sebuah acara di Bandarlampung. Di sana berkumpul juga para nelayan dari Lampung Selatan.

Di sela waktu istirahat, saya mengobrol dengan beberapa nelayan. Tiba-tiba seorang nelayan curhat. Dia mengaku gelisah karena kegiatannya mencari terganggung oleh aktivitas kapal tongkang ukuran besar yang menyedot pasir dari dasar laut di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. Dengan mesin penyedot itu pasir dialirkan melalui paralon besar ke tongkang. Tongkang nyaris penuh pasir itu kemudian meninggalkan perairan Krakatau.

Saya pun kemudian konfirmasi kepada Direktur Walhi Lampung Hendrawan (sekarang sudah diganti Bejo Dewangga). Hendrawan berkilah dirnya tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada bukti pengambilan pasir. Saya kemudian berinisitif minta relawan Walhi untuk memfilmkan proses penambangan pasir tersebut.

Pada 22 Oktober 2009 seorang relawan (namanya terpaksa saya rahasiakan) menghubungi saya. Dia sudah berhasil merekam semua aktivitas penambangan. Bahkan, proses pasir diangkut dengan tongkang pun berhasil didapatkan.

Esok harinya, 23 Oktober tulisan saya disertai foto-foto tongkang siap mengangkut pasir muncul di The Jakarta Post. Siang itu, saya pun mengontak Kepala BKSDA Lamping (saat itu Ambar Dwiyono). Saya menanyakan mengapa BKSDA memberikan izin penambangan pasir. Ambar mengaku dia tidak mengizinkan penambangan.Dia hanya memberi izin mitigasi bencana.

“Tidak ada penambangan pasir kok. Anda dapat info dari mana?” tanya Ambar.

“Silakan Bapak lihat foto di Jakarta Post siang ini. Itu foto penambangan pasir!” kata saya.

Ambar kemudian mengajak saya bertemu. Bahkan dia mengajak saya mengecek lokasi.

Beberapa hari kemudian Direktur PT Ascho Usaha Pratama (AUP), Suharsono, menelepon saya. Saya diajak bertemu di sebuah hotel di Bandarlampung. Saya pun berangkat dengan semangat. Tiba di tempat pertemuan, saya kaget. Ternyata Suharsono datang bersama dengan orang yang sangat saya kenal: Prof. Dr. Ali Kabul Mahi.

Di sana saya juga bertemu dengan Taufik Wijaya, wartawan Radar Lampung. Kami berempat kemudian ngobrol. Wawancara lebih seperti ngobrol biasa.

Pak Ali Kabul terlihat santai. Ia tidak kikuk sama sekali saat bertemu saya. Dalam pertemuan itu Suharsono memperkenalkan Ali Kabul sebagai ahli dari Universitas Lampung yang berpedan sebagai penasihat proyek mitigasi bencana di Gunung Anak Krakatau.

Suharsono pun kemudian bercerita banyak tentang kenapa proyek mitigasi bencana di Gunung Anak Krakatau harus dilakukan. Dia juga memberi alasan mengapa harus dibuat saluran. Tapi ada yang tidak dia ceritakan: ke mana pasir itu diangkut dan nilainya berapa untuk tiap tongkangnya.

Meskipun mengaku sudah membaca tulisan saya di The Jakarta Post, Suharsono tidak protes. Ia tampak biasa-biasa saja. Ia  agak kaget ketika saya beri kartu nama.

Sementara Pak Ali Kabul Mahi, selain menambahkan penjelasan Suharsono, dia lebih banyak bercerita soal kedekatannya dengan saya beberapa tahun sebelumnya.

“Saya dulu sering main-main ke AJI (maksudnya sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Lampung,, tempat saya berorganisasi--OSHN),” kata Pak Kabul.




Wednesday, December 25, 2013

Paperahan, Cara Warga Sumur Kumbang Menutup Tahun



Eman Syah/Teraslampung.com





KALIANDA—Setiap daerah memiliki adat istiadat sendiri. Biasanya adat istiadat itu sudah berlangsung lama dan turun-temurun. Seperti warga Desa Sumurkumbang, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, misalnya, mereka hingga kini masih melanjutkan tradisi nenek moyang dengan kegiatan paperahan atau praperahan.



Paperahan merupakan acara makan bersama yang diikuti seluruh warga desa. Acara itu tidak digelar di sebuah gedung atau balai desa, tetapi di jalan desa. Tiap penduduk akan membawa makanan sendiri-sendiri untuk dimakan bersama-sama.

Mastur, kepala Desa Desa Sumur Kumbang, mengatakan hajat desa yang digelar setiap akhir tahun itu merupakan wujud syukur warga kepada Tuhan YME atas limpahan rezeki dan kesehatan.

“Warga paperahan dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan menjalin keakraban. Mereka bersyukur karena diberi keberkahan tinggal di hutan Gunung Rajabasa,” kata Mastur.

Paperahan merupakan puncak acara dari serangkaian acara pendahuluan yang digelar selama enam kali pertemuan kecil. Enam kali pertemuan itu biasanya setiap hari Kamis sore. Pada pertemuan ketujuh atau pada hari Jumat semua warga menggelar paperahan mulai pukul 06.30 WIB hingga pukul menjelang wakti salat Jumat (pukul 11.00 WIB).

Menurut Mastur tradisi paperahan atau makan bersama di jalan desa itu sudah ada sejak sebelum negara Indonesia Merdeka. Kalau ada warga yang tidak habis makanannya, maka makananan yang sudah dibawa itu tidak boleh di bawa pulang, kecuali untuk diberikan kepada hewan peliharaan seperti ayam, itik, ikan, anjing atau kucing.

“Membawa pulang makanan yang sudah dibawa pada acara paperahan disebut pamali,” kata Mastur.

Menurut Santika,tokoh adat Desa Sumurkumbang, sebelum memasuki hari pamerahan, selama enam hari warga idesa harus mengikuti perilaku yang aturan tak tertulis. Antara lain dilarang bepergian ke luar daerah sampai bertemu bulan Safar (bulan kedua pada kalender Hijriyah), tidak boleh beraktivitas setelah lewat waktu dhuhur (di atas pukul 12.00 WIB), dilarang mendirikan rumah, membuat kerajinan atau beraktivitas yang mengeluarkan suara keras.

“Selain itu, warga masuk ke hutan Gunung Rajabasa untuk mencari kayu bakar tidak boleh membawa pulang kayu yang didapatkan di hutan setelah lewat pukul 12.00 WIB. Kayu bisa dibawa pulang keesokan harinya setelah semalaman ditaruh di perbatasan desa,” tuturnya.

Mahyudin, juga tokoh adat Desa Sumurkumbang, mengatakan tradisi paperahan ada kaitannya dengan penyelamatan bumi dan Kawasan Hutan Lindung Gunung Rajabasa.

Menurut Mahyudin, rangkaian kegiatan pemerahan pada hari ketujuh antara lain mamaca, yaitu membaca kitab Syech Abdul Qodir Zaelani, oleh tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Mamaca berlangsung mulai pukul 06.30 – 10.30 WIB. Saat para tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat mamaca, para pemuda desa mengambil daun pisang di Gunung Rajabasa. Daun-daun pisang yang masih lengkap dengan pelepahnya itu kemudian digelar di jalan desa,” kata Mastur.

Sementara itu, para ibu pagi itu sudah mulai memasak. Mereka memasak daging kambing. Saat proses masak selesai, proses mamaca juga selesai.

“Setelah itu warga desa makan bersama di jalan desa. Sebelum waktu salat Jumat, semua acara sudah selesai,” kata Mastur.

Desa yang sebagian besar penduduknya bersuku Sunda itu memang berada di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Rajabasa. Meski berada di dalam hutan, tetapi desa tersebut termasuk enclave (desa yang diakui pemerintah dan dikeluarkan statusnya dari hutan).

Akhir-akhir Desa Sumurkumbang menjadi berita hangat di sejumlah media karena adanya pertentangan rencana eksplorasi panas bumi. Eksplorasi panas bumi Gunung Rajabasa itu akan dilakukan oleh PT Supreme Energy.

Potensi panas Bumi di sana akan dikelola oleh PT Supreme Energy. PT Supreme Energy akan melakukan pengeboran di 12 lokasi untuk mendapatkan akses energi panas bumi di Gunung Rajabasa. eksploitasi dan eksplorasi panas bumi Gunung Rajabasa akan mampu menghasilkan energi sebesar 220 mega watt.