Showing posts with label Pemadaman Bergilir. Show all posts
Showing posts with label Pemadaman Bergilir. Show all posts

Friday, May 2, 2014

Tekan Terjadinya Kebakaran, PLN Diminta Segera Perbaiki Jaringan



Siti Qodratin Aulia, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung

Bandarlampung--PT PLN persero distribusi Lampung diminta segera perbaiki jaringan SUTT yang menyebabkan pemadaman bergilir terulang, bahkan diperkirakan hingga Mei 2014. Hal tersebut untuk menekan terjadinya bencana kebakaran.

Hal itu dikatakan Walikota Bandarlampung Herman HN saat meninjau korban kebakaran di Jalan Imam Bonjol persisnya di depan Perum Bukit Kemiling, Jumat (2/5) siang.

Perlu diketahui, tingginya tingkat kebakaran di Kota Bandarlampung sejak Januari hingga April 2014 sebanyak 34 titik. Umumnya terjadi akibat pemadaman listrik bergilir. Ha itulah yang mendapat perhatian Herman HN.

Walikota Bandarlampung meminta pihak PLN segera memperbaiki jaringan listrik yang rusak,  sehingga tidak ada lagi pemadaman bergilir. Tanpa pemadaman bergilir dapat menekan terjadinya kebakaran.

Herman didampingi Kepala Dinas Sosial memberikan bantuan sebesar Rp50 juta untuk meringankan beban korban.

Pemadaman listrik bergilir mengakibatkan masyarakat menghidupkan alat penerang sementara, misalnya lilin atau lampu minyak. Hal ini membuat rawan kebakaran.

Oleh karena itu, orang nomor satu di Bandarlampung mengingatkan warga agar berhati-hati dalam menggunakan listrik dan alat penerangan lainnya. “Apalagi saat ini PLN tengah melakukan pemadaman listrik bergilir,” katanya.

Berita Terkait: Kebakaran di Kemiling, Bocah 7 Tahun Tewas Terpanggang

Monday, March 17, 2014

Lampung, Peluang dan Tantangannya


PLTU Tarahan
SORE di akhir Juni itu saya buru-buru ke Bandara Soekarno Hatta untuk perjalanan ke Lampung setelah kunjungan ke FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) di Teluk Jakarta bersama Komisaris Utama, anggota Dewan Komisaris PLN dan Pak Bagiyo Riawan- Direktur (Pengadaan Strategis & Energi Primer) dan tentunya bersama Pak Suryadi 'Gas' Mardjoeki - Kepala Divisi Gas dan BBM (KDIVGBM). Karena keaktifannya mengurus gas untuk PLN, nama 'Suryadi Gas' lebih populer dari pada Suryadi Mardjoeki nama aslinya.

Keberadaan FSRU itu menjamin PLTGU Muara Karang Jakarta berkapasitas 1600 MW bisa beroperasi tanpa BBM sehingga pemakaian BBM untuk memroduksi listrik di Jawa Bali saat ini hanya 2,5 %. Sisa 2,5 % BBM ini hanya untuk memproduksi listrik di Bali dan akan berkurang kalau kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 sudah beroperasi akhir tahun ini.

Karena berangkatnya sudah sore, sampai di Lampung sekitar jam 5.00 langsung menuju kantor PLN Distribusi Lampung untuk berdiskusi dengan pegawai Distribusi Lampung serta perwakilan P3B Unit Pelayanan Transmisi (UPT) Lampung dan Sektor Tarahan-Lampung. Diskusi berlangsung meriah sampai jam 8.30 malam dengan diselingi istirahat untuk sholat magrib. Dari diskusi hangat ini saya mendapat beberapa informasi penting.

Pertama, pertumbuhan beban puncak dan penjualan listrik di Lampung masing-masing 13,6% dan 13,3%. Ini sangat tinggi untuk ukuran Wilayah/Distribusi se Indonesia ! Ini peluang dan tantangan besar bagi PLN Lampung untuk mengembangkan bisnisnya.  Kedua, komposisi pegawai Distribusi Lampung ternyata 60% berusia di bawah 30 tahun dan 50% berpendidikan D3-S1. Wow, ini sangat potensial! Sangat menantang untuk diubah menjadi kekuatan besar khususnya menghadapi pertumbuhan tinggi. Ketiga, dari sisi pasokan listrik, Lampung paling memadai diantara daerah/unit PLN se Sumatera. Lampung sudah tidak menghadapi defisit daya walaupun masih harus diperkuat dengan transmisi Lampung - Menggala.

Dalam paparannya Pak Made Artha - GM PLN Distribusi Lampung sudah bertekad untuk memanfaatkan tiga kelebihan ini menjadi kekuatan PLN Lampung ke depan. Tapi tekad GM saja tidak cukup. Perlu dukungan dan tekad senada dari seluruh pegawai Distribusi Lampung untuk membangun kekuatan besar ini. Sekarang tinggal bagaimana mewujudkannya. Inilah tantangan PLN Distribusi Lampung merubah peluang besar menjadi unit PLN yang efisien (susut single digit), andal (gangguan turun 25% sampai bisa mengalahkan Distribusi Bali) dan berkualitas (kecepatan layanan pelanggan baru 5, 15, 40 hari dan tanpa calo).

Dari diskusi malam itu saya mendapat kesan ada semangat membara di Lampung ini sehingga tantangan diatas pasti bisa diwujudkan. Buktinya diskusi berlangsung sampai jam 8.30 malam. Itu pun sudah saya batasi. Kalau tidak dibatasi, diskusi bisa panjang sampai malam. Padahal semua yang hadir belum makan malam. Keuntungan lain PLN Distribusi Lampung hanya mengurusi distribusi saja. Tidak lagi mengurusi pembangkit dan transmisi. Jadi, mari kita tunggu cahaya baru dari Lampung ini.

Besok paginya, jam 7.30 saya sudah berada di PLTU Tarahan. Saya tiba lebih dulu dari pak Arfan - Manajer Sektor Tarahan- yang tiba beberapa saat kemudian. Pak Arfan adalah Manajer yang baru dipromosikan dari PLTGU Cilegon, baru tiba di Lampung dari Cilegon dengan menyeberang selat Sunda memakai kapal ferry Merak - Bakauheni.

Setelah berkeliling melihat PLTU Tarahan yang baru pertama kali saya datangi, saya melihat PLTU ini sangat istimewa. PLTU ini tidak punya pelabuhan batubara (coal jetty) tempat tongkang batubara berlabuh untuk menurunkan batubara, beserta peralatan ship unloader - crane pembongkar batubara dari tongkang ke darat. PLTU ini juga tidak punya tempat menimbun stok batubara terbuka (coal yard) beserta peralatan pengatur batubara (stacker reclaimer), seperti yang selalu ada di PLTU lainnya.

Di PLTU Tarahan ini batubara nya dikirim dari lokasi coal yard PT Bukit Asam yang lokasinya bertetangga. Hanya dibatasi sungai kecil. Di area PLTU ini hanya ada belt conveyor (ban berjalan) untuk membawa batubara dari coal yard PT Bukit Asam ke tangki penimbun batubara tertutup (coal silo). Coal silo ini dibuat dari beton berbentuk silinder yang menyimpan batubara 2x15.000 ton. Belt conveyor nya juga tertutup karena ban berjalannya ada dalam pipa.

Dengan kondisi seperti ini, di PLTU Tarahan tidak terlihat batubara. PLTU ini memang didesain sebagai PLTU yang ramah lingkungan.Tidak terlihat batubara di lokasi PLTU Batubara. Lha....ini kan istimewa.

Yang ada hanya pohon-pohon mangga, rumput hijau dan abu hasil pembakaran batubara yang jumlahnya relatif tidak banyak karena sudah diambil pabrik semen untuk campuran produksi semen.

Setelah melihat-lihat PLTU, lalu kami berdiskusi bersama pegawai di Sektor Tarahan yang kantornya juga berlokasi di PLTU Tarahan ini. Dari diskusi singkat ini saya mendapat beberapa informasi menarik.

Pertama, PLTU Tarahan yang boilernya memakai teknologi CFB (circulating fluidized bed) dulu sering trip karena boiler bocor. Sekarang bocornya tinggal 2x dalam 5 bulan terakhir. Sudah sangat jauh membaik. Kedua, komposisi pegawainya 80% berusia di bawah 40 tahun. Wow...ini potensi besar yang jarang ditemui di unit-unit PLN. Ketiga, teman-teman di Tarahan ini sudah menerapkan OPI sebagai bagian dari perbaikan proses bisnisnya. Ini bagus....! Saya mendapat laporan dari teman-teman OPI central coach bahwa OPI di Sektor Tarahan ini yang paling maju penerapannya di Sumatera.

Setelah berdiskusi singkat, lalu saya menuju lokasi PLTU Lampung 2x100 MW, pembangkit baru yang merupakan bagian dari Proyek 10.000 MW. Lokasinya tidak jauh dari PLTU Tarahan. Unit-1 sudah mulai commissioning dan saat saya datang sudah beroperasi dengan beban 70 MW. Unit-2 sedang dalam penyelesaian dan diharapkan bisa beroperasi komersial pada tahun 2013 ini. Keberadaan PLTU Lampung ini tentu sangat berarti untuk menopang pertumbuhan listrik 13-14% di Lampung.

Karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Sektor Tarahan diatas, saya memberikan 3 tantangan kepada Pak Arfan dan Sektor Tarahan:
1.       PLTU Tarahan harus bisa menjadi pembangkit batubara dengan kinerja operasi terbaik se Sumatera. Karena didesain sebagai PLTU ramah lingkungan yang tidak kelihatan batubaranya
2.       PLTU Tarahan harus bisa mendapat Proper Emas yang didahului dengan proper hijau tahun 2014.
3.       OPI yang sudah terimplementasi dengan baik harus bisa ditransformasi menjadi bagian dari budaya kerja di Sektor Tarahan.

Dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, saya yakin ketiga tantangan ini bisa diwujudkan oleh Pak Arfan dan Sektor Tarahan. Pak Ruly Firmansyah – GM Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan pasti sangat mendukung upaya-upaya menjawab 3 tantangan tersebut.

Bisakah? Mari kita tunggu hasilnya.


Sumber: http://optimus.pln.co.id/opi/index.php/catatan-pmo/70-lampung:peluang-dan-tantangannya


baca juga: PLN: Menyala Terus, Terus Menyala

Tuesday, March 11, 2014

Pemadaman Listrik Bergilir: Hanya Mesin Pembangkit PLTU Bermasalah?

Isbedy Stiawan ZS, Ferdi Gunsan/Teraslampung.Com


PLTU Tarahan (teraslampung.com/oyoshn)
Bandarlampung—Hampir satu bulan belakangan ini pemadaman listrik secara bergilir dinikmati masyarakat Lampung. Pemadaman bisa terjadi lebih dari 5 jam dan minimal 3 jam. Bagi pelanggan PT PLN yang taat membayar rekening, kejadian ini sangat mengecewakan.

Masyarakat akhir-akhir ini menghujat PLN Wilayah Lampung—sekarang sudah berganti nama menjadi PLN Distribusi Lampung—yang notabene tugasnya hanya pendistribusi daya sampai ke rumah-rumah bersama unit di bawahnya:  PLN Area Tanjungkarang, PLN Area Metro, PLN Area Kotabumi, sementara bagian pembangkit—khususnya PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) —lepas dari hujatan. Padahal, “biang kerok” persoalan ini pada mesin pembangkit yang buruk.

Sabtu (8/3) siang, matahari menyengat, kami menjenguk PLTU Sumatera Bagian Selatan di Tarahan dan Sibalang, Kabupaten Lampung Selatan. Kompleks PLTU Tarahan pembangkit listrik berkapasitas 2 x 100 MW menggunakan bahan bakar batubara itu berada di sisi kiri jalan trans Sumatera ruas Bandarlampung--Lampung Selatan. Di seberang kompleks PLTU Tarahan, terdapat stock file Bukit Asam.Dari situlah batu bara dialirkan  menggunakan conveyor, dan mempunyai dua pembangkit yang biasa disebut pembangkit tiga dan empat..

Dari jalan trans Sumatera Tarahan, Lampung Selatan, mata kami mendongak ke cerobong besar dan tinggi yang ada di PLTU Tarahan. Cerobong layaknya knalpot kendaraan itu, tidak mengeluarkan asap. “Berarti mesin pembangkit sedang tidak beroperasi,” kami membatin. Menurut informasi yang kami terima PLTU Tarahan sedang overhaul (turun mesin)

Setelah mengambil bebeberapa gambar area PLTU Sumbagsel Tarahan, kendaraan kami arahkan ke Bakauheni. Tujuan kami adalah PLTU Sibalang, Desa Sebalang, Kecamatan Tarahan, Lampung Selatan.

Menyebut PLTU Sebalang, ingatan pun tertuju pada Wendy Melfa, mantan Bupati Lampung Selatan yang saat ini masih mendekam dalam kurungan penjara, kasus markup pembebasan lahan di Sibalang untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ini dan Emir Moeis Anggota DPR RI yang kasusnya masih dipersidangkan karena menerima suap

Seperti juga PLTU Tarahan, cerobong asap PLTU Sebalang tak tampak “ada yang merokok” sehingga dari puncak cerobong menara tanpa asap. Salah seorang security di PLTU Sibalang yang mengaku baru bekerja di sana, tidak mengetahui apakah mesin pembangkit itu sedang beroperasi atau belum.

“Wah, saya tidak tahu apakah sudah beroperasi atau belum,” katanya. Petugas satpam ini juga selalu menjawab “tidak tahu” setiap ditanya sambil ditambahkan; “saya baru bertugas di sini.”

Rel roli PLTU Tarahan (teraslampung/isb)
Apabila PLTU Tarahan mensuplai batubara langsung dari PT Batubara Bukit Asam Tarahan karena keduanya berjarak tidak jauh. Berbeda dengan PLTU Sibalang, keberadaannya diperkirakan 10 km dari PT Bukit Asam.

Sebuah dermaga bagi kapal pengangkit batubara disiapkan. Lalu rel roli (conveyor) dibangun sangat kokoh dalam bentuk flyover dari dermaga sampai gudangnya yang beratap setengah lingkaran, belum diketahui dari mana suplai batubara untuk pembangkit PLTU Sibalang ini yang juga berkapasitas 2 x 100 MW dengan dua pembangkit yang dinamakan pembangkit satu dan pembangkit dua.

Di PLTU Sebalang kami tak sia-siakan mengambil gambar dari berbagai sudut. Kantor PLTU ini tisak jauh dari panta ilepas. Di sekitar PLTU masih tampak beberapa warung makan dan minuman yang kini tutup.

Boleh jadi, warung-warung yang ada di dekat PLTU Sebalang ini pernah jaya, saat pembangunan PLTU Sibalang. Kini warung-warung itu tidak berpenghuni, mungkin sudah ditinggal pemiliknya. Hanya satu-dua yang kemudian dijadikan tempat tinggal.

Dari kejauhan kami melihat tumpukan batubara di dalam area PLTU Sebalang. Beberapa tumpukan bahkan, kemungkinan batubara itu sebagai stok.Tetapi, tak tampak kesibukan pekerja di dalam PLTU Sibalang. Padahal, kami sudah sangat dekat.

Inilah dua dari sekian pembangkit listrik milik PT PLN yang ada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Perlu diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ada di Lampung di bawah kendali PT PLN Pembangkit Sumbagsel, yang berpusat di Palembang.

Karena pusatnya di Kota Pempek, General Manager (GM) berkantor di Palembang. Di Lampung hanya Manager: Manager PLTU saja, sedangkan pembangkit di luar PLTU antara lain PLTD, PLTA, PLTS dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Ulubelu, KabupatenTanggamus, berada di bawah kendali PLN Sektor Bandar Lampung di Rajabasa (dekat BLPP).

Itu sebabnya, manakala pemadaman listrik bergilir di Lampung hampir sebulan dan menuai protes dari elemen masyarakat, GM Kit (pembangkit) Sumbagsel datang ke Lampung dan langsung meninjau beberapa pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN Sumbagsel.

Namun, kata salah seorang kontraktor listrik di Lampung, kehadiran GM Kit Sumabsel beberpaa hari lalu, belum juga menyelesaikan masalah. “Pemadaman listrik bergilir masih berlangsung,” katanya ditemui di AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) DPD Lampung, Sabtu (8/3) siang.

Persoalan kelistrikan di Sumbagsel, khususnya Lampung, adalah masalah mesin pembangkit—PLTU khususnya di dua tempat: Tarahan dan Sibalang—saat ini tidak beroperasi maksimal.

Kontraktor listrik itu menyebut, di dua pembangkit tersebut ada empat mesin pembangkit. Di Tarahan ada dua, yakni mesin 3 dan 4. Sedangkan di PLTU Sebalang juga ada dua, disebut mesin 1 dan 2. Selama ini yang beroperasi hanya mesin 3 dan 4.

“Tapi belakangan ini, salah satu mesin di PLTU Tarahan rusak dan satunya overhaul. Inilah yang menyebabkan terjadi giliran pemadaman listrik,” katanya.

Jadi, dia menambahkan, kalau selama ini masyarakat menghujat dan meminta pertanggungjawaban kepada PT PLN Distribusi Lampung di Rajabasa ataupun PLN Area Tanjungkarang di Jalan Diponegoro sebenarnya kurang tepat. PT PLN Distribusi Lampung itu hanya mendistribusi ke gardu-gardu distribusi kemudian baru ke pelanggan.

 “Sedangkan sumber daya listriknya dari pembangkit tidak di bawah kendali PT PLN Distribusi Lampung, melainkan kendalinya pada PT. PLN Pusat,” katanya.

Persoalannya yang dihadapi PLN Distribusi Lampung ini, ialah mesin kualitas pembangkit listriknya buruk. Sehingga tidak bisa beroperasi maksimal untuk mendistribusi daya listrik bagi pelanggan di Provinsi Lampung. Mesin pembangkit di PLTU Sibalang belum beroperasi, sementara dua mesin di Tarahan sedang rusak dan overhaul (perbaikan).


Budi Agustian (teraslampung/ isb)
Menanggapi masalah ini, Ketua AKKLINDO DPD Lampung Budi Agustian mengkritisi pihak PLN yang belum memiliki perencanaan ke depan yang baik. Kalau mesin pembangkit hanya bertahan 5 tahun, misalnya, sudah dipikirkan sebelum deadline mesti telah disiapkan mesin baru.

Atau, kata dia lagi, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi saat mesin rusaka tau overhaul. “Bukan seperti sekarang, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” kata Budi Agustian.

Meskipun PT PLN Distribusi Lampung juga mendapat distribusi daya listrik, yang disebut interkoneksi, dari Palembang, ternyata tidak menjamin akan memenuhi kebutuhan listrikdi Provinsi Lampung.

Apalagi, satu jalur distribusi daya listrik dari Sumatera Selatan yang semestinya bisa membantu justru jalur SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi)-nya ditolak atau tidak diizinkan melewati lahan negara yang dikuasakan HPL-nya kepada PT Sugar Grup Lampung (SGC), taipan gula yang terkenal bermurah hati membagi-bagikan gula di tahun politik ini.

Sudah lebih 3 tahun projek SUTET tersebut mandek. “Padahal jalur distribusi listrik liwat SGC itu, bisa sangat membantu, terutama jika terjadi kerusakan pada pembangkit yang ada di Lampung” kata kontraktor listrik lainnya.

Ada apa dan berapa pembangkit listrik di Provinsi Lampung, serta bagaimana perjalanan daya listrik dari pembangkit hingga ke pelanggan? Bagaimana seharusnya dilakukan PLN agar pemadaman bergilir listrik tidak menjadi tradisi seperti selama ini? Teraslampung.Com akan menurunkan berseri.*


Thursday, March 6, 2014

Pemadaman Bergilir, LBH Somasi PLN

Bandarlampung, Teraslampung.Com—Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung melayangkan surat somasi ke PLN Wilayah Lampung, Kamis (6/3).

Somasi LBH tersebut kepada pihak PLN, terkait pemadaman listrik secara bergilir di daerah ini sepanjang Maret 2014, dan telah menimbulkan reaksi keras dari publik.

LBH memberikan waktu tujuh hari (7x24 jam) kepada PLN untuk memperbaiki sistem pelayanan, sehingga tidak ada lagi mati lampu. “Selain itu, PLN dapat memberi penjelasan kepada publik penyebab pemadman listrik,” jelas Direktur LBH Bandarlampung Wahrul Fauzi Silalahi.

Pemadaman listrik secara bergilir di Lampung belakangan ini, telah menuai banyak protes dari masyarakat dan pengusaha. Apalagi, akibat pemadaman listrik yang dilakukan  PLN berdampak bagi masyarakat, seperti kerugian materi, juga  masyarakat gelisah karena ketidakpastian pemadaman.

“Jadwal pemadaman yang dilansir PLN kadang tidak sesuai, dan berubah-ubah. Ini membuat masyarakat kecewa,” kata Ilham, 52, warga  di Kemiling, Bandarlampung.

LBH Bandarlampung menilai, pemadaman listrik oleh PLN telah menyalahi aturan. Berdasarkan peraturan dalam Undang-undang RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan  Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Listrik.

“Di sana disebutkan bahwa masyarakat berhak mendapatkan pelayanan listrik secara terus-menerus,” kata Silalahi lagi.

Sebab itu, kata Wahrul, LBH Bandarlampung melayangkan surat somasi kepada pihak PLN dan memberikan waktu selama 7x24 jam untuk PLN segera memperbaiki sistem penyediaan tenaga listrik.

Bahkan, tegas Wahrul Fauzi, pihaknya juga siap  menempuh jalur hukum dengan menggugat PT. PLN Wilayah Lampung apabila perusahaan BUMN tersebut tidak merespon somasi  LBH.

Menurut Wahrul Fauzi Silalahi, LBH Bandarlampung juga juga membuka Posko Pengaduan Masyarakat  yang merasa dirugikan akibat pemadaman listrik.

“Laporan masyarakat akan dijadikan materi dalam gugatan, jika somasi yang dilayangkan tidak mendapat tanggapan dari PLN,” tutupnya. (isb)