Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts

Monday, June 9, 2014

Rycko Raih Satya Karya Pembangunan dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

Presiden SBY menyebatkan peghargaan Satya Karya Pembangunan kepada Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza di sela-sela acara Pekan Nasional Kontak Tani Andalan Nasional (Penas KTNA) di Malang, 7-12 Juni 2014. (Ist)
MALANG – Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza mendapat penghargaan Satya Karya Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama dari Kontak Tani Andalan (KTNA) Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden SBY, sementara penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama diserahkan oleh  Ketua KTNA Winarno Thohir. Kedua penghargaan itu diterima Rycko pada acara Pekan Nasional KTNA  XIV di Malang, Jawa Timur, 7—12 Juni 2014.

Penghargaan Satya Karya Pembangunan diberikan kepada  Rycko karena dinilai berprestasi dalam menggagas, mendorong, dan mengimplementasikan pembangunan di Lampung Selatan sehingga pembangunan di Lampung Selatan. Hasil penilaian Dewan Juri Nasional yang menempatkan Rycko layak mendapat penghargaan yang sangat bergengsi bersama tiga pemimpin daerah lainnya.

Pada kesempatan dialog dengan para peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan yang dihadiri oleh tujuh Kepala Satker bidang Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Rycko mengatakan bahwa Penas merupakan forum untuk tukar menukar informasi, menjalin kemitraan, dan ajang promosi hasil-hasil komoditi unggulan. Dampak dari mengikuti kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya peningkatan pengetahuan, penguasaan teknologi, dan terjalinnya bisnis untuk pemasaran produk-produk pertanian. Pada akhirnya, hasil-hasil tersebut dapat mendukung kegiatan Terminal Agribisnis Lampung yang berada di Penengahan, Lampung Selatan.

Dalam pesan-pesannya kepada peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan, Rycko mengajak seluruh komponen pelaku pembangunan di Lampung Selatan pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya untuk meningkatkan sinergi dalam program dan pelakanaan pembangunan. Di sektor pertanian dalam arti luas, tujuan pembangunan diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan petani, nelayan, dan petani kehutanan di Lampung Selatan.

Ketua KTNA Winarno Thohir menyematkan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo . (Teraslampung/Aan)
Selain Rycko Menoza, penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama juga diberikan kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus Gubernur Jambi, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Padang S.N. Prana Putra  Walikota Lubuklinggau Soheh, Walikoata Palembamg Romi Herton, Bupati Muaraenim, Muzaki Sai Sohar;  Walikota Prabumulih Ridho Yahya, Bupati Merauke , Romanus Baraka Walikota Ternate  Burhan Abdurahman,dan  Bupati Bulungan Kalimantan Utara Budiman Arifin.

Sedangkan penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Madya dari KTNA diberikan kepada Usman R Mulan (Bupati Tanjungjabung Barat), Ben Brahim (Bupati Kapuas), Muhajirin (Wakil Bupati Kapuas), Uu Ruzahnul Ulum (Bupati Tasikmalaya), Jimmy F Eman (Walikota Tomohon),

Yance Wowiling Sajow (Bupati Minahas)a, Ahmad Yantenglie (Bupati Katingan Kalimantan Tengah), Ujang Iskandar (Bupati Kota Waringin Barat), dan  KTNA Simalungun Utara.
Untuk Lencana Emas Adi Bakti Tani Pratama diberikan kepada SY Fasha (Walikota Jambi), Amin Said Husin (Bupati Bondowoso),Tubagus Sunarseno (Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Ogan Komerin Ulu Timur (OKU Timur).

Sunday, June 8, 2014

Paguyuban Kuda Lumping Kota Malang Dukung Jokowi Presiden RI

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung

MALANG - Antusiasme masyrakat terhadap figur Jokowi menuju kursi presiden RI semakin kuat. Salah satu cara pendukung calon presiden-wakil presiden Jokowi-Kalla dilakukan oleh anggota Paguyuban Kuda Lumping Kota Malang yang tergabung di Front Lintas Golongan untuk Indonesia Hebat (Liga Indonesia Hebat) Kota Malang, Minggu (8/6)

Selain membentangkan spanduk putih dengan mengumpulkan tanda tangan masyrakat, mereka juga menggelar aksi simpatik dengan mengumpulkan  untuk disumbangkan kepada  Jokowi. Aksi yang dilakukan  pada Minggu  pagi di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang itu mendapatkan perhatian para pengguna jalan. Banyak pengendara kemudian berhenti dan memberikan sumbangannya.

Iwan, koordinator  Laskar Jokowi Kota Malang, mengatakan para seniman tradisional itu mendukung Jokowi karena mantan Walikota Solo itu dinilai sebagai sosok negarawan muda yang sederhana, sahabat rakyat namun tegas dalam bertindak.

"Pak Jokowi itu negarawan muda yang sederhana, tegas dalam bertindak dan tidak kasar, " ujar Iwan.

 Menurut Iwan, saat ini Indonesia membutuhkan sosok yang membawa rakyat ke arah perubahan  yang lebih baik dan mengerti persoalan yang dihadapi rakyat.

"Saya optimistis, terpilihnya Jokowi sebagai Presiden akan membawa perubahan. Kita perlu produk baru, bukan produk lama yang meninggalkan masalah untuk membenahi negeri ini, harapan itu ada pada sosok Jokowi yang sederhana dan jujur," kata Iwan yang juga aktivis Liga Indonesia Hebat Malang itu.

Iwan mengatakan, besarnya sumbangan yang diharapkan dari warga tidak banyak, hanya Rp seribu rupiah. Itu pun dengan catatan pemberi sumbangan harus ikhlas lahir batin.

"Aksi ini muncul awal dari Malang. Hanya Rp 1.000. Kami transparan soal penggunaan dana yang terkumpul,” kata Iwan.

Thursday, June 5, 2014

Ruko Ambruk: Tiga Jenazah Dievakuasi

Petugas melakukan evakuasi korban. (foto sapos.co.id)
SAMARINDA, Teraslampung.com -  Hingga tadi malam seluruh tim evakuasi masih terus berupaya keras mengeluarkan jenazah para pekerja yang tertimbun di reruntuhan bangunan ruko yang roboh, Selasa (3/6) kemarin.

Setelah terkubur dalam gedung selama kurang lebih 21 jam, akhirnya satu jenazah pekerja yang diidentifikasi bernama Jarwo (30), berhasil diangkat dari reruntuhan, Rabu (4/6) sekitar pukul 04.25 Wita dini hari.
Posisinya beberapa meter dari Paiman dan Suyaji yang ditemukan terlebih dahulu sebelumnya dalam kondisi selamat. Begitu berhasil dikeluarkan, jasadnya langsung dilarikan ke RSUD AW Sjahranie.

Berselang 14 jam berikutnya, tim evakuasi gabungan kembali berhasil menemukan jasad Sugianto (20). Pekerja asal Trenggalek ini berhasil dikeluarkan dari jebakan tiang peyangga sekitar pukul 18.20 Wita.

Berikutnya tepat di samping Sugianto, terbujur kaku jenazah Toyo (50), warga Ponorogo yang berhasil diangkat 10 menit berikutnya. Salah satu anggota tim evakuasi gabungan Sofyansyah mengaku cukup kesulitan mengevakuasi keduanya. Sebab mereka harus memotong terlebih dulu beton dan besi tulang bangunan. "Yang susah motong betonnya," tuturnya.

Diungkap Sofyansyah, sebelum dievakuasi posisi mereka seperti berdempetan. Diduga saat itu mereka tidak berhasil keluar karena lebih dulu tertimpa tiang bangunan. Sebab saat ditemukan, Sugianto tampak telungkup dengan tiang menindih bagian punggungnya. Sementara bagian tubuh bawah Toyo terjepit tiang yang sama.
Dengan ditemukannya tiga jenazah korban, berarti jumlah orang hilang yang diduga masih terkurung di dalam bangunan diperkirakan masih berjumlah lima orang. Mereka adalah Toni, Deron Pamudi, Rudi Surianto, Jono dan Jarno.

Hingga berita ini diturunkan, tim evakuasi gabungan masih terus berusaha membongkar sisa bangunan tersebut menggunakan ekskavator. Setidaknya ada tiga buah ekskavator yang dioperasikan.

Ratusan anggota keamanan gabungan Polisi dan TNI juga masih terus mengamankan lokasi kejadian. Akses keluar masuk ke Perumahan Cendrawasih Permai juga masih tertutup untuk umum. Sementara tim medis dan relawan masih terus berjaga dengan ambulans mereka. Relawan lain juga membantu membersihkan kayu dan sisa bangunan yang menghalangi proses evakuasi.

sumber: samarinda pos

Berita Terkait: Ruko Ambruk, Empat Orang Tewas

Tolak Penutupan Lokalissi, Ratusan PSK Gang Dolly Kirim Surat kepada Presiden

Aksi memprotes penutupan Dolly. (ist)
SURABAYA, Teraslampung.com - Ratusan pekerja seks komersial (PSK) Dolly Kota Surabaya memprotes penutupan tempat yang sudah puluhan tahun menjadi sumber nafkah mereka. Mereka akan mengirim surat protes ke Presiden dan Komnas HAM sebagai tindak lanjut penolakan penutupan lokalisasi pada 18 Juni mendatang.

“Kami di sini bekerja untuk menghidupi keluarga bukan senang-senang. Makanya kami akan tetap berjuang dan melawan agar lokalisasi tidak ditutup,” kata salah seorang penghuni lokalisasi Dolly, Dian, saat menggelar aksi simpatik di gang Dolly, Kamis (5/6/2014).

Dalam aksinya, mereka membuat tulisan yang berisi curahan hati para penghuni lokalisasi. Surat itu intinya menolak segala bentuk penutupan yang telah direncanakan Pemerintah Kota Surabaya. Selain menulis curahan hati, mereka juga mencurahkan lewat coretan gambar sebagai bentuk kekesalan mereka.

Rencananya, hasil tulisan yang telah dibuat tersebut akan diserahkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Jumat (6/6/2014).
Dian meminta agar presiden SBY membatalkan rencana penutupan lokalisasi. Pemerintah hingga kini belum menyediakan lahan pekerjaan yang layak bagi warganya.

“Selama ini pemerintah hanya memikirkan diri sendiri. Pemerintah tidak pernah memikirkan nasib kami. Padahal jika kami harus kembali ke desa, kami sangat kekurangan,” kata Dian.

Sebelumnya, pada pertemuan antara Wali Kota Surabaya dengan Kementerian Sosial, disepakati penyiapan anggaran Rp8 miliar untuk merehabilitasi bekas PSK tersebut. Antara lain dengan memberikan jaminan hidup sebesar Rp20 ribu per hari selama tiga bulan, uang transportasi untuk pulang ke kampung asal Rp250.ribu dan modal usaha Rp3 juta.

Rencana penutupun Dolly sudah muncul sejak Maret 2014 lalu. Saat itu  Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berjanji akan memberi fasilitas bagi para pedagang di sekitarDolly yang selama ini menggantungkan hidup dari ramainya pengunjung Dolly. Risma merencanakan rekonstruksi kawasan pelacuran Dolly.

Risma mencontohkan, eks lokalisasi pelacuran Bangunsari yang sudah ditutup sejak 2012 lalu, kini berkembang menjadi sentra ekonomi andalan warga setempat yang digerakkan oleh mantan-mantan PSK. Bahkan, satu rumah yang disediakan Pemkot, kini dirasa tidak menampung, dan mereka mengajukan tiga rumah lagi untuk disewa menjadi pusat produksi makanan ringan.

Menurut data Pemkot Surabaya, saat ini ada sekitar 1.000 lebih PSK di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Bangunsari Surabaya. PSK yang aktif di puluhan wisma ada sekitar 300-an mucikari.

Wednesday, June 4, 2014

Ruko Ambruk di Samarinda: Berizin tetapi Tidak Layak

Seorang korban dievakuasi dari reruntuhan ruko yang ambrik di  Jl. A. Yani,, Perumahan Cenderawasih Permai, Kelurahan Bandara, Kota Samarinda. (foto. samarinda pos/ sapo.co.id)
SAMARINDA, Teraslampung.com -  Runtuhnya ruko berukuran 100 x 50 meter milik Juliansyah Gozali, menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari pekerjaan yang tidak sesuai prosedur hingga soal perizinan bangunan yang berdiri di Jalan A Yani, Perumahan Cendrawasih Permai RT 17, Kelurahan Bandara, Samarinda tersebut.

Kepala Badan Pelayanan Perizinan Satu Pintu (BP2SP) Kota Samarinda Dadang Airlangga menegaskan, bangunan kompleks ruko berlantai tiga tersebut telah mengantongi izin sejak 2013 lalu. Namun untuk detail dari bangunan tersebut, dia harus memastikan dengan melihat dokumen izinya terlebih dulu. "Izin mendirikan bangunan (IMB) atas nama Juliansyah Gozali beroperasi sejak Desember 2013 lalu. Jadi kalau dari segi IMB, gedung ini tidak bermasalah," tutur Dadang.

Meski telah mengantongi izin, seharusnya pembangunan gedung ini dipantau dengan seksama. Sebab seperti yang saat ini terjadi, banyak spek bangunan yang tampak dengan kasat mata tidak sesuai dengan seharusnya. Misalnya saja, besi beton yang harusnya menggunakan ukuran minimal 16 mm tetapi faktanya hanya memakai 8 mm. "Secara teknis pekerjaan ini memang di bawah standar dan di luar kelayakan teknis. Selain itu ukuran tiangnya juga harusnya jauh lebih besar karena menopang beton yang berat tapi ini tidak," ujarnya.

Karena itu, Dadang memastikan akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap dokumen perizinan sebelumnya. Selain itu, untuk keamanan dia juga sudah meminta agar bangunan di sebelah ruko yang juga satu bagian dari gedung tersebut disegel. "Gedung di sebelah sana sudah langsung disegel. Pengawas pembangunan (Wasbang) Dinas Cipta Karya dan Tata Kota (Cipkatakot) Samarinda beserta polisi juga akan memeriksa bangunan tersebut," paparnya.

Mendapat informasi musibah tersebut, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang langsung datang ke lokasi. Dia sempat mengecek beberapa bagian bangunan dan berdialog dengan belasan korban yang berhasil keluar dari ruko tersebut.

Syahrie Jaang mengaku sudah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kota Samarinda melakukan penanganan awal. Dia juga memerintahkan agar segera mobilisasi alat berat untuk membantu evakuasi korban yang masih tertimbun.

 "Saya juga minta tim medis dan posko evakuasi segera didirikan. Semua dalam persiapan dan semua bekerja. Saat ini kita tidak bicara siapa pemilik dan kontraktornya, karena yang kita tangani manusia," tegas Jaang.

Terpisah, kontraktor bangunan Nanang mengaku sempat ikut mengawasi pekerjaan bangunan tersebut saat semenisasi lantai tiga, hingga pukul 02.00 Wita dini hari. Namun karena ada urusan lain, dia berangkat ke Balikpapan. "Saya masih sempat menemani para pekerja. Saya pastikan kalau halaman untuk konstruksi lantai dasar, itu aman," pungkasnya.

Sumber: samarinda pos

Tuesday, June 3, 2014

Ruko Ambruk, Empat Orang Tewas

Ruko ambruk di Samarinda (dok. sapos.co.id)
SAMARINDA, Teraslampung.com.-  Kecelakaan kerja terjadi di pembangunan rumah toko (ruko) di bilangan Jalan A Yani I, RT 17, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Selasa (3/6) sekitar pukul 06.25 WITA

Tujuh belas unit ruko berlantai tiga yang lokasinya berada di lingkungan Perumahan Cendrawasih Permai mendadak ambruk. Dua orang pekerja sementara dipastikan tewas seketika di lokasi kejadian. Sementara belasan pekerja lain tertimbun di reruntuhan bangunan. Pekerja yang menjadi korban tersebut umumnya berasal dari Jawa Timur (Jatim). Mereka kebanyakan dari Trenggalek, Ponorogo dan Jombang.

Dua pekerja nahas yang tewas di tempat ialah Kadori (diperkirakan berusia 30 tahun) dan Kasiran (50). Kadori dan Kasiran tewas dengan kondisi mengenaskan. Kasiran tewas dengan tubuh remuk karena tergencet, sedangkan Kadori menghembuskan nafas karena kepalanya remuk. Sementara sekitar pukul 22.00 Wita, dua jenazah lagi berhasil dikeluarkan dari reruntuhan. Yakni Surani (27) dan Abdul Makruf.

Sedangkan pekerja lain meski selamat, mengalami luka lecet sampai patah tulang karena sempat tertindih cor beton (nama pekerja selamat lihat grafis). Informasinya total pekerja di proyek pembangunan ruko tersebut mencapai 84 orang.
Dari total tersebut, diperkirakan 14 pekerja tak bisa lari dan tertimbun di puing reruntuhan. Dari 14 pekerja yang tertimbun itulah terselip nama Kadori dan Kasiran, yang dipastikan tewas.

Keterangan yang diperoleh Sapos di lokasi kejadian, musibah tersebut terjadi saat sejumlah pekerja hendak memulai aktivitas. Beberapa diantara mereka ada yang santai sambil sarapan dan menunggu giliran mandi.
Sementara beberapa pekerja lainnya ada yang hendak tidur karena lembur, usai melakukan pengecoran lantai teratas ruko. Pekerja yang lembur memulai bekerja sejak Senin (2/6) malam.

“Saya bersama beberapa teman ada yang lembur untuk mengecor lantai teratas. Kami istirahat sekitar pukul 05.00 Wita,” ujar Tambianto kepada Sapos.

Saat itu beberapa pekerja ada yang melihat salah satu tiang di lantai dasar mengalami keretakan. “Saat itu beberapa teman yang lain melakukan pengecekan dan memang tiang retak,” ungkap Tambianto.

Saat itu beberapa pekerja sempat saling mengingatkan, supaya segera keluar karena khawatir bangunan ambruk. “Sempat diingatkan supaya keluar gedung karena takut ambruk,” tutur Tambianto.

Tak berselang lama, diduga tiang yang retak tak mampu menahan beban bangunan, akhirnya tiang ambruk diikuti runtuhnya bangunan lainnya dari arah pintu masuk Perumahan Cendrawasih Permai.

Melihat bangunan ambruk, beberapa pekerja yang sempat mengetahuinya pun berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Sedangkan sisanya, beberapa ada yang tidur dan bersantai di sekitar bedeng (tempat tidur selama bekerja di sana) tak bisa menyelamatkan diri. Saat ambruk, bangunan ruko rebah menimpa bedeng.

“Saya bersama beberapa teman lain ada di bedeng. Tak sempat lari ketika kejadian. Tapi untung saja masih selamat. Saya dan teman-teman terpaksa menjebol atap bedeng yang terbuat dari seng untuk keluar,” terang Mislan.

Sementara Sobirin, yang juga selamat dan keseleo kaki kanan saat kejadian juga berada di bedeng dan hendak mandi.

“Saat saya mau ke kamar mandi itulah bangunan ambruk. Saya sempat lari, tapi kaki terkena runtuhan bangunan. Saat saya keluar, beberapa teman sudah berteriakan,” imbuh Sobirin.
Informasinya, Kadori dan Kasiran juga ada di bedeng saat bangunan ambruk. Gagal lari, tubuh keduanya tertimpa bangunan dan tewas seketika.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Antonius Wisnu Sutirta, melalui Wakasat Reskrim AKP Suryono mengatakan, sementara kasus ambruknya ruko tersebut masih diselidiki aparat kepolisian.

“Kejadian ini masih kami selidiki. Sementara ada tujuh pekerja dan pengawas proyek kami minta keterangan untuk keperluan penyidikan,” tandas Suryono singkat.

Sumber: sapos.co.id

Sunday, June 1, 2014

Mobil Rombongan Wisuda Tabrakan, 5 Penumpang Tewas

Ilustrasi tabrakan mobil
CIREBON, Teraslampung.com - Lima penumpang minibus tewas setelah kendaraan itu menabrak truk di Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (1/6/2014). Kendaraan naas itu melaju dari arah Jawa Tengah menuju Jakarta.

Lima korban tewas adalah Ane Oktaviane (32) dan Siti Karimi (85), warga Desa/Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Yayan Widiantoro (58) dan istrinya Titin Rahtina (56), asal Indramayu, Nani Rahmini (60) warga Kelurahan Geger Kalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.

“Saksi yang kami mintai keterangan menyebutkan, kecelakaan maut yang menewaskan lima orang pengendara minibus jenis kijang dari arah Jawa Tengah, menuju Jakarta akibat mobil tersebut oleng menghantam truk tronton dari arah berlawanan,” kata Kapolres Cirebon AKBP Dani Kustoni, di Cirebon, Minggu (1/6).

Menurut Dani beberapa saksi mengatakan kecepatan minibus dari arah Jawa Tengah cukup tinggi, diduga keluar jalur utama akibat sopir kendaraan tersebut ngantuk.

“Mobil kijang tersebut membawa rombongan keluarga usai menghadiri wisuda di Yogyakarta, hendak pulang ke Indramayu,” katanya.

Selain menewaskan lima orang penumpang,  dua penumpang lainnya dilarikan ke RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dalam kondisi kritis.

Sesaat setelah kecelakaan dan proses evakuasi para korban, arus lalu lintas  di jalur Pantura di ruas Cirebon-Indramayu menuju Jakarta dan Jawa Tengah macet hingga menyebabkan antrean sepanjang lima kilometer.

Saturday, May 31, 2014

Kekerasan di Yogya: Massa Berjubah Kembali Datangi Rumah Julius

Rumah Julius dijaga polisi (dok. tempo.co)
YOGYAKARTA, Teraslampung.com - Sekitar 50 orang berjubah mendatangi rumah Direktur Galangpres, Julius Felicianus, di komplek perumahan STIE YKPN, Tanjungsari, Sukoharjo, Sleman. Puluhan orang itu datang dengan mengendarai mobil bak terbuka dan sepeda motor.

Mereka sempat dihentikan oleh puluhan tentara dan polisi yang berjaga di perumahan itu pascaterjadi penyerangan peribatan umat Katolik di rumah Julius Felicianus sebelumnya. Awalnya puluhan orang berjubah itu menanyakan apakah ada orang di rumah Julius. Namun kala ditanya apa tujuannya, mereka menyatakan hanya hendak mengambil burung dalam 15 sangkar di rumah Asep Hasanuddin dan Ami Bahtiar yang tepat berada di depan rumah Julius.

"Mereka mengambil burung dengan 15 sangkar di rumah depan lokasi," kata salah satu tentara yang sedang jaga Sersan Kepala Wahono, Sabtu, 31 Mei 2014. Asep dan Ami diduga ikut serta dalam penyerangan terhadap misa Rosario, Kamis malam lalu.

Anehnya, meskipun mereka beralasan akan mengambil burung, puluhan orang itu membawa pentungan dan terlihat kurang bersahabat. Sebagian dari mereka menutupi muka dengan surban. Bahkan salah satu orang berjubah itu sempat mengeluarkan ancaman. "Kami tidak akan bereaksi kalau tidak dipanas-panasi."

Puluhan orang itu kemudian pergi setelah membawa belasan sangkar berikut burung di dalamnya. Meski tidak ada kerusuhan namun kedatangan mereka sempat membuat cemas warga. "Warga jelas resah, terutama anak-anak," kata Ketua RT setempat Isyanto.

Pascapenyerangan beberapa waktu lalu yang mengakibatkan beberapa orang luka, rumah Julius kosong tidak ditempati keluarga. Namun ada kerabat yang ikut berjaga di rumah itu. Kini Julius masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta karena luka di kepala bagian belakang dan patah tulang di pundak kirinya. Satu lagi korban yang masih dirawat di rumah sakit itu adalah Nur Wahid yang luka di hidung, kepala dan tangan. Ia sangat trauma atas kejadian itu karena dihajar dan dilempari batu.

Sedangkan anaknya yang masih berusia 8 tahun yang juga jadi korban sudah diperbolehkan pulang. Ia diungsikan di suatu tempat untuk menghilangkan trauma yang dialami.

Sumber: tempo.co

AAL Gelar Sidang Tentukan Pejabat Resimen Korps Taruna

SURABAYA, Teraslampung.com- Akademi Angkatan Laut (AAL) menggelar Sidang Dewan Akademi dipimpin langsung Gubernur AAL Laksamana Muda TNI A. Taufiqoerrochman, S.E., di Gedung R. Soebiyakto, Markas Komando  AAL, Bumimoro, Surabaya, Jumat (30/5).

Sidang ini dilaksanakan untuk menentukan Taruna Tingkat III Angkatan 60 yang akan menjabat sebagai Komandan Resimen Korps Taruna dan yang akan menjadi Tambur Mayor selain mereka akan naik menjadi Taruna Tingkat IV.

Untuk calon Komandan Resimen Korps Taruna dinilai dari beberapa segi diantaranya kemampuan akademik, kesamaptaan, dan kepribadian selama taruna tersebut melaksanakan pendidikan di Kawah Candradimuka AAL. "Kita harus benar-benar memilih Taruna yang memenuhi kriteria dan memang pantas untuk menjadi pimpinan di Resimen Korps Taruna", ujar orang nomor satu di AAL ini.

Turut Hadir dalam Sidang tersebut: Wagub AAL Laksma TNI Dedy Yulianto, Seklem AAL Kolonel Mar RM. Trusono, S.Mn., Komandan Resimen AAL Kolonel Mar Bambang Sutrisno, para Direktur, para Kepala Departemen, dan Pejabat terkait dilingkungan AAL. (Rel)

Wednesday, May 28, 2014

Puluhan Mahasiswa Ikuti Workshop Menulis Feature di FIP UNP

Mahasiswa peserta Workshop "Creatif and Feature Writing" di Universitas Negeri Padang (UNP), Selasa (27/5).
PADANG, Teraslampung.com – Sebanyak 40-an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang, Sumatera Barat, mengikuti Workshop Jurnalistik “Creatif and Feature Writing” bertajuk “Mengembagkan Potensi dalam Bidang Jurnalistik dengan Progresif dan Kreatif”, Selasa (27/5).

Acara yang ditaja mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat itu, menghadirkan pembicara Muhammad Subhan, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang juga seorang jurnalis dan penulis.

Dalam penyampaiannya, Muhammad Subhan menyebutkan, keterampilan menulis feature penting dimiliki calon wartawan. Sebagai sebuah tulisan kreatif, feature berguna untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi, atau aspek kehidupan seseorang.

“Sebagai sebuah laporan jurnalistik yang ditulis wartawan, feature itu tulisan yang khas dan cenderung dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas terhadap peristiwa tertentu,” kata Muhammad Subhan.

Dijelaskan, tulisan features menjadi salah satu daya tarik bagi pembaca ketika membaca sebuah berita di media massa. Features bisa dianggap tulisan yang lebih ringan dibandingkan dengan berita, tajuk rencana, atau artikel opini.

“Kekhasan features terletak pada empat poin, yaitu kreativitas (dalam hal menciptakannya), informatif (dalam hal isinya), menghibur (dalam hal gaya penulisannya), dan boleh subjektif (dalam hal cara penuturannya),” ujarnya.

Di halaman-halaman suratkabar, tambah Muhammad Subhan, setiap hari ditemui berbagai feature yang ditulis wartawan media tersebut. Biasanya, kolom feature terletak di bagian kaki lembar surat kabar dan mengungkap sisi lain dari sebuah berita yang menjadi fokus utama suratkabar itu.

Sementara, dosen pembimbing pelatihan, Dra. Zuwirna, M.Pd, dalam sambutannya mengatakan workshop yang digelar mahasiswanya itu dalam rangka tugas akhir yang tujuannya agar mahasiswa di kemudian hari dapat merencanakan sebuah acara yang dikemas secara profesional.

“Kami harapkan, setelah lulus nanti mahasiswa kami dapat mengembangkan potensi yang dimiliki, salah satunya lewat kegiatan pelatihan seperti ini,” katanya.

Ketua Pelaksana, Gunawan Saputra, didampingi panitia Dewi Kurnia dan Vivi Avri mengatakan workshop jurnalistik  tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dan menambah ilmu kepada peserta terkait dunia jurnalistik, khususnya kiat menulis feature.

“Alhamdulillah workshop ini berjalan sukses dan peserta sangat antusias mengikuti jalannya acara,” tambahnya. (rel)

Tuesday, May 27, 2014

Ketua KPU Tewas di Hotel, Boven Digoel Rusuh

Aksi massa di Boven Digoel, Selasa siang (27/5). Foto: dok papuapos.
JAYAPURA, Teraslampung.com- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boven Digoel, Naftalis Tani (37), ditemukan tewas di kamar hotel Yudisyah, di  Kelurahaan Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Papua, Selasa dinihari sekitar pukul 00.30 WIT.

Menurut Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Kombes Pudjo mengatakan, menurut laporan yang diterima, sebelum tewas korban berkencan dengan seorang perempuan yang dia panggil ke kamar hotel.

Pujo mengatakan pihaknya masih menyelidiki penyebab kematian Naftali. Sementara itu, jenazah korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Dok 2 Jayapura begitu petugas kepolisian datang.

"Petugas akan mengautopsi jenazah korban untuk mencari tahu penyebab kematiannya," kata Pujo, di Jayapura, Selasa (27/5).

Polisi juga memeriksa teman kencan korban, seorang perempuan berinisial A berusia 35 tahun, di Markas Kepolisian Resor Kota Jayapura.

Sementara itu, menyusul meninggalnya Natalis Tani di hotel Yudisyah Kelurahaan Argapura Distrik Jayapura Selatan, kini berbuntut panjang.

Sebuah portal di Papua, www.papuapos.com melaporkan, sekitar 300-an massa di Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel yang tidak terima dengan kematian Natalis Tani melakukan pengrusakan terhadap beberapa kendaraan bermotor dan mobil di jalan depan Hotel Mandiri, Jl. Trans Papua.

Tak hanya itu, kaca-kaca kantor KPU dan kantor Bupati Boven Digoel ikut menjadi sasaran amuk massa. Kedua kantor itu sempat menjadi target untuk dibakar. Namun niat massa tersebut berhasil digagalkan aparat gabungan kepolisian dan TNI.

Massa juga nyaris merusak kediaman Plt Bupati Yesaya Merasi dan Ketua DPRD Ayub Santi. Namu,  lagi-lagi digagalkan aparat keamanan.

Akibat aksi merusak yang dilakukan massa dengan membawa senjata tajam itu, membuat kondisi Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel mencekam. Seluruh tempat usaha baik itu kios, toko maupun warung makan semuanya tutup.

Sementara jalan – jalan tampak lenggang karena masyarakat lebih memilih berdiam di rumah. Mereka kuatir aksi massa ini akan meluas menjadi kerusahan.

Massa mulai berkumpul sejak Selasa (27/5/2014) pagi di Aerop Kota Tanah Merah, makin lama massa makin banyak hingga diperkirakan mencapai 300-an. Mereka mempersenjati diri dengan parang, tombak, busur dan lain sebagainya.

Dari lokasi itu, berjalan kaki menuju ke pusat Kota dengan sasaran kantor KPU. Saat melewati Hotel Mandiri massa melakukan pemukulan dan perusakan beberapa unit motor dan mobil yang terparkir di depan Hotel maupun milik masyarakat yang sedang melintasi jalan tersebut.

Aparat Kepolisian yang telah disiagakan pada Kantor KPU membuat rencana massa untuk membakar bangunan tersebut berhasil digagalkan namun massa yang bergerak terus kearah Jalan Trans Papua kemudian melakukan penghancuran terhadap seluruh kaca di Kantor Bupati baik itu kaca depan maupun kaca diruangan – ruangan.

Massa yang tampak beringas kemudian bergeser terus dengan tujuan menuju Kediaman Plt.Bupati Boven Digoel Yesaya Merasi, S.IP namun berhasil dihadang oleh blokade aparat TNI bersenjata, gabungan Kodim 1711/BVD dan Satgas Yonif 715/Motuliato yang berpakaian PHH lengkap.

Massa ini pun dihadang didepan Kompleks Perumahan Pegawai Km.3 dan setelah lebih kurang setengah jam melakukan negosiasi dipimpin oleh Wakapolres Boven Digoel maka massa bergerak kembali kearah Aerop sambil melakukan perusakan pada berbagai tiang rambu lalu lintas yang terpasang disepanjang jalan Trans Papua.

Setibanya kembali di Aerop, massa kemudian bergerombol dan memblokir akses jalan Aerop dengan dahan – dahan pohon namun setelah dimediasi oleh Wakapolres maka disetujui melakukan pertemuan bersama di Lapangan Trikora Tanah Merah.

Disitu, massa lagi – lagi hendak merusak rumah Ketua DPRD Boven Digoel Ayub Santi yang berada disekitar lapangan, namun berkat kesigapan dan ketegasan Wakapolres Boven Digoel maka upaya massa berhasil diredam untuk kemudian diarahkan berkumpul di Lapangan tersebut.

Pertemuan di Lapangan Trikora selain dihadiri Plh.Bupati Boven Digoel Marius Batarop, juga tampak hadir Ketua LMA Kabupaten Boven Digoel, Pastor Paroki Hati Kudus Tanah Merah serta unsur pimpinan TNI dan Kepolisian.

Hasil dari pertemuan yang berjalan alot dan menyita waktu hingga menjelang sore ialah bahwasanya pihak keluarga menuntut tanggung jawab Pemerintah Daerah atas meninggalnya Alm.Natalis Tani serta segera mengirim kembali jasadnya ke Kota Tanah Merah.

Kebrutalan massa berdampak pula terhadap para Wartawan yang tengah bertugas meliput kejadian khususnya Papua Pos Boven Digoel yang dikejar dengan mempergunakan parang dan balok dan dipaksa untuk menyerahkan kamera pada saat mendokumentasikan kejadian tersebut, namun segera dihadang beberapa personil Kepolisian sehingga massa meluapkan emosinya dengan membacok dinding – dinding rumah milik masyarakat disekitar Lapangan.

Meninggal Karena Sakit

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik saat dikonfirmasi Papua Pos, Selasa (27/5/2014) mengatakan almarhum diduga meninggal dunia karena sakit dan sekarang almarhum masih berada di Rumah Mayat Dok II Jayapura guna untuk proses otopsi.

Kabid Humasmenerangkan bahwa pada 26 Mei 2014 sekitar pukul 23.00 Wit almarhum Natalis Tani menghubungi saksi, A agar datang ke dalam hotel Yudisyah untuk datang ke kamar No.301.

Sekitar pukul 01.00 wit saksi A datang ke dalam kamar dan mereka bertemu didalam kamar, selama bertemu almarhum awalnya batuk-batuk lalu kemudian menuju kamar mandi dan didalam kamar mandi almarhum ditemukan sudah meninggal dunia.

“Saat ini polisi masih melakukan olah TKP guna menemukan apakah penyebab meninggalnya almarhum tersebut, sementara  diperkirakan korban meninggal karena sakit,”ujarnya.

Sementara Manfred Naa, salah satu anggota Komisioner KPUD Boven Digoel Divisi Teknis, saat dikonfirmasi mengaku masih syok dengan kepergian salah seorang rekannya tersebut.

Menurutnya almarhum selama ini tidak pernah mengeluhkan rasa sakit selama bertugas sebagai komisioner dalam tiga bulan terakhir ini. “Beliau ke Jayapura karena sedang menjalani pemeriksaan di Polda Papua atas dugaan keterlibatannya dalam pelanggaran pemilu,” ujar Manfred.

Sedangkan, ditempat terpisah, Kapolres Boven Digoel Ajun Komisaris Besar Iswan Tato, saat ditemui di Ruang Kamar Mayat Rumah Sakit Dok II, mengharapkan agar masyarakat tidak berprasangka buruk atas penyebab  meninggalnya Natalis.

“Prinsipnya, tidak ada unsur pembunuhan atas meninggalnya Natalis. Kemungkinan besok, jenazah korban akan dibawa pihak keluarga ke Boven Digoel untuk disemayamkan,” tukasnya.

Saturday, May 24, 2014

Ketua Komnas HAM Turun ke Lahan Sengketa Transbangdep Madina

Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila (tengah)  saat memberikan keterangan pers di lokasi lahan sengketa Transbangdep, Desa Patiluban Mudik, Kecamatan Natal, Madina, Sumatera Utara (dok beritasumut.com). 
MANDAILING NATAL, Teraslampung.com - Ketua Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM RI) Siti Noor Laila turun ke lokasi lahan sengketa Transbangdep, Desa Patiluban Mudik, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Rabu (21/5/2014) lalu.

Informasi yang diperoleh, Sabtu (24/5/2014) menyebutkan, kedatangan Komisoner Komnas HAM setelah adanya permohonan dari Jumari dari Aliansi Petani Pantai Barat Madina yang meminta bantuan penyelesaian kasus sengketa lahan 100 kepala keluarga (KK) trasmigran asal Kediri di Dusun Suko Sari, Desa Patiluban Mudik, Kecamatan Natal.

“Komnas HAM datang atas pengaduan 100 KK masyarakat Transbangdep. Mereka sudah mendapatkan sertifikat lahan pekarangan seperempat hektare dan lahan usaha satu setengah hektare. Masalahnya masih ada 47 warga yang belum menerima sertifikat. Kemudian lahan usaha satu seluruhnya sudah diterima tanah maupun sertifikatnya, sedangkan lahan usaha dua yang lahannya satu seperempat hektare sampai sekarang belum diserahkan tanah maupun sertifikatnya,” ujar Siti Noor Laila.

Proses lahan Transbangdep mulai tahun 1999 sampai sekarang belum selesai. Komnas HAM akan meminta klarifikasi dan mempertanyakan kepada pihak-pihak terkait tentang permasalahan ini.

“Padahal ini prosesnya sudah berjalan mulai dari Tahun 1999 sampai sekarang. Karena dari itu Komnas HAM kemudian meminta klarifikasi kepada pihak-pihak terkait atas peristiwa ini. Kemudian sertifikat belum dibagikan kepada masyarakat,” imbuhnya.

Lalu dimana yang tanah satu seperempat hektare yang masih kurang, termasuk juga sertifikatnya harus diberikan kepada masyarakat yang berhak karena warga sudah mendukung program pemerintah untuk ikut program transmigrasi. Tapi sampai sekarang pemerintah sendiri tidak bertanggungjawab untuk menyelesaikan ini.

“Komnas HAM akan pertanyakan kepada pemerintah dalam hal ini adalah dinas atau instansi terkait terhadap nasib 100 KK ini,” beber Siti Noor Laila.

Sebelumnya Komnas HAM RI sudah memintak klarifikasi ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tapanuli Selatan yang dulu induk dari Kabupaten Madina. Apabila lahan tumpang tindih atau masih dikuasai pihak tertentu, Komnas HAM akan meminta pertanggungjawaban pemerintah untuk menyelesaikan kasus 100 KK transmigran ini.

“Tentu berdasarkan pada prosesnya berjalan seperti apa. Kalau pemerintah punya politicalwill tentu ini bisa cepat, nah kami kemarin sudah memintak klarifikasi ke BPN Tapanuli Selatan sebagai kabupaten induk dari Madina. Kemudian besok kami akan meminta penjelasan  dari Pemkab Madina, BPN dan pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Kemudian nanti seperti apa informasinya, datanya dan sebagainya, ini yang harus diklarifikasi kalau memang ada tumpang tindih atau memang ini masih dikuasai pihak tertentu belum diserahkan dan sebagainya ini harus diusut betul dimana sebenarnya tanah dan sertifikat warga.

Kalau misalnya memang tersedia harus diserahkan. Kalau belum tersedia bagaimana tanggungjawab pemerintah dalam hal untuk menyelesaikan kasus 100 KK transmigran ini, katanya.

“Langkah ini sedang diproses, sedang berjalan tentu dalam hal ini memang harus teliti dari awal seperti apa porsesnya kemudian dokument-dokumennya dimana, kebijakannya seperti apa. Kalau memang kemudian nanti mucul persoalan disitu, maka penyelesaiannya seperti apa. Ini baru proses awal. Kita mencoba mengumpulkan, klarifikasi, informasi, data dan sebagainya yang nanti kita akan analisis. Hasil itu baru kemudian akan tersusun langkah-langkah berikutnya seperti apa,” tambah Siti Noor Laila.

Sementara masyarakat Transbangdep, Desa Patiluban Mudik, Kecamatan Natal, berharap Komnas HAM RI secepatnya menuntaskan permasalahan ini.

“Atas nama Transbangdep, Desa Patiluban Mudik, kita berharap penuh kepada Komnas HAM untuk menyelesaikan permasalahan kami ini. Kami merasa hak-hak Kami telah dirampas,” papar Jumari. (sumber: beritasumut.com)

Sunday, May 18, 2014

Sejarah Benteng Buton: Tiada Benteng yang tak Bercelah

Raudal Tanjung Banua

Makam Sultan Alaudin (foto Raudal Tanjung Banua)
Kesultanan Buton pernah menjadi ajang pergulatan sejarah penting. Bersama kerajaan lain di timur tanah air, seperti Bone, Gowa, Ternate dan Tidore, Kesultanan Buton tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang diperhitungkan. Maklum, letaknya sangat strategis di jalur laut dan rempah, antara barat dan timur Nusantara. Tak heran, Belanda tergiur menguasainya, namun selalu gagal berkat kecerdikan Sultan Buton yang membuat “persekutuan abadi” dengan VOC.
Persekutuan yang disetujui Kapten Apollonius Scotte dan Sultan La Elangi (1613) ini bersifat saling menguntungkan, termasuk mencegah serangan Gowa. Tapi konflik Buton-Gowa (Makassar) membesar setelah bangsawan Bone (Bugis) bernama Aru Palakka, saingan Sultan Hasanuddin, melarikan diri ke Kraton Buton. Ia dilindungi Sultan Aidul Rahim atau La Sombata. Ketika pasukan Hasanuddin menyerbu, Aru Palakka tak ditemukan karena tempat persembunyiannya jauh di celah tebing karang.
Serangan Gowa berikutnya terjadi akhir tahun 1666 dipimpin Karaeng Bonto Marannu. Sultan Buton dibantu Aru Palakka, berhasil mempreteli pasukan “Ayam Kinantan” dan mengasingkan mereka di Pulau Makasar (ingat, dengan satu “s”), sebuah pulau kecil di muka kota Bau-bau. Kini, tiap tahun ada Festival Pulau Makasar menampilkan kreasi seni dan kuliner masyarakat pulau itu. Bentuk rekonsiliasi?
Jejak sejarah penting lainnya adalah tragedi tahun 1969. Ketika itu, bangsawan Buton dituduh menerima pasokan senjata untuk membangkitkan ideologi komunisme. KRI Dompu yang berlayar dari Tanjung Priok ke Maluku, dituduh mendrop senjata di Teluk Sampolawa. Bupati Buton, M. Kasim, ditahan menyusul ratusan orang lainnya hilang tanpa pengadilan. Sebagian sejarawan berpendapat, tragedi itu buntut persaingan dua kota niaga dan kultural sejak lama antara Makassar, Sulawesi Selatan, di barat dan Buton di timur.
Akibatnya, ibukota Sulawesi Tenggara dipilih Kendari, bukannya Bau-bau yang strategis dan bersejarah. Belum lagi rivalitas antara Buton dan Muna. Ada pula berpendapat, tragedi itu masuk ke benteng Buton akibat “permainan” orang dalam yang tersingkir dari tahta dan kuasa. Jadi tiada benteng yang tak bercelah. Tapi itu sudah jadi sejarah yang perlu digali kebenarannya.
Kota Bau-bau dilihat dari atas ketinggian. (Foto: Raudal Tanjung Banua)
Yang jelas, Kota Bau-bau dan Buton umumnya, kini terus berbenah mengembangkan potensi wisata. Banyak jalur bisa mengantar wisatawan ke mari. Jalur laut tentu yang utama, bisa langsung dari Makassar dengan kapal Pelni, atau naik kapal cepat Kendari-Raha-Bau-bau. Pesawat langsung Makassar-Buton sekitar tiga kali dalam seminggu. Maka, deretan tempat wisata tumbuh, mulai pantai Kamali dengan patung naga dan ikan bakarnya, Pantai Bukit Kolema dengan saraba' dan pisang eppe'-nya, suaka margasatwa Lambusango, sampai perkampungan orang laut atau Bajo di Lasalimu.
Atau mampirlah ke kompleks Kantor Walikota Bau-bau, tak jauh dari pusat kraton. Pada awal pembangunannya diprotes masyarakat sebab terlalu jauh di atas bukit. Namun walikota Bau-bau bergeming, alasannya ingin mengembangkan wilayah kota. Tak lama, rumah sakit daerah juga dibangun di situ. Alhasil, tanah yang selama ini terlantar jadi naik pasarannya. Kini lokasi itu menjadi tempat terbuka atau ruang publik, dilengkapi hotspot, penuh muda-mudi dengan pemandangan sekeliling yang memukau.


Benteng Kraton Buton, Benteng Terluas di Dunia

Raudal Tanjung Banua*
Berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, di samping mendapat kepuasan tak terbilang dari panorama lautnya yang indah, juga jangan luputkan menjelajah “Benteng Terluas di Dunia”. Ya, itulah predikat Benteng Kraton Buton yang tercatat dalam Guinnes World Record tahun 2006. Benteng sepanjang 2.780 m dan luas 23 ha ini dibangun pada abad ke-16 M, terletak di perbukitan Palagimata yang menjadi latar kota Bau-bau. Kota Bau-bau sendiri merupakan kota pelabuhan yang ramai di timur tanah air, dan menjadi pintu masuk wisatawan ke surga bawah laut gugusan Kepulauan Wakatobi.
Tidak sulit mencapai benteng, sebab terletak tak lebih tiga kilometer dari pusat kota Bau-bau. Ada mikrolet dan ojek sepeda motor yang bisa Anda tumpangi dengan ongkos Rp 5000. Saya beruntung diantar mobil panitia workshop penulisan, sehingga bisa langsung mengelilingi benteng. Begitu melewati gerbang utama bertulisan “Anda Memasuki Kawasan Benteng Terluas di Dunia”, pemandangan ajaib segera menghampar di depan mata. Dinding benteng yang hitam-tebal mengular sepanjang sisi bukit, dengan pola naik-turun yang unik. Bentuknya tidak fokus pada satu jenis, ada berbentuk balok, bundar, lingkaran atau kombinasi.
Tinggi dinding juga tidak sama rata, ada yang lebih rendah, sedang, tinggi atau diselang-selingi. Efeknya, kesan benteng jadi tidak masif sehingga tak membosankan dipandang mata. Lalu di beberapa bagian terdapat pintu-pintu beratap, lengkap dengan meriam tua yang mengarah ke luar. Bunga kamboja, pisang dan kapuk randu berderet tumbuh di tepi-tepinya.
Terbuat dari batu karang, Benteng Kraton Buton memagar rapat sejumlah perkampungan, istana sultan, masjid, makam dan rumah para bangsawan (wolio mendebu). Namun, bukannya tanpa celah, sebab ada banyak pintu dengan berbagai fungsi dan nama, seperti Baluarana Wabarengalu dan Baluarana Tanailandu. Sebuah pintu lagi tampak mengarah ke jurang, dulu pernah dipakai Aru Palakka atau La Toondu, bangsawan Bone, untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Sultan Hasanuddin dari Gowa, Makassar.
Saya tercengang takjub memandang semua itu, terlebih pemandangan ke arah laut sangat menggetarkan. Kota Bau-bau yang padat dan pelabuhannya yang dipenuhi kapal-kapal terhampar jelas di bawah sana, termasuk pulau kecil di muka teluk, Pulau Makasar (dengan satu huruf “s”). Pemandangan juga sampai jauh ke tepian laut yang menggaris dua pulau bertetangga, Buton dan Muna. Ya, kedua pulau ini memang memanjang bersisian di kaki Pulau Sulawesi, dipisahkan selat Buton yang sempit layaknya sungai, sehingga ketika melewatinya dalam perjalanan dari Kendari kita disuguhi pemandangan laut, pulau dan tebing batu yang luar biasa indahnya. Mungkin karena berdekatan itu pula, secara administratif, pembagian kabupaten tidak berdasarkan pulau, namun langsung memotong kedua daratan; Kabupaten Muna juga mencakup sebagian pulau Buton, dan sebaliknya.
“Jauh di sana Gunung Kabaena, kampung-kampung di bawahnya terkenal dengan gadis-gadis cantik,” kata Yusri, orang yang mengantar saya, menunjuk nun ke arah Pulau Kabaena.

***

Setelah puas berlama-lama di sisi tembok benteng, saya memutuskan memasuki pusat Kraton Buton. Cukup mengherankan, tidak ada satu retribusi pun yang perlu dibayar, karcis masuk bahkan parkir gratis. Selain itu, tidak terlihat pedagang makanan baik asongan maupun di kios resmi. Saya angkat topi dari sisi kenyamanan, kebersihan dan ruang publik, tapi bagaimana dengan pemasukan Pemda serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar? Entahlah, saya belum mau berpikir lebih lanjut, termasuk memikirkan kenapa Benteng Buton mengalahkan Tembok Cina soal prediket “Benteng Terluas di Dunia”?
Sepenuhnya saya ingin menikmati pusat Kraton Buton, di mana terdapat masjid raya, istana bangsawan Wolio, batu igandangi (tempat pengukuhan sultan) dan balairung. Ada juga bukit kecil tempat peristirahatan abadi sultan Buton pertama yang beragama Islam, Sultan Murhum. Pusat benteng ditandai oleh sebuah tiang kayu unik setinggi 21 m, berusia hampir 300 tahun, tempat bendera kesultanan yang disebut tombi longa-longa pernah dikibarkan. Kini bendera tradisional sepanjang lima meter berbentuk lancip seperti daun padi itu, hanya dapat saya bayangkan seolah berkibar megah di ujung tiang jati yang masih kokoh berdiri.
Tiang unik itu berdiri persis di depan masjid raya Kesultanan Buton Butuni yang usianya jauh lebih tua. Dibangun tahun 1712, sekilas masjid ini tampak sederhana. Namun jika diamati arsitekturnya tak kalah unik, yakni bersusun tiga, dan setiap bagian hanya “dikunci” oleh 33 pasak kayu—tanpa paku—yang melambangkan jumlah bacaan suci saat zikir. Secara filosofis, ketiga bagian ini melambangkan anatomi manusia yang terdiri bagian bawah (kaki), tengah (perut) dan atas (kepala). Secara keseluruhan pula, jika dilihat dari udara, benteng Buton konon menyerupai orang sedang tahayat akhir dalam sholat, demikian beberapa info yang saya dapatkan dari warga setempat.
Sebagaimana jamaknya bangunan zaman dulu di Buton, kayu merupakan bahan utama masjid raya, di samping sedikit batu untuk pondasi dan pagar bawah. Kayu jati pilihan (Buton dan Muna penghasil kayu jati terbaik) juga terlihat kokoh di tiang, dinding dan lantai rumah para bangsawan Wolio. Rumah itu dibuat sampai bertingkat empat, bertiang puluhan dan dindingnya penuh ukiran. Menariknya, di bagian puncak atap selalu terdapat ukiran kayu berupa buah nenas.
La Ode Nuri, salah seorang penduduk kraton, mengatakan bahwa spritualisme orang Buton mempercayai konsep reinkernasi. Kenapa simbolnya nenas? Sebab buah nenas memiliki daun di bagian bawah dan bagian atas sebagai pertanda kehidupan. Selain itu, naga juga menjadi simbol kultural hasil akulturasi dengan masyarakat Tionghoa, begitu katanya.
Selesai bercakap-cakap, saya menuju pelataran istana bangsawan di mana terdapat jangkar raksasa dan monumen silsilah raja/sultan Buton. Konon, jangkar itu milik kapal VOC yang dikalahkan sultan Buton. Ada pun di monumen silsilah, terukir 43 nama raja dan sultan, dimulai Raja Waa Kaa Kaa pertengahan abad XIV dan diakhiri La Ode Falihi Kaimudin tahun 1960-an. Perbedaan gelar Raja dan Sultan tampaknya ditandai masuknya agama Islam tepatnya pada raja ke V (terakhir) sekaligus sultan pertama, Sultan Murhum.

Hari sudah rembang petang, terlihat dari permukaan laut yang disepuh cahaya keemasan. Saya segera beranjak ke makam Sultan Murhum, tapi dua orang bocah Buton mencegat saya. Ternyata mereka minta difoto. Klik! Saya foto mereka dengan latar jangkar besar, setelah itu saya bergegas ke makam. Makam dengan nisan setinggi dua meter itu bersih dan sejuk, dari sana terlihat matahari mulai angslup ke laut. Tak lama kemudian azan magrib bergema dari arah masjid raya. Hari itu, saya tutup kunjungan dengan sholat berjemaah di masjid bersejarah Buton Butuni, dengan sebuah keunikan lain: semua jemaah bersalaman sambil bersimpuh, simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga. 

*Raudah Tanjung Banua adalah penyar, Tulisan ini pernah dimuar di Harian Suara Merdeka, Semarang

Thursday, May 15, 2014

Lomba Cipta Cerpen Sambut Ramadan

KEDIRI, Teraslampung.com– Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1435 Hijriah dan Hari Sastra Nasional 3 Juli 2014 mendatang, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menggelar Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional. Lomba ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apa pun.

Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela, Kamis (15/5), menyebutkan, lomba ini telah dibuka pada l 5 Mei 2014 dan naskah diterima paling lambat pada 25 Juni 2014. Sementara nama-nama pemenang akan diumumkan pada 3 Juli 2014, bertepatan dengan peringatan Hari Sastra Nasional.

Disebutkan, lomba ini bertema “Indonesia Masa Depan yang Diimpikan”. Sub tema tentang Kepemimpinan (sosok Presiden dambaan rakyat), Kesenjangan Ekonomi, Pendidikan dan Sosial, dan Kerukunan Antar Umat Beragama.

“Dari tema dan subtema itu, silakan difiksikan menjadi cerpen yang menarik dan enak dibaca,” kata Aliya Nurlela yang juga penulis Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

Selain itu, naskah cerpen harus asli (original) karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan pada lomba lain yang bersamaan. Cerpen mengandung unsur kebaruan dan memuat pesan moral serta memberi pencerahan kepada pembaca.

Lebih teknis lagi, paparnya, naskah cerpen diketik di komputer dengan ukuran A4/kuarto, maksimal 2-3 halaman 1 spasi), ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Peserta menuliskan Biodata (ditulis dalam bentuk narasi) dibubuhkan di lembar terakhir naskah. Cerpen yang diikutsertakan maksimal 2 (dua) judul.

Naskah dikirim ke panitia lomba via email: lombafamindonesia@gmail.com. Subjek Email ditulis: LOMBA CIPTA CERPEN FAM_NAMA PENULIS. Peserta diharuskan menulis surat pengantar yang menyebutkan karya adalah asli (original) dan belum pernah dipublikasikan serta mencantumkan alamat lengkap serta nomor kontak yang dapat dihubungi.

Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia menyediakan hadiah berupa: Uang tunai Rp250.000 + Paket Buku + Piagam Penghargaan (Juara 1), Uang tunai Rp200.000 + Paket Buku + Piagam Penghargaan (Juara 2), dan Uang Tunai Rp150.000 + Paket Buku + Piagam Penghargaan (Juara 3).

“Empat puluh cerpen pilihan (3 cerpen pemenang dan 37 cerpen nominasi) akan dibukukan, dan seluruh peserta akan mendapat piagam penghargaan,” tambah Aliya Nurlela. (rel)

Wednesday, May 7, 2014

KAMAPALA Semarang Taja Turnamen Futsal dan Pergelaran Budaya Nusantara 2014

SEMARANG, Teraslampung.com—Keluarga Mahasiswa Pelajar Lampung (KAMAPALA) Semarang  kembali akan  menggelar Turnamen Futsal dan Pagelaran Budaya Nusantara. Kegiatan yang sudah  menjadi agenda tahunan ini digelar untuk menyemarakkan  hari ulang tahun (HUT) keenam KAMAPALA. Untuk Tahun ini kegitan HUT KAMAPALA ini mengusung tema; “Mewujudkan Semarang Multikultur dengan Menjunjung Tinggi Sportivitas.”.

Ketua Umum KAMAPALA Mouklasin mengatakan, rencananya, turnamen futsal akan digelar pada Sabtu, 07 juni 2014 di Calcio Unito,  Banyumanik, Semarang. Turnamen yang memperebutkan piala bergilir Wali Kota Semarang ini akan diikuti oleh 32 tim yang terdiri dari organisasi mahasiswa kedaerahan dari seluruh nusantara yang ada di Kota Semarang.

“Sedangkan Pergelaran Budaya Nusantara akan dihelat pada Sabtu, 14 Juni 2014 di Balai Kota Semarang.” Papar Mouklasin.

Lebih lanjut, dikatakannya, tahun ini pihaknya  berharap bisa meraih sukses ganda. Sukses dalam penyelenggaraan dan juga menuai sukses prestasi mengingat Tim futsal KAMAPA saat ini sedang dalam kondisi mental yang baik.

“Baru-baru ini Tim Futsal KAMAPALA baru berhasil   menjuarai 2 turnamen di Solo dan Semarang ” imbuh Mouklasin.

Untuk suksesnya kegiatan tersebut,  Mouklasin, meminta dukungan seluruh warga dan pemerintah Provinsi Lampung. KAMAPALA selalu berusaha membawa nama baik dan prestasi bagi daerah Lampung. “Kami mohon doa dan dukungan agar kegiatan berjalan lancar,” ujar Mouklasin. (RL)



Gempa di Situbondo Merusak Puluhan Rumah

Dewi Ria Angela, Aan P.R./Teraslampung.com



ilustrasi akibat gempa
SITUBONDO —Gempa di Situbondo, Rabu (7/5) merusak puluhan  rumah warga. Getaran gempa yang berulang-ulang, membuat warga panik dan meninggalkan rumah. Meraka memilih ke luar rumah.

Gempa yang merusak rumah warga terjadi di Desa Kedung Loh Kecamatan Asembagus, Situbondo. Warga tak berani masuk rumah, karena khawatir gempa terjadi lebih besar lagi dan rumahnya rubuh.

Menurut salah seorang warga, memilih di luar rumah karena takut getaran gempa yang menimpa rumah mereka.

Sedikitnya 40 rumah yang temboknya retak, dua masjid, dan satu sekolahan asbes berikut temboknya rusak akibat getaran gempa.

“Saya sangat panik karena gempa terjadi berulang-ulang,” kata Sofia.

Sementara Gunawan menuturkan sejak pagi hingga siang, sekitar lima kali terjadi gempa Dia mengaku tak mau masuk ke rumah lantaran khawatir rumahnya ambruk terkena gempa. Gunawan bersama puluhwan warga memilih berada di luar rumah menggelar tikar dan tempat tidur.

Zaenul Arifin, kepala BPBD Situbondo membenarkan terjadinya gempa di Desa Kedung Loh, Kecamatan Asembagus Situbondo. Pihaknya masih melakukan metigasi atas kejadian ini dan meminta petugas BMKG Tretes untuk mendeteksi gempa. Pasalnya, dari data BMKG Tretes gempa ini tidak terdeteksi.

Sedangkan Dadang Permana, kepala BMKG Tretes Pasuruan menduga jika gempa Asembagus bersifat lokal. Kekuatan gempa berkisar 3,5 SR.


Sunday, April 27, 2014

Prajurit TNI AU Tewas Ditembak Anggota Brimob

Jayapura, Teraslampung.com--Pratu Wardeni, anggota TNI AU Batalyon Paskhas 468/Sarotama, Biak,tewas dengan tubuh bersimbah darah setelah ditembak Briptu NM, oknum anggota Brimob, di pasar malam Kompleks Mandiri, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor,  Minggu diri hari sekitar pukul 03.WIT.

Sebelumnya, terjadi perkelahian antara oknum anggota Brigade Mobile (Brimob) berinisial NM dengan korban Pratu Wardeni. Saat kejadian diduga korban sempat mengeluarkan pisau sangkur dan melukai NM pada bagian kepala, sehingga NM melakukan perlawanan dengan mencabut senjata jenis revolver dan menembak korban.

Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Sulistyo Pudjo Hartono menyesalkan kejadian tersebut. Menurut Pudjo, sebenarnya perkelahian itu bisa dilerai setelah ada koordinasi antarpimpinan yakni Kapolres Biak Numfor, Komandan Brimob Biak dengan rekan TNI AU dan diduga akibat pengaruh miras.

“Tetapi, tanpa sepengetahuan atasannya, anggota Brimob dan anggota TNU AU bertemu lagi di pasar malam. Mreka  bertengkar dan berkelahi sehingga  Pratu W meninggal dunia terkena tembakan, sementara anggota Brimob lainnya,  Briptu AS, terluka di kepala dan tangan terkena alat tajam,” kata Pudjo, Minggu (27/4)  petang.

Dikatakan Pudjo, saat ini Kapolda Papua, Inspektur Jenderal (Pol) Tito Karnavian telah menghubungi Pangkosek Hanudnas IV Marsma Asnan Muhidir dan Danrem Biak, Kapolres Biak saling berkomunikasi agar anggota tidak keluar dari markas kesatuan masing-masing agar kejadian tidfak meluas.

“Kapolda Papua sudah memerintahkan Waka Polda Papua, Kasat Brimob Polda Papua, Dir Reskrim Umum, Propam Polda sore ini juga untuk berangkat ke Biak agar melakukan koordinasi,” ujar Pudjo.

Kedatangan tim atas perintah Kapolda Papua itu sekaligus membawa anggota yang diduga sebagai pelaku peristiwa tersebut ke Polda Papua untuk diperiksa Propam Polda dan Reskrim Umum Polda Papua.

“Kapolda juga telah memerintahkan Wakapoda dan Kasat Brimob Polda untuk melakukan evaluasi atas kinerja dari Kasubden Brimob Biak dan bila perlu akan di ganti. Kami sampaikan kepada masyarakat dan rekan rekan TNI bahwa masalah ini adalah murni masalah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan kebijakan kesatuan sama sekali,” kata Pudjo.

Sore tadi, kata Pudjo, telah dilakukan olah tempat kejadian perkara  (TKP) yang dipimpin langsung Wakapolda Papua didampingi Wakasat Brimob. Mereka mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Barang bukti yang di TKP yakni 1 proyektil peluru, 1 sarung sangkur warna hitam , 1 jam tangan merk Q and Q warna hitan, 1 sandal jepit merek Adidas.Rombangan Wakapolda dan Wakasat Brimob kemudian  mengunjungi keluarga korban.

“Berdasarkan bukti permulaan yang cukup,  diduga kuat pelaku melakukan pengeroyokan sebagaimana pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP subsider Pasal 338 KUHP. Rencananya besok pagi (28/4) pukul 07.00 WIT pelaku akan diterbangkan ke Polda Papua dengan menggunakan pesawat Polri,” kata Pudjo.

Sumber: tabloidjubi.com

Tuesday, April 22, 2014

Aktif di Parpol, Seorang Anggota KPU di Papua Diberhentikan

Jayapura, Teraslampung.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua menonaktifkan sementara Ketua KPUD Kabupaten Supiori, Yohanis Sauwias, karena diduga melanggar Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.  Yohanis terbukti masih aktif i partai politik (Parpol) selama lima tahun terakhir.

“Dia pernah menjadi calon legislatif (Caleg) salah satu parpol tahun 2009 lalu. Namun, surat pernyataan bahwa dirinya tidak terlibat atau aktif di parpol tidak disertakan dalam laporan fit and proper test ketika hendak mendaftarkan diri sebagai calon anggota KPUD Supiori,” kata Komisioner KPU Provinsi Papua Divisi Hukum dan Pengawasan, Tarwinto, Selasa (22/4).

Menurut Tarwinto, KPU Papua mengetahui Yohanis masih aktif di parpolm dari laporan masyarakat. KPU setempat juga telah merekomendasikan masalah ini ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

“DKPP yang akan menentukan sikap atas pelanggaran yang dilakukan oknum tersebut. Dia berbohong ketika menandatangani surat peryataan dirinya tidak terlibat dalam partai politik selama lima tahun terakhir sesuai yang telah ditetapkan dalam regulasi,” kata Tarminto.

Hingga April 2014 sudah tiga orang komisioner KPU di Papua yang bermasalah. Sebelumnya, dua anggota KPUD Kabupaten Tolikara, yakni Yosep Wenda dan Muhammad Irfan, telah diberhentikan DKPP karena ketahuan masih menjadi pengurus parpol.

Di tempat terpisah, Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Kelembagaan, pada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Papua, Anugrah Pata mengatakan, tidak hanya anggota KPU di daerah, namun juga ada anggota Panitia Pengawas Pemilu (Pawaslu) yang diberhentikan oleh DKPP.

“Ada juga anggota Panwaslu dari Intan Jaya, Yesaya Widigipa juga diberhentikan oleh DKPP. Surat pemberhentiannya dari DKPP kami sudah terima, Jumat (18/4),” ujar Anugrah.

Menurutnya, yang bersangkutan diberhentikan karena terdaftar sebagai Caleg salah satu Parpol di Pemilihan Legislatif (Pileg), 9 April lalu. Sebelum Yesaya Widigipa, kata Anugrah lagi, sudah ada dua anggota Panwaslu Kabupaten Paniai yakni Yafet Upi dan Markus Gobay juga dinyatakan terlibat parpol.

“Yafet sudah mengundurkan diri sebelum diajukan ke DKPP. Sementara kasus Markus telah kami ajukan ke DKPP dan kami masih menunggu jadwal sidang putusan kasusnya,” ujarnya.

Sumber: tabloidjubi.com

Sunday, April 13, 2014

Pemilu 2014: Bupati dan Semua PNS di Kabupaten Nduga tidak Mencoblos

Jayapura, Teraslampung.com--Sebagian besar bahkan diduga semua  Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Nduga tidak ikut mencoblos pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu. Mereka tidak bisa memberikan hak pilihnya karena tidak tercatat di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Mereka  tidak dimasukkan dalam DPT dengan dalih pemerataan jumlah DPT di semua distrik di Kabupaten Nduga.

Seorang PNS yang enggan menyebutkan namanya mengaku, sebagai warga negara yang baik dia sudah mendatangi TPS untuk mencoblos. Namun, ketika sampai di TPS tidak bisa mencoblos karena keterbatasan surat suara.

“Padahal pada pemilihan Bupati Nduga saya bisa mencoblos,” kata dia.

Ketua KPU Nduga, Yemi Karter Deda, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa surat suara untuk Pemilu Legislatif di Nduga memang terbatas. Menurut Yemi hal itu akibat adanya miskomunikasi  sehingga tidak ada penambahan surat suara di Kabupaten Nduga.

“Jumlah DPT yang ada di 32 distrik di Nduga rata-rata 4.587 DPT. Dibuat rata-rata sebanyak itu karena kami diminta oleh DPRD dengan pertimbangan untuk menghindari terjadinya konflik horizontal,” kata Yemi, Minggu (13/4).

Di tempat terpisah, Bupati Kabupaten Nduga Yairus Gwijangge, mengakui hal itu. Bahkan, kata Yairus, dirinya pun juga tidak memberikan hak pilihnya.

“Hal itu karena keterbatasan suara yang didstribusihkan ke setiap TPS,” kata dia.

Bupati Yairus Gwijangge mengatakan,  awalnya Pemda telah mengatur jumlah pemilih dalam DPT melalui Dinas Kependudukan dengan jumlah penduduk sebanyak 12 ribu lebih untuk Distrik Keneyam  (Distrik Ibukota Kabuaten Nduga).

“Namun pihak DPR memintah pembagian DPT secara merata, dengan alasan untuk menghindari konflik. Akhirnya, disepakati untuk pemerataan DPT yaitu sebanyak 4.587 DPT pada semua distrik. Jumlah tersebut tidak termasuk PNS, sehingga PNS di Kabupaten Nduga tidak memberikan hak suaranya pada Pemilu 9 April 2014 lalu,” kata Bupati.

Bupati Nduga mengatakan, banyak pihak menilai pembagian jumlah pemilih tersebut dari sisi Negatifnya saja sehingga dilakukan pemerataan, padahal sesungguhnya jumlah penduduk itu tidak hanya berlaku pada Pemilu, tetapi juga untuk kebutuhan pendataan lainnya.

Sumber: tabloidjubi.com