Showing posts with label Polemik Tokoh Sastra Paling Berpengaruh. Show all posts
Showing posts with label Polemik Tokoh Sastra Paling Berpengaruh. Show all posts

Saturday, February 1, 2014

Denny JA Berbohong? : Sahlul Fuad Membongkar Modus 'Puisi Esai' Hingga Hasilkan hits 7.502.981


Oyos Saroso H.N./teraslampung,com

BANDARLAMPUNG--
Temuan sangat mengejutkan disampaikan Sahlul Fuad. Melalui penelusuran Sahlul, ada bukti kuat bahwa angka jutaan yang diklaim sebagai pengeklik puisi esai Denny J.A. hanya isapan jempol belaka. Sahlul melakukan pengujian dengan mekanisme menelusuri wordpress yang menjadi basis pembuatan website pribadi Denny J.A.: www.puisi-esai.com.

Hasilnya pun cukup mencengangkan: ternyata jumlah pengunjung website yang benar-benar mengklik puisi Denny tidak seperti yang dikampanyekan selama ini.

Jumlah pengunjung dan mengklik puisi Denny itulah yang selama ini menjadi dasar Jamal D. Rahman dan tim 8 menyimpulkan Denny JA dengan puisi esainya menjadi tokoh sangat penting dalam sastra Indonesia. Itulah sebabnya bos Lingkaran Suvey Indonesia (LSI) itu dinobatkan menjadi salah satu di antara 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh.

Inilah cara Sahlul Fuad membongkar modus puisi esai sehingga bisa menghasilkan angka hits 7.502.981:

Mekanisme pengujian ini dilakukan dengan cara:
1. Buka situs puisi esai.
2. Cari angka 7 5 0 2 9 8 1
3. Klik Kanan angka 7
4. Pilih "Open Image in new tab".
5. Terbukalah "http://puisi-esai.com/wp-content/plugins/wordpress-hit-counter/styles/Classic/rock/7.png"
6. Cari plugin wp hit counter

Dari angka 7.502.981 ini tampak jelas berbeda dengan data ==> https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/t1/1797619_10152057784008600_1210609284_n.jpg yang menunjukkan tidak ada jumlah kunjungan yang penting, kecuali tanggal 18 Oktober 2013 yang mencapai 407 pengunjung. Kesimpulannya: Jika tidak melakukan MENGATUR ALAT PENGHITUNG DENGAN ANGKA TERTENTU, BERARTI KEMUNGKINAN LAINNYA ADALAH ADA PETUGAS YANG MENGKLIK SAMPAI ANGKA YANG ADA SEKARANG.


Temuan serupa disampakan Rudiansyah Putra, master web www.teraslampung.com. Menurut Rudiansyah, dia sudah melakukan penelusuran dan mengecek angka jutaan yang diklaim  sebagai pengeklik puisi karya Deddy JA di website www.puisi-esai.com.

“Itu ngawur sekali. Angka itu cuma main pasang saja. Rilnya sangat jauh di bawah itu,” kata Rudiansyah.


Friday, January 31, 2014

Enam Bahaya Buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" Menurut Sunardian Wirodono

Sunardian Wirodono
BANDARLAMPUNG--Pengantar Redaksi: Kolumnis dan budayawan Sunardian Wirodono termasuk sosok yang getol mengkritik masuknya nama ahli survai politik Denny J.A. sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Menurut Sunardian, pemberian label tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh kepada Denny menabrak logika dan membayakan perkembangan sastra Indonesia.   Meskipun mengkritik, Sunardian tidak mendasarkan kritiknya atas kebencian atau tidak suka dengan sosok Denny J.A. Berikut opini kolumnis asal Yogya itu terhadap kontroversi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh: 

Kontroversi dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tampak begitu marak di dunia internet akhir-akhir ini. Sontak menenggelamkan kehebohan sebelumnya, yang banyak dihiasi dengan pembicaraan tokoh sastra bernama Sitok Srengenge, berkait kasus pelaporan kekerasan seksual atas mahasiswa sastra Jerman, FIB, UI. Dua keriuhan itu, tetap saja bertumpu pada tokoh sastra, bukan karya sastra. Tulisan ini, ingin mendorong Tim 8, pemrakarsa terbitnya buku kontroversial itu, agar masyarakat pembaca pun bisa diajak serta, dan menjadikan sastra bukan hanya milik kaum sastrawan yang meributkannya.

Karenanya, tulisan ini juga hanya ingin berkonsentrasi pada penilaian atas buku itu, bukan pada hal-hal lainnya. Setidaknya, menurut hemat penulis, ada enam hal berbahaya yang harus dijelaskan pada publik sastra di Indonesia, berkait dengan buku itu.

Enam Bahaya Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh: Pertama, metodologi pemerian 33 tokoh sastra Indonesia dan proses penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, sangat berbahaya. Prosesnya yang tidak transparan dan unfairness (lihat komplain Maman S. Mahayana yang kemudian menolak masuknya nama Denny JA dan bagaimana ceritanya tiket pesawat dari Korea Selatan akan diganti panitia, dll, serta pengakuan Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang mengatakan lembaganya tidak punya inisiatif atas hal itu). Antara kerja intelektual dan kerja tipu-tipu di sana (dalam istilah para penyair) berkelindan.


Dua, istilah 'tokoh sastra' dengan berbagai kriterianya, dan kemudian munculnya istilah 'paling berpengaruh' mengindikasikan ini sebagai proyek yang tendensius (terkait dengan point 1). Sesuatu yang sangat berbahaya, karena istilah yang superlatif itu, dalam pengantar pertanggungjawaban Tim 8 diuraikan secara inkonsisten, utamanya berkait 4 kriteria mereka sendiri tentang kepantasan 'tokoh'. Apalagi mengingat masing-masing dari Tim 8 itu menulis dan memilih tokoh-tokoh pilihannya sendiri, kemudian disunting oleh satu dari delapan orang itu yang semua merupakan kegiatan terpisah, kecuali diskusi yang hanya dua hari meski dikatakan sampai berdarah-darah.

Di sisi lain, istilah 'tokoh sastra' itu sendiri, agaknya dirancang sengaja untuk mereduksi kontroversi (yang toh tetap muncul, karena kita memang juga lebih suka ngomongin 'tokoh sastra' daripada 'karya sastra', dan akan menjadi debat kusir dengan memunculkan ranah ego dan etik).


Tiga,  penerbitan oleh Gramedia dan PDS HB Jassin, juga harus dilihat sebagai proyek yang tidak bertumpu pada ukuran sastra (atau apa pun) secara akademik. Senyatanya, PDS HB Jassin menyatakan merasa tidak dilibatkan. Dalam pengakuan PDS HB Jassin dinyatakan lembaganya tidak pernah memberikan penghargaan sedemikian besar kepada ke-33 tokoh sastra (yang termaktub dalam buku itu). “Kegiatan ini sama seperti kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Kami hanya fasilitator tempat kegiatan dan buku-buku yang dibutuhkan oleh tim 8 sebagai bahan riset/penelitian,” seperti dikatakan Aryani Isnamurti. Sementara, masyarakat awam juga harus sadar, bahwa banyak buku dengan label diterbitkan oleh Gramedia (atau penerbit berkelas lainnya) tapi belum tentu berdasar seleksi redaktur mereka. Ada kepentingan bisnis komersial masuk ke sana. Sekarang ini, lazim penerbit bisa dibeli oleh penaja (sponsor) yang punya kepentingan. Praktik ini banyak dilakukan di Indonesia. Banyak buku biografi tokoh yang 'membeli' penerbit berkelas. Gramedia juga tak tabu melakukan hal itu. Ini berbahaya, karena siapa punya uang bisa membeli 'pride'.

Empat, dalam pengantar dan juga promosinya, dikatakan bahwa buku 33 Tokoh Indonesia Paling Berpengaruh juga di-endors sebagai buku teks sejarah sastra paling sahih sepanjang 100 tahun, adalah menunjukkan tendensi sebenarnya. Dan ini berbahaya bagi dunia sastra Indoesia itu sendiri di masa kini dan mendatang. Tampaknya, oknum-oknum yang berada di balik proyek penerbitan buku ini, punya ancas atau tujuan lain, yakni memakai sastra sebagai proyek ekonomi (mereka), semata dengan menumpang 'nilai-nilai sastra', yang juga akan mereka pakai sebagai lobi-lobi ke Kemendiknas sebagai buku wajib sekolahan, bahkan ke festival buku internasional (salah satunya di Munchen tahun depan). Berbahaya bukan hanya untuk dunia sastra, tetapi pada generasi mendatang dan peradaban Indonesia itu sendiri tentunya.

Lima, dua dari 33 tokoh itu (Goenawan Mohamad dan Remy Sylado) menyatakan keberatan, dengan gaya masing-masing. Hal itu menunjukkan persoalan superlatif yang hendak dipaksakan. Maman S. Mahayana yang tetep tidak setuju dengan terpilihnya Denny JA masuk dalam 33 tokoh sastra, juga masuk dalam kriteria ini. Dissenting opinion Maman S. Mahayana, bisa sebagai pintu masuk membongkar skandal proyek "33 Tokoh Sastra,..." itu.

Enam, secara keseluruhan, proyek penerbitan buku ini sangat berbahaya, karena dengan proses yang unfair (munculnya TIM 8 itu mewakili siapa, atas dasar seleksi seperti apa, siapa yang memposisikan mereka). Jika mereka memakai nilai kepantasan yang netral, maka ketika masuk ke ranah publik pun dengan sikap yang mestinya netral juga. Ketika kemudian mereka masuk ke ranah publik dengan istilah-istilah yang penetratif, seperti "paling berpengaruh" dan "paling sahih", maka di sana akan muncul bahaya permanen, yakni pembodohan publik.

Publik diberi doktrin, dogma, tetapi bukan sebuah uraian yang netral, sebagaimana kerja akademis yang mesti berimbang, fair, tidak berpihak, kecuali pada kedalaman analisis dan kejujuran akademis atau intelektualitas. Di samping 33 tokoh sastra itu, disebut tokoh-tokoh lainnya, tetapi Tim 8 mengatakan "pengaruhnya tidak sebesar" 33 tokoh terpilih. Berarti ada pemeringkatan. Siapa nilai pengaruhnya yang paling kuat? Nomor satu, dua, tiga, dst? Apa pengaruh Ayu Utami di Indonesia, dalam bidang apa, seberapa, terus kemudian dibanding pengaruh Seno Gumira Ajidarma lebih besar siapa, atas ukuran apa, kenapa? Apakah pengaruhnya permanen lintas generasi, atau hanya pada jamannya? Apa saja pengaruhnya, bukti empiriknya, dan apakah referensi serta riset mereka meyakinkan? Sementara dalam pengantar buku itu kemudian di-endors (untuk kepentingan-kepentingan berikutnya dalam hal distribusi, penjualan) dengan mengatakan ini buku teks sejarah sastra paling sahih. Atas dasar apa? Mengapa tidak sekalian menyebar pooling ke publik dengan pertanyaan: "Siapa di antara tokoh sastra ini yang paling berpengaruh?"

Perdebatan Dunia Maya dan Monolog Masing-masing Blog


Jika Tim 8 bisa menjelaskan 6 bahaya di atas, saya kira penerbitan buku ini akan melahirkan diskusi yang lebih produktif. Tentu saja dalam sebuah forum yang terhormat, entah dalam bentuk debat atau diskusi terbuka, atau berani membuat forum sebagaimana "Pengadilan Puisi" di Bandung 1974 dulu. Daripada hanya ribut dalam cyber-war (ini lebih sebagai himbauan untuk Tim 8), yang bisa berkembang kemana-mana. Misal, menurut berita terbaru Cecep Syamsul Hari, redaktur sastra Horison, mulai 16 Januari ini resmi mengundurkan diri berkait kasus buku "33 Tokoh Sastra Indonesia,.."

Apa hubungannya coba? Sementara keriuhan di dunia internet, dengan pembaca beragam, bisa memunculkan fanatisme-fanatisme baru yang sama-sama rapuh (mohon kalimat ini dimengerti dalam konteks sistem kerja pola rating/pemeringkatan top issue yang computerized dan updating secara otomatis berdasar volume netting di dunia internet,isadari). Riuh rendah di dunia internet itu, seolah menguatkan pendapat bahwa kehadiran seorang tokoh, bisa ditengarai dari begitu berjibunnya netting tentang hal itu di dunia maya. Karena memang itulah yang dipakai untuk ukuran, atau sistem pemeringkatan, pengguna media siber.

Sementara kita mati-matian membela bahwa dunia sastra lebih menggeluti nilai daripada jumlah. Sedang tak banyak yang mengetahu perbedaan antara nilai dengan jumlah. Dalam konteks ini, tidak ada maksud penulis untuk mengatakan apa yang riuh berlangsung di dunia internet (dunia maya) tidak layak diperhatikan, namun bagaimana menyelesaikan kasus ini, jika hal itu memang dipandang sebagai kasus atau persoalan?

Apa yang dilakukan dalam Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir 1974 di Bandung, meski terasa sebagai 'konyol-konyolan', toh tak kurang HB Jassin sendiri (sebagai tertuduh dalam peristiwa sastra di Bandung itu) mengatakan bahwa pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.

Bahkan dalam tanggapan acara di Bandung, muncul beberapa makalah penanggap dari MS Hutagalung (Puisi Kita Dewasa Ini), Sapardi Djoko Damono (Catatan Atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto), dan pemikiran-pemikiran lain, yang kemudian semuanya itu dibukukan oleh Pamusuk Eneste dalam "Pengadilan Puisi". Sapardi menganggap keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima, karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto. Baginya, Slamet Sukirnanto adalah korban kekocakan Darmanto Jatman. Dan adalah kaitannya langsung, dua bulan setelah peristiwa itu, majalah sastra Horison membuat teks lengkap Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachrie.

Banyaknya pembicaraan dan netting buku kontroversial ini di internet, justru bisa dipakai sebagai bukti standar internasional mengenai top ranking issues itu. Bisa membola-liar dan membola-salju. Apalagi pertengkaran di dunia maya itu toh lebih merupakan soliloqui, karena hanya berbalas pantun dalam blog masing-masing. Bandingkan dengan Pengadilan Puisi yang kemudian mengantar pada fase itu, bagaimana majalah sastra Horison mengalami guncangan dan melakukan sedikit perubahan secara tidak langsung. Diskusi pada masing-masing blog, dengan masing-masing follower-nya, tentu saja tidak cukup sehat. Dan hal itu bisa kontra-produktif, karena siapa yang menengahi kalau masing-masing bicara sendiri-sendiri, tanpa mediasi?

Apresiasi sastra kita, semestinya bukan hanya menjadi urusan kaum sastrawan saja. Intinya, ganyang pembodohan masyarakat dari buku-buku bodoh, yang diterbitkan atas dasar nafsu yang juga bodoh. Baik yang pro dan yang kontra, bertemulah, dan carilah bersama sumber material kebenaran itu.
Pertanyaan terpenting saya cuma: Berapa duit dihabiskan untuk proyek penerbitan buku ini, untuk apa saja, dan darimana duitnya. Namun mendapatkan jawaban atau tidak atas pertanyaan itu: saya tetap menunggu, bagaimana polisi menangani kasus pelaporan kekerasan seksual atas mahasiswa sastra Jerman UI bernama RW, 29 November 2013 lalu, yang sampai kini senyap. Meski pun kalau tokoh sastra mengotori, saya juga belum bisa berharap polisi membersihkannya, apalagi dengan pasal pecemaran nama baik. Ta(b)ik!

Sumber: sunardian.blogspot.com

Thursday, January 30, 2014

Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" dan Filosofi Angka 8

Restoe Prawironegoro Ibrahim*

Membaca apa yang terjadi saat ini, yaitu sebuah polemik tentang pengangkatan tokoh “sastrawan” yang kiprahnya sangat berpengaruh di awal tahun 2014 ternyata menghasilkan pro dan kontra yang heboh, sejak munculnya sebuah buku yang bertajuk 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh karya Tim “Delapan”.

Tulisan ini sekiranya – maaf – tidak ingin melangkahi ataupun menggurui, hanya ingin menjembatani saja apa yang saya baca dengan data-data di media sosial maupun cetak. Memahami wacana permasalahannya ini, saya ingin berawal dari tulisan angka “8” yang disebut-sebut sebagai “Tim Sukses” pembuat  peluncuran buku tokoh sastrawan berpengaruh.

Secara filosofis angka 8 (delapan) memiliki banyak arti dan kelebihan sekali. Angka ini diyakini sebagai angka sebuah keberuntungan, tanpa mengesampingkan sang pencipta angka ini. Angka 8 menyimpulkan ada 2 (dua) lingkaran yaitu putih dan hitam dan menyimbolkan 2 (dua) perbedaan pula, antara positif dan negatif.

Tahun 2014 ini keberuntungan ada di tangan Denny JA. Nah, dari Tim 8 akhirnya memilih yang positif dan negatif, ini yang menjadi kontroversial publik di kalangan sastrawan. Keberuntungan yang berada pada nama Denny JA  berakhir negatif,  dalam peluncuran buku tersebut.

“Pemilihan 33 tokoh sastra ini mencoba menjawab pertanyaan  dan keraguan masyarakat umum tentang peranan sastra dalam kehidupan. Semua tokoh yang terpilih di sini  menunjukkan kiprah mereka,” ujar Ketua Tim 8, Jamal D  Rahman. (Media Indonesia, "Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh", 12 Januari 2014, hal. 11).

Dari komentar di atas seharusnya Tim 8 bisa mengangkat sastrawan-sastrawan yang proses kekaryaannya masih mempunyai nilai syarat keorsinalan (baru) yang sampai sekarang ini sangat berpengaruh sekali. Kenapa harus membicarakan lagi karya sastra yang sudah “usang”, seperti Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, Muhammad Yamin, Hamka, Armijin Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Achdiat Karta Mihardja, Amir Hamzah, Trisno Sumardjo, HB Jassin, Idrus, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Ajip Rosidi, Rendra, NH Dini, Arifin C Noor. Nama-nama ini kan sudah cukup mapan di mata pelajaran sekolah SMA maupun tingkat tinggi.

Mereka sudah banyak yang tahu kalau karya-karyanya sangat berpengaruh dalam kiprahnya. Bagaimana Arifin C Noor bikin naskah teater dan filmnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya, Pramoedya Ananta Toer dengan novel-novel mutakhirnya yang hebat, itu semua sudah lama sangat berpengaruh dalam kancah pendidikan yang sudah diajarkan di bangku sekolah SMA maupun perkuliahan.

Coba tokoh-tokoh tersebut diganti dengan tokoh sastrawan cukup berpengaruh, misalnya Seno Gumira Ajidarma, Gerson Pyok, Jacob Sumardjo, dan lain-laian. Agar tokoh-tokoh sastrawan muncul kembali di seantero nusantara. Ini proyek yang sangat berani dari penyusun Tim 8 menentukan tokoh sastrawan yang berpengaruh, padahal banyak sekali sastrawan yang hebat di Indonesia ini.

Dwicipta, dengan tiba-tiba namanya nongol kembali, ia menghantam habis lewat opininya mengomentari  tentang soal buku yang beredar awal Januari 2014 itu, ia menuntut keras  penarikan dari peredaran buku 33 Tkoh, agar ditarik saja, tapi juga pertanggungjawaban yang memadai dari Tim 8, tulis Dwicipta. Tindakan Tim 8 ini menciptakan kebohongan publik, juga makin menguatkan sinyalemen tunduknya ideal-ideal sastra pada kekuatan kapital dan ambisi sosial yang kebablasan dari pihak-pihak tertentu yang ingin memaksakan kepentingannya  di dunia sastra Indonesia (Jawa Pos, "Tokoh Sastra Paling Berpengaruh", 12 Januari 2014).

Menurut analisis saya, apa yang ditulis oleh Dwicipta, bahwa lahirnya “para intelektual pengkhianat”, berarti kita jangan menyalahkan sosok Denny JA sebagai korban dalam buku tersebut, yang disebut-sebut sebagai sastrawan berpengaruh. Denny JA sendiri menulis di media sosial mengatakan, “Saya ini cuma seorang pejalan budaya.Tak pernah menetap dan menjadi tuan rumah di satu wilayah budaya. Saya hanya datang berkunjung, belajar sesuatu di sana dan juga 'menyumbangkan sesuatu."

Hal semacam ini mari kita sadari bersama-sama, meskipun Denny JA berperan dalam hal asumsi pendanaan (keuangan), gak mungkinlah dia (Denny JA) akan mengeluarkan sinyalemen yang akan membuat Tim 8 merasa ketakutan agar namanya bisa dimasukkan ke dalam susunan 33 tokoh tersebut. Cobalah kita berpikir secara sehat, Denny JA seorang politikus yang sukses yang tidak pernah publik tahu atas karya-karya sastranya seperti apa. Cuma saya sempat baca puisi esainya yang “Atas Nama Cinta”, itupun bagi saya hanya  “nostalgia” rekuntruksi yang ditulis oleh beliau,  sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 13. Di mana Denny JA merangkaikan permasalahan itu menjadi 5 (lima) kasus dan berakhir dengan angka 13. Peristiwa tentang "Saputangan Fang Yin" ada 13 episode, Romi dan Yuli dari Cikeusik (13 episode), "Bunga Kering Perpisahan" (12 episode), "Minah Tetap Di Pacung" 11 epsiode, dan terakhir "Cinta Tentang Batman dan Robin" ada 13 episode.
  
Membaca dan menyimak puisi-puisi Atas Nama Cinta, sebagai karya sastra saya tidak mendapatkan apa-apa sama sekali dari pemaknaan hasil karya sastra Denny JA yang metamorfosa itu. Saya tidak menemukan kesegaran pandangan yang diorientasikan sebagai subyek terpenting. Hanya sebuah puisi yang mengandung kegelisahan kehidupan saja waktu itu.
    
Mustafa Ismail pun, menilainya gaya puisi Denny JA dari aspek puitikalnya masih perlu dibereskan. Tentang kekuatan puisi bukanlah di catatan kaki yang ditulis oleh Denny JA akhir dari sebuah peristiwa, ini akan mengurangi kosentrasi dan kenikmatan pembaca, tulisnya di media sosial Info Sastra.
  
Bahwa karya sastra (puisi) merupakan totalitas cara bercita rasa, pelembagaan serta pemberian makna terhadap hidup. Maka, sebagai konsekuensi logisnya, semua karya sastra termasuk puisi Denny JA perlu dihayati oleh setiap pencipta dalam melihat realita sehari-hari.
    
Saya tidak tahu bagaimana komentar dari Saut Situmorang yang ditulis oleh Firman Venayaksa, yang tiba-tiba mengatakan bahwa buku itu adalah sampah yang banyak berisi dusta sejarah atau yang bertujuan memanipulasi sejarah harus dibakar dan dilarang (Koran Tempo, "Rekayasa Sastra",  9 Januari 2014). Yang mengejutkan kiprah nama Denny JA dimunculkan dianggap tokoh sastra dan berpengaruh?
  
Mari kita sama-sama menggairahkan kesusastrawan kita tanpa berdunia politik sebagai kekuatan kapitalis dalam bersastra yang sampai saat ini seperti mati tenggelam di masyarakat  penikmat sastra, kalau hal ini terus menjadi kesenjangan di antara para sastrawan Indonesia kapan sastra akan bangkit seperti di zaman-zaman Chairil Anwar, AA Navis dengan karya-karyanya yang sangat megah dan konroversial. Semua orang banyak mengenal nama itu sebagai tokoh  sangat berpengaruh sekali dalam karya sastranya.
  
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan perdebatan ini akan berakhir kalau kita tidak belajar kepada Seno Gumira Ajidarma, lewat karya-karyanya yang sangat luar biasa dan berpengaruh sekali. Kapan kita mau tahu nama  Benny Arnas dengan sangat lugas membongkar peradaban kehidupan zaman sekarang. Dan sederet sastrawan-sastrawan yang muncul di permukaan bumi pertiwi Indonesia ini.
  
Masih banyak sastrawan-sastrawan hebat dan beliau masih hidup dan jangan dipinggirkan oleh kalangan-kalangan tertentu yang seharusnya diangkat ke dunia lebih meluas. Ternyata kehebatan, kepinteran seseorang hanya bisa bertukar dengan nilai kekuatan kapitalisme yang bisa menghancurkan sastra itu sendiri.
  
Kalau sudah begitu, apalagi yang dibutuhkan agar kita tetap bertahan dan berpredikat yang terlanjur dimiliki sastrawan kini sebagai “Tokoh Sastra Yang Berpengaruh di Indonesia”, asal kita jangan “berkiblat” dengan lahirnya rekayasa sastra 2014.***

*Cerpenis, penyair

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai: Tanggapan untuk Maman S Mahayana


Leon Agusta*

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu dibawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu-terhadap sesuatu-misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian eleman sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman gererasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigm dan wacana lama. Hasilnya adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebut sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakan dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tercermin dalam bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia kedalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat menghantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi-esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan Baru

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya sastra bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan Rendra. “Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan social politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan tehnik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya “prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, “….setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisi-puisi Toeti Heraty.”
Jadi prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toety Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul “Kisah Perempuan Korban Patriaki” dan mendedikasikan karyanya kepada “setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga member petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul “Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi Dalam Untaian Kisah Cinta Yang Menggetarkan Hati”, dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamplet, puisi esai, prosa lirik, atau apapun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekpresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita Rasa

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, diantaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai “Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan penganut agama Islam (http://icrp-online.org/082008/post-17.html ).. Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat menghantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi-esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikan dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra . Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekedar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi-esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Disinilah peranan puisi-esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi-esai Atas Nama Cinta.
Kritik MSM dalam artikel “Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi-esai Denny JA: “Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutarji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada terkesan merendahkan: “Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi.”

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi-esai harus dilegitimasi? Apakah puisi-esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, dan kepatuhan?.

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan “stempel legitimasi” terhadap konsep puisi-esai atau konsep puisi penyair manapun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berfikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75) dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makasar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

*Penyair

**Tulisan pernah dimuat di inspirasi.co

Wednesday, January 29, 2014

Puisi Esai: Tak Percaya pada Kekuatan Kata

Marhalim Zaini*


Adalah Denny JA, yang lebih kurang setahun silam, menggaungkan sebutan “puisi esai” untuk bukunya berjudul Atas Nama Cinta. Belakangan kian tenar namanya, ketika cogan “Indonesia Tanpa Diskriminasi” meramaikan iklan di televisi. Satu lagi, yang seolah bersebati dengan nama Denny JA adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebab ia Direktur Eksekutifnya.

Awal kemunculan “puisi esai” memang mengundang cukup ramai perbincangan. Tokoh-tokoh sastra, seperti Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Ignas Kleden, D. Zawawi Imron, Maman S. Mahayana, Leon Agusta, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan beberapa yang lain, turut menulis, merespons dengan cara mereka masing-masing. Tulisan-tulisan mereka telah dibukukan dalam Puisi Esai, Kemungkinan Baru Puisi Indonesia, yang dieditori Acep Zamzam Noor.

Ketika saya jadi juri baca puisi di TIM, bulan puasa silam, buku itu saya beli. Saya baca, meski tidak semua esai. Maka berbagai argumentasi lalu-lalang, dengan berbagai teori dan pendekatan. Mantap. Saya merasa para tokoh sastra kita itu guyup. Siap menyambut dengan tangan terbuka setiap (yang dianggap) “kemungkinan baru” kreativitas dalam dunia penciptaan sastra, penciptaan puisi. Dan malah, pentingnya buku ini bagi saya adalah (justru) mengingatkan kembali betapa sesungguhnya sejarah perjalanan sastra kita demikian panjang, demikian kompleks.

Namun, dengan diingatkan begitu, saya kemudian harus kembali bersepakat (sambil mengingat mendiang HJ) bahwa memang “tak ada yang baru di bawah matahari ini.” Karena, setelah membaca ulasan-ulasan para tokoh sastra itu, bagi saya, justru kembali menegaskan dan membuat apa yang disebut “puisi esai” itu menjadi sebuah “pengulangan” saja. Hanya berubah nama, misalnya dari “puisi prosaik”, “puisi panflet”, “puisi naratif”, “prosa liris”, dll.

Banyak tokoh pelopornya (sebagaimana diurai Maman dengan baik dalam esainya di buku itu). Malah saya merasa, puisi “model” semacam ini, kok sudah “selesai” digarap dengan apik oleh Linus Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Saya merasakan benar, prosa liris itu mengalir, dalam liukan sungai sejarah Jawa, mitos, identitas budaya, karena saya sempat menyaksikan si penyairnya membacakan di Jogja. Merinding saya. Kepekaan sosial saya bangkit. Tak pun ada catatan kaki yang panjang lebar di sana, saya sih sudah terang merasakan dan memahami kontekstualitasnya dengan realitas, dengan fakta-data.

Maka, soal catatan kaki dalam puisi, sudah bukan barang baru sebenarnya. Sapardi menjawab itu (dalam esainya). Catatan kaki dalam puisi, kata Sapardi, “tidak jarang diperlukan untuk memberi penjelasan mengenai berbagai hal seperti nama, peristiwa, bahasa asing, dan berbagai hal lain yang diharapkan bisa membantu pemahaman pembaca.” Lalu apa bedanya dengan catatan kaki dalam “puisi esai” Denny JA?

Tapi, untuk bahan diskusi lebih lanjut, penting rasanya saya ketik ulang, apa yang jadi kriteria “puisi esai” yang dimaksud Denny JA itu (hal. 36):

(1) Ia harus menyentuh hati dengan cara mengeksplor sisi batin, dan mengekspresikan interior psikologi manusia kongkret; (2) Ia harus memotret manusia kongkret itu dalam suatu ivent sosial, sebuah realitas kongkret juga yang terjadi dalam sejarah. Tak terhindari sebuah riset dibutuhkan untuk memahami realitas sosial itu. Tak terhindari juga catatan kaki menjadi sentral dalam medium itu; (3) ia harus dituliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti publik luas, tapi tersusun indah; (4) ia harus menggambar suatu dinamika sosial atau dinamika karakter pelaku. Tak terhindari medium itu menjadi panjang dan berbabak.

Bagi saya—dan sepakat dengan Maman—bukankah memang demikian itulah kerja sastra selama ini? Sudah dari sononya begitu, taken for granted. Saya, justru melihatnya, yang utama dari upaya “puisi esai” ini adalah point ketiga, “dituliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti publik luas.” Dan di sinilah problemnya. Kalimat semacam itu, justru sedang menggiring kita (penyair dan juga pembaca) untuk tidak percaya pada kekuatan “kata” dalam puisi. Sehingga, puisi harus “dijelas-jelaskan” kembali dengan membuat catatan kaki sebagaimana layaknya sebuah esai (ilmiah). Sehingga puisi tidak lagi “mandiri” sebagai “kata-kata” yang (boleh jadi, suturut Tardji) terbebas dari makna.

Bahwa kelak, fakta-data yang ada dalam puisi, tidak lagi “diupayakan” dengan berdarah-darah oleh sang penyairnya, untuk menemukan “bahasa” puisi, yang khas milik penyairnya, sebab sudah tersandra oleh “cara baca” yang diseragamkan: dimengerti publik luas. Maka, kekuatan “peristiwa” (sebagai cerita) akan mengalahkan kekuatan “kata” (sebagai citra). Dan kelak, kita akan temukan kata-kata yang pejal, tak berdaya, tak lagi liar, terseok-seok dalam dunia industri, gampang lenyap dalam sekejap, bagai berita, bagai sinetron, bagai iklan, bagai hiburan belaka...


*Penyair, tinggal di Riau

Tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos

Posisi Puisi, Posisi Esai


Maman S Mahayana*

Ketika jurnalistik berhadapan dengan tembok kekuasaan, sastra dapat digunakan sebagai saluran”. Begitu pesan Seno Gumira Ajidarma dalam buku antologi esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Pesan itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban estetik atas sejumlah cerpennya yang berkisah tentang berbagai peristiwa aktual dan faktual. Secara cerdas, Seno menunjukkan posisi sastra yang bisa begitu lentur dalam menyampaikan kritik sosialnya. Maka, peristiwa sosial politik tentang petrus (Penembak Misterius, 1993) dan tragedi di Dili (Saksi Mata, 1994) yang tabu diberitakan sebagai laporan jurnalistik, dikemassajikan dalam bentuk cerpen yang asyik.

Begitulah, ketika kekuasaan melakukan pembungkaman atas kebenaran, sastra dengan caranya sendiri justru leluasa menyampaikannya, meski di sana bahasa denotatif disulap jadi konotatif. Tentu saja Ajidarma tak sendirian. Rendra, Taufiq Ismail, Pramoedya, dan sejumlah sastrawan lain adalah para pewarta yang memilih sastra sebagai medium ekspresi perlawanannya pada kebrengsekan. Fakta-fiksi dalam sastra seperti cuma dibatasi garis tipis. Itulah wilayah permainan sastrawan. Kini Denny JA, ilmuwan sosial dan penulis esai prolifik, menawarkan konsep puisi-esai, sebagaimana diniatkan dalam antologi Atas Nama Cinta (2012): sebuah judul yang sama dengan naskah drama Agus R Sarjono (2004). Di manakah konsepsi puisi-esai itu hendak ditempatkan?

Dalam pengantarnya, Denny menyebutkan kriteria puisi esai: (1) mengeksplor sisi batin, psikologi, dan sisi human interest pelaku; (2) dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami; (3) tak hanya memotret pengalaman batin individu, tetapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral; dan (4) diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tetapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial. Bagi sastra (yang baik) kriteria itu sudah seharusnya begitu; take for granted, meski data dan fakta menjadi fiksional, otonom, dan hanya berlaku dalam karya itu.

Ada lima peristiwa yang diangkat Denny, yaitu tragedi Mei (”Sapu Tangan Fang Yin”), musibah Ahmadiyah (”Romi dan Yuli”), petaka TKW (”Minah Tetap Dipancung”), perkawinan sejenis (”Cinta Terlarang”), dan kasih tak sampai karena perbedaan agama (”Bunga Kering Perpisahan”). Di sana ada 39 catatan kaki. Mencermati puisi-puisi itu, segera dapat dipahami kriteria yang diajukan Denny. Ada usaha sangat serius mengangkat fakta jadi puisi, meski dua puisi terakhir dalam sastra Indonesia bukanlah tema baru, seperti pernah diangkat Riantiarno (Cermin Merah, 2004) dan Ramadhan KH (Keluarga Permana, 1978).

Apanya yang esai jika puisi-puisi itu tidak berbeda dengan prosa liris Pengakuan Pariyem (1979) Linus Suryadi yang fenomenal? Jika kehadiran catatan kaki menjadi sentral, mengapa cuma 39 catatan kaki dari lima tema besar itu? Bahkan, enam catatan kaki pada ”Bunga Kering Perpisahan” terkesan laksana minyak dengan air; tak menyatu. Boleh jadi lantaran peristiwa Dewi-Albert tidak seheboh tiga peristiwa yang ditempatkan di awal. Jika Atas Nama Cinta termasuk puisi naratif, kita mudah saja menemukannya pada puisi-puisi Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Rendra, Taufiq Ismail, atau Ridwan Saidi (Lagu Pesisiran, 2008) yang di sana-sini sengaja pula menyertakan catatan kaki.

Dalam khazanah sastra Sunda, pantun Lutung Kasarung atau Ciung Wanara dan sejumlah besar syair Melayu pada dasarnya adalah puisi naratif. Bahkan, pada 1890 Tan Teng Kie pernah membuat semacam laporan jurnalistik lewat tiga syair panjangnya. Salah satunya, peristiwa pembangunan jalan kereta api dari Cikarang-Kedung Gede, Karawang, berjudul Syair Djalanan Kreta Api (Bataviasche Oosterspoorweg dengan Personellnja bij gelegenheid van opening der lijn Tjikarang-Kedoeng Gede Bezongen oleh Tan Teng Kie). Di sana disertakan juga jadwal keberangkatan kereta api ”Djoeroesan Batawi Kedoeng Gede”. Jika Denny merasa langkahnya merupakan sesuatu yang baru dalam sastra Indonesia, oleh karena itu sangat mungkin menjadi genre atau paradigma baru, maka tawaran itu kesorean: sudah lama terjadi dalam tradisi perpuisian Indonesia. Mari kita coba tengok ke belakang.

Sastra dan seni niscaya selalu berada dalam ketegangan konvensi dan inovasi. Tarik-menarik tradisi dan eksperimentasi sebagai gerakan pembaruan yang menyangkut bentuk dan isi tiada henti timbul-tenggelam menandai perjalanannya. Ingat saja Muhammad Yamin yang menawarkan soneta untuk menolak syair dan pantun. Dengan semangat yang sama, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan para penyair Pujangga Baru mengusung konsep Puisi Baru. Meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara. Pertanggungjawaban estetik yang dirumuskan STA dan esai-esai penyair Pujangga Baru gagal dilesapkan dalam puisi-puisi mereka lantaran spirit pantun dan syair tidak mudah begitu saja dibenamkan.

Konsep puisi baru penyair Pujangga Baru justru baru berhasil pada Chairil Anwar, meski ia tak merumuskan konsep estetiknya. Chairil lebih menekankan pada spirit, semangat, seperti disampaikan dalam esainya, ”Hopplaa!” Dikatakan, ”Pujangga Baru sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapan kebudayaan. Sekarang: Hopplaa! Lompatan yang sejauhnya. Sesudah masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi pada dengan penghargaan, Mimpi Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata ialah These sendiri!

Kredo Sutardji Calzoum Bachri pada dasarnya merupakan pertanggungjawaban estetik atas spiritnya mengembalikan kata pada mantra. Dikatakan Ignas Kleden, sebagai ”rencana kerja seorang penyair; sebagai suatu program, desain, dan bahkan tekad”. Langkah para sastrawan yang disebutkan tadi adalah fakta sejarah. Mereka selalu tergoda berada dalam ketegangan konvensi-inovasi. Tentu saja ketergodaan itu tak hadir seketika. Ada proses panjang kegelisahan untuk membangun saluran, estetika, dan paradigma baru. Dalam hal ini, tak berarti para sastrawan itu melalaikan fakta, menutup mata pada semangat zaman, atau abai pada gejolak kehidupan sosial politik. Segalanya justru berangkat dari fakta sosial dan sastra sekadar medium yang dipilihnya.

Tak ada karya sastra yang lahir dari ketiadaan. Mustahil pula sastra tanpa fakta. Sastra tak diturunkan malaikat dari langit, begitu Sapardi Djoko Damono berfatwa. Hakikat sastra yang fiksional tidak serta-merta merupakan kedustaan atau sekadar kebohongan. Ada kebenaran faktual. Lewat kreativitas fakta menjelma fiksi. Maka novel Wagahai wa Neko de Aru—Natsume Soseki(1905, I’m a Cat, 1972), Animal Farm—George Orwell (1945), Tikus Rahmat—Hassan Ibrahim (1963), dan Angin Musim—Mahbub Djunaedi (1986) adalah kisah para binatang yang merepresentasikan kehidupan sosial yang brengsek pada zamannya.

Puisi pamflet atau puisi gelap yang jumpalitan sekalipun berangkat dari fakta. Tetapi, ada fakta yang disembunyikan dalam lorong gelap, ada yang terang benderang, ada pula yang sekadar memberi sinyal untuk memasuki ruang puisi. Puisi-puisi dalam Atas Nama Cinta, hakikatnya puisi terang benderang. Maka, ada atau tidak ada catatan kaki, tak mengubah puisi itu jadi esai, bahkan tidak juga membuat pembaca mengalami kesulitan memahami isinya. Catatan kaki sekadar tambahan informasi dan tidak menjelma menjadi esai tersendiri.

Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai? Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi. Bahkan, tiga alinea terakhir catatan Sutardji menegaskan toleransinya pada siapa pun yang punya niat baik menyemarakkan khazanah perpuisian Indonesia. Dalam konteks itu, sastra Indonesia perlu memberi apresiasi atas sumbangan yang ditawarkan Denny JA.

* Pengajar FIB-UI; Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul

Tulisan ini pernah dimuat inspirasi.co

Tuesday, January 28, 2014

Memahami Puisi Esai Denny J.A.

Sapardi Djoko Damomo

Ketika Denny JA mengirimkan sajak-sajaknya yang panjang, ada suatu hal yang menyebabkan saya tertarik untuk mengajukan masalah: apa gerangan hubungan antara puisi dan catatan kaki? Seperti yang sudah dijelaskannya sendiri dengan baik, catatan kaki dalam puisinya memiliki fungsi yang utama dalam pemahamannya.

Apakah catatan kaki tidak diperlukan dalam penulisan puisi? Apakah tidak ada penyair mencantumkan catatan kaki dalam puisinya? Jawabannya tentu sudah kita ketahui: ada. Catatan kaki tidak jarang diperlukan untuk memberi penjelasan mengenai berbagai hal seperti nama, peristiwa, bahasa asing, dan berbagai hal lain yang diharapkan bisa membantu pemahaman pembaca. Dan catatan kaki bisa ditulis oleh penyairnya sendiri atau oleh orang lain. Dalam hal terakhir yang disebut itu puisi terjemahan sering menuntut catatan (kaki) untuk memberi keterangan tentang apa saja yang dianggap asing oleh pembaca sasaran.1 Tentu bisa saja catatan kaki tidak usah disertakan dan pemahamannya diserahkan sepenuhnya kepada pembaca.

Jadi, apa hubungan antara catatan kaki dan puisi Denny? Dalam pengantarnya, Denny mengatakan bahwa puisinya “tak hanya memotret pengalaman batin individu tetapi juga konteks fakta sosialnya.” Selanjutnya dijelaskannya bahwa karangannya diupayakan “tak hanya menggetarkan hati tetapi juga membantu pembaca lebih paham isu sosial di dunia nyata.” Untuk mencapai sasaran itu catatan kaki yang berasal dari berbagai jenis sumber menjadi sangat penting, menjadi bagian yang sebaiknya tidak dipisahkan dari puisinya. Karena adanya catatan kaki yang fungsinya sedemikian itulah maka saya tertarik untuk mendiskusikan masalah itu di dalam catatan ini.

Karangan Denny ini puisi –itu jelas, karena antara lain ditulis dalam bentuk visual yang berupa larik yang dikumpulkan dalam bait. Dan puisi adalah fiksi, artinya karangan yang bersumber terutama (dan kadang-kadang semata-mata) pada imajinasi dan kreativitas. Betapa dekatnya pun kisah yang ditulis Denny dengan segala sesuatu yang pernah terjadi, semuanya adalah fiksi karena bersumber pada imajinasinya. Bahwa imajinasi biasa dipicu oleh segala bentuk peristiwa, itu tentu kita pahami. Itulah yang saya baca dalam karangan Denny ini.

Namun, Denny menyebut karangannya “puisi esai.” Apakah esai bukan fiksi? Orang mengatakan esai adalah fakta yang disampaikan dengan cara khas, yang mencerminkan opini penulisnya. Esai adalah tulisan yang merupakan tanggapan pribadi terhadap masalah apa pun yang terjadi di sekitarnya; dari sisi itu esai adalah karya sastra.

Karya sastra juga memiliki fungsi serupa.2 Namun, catatan kaki yang dicantumkan dalam buku ini bukan sekadar pandangan pribadi tetapi berasal dari berbagai sumber yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai esai. Kita suka menyebut catatan kaki yang dicantumkan Denny itu sebagai fakta. Banyak di antara catatan kaki itu berupa berita, itu tentu yang menyebabkan kita suka mengklasifikasikan sebagai fakta. Berita selalu dikaitkan dengan fakta, sesuatu yang benar-benar terjadi. Nah, apa jadinya kalau fakta yang ada dalam catatan kaki itu dipakai untuk merujuk fiksi, yakni puisi yang bersumber pada imajinasi Denny?

Berita itu nyata, fiksi tidak; begitu umumnya pandangan kita. Tetapi bukankah “berita” bisa dengan mudah berubah atau diubah menjadi “cerita”?3 Saya mendapat kesan bahwa adanya perbedaan antara fiksi dan fakta, antara berita dan cerita itulah yang menyebabkannya memikirkan suatu jenis karangan yang selama ini belum pernah saya dapati dalam perkembangan kesusastraan kita. Ia menyebut jenis karangannya ”Puisi Esai.”

Dalam hal ini, esai diklasifikasikannya sebagai fakta, dan tentunya puisi sebagai fiksi. Hal yang menarik perhatian saya ketika membaca karangan dan penjelasan Denny adalah bahwa muncul tarik-menarik antara “berita” dan “cerita.” Itulah tentunya yang diinginkannya: ia mengarang lima buah kisah yang ada kaitannya dengan berbagai isu sosial dan budaya, tetapi ia tidak ingin pembaca sekadar menikmati kisahnya. Ia juga menginginkan pembaca “lebih paham isu sosial.” Itulah hakikat catatan kaki yang disertakannya.

Ketika Rendra dan F. Rahardi, misalnya, menulis puisi sosial, mereka juga tentunya menginginkan kita “lebih paham isu sosial” dan menawarkan pandangannya tentang isu tersebut. Namun, kedua penyair itu tidak menyertakan catatan kaki. Dalam salah satu sajak F. Rahardi tentang tuyul, ada kutipan dari kamus tentang definisi tuyul, dan itu bagi saya merupakan sejenis “catatan kaki” juga —yang dimasukkan ke dalam tubuh puisinya.4 Berbeda dengan kedua penyair tersebut, Denny tidak cenderung mengejek atau menyalahkan satu pihak tetapi lebih menunjukkan adanya “ikhtiar perlawanan,” apa pun hasilnya.

Hal itu antara lain menunjukkan bahwa karangan Denny bukan puisi perlawanan atau puisi sosial seperti yang selama ini kita pahami, tetapi sejenis puisi yang khas cara penulisannya, yang disebutnya puisi esai. Kita tahu bahwa di bidang fotografi ada yang disebut foto esai, yakni serentetan foto yang “berkisah” tentang suatu isu —biasanya tanpa catatan kaki dalam ujud seperti yang ditampilkan Denny dalam karangannya.

Dalam ujud seperti yang dipilih Denny ini, puisi esai bisa menjadi pilihan bentuk bagi siapa pun yang memiliki pandangan yang sama. Yang disampaikan dan ditulis Denny berasal dari suatu gagasan yang dengan jelas ia uraikan di dalam pengantar. Yang lebih penting lagi adalah bahwa ia telah mengangkat isu yang sepanjang pengetahuan saya belum pernah diungkapkan dalam puisi kita, seperti isu Ahmadiyah, homoseksualitas, TKW, perbedaan agama, dan dampak peristiwa Mei 1998 dalam sajak-sajak yang panjang lengkap dengan catatan kaki. Banyak penyair kita telah menulis puisi tentang peristiwa Mei 1998, misalnya, tetapi semuanya dalam bentuk lirik – pengungkapan perasaan dan emosi terhadap peristiwa tersebut.

Dalam kelima sajak yang dimuat dalam buku ini, Denny mengklasifikasikan semua itu dalam masalah diskriminasi. Setidaknya, itulah yang menjadikan gagasan dan karangan yang diberinya label Puisi Esai penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita.

Saya kira ia tidak perlu risau apakah jenis puisi yang dipilihnya ini akan ditulis juga oleh penyair lain kelak. Ia sudah menawarkan suatu cara penulisan baru, dan itu sudah lebih dari cukup —apalagi dikatakannya bahwa beberapa orang juga akan memilih bentuk serupa dalam karangannya. Jadi kita akan segera menyaksikan sejumlah puisi esai dalam bentuk buku, yang tentu kita harapkan tidak hanya mencantumkan catatan kaki yang informatif tetapi juga menyuguhkan kisah yang, menurut Denny, “menggetarkan hati.”

Kita sambut gagasan Denny yang tertuang dalam buku ini.

Jakarta, Maret 2012

1. Terjemahan puisi Mao Ze Dong yang dikerjakan oleh Soeria Disastra, Salju dan Nyanyian Bunga Mei, 2010, terbitan Tikar Publishing, bisa dijadikan contoh. Puisi lirik Mao Ze Dong diberi catatan kaki yang rinci, yang menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan peristiwa sejarah di Tiongkok ketika Mao Ze Dong menulis puisinya. Catatan kaki dalam buku itu disusun oleh penerjemahnya, tentu dengan maksud untuk memberi keterangan sejarah yang dianggap diperlukan tentang sejumlah lirik ringkas itu.
2. Saya mengungkapkan masalah itu dalam “Membaca Esai,” salah satu tulisan dalam buku esai saya, Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan?, Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta: 2011.
3. Masalah itu saya singgung dalam “Berita dan Cerita,” salah satu tulisan dalam buku saya, ibid.
4. Baca F. Rahardi, Tuyul: Kumpulan Sajak 1985-1989, Pustaka Sastra: 1990.


Sumber: inspirasi.co

Monday, January 27, 2014

Heboh 'Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh': Sastra Indonesia dan Regimentasi Kapital

ESAI

Sunardian Wirodono*

 Halim HD dalam Diskusi Sastra 27 Januari 2014; Mengurai Cengkeraman Rezim Pasar di Ranah Sastra dan Kebudayaan; Menolak Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh", di Yogyakarta. (Dok Sunardian Wirodono) 
Mengkritisi sebuah buku, apalagi buku kebudayaan (sastra di dalamnya) dengan sebuah diskusi, dan apalagi petisi untuk menolaknya, bisa jadi mengundang sinisme. Dan kita selalu mendengar anjuran klasik, lawan buku dengan buku.

Persoalan kita kemudian akan jatuh pada persoalan perspektif, yang mau tak mau tentu berkait dengan persepsi masing-masing mengenai sesuatu hal, dengan kepentingan-kepentingannya. Diskusi di ruang maya, bisa sangat bias dan kurang maksimal, meski bisa memberi efek mediasi tersendiri (yang itu juga dimanfaatkan pihak yang pro dan kontra dengan follower masing-masing). Sementara diskusi di ruang-ruang nyata (bukan berarti dumay tidak nyata), juga bukan perkara mudah untuk mengerucut pada suatu rumusan, karena bisa sarat kepentingan.

Celakanya, di Indonesia, tidak ada sesuatu yang bisa menjadi suatu tolok ukur yang komprehensif. Tiba-tiba, kita merasa, bahwa proses berkebudayaan kita masih sangat muda. Orde Baru membonsai kita dalam involusi. Di mana asosiasi profesi dicurigai bahkan ditolak, namun senyampang dengan itu, tumbuh kembali keinginan mendirikan pusat-pusat kebudayaan pada masing-masing kelompok, setelah mitos-mitos kemutlakan rejim Soeharto tumbang. Dan ketika reformasi tidak mengantar kita pada strategi kebudayaan yang terarah, yang terjadi adalah situasi chaostic.

Kita masing-masing bicara, dan tanpa mau mendengar. Ketika tiba-tiba kapital masuk dalam regimentasi kebudayaan, yang secara perlahan menggeser regimentasi pasar dan tokoh, kita semuanya kaget dan anomali. Pada sisi lain, ketika masyarakat konsumen kita belum cukup terdidik, dalam merespons ruang-ruang di sekitar, kaum kapital bisa menggunting dalam lipatan. Perspektif sejarah, sebagai ukuran proses peradaban dan keadaban, boleh diabaikan.

Saya senang, diskusi yang diselenggarakan teman-teman di Yogya, mampu mengambil jarak untuk melihat pokok persoalannya, yang bukan sekedar pantas dan tidak pantas soal "puisi esei", "Denny JA", atau "Jamal D. Rahman dkk." Amatan Halim Hade dalam "Diskusi Sastra 27 Januari 2014; Mengurai Cengkeraman Rezim Pasar di Ranah Sastra dan Kebudayaan; Menolak Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh", di Yogyakarta itu, agaknya hendak menuju ke sana. Bagaimana muncul kepentingan-kepentingan di luar nilai-nilai kebudayaan, yang menghegemoni kepentingan intrinsik karya kebudayaan (intelektualitas) itu.

Praktik yang terjadi kemudian, sebuah proses intelektualisasi bisa didorong oleh faktor-faktor yang melingkupinya. KPG (Kelompok Kompas Gramedia, sebagai "penerbit" buku 33 Tokoh itu), yang dulunya dianggap representasi kepentingan publik dengan buku-buku bermutu dan terpercaya, bisa mengalami distorsi. Karena rejim kapital bisa menggusur tolok ukur kepantasan yang merepresentasikan keutamaan publik. Logo penerbitan yang merepresentasikan 'pride' dan 'legacy', bisa dibeli untuk menerbitkan buku (apapun) asal penulisnya membayar biaya cetak dan 'sewa' logo.

Banyak buku memoar atau biografi tokoh terkenal, yang terbit dengan logo resmi KPG, namun hal itu bukan berdasar kriteria standar penerbitan seperti biasanya, yang mesti harus melalui proses seleksi dan penilaian dewan redaksi. Regimentasi kapital ini, bisa kita lihat pada karya-karya kesenian lain, yang kemudian menjadi sangat dan makin personal (dan individual) sebagai penghamba yang melayani. Kemuliaan publik, tidak menjadi kepentingan karya, kecuali menjadi urusan pencanggihan-pencanggihan teknis kreator, kurator, editor, dan calo.

Lahirnya buku "33 Tokoh,..", hanyalah sebuah contoh, bagaimana perspektif sejarah diabaikan, bahkan untuk melakukan kanonisasi atas perjalanan patrap kebudayaan (sastra) selama 100 tahun, yang hendak dibekukan oleh Tim 8, Jamal D. Rahman dkk. Apalagi dengan ukuran, kriteria, yang terbuka untuk digugat dan diperdebatkan. Kontroversi yang muncul tentu soal siapa mereka, dan bagaimana mereka melakukan otorisasi publik, dengan memakai institusi publik yang sudah teruji seperti PDS-HBJ dan KPG (sebagaimana Maman S. Mahayana mau diundang masuk Tim 8 karena menyangka berkait Majalah Horison dan PDS-HBJ. Ada unsur kriminal di sana, ketika PDS-HBJ menolak terlibat. Dan menjadi aneh, Maman S. Mahayana menolak Denny JA masuk dalam 33 Tokoh Sastra.

Demikian juga resonansi yang terjadi, dengan mundurnya Cecep Syamsulhari dari posisi sebagai redaktur Majalah Sastra Horison, berkait dengan buku 33 Tokoh). Semua itu menjadi relevan untuk dipertanyakan. Bahwa Tim 8 tidak cukup representatif, hingga ia perlu digugat dan bahkan ditolak.

Persoalannya, bagaimana caranya? Membuat petisi, membakar, menarik buku itu dari peredaran dengan meminjam tangan kekuasaan? Diskusi di Yogyakarta (dengan pembicara Halim Hade dan Anindita S. Thayf, dan moderator Kamerad Kanjeng, 27/1) itu, adalah awalan yang bagus bagi teman-teman yang menolak, untuk memikirkan cara. Karena berbeda dengan produk obat atau makanan, yang mempunyai PPOM/POMG sebagai lembaga yang kompeten, dengan penelitian laboratorium dan klinis. Lha buku, apalagi buku sastra? Indonesia tidak mempunyai lembaga yang legitimated untuk itu. Di Jakarta saja, masing-masing menciptakan musuh sendiri-sendiri, antara Palmerah, Salihara, Depok, Komunitas Bambu, Sastra Buruh, Sastra Boemipoetra, dan lain sebagainya. Belum pula suara-suara dari Yogyakarta, Bandung, Bali, Makasar, Medan, Padang, Aceh, dan lain sebagainya.

Pergerakan kebudayaan kita, berbeda dengan negara-negara Amerika Latin yang dipersatukan secara bahasa dan ideologis (sebagai negara pinggiran), yang mampu secara genealogis mengidentifikasi dan merepresentasikan pada karya kreatif mereka. Sementara di Indonesia, sastra kita hari ini sangat terdidik untuk berkompromi pada regimentasi pasar, sehingga yang muncul adalah karya-karya dengan nafas pendek.

Semua orang tentu berhak menyampaikan pemikiran, namun ketika masuk ke wilayah publik dengan cara-cara yang anomali dan ahistoris, akan menimbulkan persoalan serius di kemudian hari. Apalagi ketika kita masuk pada nilai-nilai ukuran dengan kata "paling" dan "berpengaruh", dan dengan pembatasan jumlah. Sementara jika kita bicara otoritas dan legitimasi, kebebasan berkarya yang diberikan oleh adab kebudayaan, tidak 'mereka' lakukan dengan cara yang sepadan, tentang apa yang disebut ukuran atau kriteria, yang bahkan oleh Tim 8 juga tidak konsisten menjaganya. Tiba-tiba menjadi aneh dan berbahaya, jika mereka mengklaim sebagai buku teks sejarah sastra Indonesia yang paling sahih dalam 100 tahun ini. Jika klaim itu kemudian dipakai sebagai ukuran Depdikbud, untuk menjadikan "33 Tokoh,.." sebagai Buku Pelita, Buku yang diborong pemerintah, untuk dibagikan gratis kepada siswa-siswa SMP dan SMA Indonesia, banyak hal harus diurus; bagaimana Wowok Hesti menjadi "lebih berpengaruh" dibanding Wiji Thukul dengan data empiriknya. Dan seterusnya, kenapa begini kenapa begitu.

Anindita S. Thayf (Makasar) yang berbaik hati meresume isi buku "33 Tokoh,..." menyampaikan pendapat, bagaimana konsep dan kriteria yang menyebabkan pilihan Tim 8 atas tokoh sastra 'hanya' berjumlah 33, juga menunjukkan ketidakkonsistenan itu. Apalagi, masing-masing penulis disitu, menulis "sendiri-sendiri" di kamar masing-masing, dan kemudian seperti dikatakan Halim Hade, tidak ada yang "berani" mengambil peran sebagai editor. Maka Jamal D. Rahman menuliskan 'dkk' di belakang namanya, bukan 'editor' misalnya. Karena sejak awal, the man behind 'design' itu, kata Halim, lebih penting diusut. Dan selama Tim 8 tidak muncul ke ruang publik untuk mempertanggungjawabkan karyanya, maka kredibilitas mereka dipertanyakan.

Semestinya, diskusi-diskusi publik mengenai hal itu, menarik dikembangkan. Sinisme di luaran, tidak perlu ditanggapi berlebihan. Karena bagi yang mencintai dunia sastra Indonesia dan masa-depannya, pasti akan tahu pentingnya pergulatan ini.

Sunardian Wirodono
Yogyakarta, 27 Juli 2014

Tulisan ini berasal dari blog pribadi penulis:http://sunardian.blogspot.com/2014/01/sastra-indonesia-dan-regimentasi-kapital.html

Saturday, January 25, 2014

Denny JA dan Kicau-kicaunya yang Kacau

ESAI

Khrisna Pabhicara Mare*
@1bichara


Remy Silado, Goenawan Mohamad dan Sutardji Calzoum Bachri merasa jengah. Mereka merasa tidak layak dimasukkan ke dalam jajaran 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Pada sisi berbeda, Denny JA—meski pernah menyatakan tidak sedang dalam upaya bela diri—sibuk memampang pernyataan-pernyataan pembelaan atas keterpilihannya.

Tentu sah-sah saja “trio jengah” di atas merasa tidak layak, dan boleh-boleh saja Denny menabalkan diri sangat layak ditahbiskan sebagai tokoh paling berpengaruh. Bagaimanapun, mereka tentu memiliki latar pikir yang, semoga, cukup beralasan. Orang-orang di luar mereka hanya bisa menerka-nerka, menduga-duga, atau membaca tanda-tanda.

Berikut ini akan saya suguhkan “tanda-tanda” yang disajikan oleh Denny JA lewat akun twitter-nya, @DennyJA_WORLD.
(4) Gaus, Tim 8, memastikan bahwa donator program ini dua pengusaha berinisial ET dan FE … [08.09; 22/1/14]
(5) Tim 8 menyatakan secara publik bahwa pendana program buku 33 Tokoh Sastra bukan Denny JA … [08.11; 22/1/14]
(6) Kesaksian Tim 8 menyadarkan kita betapa gosip dan fitnah itu salah (soal pemberi dana 33 Tokoh) … [08.15; 22/1/14]

Tanda elipsis saya gunakan untuk mewakili bagian cuitan Denny JA yang merupakan tautan blog pribadi anggota Tim 8, Ahmad Gaus.

Pada cuitan nomor 4, Denny JA menyatakan bahwa kepastian muasal modal, merujuk pada buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, berasal dari Gaus. Sementara, pada nomor 5, Denny menyebutkan bahwa pernyataan siapa yang mendanai program bersumber dari Tim 8.

Bahkan, pada angka 6, Denny menggunakan frasa yang sangat spesifik, Kesaksian Tim 8. Mengingat ajakan Chairil agar kita rajin-rajin berkaca dan menjenguk nurani, saya coba merenung dan berkali-kali mengeja tiga cuitan itu. Ini tidak berkait-paut dengan label “ekstrimis sastra” yang disematkan Denny JA kepada orang-orang yang menolak penokohannya.
Tilikan ini bertumpu pada teks semata.

Pertama, pewakilan. Seandainya Denny menyebut muasal kabar penaja buku dari Ahmad Gaus, bukan Tim 8, saya takkan menghubung-hubungkan pernyataan Ahmad Gaus dengan Tim 8. Artinya, Ahmad Gaus tetap dalam kapasitas atas nama pribadi, bukan “dengan dan atas nama Tim 8”. Hanya saja, bila kita pindah pada cuitan kelima dan keenam, jelas-jelas Denny JA menyatakan bahwa Tim 8—berarti Ahmad Gaus dan tujuh juri lainnya—selaku pihak pemberi keterangan.

Ini “fitnah samar”.

Kalau kita sasar lebih jauh, akan muncul kesangsian: apakah benar pernyataan Ahmad Gaus mewakili pendapat juri yang lain; apakah pernyataan Ahmad Gaus dilansir dengan atau tanpa sepengetahuan juri yang lain; apakah juri lain sepakat melimpahkan kewenangan kepada Ahmad Gaus untuk membuat pernyataan atas nama Tim 8; dan apakah Denny JA sudah memastikan bahwa pernyataan itu benar-benar mewakili Tim 8 atau sebatas pendapat pribadi Ahmad Gaus saja.

Kesangsian-kesangsian yang mencuat akibat ambiguitas cuitan Denny JA boleh jadi sebentuk kelalaian. Namun, bisa juga ditengarai sebagai unsur kesengajaan. Tafsir ganda sangat mungkin lahir dari seruntun kicauan itu. Celah sempit tafsir ganda inilah yang ditangkap sebagai peluang untuk membengkokkan opini khalayak, bahwa seolah-olah pernyataan itu benar-benar berasal dari Tim 8. Belum tentu semua umat (follower) Denny JA di twitter membaca keseluruhan kicauan itu, boleh jadi sebagaian di antara mereka hanya membaca angka 5 atau 6.

Ketidakcermatan inilah yang, bisa ya bisa tidak, sengaja dimanfaatkan. Akibatnya, persepsi yang muncul, Tim 8 yang mengeluarkan pernyataan. 

Lantas, kapan dan bilamana pewakilan itu dilakukan?

Untung saja Chairil sudah tidak bisa berdiri tegak di hadapan “raja kuis” ini dan menyodorinya sebuah cermin biar segera berkaca.

Kedua, tidak ingin membela diri. Melalui kicauan lain yang dilontarkan pada pukul 08.25, sepuluh menit setelah cuitan berangka 6 yang saya kutip di atas, ada pernyataan menarik dari Denny JA. Bunyi cuitannya: (12) Saya tak ingin bela diri. Namun berkepentingan memelihara Indonesia y[an]g bebas berkarya dan bebas fitnah. 

Simak pendampingan saya dan Indonesia, serta runutan memelihara-berkarya-fitnah. Asumsi yang beredar di tengah publik, terutama masyarakat sastra Indonesia, mengira Denny “sumur modal” penyusunan buku. Saya, dalam cuitan di atas, identik dengan eksistensi Denny sebagai pribadi yang ditokohkan dan paling berpengaruh, sementara Indonesia merujuk pada masyarakat yang mendiami Nusantara secara keseluruhan. Saya diposisikan sebagai penderita yang takkan membela diri.Indonesia menjadi medan bagi saya untuk menunjukkan ketokohan dan kepaling-berpengaruhandengan tindakan “memelihara”. Tujuannya, agar yang dipelihara itu bebas dari fitnah. 

Apabila kita kaitkan kicauan 4, 5, dan 6, jelas bahwa Denny JA sedang membela diri dengan menjadikan pernyataan Ahmad Gaus sebagai perisai. Meskipun dapat lahir tunas curiga baru ihwal siapa melindungi siapa atau siapa yang berlindung pada siapa. Sayang, Denny kurang hati-hati. Publik, terutama orang-orang yang berseberangan dengan pilahan Tim 8, tidak pernah menebar fitnah.

Tudingan bahwa Denny yang menggelontorkan “banyak” uang guna mendanai proyek bukan berasal dari publik, melainkan dari anggota Tim 8. Tepatnya, Maman S. Mahayana. Yang menyedihkan, Denny menelan mentah-mentah kesaksian Ahmad Gaus dan mengabaikan pernyataan Maman S. Mahayana yang lebih dulu bergema di kuping khalayak. Tentulah Gaus dan Maman punya argumentasi masing-masing dan tidak ada di antara kita, termasuk Denny JA, yang bisa memastikan siapa yang paling benar di antara mereka. Bisa Gaus, bisa Maman. Bahkan, mungkin saja, keduanya. Kita tidak mungkin pula memastikan siapa di antara Gaus dan Maman yang menebar fitnah. Bisa Gaus, bisa Maman.

Uniknya, secara amat benderang Denny berpihak pada Gaus. Dengan demikian, Denny memastikan bahwa penebar fitnah adalah Maman S. Mahayana—dengan asumsi bahwa pengamat sastra yang sekarang merantau ke Korea Selatan itu yang mengungkap penaja proyek. Banyak sekali kemungkinan yang tercium dari segitiga membingungkan ini: Ahmad Gaus melindungi kepentingannya dan kepentingan Denny dengan mengacu pada dua inisial (yang mungkin saja fitnah), Maman S. Mahayana yang menyingkap tabir suram yang telah meluluh-lantakkan reputasi dan integritas yang dibangun susah payah selama bertahun-tahun, atau Denny yang mati-matian mempertahankan citra baik di dunia persinggahannya.

Siapa yang benar di antara segitiga membingungkan itu?

Coba saja Chairil bisa bangkit dari “lelap tidurnya” untuk mengajak Tim 8 yang lain, terutama Jamal D. Rahman selaku Ketua Tim, agar kembali pada nurani.


Ketiga, potensi drama baru. Tatkala gonjang-ganjing belum surut, tiba-tiba Denny JA riuh menyulut sengkarut baru alih-alih berupaya menahan diri. Pada 24/1/14, “juru survei” ini berkicau perihal rencana memproduksi video 33 Tokoh Sastra Indonesia. Ini cuitan utuhnya.

(13) Video 33 Tokoh Sastra Indonesia @ 25 menit untuk serial TV menarik untuk direalisasikan. #denny_JA #sastra [24/1/14; 08.56]

Sekadar berteka-teki, dari mana gerangan ide ini berasal? Boleh jadi gagasan itu bermula dari “keisengan” Denny sendiri, dengan maksud agar keterpilihannya sebagai tokoh sastra paling berpengaruh lebih mengakar di benak warga Indonesia. Semacam film G30S dicangkokkan ke dalam dada generasi muda. Mungkin juga dari sodoran proposal Ahmad Gaus, atau anggota Tim 8 yang lain, agar mendapat proyek berkelanjutan. Maklum, dapur harus tetap aman. Apabila ini yang terjadi, saya menaruh iba yang dalam kepada Denny karena akan “dikorbankan” sebagai sasaran cerca lagi, selain, barangkali, mesin penyetor duit lagi. Sempat berkelebat di benak sempit saya adegan Denny yang mulai jengah—sebagaimana tiga tokoh lain—dan menyatakan “tidak layak ditahbiskan sebagai yang paling berpengaruh”.

O ya, ini teka-teki bersaput misteri semata, jangan disangka sekuntum fitnah. Tetapi, sah-sah saja Denny-Gaus-Tim 8 menyatakan teka-teki saya ini sebagai fitnah, lalu saya dilaporkan dengan delik pencemaran nama baik. Hitung-hitung, andaikan terjadi, akan mendongkrak popularitas saya. Dan, tiba-tiba lebih dari delapan juta orang datang dan membaca tulisan ini.

Tetapi, saya tidak akan mengulas anggitan Ahmad Gaus terkait klaim itu di sini. Sedang saya siapkan tulisan lain sehubungan dengan klaim itu.

Kita kembali pada perkara video tokoh tadi. Saya bayangkan proses produksi video itu bertemu banyak hambatan. Penolakan beberapa tokoh, misalnya. “Kekuatan” uang belum tentu dapat membelokkan kejengahan Remy, sekadar menyebut nama, menjadi sebentuk keriangan lantaran segepok uang disodorkan kepadanya.


Pada akhirnya, sebagai salah seorang penanda tangan petisi, saya menyarankan agar Denny JA lebih mawas diri. Konon, bukit akan rata kalau terus-menerus dikeruk. Nama besar dapat runtuh seketika apabila diri kurang awas. Apalagi, mengingat sastra hanya “rumah singgah” baginya, akan lebih elok apabila beliau berbesar hati untuk menahan diri. Cobalah sesekali penuhi ajakan Chairil. Luangkan waktu, barang sepermainan sepak bola, untuk menyapa dan berbincang-bincang dengan nurani.

Tidak perlu menunggu Chairil tiba bersama cerminnya, bukan? []

* Cerpenis, tinggal di Bogor



Wednesday, January 22, 2014

Horison Makin Mendung: Tentang Buku '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'

Akmal Nasery Basral (Dok Akmal Nasery Basral)
Akmal Nasery Basral*

Sehari setelah Natal 2013 saya menerima telpon dari kawan saya Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Riny, nama panggilan Ariany, menanyakan alamat rumah saya untuk pengiriman sebuah buku baru yang akan dirilis 3 Januari 2014 di kantornya disertai pesan, “Teman-teman mengharapkan mas Akmal datang sebagai peserta aktif dalam diskusi setelah peluncuran buku,” katanya di ujung telepon.

“Untuk bahan diskusi mas Akmal baca saja pengantar yang ditulis Jamal (D. Rahman) pada buku yang akan
kami kirim,” katanya.

Dua hari setelah itu sebuah buku setebal 734 halaman tiba di rumah saya. Pada sampul kiri atas tertera tulisan: Jamal D. Rahman dkk. Yang disebut “dkk” ternyata tujuh orang, yakni Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Mereka menamakan diri Tim 8.
selera literer: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Judul yang membawa saya teringat sejenak pada karya ikonik Martin Seymour Smith,  The 100 Most Influential Books Ever Written: The History of Thought from Ancient Times to Today (1998).  Pada daftar Smith--seorang penyair, penulis biografi dan kritikus sastra asal Inggris--terdapat The Koran (Al Qur’an, no. 26) yang mengundang perdebatan tentang apakah kitab suci bisa digolongkan ke dalam “buku yang pernah ditulis” seperti dalam pengertian Smith.

Sebelum membaca pengantar Jamal, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, saya lebih dulu memindai daftar isi secara cepat--sebuah kegiatan praktis yang bisa memberikan gambaran awal isi buku. Nama-nama familiar langsung terbaca: Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, HAMKA, Armijn Pane, Amir Hamzah, HB Jassin, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Remy Silado, Emha Ainun Nadjib, Afrizal Malna, Denny JA …

Hah? Denny JA? Pengamat politik yang gencar beriklan tentang keampuhan metode surveinya itu?

Untuk beberapa detik saya merasa terserang absent minded. Apakah saya tidak salah baca? Atau buku ini yang salah cetak? Saya baca untuk kedua kalinya dengan perlahan: tetap tidak ada perubahan aksara di sana. Dan ini menimbulkan rasa penasaran luar biasa di benak, sehingga saya putuskan untuk membaca lebih dulu bagian yang beranak judul “Penggagas Puisi Esei” dan ditulis oleh Ahmad Gaus itu (h. 647-663).

Salah satu poin yang ditulis Gaus--pengajar mata kuliah Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan di Swiss German University (SGU) Tangerang, Banten, adalah pengakuannya bahwa kumpulan puisi esai Denny JA Atas Nama Cinta (2012) telah memengaruhi sejumlah penulis untuk mengekor dengan gaya puisi esai yang sama. Gaus mencatat sembilan buku yang terpengaruh oleh Denny JA sampai akhir 2013.

Dan siapakah pengekor yang menempati urutan pertama? Tak lain buku Ahmad Gaus sendiri yang berjudul Kutunggu Kamu di Cisadane (2012), dengan kata pengantar oleh Jamal D. Rahman. Lalu dari delapan buku sisanya, nama Jamal kembali muncul, biasanya sebagai pemberi kata pengantar, selain beberapa nama anggota Tim 8 lain seperti Acep atau Nenden. Artinya satu hal jelas sudah: Denny JA memang berpengaruh secara personal kepada anggota Tim 8.

Usai membaca pemaparan Gaus, alih-alih teryakinkan oleh argumentasinya yang mempostulatkan bahwa “puisi esai merupakan pembaruan dari puisi yang lazim dikenal selama ini” (h. 653), intuisi saya bereaksi membentuk sebuah imajinasi visual seakan-akan menyaksikan seorang shaman sedang merapal mantra pengundang badai. Bayangkan, perasaan itu terjadi bahkan tiga hari sebelum fajar tahun baru menyobek horison!  Mendadak saya begitu ingin  3 Januari 2014 cepat datang, dan saya akan hadir untuk menjadi saksi mata dari sebuah “sejarah sastra”.

Sebuah perasaan lain sempat menyelinap di hati saya, terutama menyangkut Jamal dan Joni Ariadinata, yang dengan mereka--selain puluhan sastrawan lain--saya sempat menghabiskan waktu beberapa hari pada Maret 2013 di Sumatra Barat, untuk mengikuti Deklarasi Hari Sastra di SMA 1 Birugo, Bukittinggi.

Mereka tak pernah sekalipun keceplosan menceritakan tentang penulisan buku ini. Bahkan ketika pada satu malam tinggal saya, Joni, dan Fadli Zon--yang juga anggota dewan redaksi Horison--mengisi puncak malam dengan berkaraoke di Aie Angek Cottage tempat kami menginap, Joni yang punya cengkok suara bagus dalam menyanyikan lagu-lagu Melayu itu pun lebih banyak memberikan komentar tentang novel terbaru saya Tadarus Cinta Buya Pujangga, yang memang pada siang hari sebelumnya sempat diperkenalkan kepada hadirin bersama kumpulan puisi terbaru D. Zawawi Imron Mengaji Bukit Mengeja Danau.

Kalau dipikir lagi sekarang, agak “kesal” juga saya--dalam arti positif bukan negatif--mengapa sampai tak mendengar selentingan adanya proses penulisan sepenting itu. Apalagi kalau diingat bahkan dengan Riny Isnamurti,   pada akhir Nopember 2013 selama beberapa hari, kami menghabiskan waktu bersama mengikuti acara Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negeri Serumpun yang diikuti peserta lima negara berbahasa Melayu dan dua peninjau dari Italia.   

Jadikah saya datang ke PDS HB Jassin pada 3 Januari? Sayangnya tidak.  Jadwal peluncuran buku yang bersamaan dengan akhir musim liburan pendek anak sekolah, membuat saya harus mendahulukan libur bersama dengan ketiga putri saya. Dari luar kota saya mencoba memantau perkembangan diskusi melalui media sosial. Dan “mantra pengundang badai” yang disisipkan dalam buku tebal karya Tim 8 itu pun menunjukkan keampuhannya dengan cepat: badai kontroversi langsung datang dan terus membesar sampai sekarang.

“Kekesalan” saya sebelumnya juga mendadak sirna begitu membaca wall Facebook penulis dan mantan wartawati senior Linda Djalil yang menginformasikan bahwa penyair Taufiq Ismail bersama istri sedang bertandang ke rumahnya. Salah satu poin ucapan Taufiq--salah seorang pengampu Horison--adalah bahwa dia pun tak pernah tahu tentang proyek buku itu yang dikomandani Jamal, yang disebut Linda sebagai “anak didik” Taufiq di majalah sastra itu.

Syahdan, penyair dan aktor kawakan Aspar Paturusi juga mengirimkan pesan pendek kepada Taufiq menyatakan kegalauannya menyangkut posisi majalah Horison yang ikut terkena getah. Sebab selain Jamal, Joni pun anggota dewan redaksi majalah itu, seperti halnya Agus R. Sarjono yang baru mundur pada 2013. Syahdan pula, kerisauan Aspar dijawab Taufiq dengan menyatakan pesan sedih bahwa ini merupakan masa ujian bagi Horison sebagai institusi.

Intensitas badai itu kian terasa mencambuk dengan Surat Terbuka Cecep Syamsul Hari, Redaktur Pelaksana Horison, yang menyatakan mengundurkan diri dari majalah sastra legendaris itu dengan “satu alasan, dan satu-satunya alasan” adalah terkait dengan terbitnya buku tersebut. Cecep mengumumkan sikapnya dalam situs www.sastradigital.com yang dikelolanya pada 16 Januari 2014.

Satu per satu dari 33 tokoh sastra dalam buku ini pun menyuarakan semacam keberatan. Goenawan Mohamad menyatakan tak layak terpilih, karena pengaruhnya saat masih berkecimpung di majalah Tempo sebagai jurnalis mungkin ada, tapi sekarang tidak lagi.  Dengan humor satirnya yang khas, GM mengatakan tak pernah bercita-cita sebagai sastrawan berpengaruh karena cita-citanya dulu adalah sebagai “juara (lari) marathon, meskipun itu cita-cita yang pasti gagal.”

Remy Silado yang dikenal sebagai sastrawan mbeling, dan salah seorang  “paling urakan” dari daftar itu, juga menyatakan keinginan untuk “mencabut diri saya dari ke-33 tokoh tersebut.”

Saat “Paus Sastra” HB Jassin masih hidup--di buku ini Agus Sarjono memperkenalkan Jassin dengan istilah baru sebagai “Pengacara Sastra Indonesia Modern--beliau pernah pasang badan di pengadilan untuk melindungi Ki Panji Kusmin (nama samaran) penulis cerpen Langit Makin Mendung yang mendulang kontroversi dahsyat menyusul publikasi di Majalah Sastra (Tahun VI. No. 8, Edisi Agustus 1968).  Entah bagaimana sikap Jassin seandainya kini menghadapi “horison makin mendung” yang memayungi ranah sastra tanah air. Akankah Jassin tetap akan pasang badan demi kebebasan ekspresi, yang kali ini digunakan Tim 8?

Menarik ditunggu kelanjutan badai kontroversi buku ini, karena sejumlah penggiat sastra yang menamakan diri Tim 17, yang antara lain dimotori penyair Saut Situmorang, sudah pula mengibarkan bendera penentangan terbuka terhadap Tim 8, yang diikrarkan di PDS HB Jassin, tempat yang sama dengan buku itu diluncurkan dua pekan sebelumnya. 

*Akmal Nasery Basral novelis, cerpenis, pengampu mata kuliah penulisan fiksi di Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) Ikapi Pusat.  Bisa dihubungi lewat akun Twitter: @akmal_n_basral atau surat elektronik: akmal.n.basral@gmail.com

 
Sumber: 
http://www.mizan.com/news_det/horison-makin-mendung-tentang-buku-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh.html