Syailendra Arif/Teraslampung.com
Lampung Timur—Jalan lintas timur (Jalintim), Lampung Timur, menjadi alternatif bagi pengguna jalan khususnya antarprovinsi dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya. Jalintim dinilai lebih cepat.
Namun, hasil pantauan di lokasi akhir-akhir ini Jalintim tampak sepi. Kendaraan truk yang biasanya banyak meliwati kawasan ini, kini tidak lagi memilih Jalintim, Lampung Timur.
Di sejumlah titik jalan rusak ini rawan pemungutan liar (pungli) yang dilakukan warga setempat. Para Pak Ogah memanfaatkan kemacetan. Ulah warga setempat itu sangat meresahkan para pengguna jalan, khususnya sopir truk.
Ada pun pungli di jalan terjadi di empat kecamatan, yaitu Way Jepara, Mataram Baru, Labuhan Maringgai, dan Pasir Sakti. Di kawasan ini, seperti diungkapkan salah seorang sopir truk yang hendak ke Medan, kerap terjadi pungli di jalan.
Para Pak Ogah itu meminta uang kepada para pengendara yang melintas, antara Rp2 ribu hingga Rp10 ribu pada malam hari. “Warga minta alasannya untuk memperbaiki jalan,” kata Soleh, warga Tangerang.
Hal sama diakui sopir truk lainnya yang hendak ke Banda Aceh memilih Jalintim. Rasman, warga Jawa Tengah ini, menyayangkan ulah para Pak Ogah tersebut. Padahal, kata dia lagi, Jalintim, Lampung Timur ini, sangat dimanfaatkan pengguna jalan antarprovinsi dari Pulau Jawa ke Sumatera atau sbealiknya.
“Tapi, dibandingkan yang lain jalintim Lampung Timur ini sudah terkenal dengan punglinya,” kata dia.
Karena itu, para sopir truk itu berharap aparat kepolisian setempat menindak tegas para Pak Ogah, sehingga mempersempit ruang gerak mereka. “Kalau dibiarkan, pengendara yang melintas jalan ini menjadi tidak nyaman,” kata Soleh lagi.
Showing posts with label Lampung Timur. Show all posts
Showing posts with label Lampung Timur. Show all posts
Wednesday, June 11, 2014
Tuesday, May 20, 2014
Polres Lamtim Tetapkan Dua Tersangka Dugaan Korupsi Revitalisasi Sarana Olahraga
Jumlah Tersangka Menjadi Enam Orang
Mashuri Abdullah/Teraslampung.com![]() |
| Kasatreskrim Polres Lampung Timur Iptu Zaldy Kurniawan |
SUKADANA - Kepolisian Resort (Polres) Lampung Timur (Lamtim) menetapkan dua orang tersangka baru korupsi proyek revitalisasi prasarana olahraga di Desa Tamannegeri, Kecamatan Waybungur Lampung Timur, Selasa (20/5).
Kasatreskrim Polres Lampung Timur, Iptu Zaldy Kurniawan,mengatakan dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka baru yakni Abdul Haris, warga Way Pengubuan Lampung Tengah, dan Agus Satiman, warga Kebon Jeruk Jakarta Timur. Keduanya berperan sebagai makelar dalam pengusulan proposal proyek. Keduanya diduga ikut menikmati dana hasil korupsi. Untuk pemeriksaan lebih lanjut keduanya saat ini
ditahan di sel tahanan Polres Lamtim.
Menurut Zaldy, Abdul Haris dan Agus Setiawan ditetapkan sebagai tersangka dari pengembangan keterangan empat tersangka lainnya. Sebelumnya keduanya diperiksa sebagai saksi. “Karena ada bukti permulaan yang cukup keduanya lantas ditetapkan sebagai tersangka,” kata Zaldy.
Dengan penetapan dua tersangka itu, kini sudah ada 6 tersangka perkara korupsi proyek revitalisasi prasarana olahraga di Desa Tananneger. Sebelumnya pada tanggal 31 Desember 2013, Polres Lamtim telah menetapkan 4 orang tersangka yakni Aan Riyadi, Suparno, Sukirno dan Supriyatin. Keempatnya saat ini mendekam di rutan Sukadana menunggu berkas perkaranya dilimpahkan ke pengadilan.
Kasatreskrim menjelaskan dari hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Lampung, dari total dana proyek sebesar Rp 300 juta, negara dirugikan sebesar Rp179.825.664.
Tuesday, May 6, 2014
Dokter Diduga Malapraktik, Klinik Amira Dirusak Massa
Datang ke Klinik dalam Kondisi Bugar, Amir Meninggal Usai Jalani Operasi Kecil
A.Gesit Prambudi/Teraslampung.comLampung Timur—Diduga dokter yang bertugas di klinik telah melakukan malapraktik yang menyebabkan pasien meninggal, massa mendatangi Klinik Amira di Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Selasa (6/5) malam sekira pukul 22.30. Tak hanya merusak peralatan dan menghancurkan kaca, massa juga menghajar dokter pemilik klinik.
Aksi massa tersebut dapat diredam setelah aparat kepolisian datang ke lokasi dan mengamankan dokter ke Polres Lampung Timur. Massa yang berasal dari keluarga pasienitu kecewa lantaran Aris (40), warga Desa Jepara, Kecamatan Way Jepara, meninggal dunia setelah operasi kecil di klinik tersebut.
Menurut keluarga pasien, mulanya Aris operasi daging yang tumbuh berupa benjolan di bawah ketiak. Aris kemudian meninggal dunia setelah operasi kecil itu, sehingga keluarga menilai telah terjadi malapraktik yang sangat merugikan pasien.
“Sebelumnya korban sehat saat ke klinik,” kata salah seorang keluarga.
Dijelaskan lagi, Aris ke Klinik Amira menggunakan sepeda motor pada pukul 16.30 ditemani isterinya. Namun, setelah ditunggu hingga pukul 20.00, Aris masih menjalani operasi. Menurut keterangan istri korban, saat operasi keluarga pasien tidak diperbolehkan masuk oleh dokter.
Sementara untuk memastikan korban meninggal karena malpraktik, jenazahnya langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung untuk otopsi.
Kapolsek Way Jepara Iptu Yogi Prawira membenarkan jenazah Aris telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lmapung di Bandarlampung untuk ditopsi semalam. Sedangkan dokter JL yang mengalami luka ringan akibat dihajar massa, kini diamankan untuk penyidikan lebih lanjut.
Untuk sementara Klinik Amira ditutup dan dijaga aparat kepolisian. Jika terbukti tewasnya pasien akibat malpraktik, dokter bersangkutan dikenakan pasal 395 tentang kelalaian berakibat orang lain meninggal dunia. (Editor: Isbedy Stiawan ZS)
Thursday, April 10, 2014
Di Lampung Timur, Diduga Perolehan Suara Pileg Bisa Dibeli
Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com
Bandarlampung—Pemilihan Legislatif (Pileg), Rabu (9/4) di Lampung Timur, diduga perolehan suara untuk calon legislatif (calog) di tingkat bawah bisa dibeli. Indikasi ini dilontarkan salah seorang calon legislatif (caleg) untuk DPRD Provinsi Lampung dari daerah pemilihan (dapil) Lampung Timur, Kamis (10/4) sore.
“Saya pernah ditawari. Petugas PPS bilang ke saya, kalau mau bisa diubah di KPU. Kata dia, nominalnya relatif,” ujar caleg yang namanya tidak mau disebutkan namanya itu, menirukan ucapan petugas penyelenggara pemilu di bebeapa desa di Lampung Timur.
Dia menyebutkan desa yang terindikasi pembelian untuk perolehan suara, seperti Labuhan Meringgai, Suko Rahayu, Kuala Penet, dan Mataram Baru. “Saya menyesalkan dengan cara-cara seperti ini. Karena itu, saya tidak menggubrisnya,” ujar dia lagi.
Dia meyakini caleg lain sudah terjebak dengan permainan seperti ini. Jika indikasi benar, dia menyayangkan sekali. Sebab, ketika kita ingin membangun pemilihan umum yang bersih dan fair, tetapi oknum-oknum penyelenggara di tingkat bawah justru mengotori.
“Yang saya sayangkan, saya tahu ketua KPUD Lampung Timur ini jejak rekamnya baik. Dia bersih dan selalu mengedepankan kebenaran, tapi dikotori dari bawah,” katanya lagi.
Meski begitu, ia meragukan prolehan suara di tingkat bawah—yaitu di desa—dijamin bersih dari campur tangan petugas PPS. Sebab itu, dia meminta komisioner KPU setempat agar turun ke bawah, dan menindak petugas yang ketahuan bermain uang.
“Alangkah eloknya jika jajaran KPU turun, dan pantau bawahannya,” harapnya.
Sementara Ketua KPUD Lampung Timur Syamsul Arifien saat dikonfirmasi adanya dugaan jual-beli perolehan suara di tingkat Desa mengatakan, baru mengetahui informasi ini. Dia berjanji akan segera mengecek kebenarannya di bawah.
“Pada prinsipnya dan saya jamin, KPU Lampung Timur tidak pernah punya frame untuk curang,” kata Syamsul, Kamis (10/4) sore.
Tim KPU, jelas Syamsul lagi, sejak hari H (Rabu, 9/4) sampai saat ini (Kamis, 10/4) sore, masih di lapangan. “Prinsif saya mencari kebenaran. Namun, masukan ini akan segera saya tindaklanjuti, dan akan cari tahu kebenarannya,” imbuh Syamsul yang juga seniman ini.
Monday, March 10, 2014
Kejati Lampung Memburu Persembunyian Satono
![]() |
| Satono (yustisi.com) |
Senin sore (10/3) kembali tim Kejati menyambangi rumah Satono, mantan bupati yang dikenal “jago” dalang dan pandai berdakwah ini. Sebab, pemburu dapat kabar kalau Satono berada di rumahnya Jalan Singosari, Kelurahan Enggal, Bandarlampung.
Sayang seribu kali sayang. Ketika melakukan penggerebekan, tim Kejati kecele. Satono tidak ditemukan di bekas rumahnya itu. Keberadannya entah di mana. “Satono benar-benar licin, seperti memiliki ilmu hilang,” ujar awak media yang mengikuti tim Kejati.
Saat tim Pemburu Satono menggerebek rumah di Jalan Singosari, Kelurahan Enggal, Bandarlampung, orang yang dicari tidak ditemukan. Tim Kejati memeriksa di berbagai sudut di rumah mewah milik Satono tersebut.
Bahkan, personel Kejati Lampung juga mengecek hingga ke plafon rumah yang saat ini didiami anak Satono, Dony. Upaya tim Kejati lagi-lagi gagal: plafon rumah tak ada apa-apa, begitu gelap.
Asintel Kejaksan Tinggi Lampung Sarjono Turin seperti kecewa karena buruannya gagal dicokok. Penggerebekan ini, Sarjoni mengatakan, bermula dari laporan masyarakat yang menyebutkan Satono berada di Bandarlampung.
Maka, tim Kejati bergerak cepat. Sasarannya adalah rumah mewah yang pernah ditempati Satono di Jalan Singosari tersebut. Apalagi di rumah ini, selain ditempati Dony—anak Satono, juga Rice Megawati—isteri Satono—menempati rumah ini.
Senin sore (10/3) kemarin, memang tim Kejati hanya menemui Rice Megawati. Sementara Satono tidak berada di tempat. “Di dalam rumah hanya ada istrinya, Rice Megawati,” kata Sarjono Turin.
Gagal menemui Satono di Jalan Singosari Enggal, tim Kejati melanjutkan pencarian di rumah Jalan Pangeran Antasari. Lagi-lagi penggerebekan ini gagal menangkap Satono. Sampai pukul 19.00 Satono tak ditemukan, tim Kejati pulang dengan tangan hampa.
“Satono memang licin,” nilai warga sekitar rumah Satono di Antasari saat dimintai keterangannya ihwal tokoh kasus korupsi Rp119 miliar uang negara ini.
Meski ia meragukan Satono memiliki ilmu “melicinkan tubuh” sehingga sampai kini tim Kejati selalu gagal tiap hendak mengeksekusi. Keraguan arga yang minta jangan ditulis identitasnya itu, “jangan-jangan semua ini sandiwara,” katanya.
Dia menyebut contoh, saat pihak keamanan menggerebek sejumlah hotel, tempat hiburan malam, atau lokalisasi, dan gagal. Pihak tim razia selalu beralasan bahwa razia yang dilakukan sudah bocor, sehingga tidak mendapati prostitusi yang praktik, tempat hiburan atau hunian hotel sepi.
“Nah, siapa yang membocorkan kalau tidak orang dalam?” warga itu balik bertanya.(isb)
Thursday, February 20, 2014
Sopir Keluhkan Jalan Rusak dan Pungutan Liar
S. Priyo Santoso/Teraslampung.Com
Lampung Timur—Para sopir mengeluhkan kerusakan jalan lintas pantai timur (Jalinpantim), Lampung Timur. Mereka juga mengeluh adanya pungutan liar yang dilakukan sekelompok orang, dan sejumlah petugas yang memanfaatkan.
Sejumlah supir yang ditemui mengatakan kerusakan jalan lintas pantai timur makin hari semakin parah, sehingga kendaraan sulit melintas di jalan itu.
Selain menghambat perjalanan, kerusakan jalan juga berdampak pada kendaraan, seperi mogok tiba-tiba sehingga lalulintas menjadi macet.
Lebih parah lagi, jalan yang rusak parah ini dijadikan ajang pungutan liar oleh sekelompok warga setempat. Warga berdalih mengatur kemacetan kendaraan, lalu meminta imbalan yang cenderung memaksa.
Mirisnya, oknum petugas melakukan hal sama, dengan alasan razia. Para supir diharuskan membayar retrebusi dan uang denda, karena barang yang diangkut melebihi kapasitas kendaraan.
Para sopir berharap pemerintah setempat segera memperbaiki jalan yang rusak, sehingga arus lintas di sana bisa lancar dan tidak ada lagi pungutan liar yang memberatkan. (isb)
![]() |
| Jalinpantim (lampost.co) |
Sejumlah supir yang ditemui mengatakan kerusakan jalan lintas pantai timur makin hari semakin parah, sehingga kendaraan sulit melintas di jalan itu.
Selain menghambat perjalanan, kerusakan jalan juga berdampak pada kendaraan, seperi mogok tiba-tiba sehingga lalulintas menjadi macet.
Lebih parah lagi, jalan yang rusak parah ini dijadikan ajang pungutan liar oleh sekelompok warga setempat. Warga berdalih mengatur kemacetan kendaraan, lalu meminta imbalan yang cenderung memaksa.
Mirisnya, oknum petugas melakukan hal sama, dengan alasan razia. Para supir diharuskan membayar retrebusi dan uang denda, karena barang yang diangkut melebihi kapasitas kendaraan.
Para sopir berharap pemerintah setempat segera memperbaiki jalan yang rusak, sehingga arus lintas di sana bisa lancar dan tidak ada lagi pungutan liar yang memberatkan. (isb)
Subscribe to:
Posts (Atom)





