Showing posts with label 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Show all posts
Showing posts with label 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Show all posts

Wednesday, March 12, 2014

Musrenbang 2014: Gubernur Sjachroedin Berharap Pemerintah Pusat Realisasikan JSS

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampung—Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. masih terus berusaha agar pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). Dia berharap sebelum masa jabatannya berakhir pada Juni 2014 mendatang sudah ada kepastian pembangunan JSS.

“Semua persyaratan sudah beres. SK Presiden juga sudah ditandatangani, tapi sampai sekarang proyek pembangunan JSS belum ada realisasinya,” kata Gubernur Sjachroedin, ketika memberikan sambutan pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Balai Keratun, Kompleks Pemprov Lampung, di Bandarlampung, Kamis (13/3).

Menurut Sjachroedin, megaproyek penting di Lampung yang juga harus mendapatkan perhatian pemerintah pusat adalah jalan tol Sumatera. Pemprov Lampung, kata Sjachroedin, selama ini tidak henti-hentikna berusaha terus mendorong agar pembangunan jalan tol Sumatera segera terwujud.

“Sampai sekarang pembangunan jalan tol Sumaterayang juga belum dilaksanakan. Kami masih menunggu percepatan pembangunan dua proyek tersebut yang hingga kini belum juga terealisasikan," ujar Sjachroedin, di depan dua pejabat pemerintah pusat, Kepala Bappenas Armida Alisjahbana dan Staf Ahli Bidang Keuangan dan Ekonomi Kementerian Dalam Negeri Hamdani.



Dalam sambutannya Gubernur Sjachroedin juga menyinggung pembangunan dan peningkatkan kualitas jalan/jembatan, baik yang menjadi kewewenangan nasional maupun provinsi, dan perlunya menambah kuota BBM untuk Provinsi Lampung.

“Pada
tahun 2014 kuota BBM Lampung sebesar 903.975 KL premium dan 624.834 KL solar. Tahun depan harus ditambah,” kata dia.


Terkait dengan Musrenbang, Sjachroedin  mengatakan bahwa sebagai ajang koordinasi antarantar instansi pemerintah dan pemangku kepentingan pembangunan, Mursrenbang harus bisa menghasilkan rumusan yang bermanfaat untuk menyusun Rancangan Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Provinsi Lampung tahun 2014.

RKPD yang berisikan program prioritas lanjutnya, akan fokus pada kegiatan pembangunan yang didasarkan rencana kerja satuan kerja perangkat daerah provinsi merupakan acuan utama dalam pemutakhiran kebijakan anggaran, termasuk pemilahan informasi mengenai sumber pendanaan kegiatan yang berasal dari APBD provinsi maupun APBN serts sumber dana lainnya.

Menurut Sjachroedin, Mmusrenbang juga menjadi sarana konsultasi publik bagi para pemangku kepentingan di daerah untuk menetapkan program dan kegiatan daerah serta rekomnedasi kebijakan sekaligus menilai efektivitas berbagai regulasi yang berkaitan dengan fungsi SKPD provinsi.

“Maka itu, usulan pembangunan harus dimulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota kemudian dilakukan evaluasi,” ujarnya. 



Thursday, February 6, 2014

Saya Sudah Kembalikan Honor Puisi Esai dengan Permintaan Maaf

Ahmadun Yosi Herfanda

Salam Sastra,

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, serta dengan permintaan maaf kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas ketidaknyamanan ini, sebagai konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” (ikut menulis puisi esai pesanan) itu hari ini, tepat pukul 14.50 wib, saya sudah mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta melalui rekening BCA Fatin Hamama (perantara pesanan puisi esai ini). Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan uang itu – bukti setoran pengembalian dana itu terlampir. Semoga dengan kerendahan hati pula Denny JA berkenan menerimanya kembali. Sebelum ini sebenarnya saya sudah mengontak Fatin untuk membatalkan kesertaan saya itu, tapi Fatin tentu tak dapat berbuat apa-apa karena bukunya sudah telanjur dicetak.

Dengan pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama puisi-puisi esai karya para penyair lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya. Yang penting, bagi saya pribadi, saya sudah jujur pada suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu. Sekali lagi, maaf dan terima kasih kepada Denny JA dan Fatin Hamama yang telah memberikan penghargaan begitu tinggi pada saya lewat pesanan puisi esai itu.

Mohon maaf, jika pengembalian honor itu membuat perasaan jadi tidak nyaman. Ide puisi esai itu sebenarnya menarik jika tidak dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Yang memang senang menulis puisi esai tentu tidak ada salahnya juga, dan terus saja lajutkan asal memang sesuai dengan pilihan hati masing-masing.

Perlu saya tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Soal honor puisi esai yang sudah terlanjur kawan-kawan terima, silakan kembalikan saja ke suara hati nurani masing-masing. Semoga honor itu tetap berkah untuk kawan-kawan belanjakan. Hanya, uang yang saya terima memang agak beda jumlahnya dan prosesnya pun berbeda sehingga hati nurani saya meragukan kehalalannya. Karena itu, sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari kekhilafan, hanya pengembalian honor itu yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan atas keterlibatan saya pada “politik puisi esai” itu.

Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat dalam "politik puisi esai" dan penokohan Denny JA itu. Saya sekali lagi minta maaf sedalam-dalamnya kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas semua tidaknyamanan ini.
 
Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun, memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek samping: menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau sepahit apapun.”

Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama, karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT meridloi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam wr wb.