Showing posts with label listrik Lampung. Show all posts
Showing posts with label listrik Lampung. Show all posts

Sunday, March 23, 2014

Berada di Dekat PLTA Batutegi, Dua Desa Belum Dialiri Listrik

Sl Pujay Pujiono/Teraslampung.com

Waduk Batutegi di Kabupaten Tanggamus (teraslampung,com)
Tanggamus—Berada di dekat pusat listrik tenaga air (PLTA) bukan berarti listrik warga akan bisa menikmati listrik sepanjang waktu. Buktinya, hingga kini dua desa yang berada di sekitar PLTA Batutegi, Tanggamus tak juga mencicipi terangnya listrik PLN.

Hal itu terungkap ketika dialog PUSSbik tentang Pelayanan Kelistrikan di Pekon Way Harong, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, digelar akhir pekan lalu.

“Sejak zaman Gajah Mada bujang sampai saat ini belum merasakan aliran listrik!” ujar seorang warga Pekon (Desa) Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, belum lama ini.

Ucapan warga itu adalah guyonan setengah satire yang menggambarkan betapa paradoksnya soal kelistrikan di Lampung.

Selain Pekon atar Lebuay, Pekon Sinarjawa, Kecamatan Air Naningan juga mengalami hal yang sama. Jarak dua desa itu hanya beberapa ratus meter dari PLTA Batutegi dan dihuni tak kurang dari 1.400 kepala keluarga.

Selama ini, jika aliran listrik di Lampung sering ‘alawarahum’ (baca: padam), pihak PLN selalu beralasan bahsa PLN kekurangan daya listrik, ada pebaikan boiler PLTU Tarahan, atau ada pemeliharaan tegangan menengah.

PLTA Batutegi memang sudah bermasalah sejak ‘lahir’. Begitu diresmikan, dayanya langsung memble karena debit air kurang. Sebaliknya, pada musim penghujan, mesin akan terendam sehingga sama sekali tidak mampu beroperasi.

Cukup mengagetkan memang dan memunculkan pertanyaan di kepala. Kok bisa ya, ada desa di dekat PLTA justru gelap gulita karena tak ada listrik?

Bendungan Batu Tegi yang berada di Kabupaten Tanggamus ini merupakan salah satu pembangkit listrik besar yang dimiliki PLN sebagai penunjang penerangan di Provinsi Lampung. Berdasarkan kajian Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (PUSSbik), warga sudah sering mengajukan usulan kepada PLN agar dua desa itu mendapatkan aliran listrik. Namun, tidak begitu mengapa usulan itu tak kunjung disetujui.

Masyarakat di dua pekon tersebut mengaku sudah mengajukan permohonan pengaliran listrik ke PLN Area Metro sejak 2007. Namun, hingga saat ini keinginan mereka guna medapat aliran listrik di rumah mereka belum juga terwujud.

Direktur PUSSbik, Aryanto, menilai seharusnya soal kelistrikan di sekitar bendungan Batutegi menjadi perhatian khusus beberapa pihak terkait. Antara lain pihak Pemkab Tanggamus, DPRD Kabupaten Tanggamus, dan PLN Distribusi Lampung.

“Sebab pelayanan kelistrikan bagi masyarakat negeri ini juga merupakan salah satu hak dasar manusia untuk bisa mendapatkan penerangan,” kata Aryanto.

Selain masih banyak kampung yang gelap karena belum dialiri listrik, fakta menunjukkan bahwa kelistrikan di Lampung sangat parah lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pemadaman bergilir sering dilakukan PLN dengan alasan stok daya listrik untuk Lampung mengalami defisit daya listrik. Hal itu disebabkan tidak beroperasinya PLTA Batutegi di Kabupaten Tanggamus, tidak maksimalnya pasokan PLTA Way Besai (90 Mw) di Lampung Barat, dan rusaknya PLTU Tarahan Unit 3 di Lampung Selatan.

PLTA Batutegi yang berdaya terpasang 28 megawatt (mw) sudah sejak beberapa tahun lalu tidak beroperasi karena debit airnya tidak cukup. PLTA Way Besai hanya menghasilkan 45 MW. Sementara PLTU Tarahan Unit 3 (100 MW) dan PLTU Tarahan 4 (100 MW) belum maksimal beroperasi sehingga pasokannya listriknya tidak sampai 100 persen.

Data di PLN Tanjungkarang, Lampung, menyebutkan kebutuhan listrik Lampung pada beban puncak, yaitu pukul 17.00--22.00 WIB, rata-rata 385 mw. Padahal, Lampung hanya memiliki ketersediaan listrik yang berasal dari PLTD dan PLTU Tarahan sebanyak 200 mw, PLTA Way Besai 90 mw, dan PLTA Batu Tegi 28 mw. Kekurangannya dipasok dari bantuan jaringan interkoneksi Sumatera Selatan sebesar lebih dari 100 mw.

Tiap hari rata-rata terjadi defisit daya sebesar 180-an mw. Kabarnya, jaringan interkoneksi Sumatera itulah yang membantu memasok daya listrik. Namun, jaringan interkoneksi Sumatera juga sering mengalami masalah karena melintasi banyak hutan lebat. (Oyos Saroso HN)


Wednesday, March 5, 2014

Warga Mengeluhkan Listrik Padam tak Sesuai Jadwal PLN

Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com

Bandarlampung—Meskipun PLN Tanungkarang sudah membuat jadwal pemadaman bergilir bagi konsumen listrik di seluruh Lampung, tetapi listrik padam di sejumlah wilayah di Lampung tidak mengenal waktu. Artinya, pemadaman listrik tidak sesuai jadwal.

Di wilayah Kelurahan Gulak-Galik, Telukbetung Utara, Bandarlampung misalnya, pemadaman terjadi hampir tiap hari dengan durasi antara 4 jam hingga 6 jam. Anehnya, pemadaman sering bersifat ‘sangat lokal’ alias hanya sebagian kecil wilayah di Kelurahan Gulak-Galik.

Pada Sabtu, 1 Maret 2014 misalnya, dalam daftar jadwal pemadaman yang dilansir PLN  Tanjungkarang tidak disebutkan bahwa Jl. Dewi Sartika-Jalan Rasuna Said dan sekitarnya ada pemadaman. Namun, kenyatannya di wilayah itu listrik padam sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

“Selang sehari kemudian, di wilayah kami listrik kembali padam sejak pukul 18.40 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Padahal, di daftar pemadaman PLN wilayah kami pada hari itu tidak masuk,” kata Bahrudin, 54, warga Gulak-Galik, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung, Kamis (6/3).

Udin mengaku sekarang sudah bosa menghubungi petugas PLN tiap kali listrik padam. Sebab, katanya, jawaban petugas selalu sama dan lama-lama menjadi klise. “Mula-mula petugas PLN di seberang telepon akan bertanya alamat saya. Kemudian dia memberi alasan pemadamaman yang sama dengan saat-saat sebelumnya, yaitu karena sedang ada pemeliharaan,” kata Bahrudin.

Menurut Bahrudin, dalam berbagai kesempatan pihak manajemen PLN Tanjungkarang selalu berpesan agar konsumen mengurangi pemakaian daya listrik pada saat beban puncak (pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00). Rentang waktu, kata Bahrudin, yang dimanfaatkan PLN untuk melakukan pemadaman listrik.

“Dalam pengumuman rencana pemadaman, PLN juga menyebutkan bahwa pemadaman akan dilakukan pada saat beban puncak. Tapi kenyataannya, pemadaman listrik tidak mengenal waktu. Bisa pagi, siang, sore, bahkan menjelang dini hari. Ironisnya, hal itu tidak terjadi saat ini saja, tetapi sudah sejak bertahun-tahun lalu,” kata dia.

Warsito (50), warga Pringsewu, mengeluhkan hal serupa. Warsito menilai PLN melakukan pemadaman sesuka hati dan tidak sesuai dengan jadwal yang dibuatnya sendiri.

"Buktinya, wilayah kami yang menurut jadwal tidak dipadamkan nyatanya padam. Pemadaman juga terjadi pada siang hari," kata dia.

Manajemen PLN Tanjungkarang, baru-baru ini mengumumkan alasan listrik di Lampung sering padam. Sama seperti yang sudah-sudah, PLN memadamkan aliran listrik secara bergilir di semua wilayah Lampung karena kegiatan pemeliharaan Major Overhaul PLTU Tarahan Unit 3.

“Maka berikut ini disampaikan jadwal Rencana Pengurangan Beban (Pemadaman Bergilir) pada Waktu Beban Puncak (17.00-22.00 WIB) demi meningkatkan kehandalan kelistrikan di Lampung,” kata manajemen PLN Tanjungkarang dalam permintaan permaklumannya kepada para konsumen.