Showing posts with label PLN. Show all posts
Showing posts with label PLN. Show all posts
Friday, June 6, 2014
Listrik Padam Lagi, PLN Ingkar Janji?
Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
Bandarlampung—Listrik padam lagi, Sabtu (7/6) sejak pukul 09.00 pagi. Kawasan yang terkena pemadaman listrik antara lain Jl. Sam Ratulangi, Imam Bonjol, Puurnawirawan, Bilabong, Gedung Air, Kebersihan, Gang PU, dan sekitarnya.
Menurut sejumlah warga yang ditemui, mengaku kesal dengan pemadaman listrik ini. Bahkan, Alexander menuding PT PLN (Persero) ingkar janji. Alasan warga Purnawirawan itu, pihak PLN pernah berjanji yang dimuat di media massa bahwa sejak 27 Mei listrik kembali normal setelah pengganntian kabel SUTT.
“Kenyataannya, sekarang terjadi pemadaman listrik lagi,” katanya ketus. Dia menurutkan pemadaman terjadi sejak pukul 09.00. Banyak kerjaan yang menggunakan listrik menjadi terbengkalai.
Sementara Kabag Humas PT PLN Divisi Distribusi Lampung I Ketut Darpa menjelaskan, pemadalan listri pada Sabtu (7/6) mulai pukul 09.00 disebabkan adanya jadwal pemeliharaan penyulang Embun.
“Jadi bukan pemadaman bergilir,” katanya singkat.
Meski alasan PLN soal pemeliharaan penyulang Embun, warga mengaku kecewa dengan kinerja PT PLN Distribusi Lampung. “Apapaun alasannya, misalnya pemeliharaan penyulang Embun, tetap saja pemadaman listrik,” keluh Rohimat, warga Lebak Manis, Bandarlampung.
Dia berharap PLN tidak trus-terusan melakukan pemadaman, dan cukuplah sepanjang Januari-Mei 2014 pemadaman bergilir. “PLN sesukanya memadamkan listrik, tapi pembayaran tidak bisa telat,” kata Alexander lagi.
Wednesday, June 4, 2014
LBH Gugat PT PLN: Sidang Perdana Pekan Depan
R. Usman, Syailendra Arif/Teraslampung.com
Bandarlampung—Gugatan LBH Bandarlampung kepada PT PLN mulai disidang pekan depan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang.
Sebelumnya, LBH Bandarlampung secara resmi mendaftarkan gugatan terhadap PT PLN (Persero) Distribusi Lampung ke PN Klas IA Tanjungkarang di Bandarlampung. Kepala Divisi Advokasi Anggit Nugroho menghatakan hal itu, Rabu (4/6).
Dikatakan Anggit, gugatan tersebut karena PLN tidak mematuhi undang-undang yang mengatur kinerja atau kewajiban PLN untuk menyediakan dan memastikan pasokan listrik demi kebutuhan masyarakat Lampung.
Sehingga, lanjut Anggit, LBH menilai perbuatan PT PLN Distrubusi Lampung telah melakukan perbuatan melawan hukum. “Apalagi, pihak PLN juga pernah berjanji pada 27 Mei 2014 tidak ada lagi pemadaman. Namun., tanpa alasan yang jelas pihak PLN tetap melakukan pemadaman listrik,” kata dia.
Dalam sidang gugatan yang digelar dua pekan mendatang itu, LBH Bandarlampung sudah menyiapkan bukti-bukti untuk mendukung gugatannya. “Bukti tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan jika dikemudian hari proses mediasi tidak berjalan lancar,” imbuh Angit Nugroho.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas PT PLN Distribusi Wilayah Lampung I Ketut Darpa yang dihubungi terpisah, Rabu (4/6) sore, justru tidak mengetahui gugatan LBH Bandarlampung tersebut, dan sidang perdananya akan digelar dua pekan mendatang.
Menurut Ketut Darpa, pihaknya saat ini masih fokus terhadap pelayanan yang belakangan ini mengalami defisit daya. “Hingga kini PLN masih terus melakukan upaya perbaikan terhadap sejumlah pembangkit yang mengalami kerusakan berakibatnya seringnya pemadaman bergilir,” imbuhnya.
Dikatakan Darpa lagi, pihaknya terus berupaka memberikan penjelasan kepada konsumen ataupun masyarakat, terkait keluhan pemadaman listrik bergilir di wilayah Lampung.
Gugatan LBH Bandarlampung kepada PT PLN Distribusi Lampung dilayangkan pada 28 Mei 2014. Gugatan itu dengan materi pokok lima pasal, yaitu pasal 2 dan 29 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
Kemudian pasal 26 Peraturan Pemerintah RI nomor 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik, pasal 4 huruf (a) dan (h) UU No 8 tahun 1999, serta pasal 45 ayat (1) UU RI No 8 tahun 1999.
Pada Bab 3 tentang sifat perbuatan melawan hukum PT PLN Distribusi Lampung sebagai tergugat, LBH Bandarlampung memasukkan sembilan pasal: Pasal 2, 28 dan 29 Undang-Undang No 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan. Kemudian Pasal 26 Peraturan Pemerintah RI No. 10 tahun 1989 tentang penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik, ditambah Pasal 4, 7, 19, dan 45 UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.
LBH juga menyertakan pasal 136 KUH Perdata. Karena menilai PLN tidak serius menjalankan tugasnya, sering ingkar janji dalam menyebutkan batas waktu penghentian pemadaman bergilir sejak Januari 2014.
Dari Lampung Utara, masyarakat setempat marah kepada PT PLN sebabnya kenaikan tariff dasar listrik (TDL) namun tidak diimbangi pelayanan prima.
Sejumlah warga menilai, pelayanan PLN satu tahun terakhir sangat buruk, lampu padam hampir setiap hari bahkan sampai lebih dua kali dalam sehari. Warga meminta PLN sebaiknya mengutamakan pelayanan baru bicara kenaikan.
Editor: Isbedy Stiawan ZS
Friday, May 2, 2014
Tekan Terjadinya Kebakaran, PLN Diminta Segera Perbaiki Jaringan
Siti Qodratin Aulia, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung
Bandarlampung--PT PLN persero distribusi Lampung diminta segera perbaiki jaringan SUTT yang menyebabkan pemadaman bergilir terulang, bahkan diperkirakan hingga Mei 2014. Hal tersebut untuk menekan terjadinya bencana kebakaran.
Hal itu dikatakan Walikota Bandarlampung Herman HN saat meninjau korban kebakaran di Jalan Imam Bonjol persisnya di depan Perum Bukit Kemiling, Jumat (2/5) siang.
Perlu diketahui, tingginya tingkat kebakaran di Kota Bandarlampung sejak Januari hingga April 2014 sebanyak 34 titik. Umumnya terjadi akibat pemadaman listrik bergilir. Ha itulah yang mendapat perhatian Herman HN.
Walikota Bandarlampung meminta pihak PLN segera memperbaiki jaringan listrik yang rusak, sehingga tidak ada lagi pemadaman bergilir. Tanpa pemadaman bergilir dapat menekan terjadinya kebakaran.
Herman didampingi Kepala Dinas Sosial memberikan bantuan sebesar Rp50 juta untuk meringankan beban korban.
Pemadaman listrik bergilir mengakibatkan masyarakat menghidupkan alat penerang sementara, misalnya lilin atau lampu minyak. Hal ini membuat rawan kebakaran.
Oleh karena itu, orang nomor satu di Bandarlampung mengingatkan warga agar berhati-hati dalam menggunakan listrik dan alat penerangan lainnya. “Apalagi saat ini PLN tengah melakukan pemadaman listrik bergilir,” katanya.
Berita Terkait: Kebakaran di Kemiling, Bocah 7 Tahun Tewas Terpanggang
Monday, April 28, 2014
PT BA Siap Hadapi Kenaikan Tarif Listrik 64,7 Persen
B. Satriaji, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
| PLTU Tarahan (foto: isbedy) |
Karena sejak 2012, PT BA sudah mulai beralih ke pembangkit listrik milik sendiri untuk kegiatan operasional. Hal itu dikatakan Sekretaris Perusahaan Joko Pramono di Jakarta, Senin (28/4) sore.
Dikatakan Joko, sejak dua tahun lalu semua peralatan operasional beserta penunjang di wilayah operasi Tanjung Enim yang menggunakan tenaga listrik beralih ke pemakaian tenaga listrik milik sendiri yang dihasilkan PLTU Tanjung Enim 3x10 MW.
Sementara itu, dia menambahkan, sisa pemakaian tenaga listrik (excess power) dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
“Demikian juga halnya di Pelabuhan Tarahan, Lampung,” ujarnya.
Sejak beroperasinya PLTU Pelabuhan Tarahan 2x8 MW milik sendiri akhir tahun lalu, seluruh peralatan operasional pelabuhan tidak lagi menggunakan listrik milik PLN dan excess power-nya malah dijual ke PLN.
Joko menambahkan, kenaikan tarif listrik justru akan lebih memperkuat daya saing perseroan dibandingkan dengan perusahaan tambang batu bara lainnya. “Perusahaan lain menggunakan pasokan tenaga listrik dengan tarif industri dan mengonsumsi BBM dalam porsi yang relatif besar,” imbuh dia.
| Rel KA menuju PT BA Tarahan |
“Membaiknya kinerja persereoan juga diimbangi dengan peningkatan transportasi batu bara oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dari lokasi tambang di Tanjung Enim Sumatera Selatan menuju Pelabuhan Batubara Tarahan di Bandarlampung dan Dermaga Kertapati di Palembang,” ujar dia.
Joko menjelaksan, pada kuartal I 2014 volume angkutan batubara PTBA oleh PT KAI tercatat sebesar 3,41 juta ton. "Artinya, naik delapan persen dibandingkan periode sama tahun lalu, yang sebesar 3,15 juta ton," katanya.
Friday, April 25, 2014
Inilah Pemadaman Listrik Terlama
Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
Bandarlampung—Pemadaman listrik bergilir yang terjadi Jumat (25/4) mulai pukul 19.00 terlama pada kurun waktu dua tahun terakhir ini. Pasalnya, khusus Perum Permata Asri, Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, listrik baru hidup kembali pada Sabtu (26/4) pukul 07.00 pagi.
“Ini pemadaman terlama,” kata Riki, warga Perum Pemata Asri, Karang Anyar kepada Teraslampung.com melalui pesan pendek.
Dikatakan Riki, semalaman keluarganya tidak bisa tidur karena kepanasan. Sebab, lanjut lelaki hobi memelihara burung untuk dilombakan itu, keluarga terbiasa memakai pendingin ruangan di kamar tidurnya. “Anak saya sampai merengek karena berkeringat,” katanya lagi.
Dampak pemadaman listrik 12 jam, masih kata Riki, Sabtu (26/4), PDAM di Perum Permata Asri tidak maksimal dalam penampungan air di bak penampungan. Pesan pendek dari pihak PDAM yang diterima pelanggan itu, menyebutkan bahwa distribusi air ke pelanggan baru bisa dilakukan pukul 13.00 karena harus menampung air ke bak penampungan.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemadaman listrik bergilir mulai pukul 19.00 pada Jumat (25/4) di sejmlah daerah di Bandarlampung dan Lampung Selatan. Tampak gelap di kawasan Kalibalok atau sekitar Hotel Nusantara, Jalan Antasari, Perumdam, Sukarame, Wayhalim, Waykandis, Telukbetung, hingga di daerah lain di Bandarlampung. Lalu sepanjang daerah Jatiagung, Perum Permata Asri, dan Karanganyar sekitarnya.
Menurut Gunsan yang semalam masih mengikuti pleno KPU Provinsi Lampung untuk rekapitusali perolehan suara Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), juga terkena giliran pemadaman listrik.
Gunsan menyesalkan pihak PLN yang kerap melakukan pemadaman bergilir di wilayah Lampung ini. Namun, ia tetap berharap, permasalahan ini segera diatasi sehingga pelanggan tidak dibuat kesal.
“Saya harap PLN secepatnya dapat mengatasi persoalan pemadaman, bulan Februari-Maret lalu masyarakat sudah dibuat kesal dan kecewa,” katanya.
Menurut pihak PT PLN Persero Wilayah Sumbagsel bagian Distrubisi Lampung yang dilansir media lokal, pemadaman listrik bergilir akan berlangsung hingga Mei 2014. Pemadaman bergilir ini disebabkan PT PLN Persero tengah mengganti kawat jalur SUTT.
Sementara Handy, Manager UPT PT PLN Persero saat dikonfirmasi meminta untuk protap komunikasi ke media di PLN Lampung agar menghubungi DM Humas Distribusi Lampung Ketut Darpa.
“Informasi akan lebih komplit karena semua unit PLN Lampung akan melaporkan kondisnya,” kata Handy.
Sayangnya, dua nomor Ketut Darpa yang diberikan Handy tidak bisa dihubungi. Begitu pula pesan pendek yang dikirim Teraslampung.com kepadanya, hingga berita ini ditayangkan belum mendapat balasan.
baca: Hingga Mei, PLN Kembali Rajin Lakukan Pemadaman Listrik Bergilir
Bandarlampung—Pemadaman listrik bergilir yang terjadi Jumat (25/4) mulai pukul 19.00 terlama pada kurun waktu dua tahun terakhir ini. Pasalnya, khusus Perum Permata Asri, Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, listrik baru hidup kembali pada Sabtu (26/4) pukul 07.00 pagi.
“Ini pemadaman terlama,” kata Riki, warga Perum Pemata Asri, Karang Anyar kepada Teraslampung.com melalui pesan pendek.
Dikatakan Riki, semalaman keluarganya tidak bisa tidur karena kepanasan. Sebab, lanjut lelaki hobi memelihara burung untuk dilombakan itu, keluarga terbiasa memakai pendingin ruangan di kamar tidurnya. “Anak saya sampai merengek karena berkeringat,” katanya lagi.
Dampak pemadaman listrik 12 jam, masih kata Riki, Sabtu (26/4), PDAM di Perum Permata Asri tidak maksimal dalam penampungan air di bak penampungan. Pesan pendek dari pihak PDAM yang diterima pelanggan itu, menyebutkan bahwa distribusi air ke pelanggan baru bisa dilakukan pukul 13.00 karena harus menampung air ke bak penampungan.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemadaman listrik bergilir mulai pukul 19.00 pada Jumat (25/4) di sejmlah daerah di Bandarlampung dan Lampung Selatan. Tampak gelap di kawasan Kalibalok atau sekitar Hotel Nusantara, Jalan Antasari, Perumdam, Sukarame, Wayhalim, Waykandis, Telukbetung, hingga di daerah lain di Bandarlampung. Lalu sepanjang daerah Jatiagung, Perum Permata Asri, dan Karanganyar sekitarnya.
Menurut Gunsan yang semalam masih mengikuti pleno KPU Provinsi Lampung untuk rekapitusali perolehan suara Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), juga terkena giliran pemadaman listrik.
Gunsan menyesalkan pihak PLN yang kerap melakukan pemadaman bergilir di wilayah Lampung ini. Namun, ia tetap berharap, permasalahan ini segera diatasi sehingga pelanggan tidak dibuat kesal.
“Saya harap PLN secepatnya dapat mengatasi persoalan pemadaman, bulan Februari-Maret lalu masyarakat sudah dibuat kesal dan kecewa,” katanya.
Menurut pihak PT PLN Persero Wilayah Sumbagsel bagian Distrubisi Lampung yang dilansir media lokal, pemadaman listrik bergilir akan berlangsung hingga Mei 2014. Pemadaman bergilir ini disebabkan PT PLN Persero tengah mengganti kawat jalur SUTT.
Sementara Handy, Manager UPT PT PLN Persero saat dikonfirmasi meminta untuk protap komunikasi ke media di PLN Lampung agar menghubungi DM Humas Distribusi Lampung Ketut Darpa.
“Informasi akan lebih komplit karena semua unit PLN Lampung akan melaporkan kondisnya,” kata Handy.
Sayangnya, dua nomor Ketut Darpa yang diberikan Handy tidak bisa dihubungi. Begitu pula pesan pendek yang dikirim Teraslampung.com kepadanya, hingga berita ini ditayangkan belum mendapat balasan.
baca: Hingga Mei, PLN Kembali Rajin Lakukan Pemadaman Listrik Bergilir
Monday, March 17, 2014
Lampung, Peluang dan Tantangannya
![]() |
| PLTU Tarahan |
Keberadaan FSRU itu menjamin PLTGU Muara Karang Jakarta berkapasitas 1600 MW bisa beroperasi tanpa BBM sehingga pemakaian BBM untuk memroduksi listrik di Jawa Bali saat ini hanya 2,5 %. Sisa 2,5 % BBM ini hanya untuk memproduksi listrik di Bali dan akan berkurang kalau kabel laut Jawa-Bali sirkit 3 dan 4 sudah beroperasi akhir tahun ini.
Karena berangkatnya sudah sore, sampai di Lampung sekitar jam 5.00 langsung menuju kantor PLN Distribusi Lampung untuk berdiskusi dengan pegawai Distribusi Lampung serta perwakilan P3B Unit Pelayanan Transmisi (UPT) Lampung dan Sektor Tarahan-Lampung. Diskusi berlangsung meriah sampai jam 8.30 malam dengan diselingi istirahat untuk sholat magrib. Dari diskusi hangat ini saya mendapat beberapa informasi penting.
Pertama, pertumbuhan beban puncak dan penjualan listrik di Lampung masing-masing 13,6% dan 13,3%. Ini sangat tinggi untuk ukuran Wilayah/Distribusi se Indonesia ! Ini peluang dan tantangan besar bagi PLN Lampung untuk mengembangkan bisnisnya. Kedua, komposisi pegawai Distribusi Lampung ternyata 60% berusia di bawah 30 tahun dan 50% berpendidikan D3-S1. Wow, ini sangat potensial! Sangat menantang untuk diubah menjadi kekuatan besar khususnya menghadapi pertumbuhan tinggi. Ketiga, dari sisi pasokan listrik, Lampung paling memadai diantara daerah/unit PLN se Sumatera. Lampung sudah tidak menghadapi defisit daya walaupun masih harus diperkuat dengan transmisi Lampung - Menggala.
Dalam paparannya Pak Made Artha - GM PLN Distribusi Lampung sudah bertekad untuk memanfaatkan tiga kelebihan ini menjadi kekuatan PLN Lampung ke depan. Tapi tekad GM saja tidak cukup. Perlu dukungan dan tekad senada dari seluruh pegawai Distribusi Lampung untuk membangun kekuatan besar ini. Sekarang tinggal bagaimana mewujudkannya. Inilah tantangan PLN Distribusi Lampung merubah peluang besar menjadi unit PLN yang efisien (susut single digit), andal (gangguan turun 25% sampai bisa mengalahkan Distribusi Bali) dan berkualitas (kecepatan layanan pelanggan baru 5, 15, 40 hari dan tanpa calo).
Dari diskusi malam itu saya mendapat kesan ada semangat membara di Lampung ini sehingga tantangan diatas pasti bisa diwujudkan. Buktinya diskusi berlangsung sampai jam 8.30 malam. Itu pun sudah saya batasi. Kalau tidak dibatasi, diskusi bisa panjang sampai malam. Padahal semua yang hadir belum makan malam. Keuntungan lain PLN Distribusi Lampung hanya mengurusi distribusi saja. Tidak lagi mengurusi pembangkit dan transmisi. Jadi, mari kita tunggu cahaya baru dari Lampung ini.
Besok paginya, jam 7.30 saya sudah berada di PLTU Tarahan. Saya tiba lebih dulu dari pak Arfan - Manajer Sektor Tarahan- yang tiba beberapa saat kemudian. Pak Arfan adalah Manajer yang baru dipromosikan dari PLTGU Cilegon, baru tiba di Lampung dari Cilegon dengan menyeberang selat Sunda memakai kapal ferry Merak - Bakauheni.
Setelah berkeliling melihat PLTU Tarahan yang baru pertama kali saya datangi, saya melihat PLTU ini sangat istimewa. PLTU ini tidak punya pelabuhan batubara (coal jetty) tempat tongkang batubara berlabuh untuk menurunkan batubara, beserta peralatan ship unloader - crane pembongkar batubara dari tongkang ke darat. PLTU ini juga tidak punya tempat menimbun stok batubara terbuka (coal yard) beserta peralatan pengatur batubara (stacker reclaimer), seperti yang selalu ada di PLTU lainnya.
Di PLTU Tarahan ini batubara nya dikirim dari lokasi coal yard PT Bukit Asam yang lokasinya bertetangga. Hanya dibatasi sungai kecil. Di area PLTU ini hanya ada belt conveyor (ban berjalan) untuk membawa batubara dari coal yard PT Bukit Asam ke tangki penimbun batubara tertutup (coal silo). Coal silo ini dibuat dari beton berbentuk silinder yang menyimpan batubara 2x15.000 ton. Belt conveyor nya juga tertutup karena ban berjalannya ada dalam pipa.
Dengan kondisi seperti ini, di PLTU Tarahan tidak terlihat batubara. PLTU ini memang didesain sebagai PLTU yang ramah lingkungan.Tidak terlihat batubara di lokasi PLTU Batubara. Lha....ini kan istimewa.
Yang ada hanya pohon-pohon mangga, rumput hijau dan abu hasil pembakaran batubara yang jumlahnya relatif tidak banyak karena sudah diambil pabrik semen untuk campuran produksi semen.
Setelah melihat-lihat PLTU, lalu kami berdiskusi bersama pegawai di Sektor Tarahan yang kantornya juga berlokasi di PLTU Tarahan ini. Dari diskusi singkat ini saya mendapat beberapa informasi menarik.
Pertama, PLTU Tarahan yang boilernya memakai teknologi CFB (circulating fluidized bed) dulu sering trip karena boiler bocor. Sekarang bocornya tinggal 2x dalam 5 bulan terakhir. Sudah sangat jauh membaik. Kedua, komposisi pegawainya 80% berusia di bawah 40 tahun. Wow...ini potensi besar yang jarang ditemui di unit-unit PLN. Ketiga, teman-teman di Tarahan ini sudah menerapkan OPI sebagai bagian dari perbaikan proses bisnisnya. Ini bagus....! Saya mendapat laporan dari teman-teman OPI central coach bahwa OPI di Sektor Tarahan ini yang paling maju penerapannya di Sumatera.
Setelah berdiskusi singkat, lalu saya menuju lokasi PLTU Lampung 2x100 MW, pembangkit baru yang merupakan bagian dari Proyek 10.000 MW. Lokasinya tidak jauh dari PLTU Tarahan. Unit-1 sudah mulai commissioning dan saat saya datang sudah beroperasi dengan beban 70 MW. Unit-2 sedang dalam penyelesaian dan diharapkan bisa beroperasi komersial pada tahun 2013 ini. Keberadaan PLTU Lampung ini tentu sangat berarti untuk menopang pertumbuhan listrik 13-14% di Lampung.
Karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Sektor Tarahan diatas, saya memberikan 3 tantangan kepada Pak Arfan dan Sektor Tarahan:
1. PLTU Tarahan harus bisa menjadi pembangkit batubara dengan kinerja operasi terbaik se Sumatera. Karena didesain sebagai PLTU ramah lingkungan yang tidak kelihatan batubaranya
2. PLTU Tarahan harus bisa mendapat Proper Emas yang didahului dengan proper hijau tahun 2014.
3. OPI yang sudah terimplementasi dengan baik harus bisa ditransformasi menjadi bagian dari budaya kerja di Sektor Tarahan.
Dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, saya yakin ketiga tantangan ini bisa diwujudkan oleh Pak Arfan dan Sektor Tarahan. Pak Ruly Firmansyah – GM Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan pasti sangat mendukung upaya-upaya menjawab 3 tantangan tersebut.
Bisakah? Mari kita tunggu hasilnya.
Sumber: http://optimus.pln.co.id/opi/index.php/catatan-pmo/70-lampung:peluang-dan-tantangannya
baca juga: PLN: Menyala Terus, Terus Menyala
PLN: Menyala Terus, Terus Menyala
Isbedy Stiawan ZS, Ferdi Gunsan/Teraslampung.Com
![]() |
| Sektor Pembamgkit Listrik Tarahan, Lampung Selatan. (teraslampung.com/isb) |
Biang masalah, yakni empat mesin di PLTU Tarahan dan PLTU Sibalang, kini sudah diatasi. PLTU Sibalang ketika dipantau, Sabtu (8/3/2014) petang, tak ada asap yang keluar dari cerobong tinggi sebagai indikasi tidak produksi namun kini sudah beroperasi.
“Ya, saya juga dapat informasi begitu. Dua mesin di PLTU Tarahan yang rusak dan overhaul, satu unitnya sudan diperbaiki. Begitu pula PLTU Sibalang yang selama ini tidak aktif, sudah produksi,” jelas Budi Agustian, ketua AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) Lampung, Selasa (18/3).
Budi yang ditemui di kantor AKKLINDO Jalan Way Abung, Pahoman, Bandarlampung, mengapresiasi kinerja PT PLN Pembangkit Sumbagsel yang tanggap terhadap keluhan masyarakat Lampung. Padahal, janji PLN baru April 2014 pelistrikan di Lampung benar-benar normal.
“Tapi, kenyataannya lebih cepat dari perkiraan,” kata dia.
Ketua AKKLINDO Lampung tetap berharap pada PLN agar transparan. Misalnya, dia menyebut, perlu adanya evaluasi bersama—PLN dan mitrakerja (stakeholder)—untuk proyek-proyek besar di PLN, baik di pembangkit, transmisi, maupun distribusi.
“Supaya tidak timpang antara keandalan mesin dengan energy listrik yang dikeluarkan,” tutup Budi.
Apresiasi buat PLN
Sejumlah warga yang ditemui membenarkan kalau beberapa hari belakangan inis udah tidak lagi mengalami pemadaman listrik bergilir. Padahal hampir satu bulan, tiada hari tanpa pemadaman.
“Malah sehari bisa dua kali mati. Apa tidak mengecewakan,” kata Ibu Fitri di Karang Anyar. “Katanya penyebab listrik sering mati, karena mesin pembangkit di Tarahan yang rusak.”
Hal sama diakui Heri. Warga Rawasubur, Enggal, Bandarlampung ini, mengetahui kalau persoalan di PLN Lampung selama ini pada mesin pembangkit. “Kalau sekarang sudah diperbaiki baguslah, apresasi tinggi umtuk kinerja PLN,” ujar Heri.
Tetapi, warga tetap belum yakin pada pihak PLN mampu member pelayanan kelistrikan yang maksimal kepada pelanggannya. Jangan-jangan, kata Heri, sifatnya hanya sementara untuk meredam kekesalan masyarakat.
“Siapa bisa menjamin mesin pembangkit yang ada di Tarahan dan Sibalang bisa bertahan hingga 5 atau 10 tahun kedepan. Tapi saya tetap mengharapkan, PLN terus menyala dan menyala terus,” harap Heri sambil mengutip salah satu iklan produk lampu.
Karena itu, kata Budi Agustian seperti dikutip Teraslampung.Com beberapa hari lalu, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi kelistrikan saat mesin pembangkit rusak atau overhaul. “Bukan seperti selama ini, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” katanya.
Sebagai ketua AKKLINDO Lampung, dia member apresiasi pada kinerja PLN yang cepat untuk keluar dari masalah ini. Sebab, jika berlaru-larut akan memicu kemarahan masyarakat. “Saya dengar, mesin pembangkit di PLTU Tarahan sudah diperbaiki, dan Sibalang sudah beroperasi,” terangnya.
Namun, apakah hanya di dua PLTU—Tarahan dan Sibalang—persoalan kelistrikan di Lampung dapat teratasi? Sementara, perlistrikan di daerah ini punya potensi menguntungkan, sekaligus menyimpan tantangan.
Sebuah tulisan bertajuk “Lampung: PeluangdanTantangannya” (http://optimus.pln.co.id/opi/index.php/catatan-pmo/70-lampung: peluang-dan-tantangannya), mengurai bahwa kelistrikan di Lampung sangat potensi. Lampung memiliki PLTU Tarahan, yang tidak saja didesain ramah lingkungan, juga kinerja pegawainya yang patut diacungi jempol. (baca “Lampung: Peluang danTantangannya”)
Hanya saja, kelistrikan di Bumi Ruwa Jurai ini tetap akan menghadapi tantangan amat besar. Karena itu, PLN perlu melakukan terobosan. Misalnya, perlu dipikirkan adalah jalur transmisi.
Terobosan ini, segara merealisasikan jalur transmi antara Gardu Induk Seputihbanyak dan GI Menggala. Satu-satunya dapat menolong saat terjadi maslaah seperti selama ini, interkoneksi dari gardu induk lain sangat mendukung.
Lantas, kenapa masalah jalur tranmisi dari Gardu Induk Seputih banyak ke Gardu Induk Menggala belum juga koneksi? Dari sumber di kalangan kontraktor kelistrikan di daerah ini, kendalanya adalah SUTT (Saluran Udara Tekanan Tinggi) yang melintasi kawasan PT Sugar Grup yang belum mendapat izin dari perusahaan gula putih itu.
"Ironinya, sejatinya tower sudah dibangun dan berdiri kokoh namun kabel yang menghubungkan kedua Gardu Induk tersebut sampai sekarang belum ada. Sehingga GI Menggala selama ini mengalama overloud," katanya.
Seandainya interkoneksi transmisi GI Menggala-Seputihbanyak bisa terujud, bukan saja dapat mengatasi kelistrikan di Menggala dan sekitarnya, melainkan Lampung. “Transmisi GI Menggaladan GI Seputihbanyak, sebenarnya sedikit banyak bisa mengatasi persoalan listrik di sekitar itu, dan Lampung pada umumnya,” kata kontraktor kelistrikan itu lagi yang enggan ditulis namanya.
Sementaraitu, Sugar Grup mengklaim bukan pihaknya tidak memberikan izin lintas transmisi (SUTT) ke kawasannya. Persoalannya, perjanjian kerja sama yang belum dibahas oleh pihak PLN.
Sementara itu Handy, manager UPT GI dan SUTET saat dikonfirmasi tak bersedia menjawab, dan ia menyarankan menghubungi PLN Distribusi Lampung atau PLN Proyek Transmisi Lampung. "Karena kami lebih ke arah pemeliharaan transmisinya, bukan ke proyek pembangunannya. Jadi seluk-beluk dan isu mengenai hal tersebut, lebih tepat ditanyakan dan dijawab oleh 2 unit tersebut," kata Handy melalui pesan pendek.
Sedangkan GM PLN Distribusi Lampung Made Artha, saat dihubungi untuk konfirmasi, telepon genggamnya tidak aktif.
baca: Lampung: Peluang dan Tantanggannya
Tuesday, March 11, 2014
Pemadaman Listrik Bergilir: Hanya Mesin Pembangkit PLTU Bermasalah?
Isbedy Stiawan ZS, Ferdi Gunsan/Teraslampung.Com
Bandarlampung—Hampir satu bulan belakangan ini pemadaman listrik secara bergilir dinikmati masyarakat Lampung. Pemadaman bisa terjadi lebih dari 5 jam dan minimal 3 jam. Bagi pelanggan PT PLN yang taat membayar rekening, kejadian ini sangat mengecewakan.
Masyarakat akhir-akhir ini menghujat PLN Wilayah Lampung—sekarang sudah berganti nama menjadi PLN Distribusi Lampung—yang notabene tugasnya hanya pendistribusi daya sampai ke rumah-rumah bersama unit di bawahnya: PLN Area Tanjungkarang, PLN Area Metro, PLN Area Kotabumi, sementara bagian pembangkit—khususnya PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) —lepas dari hujatan. Padahal, “biang kerok” persoalan ini pada mesin pembangkit yang buruk.
Sabtu (8/3) siang, matahari menyengat, kami menjenguk PLTU Sumatera Bagian Selatan di Tarahan dan Sibalang, Kabupaten Lampung Selatan. Kompleks PLTU Tarahan pembangkit listrik berkapasitas 2 x 100 MW menggunakan bahan bakar batubara itu berada di sisi kiri jalan trans Sumatera ruas Bandarlampung--Lampung Selatan. Di seberang kompleks PLTU Tarahan, terdapat stock file Bukit Asam.Dari situlah batu bara dialirkan menggunakan conveyor, dan mempunyai dua pembangkit yang biasa disebut pembangkit tiga dan empat..
Dari jalan trans Sumatera Tarahan, Lampung Selatan, mata kami mendongak ke cerobong besar dan tinggi yang ada di PLTU Tarahan. Cerobong layaknya knalpot kendaraan itu, tidak mengeluarkan asap. “Berarti mesin pembangkit sedang tidak beroperasi,” kami membatin. Menurut informasi yang kami terima PLTU Tarahan sedang overhaul (turun mesin)
Setelah mengambil bebeberapa gambar area PLTU Sumbagsel Tarahan, kendaraan kami arahkan ke Bakauheni. Tujuan kami adalah PLTU Sibalang, Desa Sebalang, Kecamatan Tarahan, Lampung Selatan.
Menyebut PLTU Sebalang, ingatan pun tertuju pada Wendy Melfa, mantan Bupati Lampung Selatan yang saat ini masih mendekam dalam kurungan penjara, kasus markup pembebasan lahan di Sibalang untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ini dan Emir Moeis Anggota DPR RI yang kasusnya masih dipersidangkan karena menerima suap
Seperti juga PLTU Tarahan, cerobong asap PLTU Sebalang tak tampak “ada yang merokok” sehingga dari puncak cerobong menara tanpa asap. Salah seorang security di PLTU Sibalang yang mengaku baru bekerja di sana, tidak mengetahui apakah mesin pembangkit itu sedang beroperasi atau belum.
“Wah, saya tidak tahu apakah sudah beroperasi atau belum,” katanya. Petugas satpam ini juga selalu menjawab “tidak tahu” setiap ditanya sambil ditambahkan; “saya baru bertugas di sini.”
Apabila PLTU Tarahan mensuplai batubara langsung dari PT Batubara Bukit Asam Tarahan karena keduanya berjarak tidak jauh. Berbeda dengan PLTU Sibalang, keberadaannya diperkirakan 10 km dari PT Bukit Asam.
Sebuah dermaga bagi kapal pengangkit batubara disiapkan. Lalu rel roli (conveyor) dibangun sangat kokoh dalam bentuk flyover dari dermaga sampai gudangnya yang beratap setengah lingkaran, belum diketahui dari mana suplai batubara untuk pembangkit PLTU Sibalang ini yang juga berkapasitas 2 x 100 MW dengan dua pembangkit yang dinamakan pembangkit satu dan pembangkit dua.
Di PLTU Sebalang kami tak sia-siakan mengambil gambar dari berbagai sudut. Kantor PLTU ini tisak jauh dari panta ilepas. Di sekitar PLTU masih tampak beberapa warung makan dan minuman yang kini tutup.
Boleh jadi, warung-warung yang ada di dekat PLTU Sebalang ini pernah jaya, saat pembangunan PLTU Sibalang. Kini warung-warung itu tidak berpenghuni, mungkin sudah ditinggal pemiliknya. Hanya satu-dua yang kemudian dijadikan tempat tinggal.
Dari kejauhan kami melihat tumpukan batubara di dalam area PLTU Sebalang. Beberapa tumpukan bahkan, kemungkinan batubara itu sebagai stok.Tetapi, tak tampak kesibukan pekerja di dalam PLTU Sibalang. Padahal, kami sudah sangat dekat.
Inilah dua dari sekian pembangkit listrik milik PT PLN yang ada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Perlu diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ada di Lampung di bawah kendali PT PLN Pembangkit Sumbagsel, yang berpusat di Palembang.
Karena pusatnya di Kota Pempek, General Manager (GM) berkantor di Palembang. Di Lampung hanya Manager: Manager PLTU saja, sedangkan pembangkit di luar PLTU antara lain PLTD, PLTA, PLTS dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Ulubelu, KabupatenTanggamus, berada di bawah kendali PLN Sektor Bandar Lampung di Rajabasa (dekat BLPP).
Itu sebabnya, manakala pemadaman listrik bergilir di Lampung hampir sebulan dan menuai protes dari elemen masyarakat, GM Kit (pembangkit) Sumbagsel datang ke Lampung dan langsung meninjau beberapa pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN Sumbagsel.
Namun, kata salah seorang kontraktor listrik di Lampung, kehadiran GM Kit Sumabsel beberpaa hari lalu, belum juga menyelesaikan masalah. “Pemadaman listrik bergilir masih berlangsung,” katanya ditemui di AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) DPD Lampung, Sabtu (8/3) siang.
Persoalan kelistrikan di Sumbagsel, khususnya Lampung, adalah masalah mesin pembangkit—PLTU khususnya di dua tempat: Tarahan dan Sibalang—saat ini tidak beroperasi maksimal.
Kontraktor listrik itu menyebut, di dua pembangkit tersebut ada empat mesin pembangkit. Di Tarahan ada dua, yakni mesin 3 dan 4. Sedangkan di PLTU Sebalang juga ada dua, disebut mesin 1 dan 2. Selama ini yang beroperasi hanya mesin 3 dan 4.
“Tapi belakangan ini, salah satu mesin di PLTU Tarahan rusak dan satunya overhaul. Inilah yang menyebabkan terjadi giliran pemadaman listrik,” katanya.
Jadi, dia menambahkan, kalau selama ini masyarakat menghujat dan meminta pertanggungjawaban kepada PT PLN Distribusi Lampung di Rajabasa ataupun PLN Area Tanjungkarang di Jalan Diponegoro sebenarnya kurang tepat. PT PLN Distribusi Lampung itu hanya mendistribusi ke gardu-gardu distribusi kemudian baru ke pelanggan.
“Sedangkan sumber daya listriknya dari pembangkit tidak di bawah kendali PT PLN Distribusi Lampung, melainkan kendalinya pada PT. PLN Pusat,” katanya.
Persoalannya yang dihadapi PLN Distribusi Lampung ini, ialah mesin kualitas pembangkit listriknya buruk. Sehingga tidak bisa beroperasi maksimal untuk mendistribusi daya listrik bagi pelanggan di Provinsi Lampung. Mesin pembangkit di PLTU Sibalang belum beroperasi, sementara dua mesin di Tarahan sedang rusak dan overhaul (perbaikan).
Menanggapi masalah ini, Ketua AKKLINDO DPD Lampung Budi Agustian mengkritisi pihak PLN yang belum memiliki perencanaan ke depan yang baik. Kalau mesin pembangkit hanya bertahan 5 tahun, misalnya, sudah dipikirkan sebelum deadline mesti telah disiapkan mesin baru.
Atau, kata dia lagi, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi saat mesin rusaka tau overhaul. “Bukan seperti sekarang, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” kata Budi Agustian.
Meskipun PT PLN Distribusi Lampung juga mendapat distribusi daya listrik, yang disebut interkoneksi, dari Palembang, ternyata tidak menjamin akan memenuhi kebutuhan listrikdi Provinsi Lampung.
Apalagi, satu jalur distribusi daya listrik dari Sumatera Selatan yang semestinya bisa membantu justru jalur SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi)-nya ditolak atau tidak diizinkan melewati lahan negara yang dikuasakan HPL-nya kepada PT Sugar Grup Lampung (SGC), taipan gula yang terkenal bermurah hati membagi-bagikan gula di tahun politik ini.
Sudah lebih 3 tahun projek SUTET tersebut mandek. “Padahal jalur distribusi listrik liwat SGC itu, bisa sangat membantu, terutama jika terjadi kerusakan pada pembangkit yang ada di Lampung” kata kontraktor listrik lainnya.
Ada apa dan berapa pembangkit listrik di Provinsi Lampung, serta bagaimana perjalanan daya listrik dari pembangkit hingga ke pelanggan? Bagaimana seharusnya dilakukan PLN agar pemadaman bergilir listrik tidak menjadi tradisi seperti selama ini? Teraslampung.Com akan menurunkan berseri.*
![]() |
| PLTU Tarahan (teraslampung.com/oyoshn) |
Masyarakat akhir-akhir ini menghujat PLN Wilayah Lampung—sekarang sudah berganti nama menjadi PLN Distribusi Lampung—yang notabene tugasnya hanya pendistribusi daya sampai ke rumah-rumah bersama unit di bawahnya: PLN Area Tanjungkarang, PLN Area Metro, PLN Area Kotabumi, sementara bagian pembangkit—khususnya PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) —lepas dari hujatan. Padahal, “biang kerok” persoalan ini pada mesin pembangkit yang buruk.
Sabtu (8/3) siang, matahari menyengat, kami menjenguk PLTU Sumatera Bagian Selatan di Tarahan dan Sibalang, Kabupaten Lampung Selatan. Kompleks PLTU Tarahan pembangkit listrik berkapasitas 2 x 100 MW menggunakan bahan bakar batubara itu berada di sisi kiri jalan trans Sumatera ruas Bandarlampung--Lampung Selatan. Di seberang kompleks PLTU Tarahan, terdapat stock file Bukit Asam.Dari situlah batu bara dialirkan menggunakan conveyor, dan mempunyai dua pembangkit yang biasa disebut pembangkit tiga dan empat..
Dari jalan trans Sumatera Tarahan, Lampung Selatan, mata kami mendongak ke cerobong besar dan tinggi yang ada di PLTU Tarahan. Cerobong layaknya knalpot kendaraan itu, tidak mengeluarkan asap. “Berarti mesin pembangkit sedang tidak beroperasi,” kami membatin. Menurut informasi yang kami terima PLTU Tarahan sedang overhaul (turun mesin)
Setelah mengambil bebeberapa gambar area PLTU Sumbagsel Tarahan, kendaraan kami arahkan ke Bakauheni. Tujuan kami adalah PLTU Sibalang, Desa Sebalang, Kecamatan Tarahan, Lampung Selatan.
Menyebut PLTU Sebalang, ingatan pun tertuju pada Wendy Melfa, mantan Bupati Lampung Selatan yang saat ini masih mendekam dalam kurungan penjara, kasus markup pembebasan lahan di Sibalang untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ini dan Emir Moeis Anggota DPR RI yang kasusnya masih dipersidangkan karena menerima suap
Seperti juga PLTU Tarahan, cerobong asap PLTU Sebalang tak tampak “ada yang merokok” sehingga dari puncak cerobong menara tanpa asap. Salah seorang security di PLTU Sibalang yang mengaku baru bekerja di sana, tidak mengetahui apakah mesin pembangkit itu sedang beroperasi atau belum.
“Wah, saya tidak tahu apakah sudah beroperasi atau belum,” katanya. Petugas satpam ini juga selalu menjawab “tidak tahu” setiap ditanya sambil ditambahkan; “saya baru bertugas di sini.”
![]() |
| Rel roli PLTU Tarahan (teraslampung/isb) |
Sebuah dermaga bagi kapal pengangkit batubara disiapkan. Lalu rel roli (conveyor) dibangun sangat kokoh dalam bentuk flyover dari dermaga sampai gudangnya yang beratap setengah lingkaran, belum diketahui dari mana suplai batubara untuk pembangkit PLTU Sibalang ini yang juga berkapasitas 2 x 100 MW dengan dua pembangkit yang dinamakan pembangkit satu dan pembangkit dua.
Di PLTU Sebalang kami tak sia-siakan mengambil gambar dari berbagai sudut. Kantor PLTU ini tisak jauh dari panta ilepas. Di sekitar PLTU masih tampak beberapa warung makan dan minuman yang kini tutup.
Boleh jadi, warung-warung yang ada di dekat PLTU Sebalang ini pernah jaya, saat pembangunan PLTU Sibalang. Kini warung-warung itu tidak berpenghuni, mungkin sudah ditinggal pemiliknya. Hanya satu-dua yang kemudian dijadikan tempat tinggal.
Dari kejauhan kami melihat tumpukan batubara di dalam area PLTU Sebalang. Beberapa tumpukan bahkan, kemungkinan batubara itu sebagai stok.Tetapi, tak tampak kesibukan pekerja di dalam PLTU Sibalang. Padahal, kami sudah sangat dekat.
Inilah dua dari sekian pembangkit listrik milik PT PLN yang ada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Perlu diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ada di Lampung di bawah kendali PT PLN Pembangkit Sumbagsel, yang berpusat di Palembang.
Karena pusatnya di Kota Pempek, General Manager (GM) berkantor di Palembang. Di Lampung hanya Manager: Manager PLTU saja, sedangkan pembangkit di luar PLTU antara lain PLTD, PLTA, PLTS dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Ulubelu, KabupatenTanggamus, berada di bawah kendali PLN Sektor Bandar Lampung di Rajabasa (dekat BLPP).
Itu sebabnya, manakala pemadaman listrik bergilir di Lampung hampir sebulan dan menuai protes dari elemen masyarakat, GM Kit (pembangkit) Sumbagsel datang ke Lampung dan langsung meninjau beberapa pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN Sumbagsel.
Namun, kata salah seorang kontraktor listrik di Lampung, kehadiran GM Kit Sumabsel beberpaa hari lalu, belum juga menyelesaikan masalah. “Pemadaman listrik bergilir masih berlangsung,” katanya ditemui di AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) DPD Lampung, Sabtu (8/3) siang.
Persoalan kelistrikan di Sumbagsel, khususnya Lampung, adalah masalah mesin pembangkit—PLTU khususnya di dua tempat: Tarahan dan Sibalang—saat ini tidak beroperasi maksimal.
Kontraktor listrik itu menyebut, di dua pembangkit tersebut ada empat mesin pembangkit. Di Tarahan ada dua, yakni mesin 3 dan 4. Sedangkan di PLTU Sebalang juga ada dua, disebut mesin 1 dan 2. Selama ini yang beroperasi hanya mesin 3 dan 4.
“Tapi belakangan ini, salah satu mesin di PLTU Tarahan rusak dan satunya overhaul. Inilah yang menyebabkan terjadi giliran pemadaman listrik,” katanya.
Jadi, dia menambahkan, kalau selama ini masyarakat menghujat dan meminta pertanggungjawaban kepada PT PLN Distribusi Lampung di Rajabasa ataupun PLN Area Tanjungkarang di Jalan Diponegoro sebenarnya kurang tepat. PT PLN Distribusi Lampung itu hanya mendistribusi ke gardu-gardu distribusi kemudian baru ke pelanggan.
“Sedangkan sumber daya listriknya dari pembangkit tidak di bawah kendali PT PLN Distribusi Lampung, melainkan kendalinya pada PT. PLN Pusat,” katanya.
Persoalannya yang dihadapi PLN Distribusi Lampung ini, ialah mesin kualitas pembangkit listriknya buruk. Sehingga tidak bisa beroperasi maksimal untuk mendistribusi daya listrik bagi pelanggan di Provinsi Lampung. Mesin pembangkit di PLTU Sibalang belum beroperasi, sementara dua mesin di Tarahan sedang rusak dan overhaul (perbaikan).
![]() |
| Budi Agustian (teraslampung/ isb) |
Atau, kata dia lagi, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi saat mesin rusaka tau overhaul. “Bukan seperti sekarang, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” kata Budi Agustian.
Meskipun PT PLN Distribusi Lampung juga mendapat distribusi daya listrik, yang disebut interkoneksi, dari Palembang, ternyata tidak menjamin akan memenuhi kebutuhan listrikdi Provinsi Lampung.
Apalagi, satu jalur distribusi daya listrik dari Sumatera Selatan yang semestinya bisa membantu justru jalur SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi)-nya ditolak atau tidak diizinkan melewati lahan negara yang dikuasakan HPL-nya kepada PT Sugar Grup Lampung (SGC), taipan gula yang terkenal bermurah hati membagi-bagikan gula di tahun politik ini.
Sudah lebih 3 tahun projek SUTET tersebut mandek. “Padahal jalur distribusi listrik liwat SGC itu, bisa sangat membantu, terutama jika terjadi kerusakan pada pembangkit yang ada di Lampung” kata kontraktor listrik lainnya.
Ada apa dan berapa pembangkit listrik di Provinsi Lampung, serta bagaimana perjalanan daya listrik dari pembangkit hingga ke pelanggan? Bagaimana seharusnya dilakukan PLN agar pemadaman bergilir listrik tidak menjadi tradisi seperti selama ini? Teraslampung.Com akan menurunkan berseri.*
Thursday, March 6, 2014
Pemadaman Bergilir, LBH Somasi PLN
Bandarlampung, Teraslampung.Com—Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung melayangkan surat somasi ke PLN Wilayah Lampung, Kamis (6/3).
Somasi LBH tersebut kepada pihak PLN, terkait pemadaman listrik secara bergilir di daerah ini sepanjang Maret 2014, dan telah menimbulkan reaksi keras dari publik.
LBH memberikan waktu tujuh hari (7x24 jam) kepada PLN untuk memperbaiki sistem pelayanan, sehingga tidak ada lagi mati lampu. “Selain itu, PLN dapat memberi penjelasan kepada publik penyebab pemadman listrik,” jelas Direktur LBH Bandarlampung Wahrul Fauzi Silalahi.
Pemadaman listrik secara bergilir di Lampung belakangan ini, telah menuai banyak protes dari masyarakat dan pengusaha. Apalagi, akibat pemadaman listrik yang dilakukan PLN berdampak bagi masyarakat, seperti kerugian materi, juga masyarakat gelisah karena ketidakpastian pemadaman.
“Jadwal pemadaman yang dilansir PLN kadang tidak sesuai, dan berubah-ubah. Ini membuat masyarakat kecewa,” kata Ilham, 52, warga di Kemiling, Bandarlampung.
LBH Bandarlampung menilai, pemadaman listrik oleh PLN telah menyalahi aturan. Berdasarkan peraturan dalam Undang-undang RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Listrik.
“Di sana disebutkan bahwa masyarakat berhak mendapatkan pelayanan listrik secara terus-menerus,” kata Silalahi lagi.
Sebab itu, kata Wahrul, LBH Bandarlampung melayangkan surat somasi kepada pihak PLN dan memberikan waktu selama 7x24 jam untuk PLN segera memperbaiki sistem penyediaan tenaga listrik.
Bahkan, tegas Wahrul Fauzi, pihaknya juga siap menempuh jalur hukum dengan menggugat PT. PLN Wilayah Lampung apabila perusahaan BUMN tersebut tidak merespon somasi LBH.
Menurut Wahrul Fauzi Silalahi, LBH Bandarlampung juga juga membuka Posko Pengaduan Masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemadaman listrik.
“Laporan masyarakat akan dijadikan materi dalam gugatan, jika somasi yang dilayangkan tidak mendapat tanggapan dari PLN,” tutupnya. (isb)
Somasi LBH tersebut kepada pihak PLN, terkait pemadaman listrik secara bergilir di daerah ini sepanjang Maret 2014, dan telah menimbulkan reaksi keras dari publik.
LBH memberikan waktu tujuh hari (7x24 jam) kepada PLN untuk memperbaiki sistem pelayanan, sehingga tidak ada lagi mati lampu. “Selain itu, PLN dapat memberi penjelasan kepada publik penyebab pemadman listrik,” jelas Direktur LBH Bandarlampung Wahrul Fauzi Silalahi.
Pemadaman listrik secara bergilir di Lampung belakangan ini, telah menuai banyak protes dari masyarakat dan pengusaha. Apalagi, akibat pemadaman listrik yang dilakukan PLN berdampak bagi masyarakat, seperti kerugian materi, juga masyarakat gelisah karena ketidakpastian pemadaman.
“Jadwal pemadaman yang dilansir PLN kadang tidak sesuai, dan berubah-ubah. Ini membuat masyarakat kecewa,” kata Ilham, 52, warga di Kemiling, Bandarlampung.
LBH Bandarlampung menilai, pemadaman listrik oleh PLN telah menyalahi aturan. Berdasarkan peraturan dalam Undang-undang RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Listrik.
“Di sana disebutkan bahwa masyarakat berhak mendapatkan pelayanan listrik secara terus-menerus,” kata Silalahi lagi.
Sebab itu, kata Wahrul, LBH Bandarlampung melayangkan surat somasi kepada pihak PLN dan memberikan waktu selama 7x24 jam untuk PLN segera memperbaiki sistem penyediaan tenaga listrik.
Bahkan, tegas Wahrul Fauzi, pihaknya juga siap menempuh jalur hukum dengan menggugat PT. PLN Wilayah Lampung apabila perusahaan BUMN tersebut tidak merespon somasi LBH.
Menurut Wahrul Fauzi Silalahi, LBH Bandarlampung juga juga membuka Posko Pengaduan Masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemadaman listrik.
“Laporan masyarakat akan dijadikan materi dalam gugatan, jika somasi yang dilayangkan tidak mendapat tanggapan dari PLN,” tutupnya. (isb)
Wednesday, March 5, 2014
Warga Mengeluhkan Listrik Padam tak Sesuai Jadwal PLN
Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com
Bandarlampung—Meskipun PLN Tanungkarang sudah membuat jadwal pemadaman bergilir bagi konsumen listrik di seluruh Lampung, tetapi listrik padam di sejumlah wilayah di Lampung tidak mengenal waktu. Artinya, pemadaman listrik tidak sesuai jadwal.
Di wilayah Kelurahan Gulak-Galik, Telukbetung Utara, Bandarlampung misalnya, pemadaman terjadi hampir tiap hari dengan durasi antara 4 jam hingga 6 jam. Anehnya, pemadaman sering bersifat ‘sangat lokal’ alias hanya sebagian kecil wilayah di Kelurahan Gulak-Galik.
Pada Sabtu, 1 Maret 2014 misalnya, dalam daftar jadwal pemadaman yang dilansir PLN Tanjungkarang tidak disebutkan bahwa Jl. Dewi Sartika-Jalan Rasuna Said dan sekitarnya ada pemadaman. Namun, kenyatannya di wilayah itu listrik padam sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.
“Selang sehari kemudian, di wilayah kami listrik kembali padam sejak pukul 18.40 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Padahal, di daftar pemadaman PLN wilayah kami pada hari itu tidak masuk,” kata Bahrudin, 54, warga Gulak-Galik, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung, Kamis (6/3).
Udin mengaku sekarang sudah bosa menghubungi petugas PLN tiap kali listrik padam. Sebab, katanya, jawaban petugas selalu sama dan lama-lama menjadi klise. “Mula-mula petugas PLN di seberang telepon akan bertanya alamat saya. Kemudian dia memberi alasan pemadamaman yang sama dengan saat-saat sebelumnya, yaitu karena sedang ada pemeliharaan,” kata Bahrudin.
Menurut Bahrudin, dalam berbagai kesempatan pihak manajemen PLN Tanjungkarang selalu berpesan agar konsumen mengurangi pemakaian daya listrik pada saat beban puncak (pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00). Rentang waktu, kata Bahrudin, yang dimanfaatkan PLN untuk melakukan pemadaman listrik.
“Dalam pengumuman rencana pemadaman, PLN juga menyebutkan bahwa pemadaman akan dilakukan pada saat beban puncak. Tapi kenyataannya, pemadaman listrik tidak mengenal waktu. Bisa pagi, siang, sore, bahkan menjelang dini hari. Ironisnya, hal itu tidak terjadi saat ini saja, tetapi sudah sejak bertahun-tahun lalu,” kata dia.
Warsito (50), warga Pringsewu, mengeluhkan hal serupa. Warsito menilai PLN melakukan pemadaman sesuka hati dan tidak sesuai dengan jadwal yang dibuatnya sendiri.
"Buktinya, wilayah kami yang menurut jadwal tidak dipadamkan nyatanya padam. Pemadaman juga terjadi pada siang hari," kata dia.
Manajemen PLN Tanjungkarang, baru-baru ini mengumumkan alasan listrik di Lampung sering padam. Sama seperti yang sudah-sudah, PLN memadamkan aliran listrik secara bergilir di semua wilayah Lampung karena kegiatan pemeliharaan Major Overhaul PLTU Tarahan Unit 3.
“Maka berikut ini disampaikan jadwal Rencana Pengurangan Beban (Pemadaman Bergilir) pada Waktu Beban Puncak (17.00-22.00 WIB) demi meningkatkan kehandalan kelistrikan di Lampung,” kata manajemen PLN Tanjungkarang dalam permintaan permaklumannya kepada para konsumen.
Bandarlampung—Meskipun PLN Tanungkarang sudah membuat jadwal pemadaman bergilir bagi konsumen listrik di seluruh Lampung, tetapi listrik padam di sejumlah wilayah di Lampung tidak mengenal waktu. Artinya, pemadaman listrik tidak sesuai jadwal.
Di wilayah Kelurahan Gulak-Galik, Telukbetung Utara, Bandarlampung misalnya, pemadaman terjadi hampir tiap hari dengan durasi antara 4 jam hingga 6 jam. Anehnya, pemadaman sering bersifat ‘sangat lokal’ alias hanya sebagian kecil wilayah di Kelurahan Gulak-Galik.
Pada Sabtu, 1 Maret 2014 misalnya, dalam daftar jadwal pemadaman yang dilansir PLN Tanjungkarang tidak disebutkan bahwa Jl. Dewi Sartika-Jalan Rasuna Said dan sekitarnya ada pemadaman. Namun, kenyatannya di wilayah itu listrik padam sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.
“Selang sehari kemudian, di wilayah kami listrik kembali padam sejak pukul 18.40 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Padahal, di daftar pemadaman PLN wilayah kami pada hari itu tidak masuk,” kata Bahrudin, 54, warga Gulak-Galik, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung, Kamis (6/3).
Udin mengaku sekarang sudah bosa menghubungi petugas PLN tiap kali listrik padam. Sebab, katanya, jawaban petugas selalu sama dan lama-lama menjadi klise. “Mula-mula petugas PLN di seberang telepon akan bertanya alamat saya. Kemudian dia memberi alasan pemadamaman yang sama dengan saat-saat sebelumnya, yaitu karena sedang ada pemeliharaan,” kata Bahrudin.
Menurut Bahrudin, dalam berbagai kesempatan pihak manajemen PLN Tanjungkarang selalu berpesan agar konsumen mengurangi pemakaian daya listrik pada saat beban puncak (pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00). Rentang waktu, kata Bahrudin, yang dimanfaatkan PLN untuk melakukan pemadaman listrik.
“Dalam pengumuman rencana pemadaman, PLN juga menyebutkan bahwa pemadaman akan dilakukan pada saat beban puncak. Tapi kenyataannya, pemadaman listrik tidak mengenal waktu. Bisa pagi, siang, sore, bahkan menjelang dini hari. Ironisnya, hal itu tidak terjadi saat ini saja, tetapi sudah sejak bertahun-tahun lalu,” kata dia.
Warsito (50), warga Pringsewu, mengeluhkan hal serupa. Warsito menilai PLN melakukan pemadaman sesuka hati dan tidak sesuai dengan jadwal yang dibuatnya sendiri.
"Buktinya, wilayah kami yang menurut jadwal tidak dipadamkan nyatanya padam. Pemadaman juga terjadi pada siang hari," kata dia.
Manajemen PLN Tanjungkarang, baru-baru ini mengumumkan alasan listrik di Lampung sering padam. Sama seperti yang sudah-sudah, PLN memadamkan aliran listrik secara bergilir di semua wilayah Lampung karena kegiatan pemeliharaan Major Overhaul PLTU Tarahan Unit 3.
“Maka berikut ini disampaikan jadwal Rencana Pengurangan Beban (Pemadaman Bergilir) pada Waktu Beban Puncak (17.00-22.00 WIB) demi meningkatkan kehandalan kelistrikan di Lampung,” kata manajemen PLN Tanjungkarang dalam permintaan permaklumannya kepada para konsumen.
Tuesday, September 3, 2013
DPRD dan Gubernur Mendukung "Clash Action"
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com
Bandarlampung—Para anggota legislator di DPRD Lampung dan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. mendukung rencana pelanggan listrik di Lampung untuk melakukan gugatan clash action kepada PLN. Gugatan itu dianggap layak diajukan karena pemadaman aliran listrik yang sering dilakukan merugikan ekonomi rakyat.
“Yang paling jelas adalah banyak alat elektronik rusak dan biaya produksi di kalangan usaha kecil dan industri rumah tangga menjadi membengkak. Kami akan mengundang perwakilan PLN Lampung lebih dulu untuk mendapatkan alasan kenapa listrik di Lampung sering mati,” kata Immer Darius, aggota DPRD Lampung dari Fraksi Partai Demokrat, Rabu (4/9).
Immer Darius menagatakan selama ini komplain pelanggan untuk mendapatkan ganti rugi kepada PLN selalu gagal. Sebab pelanggan yang meminta ganti rugi kesulitan untuk mendapatkan bukti bahwa kerusakan alat elektronik miliknya disebabkan sering matinya aliran listrik.
“Dalam hearing nanti (pekan ini) kami akan menanyakan tentang proses ganti rugi dan clash action pelanggan. Kami akan mendukung warga yang melakukan clash action jika PLN tidak mau memberikan ganti rugi,” kata dia.
Menurut Immer Darius data PLN tentang kemampuan daya listrik di Lampung masih meragukan. Dengan adanya PLTU Tarahan, PLTU Ulu Belu, PLTA Way Besai, PLTA Batutegi, dan beberapa Pusat Listrik Tenaga Disel (PLTD) di Lampung seharusnya kebutuhan daya 1.000 MW untuk Lampung bisa dipenuhi dan tidak tergantung pada jaringan listrik interkoneksi Sumatera.
’Kami juga akan mempertanyakan berapa jumlah kebutuhan listrik di provinsi ini. Kalau nanti pasokan listrik dari pembangkit yang dihasilkan lebih besar daripada kebutuhan listrik, kami akan mempertanyakan ke mana kelebihan listrik itu dan mengapa sampai ada pemadaman?’’ ujarnya.
"Pemadaman listrik di Provinsi Lampung lantaran ada alat di pembangkit listrik yang rusak dan adanya pemeliharaan. Itu yang akan kita buktikan dengan berkunjung ke pembangkit listrik yang ada di Lampung ini,’’ tambahnya.
Menurut Immer rusaknya boiler PLTU Tarahan III juga layak dipertanyakan karena PLTU tersebut masih baru. Immer mengaku masih bisa memaklumi kalau peralatan PLN sudah kuno.
"Sangat aneh sebuah PLTU dengan peralatan baru tetapi sering rusak sehingga menganggu pasokan listrik.Buruknya kelistrikan di Lampung bisa mengancam investasi,” kata dia.
Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. juga mendukung rencana warga untuk melakukan gugatan clash action. Menurut Sjachroedin sering matinya listrik di Lampung akan berdampak buruk.
“Selain aksi kriminal, juga bisa memancing aksi kekerasan warga terhadap PLN Warga marah karena sangat dirugikan,” kata Sjachroedin.
Sejumlah pelanggan di Kota Bandarlampung mengaku jengkel kepada PLN karena meskipun listrik sering mati tetapi tagihan langganan listrik justru naik.
“Tagihan bulanan saya naik menjadi Rp 1 jutaan. Padahal pemakaiannya normal. Biasanya tagihan bulanan hanya Rp 500 ribu/bulan,” kata Adi 47, warga Kedaton, Bandarlampung.
Rahman, 39, pemilik usaha fotokopi dan warung internet, mengaku terpaksa harus membeli mesin genset seharga Rp 2 juta agar bisnisnya tidak terganggu. Meskipun bisnisnya bisa berjalan, menurut Rahman, keuntungannya berkurang karena dia harus membeli bensin untuk menghidupkan mesin genset.
“Kalau listrik padam 1-2 jam masih bisa ditolerir. Sekarang listrik padam bisa sampai 8 jam bahkan 12 jam. Itu jelas sangat merugikan kami,” ujarnya.
Direktur Operasional Listrik PLN untuk wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera, Ngurah Adnyana, di Jakarta, Selasa (3/9) mengatakan krisis listrik di wilayah Sumatera yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan defisit listrik dan telatnya pembangunan listrik berbahan bakar batu bara oleh sejumlah kontraktor asal Tiongkok. Seperti di PLTU Nagan Raya (2 x 110 MW) di Meulaboh, Aceh, PLTU Pangkalansusu (2 x 200 MW) di Sumatera Utara, dan PLTU Teluksirih (2 x 112 MW) di Sumatera Barat.
Manajer PLN Lampung, Nawaludin, mengatakan PLN terpaksa melakukan pemadaman listrik terpaksa dilakukan karena mengalami krisis daya akibat rusaknya PLTU Tarahan III. Selain karena rusaknya PLTU Tarahan 3 krisis listrik di Lampung juga terjadi rusaknya jaringan transmisi Sumatera Selatan—Lampung. Jaringan transmisi itu selama ini berfungsi memasok listrik dari wilayah Sumatera bagian selatan ke Lampung jika Lampung mengalami kekurangan daya.
“Kami sedang berusaha keras memperbaiki PLTU Tarahan III. Kami menargetkan pada 17 September 2013 sudah beres,” kata dia.
Bandarlampung—Para anggota legislator di DPRD Lampung dan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. mendukung rencana pelanggan listrik di Lampung untuk melakukan gugatan clash action kepada PLN. Gugatan itu dianggap layak diajukan karena pemadaman aliran listrik yang sering dilakukan merugikan ekonomi rakyat.
“Yang paling jelas adalah banyak alat elektronik rusak dan biaya produksi di kalangan usaha kecil dan industri rumah tangga menjadi membengkak. Kami akan mengundang perwakilan PLN Lampung lebih dulu untuk mendapatkan alasan kenapa listrik di Lampung sering mati,” kata Immer Darius, aggota DPRD Lampung dari Fraksi Partai Demokrat, Rabu (4/9).
Immer Darius menagatakan selama ini komplain pelanggan untuk mendapatkan ganti rugi kepada PLN selalu gagal. Sebab pelanggan yang meminta ganti rugi kesulitan untuk mendapatkan bukti bahwa kerusakan alat elektronik miliknya disebabkan sering matinya aliran listrik.
“Dalam hearing nanti (pekan ini) kami akan menanyakan tentang proses ganti rugi dan clash action pelanggan. Kami akan mendukung warga yang melakukan clash action jika PLN tidak mau memberikan ganti rugi,” kata dia.
Menurut Immer Darius data PLN tentang kemampuan daya listrik di Lampung masih meragukan. Dengan adanya PLTU Tarahan, PLTU Ulu Belu, PLTA Way Besai, PLTA Batutegi, dan beberapa Pusat Listrik Tenaga Disel (PLTD) di Lampung seharusnya kebutuhan daya 1.000 MW untuk Lampung bisa dipenuhi dan tidak tergantung pada jaringan listrik interkoneksi Sumatera.
’Kami juga akan mempertanyakan berapa jumlah kebutuhan listrik di provinsi ini. Kalau nanti pasokan listrik dari pembangkit yang dihasilkan lebih besar daripada kebutuhan listrik, kami akan mempertanyakan ke mana kelebihan listrik itu dan mengapa sampai ada pemadaman?’’ ujarnya.
"Pemadaman listrik di Provinsi Lampung lantaran ada alat di pembangkit listrik yang rusak dan adanya pemeliharaan. Itu yang akan kita buktikan dengan berkunjung ke pembangkit listrik yang ada di Lampung ini,’’ tambahnya.
Menurut Immer rusaknya boiler PLTU Tarahan III juga layak dipertanyakan karena PLTU tersebut masih baru. Immer mengaku masih bisa memaklumi kalau peralatan PLN sudah kuno.
"Sangat aneh sebuah PLTU dengan peralatan baru tetapi sering rusak sehingga menganggu pasokan listrik.Buruknya kelistrikan di Lampung bisa mengancam investasi,” kata dia.
Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. juga mendukung rencana warga untuk melakukan gugatan clash action. Menurut Sjachroedin sering matinya listrik di Lampung akan berdampak buruk.
“Selain aksi kriminal, juga bisa memancing aksi kekerasan warga terhadap PLN Warga marah karena sangat dirugikan,” kata Sjachroedin.
Sejumlah pelanggan di Kota Bandarlampung mengaku jengkel kepada PLN karena meskipun listrik sering mati tetapi tagihan langganan listrik justru naik.
“Tagihan bulanan saya naik menjadi Rp 1 jutaan. Padahal pemakaiannya normal. Biasanya tagihan bulanan hanya Rp 500 ribu/bulan,” kata Adi 47, warga Kedaton, Bandarlampung.
Rahman, 39, pemilik usaha fotokopi dan warung internet, mengaku terpaksa harus membeli mesin genset seharga Rp 2 juta agar bisnisnya tidak terganggu. Meskipun bisnisnya bisa berjalan, menurut Rahman, keuntungannya berkurang karena dia harus membeli bensin untuk menghidupkan mesin genset.
“Kalau listrik padam 1-2 jam masih bisa ditolerir. Sekarang listrik padam bisa sampai 8 jam bahkan 12 jam. Itu jelas sangat merugikan kami,” ujarnya.
Direktur Operasional Listrik PLN untuk wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera, Ngurah Adnyana, di Jakarta, Selasa (3/9) mengatakan krisis listrik di wilayah Sumatera yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan defisit listrik dan telatnya pembangunan listrik berbahan bakar batu bara oleh sejumlah kontraktor asal Tiongkok. Seperti di PLTU Nagan Raya (2 x 110 MW) di Meulaboh, Aceh, PLTU Pangkalansusu (2 x 200 MW) di Sumatera Utara, dan PLTU Teluksirih (2 x 112 MW) di Sumatera Barat.
Manajer PLN Lampung, Nawaludin, mengatakan PLN terpaksa melakukan pemadaman listrik terpaksa dilakukan karena mengalami krisis daya akibat rusaknya PLTU Tarahan III. Selain karena rusaknya PLTU Tarahan 3 krisis listrik di Lampung juga terjadi rusaknya jaringan transmisi Sumatera Selatan—Lampung. Jaringan transmisi itu selama ini berfungsi memasok listrik dari wilayah Sumatera bagian selatan ke Lampung jika Lampung mengalami kekurangan daya.
“Kami sedang berusaha keras memperbaiki PLTU Tarahan III. Kami menargetkan pada 17 September 2013 sudah beres,” kata dia.
Subscribe to:
Posts (Atom)











