Showing posts with label Kabupaten Tanggamus. Show all posts
Showing posts with label Kabupaten Tanggamus. Show all posts

Sunday, April 27, 2014

Polisi Duga Pemilik Pecel Lele Sebagai Pelaku Pembegalan

Diduga warung pecel lele jadi tempat berkumpul pembegal dan menggambar calon korban

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Sugiyanto (kanan) didampingi pengacara Sukriadi Siregar
Bandarlampung– Pihak Kepolisian Sektor  Wonosobo, Kabupaten Tanggamus meyakini Sugiyanto (42), warga Desa Srikuncoro , Kecamatan, Semaka Kab Tanggamus sebagai salah satu pelaku pembegalan terhadap Tatang (31) warga Bogor yang menjadi korban pembegalan pada Kamis lalu (22/4).

Sebelumnya diberitakan bahwa Sugiyanto, seorang pemilik warung pecel lele di Pasar Srikuncoro, Kabupaten Tanggamus,  menjadi korban salah tangkap dan penganiayaan oleh anggota buser Kepolisian Sektor (Polsek) Wonosobo. Polisi dikabarkan menganiaya Sugiyanto pada Selasa (22/4) sekitar pukul 17.00 WIB di tempat warung makan pecel lele milik Sugiyanto di Pasar Srikuncoro.

Kapolsek Wonosobo AKP Basuki Ismanto saat dikonfirmasi menuturkan, berdasarkan pasal 17 KUHAP seorang tersangka diduga keras melakukan tindak pidana dengan dugaan yang kuat dan berdasarkan pada permulaan bukti yang cukup dengan dua orang saksi ditambah satu alat bukti.

"Dari pasal itu, kami tengah mendalami kasusnya, sebab kuat dugaan dirinya (Sugiyanto) merupakan salah satu pelaku pembegalan. Peran Sugiyanto adalah memberhentikan laju sepeda motor korban. Selain itu, dari hasil tes urine yang dilakukan petugas dari Satnarkoba Polres Tanggamus terbukti bahwa Sugiyanto positif menggunakan narkoba," kata Basuki, Minggu (27/4)

Menurut Kapolsek, Sugiyanto merupakan pemain lama dan memang sudah menjadi pihak kepolisian i dalam kasus pembegalan di Kota Gajah (Lampung Tengah). Berdasarkan laporan dan keterangan korban, kata Kapolsek, pelaku pembegalan itu mengarah pada Sugiyanto.

“Jika Sugiyanto membantah dan mengatakan dia justru sebagai korban salah tangkap polisi, ya silakan. Personel kami mendapatkan keterangan saksi korban pembegalan bahwa ciri-ciri pelaku mirip dengan Sugiyanto. Antara lain adanya tato di kaki kanan, dan baju yang dikenakan saat menjalankan aksinya. Saksi mengenalinya karena pembegalan dilakukan siang hari," kata dia.

Mantan Wakapolsek Tanjungkarang Barat ini menjelaskan,  pada Selasa (22/4) sekitar pukul 13.00 WIB, Tatang (24) warga Bogor Jawa Barat dibegal saat mengendarai sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi F 4298 CY. Pelaku pembegalan terdiri atas empat orang. Karena peristiwanya siang hari, korban dengan mudah mengenali wajah para pelaku.

"Sebelumnya, korban dalam perjalanan dari Palembang hendak pulang ke Sukabumi. Sesampainya di Pasar Sri Kuncoro korban sempat mampir dan makan di warung pecel lele milik Sugiyanto. Seusai makan korban melanjutkan perjalanan. Namun, di tengah perjalanan ada dua sepeda motor yang mendekatinya dan memintanya berhenti dengan mengancam pakai golok," kata dia.

Basuki Ismanto menambahkan, diduga warung tersebut menjadi tempat berkumpul dan menggambar para pelaku untuk mencari sasaran calon korbannya, sementara untuk barang bukti yang diamankan yakni  baju Sugiyanto yang dipakai saat melakukan aksinya," tandasnya.

Terkait kasus yang  dialami kliennnya,kuasa hukum Sugiyanto, Sukriadi Siregar S.H mengatakan, jika benar kliennya menjadi tersangka pembegalan dia akan menyerahkan kliennya kepada polisi. Namun, kata Sukriadi harus jelas juga kasus pemukulan yang dilakukan polisi terhadap kliennya.

"Saya sudah  berkordinasi dengan pihak Polres Tanggamus atas pemukulan yang dilakukan oleh oknum kepolisian. Kami meminta Polres untuk segara mengungkap kasus ini, terhitung dari laporan ke Propam," kata dia.

Friday, April 4, 2014

DCT DPRD LAMPUNG DAPIL 4: Warga Tanggamus dan Lampung Barat Harus Cermat Pilih Wakil

Bandarlampung, teraslampung.com--Saat pencoblosan Pemilu 2014 tinggal beberapa hari lagi. Para caleg sudah gencar berkampanye, baik bersama partainya di lapangan terbuka maupun bergerilya ke kampung-kampung. Ada caleg yang menawarkan program,banyak pula yang datang dengan membawa janji-janji disertai bingkisan sembako.

"Saya merasa berat kalau bersaing dengan caleg yang masuk ke basis masyarakat pada hari-hari terakhir. Kami yang sudah lama mendampingi masyarakat dan membantu ini-itu selama bertahun-tahun kalah dengan caleg yang memberi Rp 100 ribu menjelang pencoblosan," kata Itet Trijayanti, caleg DPR RI dari PDI Perjuangan, beberapa waktu waktu di Bandarlampung.

"Kami inginnya masyarakat cerdas dan penyelenggara pemilu profesional," tambahnya.

Prof. Dr. Siti Juhro, peneliti LIPI, mengatakan caleg mungkin akan bertemu warga sekali. Setelah duduk di kursi Dewan barangkali mereka akan lupa wajah-wajah orang kampung yang pernah ditemuinya. Kalau mereka benar-benar berjuang dan kinerjanya bagus selama menjadi anggota Dewan,hal itu tentu bukan persoalan berarti. Akan menjadi soal kalau para caleg setelah menjadi anggota legislatif hanya memikirkan partai dan dirinya sendiri.

"Maka itu,calon pemilih harus hati-hati. Pilihan sekali untuk lima tahun tahun ke  depan itu harus dilakukan dengan hati-hati. Politik uang menurut saya bukan hanya melanggar aturan pemilu,tetapi haram; dosa," kata Juhro.

Inilah calon anggota DPRD Provinsi Lampung dari daerah pemilihan Lampung 4 Lampung Barat dan Tanggamus

Sunday, March 23, 2014

Berada di Dekat PLTA Batutegi, Dua Desa Belum Dialiri Listrik

Sl Pujay Pujiono/Teraslampung.com

Waduk Batutegi di Kabupaten Tanggamus (teraslampung,com)
Tanggamus—Berada di dekat pusat listrik tenaga air (PLTA) bukan berarti listrik warga akan bisa menikmati listrik sepanjang waktu. Buktinya, hingga kini dua desa yang berada di sekitar PLTA Batutegi, Tanggamus tak juga mencicipi terangnya listrik PLN.

Hal itu terungkap ketika dialog PUSSbik tentang Pelayanan Kelistrikan di Pekon Way Harong, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, digelar akhir pekan lalu.

“Sejak zaman Gajah Mada bujang sampai saat ini belum merasakan aliran listrik!” ujar seorang warga Pekon (Desa) Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, belum lama ini.

Ucapan warga itu adalah guyonan setengah satire yang menggambarkan betapa paradoksnya soal kelistrikan di Lampung.

Selain Pekon atar Lebuay, Pekon Sinarjawa, Kecamatan Air Naningan juga mengalami hal yang sama. Jarak dua desa itu hanya beberapa ratus meter dari PLTA Batutegi dan dihuni tak kurang dari 1.400 kepala keluarga.

Selama ini, jika aliran listrik di Lampung sering ‘alawarahum’ (baca: padam), pihak PLN selalu beralasan bahsa PLN kekurangan daya listrik, ada pebaikan boiler PLTU Tarahan, atau ada pemeliharaan tegangan menengah.

PLTA Batutegi memang sudah bermasalah sejak ‘lahir’. Begitu diresmikan, dayanya langsung memble karena debit air kurang. Sebaliknya, pada musim penghujan, mesin akan terendam sehingga sama sekali tidak mampu beroperasi.

Cukup mengagetkan memang dan memunculkan pertanyaan di kepala. Kok bisa ya, ada desa di dekat PLTA justru gelap gulita karena tak ada listrik?

Bendungan Batu Tegi yang berada di Kabupaten Tanggamus ini merupakan salah satu pembangkit listrik besar yang dimiliki PLN sebagai penunjang penerangan di Provinsi Lampung. Berdasarkan kajian Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (PUSSbik), warga sudah sering mengajukan usulan kepada PLN agar dua desa itu mendapatkan aliran listrik. Namun, tidak begitu mengapa usulan itu tak kunjung disetujui.

Masyarakat di dua pekon tersebut mengaku sudah mengajukan permohonan pengaliran listrik ke PLN Area Metro sejak 2007. Namun, hingga saat ini keinginan mereka guna medapat aliran listrik di rumah mereka belum juga terwujud.

Direktur PUSSbik, Aryanto, menilai seharusnya soal kelistrikan di sekitar bendungan Batutegi menjadi perhatian khusus beberapa pihak terkait. Antara lain pihak Pemkab Tanggamus, DPRD Kabupaten Tanggamus, dan PLN Distribusi Lampung.

“Sebab pelayanan kelistrikan bagi masyarakat negeri ini juga merupakan salah satu hak dasar manusia untuk bisa mendapatkan penerangan,” kata Aryanto.

Selain masih banyak kampung yang gelap karena belum dialiri listrik, fakta menunjukkan bahwa kelistrikan di Lampung sangat parah lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pemadaman bergilir sering dilakukan PLN dengan alasan stok daya listrik untuk Lampung mengalami defisit daya listrik. Hal itu disebabkan tidak beroperasinya PLTA Batutegi di Kabupaten Tanggamus, tidak maksimalnya pasokan PLTA Way Besai (90 Mw) di Lampung Barat, dan rusaknya PLTU Tarahan Unit 3 di Lampung Selatan.

PLTA Batutegi yang berdaya terpasang 28 megawatt (mw) sudah sejak beberapa tahun lalu tidak beroperasi karena debit airnya tidak cukup. PLTA Way Besai hanya menghasilkan 45 MW. Sementara PLTU Tarahan Unit 3 (100 MW) dan PLTU Tarahan 4 (100 MW) belum maksimal beroperasi sehingga pasokannya listriknya tidak sampai 100 persen.

Data di PLN Tanjungkarang, Lampung, menyebutkan kebutuhan listrik Lampung pada beban puncak, yaitu pukul 17.00--22.00 WIB, rata-rata 385 mw. Padahal, Lampung hanya memiliki ketersediaan listrik yang berasal dari PLTD dan PLTU Tarahan sebanyak 200 mw, PLTA Way Besai 90 mw, dan PLTA Batu Tegi 28 mw. Kekurangannya dipasok dari bantuan jaringan interkoneksi Sumatera Selatan sebesar lebih dari 100 mw.

Tiap hari rata-rata terjadi defisit daya sebesar 180-an mw. Kabarnya, jaringan interkoneksi Sumatera itulah yang membantu memasok daya listrik. Namun, jaringan interkoneksi Sumatera juga sering mengalami masalah karena melintasi banyak hutan lebat. (Oyos Saroso HN)


Wednesday, February 19, 2014

Di Tanggamus, Membuat KTP Sehari Jadi

Kota Agung, Teraslampung.com--Untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tanggamus menjamin pembuatan Kartu Keluarga (KK) dan KTP hanya berlangsung satu jam.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Romas Yadi mengatakan lembaganya kini menerapkan program one hour service. Dengan program itu, warga yang ingin membuat KTP tidak perlu menunggu waktu berhari-hari untuk bisa memiliki KTP baru.

“Kami ingin menghapus anggapan masyarakat kalau membuat Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus berhari-hari dengan ketentuan bahwa  syaratnya masyarakat harus dating langsung dan membawa semua persyaratan lengkap,” kata Romas Yadi, Rabu (19/2).

Kabid  Kependedukan Kabupaten Tanggamus, Darma Setiawan, mengatakan persyaratan untuk membuat KK di Tanggamus sangat mudah. Antara lain: pemohon harus membawa kartu keluarga, mengisi blangko permohonan dari kepala pekon (desa) setempat, surat keterangan nikah atau foto copy buku nikah, fotokopi ijazah  pendidikan terakhir.

“Jika tidak ada tidak sekolah , buat keterangan tidak sekolah dari kepala pekon. Lalu fotokopi KK dari keluarga induk, baik dari  pihak laki-laki dan perempuan, kalau ada,”ujarnya.

Syarat pembuatan KTP pun sama. Bedanya, kata Darm, semua surat permohonan dari kepala pekon ditujukan juga untuk KTP. “Biaya pembuatan KK sebesar Rp 15 ribu, sedangkan untuk  KTP tetap gratis. Kalau ada masyarakat yang semua syaratnya lengkap, tapi tidak selesai satu jam atau di tarik pungutan lebih besar, silakan mengadu. Ini sudah berkomitmen untuk memberikan pelayanan cepat, ” ujarnya. (Hertanto)