Showing posts with label Pameran Senirupa. Show all posts
Showing posts with label Pameran Senirupa. Show all posts

Monday, March 24, 2014

Dirot Kadirah: Teknis Sebagai Alat Menyampaikan Pesan




Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com





Nex Generation (teraslampung/isb)
Metro—Teknis bagi seorang perupa hendaknya menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Karena pesan itu, karya lukisan memiliki ruh dan jiwa.

Hal itu dikatakan pelukis Indonesia kelahiran Indramayu, Dirot Kadirah, yang ditemui di ruang Pameran Senirupa yang digagas Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kota Metro bekerja sama dengan Dewan Kesenian Metro (DKM), di Gedung Wanita, Senin (24/3) malam.

Pelukis yang mencirikan karya-karyanya melalui simbol ikan ini lebih lanjut mengapresiasi karya para perupa yang dpamerkan, secara teknis dan estetis sudah baik. Namun, kata Dirot yang kerap berpameran di Indonesia maupun luar negeri ini, teknis dan estetika saja belum cukup.

“Bagaimana karya kita bisa berbicara kepada penikmatnya, tentu seniman harus bergelut untuk mendapat (menemukan) ciri (khas, Red) dari karya-karyanya,” kata perupa ini yang tengah menyiapkan pameran bertajuk “Love” di Jakarta.

Dirot (sedekap tangan)
Dia mencontohkan, bisa dibuktikan dengan karya-karya Jeihan ataupun Acep Zamzam Noor, pelukis yang juga penyair. “Biarpun seperti hanya coretan atau absurd, misalnya, lukisan-lukian Acep selalu berbicara,” jelasnya.

Oleh sebab itu, kata pelukis yang tahun lalu berpameran di Malaysia dan kini tengah menyiapkan pameran karya-karyanya di Prancis, seorang perupa selain menguasai teknis dan estetika, maka yang perlu digeluti adalah sebuah lukisan mesti bebricara, dan itu tak ada lain mesti ada pesan yang mau disampaikan.

“Inilah yang belum saya peroleh dari sejumlah karya lukis di sini,” imbuh Dirot.

Dirot lebih jauh menilai, sebagian karya yang ditampilkan cenderung tidak memiliki ruh (dan jiwa). “Karenanya seperti kehilangan pesan.”

Dia juga menyebut lukisan berupa jukung di laut lepas, mengingatkannya pada lukisan Nucia Hartini. Kemudian, beberapa yang lain, terkesan ngeplat.

Meski begitu, Dirot menilai, secara umum karya-karya sneirupa yang dipamerkan di Gedung Wanita Metro lumayan baik. Dia terkesan secara teknis dan estetika sudah kuat, khusus pada lukisan “Nex Generation” karya Edi Purwanto.

Sementara itu, Pameran Senirupa Hitam Putih dan Pameran Batu Akik yang dibuka Sekda Kota Metro Ishak, Senin (24/3) dan akan berlangsung hingga Kamis (27/3) juga menghadirkan satu karya instalasi.

Apresiasi pengunjung cukup positif pada Senin (24/3) malam. Meskipun, menurut Samsu Rizal, belum satu karya pun terjual. Pejabat Kota Metro tak banyak mengapresiasi, dengan mengoleksi karya-karya perupa setempat.

















Sekda Kota Metro Buka Pameran Senirupa dan Batu Akik

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com


"Golput" (teraslampung/isb)
Metro—Gedung Wanita Kota Metro mulai Senin (24/3) siang dipenuhi lukisan dari para perupa Metro dan Bandarlampung. Sekira 30 karya perupa dipamerkan di ruang gedung tersbeut. Sementara di halaman Gedung Wanita dan pameran batu akik menyedot perhatian warga.

Pameran Senirupa dan Batu Akik yang ditaja Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikbudpora) Kota Metro bekerja sama dengan Dewan Kesenian Metro (DKM) ini, dibuka Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Metro Ishak, akan berlangsung hingga 27 Maret mendatang.

Wakikota Metro Lukman Hakim dalam sambutan yang dibacakan Sekda Metro Ishak, menyambut baik kegiatan pameran senirupa dan batu akik ini. Diharapkan dari gelar karya senirua ini akan member apresiasi bagi masyarakat Metro, dan menumbuhkan bibit baru dalam dunia senirupa.

Pameran senirupa ini menampilkan karya-karya para perupa yang sudah tak asing di Provinsi Lampung, di antaranya Edi Purwanto, Yulius Bernard, Sutanto, dan Samsu Rizal. Karya-karya yang ditampilkan dari ukuran kecil hingga besar.

Beberapa karya senirupa yang menarik antara lain berjudul “Nex Generation”, “Golput”, “Hitam Putih”, “Bergeser”. Karya-karya lukisan ini cenderung ekspresif-impresionis. 

Salah satu pengunjung mengaku tetarik dengan lukisan yang dipamerkan. Menurutnya, karya-karya para  perupa itu di antaranya bertema kontekstual. Dia menyebut “Golput” bertepatan dengan menjelang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung.

“Ini kontekstual sekali. Ada pesan yang disampaikan, bahkan cenderung ajakan untuk tidak memilih. Di era reformasi dan demokrasi sekarang, setiap individu punya hak untuk memilih atau tidak. Ini kesan yang saya bisa tangkap dari karya ‘Golpit’ ini,” kata Eko yang ditemui Senin (24/3) pukul 19.00.

Hal sama juga diakui Hendrik. Dia tertarik dengan lukisan bertajuk “Bergeser” yang menampilkan seorang bayi di antara kelimunan kata-kata. “Anak-anak yang baru lahir pun tak lagi bisa mengelak dari hunjaman kata. Suatu cerminan bahwa di era reformasi, kata-kata lebih banyak daripada kerja. Meracuni generasi bangsa,” jelasnya.


Dia mencontohkan, bagaimana para politisi menjelang pemilu. Para poltisi, menurutnya, hanya punya kata penuh janji. “Sementara politik di Indonesia masih terkesan bayi,” imbuh dia.

Pemeran Senirupa dan Batu Akik di Kota Metro ini berlangsung hingga Kamis (27/3), masih sebagai ajang apresiasi kalangan seniman. Artinya, belum bisa menarik kolektor di daerah ini untuk mengoleksi lukisan dari para perupa Lampung.

“Para pejabat di sini juga belum tergerak mengapresiasi. Padahal, kalau di kota-kota lain, setiap ada pameran sneirupa yang digelar oleh instansi pemerintah, ada saja pejabat yang membeli lukisan,” kata Samsu Rizal, perupa yang menampilkan “Hitam Putih” dan menjadi tema dari pameran senirupa di Metro.

Perupa yang pernah menetap 13 tahun di Ubud, Bali, ini tetap bangga dengan kepedulian pemerintah setempat yang masih peduli untuk menggelar kegiatan ini.

Pameran Batu Akik mendapat sambutan antusias warga Metro. Hal ini dapat dilihat dari transaski. Ternyata penggemar batu akik di kota ini cukup banyak. Pengunjung juga memenuhi arena pameran.