Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

Monday, May 19, 2014

Menjaga Dusun Indah Indonesia Bersama Leo Kristi

Oleh Taufik Wijaya*

Leo Kristo (foto: sekaringpengabdian.blogspot.com)
BILA dibandingkan dengan dua sahabatnya yakni Gombloh dan Franky Sahilatua, Leo Kristi dapat dikatakan kalah popular. Ketiganya pernah mendirikan sebuah kelompok musik di Surabaya, bernama Lemon Tree’s. Tapi lagu-lagu Leo Kristi lebih menggetarkan hati saya. Liriknya jauh lebih jujur membaca Nusantara. Yang disajikan dalam irama folk dan country.

Mungkin, seperti yang banyak berpendapat, kekuatan Leo terjaga sebab dia tidak pernah terjun ke bisnis musik, yang lebih kompromi dengan penggemar musik Indonesia, seperti dilakukan Franky dan Gombloh, meskipun keduanya tetap menyampaikan kritik sosial, nasionalisme, dan tentang alam.

Dalam melakukan proses kreatif, Leo yang kini berusia 64 tahun (8 Agustus 1949) mengembara Nusantara. Dia membaca tiap denyut air sungai, air laut, air danau, getaran pohon, gunung, bukit, serta kesunyian yang riuh dari hujan tropis.
Kita beruntung memiliki Leo Kristi, yang bernama lengkap Leo Imam Sukarno, seorang muslim, tapi banyak belajar musik dari bapaknya Raden Ngabei Iman dan gereja saat di sekolah dasar.

Bagaimana tidak, hampir semua keindahan Nusantara terekam dari sejumlah albumnya mulai Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka(1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985) yang gagal beredar, Deretan Rel Rel Salam Dari Desa(1985, aransemen baru), (Diapenta) Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, yang direkam pada CD terbatas). Yang terakhir album Warm, Fresh and Healthy (diluncurkan 17 Desember 2010).

Artinya, jika kita rindu Nusantara sebelum hutannya rusak, dusunnya hilang, sungai dan lautnya rusak, petaninya miskin dan menjadi korban dari eksploitasi sumber daya alam, maka dengarkanlah lagu-lagu Leo Kristi.

Mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi, kita seakan lupa jika 32 juta dari 104,9 juta hektar hutan Indonesia rusak. Rusak oleh berbagai aktifitas yang akan menjadikan daratan Indonesia berupa padang pasir atau padang rumput, seperti pertambangan batubara, emas, timah, nikel, kelapa sawit, migas, dan industri lainnya.

Dan, sesuatu yang diharapkan—pasti juga yang dimimpikan Leo Kristi—kita bergerak menjaga lingkungan hidup Indonesia.
Saya pun saat mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi membayangkan air jernih yang mengaliri ratusan anak Sungai Musi yang tersisa, ikan-ikan berenang bersama girangnya anak-anak yang mandi.

Banyak pohon tropis berjajar
Padang rumput yang menghijau
Kebun mawar merah mengharum
Basah dengan pancuran air segar
Semua impian beludru
Sutera dusunku
Sentausalah negeri
Bahagia dusunku
Jembatan kayu cantik mungil
Air sungai yang jernih dingin
Dentang lonceng gereja sayup
Bagai musik yang sengit semarak
Semua impian beludru sutera dusunku
Sentausalah negeri; Bahagia dusunku
(Aaaaaaahhhhh aaaaaa)

Duhai, lirik dari lagu “Beludru Sutera Dusunku” yang diambil dari album Nyanyian Fajar (1975) serasa mengiris hati. Sebab perekaman Leo pada kondisi dusun, dan harapan kondisi itu bertahan selamanya, sudah hilang saat ini. Hanya 39 tahun dari lagu tersebut diluncurkan semuanya telah hilang atau rusak. Entah apa yang terjadi pada 5-10 tahun mendatang.

Getaran yang sama juga dirasakan dari lagu “Salam Dari Desa”, sebuah lagu yang cukup popular di kalangan aktifis lingkungan hidup dan agraria. Lagu yang menggambarkan masyarakat desa, para petani yang kini hidupnya kian sensara.
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang roda giling berputar-putar
Siang malam tapi bukan kami punya

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar – putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya

Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak
Kan kutunggu sepanjang hari
Kita makan bersama-sama berbincang-bincang
Di gubuk sudut dari desa
BUKAN hanya petani atau masyarakat dusun yang menjadi bacaan Leo Kristi, kehidupan para nelayan pun digambarkan dengan indah dan dramatis, seperti dalam lagu “Gulagalugu Suara Nelayan”.
Lagu ini mungkin yang paling popular di kalangan penggemar musik balada rock di Indonesia.  
Berayun-ayun laju
Perahu pak nelayan
Laju memecah ombak
Perahu Pak nelayan
(buih-buih memercik di kiri-kanan, buih-buih memercik di kiri-kanan)
Perahu…

Lihat-lihat nelayan rentang jala pukat
Tarik-tariklah tambang
Umpan sudah lekat
(ikannya melompat-lompat, ikannya melompat-lompat)
Riang riaaang…

Jauh di kaki langit terbentang layarmu
Kadang naik
Kadang turun
Dimainkan oleh ombak
Badai laut biru

Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…
Gulagalugu suara nelayan
Berayun-ayun laju
Berayun-ayun laju…


Sebenarnya apa yang diinginkan Leo Kristi maupun rakyat Nusantara ini, kita hidup merdeka, dan bebas membangun kemakmuran bangsanya di negeri yang kaya ini. Ini tercermin dalam liriknya di lagu “Nyanyian Tanah Merdeka”.

Seperti satu meriam kala meledak
Seribu bedil adakah berarti
Kalau laras - laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata “ Merdeka ! “

Merah putih mawar melati
Merah putih bara hati
Merah putih mawar hati
Merah putih setiap hati

Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka

Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka

Sebenarnya begitu banyak yang dapat dikupas dari lirik lagu milik Leo Kristi, tapi setidaknya tulisan ini dapat membuat kita kembali mendengarkan lagu-lagu Leo Kristi, sehingga jiwa menjadi tenang. Terkhusus para pemusik Indonesia, tampaknya perlu mengambil spirit Leo Kristi, sehingga pada masanya hanya karya yang akan dikenang, bukan perilaku buruknya yang membuat generasi muda jauh dari persoalan bangsa dan negara ini.

* Pekerja budaya 

Friday, May 16, 2014

Sapta Nirwandar: Festival Musik Bambu Bisa Jadi Agenda Tahunan Kabupaten Pringsewu

Adi Nur Pracoyo/Teraslampung.com

Wamenparkraf Sapta Nirwandar membuka FMBN VIII.
PRINGSEWU--Wakil Menteri Pariwiata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar berharap Pemkab Pringsewu bisa menggelar even tahunan Fstival Musik Bambu. Sebab, bambu berkaitan erat dengan sejarah Pringsewu sebagai daerah kolonisasi buatan Belanda yang berkembang pesat hingga seperti saat ini.

“Apalagi Kabupaten Pringsewu ini memiliki potensi yang cukup besar untuk lebih maju, selain nama Pringsewu sendiri yang mempunyai makna Bambu Seribu, sehingga sangat tepat kalau Bambu Nusantara World Music Festival 8 ini diselenggarakan di Pringsewu, sebagai Kota Seribu Bambu,” kata Sapta Nirwandar.

Bambu Nusantara World Music Festival  VIII atau Festival Musik Bambu Nusantara (FMBN) yang digelar di Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Kamis-Jumat (15-16/5/2014) berlangsung meriah. Even nasional yang digelar di Lapangan Komplek Perkantoran Pemkab Pringsewu itu  dibuka oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Dr.Sapta Nirwandar dan diikuti peserta dari sejumlah provinsi di Indonesia.

Turut pula menghadiri acara tersebut Gubernur Provinsi Lampung H.Sjachroedin ZP beserta Ketua TP-PKK Lampung Ny.Hj.Truly Sjachroedin ZP, jajaran Forkompimda Provinsi Lampung, Bupati dan Wakil Bupati Pringsewu, dan beberapa kepala daerah di Provinsi Lampung, serta dihadiri ribuan pengunjung yang turut menyaksikan gelaran akbar tersebut.

Sederet musisi dan artis ibukota juga turut memeriahkan festival tersebut. Di antaranya Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, Krakatau Band, dan Kerispatih. Mereka akan tampil di hari kedua sekaligus malam penutupan puncak Nusantara World Music Festival  VIII.

Selain itu, ada pulapertunjukan meriam bambu, penerbangan lampion,  pameran produk-produk kerajinan bambu, wisata kuliner bambu, seminar mengenai bambu, fashion, mercahdise, permainan tradisional, dan semua aspek yang bersumber dari bambu maupun berkaitan dengan bambu.

Turut pula diserahkan piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)  kepada Pemerintah Provinsi Lampung yang diterima oleh Gubernur H.Sjachroedin ZP dan Pemerintah Kabupaten Pringsewu yang diterima oleh Bupati H.Sujadi atas penampilan musik gamolan yang dimainkan oleh 400 orang pemain secara bersama-sama.

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan peresmian gedung Kantor Bupati Pringsewu di Kompleks Perkantoran Pusat Pemerintahan Kabupaten Pringsewu di Pekon Klaten, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu. Peresmian ditandai dengan prosesi pengguntingan pita dan penandatanganan prasasati oleh Gubernur Lampung.

Bupati Pringsewu H.Sujadi selaku tuan rumah yang ditunjuk dan dipercaya sebagai tempat digelarnya Nusantara World Music Festival VIII, menyatakan rasa bahagia dan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Pringsewu.

Bupati juga mengungkapkan bahwa sejarah keberadaan Pringsewu sendiri tidak terlepas dari yang namanya Bambu. “Sejarah Pringsewu diawali dengan berdirinya  sebuah perkampungan (tiuh) bernama Margakaya yang dihuni oleh masyarakat asli Lampung-Pubian di tepi aliran sungai Way Tebu pada tahun 1738 Masehi. Hingga datangnya kelompok masyarakat dari Pulau Jawa melalui program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 9 September 1925 dengan membuka hutan belantara yang sangat lebat yang banyak ditumbuhi ribuan pohon bambu di sekitar Tiuh Margakaya,” ungkapnya.

Karena banyaknya pohon bambu, lanjut bupati, oleh masyarakat pembuka hutan, perkampungan yang baru dibuka tersebut dinamakan ‘Pringsewu’, yang mengambil nama dari bahasa Jawa yang artinya Bambu Seribu. |

"Ke depan, kami bertekad dan berencana membangun sebuah kampung bambu dan kebun raya bambu, sehingga upaya untuk menjadikan Pringsewu sebagai pusat bambu di Indonesia dapat terwujud," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Lampung H.Sjachroedin ZP dalam sambutannya mengatakan Provinsi Lampung sejak dahulu telah memiliki kekayaan kebudayaan yang tinggi, diantaranya adalah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu yang bernama gamolan. “Berdasarkan penilitian para ahli, alat musik gamolan sudah ada di Lampung sejak abad ke-4 Masehi,” katanya.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Dr.Sapta Nirwandar saat membuka Bambu Nusantara World Music Festival VIII mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya dalam rangka melestarikan kebudayaan asli Indonesia, khususnya kesenian musik tradisional yang terbuat dari bambu yang banyak sekali ragam dan jenisnya di seluruh Indonesia.

“Tidak hanya seni musik, tetapi juga berbagai alat  kebutuhan manusia, permainan tradisional, kuliner, dan berbagai aspek yang terbuat dari bambu,” ujarnya.

Diungkapkan oleh Wamen Parekraf, Bambu Nusantara World Music Festival VIII ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Menurut Sapta, dari Bambu Nusantara World Music Festival I hingga VII selalu digelar di Jakarta dan Bandung secara indoor. Baru kali ini digelar secara outdoor, sehingga akan  dapat lebih menarik perhatian masyarakat luas dari berbagai kalangan.Wamen juga mengatakan dengan Bambu Nusantara World Music Festival VIII, tentunya akan akan membuat nama Pringsewu semakin dikenal luas dan tentunya akan membawa kemajuan bagi Kabupaten Pringsewu. (Andoyo)

Wednesday, May 14, 2014

Merasakan Getaran “Pemuda” Chaseiro

Taufik Che Wijaya*
Chasiro (dok newsmusic.co)

Pemuda, kemana langkahmu menuju
Apa yang membuat engkau ragu
Tujuan sejati menunggumu sudah
Tetaplah pada pendirian semula

Dimana artinya berjuang
Tanpa sesuatu pengorbanan
Kemana arti rasa satu itu
Bersatulah semua seperti dahulu
Lihatlah ke muka
Keinginan luhur kan terjangkau semua

Pemuda, mengapa wajahmu tersirat
Dengan pena yang bertinta belang
Cerminan tindakan akan perpecahan
Bersihkanlah nodamu semua
Masa depan yang akan tiba
Menuntut bukannya nuansa
Yang selalu menabirimu pemuda



LIRIK di atas diambil dari lagu “Pemuda” (Chandra Darusman) yang dipopularkan Chaseiro, kelompok vokal dari Universitas Indonesia yang mengusung aliran musik jazz, yang dipimpin Chandra Darusman. Lagu ini popular sekitar tahun 1978-an.

Melihat situasi politik di Indonesia saat itu, tampaknya lagu tersebut dipersembahkan kepada para pemuda Indonesia agar bersatu untuk berjuang melawan rezim Orde Baru yang antidemokrasi. Pesan ini sangat terasa dalam lirik ini: Dimana artinya berjuang. Tanpa sesuatu pengorbanan. Kemana arti rasa satu itu. Bersatulah semua seperti dahulu. Lihatlah ke muka. Keinginan luhur kan terjangkau semua.

Jika ditafsirkan secara bebas, lirik ini mengingatkan para pemuda Indonesia untuk bersatu dan berjuang seperti para pemuda sebelumnya yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Keinginan luhur tersebut akhirnya terwujud pada 1998, saat rezim Orde Baru tumbang.

Ternyata setelah reformasi, perjuangan para pemuda Indonesia belum selesai. Berbagai persoalan di Indonesia terus bermunculan. Mulai dari kemiskinan, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan hidup, korupsi, serta berbagai bentuk kekerasan yang hampir terjadi di setiap hari.

Bahkan, dalam situasi “kacau” ini banyak pemuda yang terlibat untuk menambah kekacauan bukan meredakannya. Banyak yang dipenjara karena korupsi, mengonsumsi narkoba, aksi teroris, memperkosa, merampok, serta perkelahian antarkampung.

Jika menyimak lirik lagu “Pemuda” hal ini juga sudah diingatkan: Pemuda, mengapa wajahmu tersirat. Dengan pena yang bertinta belang. Cerminan tindakan akan perpecahan. Bersihkanlah nodamu semua. Masa depan yang akan tiba. Menuntut bukannya nuansa Yang selalu menabirimu pemuda.

Lirik dari lagu-lagu Chaseiro memang penuh dengan pesan. Meskipun musik yang ditawarkan terkesan lembut, tidak menghentak seperti rock, tapi jika diresapi pesannya sangat jelas dan tegas.

Misalnya kita simak lirik dari lagu “Kemanusiaan” ‘Kemanusiaan’ (Taufik Darusman, Candra Darusman, Aswin). Lirik sangat jelas menyampaikan pesan kepada setiap manusia, khususnya manusia Indonesia, agar menjunjung nilai-nilai hak asasi manusia (HAM). Sekali lagi, dengan musik yang lembut, Chaseiro mencoba mengkritik rezim Orde Baru yang dipimpin Jenderal Soeharto yang tidak menghormati HAM, karena begitu banyak korbannya, yang sampai saat ini sebagian besar belum diselesaikan kasusnya secara hukum.

Setiap insan di dunia
Berhak atas kebahagiaan
Setiap insan di dunia
Berhak atas kebebasan diri
Hak asasi manusia junjunglah tinggi
Hak asasi manusia peganglah teguh
Kemanusiaan di hatiku
Kemanusiaan di pikiranmu

Sama seperti lirik pada lagu “Pemuda”, pesan yang disampaikan dari lagu “Kemanusiaan” jelas sangat terasa hingga saat ini. Bahkan dapat dikatakan persoalan utama di negara ini adalah pelanggaran HAM. Para penyelenggara negara dinilai belum mampu memenuhi HAM rakyatnya. Sementara para pelaku pelanggaran HAM kian mengumpulkan kekayaan, bahkan membusungkan dada karena mampu berkuasa, apalagi tersentuh hukum.

Lagu “Tempat Berpijak” (Chandra Darusman) mungkin satu kritik yang cukup keras terhadap para pemimpin yang otoriter atau yang mengutamakan kepentingan dirinya, yang tidak memikirkan orang lain, apalagi rakyatnya. Simaklah liriknya: Bila ku merenung, kan segala yang telah kuperbuat. Hanya demi seorang. Dialah diriku. Ternyata, hasil karya. Jerih payah. Yang dapat ku sembahkan. Hanya demi seorang. Dialah diriku. Kualihkan perhatian yang terbenam di hatiku. Memikirkan kepentingan yang lain.

Dapat dikatakan hampir semua lagu milik Chaseiro memberikan pesan yang jelas bagi kemanusiaan dan nilai-nilai luhur lainnya.

***

KELOMPOK musik yang digawangi Chandra Darusman (vokal, keyboard), Helmi Indrakesuma (vokal), Aswin Sastrowardoyo (vokal, gitar), Edi Hudioro (flute), Irwan B. Indrakesuma (vokal), Rizali Indrakesuma (vokal, bass) dan Omen Norman Sonisontani (vokal), pada masanya memiliki penggemarnya, terutama para pecinta musik jazz di Indonesia.

Gaya bernyanyinya, banyak ditiru para penggemar musik Indonesia hingga tahun 1990-an. Ini terlihat dari berbagai vocal grup yang ada di sekolah dan perguruan tinggi. Yang mana setiap hari besar, seperti peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, selalu dilombakan vocal group.

Nama Chaseiro, mengutip artikel Gideon Momongan yakni “Semangat Jiwa Muda, Terus Muda!” di newsmusic.co, merupakan akronim dari para punggawanya yakni Candra Darsuman, Helmie Indrakesuma, Aswin Sastrowardoyo, Edwin Hudioro, Rizali Indrakesuma dan Omen Norman Sonisontani.

Chaseiro dapat dikatakan sebagai kelompok musik yang turut mempopularkan musik jazz-pop di Indonesia pada era 1970-an akhir. Kelompok ini melahirkan Chandra Darusman, yang akhirnya masuk dalam jajaran pemusik jazz Indonesia, yang sudah memunculkan Jack Lesmana, Idris Sardi, Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Didi Tija, Benny Mustapha, Abadi Soesman, Margi Segers, Rien Djamain, Droery Marantika, Jopie Item, yang kemudian disusul penyanyi jazz-pop dan jazz-rock baru seperti Christ Kayhatu, Fariz RM, Hemi Pasolima, Henry Manuputty, Utha Likumahuwa, Ria Likumahuwa dan masih banyak lagi.*

* Pekerja budaya. Tinggal di Palembang

Sunday, April 27, 2014

Obituasi: Idris Sardi Wafat

Idris Sardi (dok Kompas)
Jakarta, Teraslampung.com - Idris Sardi (75), salah satu maestro biola Indonesia, meninggal dunia di Rumah Sakit Meilia Cibubur Senin (27/4/2014) pukul  07.25 WIB.

Nama Idris Sardi sudah sangat populer sejak era 70-an berkat karya-karya musiknya untuk sejumlah film Indonesia. Menjadi penata musik dijalani pria kelahiran Jakarta, 7 Juni 1938 ini hingga era 2000-an. Pelan-pelan nama Idris Sardi meredup seiring bertambahnya usia, utamanya setelah bercerai dengan Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno (Marini).

Sejumlah penghargaan telah diraih Idris Sardi. Antara lain piala Citra sebagai penata musik terbaik berkat karyanya dalam film-film Pengantin Remaja (1971), Perkawinan (1973), Cinta Pertama (1974), dan Doea Tanda Mata(1985). Ketiga film nasional tersebut termasuk film top pada zamannya.

Bakat musik Idris Sardi berasal dari ayahnya, M. Sardi, yang sejak era 1950-an sudah terkenal sebagai pemain biola di Orkes Radio Republik Indonesia (RRI) Studio Jakarta dengan artis peran Hadidjah.

Menurut wikipedia.com, Idris kali pertama mengenal biola pada usia enam tahun. Dalam umur 10 tahun (1949) pria berperawakan kecil itu tampil pertama di Yogyakarta dan mendapat sambutan hangat.

Pada 1952, berkat permainannya yang bagus dengan biolanya, meski baru berusia 14 tahun dan belum lulus dari SMP, Idris diterima menjadi siswa di Sekolah Musik Indonesia (SMIND), yang baru dibuka pada tahun itu. Pada 1952 juga, dalam orkes siswa SMIND, yang dipimpin oleh Nicolai Varvolomejeff, Idris menjadi concert master.

Idris belajar dari dua guru biola. Pertama, di Yogyakarta, pada 1952-1954, guru biolanya adalah George Setet. Kedua, di Jakarta, setelah 1954, guru biolanya adalah Henri Tordasi. Para guru tersebut berasal dari Hongaria.

Ketika M Sardi meninggal dunia, Idris, yang barus berusia 16 tahun, menggantikan kedudukan ayahnya sebagai violis pertama dalam Orkes RRI Studio Jakarta, yang dipimpin oleh Saiful Bahri. Pada 1960-an, Idris bergeser dari musik biola "serius" Jascha Heifetz ke musik biola komersial Helmut Zackarias.

Idris menikah tiga kali. Pertama, dengan Zerlita. Idris-Zerlita memiliki dua anak, yakni  Santi  Sardi (44) dan Lukman Sardi. Santi pernah terkenal sebagai penyanyi dan artiscilik pada era 1970-an.Sementara  Lukman Sardi hingga kini terkenal sebagai aktor film yang kuat di bidang pemeranan. Lukman Sardi kerap disebut sebagai pemain watak penerus generasi Slamet Rahardjo dan Alex Komang di Indonesia..

Setelah cerai dengan Zerlita, Idris Sardi menikah dengan bintang film Marini (K.R.A. Soemarini Soerjosumarno), kakak kandung Japto Soerjosoemarno. Perkawinan mereka kandas saat mereka sudah sama-sama tua. Lalu, Idris menikah lagi dengan Ratih Putri,

Almarhum rencananya baru akan dimakamkan pada pukul 16.00 wib di Menteng Pulo. "Ayah baru akan dimakamjan di Menteng Pulo jam 4 sore," ujar Lukman Sardi saat dihubungi, Senin (28/4).

Thursday, April 3, 2014

Kejutan Jelang Pemilu Candra Malik-Raja Monolog: "... Piye, enak jamanku tho?"

Yogyakarta, teraslampung.com—Musikus  sufi Candra Malik kembali membuat kejutan. Ia mengajak Raja Monolog Butet Kartaredjasa untuk menyambut Pemilu 2014 dengan merilis sebuah single bertema kritik sosial politik. Featuring aktor senior panggung teater itu, Candra meluncurkan lagu berjudul Akulah Penguasa (Menang Pemilu) dan bisa diunduh gratis.

"Dalam lagu berdurasi 4.27 menit itu, Butet bermain monolog sebagaimana yang dulu ia lakukan menjelang masa jatuhnya penguasa Orde Baru. Di lagu ini, ia seolah menghidupkan kembali kekuasaan sang raja lama," ungkap Candra, Kamis (3/4)

Candr Malik mengatakan dirinya sudah mengumumkan rilis lagu ini menjelang tanggal 1 April. "Anggaplah kebangkitan penguasa Orde Baru itu April Mop," seloroh Gus Can, demikian ia kerap disapa.

Menurut Candra, video klip lagu ini akan segera dibuat dan dapat diakses melalui YouTube. "Disutradarai Triyanto Hapsoro, video klip akan digarap di Yogyakarta," ujar kepala Biro dan Sastra (Busas) AJI Indonesia itu.

Bagaimana Butet menyampaikan kritiknya dalam lagu ciptaan Candra Malik dan dinyanyikan sang sufi ini?

"Kepada seluruh rakyat, saya umumkan bahwa mulai hari ini saya lagi yang berkuasa. Kekayaan bangsa dan negara ini harus saya lindungi untuk sebesar-besarnya kepentingan saya dan keluarga saya.  Anda sekalian tidak kebagian. Piye, penak jamanku tho?," ujar Butet, sebagaimana monolog-nya dalam lagu yang musiknya ditata oleh Minladunka Band, di Bandung, itu.

Triyanto Hapsoro, sutradara film dari Yogyakarta, mengatakan bahwa ia suka menerima tantangan kreatif dari Candra Malik untuk membesut video klip lagu Akulah Penguasa.

"Ini kali kedua saya diajak Gus Can. Saya juga yang menggarap video klip Fatwa Rindu, lagunya yang featuring Trie Utami, dua tahun silam. Gus Can tidak suka ikut campur dalam proses kreatif meski ia yang punya gawe. Kami bisa leluasa berekspresi," ujarnya. Video klip akan diproduksi Sanggit Citra Films Yogyakarta.

Triyanto masih menyimpan kejutan yang akan muncul dalam video klip. Ia hanya memastikan, karyanya akan diwarnai parodi yang pedas. "Satu hal yang menarik, sosok Gus Can akan muncul hanya dalam wujud foto, tapi di dalam bingkai foto yang selama ini kita kenal sebagai bingkai foto wakil presiden; bersebelahan dengan foto Mas Butet sebagai presiden," jelas Triyanto. Aksi pajang foto ala presiden dan wakil presiden ini sudah dilakukan Candra Malik di Twitter sejak 1 April dinihari. (Rl)



Kontak: 
Candra Malik
 
081210805790
Triyanto Hapsoro 
0817275394
==
AKULAH PENGUASA 
(Menang Pemilu)
Candra Malik featuring Butet Kartaredjasa
LIRIK LAGU
SONG1: 
E                                     G
Menang, menang, aku menang pemilu
A.                                 E
Bisa kumakan rakyat sesukaku
E.                                  G
Menang, menang, aku menang pemilu
              A.             E
Bisa kujual pulau, kau tak tahu.
REFF:
E.              D.               A.                E
Sekarang akulah yang jadi penguasa
E.                 D.                A.                 
 
Sembarang bertindak, berbuat yang aku
 
E
suka
SONG2:
Menang, menang, aku menang pemilu
O banyak uang-uang di mejaku
Menang, menang, aku menang pemilu
Kubuat undang-undang memihakku
REFF:
Sekarang akulah yang jadi penguasa
Sembarang bertindak, berbuat yang aku suka
CHORUS:
A.                E
Pesta pora lagi
A.                E
Kekasihku gonta-ganti
A.                E
Akulah Raja Negeri..
_
Monolog Butet Kartaredjasa
"Kepada seluruh rakyat, saya umumkan bahwa mulai hari ini saya lagi yang berkuasa. Kekayaan bangsa dan negara ini harus saya lindungi untuk sebesar-besarnya kepentingan saya dan keluarga saya. Anda sekalian tidak kebagian. Piye, enak jamanku tho?"
--
AKULAH PENGUASA
 

(Menang Pemilu)
Ciptaan: Candra Malik
Vokal: Candra Malik
Monolog: Butet Kartaredjasa
Musik: Minladunka Band
Penata Lagu:
1. Rizki Soekirno
2. Jaka Nurdian
Penata Musik: 
Rizki Soekirno
Produser: 
Rizki Soekirno
Produser Eksekutif: 
Sabda Cinta Management