Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Monday, June 9, 2014

Rycko Raih Satya Karya Pembangunan dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

Presiden SBY menyebatkan peghargaan Satya Karya Pembangunan kepada Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza di sela-sela acara Pekan Nasional Kontak Tani Andalan Nasional (Penas KTNA) di Malang, 7-12 Juni 2014. (Ist)
MALANG – Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza mendapat penghargaan Satya Karya Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama dari Kontak Tani Andalan (KTNA) Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden SBY, sementara penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama diserahkan oleh  Ketua KTNA Winarno Thohir. Kedua penghargaan itu diterima Rycko pada acara Pekan Nasional KTNA  XIV di Malang, Jawa Timur, 7—12 Juni 2014.

Penghargaan Satya Karya Pembangunan diberikan kepada  Rycko karena dinilai berprestasi dalam menggagas, mendorong, dan mengimplementasikan pembangunan di Lampung Selatan sehingga pembangunan di Lampung Selatan. Hasil penilaian Dewan Juri Nasional yang menempatkan Rycko layak mendapat penghargaan yang sangat bergengsi bersama tiga pemimpin daerah lainnya.

Pada kesempatan dialog dengan para peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan yang dihadiri oleh tujuh Kepala Satker bidang Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Rycko mengatakan bahwa Penas merupakan forum untuk tukar menukar informasi, menjalin kemitraan, dan ajang promosi hasil-hasil komoditi unggulan. Dampak dari mengikuti kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya peningkatan pengetahuan, penguasaan teknologi, dan terjalinnya bisnis untuk pemasaran produk-produk pertanian. Pada akhirnya, hasil-hasil tersebut dapat mendukung kegiatan Terminal Agribisnis Lampung yang berada di Penengahan, Lampung Selatan.

Dalam pesan-pesannya kepada peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan, Rycko mengajak seluruh komponen pelaku pembangunan di Lampung Selatan pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya untuk meningkatkan sinergi dalam program dan pelakanaan pembangunan. Di sektor pertanian dalam arti luas, tujuan pembangunan diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan petani, nelayan, dan petani kehutanan di Lampung Selatan.

Ketua KTNA Winarno Thohir menyematkan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo . (Teraslampung/Aan)
Selain Rycko Menoza, penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama juga diberikan kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus Gubernur Jambi, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Padang S.N. Prana Putra  Walikota Lubuklinggau Soheh, Walikoata Palembamg Romi Herton, Bupati Muaraenim, Muzaki Sai Sohar;  Walikota Prabumulih Ridho Yahya, Bupati Merauke , Romanus Baraka Walikota Ternate  Burhan Abdurahman,dan  Bupati Bulungan Kalimantan Utara Budiman Arifin.

Sedangkan penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Madya dari KTNA diberikan kepada Usman R Mulan (Bupati Tanjungjabung Barat), Ben Brahim (Bupati Kapuas), Muhajirin (Wakil Bupati Kapuas), Uu Ruzahnul Ulum (Bupati Tasikmalaya), Jimmy F Eman (Walikota Tomohon),

Yance Wowiling Sajow (Bupati Minahas)a, Ahmad Yantenglie (Bupati Katingan Kalimantan Tengah), Ujang Iskandar (Bupati Kota Waringin Barat), dan  KTNA Simalungun Utara.
Untuk Lencana Emas Adi Bakti Tani Pratama diberikan kepada SY Fasha (Walikota Jambi), Amin Said Husin (Bupati Bondowoso),Tubagus Sunarseno (Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Ogan Komerin Ulu Timur (OKU Timur).

Petani Lampung Bisa Belajar Banyak dari Forum Penas KTNA di Malang

Aan Fridona Rosa/Teraslampung.com

MALANG - Pekan Nasional  Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA)  XIV di Malang Jawa Timur menjadi ajang perhelatan yang menarik bagi ribuan petani dari seluruh pelosok negeri, termasuk para petani dari Kabupaten Way Kanan dan seluruh  kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Para petani dan nelayan asal Lampung bisa belajar banyak dari petani dan nelayan daerah lain di forum tersebut.

“Forum ini sangat penting mengembangkan semangat,tanggungjawab, dan kemandirian bagi petani-nelayan dan hutan sebagai pelaku utama pembangunan pertanian,perikanan, dan kehutanan. bagi petani Kabupaten Way Kanan yang masyarakatnya bermatapencarian sebagai petani, ajang  tentunya diajang ini dapat menambah kapasitas SDM sekaligus mencari solusi permasalahan yang menjadi kendala bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan dengan meningkatkan hasil pertanianya,” kata Dwi Kuncoro, Sekretaris KTNA Way Kanan, di Malang, Senin(9/6)

Acara akbar empat tahunan yang berlangsung tanggak 7 hingga 12 Juni 2014 di Kabupaten Malang itu  merupakan forum pertemuan yang berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar di kalangan petani dan nelayan dengan para penyuluh. Forum tersebut juga menjadi ajang tukar menukar informasi dan pengalaman antara para petani-nelayan dan hutan, peneliti, penyuluh, pihak swasta. dan pemerintah melalui berbagai kegiatan yang telah dipersiapkan secara matang.


Kabupaten Waykanan melalui Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) ikut serta dalam rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Stadion Kanjuruhan Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Wakil Way Kanan yang berjumlah 50 peserta yang terdiri dari petani,nelayan,penyuluh serta pendamping sejak Jumat (6/06) telah hadir di Malang.

"Tentunya rembug nasional bagi petani di Penas ini akan menjadi tolok ukur bagi kemajuan di bidang pertanian di Waykanan Bumi Petani ketika kami pulang nanti", ujar Dwi.

Kegiatan yang berisi diskusi,seminar ,pelatihan, pameran pertanian hingga ajang kegiatan olahraga antarkontingen dari berbagai daerah ini, menurut Dwi,akan  memperkuat silahturahmi bagi petani,nelayan serta penyuluh pertanian akan kemajuan petani Indonesia ke depan.

Acara  Penas KTNA dibuka presiden SBY pada 7 Juni lalu melalui teleconference dihadiri pejabat Kementrian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perikanan dan Kelautan, serta organisasi profesi petani KTNA,HKTI, Perhiptani, dan lain-lain.

Wednesday, June 4, 2014

Meringkus Grandong dengan Lampu Neon

Rama Pandu/Teraslampung.com

Lampu perangkap 'grandong'.  (Teraslampung.com/Rama Pandu)
BREBES - Jika Anda kebetulan naik kereta api malam hari dari Jakata menuju Yogyakart atau Semarang, begitu memasuki wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akan melihat ratusan lampu neon bertebaran di tengah sawah. Lampu-lampu itu tampak berjajar rapi dengan jarak teratur di tengah hamparan yang luas. Anda mungkin akan penasaran dan mengira ada tempat pendaratan UFO di areal persawahan itu.

Lampu-lampu neon itu tak lain adalah alat pembasmi hama tanaman bawang merah  (Allium ascalonicum) yang sengaja dipasang para petani. Dengan teknologi sederhana, para petani bawang merah di Brebes mencoba menyelamatkan tanaman mereka dari serangan hama yang mereka sebut sebagai grandong.

Grandong adalah tokoh jahat yang menjadi anak buah Mak Lampir dalam serial Misteri Gunung Merapi yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta Indonesia . Para petani bawang merah di Brebes menyebut hewan sejenis lalat yang menyerang daun bawang merah itu sebagai grandong karena ‘kejahatan’ hama itu sama dengan grandong.

Selama ini serangga itu menjadi musuh utama para petani bawang merah di Brebes. Karena serangan hama grandong, banyak petani bawang merah di Brebes yang gagal panen dan bangkrut. Sudah aneka pestisida dengan harga mahal dicoba untuk membasmi grandong, tetapi hewan itu tetap menyerang daun bawang merah sehingga tanaman rusak sebelum dipanen.

Hama Lyriomyza sp tersebut berasal dari Amerika Selatan. Sejenis lalat kecil ini sampai ke Indonesia tahun 1996 setelah menyebar ke negara-negara di Eropa, Cina , Taiwan , dan Jepang melalui tanaman bunga-bungaan. Sebelum masuk ke Brebes dan beberapa daerah di Jawa Timur,   hama ini ditemukan di Jawa Barat dengan menyerang tanaman kentang, tomat, bawang merah, melon, dan cabai.

Lalat grandong (Lyriomiza Sp ) biasanya bertelur di daun bawang, lalu menetas menjadi larva. Larva inilah yang  kemudian menyerang tanaman bawang merah. Antara lain dengan mematahkan saluran nutrisi daun, sehingga daun menjadi belang kekuning-kuningan sehingga tanaman mati.

Selain grandong, tanaman bawang merah juga disukai oleh ulat daun (Laphygma exigua) dan hama bodas (Thrips tabaci). Serangan kedua hama ini sering menyebabkan ujung daun terpotong dan daun menjadi terkulai. Larvanya sering merusak umbi. Hama yang agak mirip ulat daun ialah Spodoptera exigua. Gejala serangannya terlihat pada pinggiran dan ujung daun berupa bekas gigitan.

Warsono, 60, petani bawang merah dari Kecamatan Wanasari, Brebes, mengaku petani di Brebes baru memanfaatkan teknologi memerangkap hama grandong sejak dua tahun terakhir. Menurut Warsono, setelah para petani memasang lampu neon di areal persawahan mereka, hasil panen jadi lebih melimpah.

“Dulu kami harus adu cepat dengan grandong dan seranggga lainnya. Kami harus keluar dana besar untuk membeli pestisida. Setelah kami memasang lampu, banyak grandong yang mati terperangkap lampu. Kalau dulu per hektare hanya panen 7-8 ton, sekarang bisa mencapai 12  ton,” kata Warsono.

Meski begitu, menurut Warsono, tidak semua petani bawang merah bisa memasang lampu neon di areal persawahannya. Biasanya yang memasang lampu adalah petani bawang merah yang memiliki areal luas dan bermodal besar.

“Tapi, petani kecil yang berdampingan dengan petani yang memasang lampu neon juga terkena dampak positifnya. Sebab, hama pengganggu yang menyerang tanaman bawangnya juga berkurang,” ujarnya.

Para petani memanfaatkan lampu neon untuk memberantas hama karena serangga bersifat fototropik. Serangga akan cenderung senang mendekati lampu. Jadi, lampu-lampu yang dipasang di sela-sela hamparan tanaman bawang merah itu adalah untuk menarik serangga, baik jenis grandong maupun serangga lainnya yang biasa bertelur di daun bawang merah.

'Gradong' terperangkap di cairan oli dan akhirnya mati. (Teraslampung.com/Rama Pandu)
Biasanya lampu-lampu itu dipasang secara berjajar dengan jarak antarlampu masing-masing 15-20 meter. Lampu-lampu itu dipasang dengan cara diikatkan pada dua bilah kayu atau bambu yang ditancapkan ke tanah. Di bawah lampu itu dipasang nampan atau piring plastik ceper berukuran  besar.

Di atas nampan itu diberi cairan minyak tanah dicampur oli bekas. Dengan begitu, grandong, kupu-kupu, dan aneka hewan pengganggu tanaman bawang merah yang terperangkap lampu akan jatuh ke cairan minyak bercampur oli bekas sehingga mati.

Dengan teknologi sederhana itu, kini para petani bawang merah di Brebes mulai bisa mengurangi pemakaian pestisida untuk membasmi serangga. “Selain menyelamatkan tanaman dari serangan hama , kami menjadi bisa menghemat biaya produksinya. Selama ini biaya untuk membeli obat pembasmi serangga sangat besar, mencapai 1/3 dari total biaya produksi,” kata Warsono.

Kabupaten Brebes selama ini dikenal sebagai sentra bawang merah di Indonesia . Kabupaten terbarat di Jawa Tengah itu memasok 30 persen dari kebutuhan bawang merah nasional. Data di Dinas Pertanian Brebes menunjukkan produksi bawang merah Brebes per tahun (setahun dua kali panen) antara 160 ribu ton hingga 240 ribu ton.

Bawang merah produksi Kabupaten Brebes memiliki kekhasan, yaitu berwarna lebih merah, umbi lebih kecil, dan aromanya kuat. Itu berbeda dengan bawang merah impor yang warnanya biasanya lebih pucat, berumbi besar, tetapi aromanya kurang kuat. Itulah sebabnya, perusahan mi instan di Indonesia lebih memilih bawang merah Brebes sebagai bahan penambah sedapnya.

Popularitas bawang merah Brebes menyebabkan banyak pedagang bawang dari daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta memberi label “bawang Brebes” untuk bawang merah yang dipasarkannya. Itulah sebabnya, Pasar Bawang Merah Klampok di Brebes menjadi makin ramai karena dipenuhi para pedagang besar dari luar daerah. (RP/Oyos Saroso HN)

Friday, May 30, 2014

Manfaat Asap Cair Tempurung Kelapa

Supriyanto/Teraslampung.com

Kelapa: Setelah kulit buahnya diambil untuk keperluan tertentu, tempurung kelapa bisa diolah menjadi arang dan dimanfaatkan sebagai bahan asap cair. (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH- Bila selama ini masyarakat hanya mengenal pemanfaatan kelapa sebatas untuk keperluan konsumsi seperti minyak goreng atau diambil santannya untuk menyayur. Padahal, dari kelapa dalam ini banyak yang dpat dikembangkan menjadi suber ekonomi masyarakat.

Sebagaimana kita ketahui kelapa termasuk salah satu tanaman yang serba guna. Setiap tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia. Kelapa juga memiliki beberapa manfaat bagvi kesehatan. Daging kelapa mengandung berbagai enzim yang sangat berguna bagi kesehata, terutama dalam pencernaan manusia, batang kelapa dipat diolah menjadi bahan bangunan, bunga kelapa dapat diambil niranya untuk bahan baku gula merah, daun kelapa dapat digunakan sebagai atap rumah, akar kelapa obat-obatan dan zat pewarna.

Sedang tempurung batok kelapa dapat diolah menjadi arang batok kelapa, arang aktif, obat nyamuk bakar. Arang batok kelapa banyak dimanfaatkan bagi indusri pengecoran besi, industry karbon aktif, industry tambak udang, industry tekstil. Sabut kelapa dapat diolah menjadi serat sabut kelapa (cocofibre) ampas sabut kelapa(cocodust), airfiltermatting, rugs, tali. Sabut kelapa juga dapat diolah menjadi medium tanaman.    

Proses pembuatan asal cair (Foto: suhaidisingkil)
Kabid Bina Usaha Produksi Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lampung tengah, Radik, mengungkapkan, tempurung batok kelapa selaian dimanfaatkan arangnya, juga bisa dikembangkan menjadi bahan baku asap cair. Dari hasil penelitian, kata dia, asap cair merupakan cairan kondensat dari asap yang telah mengalami penyimpanan dan penyaringan untuk memisahkan tar dan bahan-bahan partikulat.

Asap cair yang dihasilkan memiliki warna coklat dan berbau seperti asap pembakaran tempurung kelapa. Diketahui bahwa kandungan utama asap cair tempurung kelapa adalah asam asetat (51,99%), fenol (19,90%), metil asetat (5,37%), furfural (4,56%), hidroksi aseton (2,90%), guaiakol (2,62%) dan siringol (1,85%). Asap cair tempurung kelapa memiliki pH sebesar 3,21.

Saat ini lanjut Radik, pihaknya terus melakukan pelatihan kepada kelompok wanita tani (KWT) perkebunan, untuk memproduksi asap cair, hasil pembakaran tempurung batok kelapa. ” Sudah ada 14 KWT perkebunan yang telah mendapatkan pelatihan untuk memproduksi asap cair dari tempurung kelapa,”ungkap Radik, Jum’at (30/5).

Kendati, sudah mengikuti pelatihan embuatan asap cair, kata dia, para KWT tersebut belum mampu memproduksi asap cair secara besar-besaran, karena masih terkendala alat produksi. Beberapa KWT telah memproduksi asap cair masih sebatas untuk konsumsi keluarga. Karena, satu unit alat produksi asap cair tempurung kelapa berkapasitas 600 Kg harganya mencapai Rp50 juta-an.

”Saat ini kami masih memesan dua unit alat produksi asap cair dengan kapasitas lima sampai sepuluh kilogram. Dengan alat tersebut diharapkan KWT bisa memproduksi asap cair untuk memenuhi kebutuhan sendiri dulu,”katanya.

Asap cair dalam bentuk kemasan (dok)
Asap cair tempurung kelapa ternyata banyak kegunaannya, bahkan bisa menjadi alternative sebagai bahan pengawet makanan pengganti formalin. Dari hasil penelitian, asap cair tempurung kelapa mengandung senyawa fenol, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur sehingga dapat digunakan sebagai pengawet maupun disinfektan.

Proses pembuatan asap cair tidaklah sulit bahkan sangatlah sederhana. Pembuatan asap berlangsung selama pembakaran tempurung kelapa yang di tempatkan pada alat pembakar yang sudah di beri pipa penyuling yang terhubung dari tutup tangki pembakar.

Dari proses pembakaran tempurung akan keluar asap cair yang kental seperti kecap, cairan ini masih masuk kategori grate 3. Asap kental ini belum bisa digunakan untuk pengawet makan, tapi lebih digunakan untuk pengawet kayu agar tidak dimakan ngengat.

Agar dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan seperti ikan asin, asap cair grade  3 dilakukan proses lanjutan untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik grate 2. Sedang untuk pengawet yang di campurkan kedalam makanan, asap cair grade 2 harus diproses kembali untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik yang bisa dicampur ke dalam bahan makanan seperti bakso atau mie.

Menurutnya, hasil penelitaian antara IPB dengan Badan Litbang Pertanian mandapatkan kesimpulan bahwa asap cair tempurung kelapa dapat berfungsi sebagai disinfektan yang menghambat serangan penyakit antaraknosa pada penanganan pasca panen papaya, sehingga dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan buah.  Bahkan petani karet di Bandar Mataram, Lampung Tengah,  sudah menggunakan asap cair untuk menghilangkan aroma busuk getah karet atau lateks.

Asap cair juga sudah dicoba untuk pengawetan ikan asap, hasilnya kualitas ikan asap sangat baik. Untuk pengawetan ikan asap, cukup menggunakan 10 persen asap cair dari air yang di gunakan untuk merendam ikan, setelah air untuk merendam habis maka dilakukan proses pengeringan ikan.

 ”Untuk pengawet makan seperti bakso atau mie, sebagai penganti borak atau pormalin cukup menggunakan asap cair maksimal tiga persen dari satu liter air,”katanya.

Pemkab Lampung Tengah Tingkatkan Budidaya Kelapa Dalam

Supriyanto/Teraslampung.com

Kepala dalam (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH - Kelapa merupakan salah satu komoditas strategis karena mampu menjadi sumber pendapatan masyarakat. Kelapa dalam telah diusahakan oleh masyarakat Lampung secara turun-temurun, selain sebagai sumber pendapatan, sumber utama minyak, dan sebagai penyedia lapangan kerja. Sayangnya, bila dilihat dari segi pendapatan petani, potensi ekonomi kelapa yang sangat besar itu belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini, karena adanya berbagai masalah internal baik dalam proses produksi, pengolahan, pemasaran maupun kelembagaan. 

Kabid Bina Usaha Produksi Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lamteng, Radik, mengungkapkan, saat ini di Kabupaten Lampung Tengah luas tanaman  kelapa dalam mencapai sekitar 9.325 hektar. Diakuinya, untuk penambahan luasan lahan perkebunan kelapa saat ini sudah sangat sulit. Namun bukan berarti produksi kelapa di daerah ini tidak dapat ditingkatkan. 

Di Lampung Tengah terdapat sekitar 100 ribu KK petani. Bila satu KK menanam empat batang kelapa di lahan pekarangannya, maka akan diperoleh 400 ribu batang kelapa, jumlah ini tentunya setara dengan 4.000 hektar kebun kelapa. 

”Tentunya bagi yang punya pekarangan sedikit luas bukan hanya empat batang kelapa yang ditanam, tapi bisa lebih dari itu. Kami masih akan terus menggalakkan masyarakat untuk menanam kelapa dalam,” tegas Radk, Jumat (30/5). 

Pohom kelapa dalam: populasinya menurun.
Untuk mengembalikan kejayaan kelapa di Bumi Ruwah Jurai ini, kata Radik, harus kembali digalakan budidaya kelapa dalam. Selain memberikan bantuan bibit kelapa, juga memberikan pendampingan dalam pemberantasan hama kelapa. Beberapa hama penyakit yang sering menyerangan tanaman kelapa dalam seperti hama perusak pucuk, seperti kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros),  Kumbang sagu (Rhynchophorus ferruginous).

Perusak daun, seperti  Sexava sp,  Kutu Aspidiotus sp,  Ulat Artona (Artona catoxantha). Hama perusak bungan, seperti; Ngengat bunga kelapa (Batrachedra sp.),  Ulat Tirathaba. ”Kita juga mencarikan pasar untuk penjualan kopra. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen dilakukan pembinaan dan pelatihan petani dalam pembuatan kopra, maupun pemanfaatan limbah kelapa seperti pembuatan asap cair dari temupurung kelapa,”katanya. 

Menurut Radik, kecenderungan pengembangan budidaya kelapa sawit, maupun komoditas lain saat ini, sangat berdampak terhadap semakin berkurang komoditas kelapa dalam. Karena untuk pengembangan komoditas, seperti kelapa sawit, kakau maupun tanaman singkong, masyarakat lebih memilih mengorbankan tanaman kelapa dalam. Kondisi ini, mungkin saja terjadi karena produksi kelapa sudah tidak lagi maksimal, atau karena harga buah kelapa dirasakan sudah tidak memberikan keuntungan.

Padahal, berbagai manfaat kalapa dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat, tentu saja perlu adanya upaya kembali menggalakan masyarakat untuk budi daya tanaman kelapa dalam. ”Memang untuk penambahan luasan tanaman kelapa tidak mungkin dilakukan dalam skala besar, maka dapat diupayakan melalui pemanfaatan pekarangan rumah maupun di kebun rakyat skala kecil,”tandasnya.

Friday, May 23, 2014

Produksi Padi Lampung Tengah Lampaui Target

Supriyanto/Tersalampung.com

GUNUNGSUGIH—Target Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Tengah untuk menaikkan produksi gabah tahun ini berhasil. 

”Pada musim tanam 2013/2014 pencapaian produksi angka sementara mencapai 737.377 ton dari luas tanam  149.431 ha dengan luas panen 142.241 ha. Kami belum bisa menentukan angka capaian tahun 2013 karena angka produksi masih dalam proses pengolahan, sebab data penen belum semua masuk,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Lampung Tengah I Ketut Suarsa, Jumat (23/5).

Menurut Ketut, pada 2013 sasaran produksi padi Kabupaten Lampung Tengah sebesar 725.264 ton, sedang sasaran produksi Provinsi Lampung mencapai 728.698 ton.

Untuk memenuhi target tersebut, kata Ketut, pihaknya mengoptimalkan kinerja kelompok tani dalam meningkatkan produktivitas. Selain itu juga dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan, peningkatan indek pertanaman dan peningkatan mutu teknologi pertanian, dan  peningkatan  mutu panen melalui perbaikan penangan pascapanen.

Ketut mengatakan untuk meningkatkan sumber daya manusia petani, pihaknya, membangun Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Melalui kegiatan SLPTT, diharapkan petani dapat meningkatkan intensifikasi pertanian, sehingga peningkatan produksi dapat terwujud.  

”Tidak kalah penting, peningkatan infrastruktur pertanian, pelayanan sarana pertanian, mulai dari ketersediaan benih, pupuk, serta pengendalian hama harus dilakukan untuk mendukung pencapaian target produksi,” katanya.

Ketut mengakui, pencapaian target produksi penen dapat termenuhi karena lahan pertanian tanaman pangan di Lamteng dapat dioptimalkan, baik pada musim kemarau maupun musim penghujan. Pada musim kemarau, lahan rawa dapat dioptimalkan untuk tanaman padi. 

"Begitu juga pada musim penghujan, lahan kering bisa dioptimalkan untuk tanaman padi darat, selain tanaman pangan lainnya seperti jagung dan singkong,"ujarnya.

Ketut mengungkapkan pada musim aduh tahun ini,untuk meningkatkan produksi kedelai, akan dilakukan program perluasan tanaman kedelai seluas  1.000 ha. Areal itu  tersebar di kecamatan sentra kedelai, yakni Kecamatan Bumi Nabung, Rumbia, Seputih Mataram, Terusan Nunyai, Kalirejo dan Terbanggibesar.

”Di Kecamatan Terbanggibesar luas tanam kedelai tahun ini mencapai 500 Ha. Pencanangan tanam kedelai akan dilakukan pada 28 Mei 2014 nanti yang tersebar di beberapa kecamatan. Produksi kedelai tahun lalu mencapai 956 ton,” katanya. Editor: Isbedy Stiawan ZS

Tuesday, April 29, 2014

Pengerjaan Proyek Irigasi di Pringsewu Asal-Asalan

Proyek normalisasi irigasi di Pringsewu Utara (teraslampung.com/ANP)
Adi Nur Pracoyo

Pringsewu - Minimnya pengawasan proyek normalisasi saluran irigasi  di Kelurahan Pringsewu Utara, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu membuat proses pengerjaan proyek tidak maksimal dan terkesan asal asalan.

" Yang jelas masalah pembangunan proyek normalisasi pada saluran irigasi di kecamatan pringsewu tidak sesuai, ini terlihat pada pemasangan batu yang tidak di gali dan adukan semen tidak sesuai dilihat kesap mata," kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Pringsewu Sahidin, saat melakukan inspeksi mendasak di Kelurahan Pringsewu Utara, Selasa (29/04).

Sahidin meminta rekanan  mengerjakan proyej sesuai dengan rancangan anggaran proyek dan tidak asal-asalan. “Dinas terkait juga harus serius mengawasi pengerjaan proyek. Kami lihat pengwasan dari dinas terkait sangat minim sehingga pekerjaan tidak maksimal. Masyarakat pun sulit mengontrol karena tidak ada papan nama proyek," kata Sahidin.

Sahidin mengatakan, proyek normalisasi saluran irigasi yang ada di Kabupaten Pringsewu dananya berasal dari APBD Provinsi Lampung. Sampai saat ini tidak ada papan plang proyeknya.

" Berdasarkan informasi proyek normalisasi yang tersebar di Kecamatan Pringsewu adalah proyek Provinsi Lampung yang dananya bersumber dari tanggap darurat milik BPBD Provinsi Lampung,"kata dia.

Sahidin juga menemukan adanya proyek jembatan Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (P4IP) Mitra Mandiri yang ada di Kelurahan Pringsewu Utara pada tahun 2013 lalu yang dindingnya sudah retak-retak.

"Kami juga minta kepada Dinas PU Pringsewu pada jembatan yang baru diresmikan oleh bupati pada awal tahun 2014 untuk segera di perbaiki karena masih tahap perawatan. jembatan tersebut sudah retak retak," tandasnya.

Tuesday, March 4, 2014

Curah Hujan Tinggi, Harga Gabah di Lampung Turun 2,44 Persen

Petani panen padi (dok Gapoktan Lampung)
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampungp—Tingginya curah hujan diyakini berpengaruh terhadap penurunan harga gabah di tingkat petani di Lampung. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan pada Februari 2014 turun rata-rata sebesaar 2,2.4 persen. Hal ini disebabkan oleh datangnya musim penghujan sehingga stok gabah meningkat dari bulan sebelumnya.

“Penurunan rata-rata harga kelompok kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar 2,24 persen dari Rp. 4.539,09 per kg menjadi Rp. 4.428,41 per kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama, turun sebesar 2,37 persen dari Rp. 4.631,59 per kg menjadi Rp. 4.521,81 per kg,” kata kepala BPS Lampung, Adhi Wiriana, Selasa (4/3).
.
Sementara untuk produksi padi selama tahun 2013 berdasarkan angka sementara diperkirakan sebesar 3,22 ton juta ton gabah kering giling (GKG), naik sebesar 121,33 ribu ton dibanding produksi 2012.

Sedangka jagung diperkirakan mengalami penurunan sebesar 0,01 persen dibanding tahun 2012. BPS memperkirakan produksi kedelai pada tahuhn 2013 diperkirakan sebesar 6,16 ribu ton atau turun sebesar 22,98 persen dari produksi tahun 2012.

BPS Lampung melansir nilai tukar petani (NTP) Provinsi Lampung Februari 2014 untuk masing- sebesar 100,44 untuk subsektor padi dan palawija (NTP-P), 104,74 untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 98,63 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr), 108,51 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt), dan 101,58 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi). Sedangkan NTP gabungan tercatat sebesar 102,29.

Thursday, February 27, 2014

Pupuk Langka, Petani di Lampung Utara Resah




Naquib Revolusi, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com



Pupuk phonska (google)
Kotabumi—Pupuk Phonska hilang dari pasaran di Lampung Utara hampir sebulan ini. Langkanya pupuk ini membuat resah sejumlah petani di sana, karena hasil produksi dipastikan menurun drastis..

Sejumlah petani menduga langkanya pupuk ini diduga ulah distributor untuk memicu harga juga menjadi naik.

Terutama petani padi dan palawija di Kecamatan Abdung Semuli dan Abung Timur hampir sebulan ini kesulitan mendapatkan pupuk subsidi jenis Phonska.

Menurut salah seorang petani sawah,  pupuk phonska sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan padi,  singkong dan jagung agar hasil produksi maksimal. “Sejak pupuk subsidi ini menghilang produksi petani berkurang hingga 25 persen,” kata Teguh, Kamis (27/02).

Para petani padi sawah di dua kecamatan itu meminta pemerintah segera mengawasi distribusi penyaluran pupuk phonska. Kelangkaan pupuk ini diduga ulah distributor yang menahan pupuk subsidi untuk kemudian menaikkan harga secara sepihak.

Sementara sejumlah agen penyalur pupuk subsidi mengaku hampir sebulan tidak memiliki pupuk subsisi jenis Phonska. Hal itu disebabkan terlambatnya pengiriman.

Para agen dan distributor pupuk mengatakan tidak memiliki persedian pupuk jenis Phonska. Meski harga jual masih stabil, namun pedagang sulit memenuhi permintaan petani karena pengiriman pupuk dari distributor hingga saat ini belum juga datang.

Mereka berdalih kelangkaan pupuk akibat distribusi pupuk terhambar mulai dari kapal, karena tingginya gelombang dan kerusakan jalan lintas.

Karena langkanya pupuk jenis ini, para petani singkong dan padi kini menggunakan stok lama agar hasil produksi maksimal.







Monday, February 24, 2014

Serahkan Bantuan dan Izin Kelola HKM, Menhut: "Bantuan Jangan Dipakai untuk Kawin Lagi..."



Rudy Fitranando dan Raditya/Teraslampung.com
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerahkan izin Hkm kepada warga Lampung Barat melalui Wakil Bupati Lampung Barat Makmur Azhari, di Desa Tribudi Syukur, Senin (24/4). Bantuan itu akan dimanfaatkan oleh dua ribu kepala keluarga pengelola program HKM.

Lampung Barat—
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerahkan bantuan senilai Rp 3 miliar bagi warga desa di Lampung Barat yang mengelola lahan Hutan Kemasyarakatan (HKM). Ketika menyerahkan bantuan dalam bentuk pinjaman lunak, Zulkifli mengingatkan agar pinjaman Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dimanfaatkan dengan baik.

“Pinjaman harus bisa dimanfaatkan secara tepat sesuai petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan teknis (Juknis). Pinjaman harus bisa bermanfaat anggota Gapoktan untuk menanam pohon.Jangan dipakai untuk kawin lagi seperti tetangga saya," kata Zulkifli  Hasan, dengan nasa canda, saat menyerahkan secara simbolis SK HKM  8.340 hektare SK Hutan Kemasyarakatan (HKM) bagi 100 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Tribudi Syukur, Way Tenong, Lampung Barat, Senin (24/2).

Menurut Zulkifli, pihaknya tidak meminta uang atas program-program diberikan. Kementerian Kehutanan, kata Zulkifli, hanya membutuhkan tanggung jawab dari para penerima manfaat SK HKM. Areal seluas 8.340 ha, kata Zulkifli, akan dimanfaatkan 2.000 kepala keluarga.


"Pinjaman diberikan bayarnya lama, sembilan tahun lagi dan juga bunganya murah, hanya 7,5 persen. Setiap desa dibantu dengan program Kebun Bibit Rakyat (KBR), Rp50 juta per kampung,” kata dia.

Selain dihadiri ribuan warga calon yang mengelola program HKM, acara tersebut juga dihadiri Dandim 0422 Lampung Barat Letnan Kolonel Infantri Slamet Riadi, Kapolres AKBP Eko Widianto, Wakil Bupati Makmur Azhari, dan sejumlah pejabat dan staf Kemeterian Kehutanan RI.

Selain memberikan bantuan bagi sejumlah kelompok tani senilai Rp3 miliar, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga menyerahkan bantuan Rp35 juta bagi beberapa  kelompok pengajian ibu-ibu dan pembangunan masjid di daerah itu.

Wednesday, February 19, 2014

Tinggi, Nilai Jual Pupuk Abu Vulkanik Gunung Kelud

Abu vulkanik Gunung Kelud (dok Ary Nurdiana)
Karanganyar, Teraslampung.Com—Bencana tidak selamanya membawa duka. Buah dari letusan Gunung Kelud menyisakan berkah. Setidaknya bagi masyarakat Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Ternyata abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud oleh penjual tanaman obat di daerah itu dijadikan pupuk dan dijual dengan harga tinggi. Mereka mengeruk rupiah dari berkah bencana ini.

Abu vulkanik erupsi gunung kelud yang masih menutupi jalan di Kampung Dimoro, Karanganyar, Jawa Tengah, disiram lalu dikumpulkan.

Salah seorang warga, Virnanto Hasmana Putra, sibuk menyiram dan mengeruk abu tersebut untuk kemudian dikumpulkan. Setelah itu ditampung di dalam dalam satu pot besar.

Proses pembuatan pupuk itu, menurut penjual obat tanaman itu adalah abu vulkanik dijemur.  Abu yang telah kering didinginkan terlebih dahulu. Setelah benar-benar kering, lalu dicampur dengan tanah kompos.

Proses selanjutnya, campuran harus merata supaya tidak membuat tanaman mati. Setelah campuran diyakini merata, kemudian dimasukkan ke dalam polybag, dan disiram secara berlahan.

Kemudian bibit tanaman ditaruh ke dalam polybag berisi campuran kompos dan abu. Saat memasukkan bibit, penataan harus hati-hati dan jaraknya tidak boleh rapat.

Menurut Putra, abu vulkanik dapat menghemat pengeluaran untuk membeli pupuk kimia. Selain itu abu vulkanik ini bisa mempercepat pertumbuhan tanaman. Abu vulkanik, katanya lagi, membawa berkah.

Dikatakan penjualan tanaman obat itu, sebenarnya pupuk dari abu vuklanik bisa dijual dengan harga tinggi. Karena bisa mempermudah tanaman menyerap unsure mineral yang dperlukan untuk tumbuh. Abu vulkanik mengandung unsur sulfur dan silica yang mampu memasok unsur hara pada tanaman.

Beberapa tanaman obat yang dapat tumbuh lebih subur, di antaranya daun mint, sambung nyawa, dan lainnya. Putra mematok tanaman obat miliknya dengan harga mulai dari dua puluh lima ribu rupiah.(isb)

Tuesday, February 11, 2014

Hasil Penemuan Surono Menyebar ke Seluruh Indonesia

Surono di "laboratorium" tengah sawah (oshn)
Terbanggi Besar--Selain diujicobakan di Lampung, benih Sertani-1 dan Emespe temuan Surono juga diujicobakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Beberapa tahun mendatang, petani Lampung yang tergabung dalam Serikat Tani Indonesia (Sertani) akan mengembangkan bibit Sertani ke seluruh daerah di Indonesia.

Sambutan dari para petani lumayan bagus. Umumnya para petani itu mengaku terkejut ada benih padi yang ditanam dengan pengairan minim bisa menghasilkan hingga 14 ton gabah/hektare.

“Saya heran, kok bisa sehebat itu,” kata Nurjaman, 40, tenani asal Merbau Mataram, Lampung Tengah.

Di lahan milik Nurjaman  tersebut, hasil panen tidak berbeda, 13—14 ton per hektare. Padahal, padi unggul lainnya paling hanya  menghasilkan 8—10 ton per hektare.

“Bahkan varietas Ciherang di lahan kering paling banyak menghasilkan 5 ton,” kata Nurjaman.

Menurut Nurjaman, Sertani-1 memang menjadi pilihan bagi petani yang lahannya kekurangan air. Lubang tanam untuk menanam benih Sertani-1 dibuat dengan tugal (sebatang kayu berujung runcing). Tiap lubang tanam itu kemudian dimasukkan satu benih kemudian ditutup tanah.

Jumlah bulir padi Sertani-1 dalam satu malai mencapai 400—450. Artinya, jauh lebih banyak ketimbang varietas lain yang sekitar 200 bulir. Jumlah benih yang dibutuhkan hanya 10 kg per hektare. Umur panen juga lebih pendek, 95 hari dari pesemaian. Atau lebih cepat panen 40 hari dibandingkan  varietas lainnya yang 125—150 hari

Selain bisa ditanam di lahan kering, keunggulan bibit Sertani-1 adalah bisa dipanen hingga belasan kali meskipun hanya ditanam sekali.

 “Artinya, sekali tanam lalu dipanen dengan cara memotong batang padi bagian atas. Batang padi yang tersisi itu akan tumbuh kembali, berbuah, dan kemudian dipanen lagi. Namun, soal panen bisa belasan kali ini masih taraf percobaan dan belum diperkenalkan kepada petani secara luas,” kata Surono, sambil menunjukkan padi yang sudah 16 kali dipanen di laboratoriumnya.
Membersihkan lahan sebelum ditanami padi (oshn)
varietas ini diprogram untuk sawah yang selalu kekurangan air, tentu saja tidak membuat petani khawatir sawahnya kekurangan air. Air yang diperlukan sepanjang hidupnya untuk varietas Sertani-1 adalah hanya 1 sentimeter di atas permukaan tanah, itu pun sampai usia padi 70 hari atau bunting muda.

Surono mengaku tidak keberatan jika ada pihak-pihak yang bersedia melakukan kerja sama untuk mengembangkan hasil penelitiannya.

 ”Saya tidak akan mengambil keuntungan pribadi. Bagi saya, kalau para petani bisa sejahtera, itu sudah cukup. Karena selama ini saya aktif di Serikat Tani Indonesia (Sertani), tentunya kerja sama tersebut harus dilakukan melalui organisasi,'' kata dia.

Saat ini jumlah anggota Sertani yang mempunyai kartu anggota tercatat 40 ribu petani. Dengan kartu anggota tersebut mereka bisa mendapatkan benih Sertani-1 dengan membayar Rp20 per kg. Pada awalnya bibit unggul itu hanya dibeli oleh para anggota Sertani. Sekarang petani lain juga ikut menanam padi unggul lokal itu.

Surono maupun Anang yakin, padi Sertani-1 dan Emespe akan bisa menjawab persoalan rendahnya produksi petani padi di Indonesia.

Lewat jaringan Sertani di seluruh Indonesia, kedua bibit unggul itu mulai diperkenalkan secara intensif kepada para petani di berbagai daerah di Indonesia. Targetnya, beberapa tahun mendatang jenis padi Emespe ini sudah tertanam sekitar 40% dari total luas lahan di Indonesia yaitu sekitar 4.000.000 ha. (Oyos Saroso HN)

Thursday, February 6, 2014

Menggantungkan Harapan pada Kebaikan Luwak

Luwak peliharaan petani kopi Lampung Barat (teras/oshn)
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG--Musang luwak atau disebut luwak adalah hewan dengan nama latin Paradoxurus hermaphroditus. Di Jawa, orang menyebutnya lenggarangan atau rase. Di daerah lain di Indonesia sebutannya bermacam-macam.

Di Jakarta orang menyebutnya musang, sementara di Jawa Barat dikenal sebagai careuh. Sedangkan di Inggris binatang seukuran kucing besar dan bertubuh lebih panjang dibanding kucing disebut common palm Civet, mentawai palm civet, atau toddy cat.

Selain sering menjadi ‘hama’ bagi pemilik ayam peliharaan, luwak juga bermanfaat bagi manusia. Utamanya adalah bagi para produsen kopi luwak. Maklum saja, binatang mamalia ini termasuk pandai memilih biji kopi terbaik. Biji kopi yang sudah dimakan luwak itu, hasilnya berupa kotoran yang masih berujud biji kopi. Tentu kulitnya sudah terkelupas.

Nah, biji kopi hasil fermentasi di perut luwak itulah yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Itulah sebabnya kopi luwak sering disebut sebagai kopi obat atau ‘kopi bukan sembarang kopi’.

Dalam bahasa Latin, luwak disebut Paradoxurus hermaphroditus. Nama ini berasal dari fakta bahwa luwak memiliki semacam bau yang berasal dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, tetapi lama-kelamaan bisa membuat perut mual.

Luwak memiliki ukuran tubuh sedang, sekitar 50 cm dengan ekor panjang mencapai 45 cm dan berat rata-rata 3,2 kg. Tubuh luwak ditutupi bulu berwarna kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman.

Sisi bagian atas berwarna abu-abu kecoklatan dengan variasi warna cokelat merah tua. Penampang kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Binatang ini termasuk jenis mamalia yang bersifat arboreal (hidup di pepohonan). Meski begitu, luwak sering juga turun di atas tanah. Ia termasuk binatang nokturnal yang beraktivitas di malam hari.

Biji kopi luwak belum diolah (teraslampung/oshn)
Luwak termasuk hewan omnivora. Makanan utamanya adalah buah-buahan lembek seperti buah kopi, mangga, pepaya, dan rambutan. Namun Luwak juga memakan telur, serangga, burung dan mamalia kecil.

Pencernaan luwak cukup sederhana. Itulah sebabnya, biji-bijian yang dimakannya akan dikeluarkan kembali dalam bentuk utuh bersama kotorannya. Ituah sebabnya luwak dimanfaatkan para produsen kopi untuk menghasilkan kopi luwak.

Persebaran luwak cukup luas. Mulai Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Srilanka, Thailand, hingga Vietnam.

Di Indonesia, luwak tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu juga telah diintoduksi ke Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

Habitat yang disukai adalah hutan, semak-semak, hutan sekunder, perkebunan, dan di sekitar pemukiman manusia. Luwak bisa hidup di daerah dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 2.500 meter dpl.

Populasi dianggap masih banyak dan aman dari kepunahan. Karena itu, IUCN Redlist hanya memasukkannya dalam status konservasi Least Concern sejak 1996.

Berkat memelihara luwak untuk menghasilkan kopi luwak, kini banyak petani kopi di Lampung Barat kesejahteraannya meningkat.Maklum saja, harga kopi luwak di pasaran memang selangit. Harga kopi  luwak jauh lebih tinggi dibanding dengan kopi biasa yang diolah secara normal.

Referensi: Thewebsiteofeverything

Baca juga
Era kopi luwak di ambang kiamat?
Belum kiamat

Tuesday, February 4, 2014

Presiden SBY Kepincut Ubi Naruto

KUNINGAN, teraslampung.com--Selasa pagi (4/2) menjadi hari yang paling membahagiakann buat Tommy Gumiwar. Bos produsen ubi jalat itu mendapatkan kesempatan memamerkan produksinya kepada rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tommy pun menjelaskan proses dari A sampai Z kepada Presiden SBY tentang ubi jalan naruto yang selama ini menjadi bisang usahanya.

Berkat budi daya ubi jalan narto, Tommy dengan bendera PT Galih Estetika berhasil mengekspor ubi ke Jepang dan Korea Selatan.

Presiden SBY yang penasaran dengan ‘kehebatan’ ubi jalan naruto kemudian menyambangi perusahaan ekportir ubi jalar pertama di Indonesia tersebut, Selasa (4/2) pagi, di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

"Saya Bangga, Dengan rangkaian proses sederhana ternyata perusahaan ini bisa mengekspor ubi jalan ke Jepang dan Korea," kata Presiden SBY.

Direktur Produksi PT Galih Estetika, Tommy Juniwar, menuturkan tidak sulit mengembangkan ubi jalar. Sebab,  ubi jalar tumbuh di  Indonesia. Masalahnya, kata Tommy, belum banyak orang yang tertarik dan melirik.

“Padahal, kalau mau, hasil yang diperoleh cukup lumayan," ujar Tommy.

Menurut Tommy untuk bisa diekspor ubi jalar dipilih yang umbinya atau dagingnya berwarna kuning mentega.

“Kami menanam dua jenis ubi, lokal dan jenis Naruto yang bibitnya didatangkan dari Jepang,” kata dia.


Nama Naruto diambil dari tokoh komik Jepang kegemaran anak-anak. Sedangkan bibit ubi lokal diambil dari Bogor.

"Baik Ubi Naruto maupun ubi jalar lokal tidak memerlukan tanah yang khusus. Hampir semua lahan di Pulau Jawa dan Sumatera dapat ditanami komoditi tersebut," Tommy menjelaskan.

Menurut humas rumah tangga kepresidenan, setelah dari Kuningan Presien SBY dan rombongan langsung bertolak menuju Cirebon kemudian ke Pekalongan, Jawa Tengah dengan naik Kereta Api KA Luar Biasa.

Friday, November 22, 2013

Petani Didorong untuk Manfaatkan Benih Lokal

Menanam benih lokal menjadi salah satu acara Ruwatan Benih di Bogor, Rabu (22/11).

BOGOR, teraslampung.com--Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) sukses menggelar acara Ruwatan Benih, di Bogor, 20—22 November 2013. Kegiatan yang digagas untuk mendukung petani Indonesia agar memanfaatkan benih lokal itu diisi dengan workshop perbenihan bekerjasama dengan IPB, pertemuan tahunan AB2TI, ‘Pameran Benih’, ‘Wiwit Benih;, dan dialog kebijakan perbenihan dengan Dirjen Tanaman Pangan dan Staf  Khusus Presiden Bidang Pangan.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa mengatakan acara yang melibatkan 187 petani perwakilan dari  42 Kabupatenni di Indonesia itu digagas sebagai bentuk penghargaan kepada petani sekaligus upaya penggalangan dukungan publik akan pentingnya benih bagi petani.

“Ruwatan benih sebagai sebuah tradisi memuliakan benih. Sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengukuhan benih menjadi bagian penting kehidupan petani. Benih dan petani adalah senyawa tak terpisahkan. Tak ada petani tanpa benih, pun demikian tak akan lestari benih tanpa campur tanganpetani. Para petani terus menjaga keberadaan benih melalui sistem sosial budayanya” kata Dwi.

Menurut Dewi para petani Indonesia sudah ribuan tahun sudah petani mengelola benih dengan kearifannya. Setidaknya sejak 1960anpetani telah mengembangkan 1,9 juta jenis/varietas tanaman. Untuk tanaman pangan,petani memuliakan 5.000 tanaman pangan dan menjadi penyumbang terbesar pada bankbenih dunia.

Dwi menambahkan dengan keragaman benih itulah maka muncul keragaman pangan. Di Indonesia masih banyak jumpai pangan yang beraneka ragam tiap daerah di seluruh penjuru negeri. Hal ini bisa mungkin karena adanya keragaman bahan pangan yang didukung keragaman benih yang dikelola petani. Keanekaragaman pangan sangat penting bagi negara berkembang seperti Indonesia.

“Namun sayang situasi ini mendapat ancaman dari sistem pangan yang berkembang saat ini.Dalam sistem pangan global yang berkembang justru terjadi simplikasi dan reduksi. Hanya pangan yang menguntungkan yang dipelihara dan diolah menjadi pangan. Perlahan tapipasti jenis pangan semakin terbatas dan terpusat pada industri,” kata dia.

Menurut catatan ETC Group, hingga tahun 2009, industri benih hanya mengelola dan meniagakan benih tanaman pangan sebanyak 150 jenis saja. Namun demikian kuasa atas pasarnya cukup tinggi. Saat ini industri telah menguasai sekurangnya 90% pasar benih dunia. Sementara di Indonesia, industri menguasai lebih dari 60%.

Pentingnya peran pengelolaan benih oleh petani tak hanya mendapat ancaman dari penguasaan dan peredarnya benih industri namun juga lemahnya perlindungan dan dukungan dari pemerintah dan publik. Hingga saat ini kebijakan yang ada hanyamenyisakan ruang yang sempit bagi tumbuhnya inisiatif keragaman benih dan pangan, ujar Said Abdullah, sekjen AB2TI.

Mbah Gatot Surono, petani dari Purbalingga, Jawa Tengah, mengatakan hingga saat ini petani pemulia dan penangkar benih masih dipandang sebelah mata. Petani dianggap tidak mampu memproduksi, menjaga dan melestarikan benih secara baik.
“Pemerintah sepertinya setengah hati memberikan dukungan pada petani. “pemerintah seharusnya mendukung upaya kami, bukan melemahkan dengan memberikan program bantuan benih yang mutunya tak terjamin dan bukan dari petani yang sudah cocok diwilayah setempat” ujarnya.

AB2TI mencatat, saat ini dari data koleksi Bank Benih AB2TI, para petani memiliki kemampuan yang luar biasa.  Hingga tahun 2013, AB2TI telah berhasil mencatat sebanyak 125 jenis benih padi dan lebih dari 10 jenis benih jagung yang dimiliki dan dikelola petani.

Penulis: Dewi Angela