Showing posts with label Jejak. Show all posts
Showing posts with label Jejak. Show all posts

Wednesday, June 4, 2014

Panaragan, Tanah Para “Tapa” Menjunjung Adat

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


ilustrasi rumah panggung
SIAPA pun tak bisa menduga, suatu saat daerah ini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tulangbawang Barat. Inilah Panaragan: kampung masyarakat asli orang Lampung di daerah ini.

Panaragan berdekatan dengan Pagardewa. Apalagi jika jembatan penghubung ke Pagardewa sudah terealisasi. Masyarakat pribumi di sini menyebut sebagai Tiyuh Tego atau kampung tiga. Tapi, ada juga yang menyebut Panaragan Pak Tiyuh: Panaragan empat kampung.

Setiap menyebut Panaragan, tentu saja yang teringat adalah keluarga Bagir Manan, mantan Ketua Mahkamah Agung semasa 2001-2008. Pasalnya, Prof. Dr. Bagir Manan, SH, MCL juga terpilih sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia untuk periode 2010-2013, orang tuanya berasal dari Panaragan sebelum berhijrah ke Kalibalangan, Lampung Utara.

Orang tua Bagir Manan, yaitu Abdul Manan, memimpin warga Panaragan saat bedol desa dan menetap di Kalibalangan.

Panaragan merupakan kampung tua yang ada di Tulangbawang—kini Tulangbawang Barat. Panaragan terdiri dari empat kampung: Panaragan, Bandardewa, Tanjung Agung, dan Menggala Emas. Di daerah ini, rumah-rumah panggung khas masyarakat pribumi Lampung masih dipertahankan. Meski dibanding Pagardewa, rumah tradisional itu sudah mulai berkurang.

Sejak berpisah dari kabupaten induk yaitu Tulangbawang, daerah ini maju pesat. Terutama Panaragan, setelah masuknya transmigrasi ke wilayah ini, melahirkan desa baru yakni Panaragan Jaya.

Sebuah peta Gedongratu bertitimangsa 1942 dan dibuat semasa kolonial Belanda, terdapat nama Panaragan di antara nama-nama kampung lainnya di sini. Dengan demikian, Panaragan sejatinya masuk dalam wilayah teritorial Gedongratu.

Namun, pada masa sekarang daerah ini merupakan sebuah kecamatan, bernama Kecamatan Panaragan.

Menurut Khoiri Runjungan Gelar Tuan Junjungan Marga, Panaragan berasal dari kata “panarag” atau “tarag”. Artinya, tapa atau semedi. Jadi, Panaragan adalah tempat bertapa atau bersemedi para nenekmoyang pada masa sebelum masuknya agama Islam.

Panaragan dalam adat disebut “Panaragan Pak Tiyuh” yang berarti daerah ini terdiri dari empat kampung.

Namun, sampai kini tak ada yang tahu siapa yang bertapa di Panaragan ini. Sehingga daerah ini dinamai Panaragan, bahkan apa hasilnya.

Panaragan masuk dalam Marga Tegamongan, jelas Tuan Junjungan Marga. Marga Tegamongan ini dibangun oleh nenekmoyang Telunjuk. Sementara itu, moyang dari orang Panaragan adalah Minak Indah bin Rio Sanak.

Dikatakan Khoiri, mantan anggota DPRD Tulangbawang dan salah satu konseptor lahirnya Kabupaten Tulangbawang Barat, apabila nenekmoyang orang Panaragan adalah Minak Indah, maka Minak Rio Mangkubumi merupakan nenekmoyangnya Bandar Dewa yang berkedudukan di Pagar Dewa. Kemudian yang kita kenal bahwa Minak Rio Mangkubumi ini mempunyai putra bernama Minak Pati Pejurit.

Sebagai tempat bersemedi, peribumi Lampung di Panaragan mengaku berpegang teguh pada adat sampai kini. Adat dan budaya hidup sejalan dengan keseharian masyarakat setempat. Walaupun di antara orang Panaragan sudah menetap di daerah lain, semisal di Kalibalangan, Kotabumi, maupun daerah lainnya.

Sebenarnya, menurut Khoiri Runjungan, daerah ini diusulkan sebagai Kabupaten Panaragan. Alasannya, daerah ini menjunjung tinggi keadatan dan sebagai daerah pertama pribumi Lampung di bagian barat Tulangbawang.

Namun usulan itu gagal, meski akhirnya pusat pemerintahan Pemerintah Kabupaten Tulangbawnag Barat berada di Panaragan. Kabupaten ini kemudian dipimpin Bachtiar Basra-Umar Ahmad hingga 2 Juni 2014, karena Bupati Tubabar dilantik sebagai Wakil Gubernur Lampung. Sementara Umar Ahmad dipastikan menjadi Bupati Tubabar.

Panaragan kini terus merias diri. Daerah ini selangkah lebih maju dibanding daerah-daerah lain di Kabupaten Tulangbawang Barat. Rumah-rumah penduduk ditegakkan. Jalan diperlebar. Inilah

Daerah ini juga memiliki potensi objek wisata, khususnya religi. Salah satunya Makam Minak Indah atau lebih dikenal Keramat Gemol. (Kisah Keramat Gemol akan diturunkan suatu saat).

Sebagaimana pula Pagardewa, seperti dituturkan Khoiri Runjungan, Panaragan memang ditempati para orang sakti. Salah satunya Minak Indah bin Rio Sanak, yang diyakini adalah poyangnya orang Panaragan. Minak Indah memang terkenal sakti.

Minak Indah, karena sombong dan melanggar adat, kemudian ditakdirkan tewas oleh sebuah pedang.

Sunday, May 25, 2014

Gunung Banten dan Ratusan Kera yang Menunggu



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Gunung Banten (teraslampung.com)


BANDARLAMPUNG—Ada tiga gunung (tepatnya bukit) di kawasan Kedaton yang dikenal masyarakat luas, yaitu Gunung Sula, Gunung Banten, dan Gunung Perahu.

Ketiga gunung itu acap disebut gunung tiga jari—atau speerti tiga jari: telunjuk, tengah, dan jari manis. Tetapi, tak ada yang bisa memberi alasan kenapa disebut “gunung tiga jari” ini. Seperti juga, seorang warga menyebut ketiga gunung itu seperti (kaki) tungku.

“Itu kalau dilihat dari udara, memang seperti itu. Seperti (kaki) tungku,” kata seorang warga di sekitar Gunung Perahu.

Kecuali Gunung Sula, dua gunung lainnya bertetangga. Keberadaan Gunung Banten dan Gunung Perahu di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandarlampung.

Gunung Perahu agak ke dalam dari Jalan Teuku Umar dan dekat pemakaman warga beragama Katolik, sementara Gunung Banten dapat dilihat dari Jalan Teuku Umar Kedaton.

Menurut cerita, dinamakan Gunung Banten karena di puncak gunung itu ada sebuah makam, konon orang Banten. Makam tersebut tanpa nisan, hanya sebuah tanda bahwa itu adalah kuburan manusia.

Mengenai makam orang Banten, tak seorang warga di sekitar itu pernah melihatnya. Mereka hanya yakin di atas gunung ada sebuah makam, yang kemudian terpatri menjadi nama gunung ini.

Gunung Banten memili kekhasan. Di perut gunung yang masih hijau ini, menjadi rumah bagi ratusan kera. Menurut warga, kera-kera itu sudah ada di dalam hutan Gunung Banten sudah lama. Sekira 200 ekor hidup dan beranak-pinak.

Kawanan hewan berekor panjang itu bila mencari makan selalu berkelompok. Kera-kera di Gunung Banten cenderung liar, berbeda dengan yang ada di Hutan Monyet Tirtayasa Telukbetung yang mau mendekati orang.

Walaupun liar,  namun tidak mengancam keselamatan manusia. Umumnya kawanan kera di sini, lebih dulu lari atau bersembunyi dalam rimbunan pohon tatkala melihat manusia. Sehingga warga hanya dapat melihat kera itu turun dari pohon untuk mengambil makanan yang dilempar orang, setelah itu mereka kembali ke gunung.

Fenomena kera di Gunung Banten yang berada di dalam Kota Bandarlampung itu, kerap dijadikan tontonan menarik warga. Tak sedikit masyarakat mendatangi Gunung Banten membawa pisang agar kera-kera itu turun dan mendekat.

Fenomena menarik ini sebenarnya bisa dijadikan objek wisata dalam kota, selain Hutan Kera di Tirtayasa, Telukbetung.

Mbah Daman (82 tahun, saat ditemui 13 Februari 2012, Red.), warga Jalan Kelelawar Gang Banten bersama isterinya sejak tahun 1960 itu, seperti “bapak” bagi kawanan kera ini. Setiap hari. dia seperti menunggu disambangi para kera untuk meminta makanan.

Warga setempat akhirnya menganggap Mbah Daman adalah “kuncen” (juru kunci) Gunung Banten dan “seisinya”. Pasalnya, setiap warga dari luar hendak berkunjung ke gunung itu dipastikan akan pamit padanya.

Gunung Banten masih lebat oleh pepohonan ukuran besar, dan hutan bambu. Bentuknya juga masih curam. Pendaki masih sulit menaiki puncaknya, terutama bila dari Jalan Kelelawar Gang Banten.

Untuk sampai ke kawasan Gunung Banten, bisa melalui Jalan Kelelawar atau Gang Valentine, juga Gang Bhakti. Dari Pasar Koga, Kedaton, gunung tersebut sudah tampak sekali.

Gunung Banten sudah tak asing lagi bagi warga Kedaton. Dipastikan jika bertanya, warga sekitar akan menunjukkan. Jadi, tak perlu khawatir akan pulang tanpa menemui gunung ini.

Masyarakat kerap mengunjungi Gunung Banten untuk menikmati kawanan kera, yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Atau menuruni ranting untuk mengambil makanan yang disediakan pengungjung, setelah itu melompat ke ranting untuk naik ke pohon dan menyantap makanan—terutama pisang.

Gunung Banten tak hanya dikenal sebagai rumahnya kera yang menghibur, tetapi gunung ini juga memiliki cerita mistis. Itu sebabnya, salah satu stasiun TV swasta di Jakarta, pernah mengambil salah satu episode tayangan misteri di daerah ini.

Pengambilan gambar itu gagal, karena “penunggu” Gunung Banten lebih perkasa dibanding paranormal yang dibawa kru teve swasta tersebut.

Tentu cerita-cerita mistis lain berkembang di bibir warga. Seperti dituturkan Naryo, warga yang tinggal persis di dekat Gunung Banten.

Katanya, tidak ada warga yang berani melukai atau sampai mematikan kera di Gunung Banten. Ada warga yang pernah meracun kera, tak lama dari itu orang tersebut mati. Atau ada warga yang menembak seekor kera hingga tewas, penembak itu pun meninggal karena kecelakaan.

Percaya atau tidak, kata Naryo, namun cerita ini pernah terjadi. “Seperti juga ada yang hendak menembak justru senapannya patah,” kata Naryo.

Sedangkan warga lain menceritakan, seekor kera yang diketapel seorang anak hingga matanya rusak. Sejak itu, anak-anak yang melintas dekat Gunung Banten akan dikejar oleh kera yang matanya cacat itu.
Sejatinya Gunung Banten berpotensi dijadikan salah satu objek wisata di Kota Bandarlampung. Khususnya kera-kera yang berkeliaran dan akan turun jika diberi makanan. Seperti terjadi di Hutan Kera, Telukbetung.

Sayangnya, Pemerintah Kota Bandarlampung sepanjang ini belum melihat potensi itu. Kalau ini dibiarkan, dikhawatirkan pada masanya kera-kera itu migrasi atau mati karena hutan di situ dibabat dan Gunung Banten—seperti bukit-bukit lain di Bandarlampung—digerus tak bersisa.

Jangan sampai nasib Gunung Banten yang rata dengan tanah, seperti dialami Gunung Kunyit, Bukit Camang, dan lain-lain.

Sebab, warga kota merindukan paru-paru dari kehijauan alam.




Monday, May 19, 2014

Pilihan Tempat Deklarasi, Dua Pasangan Capres-Cawapres Dinilai tak Paham Sejarah

Gedung Djoang Tempat Pentolan Murba, Rumah Polonia Kediaman Istri ke-8 Bung Karno


Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya, Jakarta Pusat (dok)
Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

JAKARTA, Teraslampung.com  - Hari ini masyarakat Indonesia menyaksikan sekaligus di beri jawaban teka-teki pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk bertarung pada 9 Juli 2014 mendatang. Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) yang menjadi calon presiden dan wakil presiden yang diusung PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa diusung Partai Gerindra,PAN,PKS,PPP,PBB dan Partai Golkar.

Menjadi menarik adalah tempat pendeklarasian kedua pasangan capres dan cawapres tersebut. Deklarasi pasangan Jokowi-JK dilakukan di Gedung Joang 45 Jl. Menteng Rayam Jakarta Pusat, sementara deklarasi Prabowo-Hatta Rajasa digelar di Rumah Polonia, di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Keduanya memang berkaitan dengan sejarah presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Namun, bagi ahli sejarah J.J. Rizal, pilihan deklarasi di dua tempat yang dianggap bersejarah itu kurang tepat.

Sangat benar kalau tempat itu bernilai sejarah tapi konon kabarnya kedua pasangan capres dan cawapres memberikan kesan serta makna akan semangat Soekarno kepada khalayak ramai bahwa semangat keindonesiaan yang dimiliki Bung Karno untuk dijual sebagai bahan baku dagangan kampanye yang sebentar lagi digelar tentunya merebut simpati masyarakat untuk meraih kemenangan pada pemilihan presiden kali ini.

Rumah Polonia di Cipinang Cempedak, Jakarta Timur (dok)
Sejarawan dari Universitas Indonesia J.J. Rizal menyoal sekaligus mempertanyakan keputusan Partai Demokrasi Perjuangan yang mengusung capres Jokowi-Jk di Gedung Joang 45. Menurut Rizal, Gedung Joang justru merupakan tempat berkumpulnya Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) yang dulu anti- Soekarno, kata Rizal, sebagaimana dikutip Tempo, Senin, 19 Mei 2014.

Pada praproklamasi dan pascaproklamasi, sikap Murba selalu berseberangan dengan pemerintah Soekarno. Maka itu, menurut J.J. Rizal, jelas tidak tepat Gedung Joang dijadikan tempat deklarasi oleh Jokowi-JK jika maksudnya adalah untuk mengingatkan sejarah perjuangan Bung Karno.

Masih menyoal tempat deklarasi, Rizal menanyakan pilihan Jusuf Kalla sebagai cawapres Jokowi. Menurut Rizal, ketua PMI itu bukan tokoh pemuda. Memilih Gedung Joang tidak pas karena tempat ini pernah menjadi tempat bersejarah bagi pergerakan kepemudaan di Tanah Air. Sedangkan cawapres PDIP justru memilih calon wakil presiden yang tak mewakili semangat pemuda.

"Ini kontraproduktif, Jusuf Kalla bukan tokoh muda", ujar alumnus Universitas Indonesia itu.

Rizal juga mempertanyakan tempat pendeklarasian pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yakni di bekas rumah Sukarno di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta Timur.

Menurut Rizal, rumah itu merupakan bekas kediaman istri Sukarno yang ke-8. "Ini ingin mengangkat simbol Sukarno atau untuk mengejek?" kata Rizal.

Dari kesimpulan Rizal, baik PDIP maupun Gerindra tidak memiliki kemampuan mengetahui sejarah Sukarno. Bahkan, sejarawan dan aktivis budaya Betawi ini berasumsi mereka hanya ingin meraup keuntungan dari nama besar Presiden RI pertama itu.

"Mereka tak paham sejarah. Ini hal yang gila," kata Rizal

Sunday, May 18, 2014

Sejarah Benteng Buton: Tiada Benteng yang tak Bercelah

Raudal Tanjung Banua

Makam Sultan Alaudin (foto Raudal Tanjung Banua)
Kesultanan Buton pernah menjadi ajang pergulatan sejarah penting. Bersama kerajaan lain di timur tanah air, seperti Bone, Gowa, Ternate dan Tidore, Kesultanan Buton tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang diperhitungkan. Maklum, letaknya sangat strategis di jalur laut dan rempah, antara barat dan timur Nusantara. Tak heran, Belanda tergiur menguasainya, namun selalu gagal berkat kecerdikan Sultan Buton yang membuat “persekutuan abadi” dengan VOC.
Persekutuan yang disetujui Kapten Apollonius Scotte dan Sultan La Elangi (1613) ini bersifat saling menguntungkan, termasuk mencegah serangan Gowa. Tapi konflik Buton-Gowa (Makassar) membesar setelah bangsawan Bone (Bugis) bernama Aru Palakka, saingan Sultan Hasanuddin, melarikan diri ke Kraton Buton. Ia dilindungi Sultan Aidul Rahim atau La Sombata. Ketika pasukan Hasanuddin menyerbu, Aru Palakka tak ditemukan karena tempat persembunyiannya jauh di celah tebing karang.
Serangan Gowa berikutnya terjadi akhir tahun 1666 dipimpin Karaeng Bonto Marannu. Sultan Buton dibantu Aru Palakka, berhasil mempreteli pasukan “Ayam Kinantan” dan mengasingkan mereka di Pulau Makasar (ingat, dengan satu “s”), sebuah pulau kecil di muka kota Bau-bau. Kini, tiap tahun ada Festival Pulau Makasar menampilkan kreasi seni dan kuliner masyarakat pulau itu. Bentuk rekonsiliasi?
Jejak sejarah penting lainnya adalah tragedi tahun 1969. Ketika itu, bangsawan Buton dituduh menerima pasokan senjata untuk membangkitkan ideologi komunisme. KRI Dompu yang berlayar dari Tanjung Priok ke Maluku, dituduh mendrop senjata di Teluk Sampolawa. Bupati Buton, M. Kasim, ditahan menyusul ratusan orang lainnya hilang tanpa pengadilan. Sebagian sejarawan berpendapat, tragedi itu buntut persaingan dua kota niaga dan kultural sejak lama antara Makassar, Sulawesi Selatan, di barat dan Buton di timur.
Akibatnya, ibukota Sulawesi Tenggara dipilih Kendari, bukannya Bau-bau yang strategis dan bersejarah. Belum lagi rivalitas antara Buton dan Muna. Ada pula berpendapat, tragedi itu masuk ke benteng Buton akibat “permainan” orang dalam yang tersingkir dari tahta dan kuasa. Jadi tiada benteng yang tak bercelah. Tapi itu sudah jadi sejarah yang perlu digali kebenarannya.
Kota Bau-bau dilihat dari atas ketinggian. (Foto: Raudal Tanjung Banua)
Yang jelas, Kota Bau-bau dan Buton umumnya, kini terus berbenah mengembangkan potensi wisata. Banyak jalur bisa mengantar wisatawan ke mari. Jalur laut tentu yang utama, bisa langsung dari Makassar dengan kapal Pelni, atau naik kapal cepat Kendari-Raha-Bau-bau. Pesawat langsung Makassar-Buton sekitar tiga kali dalam seminggu. Maka, deretan tempat wisata tumbuh, mulai pantai Kamali dengan patung naga dan ikan bakarnya, Pantai Bukit Kolema dengan saraba' dan pisang eppe'-nya, suaka margasatwa Lambusango, sampai perkampungan orang laut atau Bajo di Lasalimu.
Atau mampirlah ke kompleks Kantor Walikota Bau-bau, tak jauh dari pusat kraton. Pada awal pembangunannya diprotes masyarakat sebab terlalu jauh di atas bukit. Namun walikota Bau-bau bergeming, alasannya ingin mengembangkan wilayah kota. Tak lama, rumah sakit daerah juga dibangun di situ. Alhasil, tanah yang selama ini terlantar jadi naik pasarannya. Kini lokasi itu menjadi tempat terbuka atau ruang publik, dilengkapi hotspot, penuh muda-mudi dengan pemandangan sekeliling yang memukau.


Benteng Kraton Buton, Benteng Terluas di Dunia

Raudal Tanjung Banua*
Berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, di samping mendapat kepuasan tak terbilang dari panorama lautnya yang indah, juga jangan luputkan menjelajah “Benteng Terluas di Dunia”. Ya, itulah predikat Benteng Kraton Buton yang tercatat dalam Guinnes World Record tahun 2006. Benteng sepanjang 2.780 m dan luas 23 ha ini dibangun pada abad ke-16 M, terletak di perbukitan Palagimata yang menjadi latar kota Bau-bau. Kota Bau-bau sendiri merupakan kota pelabuhan yang ramai di timur tanah air, dan menjadi pintu masuk wisatawan ke surga bawah laut gugusan Kepulauan Wakatobi.
Tidak sulit mencapai benteng, sebab terletak tak lebih tiga kilometer dari pusat kota Bau-bau. Ada mikrolet dan ojek sepeda motor yang bisa Anda tumpangi dengan ongkos Rp 5000. Saya beruntung diantar mobil panitia workshop penulisan, sehingga bisa langsung mengelilingi benteng. Begitu melewati gerbang utama bertulisan “Anda Memasuki Kawasan Benteng Terluas di Dunia”, pemandangan ajaib segera menghampar di depan mata. Dinding benteng yang hitam-tebal mengular sepanjang sisi bukit, dengan pola naik-turun yang unik. Bentuknya tidak fokus pada satu jenis, ada berbentuk balok, bundar, lingkaran atau kombinasi.
Tinggi dinding juga tidak sama rata, ada yang lebih rendah, sedang, tinggi atau diselang-selingi. Efeknya, kesan benteng jadi tidak masif sehingga tak membosankan dipandang mata. Lalu di beberapa bagian terdapat pintu-pintu beratap, lengkap dengan meriam tua yang mengarah ke luar. Bunga kamboja, pisang dan kapuk randu berderet tumbuh di tepi-tepinya.
Terbuat dari batu karang, Benteng Kraton Buton memagar rapat sejumlah perkampungan, istana sultan, masjid, makam dan rumah para bangsawan (wolio mendebu). Namun, bukannya tanpa celah, sebab ada banyak pintu dengan berbagai fungsi dan nama, seperti Baluarana Wabarengalu dan Baluarana Tanailandu. Sebuah pintu lagi tampak mengarah ke jurang, dulu pernah dipakai Aru Palakka atau La Toondu, bangsawan Bone, untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Sultan Hasanuddin dari Gowa, Makassar.
Saya tercengang takjub memandang semua itu, terlebih pemandangan ke arah laut sangat menggetarkan. Kota Bau-bau yang padat dan pelabuhannya yang dipenuhi kapal-kapal terhampar jelas di bawah sana, termasuk pulau kecil di muka teluk, Pulau Makasar (dengan satu huruf “s”). Pemandangan juga sampai jauh ke tepian laut yang menggaris dua pulau bertetangga, Buton dan Muna. Ya, kedua pulau ini memang memanjang bersisian di kaki Pulau Sulawesi, dipisahkan selat Buton yang sempit layaknya sungai, sehingga ketika melewatinya dalam perjalanan dari Kendari kita disuguhi pemandangan laut, pulau dan tebing batu yang luar biasa indahnya. Mungkin karena berdekatan itu pula, secara administratif, pembagian kabupaten tidak berdasarkan pulau, namun langsung memotong kedua daratan; Kabupaten Muna juga mencakup sebagian pulau Buton, dan sebaliknya.
“Jauh di sana Gunung Kabaena, kampung-kampung di bawahnya terkenal dengan gadis-gadis cantik,” kata Yusri, orang yang mengantar saya, menunjuk nun ke arah Pulau Kabaena.

***

Setelah puas berlama-lama di sisi tembok benteng, saya memutuskan memasuki pusat Kraton Buton. Cukup mengherankan, tidak ada satu retribusi pun yang perlu dibayar, karcis masuk bahkan parkir gratis. Selain itu, tidak terlihat pedagang makanan baik asongan maupun di kios resmi. Saya angkat topi dari sisi kenyamanan, kebersihan dan ruang publik, tapi bagaimana dengan pemasukan Pemda serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar? Entahlah, saya belum mau berpikir lebih lanjut, termasuk memikirkan kenapa Benteng Buton mengalahkan Tembok Cina soal prediket “Benteng Terluas di Dunia”?
Sepenuhnya saya ingin menikmati pusat Kraton Buton, di mana terdapat masjid raya, istana bangsawan Wolio, batu igandangi (tempat pengukuhan sultan) dan balairung. Ada juga bukit kecil tempat peristirahatan abadi sultan Buton pertama yang beragama Islam, Sultan Murhum. Pusat benteng ditandai oleh sebuah tiang kayu unik setinggi 21 m, berusia hampir 300 tahun, tempat bendera kesultanan yang disebut tombi longa-longa pernah dikibarkan. Kini bendera tradisional sepanjang lima meter berbentuk lancip seperti daun padi itu, hanya dapat saya bayangkan seolah berkibar megah di ujung tiang jati yang masih kokoh berdiri.
Tiang unik itu berdiri persis di depan masjid raya Kesultanan Buton Butuni yang usianya jauh lebih tua. Dibangun tahun 1712, sekilas masjid ini tampak sederhana. Namun jika diamati arsitekturnya tak kalah unik, yakni bersusun tiga, dan setiap bagian hanya “dikunci” oleh 33 pasak kayu—tanpa paku—yang melambangkan jumlah bacaan suci saat zikir. Secara filosofis, ketiga bagian ini melambangkan anatomi manusia yang terdiri bagian bawah (kaki), tengah (perut) dan atas (kepala). Secara keseluruhan pula, jika dilihat dari udara, benteng Buton konon menyerupai orang sedang tahayat akhir dalam sholat, demikian beberapa info yang saya dapatkan dari warga setempat.
Sebagaimana jamaknya bangunan zaman dulu di Buton, kayu merupakan bahan utama masjid raya, di samping sedikit batu untuk pondasi dan pagar bawah. Kayu jati pilihan (Buton dan Muna penghasil kayu jati terbaik) juga terlihat kokoh di tiang, dinding dan lantai rumah para bangsawan Wolio. Rumah itu dibuat sampai bertingkat empat, bertiang puluhan dan dindingnya penuh ukiran. Menariknya, di bagian puncak atap selalu terdapat ukiran kayu berupa buah nenas.
La Ode Nuri, salah seorang penduduk kraton, mengatakan bahwa spritualisme orang Buton mempercayai konsep reinkernasi. Kenapa simbolnya nenas? Sebab buah nenas memiliki daun di bagian bawah dan bagian atas sebagai pertanda kehidupan. Selain itu, naga juga menjadi simbol kultural hasil akulturasi dengan masyarakat Tionghoa, begitu katanya.
Selesai bercakap-cakap, saya menuju pelataran istana bangsawan di mana terdapat jangkar raksasa dan monumen silsilah raja/sultan Buton. Konon, jangkar itu milik kapal VOC yang dikalahkan sultan Buton. Ada pun di monumen silsilah, terukir 43 nama raja dan sultan, dimulai Raja Waa Kaa Kaa pertengahan abad XIV dan diakhiri La Ode Falihi Kaimudin tahun 1960-an. Perbedaan gelar Raja dan Sultan tampaknya ditandai masuknya agama Islam tepatnya pada raja ke V (terakhir) sekaligus sultan pertama, Sultan Murhum.

Hari sudah rembang petang, terlihat dari permukaan laut yang disepuh cahaya keemasan. Saya segera beranjak ke makam Sultan Murhum, tapi dua orang bocah Buton mencegat saya. Ternyata mereka minta difoto. Klik! Saya foto mereka dengan latar jangkar besar, setelah itu saya bergegas ke makam. Makam dengan nisan setinggi dua meter itu bersih dan sejuk, dari sana terlihat matahari mulai angslup ke laut. Tak lama kemudian azan magrib bergema dari arah masjid raya. Hari itu, saya tutup kunjungan dengan sholat berjemaah di masjid bersejarah Buton Butuni, dengan sebuah keunikan lain: semua jemaah bersalaman sambil bersimpuh, simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga. 

*Raudah Tanjung Banua adalah penyar, Tulisan ini pernah dimuar di Harian Suara Merdeka, Semarang

Saturday, May 10, 2014

Gunung Sari, Kini Menjadi Permukiman Padat



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Sebagian Kota Tanjungkarang dari puncak Gunung Sari


Bandarlampung—Meski banyak nama kampung memakai nama gunung, tapi hanya Gunung Sari benar-benar sebuah pemumikan di tubuh gunung (baca: bukit).

Kalau Gunung Terang, Gunung Sugih, Gunung Katun, dan masih banyak lagi nama perkampungan, tapi wilayah itu tidak berada di gunung.

Gunung Sari kini lebih padat penduduknya. Sulit mencari lahan kosong, termasuk pula pepohonan. Sejak kaki gunung, pinggang, leher, sampai puncak Gunung Sari sudah dipenuhi rumah tinggal.

Awalnya daerah ini masuk wilayah Kampung Sawah, sekarang bagian dari Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Dari hanya sebuah desa, sekarang menjadi Kelurahan Gunung Sari.

Wilayah kelurahan ini termasuk Ramayana Jalan Radin Intan dan Jalan Pemuda, Jalan Dipo, Bambu Kuning Square, dan Stasiun Tanjungkarang.

Jika luas Kelurahan Gunung Sari mencapai 16,8 hektare, sedangkan Gunung Sari sendiri tak sampai segitu meskipun datanya tak ada di kelurahan.

Kelurahan Gunung Sari merupakan salah satu pusat bisnis di Kota Bandarlampung. Kantor kelurahan berada di Jalan Teuku Umar No. 4,  bersebalahan dengan Koramil.

Di Kelurahan Gunung Sari ada pusat perbelanjaan Ramayana—Terminal Pasar Bawah, Bambu Kuning Square (BKS), Stasiun Tanjungkarang, Masjid Taqwa, Gereja Katedral Kristus Raja, Kantor Pos Tanjungkarang.

Selain itu, pertokoan di Pasar Tengah, Jalan Radin Intan, serta bisnis di sepanjang Jalan Teuku Umar hingga Jalan Kota Raja.

Meski dulunya dikhawatirkan terjadi musibah longsor lantaran penduduknya padat, kenyataannya daerah ini maju pesat. Kelurahan ini, tentu saja, diuntungkan sebab berada di pusat Kota Tanjungkarang.

Kelurahan Gunung Sari dihuni oleh beragam etnis dan agama. Daerah ini kaya akan sejarah, dan diakui sebagai salah satu pusat bisnis di Bandarlampung.

Salah satu sejarah yang tak bisa dihilangkan, bagaimana kawasan perbukitan bernama Gunung Sari pertamakali dijadikan pemumikan oleh warga pada masa kolonial Belanda.

Pemukiman penduduk dilihat dari bawah
Berada di atas Gunung Sari, kita bisa melihat wajah sebagian Kota Tanjungkarang. Sedangkan dari bawah, Gunung Sari sudah sangat penuh oleh rumah penduduk.

Beberapa pintu untuk sampai ke Gunung Sari, yakni dari samping Kantor Kelurahan, satunya dari sebelah kiri Masjid Taqwa Jalan Kota Raja, lalu bagian Barat atau masuk dari Stasiun Tanjungkarang, serta dari Jalan Dipo.

Bagaimana pertama kali warga menempati daerah ini? Genenerasi awal yang singgah ke Gunung Sari, diperkirakan pada masa penjajahan Belanda.

Saat itu, setiap warga yang datang ke sini langsung meng-kaveling lahan lalu membangun rumah sederhana. Dimulai dari bagian kaki Gunung Sari, khususnya di daerah yang sekarang disebut Jalan Dipo.

Almarhum Kasan, konon merupakan generasi pertama menempati Gunung Sari. Sekitar tahun 1940, Kasan membangun rumah di kaki Gunung Sari.

Menurut cucu Kasan, Subhi, saat itu baru beberapa rumah di sini. Mereka membangun tempat tinggal di bagian kaki gunung, karena menganggap lahan di sini tidak bertuan.

Setelah itu berdatangan warga lain, dan ikut membangun rumah pula. Setiap warga yang hendak membangun rumah dengan bebas memilih lokasi.

Lahan pun seperti tak berharga. Sehingga warga yang lebih dulu menetap dan memiliki tanah lumayan luas, bisa menyerahkan ke orang lain yang membutuhkan. Tentu saja dengan cuma-cuma.

Pada tahun 1940-an, Gunung Sari masih penuh pohon bambu. Bahkan pada bagian bukit, adalah hutan belantara. Hewan, seperti monyet ataupun binatang buas, juga masih berkeliaran.

Suasana di situ pada malam hari dipastikan gelap gulita. Sehingga benar-benar senyap. Satu-satunya penerang adalah lampu minyak tanah.

Sebelum menetepkan lahan untuk tempat tinggal, warga harus terlebih dulu membabat hutan serta menebangi pohon bambu. Lalu dibangunlah rumah berdinding geribik dan beratap rumbia.

Sementara keluarga Mbah Sudarmi diduga sebagai generasi berikut yang menetap di Gunung Sari. Perempuan berusia 96 tahun pada tahun 2012 lalu, datang dan membangun rumah di situ setelah suaminya dipindahkan tugas dari Gedongtatatan.

Mbah Sudarmi menempati kaki Gunung Sari di bagian Barat (kini Jalan Dipo) pada awal tahun 1950. Dia termasuk saksi sejarah Gunung Sari saat kini.

Suami Mbah Sudarmi adalah TNI. Saat mutasi dari Gedongtatan ke Tanjungkarang pada awal tahun 1950, keluarga Sudarmi membangun rumah di bagian bawah Gunung Sari.

Sebagai isteri prajurit, Sudarmi tidak takut tinggal di Gunung Sari yang saat itu belantara dan binatang buas masih berkeliaran. Apalagi setiap malam rumah Sudarmi tak pernah sepi. Teman-teman suaminya yang kini sudah almarhum, kerap bertandang. Itulah yang menguntungkan, sehingga tak begitu khawatir.

Dari kaki, menuju lereng Gunung Sari demikian warga mendirikan tempat tinggal di kawasan yang semula milik PJKA (PT KA). Kini, di puncak pun sudah penuh bangunan rumah. Anak-anak tak punya lahan untuk sekadar bermain.

Rumah warga di paling atas dibangun tahun 1980 sampai 1984. Diperkirakan inilah rumah terakhir yang bisa dibangun di kawasan perbukitan ini.

Artinya, dalam rentang 44 tahun, atau dari tahun 1940-an sampai tahun 1984-an, Gunung Sari bergeliat. Setahap demi setahap, warga menempati lahan kosong dari kaki hingga puncak Gunung Sari.

Untuk mencapai pemukiman penduduk di puncak Gunung Sari, maka dibuat jalan kecil berbentuk tangga. Hanya kendaraan roda dua bisa naik, itu pun tidak sampai ke puncak. Motor diparkir di bagian bawah, atau dititip pada warga yang memunya teras—kalau tidak diletakkan begitu saja di jalan kecil.

Dapat dibayangkan, sekiranya warga yang berada paling tinggi ingin turun atau sebaliknya. Lebih-lebih seandainya membutuhkan air bersih pada musim kemarau.

Inilah Gunung Sari…


Sunday, May 4, 2014

Para Arkeolog Minta Kabupaten Pantai Timur Menjaga Situs Proto-Sriwijaya


Che T. Wijaya/Teraslampung.com

Nurhadi Rangkuti
Palembang - Kecemasan terhadap pembentukan Kabupaten Pantai Timur, pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, juga disampaikan para arkeolog. Mereka cemas jika pembangunan di kabupaten tersebut akan merusak situs arkeologi maritim. Mereka pun berharap adanya mendeliniasi kawasan situs untuk dilindungi.

“Terus-terang kita juga cemas jika kabupaten tersebut terbentuk dan tidak ada komitmen buat menjaga situs arkeologi di wilayah tersebut,” kata Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti, kepada pers di Palembang, Minggu (04/05/2014).

Oleh karena itu, lanjut Rangkuti, pihaknya sangat berharap pemerintah Sumatra Selatan maupun Kabupaten OKI, sebagai pendamping proses pembentukan Kabupaten Pantai Timur, menyusun satu program mengenai perlindungan terhadap situs arkeologi maupun cagar budaya lainnya.

“Kita siap memberikan data mengenai situs terkait proto-Sriwijaya maupun Kerajaan Sriwijaya di wilayah Pantai Timur, yang berdasarkan survei dan penggalian kita,” kata Nurhadi.

Kecemasan Nurhadi, sama seperti kecemasan para penggiat lingkungan hidup di Sumatra Selatan, yakni pembangunan yang akan berjalan di Kabupaten Pantai Timur tanpa memperhatikan atau mempertimbangkan analisis dampak lingkungan. Baik terkait hutan, rawa gambut, maupun situs arkeologi.

“Misalnya pembukaan lahan buat perkantoran, jalan, maupun perkebunan,” katanya.

“Sama seperti rawa gambut di Pantai Timur merupakan aset dunia, situs arkeologis terkait Kerajaan Sriwijaya, baik sebelum maupun pada masanya, merupakan aset dunia. Sebab Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di Asia, khususnya di Asia Tenggara. Yang mana kerajaan ini turut membentuk peradaban masyarakat di Asia Tenggara saat ini,” ujarnya.

Salah satu situs itu yakni Situs Air Sugihan yang terletak di Kecamatan Air Sugihan.Situs ini sudah diteliti sejak tahun 1990-an. Ditemukan banyak manik-manik, keramik, dan benda lainnya, yang menjelaskan pada proto-Sriwijaya sudah ada masyarakat di Pantai Timur yang terlibat dalam perdagangan internasional. Situs dapat dikatakan sebagai wilayah transit bagi kapal-kapal yang hendak berlayar menuju dan dari Asia Barat maupun menuju dan dari Tiongkok.

“Kita bukan menolak adanya kabupaten tersebut, tapi kita berharap ada jaminan perlindungan terhadap situs-situs tersebut, dan dukungan terhadap berbagai survei dan penggalian yang akan dilakukan Balai Arkeologi Palembang,” ujarnya.

Saturday, April 26, 2014

Pasar Jatimulyo, Bermula hanya Daerah Pertemuan Pedagang-Pembeli



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Waktu siang, pasar lengang
Bandarlampung—Siapa duga Pasar Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan ini bermula hanya sebuah kawasan untuk bertemunya para pedagang dari luar kota dengan pembeli asal Tanjungbintang, Panjang, dan Pasar Tugu, Bandarlampung. Sekarang daerah ini, pada jam-jam aktivitas pasar membuat arus lalulintas macet. Pasar yang tumpah ke tepi jalan ini mulai beraktivitas dari pukul 17.00 hingga 22.00 dan pukul 05.00-09.00. 

Padalah Pasar Jatimulyo awalnya hanyalah sebuah tempat pertemuan antara pedagang yang datang dari kabupaten lain di Provinsi Lampung dengan pembeli asal Panjang, Tanjungbintang, dan sekitarnya. Para pembeli itu juga sebenarnya adalah pedagang.

Umumnya di Pasar Jatimulyo hanya sayur-mayur dan kebutuhan dapur seperti cabai, rampai, tomat, dan lain-lain. Untuk sayur-sayuran seperti kol dan sawi didatangkan dari Tanggamus dan Lampung Barat, sedangkan jagung, bayam, kacangpanjang dari petani Jatimulyo, Karanganyar, ataupun Jati Agung.

Pasar Jatimulyo, seperti juga Pasar Pasirgintung, aktivitasnya cukup tinggi. Dimulai dari pukul 17.00 sore, kendaraan boks terbuka berderet parker untuk membongkar dan mengangkut sayur-mayur. Para perempuan menunggu dagangan ataupun melayani para pembeli.

Sejumlah pembeli mengaku membeli barang-barang kebutuhan sehari-jari di pasar ini, jauh lebih murah dibanding pasar lainnya. Terutama cabai, di sini berharga Rp15 ribu perkilogram. Sedangkan di pasar lain bisa mencapai Rp25 ribu perkg. Ini sebagai misal.

Itu sebanya, tak hanya warga Jatiagung melainkan dari daerah luar pun kerap memburu kebutuhan sehari-hari ke pasar yang masih pantas disebut “tradisional” ini. Pesatnya kemajuan Pasar Jatimulyo, berimbas kepada pebisnis lain di sini. Pertokoan tumbuh pesat. Bahkan, di sini juga ada Salayan Milenia, dan sebagainya.

Pasar mulai aktivitas pukul 17.00 WIB

Menurut salah seorang pedagang, Pasar Jatimulyo berawal hanya kesepakatan antara pedagang dari kabupaten lain dengan pembeli asal Panjang, Tanjungbintang, dan sekitarnya. Kesepakatan itu untuk saling menguntungkan: mencari tempat pertemuan yang saling dekat. Dipilihlah daerah Jatimulyo.

Para pembeli itu juga umumnya adalah pedagang juga. Mereka pedagang di Tanjungbintang, Pasar Panjang, ataupun Pasar Tugu, Kampung Sawah, Bandarlampung. “Daerah ini mulanya hanya tempat pertemuan dan bertransaksi,” kata Sutris, warga Jatimulyo.

Sayur-mayur yang dijaja di Pasar Jatimulyo ini didatangkan dari Lampung Barat, Tanggamus, dan Pringsewu. Selain itu, juga dari petani yang ada di Kecamatan Jati Agung ini. “Kalau kol, jagung, cabai, rampai, tomat biasanya dari luar kota. Sedangkan kacangpanjang, bayam, kangkung sebagian dari daerah Jati Agung atau Karang Anyar,” kata Sutris lagi.
Dari jam 17.00 hingga 22.00 Pasar Jatimulyo sangat ramai. Transaksi jual-beli sayur seperti kol, kacangpanjang, cabai, tomat, dan sejenisnya berlangsung. Juga ikan, ayam potong dan seterusnya.

Daerah ini benar-benar riuh, terutama saat-saat mereka menurunkan dagangan dari kendaraan. Para pengangkut barang memotong arus lalulintas. Kendaraan pun menjadi merayap jika melintasi pasar tradisional ini.

Aktivitas pasar akan menyusut begitu mendekati pukul 22.00. Sedangkan aktivitas pagi hari, dimulai dari pukul 05.00, namun mulai sepi sekitar pukul 08.00.

Anda mau membeli sayur-sayuran ataupun bumbu masak dengan harga agak miring dibanding pasar lain? Datanglah ke Pasar Jatimulyo ini. “Harganya murah-murah. Saya pernah membeli empat kilo cabe, sebab di Kotabumi harganya dua kali lipat,” kata Rusnah, warga Kotabumi, Lampung Utara.












Saturday, April 19, 2014

Lampung: Jejak itu Begitu Panjang

Oyos Saroso HN/Teraslampung.com

Prasasti Batu Bedil di Kabupaten Tanggamus
Jejak sejarah Lampung juga bisa ditelusuri dari penemuan sejumlah prasasti. Dari Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan dan Prasasti Batu Bedil di Kabupaten Tanggamus, misalnya, dapat diketahui bahwa pada abad ke-8 Lampung berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Aneka peninggalan bersejarah dalam bentuk tulisan menunjukkan bahwa Lampung memiliki budaya tinggi. Penemuan itu membuktikan bahwa orang Lampung sejak zaman dulu kala sudah mengenal baca dan tulis. Bukti lain bahwa orang Lampung sejak zaman dulu sudah mengenal baca-tulis adalah dengan dimilikinya aksara Lampung (Kha-ga-nga). Para ahli berpendapat bahwa aksara Lampung berasal dari perkembangan aksara Dewdatt Deva Nagari (aksara Devanagari) dari India. Aksara-aksara tersebut berbentuk suku kata seperti aksara Jawa (Ha-na-ca-ra-ka).

Dengan masuknya Islam ke Lampung pada sekitar abad XVI, yaitu saat bertahtanya Sultan Hasannudin (1522-1570), tradisi membaca dan menulis itu terpelihara dengan baik dalam bentuk tulisan berhuruf Arab dan Kaghanga.

Situs Pugungraharjo (dok worth-roads)
Karena kekayaan alamnya yang melimpah ruah, terutama berupa rempah-rempah, pada zaman dulu Lampung menjadi rebutan dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Kasultanan Banten.  Kedua kerajaan itu saling berebut pengaruh. Tujuannya bukan sekadar untuk menjadikan Lampung sebagai bagian dari kedua kerajaan tersebut kerajaan-kerajaan itu, tetapi terutama untuk menguasai rempah-rempah dan aneka hasil hutan.

Pada saat Sultan Ageng Tirtayasa  berkuasa di Kasultanan Banten (1651—1683) Belanda berusaha  mengadu domba putra Sultan Ageng bernama Sultan Haji. Tujuannya tak lain untuk menguasai Banten. Sultan Haji yang terpikat oleh bujuk rayu VOC akhirnya justru membantu Belanda untuk melawan ayahnya sendiri. Sebagai balas jasa, Sultan Haji menyerahkan daerah Lampung kepada Belanda.

Pada 7 April 1682 Sultan Ageng Tirtayasa disingkirkan.Sultan Haji. Sultan Haji kemudian diangkat Belanda menjadi Sultan Banten menggantikan ayahnya. Perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan Piagam tertanggal 27 Agustus 1682 yang antara lain berisi pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung diserahkan oleh Sultan Haji kepada VOC. Dengan begitu, VOC sekaligus memiliki hak monopoli perdagangan di daerah Lampung.

Belanda pun akhirnya leluasa menguasai Lampung. Sejak tahun 1857 perkebunan mulai dikembangkan yaitu dengan menanam tembakau, kopi, karet, dan kelapa sawit. Untuk kepentingan pengangkutan hasil-hasil perkebunan itu, pada 1913 Belanda membangun jalan kereta api dari Teluk Betung menuju Palembang. Menjelang Indonesia merdeka sampai zaman perjuangan fisik mengusir penjajahan Belanda dan Jepang, para pejuang Lampung menunjukkan kegigihannya untuk membela Tanah Airnya.

Taman Purbakala Pugungraharjo yang Terlupakan

Siti Nur’aeni/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Ratusan abad silam berdiri sebuah perkembangan pra sejarah dari Kerajaan Hindu dan Budha serta kerajaan Islam di sebuah Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Lokasi tersebut berjarak sekitar 45 kilometer dari Bandarlampung. Sepanjang jalan utama, pengendara akan menempuh jalan berlubang dan genangan air dibeberapa titik sehingga laju kecepatan kendaraan di bawah 40 kilometer/jam.

Di sanalah, ditemui bukti-bukti perkembangan zaman pra sejarah. Berawal dari program nasional transmigrasi dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera, saat penduduk pendatang membuka lahan hutan belantara untuk bercocok tanam, warga menemukan sebuah patung yang akhirnya diketahui Arca Bodhisatwa dan sebuah gundukan menyerupai bukit diketahui adalah sebuah punden berundak-undak.

Salah satu warga Pugung Raharjo, Zainab menceritakan, patung itu pertamakali ditemukan seorang transmigran bernama Ngadiran. "Almarhum dan sejumlah transmigran lainnya hendak membuka hutan belantara yang dianggap anker oleh warga tapi dia malah menemukan patung," kata Zainab yang merupakan seorang transmigran dari Bali.

Warga ketika itu, menyerahkan temuan itu pada tokoh setempat lalu berinisiatif melaporkan kepada Pemerintah Pusat. "Karena tidak ada kejelasan sampai beberapa tahun, akhirnya patung itu sempat dibiarkan di depan sekolahan terdekat," ujarnya.

Selain patung, warga juga menemukan beberapa alat perabotan rumah tangga seperti pecahan piring dan sendok yang terbuat dari bebatuan.

Petugas Rumah Informasi Taman Purbakala, Pugung Raharjo, Syaiful menjelaskan, pada tahun 1961 dilakukan penelitian sebanyak tiga kali, dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa di Desa Pugung Raharjo, Lampung Timur  ada peninggalan cagar budaya pada zaman pra sejarah dari Kerajaan Hindu dan Budha serta Kerajaan Islam.

Di atas lahan seluas 25 hektare, penelitian menemukan  bukti sejarah tak bergerak berupa 13 punden berundak 3 diantaranya punden indu. Selain itu ditemukan juga lokasi Batu Mayat, Kolam Megalitik dan benteng tanah sepanjang 1000 m2 dan 1.500 m2 serta 7 lokasi penemuan arca.

Benteng tanah diduga digunakan masyarakat pra sejarah untuk bersembunyi dari serangan binatang buas sedangkan punden berundak-undak merupaka tempat peribadatan dan kolam megalitik adalah tempat pemandian putri kerajaan.

"Kolam megalitik dari cerita turun-temurun, sumber air akar yang mengaliri kolam tersebut konon katanya berkhasiat membuat awet muda, bagi pengunjung membasuhkan wajarnya atau mereka yang mandi di sana," kata dia.

Sejak saat itu, setiap warga yang menemukan benda-benda antik dihimbau segera menyerahkan pada aparat desa setempat. Kemudian barang antik itu dikumpulkan di Museum Taman Purbakala sekaligus menjadi rumah informasi bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.

Di museum itu, terdapat 91 benda-benda bersejarah, diantaranya arca, Prasasti Bungku, menhir, replika Prasasti Dalung, bebatuan yang bercap tumit kaki orang dewasa dan sejumlah perabot rumah tangga serta perhiasan putri raja.

"Beberapa prasasti ada yang ditemukan di perkampungan adat Lampung di Desa Jabung dan Bojong. Bahkan seperti di Desa Jabung sendiri ditemukan sebuah makam tua," ujar dia.
Sedangkan Prasasti Dalung yang ditemukan di Desa Bojong adalah sebuah prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Islam yang berkembang di Lampung yang mana prasasti tersebut berisi tentang norma-norma sosial kemasyarakatan.

"Bukti-bukti peninggalan sejarah telah ditemukan di Lampung Timur, namun hingga kini para ahli arkeolog belum dapat mengungkap siapa raja yang pernah memimpin pada massa itu," ujar Saiful.

Meskipun di sana terdapat peninggalan cagar budaya, namun lokasi itu kini kian sepi pengunjung. Padahal setiap wisatawan yang datang ke sana tidak pernah ditarik retribusi oleh petugas.

Maya (35) warga Pugung Raharjo mengaku sudah belasan tahun tak lagi mengunjungi situs bersejarah itu. Padahal lokasi itu dulunya tempat ia menghabiskan massa kecilnya. "Saya sudah lama sekali tidak ke sana, selain sepi lokasi itu juga rawan kriminalitas," ujarnya.

Patung Budha di Situs Pugungraharjo
Sedangkan Khairul (37) warga Bandarlampung yang dahulu pernah tinggal di Pugung Raharjo menceritakan semasa kecilnya ia kerap meraup keuntungan dari ramainya pengunjung Situs Purbakala di sana. "Nenek saya dulu sering menyuruh saya berjualan nasi bungkus di sekitar Taman Purbakala, senangnya saya kala itu, bulak-balik nasi yang saya jajakan laris keras biarpun nenek hanya membayar jerih payah dengan sebungkus nasi," ujar Khairul sambil tertawa mengenang massa kecilnya.

Hal senada disampaikan Nuraini (40) ia mengisahkan kejayaan warga Pugung Raharjo tahun 1990-an dengan banyaknya kegiatan turnamen yang digelar di sekitar Taman Purbakala di sana. "Dulu saya merasakan betapa padatnya kegiatan dan ramainya pengunjung, tapi setelah puluhan tahun saya kembali lagi, objek wisata kebanggaan masyarakat Pugung kini senyap dan tak terawat," tuturnya.

Cinta (22) mahasiswa Universitas Lampung (Unila) bersama sejumlah temannya mengaku tak menikmati mengunjungi lokasi itu. "Awalnya penasaran makanya saya datang ke sana, tapi bagaimana mau menikmati keindahan situs itu tempatnya sepi dan warga yang kami temui di jalan kerap mengingatkan kami untuk berhati-hati rawan pembegalan," tutur dia.

Sementara itu, Saiful petugas Rumah Informasi Taman Purbakala Lampung Timur menyebutkan ada 24 petugas yang menjaga dan membersihkan serta memelihara lokasi situs bersejarah itu. Pihaknya menyadari puluhan tahun terakhir pengunjung menurun. "Dalam setahun mungkin hanya sekitar 200 pengunjung dari sekolah-sekolah dan 1 atau 2 wisatawan asing," terangnya.

Pemerhati parawisata di Lampung Citra Persada membenarkan wisata pra sejarah di Lampung Timur pernah hidup di era 1990-an. "Lampung Timur sebenarnya memiliki cerita sejarah yang sangat kuat dan layak untuk dijual pada wisatawan domestik dan manca negara," kata dia.

Museum Purbakala Pugungraharjo, Lampung Timur
Dahulu, era 1990-an, Taman Purbakala, Lampung Timur merupakan objek wisata unggulan di Lampung. "Orang datang ke sana tidak melulu melihat bebatuan peninggalan pra sejarah, tapi wisata itu satu rangkaian paket perjalanan," ujar Citra.

Sebelum sampai ke Taman Purbakala, wisatawan yang pendatang sebagian besar adalah orang luar negeri, menurut Citra wisman melintasi perkebunan seperti tanaman coklat, lada dan perkebunan karet yang tidak pernah mereka temukan selain di Indoenesia.

"Baru setelah itu wisatawan singgah ke Taman Purbakala, Pugung Raharjo yang tentu ada sebuah cerita menarik yang disampaikan oleh pemandu kepada pendatang," kisahnya.
Kemudian, wisman diajak mengunjungi sebuah perkampungan adat asli orang Lampung Desa Wana, Kecamatan Melinting. Di sana pengunjuk menyaksikan secara langsung kebudayaan masyarakat Lampung. "Mereka disambut dengan tari-tarian oleh penduduk asli ketika itu," tambah dia.

Puncak dari perjalanan wisata mereka berakhir di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Di sana mereka menyaksikan atraksi gajah yang telah dididik melalui sekolah gajah satu-satunya di dunia kala itu. Dan terakhir, perjalanan pulan wisatawan melintasi Kota Metro yang merupakan daerah pertama kali pelaksanaan program Transmigrasi tahun 1950-an.

Wisata di Lampung Timur berjaya tahun 1990 sampai 1996. Menurut mantan Kepala Dinas Parawisata Lampung Yuskas Idrus Djaendar Muda di era kejayaan wisata budaya tersebut ada ribuan wisman yang berkunjung ke Lampung Timur. "Ada 2 objek wisata unggulan yang ada di Lampung ketika itu, yakni Lampung Timur dan Gunung Anak Krakatau," kata dia.

Kejayaan itu objek wisata di Lampung kala itu karena adanya dukungan dari pemerintah baik dari pusat sampai tingkat desa, pihak swasta dan masyarakat. "Keterkaitan ini yang sekarang tidak ditemukan lagi untuk membangkitkan kembali kejayaan wisata di Lampung Timur dan mengembangkan objek wisata lainnya yang ada di Lampung," ujarnya. Selain itu, infrakstruktur yang terus dipelihara.


Wednesday, March 26, 2014

Batu Akik dari Tanjungbintang Terkenal di Seluruh Dunia

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Ragam akik (foto isb)
Lampung Selatan—Tanjungbintang tidak hanya dikenal karena pasir untuk bahan bangunan berkualitas baik. Ternyata, daerah ini sudah lama menjadi penghasil batu akik dan permata berkualitas baik di dunia.

Sejak 1970-an masyarakat setempat terperangah, karena hampir seluruh tanah di Tanuungbintang, Kabupaten Lampung Selatan ini, menyimpan kandungan batu akik dan permata. Batu akik bungur, terbaik nomor satu di Indonesia, ada di Tanjungbintang. Batu-batu akik itu diburu oleh pengoleksi akik dari pelbagai belahan dunia.

Tanjungbintang bisa ditempuh dari Panjang melalui daerah Subang. Atau dari Jalan Tirtayasa, Campangraya, Kota Bandarlampung melalui Jalan Ir. Sutami dan masuk ke Tanjuungbintang. Hanya saja, ruas jalan menuju ke Tanjungbintang, baik dari Panjang maupun dari Campangraya benar-benar rusak parah. Perjalanan menjadi lamban, lantaran harus menghindari jalan berlubang.

Tanjungbintang, semula sebagai daerah bagi penempatan transmigran TNI asal Pulau Jawa, melalui program barisan rekonstruksi nasional (BRN). Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.

Sejak daerah ini dikenal sebagai penghasil batu akik dan permata, warga setempat pun berbisnis penghias cincin ini. Warga menekuni pekerjaan sebagai pengrajin batu akik dan permata. Dari penggali, pemotong, hingga mengasah batu akik.

Di antara pelaku bisnis batu aki di Tanjungbinyang, Susan Melone adalah  nama tak asing bagi penduduk setempat maupun para pengoleksi batu akik. Susan Melone menekuni bisnis batu akik sudah sangat lama. Ia termasuk pioner untuk memperkenalkan batu akik Tanjungbintang ke luar Lampung dan luar negeri.

Susan Melone (ist)
Susan mengaku tidak memiliki alat pemotong dan pengasah. Setelah penggalian, batu yang dianggapnya bernilai tinggi 'dilempar' kepada pemotong. Setelah itu ia serahkan kepada pengasah, sesuai ukuran dan bentuk yang diinginkannya.

Setelah jadi akik, ia pun mengikatnya dengan cincin (emban). Sedikitnya, saat ini, ada seribu batu akik yang sudah diikat pada cincin. Dan, seribu lebih lagi yang belum diberi cincin.

Cincin ber-akik lalu ia kirim ke kolega-koleganya, baik dalam provinsi maupun luar Lampung, dan bahkan luar negeri. Harga tertinggi yang pernah ia peroleh adalah Rp400 juta per-batu.

Menurut Susan Melone, daerah Tanjungbintang selain memiliki kandungan batu akik, seperti bungur, juga mengandung granit, dan pasir berkualitas baik.

Sejak batu akik dari daerah ini memiliki kualitas baik, banyak warga yang memburu batu ke sini. Para penggali batu secara tradisional pun mencari area, yang dipekirakan menngandung batu akik atau batu permata.

Hampir seluruh warga di Dusun Jatibaru menekuni sebagai pengrajin batu akik. Sehingga daerah ini dikenal sebagai pusat pengrajin akik dan permata. Setiap rumah memiliki mesin pemecah batu, pengasah atau penggosok, dan finishing.

“Tidak seperti dulu kami sulit mencari pekerja yang memotong dan mengasah akik. Sekarang, bisa dilihat hampir setiap rumah menjadi pengrajin,” kata Susan Melone.

Dia menambahkan, sejak batu akik dan permata asal Tanjungbintang banyak diburu orang, akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga setempat. “Kami bersukur, setidaknya bisa mengurani pengangguran di daerah ini,” katanya lagi.

Para pengrajin akik tersebut, selain mengolah bahan sendiri atau menerima upahan. Mereka  mendapatkan upah antara Rp12 ribu hingga R15 ribu setiap batu akik yang diolah.

Jika mengolah batu mentah menjadi akik di Bandarlampung lain lagi. Mengasah batu akik berharga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Beberapa kawasan pengasah batu akik, seperti kaliawi, Lebakbudi, Kampung Sawah, dan Rawasubur.

“Tapi sejak banyak permintaan batu akik, untuk memotong hingga mengasah dan finishing, harganya Rp30 ribu di Tanjungbintang,” jelas Susan Melone.

Batu akik dan permata yang dihasilkan dari Tanjungbintang sudah menembus kota-kota besar, seperti Bali, Yogyakarta, Batam, Pekanbaru, Malaysia, dan negara-negara luar lainnya.

Jika selama ini ada anggapan batu akik dari Martapura atau Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah kualitas bagus, kata Susan Melone, sebenarnya kualitas akik dari daerah ini lebih tinggi kualitasnya.

Di rumah Susan Melone, Desa Srikaton Gunung Batu, setiap hari selalu ramai. Para pemburu batu akik atau permata itu, selain ingin membeli, tak sedikit yang hanya untuk bertanya ihwal nama-nama batu akik, kualitas, aura dan mistik, serta mencari batu pengasih.

“Saya harus menerima dan melayani setiap tamu yang datang,” katanya.

Bahkan, ia dengan senang hati terkadang memberi batu akik yang biasanya diletakkan di piring. Begitulah Susan…
 
Batu akik siap diemban (ikat)
Objek Wisata

Daerah ini layak dijadikan salah satu objek wisata di Kabupaten Lampung Selatan. Apalagi, akhir-akhir ini, semakin bertambah pengrajin batu akik di sini, bagaikan jamur di musim hujan.

Susan Melone, sebagai perintus bisnis batu akik setempat mengakui, kalau belakangan ini banyak warga yang mulai menekuni bisnis akik, baik sebagai pemotong, pengasah, ataupun penggali batu. "Ini potensi dijadikan objek wisata oleh pemerintah, seperti di Martapura ataupun Banjarbaru Kalimantan Selatan," katanya.

Selain itu, menurut Susan, semakin dibukanya daerah ini sebagai objek wisata batu akik maka akan terbuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat. "Sekarang saja, setiap dusun bisa lebih tiga orang yang menekuni pekerjaan mengasah batu. Nah bisa dibayangkan kalau seeluruh desa di sini juga sudah menekuni bisnis ini."

Susan memastikan suatu saat kelak, pengangguran di sini terus berkurang. Tentu saja, jika pemburu batu akik terus meningkat. "Salah satu caranya buka daerah ini menjadi objek wisata, perbaiki infrastruktur terutama jalan. Sehingga akan memudahkan pengunjung (wisatawan, Red) mau datang, dan tidak melelahkan di perjalanan karena jalannya rusak," ujar Susan Melone ditemui di rumahnya, Selasa (25/3) petang.

Tulisan terkait: Bisnis Batu Akik yang Menjanjikan

Saturday, March 15, 2014

HUT Lampung: Lampung Heritage Gelar Pertemuan Pertama Penyelamatan Rumah Daswati

Teguh Prasetyo/Lampung Heritage

Para tokoh perintis berdirinya Provinsi Lampung (pemisahan dari Provinsi Sumaterav Selatan) berpose di depan Rumah Daswati. (dok Lampung Heritage)

Bandarlampung—Pagi ini, Mingu (16/3) Lampung Heritage menggelar pertemuan pertama (gathering) dalam rangka Hari Ulang Tahun Provinsi Lampung yang akan jatuh pada 18 Maret mendatang. Dalam pertemuan pertama kali ini, ada dua acara yang digelar.

Pertama, bersih-bersih Rumah Daswati yang dimulai pukul 07.00 - 09.00 WIB dan dilanjutkan bincang santai tentang Rumah Daswati yang akan dihadiri Bpk Ahmad Zaini (anggota panitia Daswati), Bpk M Harun (Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Bandarlampung), dan Bpk Budi Suprianto dari Museum Lampung.

Selesai cara tersebut, dilanjutkan dengan pengumpulan tandatangan petisi untuk mendesak Pemerintah Provinsi Lampung menyelamatkan Rumah Daswati. Lampung Heritage menilai Rumah Daswati harus diselamatkan sebab bangunan itu bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga merupakan jejak perjalanan Provinsi Lampung. Kalau Indonesia memiliki Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jl. Imam Bonjol, Jakarta, maka Provinsi Lampung mempunyai Rumah Daswati di Jl. Tulangbawang No. 11 Enggal, Bandarlampung.

Rumah Daswati merupakan salah satu bangunan bersejarah bagi Provinsi Lampung. Bangunan berbentuk unik khas tempo dulu itu terletak di Jalan Tulang Bawang No 11 Enggal, Bandarlampung. Menurut sejarah, rumah itu milik Kolonel Achmad Ibrahim.

Rumah itu dulu pernah dijadikan kantor Front Nasional (FN), organisasi massa yang dibentuk Bung Karno sebagai bagian dari pemerintah untuk membangun republik pascaperang kemerdekaan. Di Lampung, Zainal Abidin Pagaralam pernah menjadi Ketua FN Tanjungkarang.

Terkait sejarah pembentukan Provinsi Lampung, rumah tua yang kini milik pengusaha asal Bandung itu, tercatat sebagai tempat upacara penyerahan kewenangan pemerintahan dari Daerah Swatantra Tingkat (Daswati) I Sumatera Selatan kepada Daswati I Lampung.

Daswati I merupakan cikal bakal pemerintahan provinsi. Daswati I Lampung yang baru melepaskan diri dari Daswati I Sumatera Selatan baru memiliki Daerah Tingkat II Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Kotapraja Tanjungkarang-Telukbetung (embrio Kota Bandar Lampung).

Di dalam lembaran sejarah resmi, proses upacara serah terima penyerahan kewenangan pemerintahan itu berlangsung pada tanggal 18 Maret 1964. Tepatnya, sekitar pukul 20.00 WIB. Selanjutnya, rumah itu diresmikan sebagai Kantor Daswati I Lampung.

Wednesday, March 12, 2014

Gang PU dan Sentra Keripik Khas Lampung


Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

Pusat Keripik di Gang PU (isb)
Bandarlampung—Jalan ini sebenarnya bernama Pagar Alam. Nama Pagar Alam diambil dari keluarga Zainal Abidin Pagar Alam. Mantan Gubernur Lampung sekaligus orang tua Gubernur Lampung Sjachroedin ZP, konon, berasal dari sini.

Tetapi, masyarakat lebih mengenal Gang PU. Keberadaan Gang PU jauh sebelum berganti nama Jalan Pagar Alam. Di kawasan ini memang ada Perumahan (karyawan) PU. Boleh jadi lantaran perumahan tersebut.

Daerah ini sekarang berkembang menjadi Sentra Kawasan Industri Keripik. Wisatawan, baik nusantara maupun luar negeri acap berkunjung ke sini. Hanya untuk membeli oleh-oleh panganan khas Lampung: keripik singkong, pisang, mantang, ataupun kentang. Tentu saja dengan beragam rasa.

Sebelum ada Perumahan PU, daerah ini hanya hutan atau perkebunan pisang dan singkong. Belum ada nama jalan maupun gang.

Salah satu warga mengatakan, keluarga Gubernur Lampung sekarang—Sjachroedin Zainal Pagar Alam—adalah suku Lampung Marga Negeri Balau Kedaton.

Menurut Sjafariah Widianti, anggota DPRD Provinsi Lampung, keluarga besar Pagar Alam memang berasal dari Marga Negeri Balau yang berpusat di Kedaton—kini Jalan Pagar Alam.

Gang PU atau Jalan Pagar Alam bisa ditempuh dari Jalan Teuku Umar dekat SPBU Kedaton, atau dari Jalan Imam Bonjol Langkapura. Dari Jalan Ratulangi Gedung Air juga bisa, termasuk dari Jalan Palapa.

Daerah ini makin terkenal setelah Pemkot Bandarlampung menetapkan sebagai Sentra Kawasan Industri Keripik, yaitu objek wisata oleh-oleh makanan khas Lampung.

Warga dari luar Provinsi Lampung yang singgah ke kota ini, rasanya belum sampai Bandarlampung kalau tidak mengunjungi tempat ini dan pulang membawa oleh-oleh keripik.

Sepanjang Jalan Pagar Alam, kios-kios keripik berjejer. Di kios itu pula mereka langsung memproduksi. Setiap musim liburan, wisatawan dalam negeri dan mancanegara berkunjung ke daerah ini.

Sebagian warga yang tinggal di daerah ini bersuku asli Lampung, sebagian lainnya beragam etnis.

Jalan Pagar Alam seakan tidak mampu mengubur Gang PU, sehingga merasa canggung jika menyebut Jalan Pagar Alam.

Salah satu warga Palembang yang tengah membeli oleh-oleh keripik, benar-benar tak tahu nama Jalan Pagar Alam. Kalau daerah ini bernama Gang PU, sudah lama dia ketahui.

Rahman, asal Palembang ini, sudah dua kali ke Gang PU. Selain Gang PU, ia mengenal sebagai Kawasan Keripik.

Ibu Ida, warga setempat mengaku, tidak begitu faham kenapa jalan itu dinamai Jalan PU. Hanya, seingat dia, sebelum ada Perumahan PU daerah ini hamparan kebun singkong dan pisang.

Begitu Perumahan PU dibangun, masyarakat akhirnya menamai Gang  PU, sampai sekarang. Sentra Kawasan Industri Keripik makin memopulerkan daerah ini.

Warga setempat memanfaatkan halaman kosong rumah, atau menyewa lahan untuk dijadikan tempat industri keripik.

Menariknya, bahan-bahan keripik justru didatangkan dari luar Bandarlampung. Sebab di sepanjang Gang PU, tak ada lagi kebun singkong ataupun pisang.

Para pengusaha keripik di sini telah mendapat binaan dari pemerintah setempat, khususnya dari perguruan tinggi.

Sebuah gapura besar sebelum masuk Jalan Pagar Alam mengucap selamat datang di Sentra Kawasan Industri Keripik. Seperti tak begitu penting ihwal nama jalan, warga datang ke kawasan ini untuk mencicipi keripik yang gurih dan rasanya beraneka macam ini.

Pada hari-hari tertentu, kawasan ini menjadi ramai. Bus-bus berjejer parkir di tepi jalan. Mobil-mobil pribadi berplat luar Provinsi Lampung berbaris di depan-depan kios penjual keripik. Sehingga kawasan ini acap macet, sebab jalannya yang masih kecil.

Warga yang datang ke sini bisa langsung melihat pengolahan keripik. Bukankah pengolahan keripik itu, bagian dari objek wisata?

Baca juga Sentra Keripik Bandarlampung

Friday, March 7, 2014

Toblok, Batas Akhir Rel Kereta Api di Telukbetung



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com





Telukbetung (maps)
Bandarlampung—Toblok hanya berjarak beberapa meter dengan Kampung Texas. Kedua kampung (lingkungan) ini merupakan wilayah dari Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung.

Tetapi, apakah tersebab jarak yang sulit dipisahkan, imej Toblok lebih buruk tinimbang kampung tetangganya: Texas.

Mislanya, sebuah cerita yang diunduh dari google mengisahkan: Seorang ibu setengah baya sedang memilih buah di Pasar Gudang Lelang. Saat tawar-menawar, seperti lazimnya para ibu menyelipkan dompet berisi uang di ketiaknya.

Tiba-tiba seseorang tak dikenal merampas dompet itu lalu lari dalam keramaian pasar. Si Ibu yang masih kaget, dan menjerit minta bantuan. Dia juga hendak mengejar, namun si penjambret lebih cekatan sehingga tak terkejar.

Tidak seorang pun yang mau menolong korban penjambretan itu, misalnya sekadar meneriaki apalagi memburu si penjabret.

Sepenggal kisah “Gudang Lelang versus Toblok” yang ditulis pada 20 April 2006 ini saya petik untuk menggambarkan betapa Kampung Toblok, Kelurahan Pesawahan, ini sudah terkenal.

Bukan hanya cerita kriminal seperti ini yang tersebar di luar. Toblok juga dikenal sebagai “gudang” pengemis dan anak jalanan. Para pengemis, begitu cerita masyarakat luar Toblok, terkenal dengan membawa anak di bawah lima tahun (balita), sewa-menyewa balita untuk “proferti” pengemis, anak-anak pengemis atau anjal.

Ya. Toblok terkenal sebagai lingkungan kumuh. Daerah ini tak jauh dari Gudang Lelang. Selain itu, kawasan ini dulunya dihubung-kaitkan dengan Kampung Texas, sebagai markas para penjahat.

Karena itu, kehidupan di Toblok memang seakan menyeramkan. Pada masa Djawatan Kereta Api (DKA), di sini ada stasiun bongkar muat barang dari Gudang Agen dan Gudang Garam.

Kisah negatif memang tidak terelakkan bagi Kampung Toblok. Warga setempat sudah tahu, dan juga memaklumi adanya kabar tak sedap di luar sana.

Lalu benarkah ihwal cerita miring mengenai Kampung Toblok? Sejumlah warga Toblok yang ditemui membantah. Mereka mengibaratkan orang lain makan nangka, warga Toblok kena getahnya.

Karena Toblok dan Texas sangat berdekatan, demikian kata warga Toblok, barangkali klaim Toblok sebagai sarang penjahat. Tetapi itu dulu, kini baik Texas dan Toblok sudah kondusif alias aman.

Kampung atau lebih tepatnya dusun atau lingkungan Toblok dihuni oleh ragam etnis, namun mayoritas bersuku Banten. Dulu warga di sini merupakan karyawan DKA—kini PT KAI—yang bekerja di Stasiun Telukbetung.

Stasiun KA Telukbetung tidak aktif lagi sekitar tahun 1970-an. Manaka masih beraktivitas, di stasiun inilah terjadi bongkar-muat barang dan sembako. Produksi hasil pengolahan ikan dari Pulau Pasaran yang hendak dikirim ke luar kota, diangkut dengan kereta api.

Jalur rel kereta api dari dan ke Stasiun Telukbetung adalah Stasiun Garuntang. Sisa-sia rel kereta masih ada, baik di Toblok, Kampung Texas, ataupun di Jalan Gatot Subroto, Ganruntang. Sedangkan bekas stasiun kereta di Kampung Texas sudah tak ada lagi, karena sudah menjadi pemukiman.


Nama Toblok, menurut Jamsari—sepuh dan warga Toblok, berawal karena kawasan ini akhir dari rel kereta api di Stasiun Telukbetung. Rel kereta pun mentok sehingga mesti memutar sepur atau kepala kereta untuk balik ke jalur lain.

Tempat akhir sepur itu disebut Stop Lock alias berhenti dan terkunci atau mentok. Entah kenapa, masyarakat kemudian melafaskan menjadi Toblok. Istilah Toblok sampai sekarang masih berlaku.

Kawasan Toblok sampai sekarang masih milik PT Kereta Api Indonesia. Maka tak heran, plang pengumuman kepemilikan tanah PT KA dan dilarang membangun rumah, terpancang di tengah kampung.

Sebagai kawasan kumuh sebetulnya tidak tepat disematkan pada Toblok. Tetapi, sebagai daerah yang padat penduduk bisa diterima. Daerah ini juga dikenal dengan kawasan bengkel, gudang, dan loakan untuk barang-barang onderdil kendaraan.

Saking Toblok tak asing di telinga masyarakat. Para abang becak atau warga lain jika ditanya lokasi Toblok, dijamin akan menunjukkan daerah ini.

Begitu pula jika bertanya siapa sesepuh di kampung ini, akan menyebut dua tokoh. Salah satunya Abah atau Mang Kojam alias Jamsari. Kojam adalah warga di RT 025 Kampung Toblok.

Toblok berada di belakang Kampung Palembang, bertetangga dengan Gudang Lelang serta Gudang Agen. Kampung tetangga paling dekat adalah Texas.

Tidak sulit menemukan Kampung Toblok. Ada banyak pintu (gang) menuju kampung ini. Anda bisa melalui Gudang Agen, kemudian lewat Texas baru sampai Toblok. Atau  dari Kampung Palembang, melalui Jalan Ikan Lumba-Lumba setelah itu masuk dari gang kecil.

Karena Toblok padat pemukiman, mayoritas jalan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Jalannya sangat sempit. Dari satu rumah dengan rumah lainnya, kebanyakan hanya sisa tak lebih setengah meter.

Meski sebagian rumah bertingkat, umumnya lantai dua hanya untuk menjemur pakaian. Aktivitas warga tetap di luar rumah atau di ruang tamu.

Warga Toblok juga terbilang suka bersosialisasi. Para ibu mengobrol di depan rumah, teras, atau di gang. Warga mayoritas berprofesi sebagai buruh, baik perajin lemari, meubel, ataupun buruh kasar lainnya.

Toblok yang berasal dari kata Stop Lock tak henti bergeliat. Kendati stempel sebagai kampung kumuh, tampaknya sulit dihapus. Tetapi, warga di sini tetap bangga sebagai orang Toblok…*








Wednesday, March 5, 2014

Kampung Palembang di Telukbetung

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

Masjid Al Anwar di Jl. Laksamanan Malahayati, Telukbetung, Bandarlampung (teraslampung.com/oshn)

Bandarlampung—Kampung Palembang tidak asing lagi bagi warga Kota Bandarlampung. Penanda bagi perkampungan asal Palembang, Sumatera Selatan, ini adalah Hotel Sriwijaya—pemilik awalnya memang bersuku Palembang.

Penanda lainnya adalah Masjid Jami Al-Anwar, masjid tertua di Lampung yang berada di Jalan Laksamana Malahayati, Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan. Masjid ini dibangun tahun 1839, tetapi luluhlantakan terjangan tsunami akibat meletusnya Gunung Krakatau pada 1883. Lima tahun kemudian, barulah masjid dibangun kembali.

Kampung Palembang dulunya merupakan kawasan bagi pendatang dari Kota Pempek.

Wong Palembang”—biasa kita menyebut untuk warga asal Palembang—lalu menetap di sini. Mereka hijrah pada saat kolonial Belanda.

Mereka tinggalkan kota kelahiran karena penjajah sudah memasuki Palembang melalui Sungai Musi, dan memilih menetap di Lampung sebagai daerah yang diangga aman kala itu. Selain itu, tentu saja, ingin memperoleh kehidupan yang layak di daerah yang baru.

Warga asal Palembang, menurut Tjek Mat Zein, tokoh asal Palembang, meninggalkan kampung kelahiran menggunakan kapal laut dan mendarat di Desa Hurun, Lempasing, ataupun Panjang. Sebagian warga yang lain, menempuh jalan darat. Lalu yang menggunakan jalan darat, ada yang sampai di Telukbetung ini, namun ada pula yang “terdampar” di Menggala, Tulangbawang.

Tjek Mat Zein (dok ulun lampung)Itu sebabnya, di Provinsi Lampung ia ada dua Kampung Palembang. Satu di Kelurahan Pesawahan, dan satunya lagi di Menggala.

Menurut Tjek Mat Zein, awalnya luas Kampung Palembang sekitar 15 hektare, sehingga batasnya sampai Kampung Bugis, Gudeng Lelang, dan Stasiun Telukbetung.

Kedatangan wong Palembang ke Telukbetung ini diperkirakan pada tahun 1880-an. Karena mayoritas, akhirnya daerah ini dinamai Kampung Palembang.

Sementara Pesawahan kala itu masih sebagai desa. Dinamai Pesawahan lantaran kawasan ini berupa sawah dan berlumpur. Wilayah Pesawahan awalnya memiliki beberapa bek (kepala desa). Para bek itu memimpin wilayah untuk etnis Palembang, Arab, Banten, dan Cina.

Setelah terbentuk Desa Pesawahan, bek-bek tersebut dilebur menjadi rukun kampung (RK) dan tetap membawahi masing-masing etnis.

Seiring berkembangnya struktur pemerintahan, desa ini pun berganti menjadi Kelurahan Pesawahan. Dan, Kampung Palembang masih dikenal. Demikian pula dengan Kampung Cina atau lebih dikenal Pecinan.

Masyarakat etnis Palembang punya jasa bagi pengembangan Islam di daerah ini. Masjid Jami’ Al-Anwar yang dibangun pada tahun 1888, 5 tahun setelah Gunung Krakatau meletus, merupakan sumbangsih dari warga Palembang yang telah menetap di daerah ini.

Daerah sekitar masjid ini dulunya dikenal Indrapura. Namun, setelah ada masjid, daerah ini lebih kenal sebagai Kampung Masjid. Karena itu, Kampung Palembang identik dengan Kampung Masjid. Keduanya seakan tak bisa dipisahkan.

Menarik lagi bahwa setiap ada Kampung Palembang, maka di dekat daerah itu ada Kampung Bugis. Begitu sebaliknya. Misalnya, selain di Telukbetung Selatan ini, Kampung Palembang bertetangga dengan Kampung Bugis juga ada di Menggala, Kabupaten Tulangbawang.

Sudah dua abad orang Palembang menjadi warga Telukbetung. Tidak heran, jika mereka sudah benar-benar menjadi “orang Lampung”. Diharapkan Kampung Palembang tidak akan berganti, hingga kapanpun. Harapan itu diucapkan tokoh Kampung Palembang Tjek Mat Zein.

Banyak lahan milik orang Palembang yang dijual kepada pendatang lain, seperti etnis Arab, Cina, dan suku lainnya. Karena pembangunan kota yang pesat, Kampung Palembang kini tidak lebih dari lima hektare. Warga asli Palembang pun sudah bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki.

Kini populasi orang Palembang sudah tidak banyak lagi, setelah lahan dan rumahnya dijual dan berubah menjadi rumah toko dan usaha lainnya. Meski begitu, Kampung Palembang tetap dikenang oleh banyak orang. Tercatat dalam sejarah Kota Bandarlampung.

Inilah kampung tua warga asal Palembang di Telukbetung. Kampung yang telah menjadi saksi bagi derap sebuah kota.