Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Wednesday, June 4, 2014

Wow! Ada Air Terjun Tujuh Tingkat di Dekat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Oleh Syamsurrizal Mukhtar


Dalam rentang 200 meter air terjun tujuh tingkat di Way Mancingan, di Kuyungarang, Pekon (Desa) Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus,  Lampung.

Air terjun ini berada dalam hutan lindung Register 31 Pematang Arahan. Letaknya berdekatan dengan sisi timur Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), masuk 800 meter dari KM 133 Jalan Lintas Barat Sumatera (Jalinbarsum), yang melalui Gedongtataan, Pringsewu, dan Kotaagung.

Friday, May 30, 2014

Gua Maria Padang Bulan, "Lourdes Van Lampung"

Christian Heru Cahyo Saputro

Patung Bunda Maria di kompleks wisata Padang Bulan (Foto Christian Heru)

ANDA  ingin berziarah ke Gua Maria ?  Kalau kantong cekak,
tak meski harus jauh-jauh  ke Lourdes di Prancis. Gua Maria Padang Bulan, Kabupaten Pringsewu, Lampung,  bisa dijadikan salah satu destinasi pilihan wisata ziarah Anda.

Gua Maria yang menyandang nama Maria Perempuan Untuk Semua Manusiaini sering dijuluki para peziarah Lourdes Van Lampung karena tak kalah indahnya dengan Lourdes yang asli di Perancis. Jadi, tak bakalan menyesal kalau menjadwalkan Gua Maria Padangbulan menjadi tujuan wisata ziarah Anda mendatang.

Lourdes di Perancis adalah destinasi wisata ziarah umat katolik paling terkenal di dunia. Tempat ziarah Gua Maria Lourdes diyakini umat katolik merupakan  petilasan  penampakan bunda Maria.

Berziarah bagi umat katholik  merupakan salah satu ungkapan devosi kepada bunda Maria. Umat Katholik meyakini devosi kepada Maria merupakan jalan dalam mengungkapkan, menghayati, merenungkan, serta mendekatkan diri kepada Allah.

Di Indonesia juga banyak destinasi wisata ziarah umat katholik salah satunya adalah Gua Maria, Padang Bulan, Pringsewu, Lampung. Di kawasan ini Anda bisa retreat dan tetirah menggembalakan rohani yang lelah di dera kehidupan hedonisme.


Muasal Padang Bulan

Padangbulan--dalam bahasa Jawa  berarti terang bulan-- adalah nama sebuah desa berbukit di wilayah Kelurahan Pajaresuk, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Tanggamus. Dalam struktur Gereja, Padangbulan termasuk di dalam wilayah Paroki Santo Yusuf, Pringsewu.

Jarak Padangbulan dari kota Pringsewu sekitar tiga kilometer saja. Keistimewaan tempat ini yakni alami, masih banyak pepohonan besar yang dipertahankan sehingga jauh dari polusi udara dan kebisingan jalan raya. Selain itu, di sekitarnya masih banyak sawah-sawah yang produktif, sehingga menambah keasrian pemandangan yang hijau segar di musim tanam dan kuning melambai bila musim panen tiba.

Menurut sejarahnya, desa Padangbulan dibuka sekitar tahun 1930-an ole Pemerintah Belanda dengan program kolonisasi istilah sekarang transmigrasi. Di daerah ini ketika itu cukup banyak bermukim umat katholik. Mereka ini adalah orang-orang katholik yang aktif.

Kegiatan peribadatan dan juga kerohaniannya cukup semarak. Hari Minggu menjadi Hari Tuhan yang dikhususkan. Jumat pertama menjadi hari kebaktian Hati Kudus yang dihidupi. Maka tak mengherankan bila waktu itu keguyuban jemaat dan keakraban dalam masyarakat sungguh sangat terasa.

Persitiwa yang terjadi pada tahun 1948, merupakan titik penting sejarah Padangbulan. Ketika itu Agresi Belanda Kedua. Terjadilah ketegangan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menguasai Indonesia. Perundingan demi perundingan diupayakan, namun akhirnya terjadi clash yang tak terselesaikan.

Belanda menyerbu daerah Lampung termasuk juga Pringsewu. Pringsewu sebagai pusat misi menjadi fokus perhatian. Pastor Padmoseputro Pr. sebagai Pastor Paroki pada waktu itu, mengajak umat katolik meninggalkan Pringsewu. Sikap ini untuk memperlihatkan kalau Gereja Katolik merupakan bagian integral bangsa Indonesia; Selain itu juga, Gereja tidak mau bekerja sama dengan tentara Belanda yang menyerbu Pringsewu untuk menjajah kembali.

Padahal Gereja tidak mendapatkan hambatan sama sekali dari Belanda pada waktu itu. Namun seandainya tidak meninggalkan Pringsewu, tentu saja akan meneguhkan kedudukan Belanda. Mereka dapat saja beranggapan bahwa Gereja Katolik tidak berkeberatan terhadap agresi tersebut.

Atas saran umat di Padangbulan, pada tahun 1949, pastor, suster, guru-guru, anak-anak asrama juga umat katolik Pringsewu diminta mengungsi ke Padangbulan agar dekat dengan tentara Indonesia. Saran yang baik itu ditanggapi secara positif. Mereka diterima oleh keluarga Prawirodikromo, Martodiharjo, Kariyopawiro, Cokrorejo, dan  Renosentoso.
Sedangkan tentara Indonesia berada di seberang Sungai Way Semah. Karena jarak yang dekat ini, pada malam hari sering kali mereka menemui Romo Padmo untuk meminta saran dalam menghadapi situasi saat itu. Demikian juga dengan para pejuang yang terluka, sering kali mereka meminta pengobatan kepada para suster.

Situasi pengungsian tidak menghentikan kegiatan Gerejani dan karya para suster. Romo Padmo telah merintis Seminari Kecil sejak di Pringsewu  walau hanya ada beberapa murid saja. Ketika itu beliau mendirikan SMK (Sekolah Menengah Katolik
Pada masa pengungsian, siswa-siswi ini ikut juga mengungsi. Mereka tetap dibina, walau dengan sarana apa adanya. Dari seminari itulah dihasilkan dua orang gembala umat, yakni Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ kini menjabat Uskup Tanjungkarang dan Pastor Abdiputraraharja, SCJ.

Para suster membuka poliklinik darurat. Karya tersebut masih terus berkembang walaupun tidak lagi dilakukan di Padangbulan. Di kemudian hari, para seminaris Lampung bergabung dengan seminaris Palembang di Seminari Santo Paulus, Palembang. Sekolahan katholik ini  berkembang di Pringsewu hingga sekarang ini.

Ritual Jalan Salib

Prosesi Jalan Salib di Gua Wisata Padang Bulan di Kabupaten Pringsewu, Lampung. (Foto: Christian Heru C. Saputro)
Kompleks wisata Ziarah Gua Maria Padangbulan berada di kawasan bukit yang menghijau. Jadi setelah beribadah di depan gua Maria, Anda bisa mengikuti prosesi jalan salib. Rute yang dijalani dari stasi ke stasi merupakan jalur yang mendaki dan menurun di kawasan yang rimbun pepohonan. Dalam kekhusukan ibadah tak terasa Anda menikmati jungle track yang menyehatkan. Sekali melangkah dua tujuan tergapai sehat rohani dan jasmani.

Di dekat Gua Maria ini mengalir sungai kecil, selain itu juga terdapat sumur (sendang) yang tak pernah kering walau musim kemarau panjang. Warga sekitar sering mengambil air untuk kebutuhan keseharian jika musim kemarau tiba.

Kawasan Gua Maria Padang Bulan Fajar lokasinya berada di daerah perbukitan  yang menghijau. Kawasan ini bak oase  untuk mendamaikan hati dan menenangkan pikiran  setelah lelah dihantam kesibukan kerja.

Gua Maria Padangbulan ini biasanya ramai dikunjungi para peziarah pada bulan Mei – Oktober yang ditabalkan umat katholik sebagai bulan Maria. Kalau pada bulan-bulan lainnya, biasanya pada tiap hari Sabtu dan Minggu Gua Maria Padangbulan juga dikunjungi para  peziarah yang beribadah.

Dimana Menginap
Bila peziarah bersama rombongan sekaligus melakukan  retreat bisa menginap di Wisma retreat yang berada di kawasan komplek ini. Rumah retreat La Verna yang dikelola Suster-suster Fransiskanes dari Santo Gregorius Martir (FSGM) yang berdiri sejak 19 Agustus 1984.

Sedangkan yang ingin tinggal dan bermalam bisa di Bandar Lampung. Banyak pilihan hotel dari kelas melati hingga hotel berbintang. Atau Anda  juga bisa memilih hotel dan menginap di kota Pringsewu atau di Gisting, Tanggamus  ”puncak”nya Lampung .  

Trip Menuju Padang Bulan

Gua Maria Padang Bulan - Pringsewu, Lampung , letaknya sekira 35 kilometer, arah barat kota Bandar Lampung, atau sekitar 3  km dari kota Pringsewu arah Kabupaten . Tanggamus disebelah kanan jalan.

Sebuah sumur di dalam Gua Maria dengan air yang tidak pernah kering. (Foto: Christian Heru)
Bila menggunakan kendaraan umum para peziarah dari Jakarta bisa naik Bus Damri dari Stasiun gambir menuju Lampung. Turun di Stasiun KA Tanjung Karang, kemudian ganti angkutan angkot  menuju terminal Rajabasa. Setelah itu melanjutkan dengan bus jurusan Kota Agung, turun di Pringsewu, tepatnya di pangkalan ojek fajar esuk, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 200 meteran

Peziarah yang menggunakan kendaraan pribadi atau rombongan, dari pelabuhan Bakauheni menuju ke arah kota Tanjung Karang melewati bundaran Sukarno-Hatta, ada pertigaan belok kanan menuju Jl. Pramuka sampai di terminal kecil Kemiling belok kanan menuju Pringsewu dan melewati Pasar Gedungtataan, Pasar Gadingrejo sampai di pasar Pringsewu ke arah Kabupaten Tanggamus sekitar 3km dari lampu lalulintas Pringsewu belok kanan menuju lokasi Gua Maria Padangbulan.

Bila ke Lourdes bisa membawa oleh-oleh air suci yang diyakini punya mujizat untuk penyembuhan. Bila Anda berziarah ke Gua Maria Padangbulan juga bisa membawa oleh-oleh  Air Kerawang yang mengandung mineral tinggi juga berguna bagi kesehatan.

Sebaiknya sebelum pulang,  Anda bisa mampir ke Desa Kerawang di Ambarawa disini bisa dibeli air kesehatan yang diambil oleh masyarakat setempat dari sumur-sumur di kawasan tersebut konon karena mengandung mineral yang tinggi baik bagi kesehatan. Bahkan air produksi dari beberapa sumur sudah memiliki sertifikasi dari Dinas Kesehatan setempat.


Monday, May 26, 2014

Suatu Pagi di Pasar Terapung Sungai Kuin

Oyos Saroso H.N.

Jual beli di atas perahu di Sungai Kuin
HARI Hari masih gelap. Matahari belum menampakkan sinarnya. Umat Islam baru saja keluar dari Masjid Sultan Suriansyah—masjid tua bersejarah di tepi Sungai Kuin di Kota Banjarmasin—ketika rombongan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia menuju dermaga. Dermaga sederhana itu terletak persis di depan Masjid Suriansyah. Pagar besi dermaga itu masih berembun.

Karena kami datang di pagi buta, para jamaah yang baru selesai salat subuh itu menonton kami. Apalagi ketika kami melakukan pemotretan di sekitar dermaga dan halaman masjid.

“Ayo kita segera berangkat. Kalau terlambat pasar sepi dan tak ada yang bisa kita lihat,” teriak Memet, 30.

Memed adalah seorang penyair dan aktivis sastra. Ia warga Banjarmasin keturunan suku Dayak. Pagi itu kami mempercayainya sebagai pemandu.

Setelah pose dan berfoto beberapa menit, kami—sekitar 30-an orang—pun segera berangkat menuju Pasar Terapung Muara Kuin. Kami menyewa dua perahu dengan harga Rp 150 ribu per perahu. Perjalanan dengan perahu motor dari dermaga di depan Masjid Surianyah hingga Pasar Apung Sungai Kuin menjadi perjalanan yang mendebarkan bagi siapa saja.

Penyair Ahda Imran (nomor dua dari kanan) menikmati kopi hangat bersama kawan-kawannya di atas perahu di Sungai Kuin.
Pasar Terapung Muara Kuin sering juga disebut Pasar Apung Sungai Barito. Ia merupakan pasar tradisional yang berada di atas sungai Barito. Letaknya persis di  di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pasar Terapung Muara Sungai Kuin diperkirakan tumbuh sejak zaman Kerajaan Banjar. Ketika itu pasar daratan belum ada, karena sebagian besar kegiatan para warga memanfaatkan sarana air. Pasar tersebut dinilai unik karena tumbuh secara alamiah.

“Para nenek moyang orang Banjar dulu memilih kawasan pasar apung di situ karena arealnya yang sangat luas. Tempatnya merupakan muara Sungai Kuin dan berada di aliaran Sungai Barito yang memang terkenal sangat lebar,” kata Memet.
.
Barang-barang dagangan yang diperjualbelikan sebagian besar berupa hasil alam. Jual-beli sering dilakukan oleh para pedagang secara barter. Sebagian besar pelaku aktivitas di pasar tersebut adalah kaum ibu yang mengenakan busana sederhana serta topi yang besar dan lebar, yang disebut tanggui.

Meskipun bernama pasar, tidak ada kios atau toko di sana. Di pasar tradisional itu, para pedagang dan pembeli sama-sama menggunakan jukung, yaitu sebutan untuk perahu kecil dalam bahasa Banjar. Transaksi dilakukan di atas jukung. Di pasar terapung tidak ada organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan.

Uniknya, aktivitas di pasar ini hanya terjadi di menjelang matahari terbit hingga matahari terbit, atau sekitar pukul 05.00 hingga selepas pukul 07.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Panorama matahari terbit yang memancarkan semburat warna merahnya seolah-olah memacu para pedagang dan pembeli untuk segera merampungkan tugasnya. Para pedagang mendayung perahunya hilir-mudik agar dagangannya laku dan cepat habis; sementara para pembeli juga mendayung perahu untuk mendatangi pedagang.

Di pasar yang sudah berusia ratusan tahun itu, transaksi sayur-mayur dan hasil bumi terjadi baik dengan bahasa Banjar maupun Bahasa Indonesia. Para pedagang umumnya berasal dari kampung-kampung di sepanjang Sungai Barito dan anak-anak sungainya. Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh,  sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Perdagangan dengan sistem bapanduk atau barter kini menjadi satu hal yang langka di zaman modern.

Jukung-jukung penuh muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Suasana pasar terapung sungguh unik: banyak perahu besar dan kecil berdesak-desakan untuk melakukan transaksi jual beli di atas perahu masing-masing. Sesekali sebuah perahu terlihat oleng karena dimainkan gelombang Sungai Barito.

Penyair Raudal Tanjung Banua pacaran dengan mantan pacarnya. 
Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai sepi. Para pedagang dan pembeli pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan. Ada yang pulang dengan menyewa perahu motor, tapi banyak pula pembeli yang pulang dengan membawa perahu motor sendiri.

Sambil menyaksikan panorama pasar di atas air, wisatawan bisa sarapan sambil minum kopi atau teh panas di atas perahu yang disewanya. Caranya sangat mudah, yaitu bertepuk tangan untuk memanggil penjaja makanan dan minuman yang berseliweran di sekitar pasar. Penjaja makanan dan minuman biasanya juga memakai perahu tambangan. Perahu tambangan adalah jenis perahu khas Banjarmasin yang bentuknya panjang dan beratap. Perahu tambangan bisa terapung saja. Bisa juga hilir-mudik di pasar terapung.


Dengan cekatan penjaja makanan tersebut akan segera menghampiri para pemesannya. Untuk mengambil makanan berupa kue—biasanya berupa pisang goreng, roti bakar, atau beberapa jenis lontong—penjual biasanya menyediakan sebatang kayu atau bambu sepanjang dua meter yang ujungnya diberi kawat yang dibengkokkan. Dengan alat itulah pembeli bebas mengambil sendiri makanan yang dibelinya.

Bersamaan sepinya pasar, dalam perjalanan pulang menuju dermaga, para wisatawan masih bisa mengunjungi lokasi wisata di tepi Sungai Kuin, yaitu Masjid Sultan Suriansyah. Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Beberapa ratus meter dari Masjid Suriansyah terdapat Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Kalau belum cukup puas, sambil berperahu masih menikmati pemandangan alami lainnya. Yaitu pemandangan di sisi kiri-kanan Sungai Kuin yang dipenuhi dengan pemandangan khas perkampungan masyarakat kampung pinggir sungai: mencuci piring dan gelas, mencuci pakaian, bahkan mandi, sikat gigi, dan membuang kotoran!

Warga Kampung Kuin sebenarnya sadar bahwa air sungai yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak higienis. Mereka mengaku terpaksa karena kesulitan mendapatkan air bersih. Namun, khusus untuk memasak, mereka membeli air bersih yang dijajakan para pedagang air dengan perahu motor.

Wisatawan harus hati-hati kalau hendak pulang dan turun di dermaga kapal di depan Kantor Pemda Kalimantan Selatan. Itu terutama bagi wisatawan yang gemar naik di atas atap kapal, karena kepala bisa “terhamtam” jembatan. Sebab, di sepanjang Sungai Kuin mulai dermaga di depan Masjid Surianyah hingga dermaga di depan Kantor Pemda Kalimantan Selatan terdapat 6 jembatan.

Sunday, May 18, 2014

Sejarah Benteng Buton: Tiada Benteng yang tak Bercelah

Raudal Tanjung Banua

Makam Sultan Alaudin (foto Raudal Tanjung Banua)
Kesultanan Buton pernah menjadi ajang pergulatan sejarah penting. Bersama kerajaan lain di timur tanah air, seperti Bone, Gowa, Ternate dan Tidore, Kesultanan Buton tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang diperhitungkan. Maklum, letaknya sangat strategis di jalur laut dan rempah, antara barat dan timur Nusantara. Tak heran, Belanda tergiur menguasainya, namun selalu gagal berkat kecerdikan Sultan Buton yang membuat “persekutuan abadi” dengan VOC.
Persekutuan yang disetujui Kapten Apollonius Scotte dan Sultan La Elangi (1613) ini bersifat saling menguntungkan, termasuk mencegah serangan Gowa. Tapi konflik Buton-Gowa (Makassar) membesar setelah bangsawan Bone (Bugis) bernama Aru Palakka, saingan Sultan Hasanuddin, melarikan diri ke Kraton Buton. Ia dilindungi Sultan Aidul Rahim atau La Sombata. Ketika pasukan Hasanuddin menyerbu, Aru Palakka tak ditemukan karena tempat persembunyiannya jauh di celah tebing karang.
Serangan Gowa berikutnya terjadi akhir tahun 1666 dipimpin Karaeng Bonto Marannu. Sultan Buton dibantu Aru Palakka, berhasil mempreteli pasukan “Ayam Kinantan” dan mengasingkan mereka di Pulau Makasar (ingat, dengan satu “s”), sebuah pulau kecil di muka kota Bau-bau. Kini, tiap tahun ada Festival Pulau Makasar menampilkan kreasi seni dan kuliner masyarakat pulau itu. Bentuk rekonsiliasi?
Jejak sejarah penting lainnya adalah tragedi tahun 1969. Ketika itu, bangsawan Buton dituduh menerima pasokan senjata untuk membangkitkan ideologi komunisme. KRI Dompu yang berlayar dari Tanjung Priok ke Maluku, dituduh mendrop senjata di Teluk Sampolawa. Bupati Buton, M. Kasim, ditahan menyusul ratusan orang lainnya hilang tanpa pengadilan. Sebagian sejarawan berpendapat, tragedi itu buntut persaingan dua kota niaga dan kultural sejak lama antara Makassar, Sulawesi Selatan, di barat dan Buton di timur.
Akibatnya, ibukota Sulawesi Tenggara dipilih Kendari, bukannya Bau-bau yang strategis dan bersejarah. Belum lagi rivalitas antara Buton dan Muna. Ada pula berpendapat, tragedi itu masuk ke benteng Buton akibat “permainan” orang dalam yang tersingkir dari tahta dan kuasa. Jadi tiada benteng yang tak bercelah. Tapi itu sudah jadi sejarah yang perlu digali kebenarannya.
Kota Bau-bau dilihat dari atas ketinggian. (Foto: Raudal Tanjung Banua)
Yang jelas, Kota Bau-bau dan Buton umumnya, kini terus berbenah mengembangkan potensi wisata. Banyak jalur bisa mengantar wisatawan ke mari. Jalur laut tentu yang utama, bisa langsung dari Makassar dengan kapal Pelni, atau naik kapal cepat Kendari-Raha-Bau-bau. Pesawat langsung Makassar-Buton sekitar tiga kali dalam seminggu. Maka, deretan tempat wisata tumbuh, mulai pantai Kamali dengan patung naga dan ikan bakarnya, Pantai Bukit Kolema dengan saraba' dan pisang eppe'-nya, suaka margasatwa Lambusango, sampai perkampungan orang laut atau Bajo di Lasalimu.
Atau mampirlah ke kompleks Kantor Walikota Bau-bau, tak jauh dari pusat kraton. Pada awal pembangunannya diprotes masyarakat sebab terlalu jauh di atas bukit. Namun walikota Bau-bau bergeming, alasannya ingin mengembangkan wilayah kota. Tak lama, rumah sakit daerah juga dibangun di situ. Alhasil, tanah yang selama ini terlantar jadi naik pasarannya. Kini lokasi itu menjadi tempat terbuka atau ruang publik, dilengkapi hotspot, penuh muda-mudi dengan pemandangan sekeliling yang memukau.


Benteng Kraton Buton, Benteng Terluas di Dunia

Raudal Tanjung Banua*
Berkunjung ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, di samping mendapat kepuasan tak terbilang dari panorama lautnya yang indah, juga jangan luputkan menjelajah “Benteng Terluas di Dunia”. Ya, itulah predikat Benteng Kraton Buton yang tercatat dalam Guinnes World Record tahun 2006. Benteng sepanjang 2.780 m dan luas 23 ha ini dibangun pada abad ke-16 M, terletak di perbukitan Palagimata yang menjadi latar kota Bau-bau. Kota Bau-bau sendiri merupakan kota pelabuhan yang ramai di timur tanah air, dan menjadi pintu masuk wisatawan ke surga bawah laut gugusan Kepulauan Wakatobi.
Tidak sulit mencapai benteng, sebab terletak tak lebih tiga kilometer dari pusat kota Bau-bau. Ada mikrolet dan ojek sepeda motor yang bisa Anda tumpangi dengan ongkos Rp 5000. Saya beruntung diantar mobil panitia workshop penulisan, sehingga bisa langsung mengelilingi benteng. Begitu melewati gerbang utama bertulisan “Anda Memasuki Kawasan Benteng Terluas di Dunia”, pemandangan ajaib segera menghampar di depan mata. Dinding benteng yang hitam-tebal mengular sepanjang sisi bukit, dengan pola naik-turun yang unik. Bentuknya tidak fokus pada satu jenis, ada berbentuk balok, bundar, lingkaran atau kombinasi.
Tinggi dinding juga tidak sama rata, ada yang lebih rendah, sedang, tinggi atau diselang-selingi. Efeknya, kesan benteng jadi tidak masif sehingga tak membosankan dipandang mata. Lalu di beberapa bagian terdapat pintu-pintu beratap, lengkap dengan meriam tua yang mengarah ke luar. Bunga kamboja, pisang dan kapuk randu berderet tumbuh di tepi-tepinya.
Terbuat dari batu karang, Benteng Kraton Buton memagar rapat sejumlah perkampungan, istana sultan, masjid, makam dan rumah para bangsawan (wolio mendebu). Namun, bukannya tanpa celah, sebab ada banyak pintu dengan berbagai fungsi dan nama, seperti Baluarana Wabarengalu dan Baluarana Tanailandu. Sebuah pintu lagi tampak mengarah ke jurang, dulu pernah dipakai Aru Palakka atau La Toondu, bangsawan Bone, untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Sultan Hasanuddin dari Gowa, Makassar.
Saya tercengang takjub memandang semua itu, terlebih pemandangan ke arah laut sangat menggetarkan. Kota Bau-bau yang padat dan pelabuhannya yang dipenuhi kapal-kapal terhampar jelas di bawah sana, termasuk pulau kecil di muka teluk, Pulau Makasar (dengan satu huruf “s”). Pemandangan juga sampai jauh ke tepian laut yang menggaris dua pulau bertetangga, Buton dan Muna. Ya, kedua pulau ini memang memanjang bersisian di kaki Pulau Sulawesi, dipisahkan selat Buton yang sempit layaknya sungai, sehingga ketika melewatinya dalam perjalanan dari Kendari kita disuguhi pemandangan laut, pulau dan tebing batu yang luar biasa indahnya. Mungkin karena berdekatan itu pula, secara administratif, pembagian kabupaten tidak berdasarkan pulau, namun langsung memotong kedua daratan; Kabupaten Muna juga mencakup sebagian pulau Buton, dan sebaliknya.
“Jauh di sana Gunung Kabaena, kampung-kampung di bawahnya terkenal dengan gadis-gadis cantik,” kata Yusri, orang yang mengantar saya, menunjuk nun ke arah Pulau Kabaena.

***

Setelah puas berlama-lama di sisi tembok benteng, saya memutuskan memasuki pusat Kraton Buton. Cukup mengherankan, tidak ada satu retribusi pun yang perlu dibayar, karcis masuk bahkan parkir gratis. Selain itu, tidak terlihat pedagang makanan baik asongan maupun di kios resmi. Saya angkat topi dari sisi kenyamanan, kebersihan dan ruang publik, tapi bagaimana dengan pemasukan Pemda serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar? Entahlah, saya belum mau berpikir lebih lanjut, termasuk memikirkan kenapa Benteng Buton mengalahkan Tembok Cina soal prediket “Benteng Terluas di Dunia”?
Sepenuhnya saya ingin menikmati pusat Kraton Buton, di mana terdapat masjid raya, istana bangsawan Wolio, batu igandangi (tempat pengukuhan sultan) dan balairung. Ada juga bukit kecil tempat peristirahatan abadi sultan Buton pertama yang beragama Islam, Sultan Murhum. Pusat benteng ditandai oleh sebuah tiang kayu unik setinggi 21 m, berusia hampir 300 tahun, tempat bendera kesultanan yang disebut tombi longa-longa pernah dikibarkan. Kini bendera tradisional sepanjang lima meter berbentuk lancip seperti daun padi itu, hanya dapat saya bayangkan seolah berkibar megah di ujung tiang jati yang masih kokoh berdiri.
Tiang unik itu berdiri persis di depan masjid raya Kesultanan Buton Butuni yang usianya jauh lebih tua. Dibangun tahun 1712, sekilas masjid ini tampak sederhana. Namun jika diamati arsitekturnya tak kalah unik, yakni bersusun tiga, dan setiap bagian hanya “dikunci” oleh 33 pasak kayu—tanpa paku—yang melambangkan jumlah bacaan suci saat zikir. Secara filosofis, ketiga bagian ini melambangkan anatomi manusia yang terdiri bagian bawah (kaki), tengah (perut) dan atas (kepala). Secara keseluruhan pula, jika dilihat dari udara, benteng Buton konon menyerupai orang sedang tahayat akhir dalam sholat, demikian beberapa info yang saya dapatkan dari warga setempat.
Sebagaimana jamaknya bangunan zaman dulu di Buton, kayu merupakan bahan utama masjid raya, di samping sedikit batu untuk pondasi dan pagar bawah. Kayu jati pilihan (Buton dan Muna penghasil kayu jati terbaik) juga terlihat kokoh di tiang, dinding dan lantai rumah para bangsawan Wolio. Rumah itu dibuat sampai bertingkat empat, bertiang puluhan dan dindingnya penuh ukiran. Menariknya, di bagian puncak atap selalu terdapat ukiran kayu berupa buah nenas.
La Ode Nuri, salah seorang penduduk kraton, mengatakan bahwa spritualisme orang Buton mempercayai konsep reinkernasi. Kenapa simbolnya nenas? Sebab buah nenas memiliki daun di bagian bawah dan bagian atas sebagai pertanda kehidupan. Selain itu, naga juga menjadi simbol kultural hasil akulturasi dengan masyarakat Tionghoa, begitu katanya.
Selesai bercakap-cakap, saya menuju pelataran istana bangsawan di mana terdapat jangkar raksasa dan monumen silsilah raja/sultan Buton. Konon, jangkar itu milik kapal VOC yang dikalahkan sultan Buton. Ada pun di monumen silsilah, terukir 43 nama raja dan sultan, dimulai Raja Waa Kaa Kaa pertengahan abad XIV dan diakhiri La Ode Falihi Kaimudin tahun 1960-an. Perbedaan gelar Raja dan Sultan tampaknya ditandai masuknya agama Islam tepatnya pada raja ke V (terakhir) sekaligus sultan pertama, Sultan Murhum.

Hari sudah rembang petang, terlihat dari permukaan laut yang disepuh cahaya keemasan. Saya segera beranjak ke makam Sultan Murhum, tapi dua orang bocah Buton mencegat saya. Ternyata mereka minta difoto. Klik! Saya foto mereka dengan latar jangkar besar, setelah itu saya bergegas ke makam. Makam dengan nisan setinggi dua meter itu bersih dan sejuk, dari sana terlihat matahari mulai angslup ke laut. Tak lama kemudian azan magrib bergema dari arah masjid raya. Hari itu, saya tutup kunjungan dengan sholat berjemaah di masjid bersejarah Buton Butuni, dengan sebuah keunikan lain: semua jemaah bersalaman sambil bersimpuh, simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga. 

*Raudah Tanjung Banua adalah penyar, Tulisan ini pernah dimuar di Harian Suara Merdeka, Semarang

Saturday, May 10, 2014

Tongseng Ikan Sidat dari Jogja

Ke Yogyakarta, cicipi tongseng ikan sidat

YOGYAKARTA, TERASLAMPUNG.COM—Kota Jogjakarta punya segudang kenangan. Itu sebabnya, “kota pelajar” ini selalu membuat kangen setelah berkunjung. Di sini ada Malioboro, kawasan wisata dunia. Di Jogjakarta ini juga terkenal dengan kuliner unik, yakni Tongseng Ikan Sidat.

Ikan sidat atau ikan moa atau anguilla japonica  adalah jenis ikan yang cukup mahal di dunia karena kandungan gizinya. Hhidangan ikan sidat yang sangat digemari di Jepang perporsinya bisa berharga jutaan rupiah.

Nah, di Bantul, Yogyakarta, ikan sidat yang kaya protein dan gizi itu diolah secara tradisional dan disajikan  dengan nama  tongseng sidat. Nah, jika ingin mencicipi masakan ini, datanglah ke Kampung Edukasi Watulumbung, Bantul, Jogjakarta.

Ikan sidat diambil dari kolam pembudidayaan di Kampung Edukasi Watulumbung, Bantul. Beberapa ekor ikan sidat berumur 7 bulan diambil dengan menggunakan jaring, untuk memenuhi pesanan konsumen yang ingin mencicipi lezatnya daging ikan sidat.

Setelah dibersihkan dan diambil durinya, potongan ikan sidat digoreng setengah matang dengan wajan di atas tungku tradisional. Pembakaran menggunakan kayu.

Sementara bumbu yang digunakan  sama seperti jika akan memasak tongseng kambing,.namun perlu ditambahkan lebih banyak jahe untuk menghilangkan bau amis ikan.

Setelah bumbu ditumis, ikan sidat setengah matang dimasukkan ke dalam wajan dengan ditambah sedikit air santan kelapa. Apabila menginginkan rasa pedas, dapat ditambah potongan cabai ke dalam masakan.

Memasak ikan sidat tidak perlu waktu lama,  karena jika dimasak dalam waktu lama akan mengurangi kandungan gizi dan protein yang ada dalam ikan.

Menikmati tongseng ikan sadat akan semakin nikmat jika ditemani tahu tempe bacem dan sambal bawang.

Di Kampung Edukasi Watulumbung ini semua perabotan makan minum menggunakan perlengkapan tradisional, seperti piring kaleng, bakul nasi bamboo, dan air kendi.

Berapa harga tongseng ikan sadat? Cukup dengan uang Rp500 ribu pelanggan dapat 1 kilogram tongseng ikan. Hidangan ini bisa dinikmati bersama keluarga, sambil memandang keindahan panorama Pantai Laut Selatan Bantul dari atas ketinggian bukit. (Isbedy Stiawan ZS/dbs)


Kabupaten Lampung Barat: Memberi Kemudahan Investor Mengembangkan Sektor Wisata

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com


LIWA - Kabupaten Lampung Barat termasuk daerah yang memiliki keindahan alam yang lengkap: ada gunung, perbukitan indah, pantai, dan danau. Selain hutan lebat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) seluas 360 ribu hektare, Lampung Barat juga memiliki alam indah yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Uniknya, Lampung Barat memiliki dua kota utama yang memiliki perbedaan iklim yang kontras, yaitu Kota Liwa yang berhawa sejuk dan Kota Krui yang panas. Liwa berikilim sejuk seperti Puncak, Jawa Barat,  karena berada di dataran tinggi, sementara Krui panas karena merupakan daerah pantai.

Dengan ibukota di Liwa, Lampung Barat sebenarnya daerah baru. Kabupaten ini berdiri pada 16 Agustus 1991. Sebelumnya Lampung Barat termasuk bagian Kabupaten Lampung Utara. Lima belas tahun lalu, pendatang masih takut ke Lampung Barat karena hutannya masih sangat lebat dan jalan raya masih seperti tempat kubangan kerbau.

“Orang yang baru datang ke Lampung Barat akan merasa ngeri karena dulu sangat sepi dan banyak hutannya. Jalan raya beraspal baru dibuka setelah Gubernur Lampung dijabat Pudjono Pranyoto,” kata mantan Kepala Kekajsaan Negeri Liwa yang juga mantan Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Marwan Effendi, kepada Teraslampung, beberapa waktu lalu.


Kini Lampung Barat sudah jauh berbeda dengan lima belas tahun lalu. Meski tergolong daerah baru, Lampung Barat kini termasuk menjadi andalan Provinsi Lampung dalam pengembangan sektor pariwisata. Oleh Pemda Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Barat ditetapkan sebagai “golden triangle” pariwisata selain Gunung Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan dan Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur.

Untuk mendukung pembangunan sector pariwisata Pemda Lampung Barat memberikan kemudahan perizinan kepada para investor. Itulah sebabnya, ada seorang warga Amerika Serikat yang sejak beberapa tahun lalu mengembangkan Pantai Biha dan Tanjung Setia sebagai arena surfing. Tiap hari libur kawasan itu menjadi surga bagi  bagi wisatawan asing dan domestic untuk surfing.

Pilihan Pemda Lampung menjadikan Lampung Barat sebagai kawasan pengembangan parisiwata tak lepas dari potensi alam yang dimiliki Lampung Barat. Dengan luas wilayah 4.950,40 km2, sebanyak 70 persen atau sekitar 326.643 ha di antaranya adalah  kawasan hutan atau kawasan nonbudidaya yang terdiri atas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS); Hutan Lindung (HL); dan Hutan Produksi Terbatas (HPT).

TNBBS sangat terkenal di dunia setelah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan dunia, repong atau hutan dammar mata kucing dari Krui dikenal di Eropa sejak zaman kolonial Belanda, sementara produk kopi dari Lampung  Barat menjadi andalan ekspor kopi Lampung sejak puluhan tahun lalu.

Kompleks wisata Danau Ranau-Lumbok Resort, Lampung Barat
Luas areal kebun kopi robusta di Lampung Barat saat ini mencapai 60.471,8 ha atau 65,6% dari luas areal perkebunan yang ada.  Sementara masyarakat yang terlibat dalam usaha tani kopi mencakup 92,24% yang meliputi petani/pekebun, pedagang dan jenis usaha lainnya yang terkait dengan usaha tani kopi, dimana terdapat 40.135 Kepala Keluarga (KK) tani berbasis komoditas usaha tani kopi mencapai dengan rata-rata lahan yang dikelola tiap KK adalah 1,5 ha. Angka ini sama  dengan 201.152 jiwa atau 51,83% dari jumlah penduduk Kabupaten Lampung Barat.

Dari luas Kabupaten Lampung Barat tersebut hanya 30% atau 171.247 ha yang merupakan kawasan budidaya yang dapat dikelola.  Dan dari luas kawasan budidaya tersebut 44.000 ha adalah kawasan perkebunan, 75 persennya adalah lahan perkebunan kopi. Sisanya adalah lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa, lada, kakau dan tanaman hortikultura serta tanaman hutan lainnya seperti damar, rotan dan kayu manis.

Menyadari sebagai daerah yang dipenuhi hutan, sejak tiga tahun lalu mendlarasikan diri sebagai “Kabupaten Konservasi”. Sebagai “Kabupaten Konservasi” mau tidak mau semua pembangunan di Lampung dilakukan berdasarkan pada pendekatan konservasi.

Bupati Lampung  Barat Mukhlis Basri mengatakan komitmen untuk menjadikan Lampung Barat sebagai Kabupaten Konservasi dimaksudkan agar pembangunan fisik dan penyelamatan lingkungan hidup berjalan seiring.

“Semua warga Lampung Barat harus memiliki kesadaran yang sama untuk menyelamatkan alam sekitarnya. Kalau tidak, maka kelangsungan hidup mereka akan terancam karena faktanya sebagian besar kawasan Lampung adalah hutan. Bahkan, ada hutan yang sama sekali tidak bisa diolah, yaitu hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,” kata Mukhlis Basri.

Mukhlis mengatakan pariwisata menjadi andalan Lampung Barat selain sektor perkebunan. Sentra wisata bahari terdapat di Pantai Tanjung Setia, Pantai Biha, Pantai Labuhan Jukung, dan Pantai Way Jambu. Semua pantai itu berpasir putih dan berombak besar karena langsung menghadap Samudera Hindia. Potensi wisata lain adalah  Danau Ranau, Gunung Seminung, Gunung Pesagi, arung jeram di Sungai Way Besai, kebun damar, dan wisata buru di Tanjung Belimbing.

Mukhlis mengatakan jarak yang jauh dari Kota Bandarlampung menjadi salah satu kendala pengembangan wisata di Lampung Barat. Dari Kota Bandarlampung perlu waktu sekitar 6 jam untuk menuju Lampung Barat dengan perjalanan darat.”Tapi kini kami bersama Pemda Provinsi Lampung sedang membangun Bandar Udara Pekon Serai. Dua tahun lagi kami targetkan bandara itu akan jadi sehingga bisa mempermudah akses bagi wisatawan,” kata Mukhlis Basri.

Friday, May 9, 2014

Menyambangi Petani Buah Apel di Utara Kota Batu

Aan Frimadona Rosa

Memetik apel di kebun. (Aan)
Ketika kita membeli buah apel hijau di pasar atau swalayan mungkin yang ada benak kita tertuju pada sebuah daerah yang ada dipulau Jawa Timur tepatnya Malang. Ya, apel Malang masyarakat sering menyebutnya. Kini Malang telah dimekarkan menjadi dua kota dan satu kabupaten. Yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang yang ibukotanya Kepanjen. Ketiga daerah tersebut sering disebut dengan Malang Raya dan kesemuanya juga dikenal sebagai sentra penghasil buah apel.

Untuk lebih melengkapi liburan dan menambah referensi kota yang anda kunjungi ada baiknya berkunjung ke Kota Batu, sekaligus mencicipi buah apel petani Kota Batu.

Kota Batu terletak 20 km arah barat kota Malang, sekitar 15-20 menit memakai kendaraan mobil/sepeda. Kota Batu identik dan terkenal sebagai Kota Apel. Sektor wisata petik apel dijadikan  salah satu objek wisata yang menarik, Apel komoditas unggulan di Kota Batu pun menjadi ikon Kota Batu, Perkebunan apel juga cukup mempunyai pengaruh dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di kota ini.

Kota Batu memiliki pemandangan yang serbahijau menghampar sejauh mata memandang. Udara yang belum terkena polusi terasa begitu menyegarkan terlebih para wisatawan yang datang ke kota batu pastinya berkeinginan berlama-lama menghabiskan waktu akhir pekan di daerah yang dikenal dingin ini. Wilayah kota ini berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 15-19 derajat Celsius sehingga sangat sejuk dan asri.

Topografi yang berbukit dan dikeliling berbagai macam pohon juga sayuran  menjadikan kesejukan yang dapat menyergap pengunjung di kota Batu ini untu tak akan beranjak akan suasana wisata yang jaran ditemui pada daerah lain. Potensi perkebunan apel juga di kembangkan sebagai obyek wisata oleh masyarakat sekitar kota Batu sebagai penghasil buah apel teratas pulau Jawa.

Perkebunan apel di Batu sangat luas.Salah satunya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Petani apel disana menjadikan Lahan sebagai lokasi tempat wisata petik apel yang disepakati warga desa disana. Setiap pengunjung harus membayar tiket Rp 20 ribu sebagai sarana untuk bisa masuk ke kebon apel.

Usai menebus tiket, petugas memberi satu kantong kain sebagai wadah pengunjung untuk membawa pulang apel dan satu gelas minuman sari apel sebagai pelepas dahaga tatkala pengunjung memetik dan mengelilingi kebun apel petani.

Wisata petik apel telah menjadi salah satu obyek wisata favorit, baik untuk pengunjung domestik atau wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Merasakan kesegaran apel batu dan menikmati suasananya perkebunan apel akan menemukan pengalaman yang berbeda.

Ada semacam keadaan di mana pengunjung laiknya menjadi petani buah apel. yang bisa memetik langsung dari pohonnya jugan menikmati sepuasnya di area kebun yang telah tertata rapi dan apik sambil menikmati indahnya pemandangan alam disekitar Kota Batu. Ini pasti menyenangkan dan tak salah  bahwa ini tujuan pengunjung sebagi daftar urutan utama untuk berlibur kelak akan datang.

Buah apel dapat diolah dengan berbagai hidangan kripik apel atau pun jus. Bagi pecinta jus, buah apel yang sudah dipetik juga dapat dijadikan dalam bentuk jus, semakin lengkap rasanya menikmati buah apel di Batu ini. Citarasa apel yang segar dan udara sejuk membawa kepuasan tersendiri bagi pengunjung. Apalagi ditambah dengan tersedianya fasilitas lengkap yang dibutuhkan seperti keran air untuk membersihkan buah apel.

Suasana di perkebunan apel juga akan kita temui petani apel yang sedang berkebun baik laki-laki dan perempuan tampak sibuk memanen apel.Biasanya petani membawa tas kain yang diselempangkan di pundak sebagai wadah apel. Kalau penuh, segera saja mereka menumpahkannya ke keranjang yang disebar di kebun apel.

Untuk pekerja laki-laki, mereka memiliki tugas tambahan keranjang apel yang penuh ke depan pintu kebun. Rata-rata, berat perkeranjang sekitar 30 kg. Kalau sudah dicatat, keranjang yang terbuat dari bambu itu dinaikkan ke dalam mobil pikap pengangkut yang diparkir di tepi jalan yang membelah kebun apel. Uniknya, pemilik kebun biasanya ikut bergabung bersama pekerja lain memetik hingga mengangkut hasil panen.

Puas dan sangat menyenangkan menikmati sekeliling area perkebunan apel milik masyarakat di utara Kota Batu ini, saya beruntung bisa berkunjung di kota ini.  Sembari berkemas untuk bersegera pulang dalam hati saya berkata “Sungguh tak bisa melupa akan perjalanan kali ini bahwa sesuatu  dan suasana baru yang posit akan menambah pengalaman dan pengetahuan yang berdampak segar juga damai...”

Saturday, March 15, 2014

Objek Wisata Lampung Selatan: Menunggu Pengelolaan Serius

Arman AZ 


Gunung Anak Krakatau
Kabupaten Lampung Selatan adalah gerbang pulau Sumatera. Siapa pun yang hendak menyeberang dari Jawa ke Sumatera lewat jalur darat dan laut, tentu akan melintasi kabupaten ini. Sesungguhnya banyak objek wisata pantai di Lampung Selatan yang belum familiar di telinga wisatawan luar Lampung. Akhir Oktober silam, saya berkesempatan menjelajahi sejumlah objek wisata pantai di Lamsel, terutama yang berada di kota Kalianda dan sekitarnya.

Perjalanan menjelajah di mulai ke Way Belerang. Objek wisata air panas ini sudah cukup familiar bagi masyarakat Lampung. Pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur lainnya, tempat ini banyak disambangi warga yang rekreasi. Tidak setiap daerah di Indonesiamemiliki tempat wisata belerang semacam ini. Sayangnya,  potensi ini tidak di kelola dengan serius, padahal bisa membuka peluang meningkatnya dunia pariwisata di Lamsel. Para pengunjung adalah potensi untuk mempromosikan, sekiranya mereka mendapatkan kenyamanan dan ketenangan saat berkunjung. Tetapi, permasalahan pariwisata memang bagai benang kusut. Dunia pariwisata hanya indah di dalam promosi, namun realitasnya semrawut dan jorok bahkan terkesan tidak diurus.

Begitulah. Saya lanjutkan perjalanan mengunjungi taman wisata pantai Laguna Helau. Perjalanan dari Kota Kalianda menuju Laguna Helau membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Menyusuri jalan aspal berbatu yang berliku tidak akan membosankan karena pemandangan tepi pantai sungguh mengasyikkan. Sepanjang tepi pantai, kami saksikan masyarakat sekitar sedang memancing, berenang, atau bercengerama. Ombak laut cukup besar menampar batu dan deburnya keras sekali.

Saat saya tiba, gerbang Laguna Helau hanya terbuka sedikit. Cukup untuk sebuah motor. Seorang penjaga keluar dari gardu yang sudah tua dan kacanya berdebu. Sejenak saya mengobrol, setelah itu ia mempersilahkan saya memasuki kawasan Laguna Helau. Sejumlah cottage tersebar di bibir pantai. Tersebab ombak pantai Laguna Helau sangat besar, sengaja pasir di dekat bibir pantai ditinggikan agar lidah atau percikan gelombang tidak sampai ke cottage.

Lebih dari 5 cottage dan sebuat tempat pertemuan terbuka tersedia di Laguna Helau. Cottage di Laguna Helau dibuat berbentuk rumah panggung, rumah tradisional khas Lampung. Sayang, cottage-cottage yang tersedia terkesan tak terurus dan sudah lama tidak digunakan. Hal itu terlihat dari kunci gembok yang sudah berkarat. Kisi-kisi jendela dan pintunya sudah lapuk termakan cuaca pinggir pantai. Tetapi,  tatkala saya mengintip ke dalam: ruang, kursi, dan tempat tidur tetap terpelihara dan masih bagus. Dinding kayu terpelitur. Warnanya masih terang. Kemungkinan baru saja dicat.

Menurut petugas Laguna Helau, harga sewa cottage bervariasi: dari Rp 300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Fasilitas 1 dan 2 tempat tidur, 1 ruang santai, dan beranda menghadap pantai. Hanya saja, jika melihat kondisi cottage-cottage tersebut, perasaan siapa tak berdebar jika bermalam di sana? Dinding kayu yang sudah lapuk dan tak lagi rapat, setiap orang bisa leluasa melihat ke dalam—begitu pula sebaliknya. Bukan cuma itu, pintu dan jendela yang nampak ditelantarkan dan tergerus cuaca diragukan keamanan. Suasana yang sangat sepi, boleh jadi, mendukung.

Perbandingan berbalik jauh apabila kita menyewa cottage di Ubud, Bali. Meski cottage-cottage yang tersebar bersuasana pedesaan karena berada di antara sawah dan tumbuhan yang rindang serta kesan mistis jika malam hari senantiasa menyergap, namun wisatawan yang menginap tidak menunjukkan perasaan khawatir dan takut.

Memang dalam dunia pariwasata, hal terpenting dan paling utama ialah strategi pengelolaan yang baik sehingga mampu membetahkan pendatang. Para wisatawan yang bertandang bukan sekadar disuguhi keindahan alam, melainkan sebisa mungkin bagaimana ia memperoleh kenyamanan dan keamanan selama berada di tempat wisata.

Kenyamanan yang dimaksud bisa berupa fasilitas tempat penginapan (cottage/villa) yang tidak menyeramkan, toilet dan kamar mandi yang tak jauh dari ruang tidur, alat penerang memadai, serta—kalau mungkin—televisi. Sedangkan faktor keamanan, perlu ada penjaga yang selalu mengontrol, agar tiada sela orang untuk berbuat jahat.

Tempat objek wisata harus terkesan nyaman, indah, bersih, dan menyenangkan. Jangan sampai, belum lagi wisatawan memasuki area wisata sudah lebih dulu disergap rasa ngeri, waswas, tidak tenteram dan nyaman, dan suasananya yang seharusnya indah tak mendukung.

Barangkali inilah yang belum disentuh oleh pengelola objek wisata di daerah Lampung. Tengoklah tempat wisata air panas Way Belerang, Canti, Pantai Wartawan, termasuk Laguna Helau yang sudah saya sebut di atas. Juga Merak Belantung, Pantai Marina, serta Kalianda Resort. Untuk Pantai Marina, saya tak tahu lagi nasibnya. Ketika ingin menjelajah ke Pantai Marina, tiada lagi papan nama di pinggir jalan sebagai penanda.

Saya masih menjelajah objek wisata pantai di Lamsel. Menyusuri jalan beraspal pinggir pantai. Menyerap keindahan alam Pantai Ketang yang masih perawan belum terjamah pelancong. Di sekitar pantai ini perusahaan tambak udang memanfaatkan air laut.

Begitu pula Merak Belantung yang masih terkesan dikelola apa adanya. Memang memasuki objek wisata yang berdekatan dengan Kalianda Resort ini tidak akan  menguras isi kantong. Namun apa yang bisa kita dapati lebih dari tempat itu? Tiada beda dengan pantai lainnya di Lampung Selatan. Pantai yang tampak masih perawan itu, sesungguhnya bisa disulap untuk jadi apa saja. Tinggal lagi menarik minat investor membenamkan uangnya demi memajukan dunia pariwisata.

Pasalnya, modal bagi dunia pariwisata sudah dimiliki Lamsel. Sepanjang pantai mulai masuk menuju Laguna Helau dan Pantai Ketang, alamnya sangat berpotensi dijadikan objek wisata. Dukungan pemda ataupun investor sangat dibutuhkan untuk membangun pariwisata pantai Lamsel. Sayang sekali objek wisata pantai yang berpotensi tersebut tidak dimanfaatkan maksimal.

Namun pertanyaannya, apakah pemerintah dan pelaku pariwisata di Lampung Selatan bisa mengubah drastis dunia kepariwisataan di Lamsel, terutama wisata pantainya.


Keindahan Pantai 
dan Rest Area Keripik Pisang


  
Kalianda Resort
TAK sulit mencapai objek-objek wisata di Lampung Selatan (Lamsel), apatah lagi wisata pantainya. Tempat wisata Way Belerang dengan mudah dicapai. Jika menggunakan kendaraan pribadi, rambu penanda banyak terpampang. Tak perlu turun dari kendaraan untuk bertanya di mana Way Belerang. Jangan khawatir akan tersasar. Jalan di Kota Kalianda tidak serumit dibanding kota-kota lain.

Jika hendak ke Pantai Canti, plang rambu juga menjelaskan. Hal yang sama apabila tujuan anda ingin ke Pantai Wartawan, ikuti saja jalan selepas pasar tua Kota Kalianda.

Ke Laguna Helau bisa ditempuh dari dua tempat. Apabila anda kadung berada di kompleks perkantoran Kabupaten Lamsel, hanya turun beberapa meter dan melihat jalan Sinar Laut, atau jalan masuk Yayasaan Pendidikan YAPRI di sebelah kanan. Itulah “pintu masuk” ke wilayah Laguna Helau. Sedangkan dari Bandar Lampung maka selepas plang Merak Belantung dan melihat ada rumah makan, ada jalan masuk: dari sana anda akan sampai ke Laguna Helau.  

Jika ragu, jangan malu bertanya. Masyarakat di sana tak kikir untuk menunjukkan jalan kepada anda. Kami bukan bermaksud hendak memuji, memang keramahan (dan sopan) masyarakat Kalianda sudah terbukti. Tentu jika anda menunjukkan kesopanan pula.

Kalau tidak, di mana pun dan berhadapan dengan suku budaya apa pun akan bermasalah. Begitu pula Kalianda yang telah melahirkaan seorang pahlawan—kemudian dikenal nasional—bernama Radin Inten. Dan, kita tahu fiil pesinggiri“orang Kalianda” (serta ulun Lampung pada umumnya) sangatlah kuat. Ingatlah manakala Radin Inten bertanya pada ibunya ihwal apa obat malu, ibunya dengan tegas menjawab: Mati anakku! Secara tersirat bahwa “orang Kalianda” (ulun Lampung ), jangan dipermalukan. Kalau itu terjadi, mereka siap mati untuk menebusnya.

Kami di sini tidak sedang membahas filosofi orang Lampung. Kesopanan dan keramahan masyarakat Kalianda kepada pendatang (tamu) patut sebagai rujukan dan andil jika ingin mengembangkan dunia pariwisata. Masyarakatnya tidak introvert, ramah, sopan, dan ringan membuka suara, modal bagi pelancong tak akan tersasar.

Itulah gambaran orang Kalianda. Ketika kami bertanya untuk memastikan bahwa kami tak salah memasuki jalan ke Laguna Helau, dengan ramah dijawab. Kami pun melaju, menyurusri jalan beraspal hotmix itu.

Sepanjang jalan tak henti-henti kami berdecak kagum. Menikmati keindahan alam pantai. Ternyata banyak masyarakat yang memancing di sana. Ada yang berkelompok, tak sedikit pula sendiri. Selain itu, anak-anak berenang riang ditingkahi tarian gelombang. Inilah satu sampel keindahan pantai Lamsel dan berpotensi “dijual” di pasar pariwisata Indonesia.

Potensi alam pantai itu mestinya dilirik investor dan pemkab setempat. Dunia pariwisata di Lampung sangat potensial menawarkan alam pantai. Kami mengangankan sekiranya tepi pantai sepanjang menuju Laguna Helau dibangun kafe dan ataupun warung jajan sederhana, niscaya akan menyihir pelancong ke tempat itu.

Dan, saya yakin alam pantai di Kalianda tak kalah indah dengan daerah lainnya di Indonesia. Juga berpotensi untuk dijual sebagai juadah pariwisata. Sebab, Lampung tak bisa sepenuhnya berharap dari Pusat Latihan Gajah Way Kambas yang nyaris tak terurus dan lokasinya sangat jauh dari pusat kotaBandar Lampung.

Lamsel punya banyak potensi objek wisata. Selain Laguna Helau, Pantai Ketang, Kalianda Resort, Pantai Marina, Canti, Way Belerang—untuk menyebut beberapa saja objek wisata di Kalianda, juga Menara Siger yang kini selalu menggoda jika kita berada di kapal fery yang hendak merapat ataupun bertolak ke Merak.

Potensi Menara Siger ini juga belum dimanfaatkan, baik oleh Pemda Lampung maupun Pemkab Lamsel. Karena itu, alangkah baiknya salah satu ikon dan “pintu” dunia pariwisata yang terletak di bukit Bakauheni itu dikelola bersama-sama: Pemda dan Pemkab Lamsel. Dengan demikian, sama-sama merasa memiliki.

Tidak pernah terdengar lagi wacana menyediakan lahan untuk rest area keripik pisang. Lamsel sangat potensial menghasilkan pisang. Bahkan hasilnya sudah lama dijual ke luar Lamsel seperti beberapa kotadi Pulau Jawa dan di Sumatera sendiri, termasuk ke Bandar Lampung. Dengan potensi penghasil pisang cukup besar itu, mengapa tidak diolah menjadi bebagai panganan, salah satunya keripik pisang.


Pelancong akan sejenak mampir membeli keripik pisang, setelah itu melanjutkan perjalanannya ke tujuan. Jika saja di rest area tersebut masyarakatnya telah dibekali bagaimana menjual objek wisata, point plus tersendiri. Ini telah lama dilakukan oleh abang-abang becak dan sais delman di Yogyakarta. Bagaimana tamu ditawari ke pusat-pusat souvenirdan objek wisata lainnya…

Wednesday, March 5, 2014

Janji 2014, Pembangunan Demaga Tabuan Belum Selesai



Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com


Pantai Pulau Tabuan (wordpress/google)
Kota Agung—Pembangunan Dermaga Pulau Tabuan, Kabupaten Tanggamus, belum selesai. Padahal, dermaga ini direncanakan pada 2014 sudah aktif. Masyarakat setempat mempertanyakan perencanaan pembangunan yang meleset.

Menyebut pulau yang berlokasi di perairan Teluk Semaka Kabupaten Tanggamus ini, banyak mitos seperti Balebahan (bicara sembarangan) ataupun mitos sosok wanita cantik yang kerap disebut Mandalayang. Mitos-mitos dan keganjilan berkembang di pulau yang memiliki luas skeitar 600 hektar ini.


Sudah lama di Pulau Tabuan, berkembang mitos-mitos aneh tersebut. Warga sering mengingatkan pendatang ke pulau ini agar jangan Balebahan atau bicara sembarangan, karena sudah sering orang yang bicaranya ngaur dan cenderung melecehkan akan menemukan kejadian-kejadian aneh.

Contohnya jika ada orang yang bicara, “saya tidak takut dengan keangkeran pulau ini yang katanya ada ikan berkepala besar.” Kejadian itu bisa betul-betul muncul ikan berkepala besar di pulau itu.

Pulau Tabuan mulanya bernama Silaban Silingga Puri, yang artinya pulau besar dan megah. Sejarah nama Pulau Tabuan, yaitu pada masa lalu ada seorang tokoh sakti berasal dari Putihdoh. Tokoh yang sakti ini bernama Minak Senaung.

Konon Minak Senaung sampai ke Pulau Silaban Silinga Puri dengan beralaskan sajadah. Ia datang untuk untuk menetapkan batas kepemilikan wilayah. Setibanya di Pulau tersebut Minak Senaung disambut dan dikelilingi Tabu. Tabu dalam bahasa Lampung berarti tawon atau lebah. Itu sebabnya, Pulau Silaban Silingga Puri ini disebut Pulau Tabuan.

Minak Senaung kemudian menetapkan Pulau Tabuan menjadi dua wilayah yang dibatasi dengan pohon besar yang bergelang (penaga besingkil). Wilayah Minak Senaung meliputi bagian barat pulau, kini menjadi wilayah desa Karang Buah, sedangkan Setapak Jubang (saudara Minak Senaung) sebelah Timur pulau, kini menjadi wilayah Sawang Balak.
 
Kampung tua di Tabuan (lampos.co)
Penduduk pulau ini beradat saibatin. Pulau Tabuan masuk Kecamatan Cukuhbalak. Konon, kecamatan ini sudah ada sejak zamam Belanda. Daerah ini ditetapkan sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Tanggamus.

Transportasi satu-satunya ke pulau ini adalah laut. Karena itu, untuk menjadikan Pulau Tabuan tidak terisolir sementara penghasilan bumi dari sini sangat bagus, pemerintah membangun dermaga dari dan ke pulau ini.

Pembangunan dermaga Pulau Tabuan diasumsikan menelan dana Rp16 miliar. Dana yang digelontorkan dari APBN tersebut untuk membuat dermaga, lapangan penumpukan, kantor, retaining wall, dan tembok area pelabuhan seluas 2.500 meter persegi. Sedangkan pembangunan sarana pendukungnya menghabiskan Rp8 miliar.

Pembangunan dermaga Pulau Tabuan ini adalah program Kementrian Perhubungan, namun pelaksanaannya oleh Dinas Perhubungan  Provinsi Lampung.

Pada 2013 lalu, Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Lampung Ir. Hi. Nanang M. Sifak mengatakan, selain membuka isolasi masyarakat pulau, pembangunan pelabuhan ini juga sebagai upaya penyelamatan pulau-pulau.

”Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan di Pulau Tabuan. Jika ada pelabuhan, tentunya geliat pertumbuhan ekonomi semakin berkembang. Selama ini kapal besar tidak bisa bersandar,” kata Nanang kepada media saat itu.
Sementara Dinas Perhubungan Provinsi Lampung menyatakan Pelabuhan Pulau Tabuan akan beroperasi awal 2014.

Memasuki bulan ketiga tahun 2014, dermaga yang dijanjikan selesai belum beroperasi. Sampai kini tak ada aktivitas kapal di tempat itu.

Sejumlah warga yang dihubungi mempertanyakan janji pemerintah tentang batas waktu pengoperasioan dermaga tersebut. Mereka sudah tidak sabar menikmati buah dari pembangunan. Apalagi anggaran yang digelontorkan tidak kecil.

Harni, misalnya, mengeluhkan dengan kondisi dermaga yang juga belum rampung. “Karena dengan sumber dana yang besar, dengan kondisi pembangunan yang tidak memadai,” ujar dia.

Warga lain juga mempertanyakan keberadaan dermaga ini. Kalau pelabuhan ini sudah jadi, transportasi laut ke Pulau Tabuan akan lancar, dan pulau kami tak lagi terisolasi. Sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan di Pulau Tabuan.

“Jika pelabuhan ini sudah jadi, tentunya geliat pertumbuhan ekonomi semakin berkembang. Selama ini kapal besar tidak bisa bersandar,” ungkapnya.

Bilakah dermaga ini rampung, dan kapan Pulau Tabuan menikmati kue dari pembangunan Indonesia?


Tuesday, March 4, 2014

Puluhan Ikon Kuliner Indonesia dan Seni dari Papua Siap Promosi di Even ITB Berlin

Mari Elka Pangestu 
Dewi Ria Angela/Teraslampung.com

Jakarta—Indonesia akan mengusung 30 macam  ikon kuliner dalam even Internationale Tourisimus Borse (ITB) Berlin,  Jerman, yang akan berlangsung pada 5-10 Maret 2014. Pada even tersebut, paviliun Indonesia di ajang bursa pariwisata terbesar dunia itu akan menyelenggarakan lokakarya memasak dan coaching clinic dengan mengundang  20 koki spesialis dalam menyajikan masakan Indonesia.

“Indonesia akan tampil total, karena ITB merupakan sarana promosi wisata paling bergengsi di dunai. Tahun ini Indonesia berpartisipasi sebagai mitra sponsor dalam kegiatan International Hotel Investment Forum(IHIF) 2014 yang berlangsung di Hotel Intercontinental Berlin pada 3-5 Maret 2014,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari E. Pangestu, Rabu (5/2).

Menurut Mari Pangestu, pengembangan subsektor kuliner ini sejalan dengan upaya untuk mengembangan kuliner khas Indonesia yang pada tahun 2013 telah menghasilkan NTB sebesar Rp 208,6 triliun atau  terbesar di antara subsektor lainnya di sektor ekonomi kreatif.

Penyelenggaraan IHIF yang tahun ini untuk ke-17 kali akan dihadiri sekitar  1.900 partisipan dari kalangan owner, CEO, top management hotel group yang membahas isu aktual antara lain tantangan dan peluang investasi pariwisata dalam diskusi panel, pertemuan bisnis, dan pameran.

Even akbar di bidang promosi wisata itu akan dihadiri oleh 190 negara dan seratusan perusahaan besar di dunia itu, Indonesia akan tampil total menyuguhkan destinasi pariwisata, industri wisata, budaya dan kuliner khas Indonesia bagi masyarakat dunia.

Duta Seni Papua

Selain kuliner khas Indonesia, pada ajang ITB Berlin, Indonesia juga akan menyuguhkan kesenian dari Kabupaten Tolikara, Papua.

Wakil Bupati Tolikara, Amos Jikwa, mengatakan pihaknya mengirimpkam 13 orang anggota grup tari dan beberapa perajin noken yang siap menampilkan hasil karyanya di ajang ITB Berlin. Total anggota tim ada 29 orang.

“Mohon dukungan doa masyarakat Tolikara, agar tim ini dapat diberi kesehatan untuk bisa tampil dengan baik, dan membawa hasil ke Tolikara,Kami ingin ke depan Tolikara bisa menjadi pintu masuk wisata di Papua,” kata Amos, seperti dikutip tabloidjubi.com, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tolikara, Adolf Iriwadan, mengatakan tim seni Kabupaten Tolikara dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Tolikara.

“Kami di Kabupaten Tolikara sangat serius menggarap potensi wisata. Keberangkatan kami ke Berin dalam rangka belajar sekaligus mempromosikan potensi wisata yang kami miliki,” kata Adolf.

Thursday, February 13, 2014

Mengenal Gunung Kelud

Gunung Kelud (dok khatulistiwa.info)
Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api yang aktif yang terletak di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Kediri, dengan ketinggian 1.791 meter dari permukaan laut. Gunung Kelud termasuk Gunung api tipe strato dengan danau kawah yang tingginya 1113,9 meter. 

Gunung ini tercatat pernah meletus sebanyak 24 kali. Pada tahun 1815 Gunung Kelud meletus dengan dahsyat sehingga menelan korban jiwa sebanyak 10.000 jiwa.

Letusan dahsyat terjadi lagi pada tanggal 20 Mei 1919, korban yang tewas sebanyak 5.160 orang. Pada tahun 1951, tanggal 31 Agustus kembali meletus dengan korban jiwa sebanyak 7 orang. Meskipun tidak menimbulkan banyak korban jiwa tapi letusan ini menimbulkan kerusakan hebat dan menyemburkan materi vulkanis dalam jumlah besar. Hujan abu melanda hampir merata di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta lahar panas yang dimuntahkannya membakar kawasan dalam radius 6,5 kilometer dari danau kawah. Letusan ini mengakibatkan turunnya kawah lebih kurang 79 meter.

Pada 1966, Gunung Kelud meletus lagi dengan korban meninggal sebanyak 210 orang, juga pada bulan Februari 1990 tercatat terjadi letusan. Karena hal inilah Gunung Kelud termasuk gunung api dengan tipe A yaitu gunung api yang masih aktif melakukan aktifitas letusan.

Akibat aktivitas letusan yang terjadi sekarang ini Kawah Kelud berbentuk danau kawah yang luas di puncaknya. Danau kawah yang berwarna kebiru-biruan merupakan keindahan alam yang disajikan oleh Gunung Kelud. Danau kawah di kelilingi oleh tebingtebing yang menjulang antara lain Tebing Gajah Mungkur dengan ketinggian 150 meter, Gunung Lirang dan Gunung Kumbang.

Tebing-tebing ini sering digunakan untuk lokasi pemanjatan tetapi kondisi batuannya mudah lepas. Untuk mencapai Kawah Gunung Kelud paling mudah, lewat Desa Margomulyo. Dari Malang, naik Bus menuju Kediri dan turun di terminal Pare sekitar 2,5 jam perjalanan. Dari Pare perjalanan diteruskan menuju Wates, dengan Minibus, menempuh jarak 24 Km (45 Menit). Untuk menuju Wates bisa juga di kota Kediri atau Kota Blitar dengan minibus.

Menuju Gunung Kelud

Dari Wates, naik Angkot menuju Desa Sugih Waras (30 menit) dan turun di Pos Penjagaan Perkebunan Margomulyo. Disini kita harus melapor sebelum melakukan perjalanan ke Gunung Kelud hanya meninggalkan identitas. Satu kilometer dari Pos penjagaan terdapat Pos Vulkanologi pada ketinggian 668 m dpl. Disini kita bisa minta informasi lebih lanjut tentang kegiatan vulkanis Gunung Kelud.

Kawah Gunung Kelud (wikipedia)
Menjelang puncak kita bisa menyaksikan pemandangan yang sangat menarik, berupa hamparan lereng-lereng gunung yang tertimbun pasir vulkanis bekas letusan yang mulai di tumbuhi vegetasi baru. Diujung jalan aspal perjalanan diteruskan melewati jalan berbatu sepanjang 700 meter dan memasuki terowongan Ganesha sepanjang 200 meter, kita akan sampai di Danau Kawah Gunung Kelud.

Menurut, Pak Miko-dari Reindra, seorang kawan di IAGI menuliskan bahwa Wilayah G. Kelud dibagi atas beberapa daerah yaitu Daerah Terlarang ( radius 5 km dari kawah dengan luas 91 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah batuan, awan panas, lahar letusan dan lahar hujan. Data tahun 1972 menunjukkan hunian 50 orang. Kemudian Daerah Bahaya I ( radius 10 km dari kawah dengan luas 223 km2 ) dengan ancaman hujan bom dan rempah-rempah batuan. Daerah ini dihuni oleh 136.500 orang ( data tahun 1972 ). Selanjutnya Daerah Bahaya II yang ancamannya lahar sekunder. Daerah ini meliputi bantaran sungai-sungai lahar yang luasnya 56 km2 dan dihuni oleh 178.000 orang.

Danau kawah terisi oleh air yang bewarna kebiru- biruan, dapat digunakan untuk mandi dan berenang, tetapi harus waspada dan memperhatikan aktivitas Danau Kawah serta perubahan suhunya. Suhu rata-rata air danau 38 derajat sehingga terasa hangat dan mengandung belerang. Disekitar danau kawah ini terdapat terowongan pembuangan air yang dinamakan Terowongan Ampera dengan panjang 1200 m yang merupakn saluran pembuangan air kawah.

Sekitar danau kawah gunung Kelud merupakan dataran berpasir yang luas dan ditumbuhi bunga Edelweis. Di dataran pasir ini terdapat beberapa tempat yang mengeluarkan asap belerang. Uap Belerang yang keluar dapat digunakan untuk mandi uap.