Showing posts with label Perubahan Iklim. Show all posts
Showing posts with label Perubahan Iklim. Show all posts

Monday, April 21, 2014

Hari Bumi: Pemkot Bandarlampung, Mercy Corps, dan Mitra Bentala Kampanyekan Biopori

Syailendra Arif/Teraslampung.com

Workshop kader biopori (dok rumahbiopori)
Bandarlampung—Pemerintah Kota Bandarlampung bersama Mercy Corps Indonesia dan LSM Mitra Bentala akan menggelar sosialisasi program biopori yang dikemas dalam bentuk diskusi panel dan festival lingkungan untuk membangun pentingnya menjaga lingkungan sekitar.
 
"Kegiatan tersebut digelar menjelang berakhirnya masa implementasi program yang akan ditutup pada April 2014, sekaligus bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada Selasa 22 April," ujar Communications Mercy Corps Indonesia Nancy Ravenska Pasaribu di Bandarlampung,
Selasa (22/4).
 
Nancy mengatakan, perubahan iklim merupakan tantangan nyata masa kini dan masa depan yang dihadapi hampir seluruh kota di Indonesia, termasuk Kota Bandarlampung. Menurut Nancy, banjir dan kekeringan merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang mengancam masyarakat Bandarlampung.

 "Peningkatan intensitas cuaca ekstrem, seperti kemarau panjang dan hujan yang berkepanjangan dengan intensitas tinggi, yang tidak diiringi dengan penanganan yang memadai, akan mengakibatkan Kota Bandarlampung dilanda krisis air bersih namun juga di sisi lain berpotensi meningkatkan risiko terjadinya genangan," kata dia.
 
Untuk beradaptasi atas dampak perubahan iklim yang semakin mengancam, sejak tahun 2012, Mercy Corps dan The Rockefeller Foundation melaksanakan program “Konservasi Air Bawah Tanah melalui Penerapan Teknologi Lubang Resapan Biopori bagi Adaptasi Perubahan Iklim” yang dilaksanakan oleh LSM Mitra Bentala.
 
"Saat ini program biopori telah diimplementasikan di Kelurahan Langkapura dan dalam tahap perluasan implementasi ke beberapa kelurahan lainnya di Bandarlampung," tuturnya.
 
Proses implementasi program biopori di Bandarlampung dapat berjalan dengan baik atas dukungan Pemerintah Kota Bandarlampung, LSM lokal, dan seluruh masyarakat di lokasi implementasi program.
 
Kampanye biopori akan berlangsung di Grand Emerald, Hotel Emersia, Bandarlampung,  Selasa (22/4) pukul 09.30 – 13.00 WIB dengan narasumber Walikota Bandarlampung  Herman HN, Kasubid Media Kliring Kerentanan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Astutie Widyarissantie, Representatif Mercy Corps Indonesia Paul Jeffery dan Direktur Eksekutif Mitra Bentala Mashabi.
 
Kegiatan tersebut melibatkan para pemangku kepentingan di Provinsi Lampung yang meliputi perwakilan pemerintah daerah, LSM lokal, sekolah, dan masyarakat umum.
 
Selain itu, perwakilan Pemerintah Kota Bandung, DKI Jakarta dan Kota Bogor juga dikutsertakan dalam kegiatan ini. Harapannya, agar masing-masing pihak dapat semakin membangun kesadaran dan kepedulian bersama mengenai pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan sekitar.
 
"Perayaan program lubang resapan biopori ini akan berlangsung selama dua hari, 22-23 April 2014. Pada hari kedua akan dilaksanakan di lapangan Enggal, Bandarlampung,"kata Nancy Ravenska Pasaribu.

Saturday, January 18, 2014

Kota Sebagai Entitas Lingkungan Berkelanjutan (1)

Fritz Akhmad Nuzir*

Meskipun penggunaan istilah "Perubahan Iklim" sangatlah populer, iklim sebenarnya tidak berubah (dengan sendirinya). Manusia sendirilah yang berubah dan mengubah segala sesuatu yang ada di dunia ini. Iklim hanya mencerminkan dan bereaksi terhadap tindakan kita yang mengeksploitasi alam. Saat ini ada lebih dari 7 miliar manusia di dunia dan semuanya tanpa terkecuali berkontribusi terhadap perubahan alam. Lebih dari setengah dari jumlah di atas, tinggal di Asia dimana sebagian besar tinggal di Cina, India, dan Indonesia.

Emisi dari karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen di dunia meningkat dari 22,6 miliar ton pada tahun 1990 menjadi kurang lebih 31 miliar ton pada tahun 2007 atau dengan kata lain, meningkat tajam sebanyak 37 persen. “Fenomena” pembakaran hutan yang mencapai sekitar 13 juta hektare setiap tahunnya, juga menambah 6,5 miliar ton karbondioksida yang dilepas ke atmosfer per tahunnya. Lagi-lagi negara-negara di Asia berperan besar dalam “prestasi” ini.

Di Pulau Sumatera, Indonesia, telah terjadi penurunan luasan hutan tropis yang sangat signifikan dari 21,12 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 13,58 juta hektare pada tahun 2010 akibat dari pembakaran hutan. Apabila hal ini terus berlanjut dengan pola yang sama seperti ini maka kurang dari 20 tahun yang akan datang, hutan tropis di Sumatera mungkin sudah tidak ada lagi.

Melihat fakta-fakta di atas, tidaklah mengejutkan ketika kemudian perubahan-perubahan pada alam tersebut memicu perubahan pada iklim dan terjadinya bencana-bencana alam di sebagian besar negara-negara Asia pada satu dekade terakhir ini. Pada 2004 gempa bumi sebesar 9 Skala Richter yang diikuti oleh gelombang tsunami yang dahsyat, menyapu habis beberapa pantai-pantai di Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand. Kemudian pada 2006 gempa bumi yang besar terjadi lagi di Indonesia dan kali ini diikuti oleh letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Pada bulan Februari 2007, banjir di Jakarta menyebabkan sebanyak 340.000 orang kehilangan tempat tinggalnya.

Nasib yang tak jauh berbeda di alami oleh negara-negara tetangga kita. Pada 2008, cyclone (angin topan) Nargis menghantam Myanmar dan menyebabkan hilangnya ribuan nyawa manusia. Satu tahun berikutnya “giliran” kota Padang yang diluluh-lantakkan oleh gempa bumi, sementara hampir di saat yang bersamaan, banjir dan angin topan menerpa Manila dan beberapa kota lain di Filipina. Kemudian di tahun 2010 dan 2011, rangkaian peristiwa bencana alam seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, badai, dan angin topan secara bergantian melanda Vietnam, Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Filipina. Bahkan, pada tanggal 11 November 2013 yang lalu, kota Tacloban di Filipina hancur lebur akibat angin topan Haiyan yang sangat besar dan gelombang laut yang terjadinya karena angin tersebut. Lebih dari 3.000 jiwa manusia hilang dan ini masih mungkin akan bertambah.

Green City di Eropa (Foto dok. climate-kic.org)
Apabila kita cermati lebih jauh mengenai fakta di atas, dapat kita simpulkan bahwa daerah yang terkena dampak paling besar dari bencana alam adalah daerah kota. Mengapa bisa begitu? Tentunya apabila kita memahami dengan pola fikir yang dikemukakan di awal tulisan ini, bahwa alam hanya bereaksi terhadap perubahan yang terjadi padanya. Maka, dapat kita simpulkan bahwa kota adalah suatu area dimana perubahan terhadap alam yang dilakukan oleh manusia demi menyesuaikan kebutuhan hidupnya paling banyak terjadi. Daerah kota hanya mencakup 2% dari permukaan bumi, akan tetapi kota melalui aktivitas penghuninya, mengkonsumsi 66% energi yang dihasilkan dan mengeluarkan 70% emisi gas Karbondioksia yang ada di bumi (World Bank,2010).

Kota sejak awalnya didirikan sebagai pusat transaksi atau pertukaran antara konsumsi dan produksi. Hal ini terus berkembang sampai saat ini dimana kota-kota menjelma menjadi pusat-pusat ekonomi di setiap negara. Hanya saja “kekuatan” ekonomi suatu kota ini juga pada umumnya mengandung unsur ketidak-imbangan dan sekaligus melupakan keterkaitannya dengan lingkungan alam sebagai asal muasal. Manusia begitu “serakah” dalam mengkondisikan kota demi keuntungan (ekonomi) semata sehingga seakan menganggap kota bukan lagi bagian dari bumi ini.

Kota-kota di negara maju sebenarnya telah merasakan dampaknya akibat kurangnya perhatian pada lingkungan alami pada pembangunan daerah perkotaan. Seperti misalnya pengembangan kota Kowloon di Hongkong pada akhir abad ke 20 yang kemudian pada akhirnya menjadi sangat padat dan tidak manusiawi sebelum akhirnya dihancurkan dan dibangun ulang. Proses untuk membangun ulang tidaklah sedikit, belum lagi kerugian yang ditimbulkan pada saat kota tersebut masih dihuni. Oleh karena itu, para pakar perencana kota sejak beberapa puluh tahun yang lalu pun sudah mengembangkan berbagai macam konsep pengembangan kota yang lebih baik.

Mulai konsep Garden City (Kota Taman) di awal abad 20 yang digagas oleh Sir Ebenezer Howard untuk pengembangan sebuah kota yang penuh dengan penghijauan dalam bentuk taman yang asri dan indah yang ditujukan sebenarnya sebagai tempat tinggal para pekerja yang menjadi “tulang punggung” Revolusi Industri saat itu. Sayangnya, konsep ini kemudian dikembangkan menjadi konsep lingkungan yang mewah dan penuh dengan keindahan yang kemudian menjadi sesuatu yang mahal dan tidak terjangkau bagi masyarakat kota pada umumnya.

Seiring dengan digagasnya konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan) yang menekankan pentingnya kelestarian lingkungan alam dan sumberdayanya bagi generasi masa depan, berkembang pula konsep-konsep pengembangan kota seperti Sustainable City (Kota Berkelanjutan), Intelligence City (Kota Pintar), Eco-City (Kota Ekologis), Water front City (Kota Tepian Air), Green City (Kota Hijau), dan sebagainya. Intinya pembangunan kota yang memberikan perhatian yang lebih pada lingkungan alami, baik melalui pengelolaan sumber daya alam yang lebih efektif dan efisien, penataan kota dan guna lahan yang lebih baik, penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan.

*Arsitek, Staf Pengajar Universitas Bandar Lampung (UBL). Sedang menyelesaikan studi di Department of Architecture Graduate School of Environmental Engineering The University of Kitakyushu, Japan