Showing posts with label Pertanian-Agro. Show all posts
Showing posts with label Pertanian-Agro. Show all posts

Monday, June 9, 2014

Rycko Raih Satya Karya Pembangunan dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama

Aan Frimadona Rosa/Teraslampung.com

Presiden SBY menyebatkan peghargaan Satya Karya Pembangunan kepada Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza di sela-sela acara Pekan Nasional Kontak Tani Andalan Nasional (Penas KTNA) di Malang, 7-12 Juni 2014. (Ist)
MALANG – Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza mendapat penghargaan Satya Karya Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama dari Kontak Tani Andalan (KTNA) Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden SBY, sementara penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama diserahkan oleh  Ketua KTNA Winarno Thohir. Kedua penghargaan itu diterima Rycko pada acara Pekan Nasional KTNA  XIV di Malang, Jawa Timur, 7—12 Juni 2014.

Penghargaan Satya Karya Pembangunan diberikan kepada  Rycko karena dinilai berprestasi dalam menggagas, mendorong, dan mengimplementasikan pembangunan di Lampung Selatan sehingga pembangunan di Lampung Selatan. Hasil penilaian Dewan Juri Nasional yang menempatkan Rycko layak mendapat penghargaan yang sangat bergengsi bersama tiga pemimpin daerah lainnya.

Pada kesempatan dialog dengan para peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan yang dihadiri oleh tujuh Kepala Satker bidang Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Rycko mengatakan bahwa Penas merupakan forum untuk tukar menukar informasi, menjalin kemitraan, dan ajang promosi hasil-hasil komoditi unggulan. Dampak dari mengikuti kegiatan tersebut diantaranya adalah adanya peningkatan pengetahuan, penguasaan teknologi, dan terjalinnya bisnis untuk pemasaran produk-produk pertanian. Pada akhirnya, hasil-hasil tersebut dapat mendukung kegiatan Terminal Agribisnis Lampung yang berada di Penengahan, Lampung Selatan.

Dalam pesan-pesannya kepada peserta Penas asal Kabupaten Lampung Selatan, Rycko mengajak seluruh komponen pelaku pembangunan di Lampung Selatan pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya untuk meningkatkan sinergi dalam program dan pelakanaan pembangunan. Di sektor pertanian dalam arti luas, tujuan pembangunan diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan petani, nelayan, dan petani kehutanan di Lampung Selatan.

Ketua KTNA Winarno Thohir menyematkan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo . (Teraslampung/Aan)
Selain Rycko Menoza, penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Utama juga diberikan kepada Gubernur Jawa Timur Sukarwo, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus Gubernur Jambi, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Padang S.N. Prana Putra  Walikota Lubuklinggau Soheh, Walikoata Palembamg Romi Herton, Bupati Muaraenim, Muzaki Sai Sohar;  Walikota Prabumulih Ridho Yahya, Bupati Merauke , Romanus Baraka Walikota Ternate  Burhan Abdurahman,dan  Bupati Bulungan Kalimantan Utara Budiman Arifin.

Sedangkan penghargaan Lencana Emas Adi Bakti Tani Madya dari KTNA diberikan kepada Usman R Mulan (Bupati Tanjungjabung Barat), Ben Brahim (Bupati Kapuas), Muhajirin (Wakil Bupati Kapuas), Uu Ruzahnul Ulum (Bupati Tasikmalaya), Jimmy F Eman (Walikota Tomohon),

Yance Wowiling Sajow (Bupati Minahas)a, Ahmad Yantenglie (Bupati Katingan Kalimantan Tengah), Ujang Iskandar (Bupati Kota Waringin Barat), dan  KTNA Simalungun Utara.
Untuk Lencana Emas Adi Bakti Tani Pratama diberikan kepada SY Fasha (Walikota Jambi), Amin Said Husin (Bupati Bondowoso),Tubagus Sunarseno (Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Kabupaten Ogan Komerin Ulu Timur (OKU Timur).

Thursday, June 5, 2014

Masih Ada Pejabat yang tidak Visioner di Lampung Tengah

Supriyanto/TerasLampung.com


Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lampung Tengan. (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH -  Untuk mengakases informasi  perkembangan pembangunan di Lampung Tengah (Lamteng) khusunya di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) tidaklah mudah. Selain sulitnya mendapatkan informasi dari para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) karena jarang berada di kantor, juga karena pejabat setingkat dibawah kepala dinas tidak sedikit yang tidak visioner.  Salah satu contoh Kabid Perkebunan  di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lampung Tengah.

Wartawan Teraslampung.com pada Rabu (4/6) mencoba menggali perkembangan perkebunan rakyat di Lampung Tengah,  khususnya penambahan luasan dan produktivitas komoditas tanaman karet yang terjadi selama empat tahun terakhir. Ternyata tidak mendapatkankan jawaban yang memuaskan terkait dengan perkembangan salah satu komoditas khas Lampung ini.

Kabid Perkebunan Dishutbun Lampung Tengah, yang seharusnya bertanggungjawab terhadap peningkatan produktivitas perkebunan ketika di konfirmasi memberikan jawaban yang sangat mencengangkan.

“Untuk apa membahas masalah karet gak penting,  komoditas lain aja seperti tebu rakyat itu,  apa lagi tanaman karet banyak bibit palsu sehingga kurang diminati,”kata Kabid Perkebunan Sarwono, ditemui di sela-sela pelepasan Peserta Penas KTNA XIV Lampung Tengah, Rabu  (4/6)

Ketika ditanyakan berapa luasan tebu rakyat yang merupakan kemitraan dengan salah satu pabrik tebu di Lamteng, Kabid Perkebunan menyebutkan saat ini ada 500 Ha yang pengembangannya ada di Kecamatan Terusan Nunyai.

Menurut dia, setiap tahun diharapkan ada penambahan luasan sebanyak 500 Ha. ”Target setiap tahun perluasan 500 ha. Permasalahannya itu kan kerjasama dengan PT.Gunung Madu. Peran kita hanya memfasilitasi dengan kementerian,”katanya, acuh.

Sementara itu, Kabag Humas Sekkab Lampung Tengah Syamsi Roli ketika dimintai konfirmasi terkait dengan sikap kabid perkebunan, menyayangkan sikap Kabid Perkebunan.

”Saharusnya kabid bisa memberikan sedikit penjelasan, kalaupun belum ada data tentunya bisa dijanjikan kapan. Ya sudah saya coba telpon kepala dinas,” kata Syamsi.

Namun, upaya menghubungi Kapala Dinas Kehutanan dan Perkebunan olah Kabag Humas Lamteng melalui ponselnya, juga tidak dapat terhubung. ”Ya sudah, besok saja coba temui ke kantornya,”katanya.

Hingga berita ini di buat Kadis Hutbun Lamteng Krisna Rajasa belum bisa di konfirmasi. ”Bapak hari ini masih melayat,” kata seorang staf.

Apa yang di katakan Kabid Perkebunan Dishutbun Lamteng itu, sangat bertolak belakang dengan data di lapangan. Ternyata tanaman karet perkebunan rakyat di darah ini cukup luas. Sesuai data Badan Pusat Statistik Lampung Tengah, tahun 2012 luas area dan produksi perkebunan karet rakyat yang tersebar di 26 kecamatan se Lampung Tengah total tanaman.mencapai 7.717,25 Ha, terdiri dari 5.302 Ha tanaman karet belum produksi dan 2.415,25 Ha tanaman karet yang telah produksi, dengan produksi getah karet mencapai 2.224,13 ton.

Sementara luas area dan produksi tebu perkebunan rakyat mencapai 3.144 Ha yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Way Pengubuan seluas 120 Ha, Terusan Nunyai 1.774 Ha, dan Kecamatan Bandar Mataram seluas 1.250 Ha dengan total produksi sebanyak 22.533 ton  

Wednesday, June 4, 2014

Meringkus Grandong dengan Lampu Neon

Rama Pandu/Teraslampung.com

Lampu perangkap 'grandong'.  (Teraslampung.com/Rama Pandu)
BREBES - Jika Anda kebetulan naik kereta api malam hari dari Jakata menuju Yogyakart atau Semarang, begitu memasuki wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akan melihat ratusan lampu neon bertebaran di tengah sawah. Lampu-lampu itu tampak berjajar rapi dengan jarak teratur di tengah hamparan yang luas. Anda mungkin akan penasaran dan mengira ada tempat pendaratan UFO di areal persawahan itu.

Lampu-lampu neon itu tak lain adalah alat pembasmi hama tanaman bawang merah  (Allium ascalonicum) yang sengaja dipasang para petani. Dengan teknologi sederhana, para petani bawang merah di Brebes mencoba menyelamatkan tanaman mereka dari serangan hama yang mereka sebut sebagai grandong.

Grandong adalah tokoh jahat yang menjadi anak buah Mak Lampir dalam serial Misteri Gunung Merapi yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta Indonesia . Para petani bawang merah di Brebes menyebut hewan sejenis lalat yang menyerang daun bawang merah itu sebagai grandong karena ‘kejahatan’ hama itu sama dengan grandong.

Selama ini serangga itu menjadi musuh utama para petani bawang merah di Brebes. Karena serangan hama grandong, banyak petani bawang merah di Brebes yang gagal panen dan bangkrut. Sudah aneka pestisida dengan harga mahal dicoba untuk membasmi grandong, tetapi hewan itu tetap menyerang daun bawang merah sehingga tanaman rusak sebelum dipanen.

Hama Lyriomyza sp tersebut berasal dari Amerika Selatan. Sejenis lalat kecil ini sampai ke Indonesia tahun 1996 setelah menyebar ke negara-negara di Eropa, Cina , Taiwan , dan Jepang melalui tanaman bunga-bungaan. Sebelum masuk ke Brebes dan beberapa daerah di Jawa Timur,   hama ini ditemukan di Jawa Barat dengan menyerang tanaman kentang, tomat, bawang merah, melon, dan cabai.

Lalat grandong (Lyriomiza Sp ) biasanya bertelur di daun bawang, lalu menetas menjadi larva. Larva inilah yang  kemudian menyerang tanaman bawang merah. Antara lain dengan mematahkan saluran nutrisi daun, sehingga daun menjadi belang kekuning-kuningan sehingga tanaman mati.

Selain grandong, tanaman bawang merah juga disukai oleh ulat daun (Laphygma exigua) dan hama bodas (Thrips tabaci). Serangan kedua hama ini sering menyebabkan ujung daun terpotong dan daun menjadi terkulai. Larvanya sering merusak umbi. Hama yang agak mirip ulat daun ialah Spodoptera exigua. Gejala serangannya terlihat pada pinggiran dan ujung daun berupa bekas gigitan.

Warsono, 60, petani bawang merah dari Kecamatan Wanasari, Brebes, mengaku petani di Brebes baru memanfaatkan teknologi memerangkap hama grandong sejak dua tahun terakhir. Menurut Warsono, setelah para petani memasang lampu neon di areal persawahan mereka, hasil panen jadi lebih melimpah.

“Dulu kami harus adu cepat dengan grandong dan seranggga lainnya. Kami harus keluar dana besar untuk membeli pestisida. Setelah kami memasang lampu, banyak grandong yang mati terperangkap lampu. Kalau dulu per hektare hanya panen 7-8 ton, sekarang bisa mencapai 12  ton,” kata Warsono.

Meski begitu, menurut Warsono, tidak semua petani bawang merah bisa memasang lampu neon di areal persawahannya. Biasanya yang memasang lampu adalah petani bawang merah yang memiliki areal luas dan bermodal besar.

“Tapi, petani kecil yang berdampingan dengan petani yang memasang lampu neon juga terkena dampak positifnya. Sebab, hama pengganggu yang menyerang tanaman bawangnya juga berkurang,” ujarnya.

Para petani memanfaatkan lampu neon untuk memberantas hama karena serangga bersifat fototropik. Serangga akan cenderung senang mendekati lampu. Jadi, lampu-lampu yang dipasang di sela-sela hamparan tanaman bawang merah itu adalah untuk menarik serangga, baik jenis grandong maupun serangga lainnya yang biasa bertelur di daun bawang merah.

'Gradong' terperangkap di cairan oli dan akhirnya mati. (Teraslampung.com/Rama Pandu)
Biasanya lampu-lampu itu dipasang secara berjajar dengan jarak antarlampu masing-masing 15-20 meter. Lampu-lampu itu dipasang dengan cara diikatkan pada dua bilah kayu atau bambu yang ditancapkan ke tanah. Di bawah lampu itu dipasang nampan atau piring plastik ceper berukuran  besar.

Di atas nampan itu diberi cairan minyak tanah dicampur oli bekas. Dengan begitu, grandong, kupu-kupu, dan aneka hewan pengganggu tanaman bawang merah yang terperangkap lampu akan jatuh ke cairan minyak bercampur oli bekas sehingga mati.

Dengan teknologi sederhana itu, kini para petani bawang merah di Brebes mulai bisa mengurangi pemakaian pestisida untuk membasmi serangga. “Selain menyelamatkan tanaman dari serangan hama , kami menjadi bisa menghemat biaya produksinya. Selama ini biaya untuk membeli obat pembasmi serangga sangat besar, mencapai 1/3 dari total biaya produksi,” kata Warsono.

Kabupaten Brebes selama ini dikenal sebagai sentra bawang merah di Indonesia . Kabupaten terbarat di Jawa Tengah itu memasok 30 persen dari kebutuhan bawang merah nasional. Data di Dinas Pertanian Brebes menunjukkan produksi bawang merah Brebes per tahun (setahun dua kali panen) antara 160 ribu ton hingga 240 ribu ton.

Bawang merah produksi Kabupaten Brebes memiliki kekhasan, yaitu berwarna lebih merah, umbi lebih kecil, dan aromanya kuat. Itu berbeda dengan bawang merah impor yang warnanya biasanya lebih pucat, berumbi besar, tetapi aromanya kurang kuat. Itulah sebabnya, perusahan mi instan di Indonesia lebih memilih bawang merah Brebes sebagai bahan penambah sedapnya.

Popularitas bawang merah Brebes menyebabkan banyak pedagang bawang dari daerah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta memberi label “bawang Brebes” untuk bawang merah yang dipasarkannya. Itulah sebabnya, Pasar Bawang Merah Klampok di Brebes menjadi makin ramai karena dipenuhi para pedagang besar dari luar daerah. (RP/Oyos Saroso HN)

Friday, May 30, 2014

Manfaat Asap Cair Tempurung Kelapa

Supriyanto/Teraslampung.com

Kelapa: Setelah kulit buahnya diambil untuk keperluan tertentu, tempurung kelapa bisa diolah menjadi arang dan dimanfaatkan sebagai bahan asap cair. (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH- Bila selama ini masyarakat hanya mengenal pemanfaatan kelapa sebatas untuk keperluan konsumsi seperti minyak goreng atau diambil santannya untuk menyayur. Padahal, dari kelapa dalam ini banyak yang dpat dikembangkan menjadi suber ekonomi masyarakat.

Sebagaimana kita ketahui kelapa termasuk salah satu tanaman yang serba guna. Setiap tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia. Kelapa juga memiliki beberapa manfaat bagvi kesehatan. Daging kelapa mengandung berbagai enzim yang sangat berguna bagi kesehata, terutama dalam pencernaan manusia, batang kelapa dipat diolah menjadi bahan bangunan, bunga kelapa dapat diambil niranya untuk bahan baku gula merah, daun kelapa dapat digunakan sebagai atap rumah, akar kelapa obat-obatan dan zat pewarna.

Sedang tempurung batok kelapa dapat diolah menjadi arang batok kelapa, arang aktif, obat nyamuk bakar. Arang batok kelapa banyak dimanfaatkan bagi indusri pengecoran besi, industry karbon aktif, industry tambak udang, industry tekstil. Sabut kelapa dapat diolah menjadi serat sabut kelapa (cocofibre) ampas sabut kelapa(cocodust), airfiltermatting, rugs, tali. Sabut kelapa juga dapat diolah menjadi medium tanaman.    

Proses pembuatan asal cair (Foto: suhaidisingkil)
Kabid Bina Usaha Produksi Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lampung tengah, Radik, mengungkapkan, tempurung batok kelapa selaian dimanfaatkan arangnya, juga bisa dikembangkan menjadi bahan baku asap cair. Dari hasil penelitian, kata dia, asap cair merupakan cairan kondensat dari asap yang telah mengalami penyimpanan dan penyaringan untuk memisahkan tar dan bahan-bahan partikulat.

Asap cair yang dihasilkan memiliki warna coklat dan berbau seperti asap pembakaran tempurung kelapa. Diketahui bahwa kandungan utama asap cair tempurung kelapa adalah asam asetat (51,99%), fenol (19,90%), metil asetat (5,37%), furfural (4,56%), hidroksi aseton (2,90%), guaiakol (2,62%) dan siringol (1,85%). Asap cair tempurung kelapa memiliki pH sebesar 3,21.

Saat ini lanjut Radik, pihaknya terus melakukan pelatihan kepada kelompok wanita tani (KWT) perkebunan, untuk memproduksi asap cair, hasil pembakaran tempurung batok kelapa. ” Sudah ada 14 KWT perkebunan yang telah mendapatkan pelatihan untuk memproduksi asap cair dari tempurung kelapa,”ungkap Radik, Jum’at (30/5).

Kendati, sudah mengikuti pelatihan embuatan asap cair, kata dia, para KWT tersebut belum mampu memproduksi asap cair secara besar-besaran, karena masih terkendala alat produksi. Beberapa KWT telah memproduksi asap cair masih sebatas untuk konsumsi keluarga. Karena, satu unit alat produksi asap cair tempurung kelapa berkapasitas 600 Kg harganya mencapai Rp50 juta-an.

”Saat ini kami masih memesan dua unit alat produksi asap cair dengan kapasitas lima sampai sepuluh kilogram. Dengan alat tersebut diharapkan KWT bisa memproduksi asap cair untuk memenuhi kebutuhan sendiri dulu,”katanya.

Asap cair dalam bentuk kemasan (dok)
Asap cair tempurung kelapa ternyata banyak kegunaannya, bahkan bisa menjadi alternative sebagai bahan pengawet makanan pengganti formalin. Dari hasil penelitian, asap cair tempurung kelapa mengandung senyawa fenol, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur sehingga dapat digunakan sebagai pengawet maupun disinfektan.

Proses pembuatan asap cair tidaklah sulit bahkan sangatlah sederhana. Pembuatan asap berlangsung selama pembakaran tempurung kelapa yang di tempatkan pada alat pembakar yang sudah di beri pipa penyuling yang terhubung dari tutup tangki pembakar.

Dari proses pembakaran tempurung akan keluar asap cair yang kental seperti kecap, cairan ini masih masuk kategori grate 3. Asap kental ini belum bisa digunakan untuk pengawet makan, tapi lebih digunakan untuk pengawet kayu agar tidak dimakan ngengat.

Agar dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan seperti ikan asin, asap cair grade  3 dilakukan proses lanjutan untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik grate 2. Sedang untuk pengawet yang di campurkan kedalam makanan, asap cair grade 2 harus diproses kembali untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik yang bisa dicampur ke dalam bahan makanan seperti bakso atau mie.

Menurutnya, hasil penelitaian antara IPB dengan Badan Litbang Pertanian mandapatkan kesimpulan bahwa asap cair tempurung kelapa dapat berfungsi sebagai disinfektan yang menghambat serangan penyakit antaraknosa pada penanganan pasca panen papaya, sehingga dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan buah.  Bahkan petani karet di Bandar Mataram, Lampung Tengah,  sudah menggunakan asap cair untuk menghilangkan aroma busuk getah karet atau lateks.

Asap cair juga sudah dicoba untuk pengawetan ikan asap, hasilnya kualitas ikan asap sangat baik. Untuk pengawetan ikan asap, cukup menggunakan 10 persen asap cair dari air yang di gunakan untuk merendam ikan, setelah air untuk merendam habis maka dilakukan proses pengeringan ikan.

 ”Untuk pengawet makan seperti bakso atau mie, sebagai penganti borak atau pormalin cukup menggunakan asap cair maksimal tiga persen dari satu liter air,”katanya.

Wednesday, April 2, 2014

Ekspor Kakao Lampung pada Maret 2014 Nihil

Buah kakao (dok)
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampung—Pada Maret 2014, ekspor kakao Lampung nol alias tidak ada ekspor sama sekali. Tingginya pajak ekspor, yakni mencapai 10 persen, diduga menjadi penyebab tidak adanya ekspor kakao pada Maret 2014. Padahal, pada Maret 2013 lalu ekspor kakao Lampung mencapai 660,4 ton.

 “Memang benar data yang kami peroleh bahwa untuk bulan Maret tahun ini ekspor kakao tidak ada,” kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Lampung, Ratna Dewi Umar, Rabu (2/4).

Sementara itu, Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Lampung, Hans Saputra, mengatakan pajak ekspor untuk kakao yang mencapai 10 persen sangat memberatkan eksportir. Apalagi, saat ini belum musim panen raya kakao di Lampung.

“Tapi faktor minimnya stok kakao bisa jadi juga menjadi penyebab tidak adanya ekspor kakao dari Lampung,” kata Hans.

Menurut Hans harga kakao di Lampung saat ini mencapai Rp 30 ribu/kg. Namun, tingginya harga kakao itu tidak berdampak bagi para petani kakao maupun eksportir karena saat ini tidak ada stok kakao.

 
Kakao masih mejadi komoditas unggulan Lampung di samping hasil perkebunan lainnya, seperti kopi, sawit, lada, dan kopra.

Di Lampung, sentra kakao terdapat di Kabupaten Lampung Timur.Di wilayah itu lahan perkebunan kakao seluas 11.000 ha, terdiri atas 4.673 ha tanaman belum menghasilkan, 9.242 ha tanaman produktif, dan 385 ha tanaman nonproduktif. Sementara luas perkebunan kakao di Provinsi Lampung mencapai 39.576 ha dengan rata-rata produksi 20 ribu hingga 26 ribu ton per tahun.

Wednesday, March 5, 2014

HKm Way Kanan jadi Objek Studi Banding Wakil 10 Provinsi

Menyadap karet (ist)
Syailendra Arif dan Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com

Blambangan Umpu--Perwakilam dari 10 provinsi di Indonesoa melakukan studi banding mengenai Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kabupaten Waykanan, Lampung, 3-6 Maret 2014. Salah tempat yang menjadi objek studi banding adalah HKm Jaya Lestari di Kampung Menangajaya, Kecamatan Banjit.

"Kami tentu bangga karena HKm Kampung Menangjaya menjadi rujukan daerah lain di Indonesia.HKm di kampung itu memang berhasil. Selain masyarakat penerima manfaat program HKm sudah menerima hasil, di sana juga sudah memiliki koperasi HKm" ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Waykanan, Leaderwan, di Blambangan Umpu, Kamis (6/3).
 
Menurut Leadarwan, kegiatan HKm di Kampung Menangajaya dimulai dari 2003, tapi ijin keluar, sekitar tahun 2008-2009. Jumlah kepala keluarga penerima program HKm di Menangajaya sekitar 500. Mereka umumnya melakukan budidaya karet.
 
"Penduduk penerima manfaat HKm di sana awalnya menaman kopi. Karena kopi konservasinya kurang, maka diganti karet. Perubahan dari kopi ke karet itu sebuah prestasi karena karet bisa membuat pertanu berpenghasilan tiap hari, sedangkan  kopi hanya setahun sekali panen. Bahkan, terkadang petani gagal panen," kata Leadaewan.

Di Kampung Menangjaya, perwakilan dari 10 provinsi itu akan studi banding mengenai berbagai hal tentang HKm. Baik itu soal kelembagaan, teknis penanaman, hingga panen. Juga soal pengawasan.

Tuesday, March 4, 2014

Curah Hujan Tinggi, Harga Gabah di Lampung Turun 2,44 Persen

Petani panen padi (dok Gapoktan Lampung)
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Bandarlampungp—Tingginya curah hujan diyakini berpengaruh terhadap penurunan harga gabah di tingkat petani di Lampung. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan pada Februari 2014 turun rata-rata sebesaar 2,2.4 persen. Hal ini disebabkan oleh datangnya musim penghujan sehingga stok gabah meningkat dari bulan sebelumnya.

“Penurunan rata-rata harga kelompok kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar 2,24 persen dari Rp. 4.539,09 per kg menjadi Rp. 4.428,41 per kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama, turun sebesar 2,37 persen dari Rp. 4.631,59 per kg menjadi Rp. 4.521,81 per kg,” kata kepala BPS Lampung, Adhi Wiriana, Selasa (4/3).
.
Sementara untuk produksi padi selama tahun 2013 berdasarkan angka sementara diperkirakan sebesar 3,22 ton juta ton gabah kering giling (GKG), naik sebesar 121,33 ribu ton dibanding produksi 2012.

Sedangka jagung diperkirakan mengalami penurunan sebesar 0,01 persen dibanding tahun 2012. BPS memperkirakan produksi kedelai pada tahuhn 2013 diperkirakan sebesar 6,16 ribu ton atau turun sebesar 22,98 persen dari produksi tahun 2012.

BPS Lampung melansir nilai tukar petani (NTP) Provinsi Lampung Februari 2014 untuk masing- sebesar 100,44 untuk subsektor padi dan palawija (NTP-P), 104,74 untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 98,63 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-Pr), 108,51 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt), dan 101,58 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi). Sedangkan NTP gabungan tercatat sebesar 102,29.

Monday, February 24, 2014

Serahkan Bantuan dan Izin Kelola HKM, Menhut: "Bantuan Jangan Dipakai untuk Kawin Lagi..."



Rudy Fitranando dan Raditya/Teraslampung.com
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerahkan izin Hkm kepada warga Lampung Barat melalui Wakil Bupati Lampung Barat Makmur Azhari, di Desa Tribudi Syukur, Senin (24/4). Bantuan itu akan dimanfaatkan oleh dua ribu kepala keluarga pengelola program HKM.

Lampung Barat—
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerahkan bantuan senilai Rp 3 miliar bagi warga desa di Lampung Barat yang mengelola lahan Hutan Kemasyarakatan (HKM). Ketika menyerahkan bantuan dalam bentuk pinjaman lunak, Zulkifli mengingatkan agar pinjaman Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dimanfaatkan dengan baik.

“Pinjaman harus bisa dimanfaatkan secara tepat sesuai petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan teknis (Juknis). Pinjaman harus bisa bermanfaat anggota Gapoktan untuk menanam pohon.Jangan dipakai untuk kawin lagi seperti tetangga saya," kata Zulkifli  Hasan, dengan nasa canda, saat menyerahkan secara simbolis SK HKM  8.340 hektare SK Hutan Kemasyarakatan (HKM) bagi 100 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Tribudi Syukur, Way Tenong, Lampung Barat, Senin (24/2).

Menurut Zulkifli, pihaknya tidak meminta uang atas program-program diberikan. Kementerian Kehutanan, kata Zulkifli, hanya membutuhkan tanggung jawab dari para penerima manfaat SK HKM. Areal seluas 8.340 ha, kata Zulkifli, akan dimanfaatkan 2.000 kepala keluarga.


"Pinjaman diberikan bayarnya lama, sembilan tahun lagi dan juga bunganya murah, hanya 7,5 persen. Setiap desa dibantu dengan program Kebun Bibit Rakyat (KBR), Rp50 juta per kampung,” kata dia.

Selain dihadiri ribuan warga calon yang mengelola program HKM, acara tersebut juga dihadiri Dandim 0422 Lampung Barat Letnan Kolonel Infantri Slamet Riadi, Kapolres AKBP Eko Widianto, Wakil Bupati Makmur Azhari, dan sejumlah pejabat dan staf Kemeterian Kehutanan RI.

Selain memberikan bantuan bagi sejumlah kelompok tani senilai Rp3 miliar, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga menyerahkan bantuan Rp35 juta bagi beberapa  kelompok pengajian ibu-ibu dan pembangunan masjid di daerah itu.

Saturday, February 22, 2014

Soal Sapi, Presiden SBY Ingin Indonesia tidak Terus-menerus Tergantung pada Australia

Dewi Prinyantini/Teraslampung.com
Sulawesi Selatan--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Ani Yudhoyono meninjau peternakan sapi milik PT Berdikari United Live Stock (PT. BULS) di Desa Bila, Kecamatan Pituriase,  Kabupaten Sindenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/2). Peternakan sapi seluas 6.623.1 Ha  itu  merupakan peternakan terintegrasi meliputi kegiatan peternakan dan pertanaman.



Menurut Presiden SBY, Indonesia harus mandiri di bidang pengadaan daging sapi sehingga tidak terus-menerus bergantung pada Australia dan Selandia Baru.
“Kalau kita hanya bergantung kepada Australia, New Zealand, membeli sapi atau daging sapi, tidak baik bagi Indonesia, tidak baik bagi negeri kita, karena membuat kita bergantung kepada Impor.Mestinya kita kembangkan untuk memproduksi daging sapi,” kata Presiden SBY.

Di Presiden SBY menegaskan peternakan sapi merupakan bisnis berprospeknya bagus. Itu karena kebutuhan daging sapi pada masa-masa mendatang akan makin besar seiring dengan pertumpuhan ekonomi indonesia.

Dalam kesempatan itu Presiden SBY meminta agar masyarakat Indonesia tidak selalu membeli dari luar negeri. “Jadilah tuan rumah di negeri sendiri, dan mudah-mudahan membawa kesejahteraan dan kesehatan bagi rakyat kita,” tutur SBY.

Selain ternak sapi, menurut Presiden SBY bisnis yang prospeknya bagus antara lain adalah beras, gula, jagung, dan kedelai.

Terkait dengan bisnis sapi, Direktur Utama PT. Berdikari Livestock, Ria Kusumaningrum mengatakkan pihaknya tahun ini berencana akan menambah indukan sapi sebanyak 5.000 ekor dan penggemukan sebanyak 9.000 ekor .

"Kami akan terus menambah jumlah indukan sapi, karena kami telah berkomitmen untuk membangun industri peternakan, dan memasok kebutuhan daging nasional," kata dia.

Menurut Ria dalam menjalankan industrinya menerapkan teknologi Inseminasi buatan (IB) dan Embrio Transfer (ET)  bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Sidrap untuk mendapatkan sapi yang berkualitas tinggi.

 "Kami telah melakukan kemitraan dengan peternakan setempat untuk pengembangbiakan sapi Bali yang merupakan jenis sapi andalan Indonesia. Selain itu kami juga menggagas perkebunan kemitraan bersama masyarakat untuk menunjang pakan sapi," papar Ria

Ria mengungkapkan kegiatan itu melibatkan masyarakat sekitar dan dilakukan di dalam area PT. BULS, sehingga diharapankan juga dapat membangun ekonomi warga di sekitar peternakan tersebut.

Friday, February 21, 2014

Kemitraan GGL: Kisah Sukses Si Juragan Sapi

Parjono, warga Astomulyo, Lampung Tengah: kini sudah punya showroom sapi (Foto Oyos Saroso HN)
Mas Alina Arifin/teraslanpung.com

Lampung Tengah--Direktur Operasional PT GGL Didiek Purwanti mengungkapkan, dalam program PIR, PT GGL membina para peternak melalui beberapa langkah. Antara lain, pertama, memberikan pemahaman kepada peternak tentang bitbit sapi bakalan yang baik untuk penggemukan, tatalaksana kandang, pola pengelolaan pakan,serta menjaga kualitas pakan yang baik.

Kedua, mengajarkan analisis usaha dan mengombinasikan kegiatan peternakan dan pertanian secara sinergis. Peternak diajari membuat pupuk organik sehingga kotoran sapi bisa dimanfaatkan untuk mendukung pertanian. Peternak juga diajari  cara memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber pakan sapi yang baik.

Ketiga, pembuatan pabrik pakan mini untuk menopang kebutuhkan kelompok peternak. Dengan begitu, kelompok peternak dapat mandiri, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakan ekonomi mikro.
Keempat, menambah jumlah wilayah binaan sehingga semakin banyak masyrakat yang akan mendapatkan kesempatan untuk bermitra dan mendapatkan transfer teknologi.

Kelima, GGL ikut memfasilitasi sekaligus sebagai afalis (perusahaan penjamin) bagi para peternak untuk mendapatkan pinjaman di bank agar usaha peternakan yang dijalankan para peternak makin bekerkembang.

Setelah berlangsung lebih dari 21 tahun,program PIR kami telah mendorong Lampung Tengah dikenal oleh masyrakat umum sebagai ‘lumbung sapi potong’ di Lampung.

Parjono, ketua Kelompok Peternak Sapi Limousine, Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah mengatakan dalam kemitraan kelompok peternak mempunyai posisi tawar dalam penetapan harga, baik sapi bakalan maupun harga jual sapi. Jika kelompok menilai harga saat itu tidak menguntungkan, feedlot (inti) tidak bisa memaksa mengambil sapi di kelompok perternak.

“Namun, untuk sapi bakalan harganya sangat dipengaruhi oleh harga kontrak sapi bakalan yang didatangkan dari Australia, ” kata Parjono.

Anak sapi harus antre untuk mendapat ASI.
Tiap anggota tidak sekaligus menerima sapi, tapi diatur secara bergiliran. Misalnya, bulan pertama terdapat 100 plasma yang menerima sapi, bulan berikutnya 100 lagi, dan sisanya 100 plasma akan menerima sapi pada bulan ketiga. Pada bulan keempat, 100 plasma  pertama sudah panen, selanjutnya panen di kelompok kedua dan ketiga.

“Ini juga memudahkan pengaturan pemasaran dan mengantisipasi kekosongan sapi di kelompok,”kata Parjono.

Memiliki kapasitas kandang 30 ribu ekor sapi dan fasilitas karantina hewan berkapasitas 10 ribu ekor sapi, PT GGL selama 22 tahun menjadi andalan Provinsi Lampung di bidang ternak sapi sehingga menempatkan Lampung sebagai lumbung sapi nasional setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

PT GGL mengimpor sapi dari Australia untuk digemukkan selama 3 bulan. Dengan stok pakan limbah nanas yang cukup dan pola pemeliharaan yang baik, sapi-sapi itu kemudian dijual ke berbagai daerah. Antara lain ke seluruh wilayah Sumatera, Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, dan seluruh Jawa Barat.

“Feedlot kami memilik kapasitas kandang penggemukan sebanyak 30.000 ekor dan fasilitas Instalasi Karantina Hewan(IKH) untuk menampung 10.000 ekor sapi.  Saat ini stok sapi yang mengisi kandang kami sampai pada angka 18,142 ekor.Sapi untuk penggemukan sebanyak 11.050 ekor, bredding sebanyak 5.614 ekor, dan sapi lokal sebanyak 1.478 ekor,” kata Didiek.

Menurut Didiek, dengan mayoritas sapi impor asal Australia, PT GGL menyediakan sapi untuk pemotongan di 26 Rumah Potong Hewan(RPH) yang telah terjamin sesuai standar kesejahteraan hewan. Impor sapi Australia yang dilakukan PT GGL pada 2010 mencapai 64. 623 ekor, pada 2011 52.563, dan hingga September 2012 sebanyak 20.686 ekor.

Selain mengimpor sapi, untuk mengembangkan bisnis penggemukan sapi GGL juga membeli sapi lokal lewat pembelian langsung. Sapi-sapi lokal itu berasal dari berbagai daerah di Lampung, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada 2011 sapi lokal yang dibeli GGL sebanyak 4.431 ekor. Sementara pada 2012 (hingga September 2012) mencapai 3.668 ekor.

Sumber: www.lampungreview.com

GGLC, "Pabrik" Sapi di Tengah Hamparan Kebun Nanas

Feedloadter Sapi Milik PT GGL di Terbanggi Besar,Lampung Tengah. Deengan konsep zero waste, tidak ada limbah yang tidak terpakai di kompleks peternakan sekaligus perkebunan ini. (Foto: Oyos Saroso H.N.)
Mas Alina Arifin/teraslampung.com

Lampung Tengah--Memasuki gerbang perusahaan penggemukan sapi PT Great Giant Livestock (GGL) di Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, tidak tampak adanya ribuan sapi. Beberapa ratus meter dari pintu gerbang, yang tampak justru pabrik pengalengan nanas.

Di samping kiri dan kanan jalan menuju kantor PT GGL yang terhampar adalah ribuan hektare kebun nanas. Itu adalah kebun nanas milik PT PT Great Giant Pineapple (GGP), perusahaan yang sama-sama menjadi bagian dari Gunung Sewu Group. PT GGL fokus pada usaha penggemukan sapi, sementara PT GGP menjadi perusahaan pengalengan nanas.

Kandang sapi sebagai tempat penggemukan, pembibitan, dan karantina terletak beberapa ratus meter dari kantor PT GGL. Di kantor itu tiap hari ramai peternak sapi dari berbagai daerah di Lampung untuk melakukan transaksi maupun sekadar berkonsultasi.

Sepintas, tidak ada hubungan antara kebun nanas dengan sapi.  Namun, ternyata kebun nanas dan sapi di kompleks seluas 32 ribu hektare itu saling berkaitan. Itu karena sapi-sapi milik PT GGL mendapatkan pasokan pakan dari limbah nanas. PT GGL bahkan mengklaim sebagai satu-satunya perusahaan penggemukan dan pembibitan sapi di dunia yang terintegrasi dengan sumber pakan. Selain itu, PT GGL juga berperan sebagai inti, sementara banyak peternak sapi yang berperan sebagai plasma dalam jalinan kemitraan.

“Industri feedlot kami didukung oleh potensi sumber pakan by-product industri nanas kaleng berupa kulit nanas yang sangat baik sebagai pakan ternak sapi potong,dengan jumlah yang cukup dan berproduksi secara terus-menerus,” kata Direktur Operasional PT GGL, Didiek Purwanto.

Menurut Didiek salah satu keunggulan kulit nanas adalah memilik kadar gula tinggi (brix) sebagai sumber energi dan bentuk Readily Available Carbohidrate (RAC) yang dapat langsung digunakan oleh ternak.

“Dilihat dari kekayaan kandungan nutrisinya, kulit nanas dapat digunakan untuk sumber energi dan membaurkan kulit nanas dengan pakaian konsentrat. Tidak ada yang terbuang dari produksi nanas dan penggemukan sapi. Limbah nanas kami manfaatkan sebagai pakan sapi, sementara kotoran sapi yang sudah kami olah kami jadikan pupuk organik untuk memupuk kebun nanas,” kata Didiek Purwanto.

Kebun nanas milk PT GGLC di Terbanggi Besar, Lampung Tengah. (Foto: Oyos Saroso H.N.)
Didiek mengaku pabrik nanas dalam kaleng bisa berproduksi sepanjang tahun sehingga PT GGL tidak pernah kehabisan pakan. Bahkan, produksi pakan yang diolah dari limbah nanas juga disalurkan kepada para peternak sapi di luar kompleks PT GGL.

“Makanya, meskipun terjadi kemarau panjang para peternak sapi di Lampung yang menjadi mitra kami tidak pernah kesulitan mendapatkan pakan,” ujarnya.

Didiek mengatakan sejak 1987 PT GGLC telah membina kemitraan lebih dari 2.000 peternak plasma di 48 desa di 6 kabupaten di Lampung. Kemitraan terpadu GGL miliputi kerjasma penggemukan sapi, budidaya pembibitan, industri kecil pakan ternak dan pupuk organik.

“Pola kemitraan merupakan satu konsep yang terintegrasi. Terutama memberdayakan masyarakat agar mempunyai jiwa kewirausahaan yang mandiri. Kalau peternak sudah pintar menggemukkan sapi, maka swasembada sapi tidak harus menunggu sampai tahun 2014,” kata Didiek.

“Target jangka panjang dari program ini adalah untuk memberikan kesejahteraan masyarat melalu program yang berkelanjutan. Sudah banyak petani yang berhasil,” tambah Didiek.

Friday, February 7, 2014

Pemerintah Bantu Petani Gagal Panen Rp 2 Juta/Ha

JAKARTA, teraslampung.com--Pemerintah akan memberikan bantuan sebagai ganti rugi bagi para petani yang sawahnya terkena puso (gagal panen atau rusak parah) akibat terendam banjir hingga Rp2 juta per hektar (ha). Pemberian bantuan itu diharapkan bisa mengurangi beban dan penderitaan petani.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa  mengatakan berdasarkan data dari Kementerian Pertanian lahan sawah yang terkena puso akibat banjir sekitar 39 ribu ha, dan ini akan segera ditangani cepat oleh Kementerian Pertanian.

“Sudah ada dananya untuk membantu sawah-sawah kita yang terkena puso agar produksi tidak terganggu, dan kita harapkan dalam 10 hari ked epan berdasarkan laporan dari BMKG curah hujan sudah mereda dan gelombang kembali kepada normal,” ujar Hatta usai rakor pangan distribusi barang dan perbaikan jalan di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Sabtu (8/2).

Wakil Menteri Rusman Heriawan menambahkan, pihaknya telah menyiapkan dana Rp200 miliar sebagai kompensasi petani yang sawahnya rusak parah karena banjir.

“Kalau rusaknya sampai 75 persen dia akan dapat penggantian per ha antara Rp1,7 juta sampai Rp2 juta supaya petani dapat fresh money bisa beli bibit ulang dan pupuk (subsidi) supaya lebih murah. Supaya petani bisa tetap menanam,” jelas Rusman.

Adapun mengenai penyalurannya, menurut Rusman, dana Rp200 miliar untuk ganti rugi petani gagal panen itu nantinya akan disalurkan oleh Dinas Pertanian setempat. (B Satriaji/Ratri)

Thursday, February 6, 2014

Menggantungkan Harapan pada Kebaikan Luwak

Luwak peliharaan petani kopi Lampung Barat (teras/oshn)
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG--Musang luwak atau disebut luwak adalah hewan dengan nama latin Paradoxurus hermaphroditus. Di Jawa, orang menyebutnya lenggarangan atau rase. Di daerah lain di Indonesia sebutannya bermacam-macam.

Di Jakarta orang menyebutnya musang, sementara di Jawa Barat dikenal sebagai careuh. Sedangkan di Inggris binatang seukuran kucing besar dan bertubuh lebih panjang dibanding kucing disebut common palm Civet, mentawai palm civet, atau toddy cat.

Selain sering menjadi ‘hama’ bagi pemilik ayam peliharaan, luwak juga bermanfaat bagi manusia. Utamanya adalah bagi para produsen kopi luwak. Maklum saja, binatang mamalia ini termasuk pandai memilih biji kopi terbaik. Biji kopi yang sudah dimakan luwak itu, hasilnya berupa kotoran yang masih berujud biji kopi. Tentu kulitnya sudah terkelupas.

Nah, biji kopi hasil fermentasi di perut luwak itulah yang diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Itulah sebabnya kopi luwak sering disebut sebagai kopi obat atau ‘kopi bukan sembarang kopi’.

Dalam bahasa Latin, luwak disebut Paradoxurus hermaphroditus. Nama ini berasal dari fakta bahwa luwak memiliki semacam bau yang berasal dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, tetapi lama-kelamaan bisa membuat perut mual.

Luwak memiliki ukuran tubuh sedang, sekitar 50 cm dengan ekor panjang mencapai 45 cm dan berat rata-rata 3,2 kg. Tubuh luwak ditutupi bulu berwarna kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman.

Sisi bagian atas berwarna abu-abu kecoklatan dengan variasi warna cokelat merah tua. Penampang kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Binatang ini termasuk jenis mamalia yang bersifat arboreal (hidup di pepohonan). Meski begitu, luwak sering juga turun di atas tanah. Ia termasuk binatang nokturnal yang beraktivitas di malam hari.

Biji kopi luwak belum diolah (teraslampung/oshn)
Luwak termasuk hewan omnivora. Makanan utamanya adalah buah-buahan lembek seperti buah kopi, mangga, pepaya, dan rambutan. Namun Luwak juga memakan telur, serangga, burung dan mamalia kecil.

Pencernaan luwak cukup sederhana. Itulah sebabnya, biji-bijian yang dimakannya akan dikeluarkan kembali dalam bentuk utuh bersama kotorannya. Ituah sebabnya luwak dimanfaatkan para produsen kopi untuk menghasilkan kopi luwak.

Persebaran luwak cukup luas. Mulai Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Srilanka, Thailand, hingga Vietnam.

Di Indonesia, luwak tersebar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu juga telah diintoduksi ke Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

Habitat yang disukai adalah hutan, semak-semak, hutan sekunder, perkebunan, dan di sekitar pemukiman manusia. Luwak bisa hidup di daerah dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 2.500 meter dpl.

Populasi dianggap masih banyak dan aman dari kepunahan. Karena itu, IUCN Redlist hanya memasukkannya dalam status konservasi Least Concern sejak 1996.

Berkat memelihara luwak untuk menghasilkan kopi luwak, kini banyak petani kopi di Lampung Barat kesejahteraannya meningkat.Maklum saja, harga kopi luwak di pasaran memang selangit. Harga kopi  luwak jauh lebih tinggi dibanding dengan kopi biasa yang diolah secara normal.

Referensi: Thewebsiteofeverything

Baca juga
Era kopi luwak di ambang kiamat?
Belum kiamat

Tuesday, February 4, 2014

"Showroom Sapi" di Lampung Tengah: Kemitraan Wujudkan Mimpi Parjono

Parjono dan 'show room' sapi miliknya (teraslampung/oyosshn)
Mas Alina Arifin/Teraslampung

LAMPUNG TENGAH—Tidak tampak rumah bedeng ukuran kecil beratap asbes atau seng seperti halnya  sering kita jumpai di daerah transmigrasi di Indonesia. Di sebelah kiri dan kanan jalan beraspal mulus yang membelah Desa Astomulyoyang tampak adalah rumah-rumah bagus berukuran besar, berasitektur modern,  dengan halaman yang rata-rata luas. Itu bukanlah deretan rumah pengusaha besar atau rumah pejabat daerah. Rumah-rumah bagus itu adalah rumah warga Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, yang sehari-hari berprofesi sebagai peternak sapi.

Beternak sapi memang sudah menjadi kebiasaan warga Astomulyo sejak nenek moyang mereka datang dari Pulau Jawa dan Bali pada awal tahun 1900-an. Yaitu saat para perintis Desa Astomulyo datang ke Lampung ikut program kolonisasi (transmigrasi) pada zaman penjajahan Belanda.

Selama pemerintahan Orde Baru, Desa Astomulyo pun sudah dikenal sebagai daerah penghasil sapi di Lampung. Namun, kala itu cara pemeliharaan sapi masih konvensional, yaitu dengan menggembalakan sapi di lapangan. Pasokan makanan tambahan didapatkan dengan cara mengarit atau mencari rumput.

Dengan pola pemeliharaan yang konvensional seperti itu, penghasilan para peternak menjadi terbatas. Sebab, sapi potong yang mereka gemukkan tidak mencapai bobot yang maksimal pada saat hendak dijual.

Sejak tahun 2001 pola konvensional itu sudah mulai ditinggalkan. Sejak itu para peternak sapi di Desa Astomulyo bermitra dengan PT Great Giant Livestock (GGL) yang kala itu sedang memperkenalkan Pola Inti Rakyat (PIR). PT GGL merupakan salah satu perusahaan penggemukan sapi  terbesar di Lampung, dengan kapasitas kandang sebanyak 30 ribu ekor. Sapi-sapi yang digemukkan PT GGL sebagian besar diimpor dari Australia.

Ada ratusan peternak sapi anggota Kelompok Peternak Sapi yang menjalin kerjasama PIR dengan PT GGL. Kini, setelah 11 tahun bermitra dengan PT GGL, sebagian besar peternak sapi di Desa Astomulyo yang sukses dan hidup makmur.

Mereka tidak lagi menjadi peternak tradisional, tetapi peternak modern dengan penghasilan yang lumayan besar. Desa Astomulyo yang dulu mengandalkan tanaman padi kini sudah berubah menjadi ‘show room sapi’. ‘Show room sapi’ itu terletak di halaman belakang rumah-rumah penduduk.

Selain sapi potong, warga Astomulyo juga memelihara sapi bibit. Menjelang Hari Raya Idul Adha, Desa Astomulyo pun selalu ramai karena banyak calon pembeli sapi untuk dipotong dalam acara Idul Adha. Para peternak dari daerah lain yang ingin mencari sapi bibit, banyak yang membeli di Desa Astomulyo.

Parjono, 44, Ketua Kelompok Peternak Sapi Limousine, mengatakan pada tahap awal program kemitraan berjalan, tiap kelompok peternak sapi mendapatkan 9 ekor sapi jenis Brahman Cross.
Sapi itu dibeli kelompok peternak dari PT GGL. Setelah digemukkan selama 3 bulan, sapi itu dijual lagi ke PT GGL dengan harga jual sesuai dengan harga pasar.

Melalui kemitraan, peternak menerapkan pola budidaya semi intensif. Peternak yang mendapat sapi bakalan dari inti tinggal memberikan pakan konsentrat, kulit nanas yang sudah difermentasi, dan obat-obatan yang juga sudah dijamin penyediaannya oleh PT GGL sebagai inti. Selaku plasma, peternak menanam rumput gajah.

GGL  menerapkan subsidi pada harga pakan konsentrat sehingga harganya terjangkau oleh plasma. Harga konsentrat Rp1.000/kg, dan kulit nenas Rp60—R65/kg. Dengan harga pakan murah, dari seekor sapi, peternak masih memperoleh keuntungan setelah dipotong harga sapi bakalan, pakan/konsentrat, dan obat-obatan.

Pelan dan pasti, pola kemitraan itu telah bisa mewujudkan mimpi para warga Astomulyo untuk memiliki 'showroom' sapi. Termasuk mimpi Parjono.

“Kini para peternak yang mulai bermitra sejak 10-an tahun lalu sudah tak ada lagi yang punya hutang di bank.  Mereka sudah memiliki sapi belasan hingga puluhan ekor per orang. Selain diinvestasikan untuk menambah sapi peliharaan, para peternak juga menginvestasikan keuntungan beternak sapi dengan membeli sawah, kebun sawit, kebun karet, dan rumah toko,” kata Parjono.

Menurut Parjono dengan mengikuti program  mengembangkan usaha, selain ada jaminan mendapatkan pasokan pakan berkualitas dengan harga murah, keuntungannya pun jauh lebih besar dibanding dengan pemeliharaan sapi dengan pola tradisional yang dikerjakan sendiri.

“Dengan ikut kemitraan, saya bisa memelihara ratusan sapi tanpa harus saya gembalakan,” kata Parjono.

Mukhsin, 45, salah satu anggota Kelompok Peternask Sapi Limousine, mengaku meskipun secara pribadi belum pernah mendapatkan dana dari bank tetapi karena menjadi anggota Kelompok Peternak Sapi akhirnya bisa meningkatkan produktivitas sapi peliharaannya.

Ketika mulai memilahara sapi pada 1991 Mukhsin punya 3 ekor sapi. Kini jumlah sapi Mukhsin mencapai 50 ekor. Selain bisa menyekolahkan dua anaknya di perguruan tinggi di Yogyakarta, Mukhsin juga bisa membeli 4 hektare kebun sawit dan 2,5 hektar sawah.

Parjono mengaku dulu ketika para peternak menggemukkan sapi sendiri-sendiri dengan pemeliharaan tradisional selama 3 bulan, keuntungan peternak dari seekor sapi potong yang di bawah Rp 500 ribu. Kini, keuntungan rata-rata dari tiap ekor sapi Rp 1 juta.

“Itu karena para peternak sekarang menggemukkan sapi dengan pasokan pakan yang berkualitas. Peningkatan bobot sapi harian rata-rata (average daily gain-ADG) 1,5 kg. Sapi yang bobot awalnya rata-rata 350 kg setelah dipeliara 3 bulan menjadi  berbobot 435 kg hingga 440 kg,” kata Parjono.

Masuk Masa Panen, Harga Gabah di Lampung Naik

BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menyebutkan harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan di Lampung pada Januari 2014 naik. Peningkatan rata-rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 6,34 persen dari Rp. 4.268,40 per kg menjadi Rp. 4.539,09 per kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama, naik sebesar 6,35 persen dari Rp. 4.355,00 per kg menjadi Rp. 4.631,59 per kg.

Kenaikan harga gabah itu i disebabkan karena belum memasuki masa panen raya sehingga stok gabah berkurang.


BPS juga mencatat nilai ekspor Lampung pada Desember 2013 lebih tinggi dari nilai impor di bulan yang sama (Desember 2013). Hal ini menunjukkan bahwa neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung mengalami surplus 105,4 juta dolar AS di Desember 2013.

Kondisi neraca November 2013 juga mengalami surplus 184,5 juta dolar AS. Ekspor Lampung periode Januari - Desember 2013 didominasi oleh golongan barang Lemak & Minyak Hewani/Nabati (dengan komoditi sebagian besar CPO) sekitar 35,57% dan Kopi, Teh, Rempah-rempah (dengan komoditi sebagian besar kopi dan lada hitam) sebesar 22,45%, sementara impor Lampung didominasi oleh impor migas (67,96%).

Di sisi lai, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung/Gabungan tercatat sebesar 102,30. NTP Provinsi Lampung Januari 2014 untuk masing-masing sub sektor tercatat sebesar 101,41 untuk Subsektor Padi & Palawija (NTP-P), 103,96 untuk Subsektor Hortikultura (NTP-H), 98,66 untuk Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr), 107,90 untuk Subsektor Peternakan (NTP-Pt) dan 100,78 untuk Subsektor Perikanan (NTP-Pi). Sedangkan NTP Gabungan tercatat sebesar 102,30. (M. Aziz)

Sumber data: BPS Lampung, Februari 2014

Friday, November 22, 2013

Petani Didorong untuk Manfaatkan Benih Lokal

Menanam benih lokal menjadi salah satu acara Ruwatan Benih di Bogor, Rabu (22/11).

BOGOR, teraslampung.com--Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) sukses menggelar acara Ruwatan Benih, di Bogor, 20—22 November 2013. Kegiatan yang digagas untuk mendukung petani Indonesia agar memanfaatkan benih lokal itu diisi dengan workshop perbenihan bekerjasama dengan IPB, pertemuan tahunan AB2TI, ‘Pameran Benih’, ‘Wiwit Benih;, dan dialog kebijakan perbenihan dengan Dirjen Tanaman Pangan dan Staf  Khusus Presiden Bidang Pangan.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa mengatakan acara yang melibatkan 187 petani perwakilan dari  42 Kabupatenni di Indonesia itu digagas sebagai bentuk penghargaan kepada petani sekaligus upaya penggalangan dukungan publik akan pentingnya benih bagi petani.

“Ruwatan benih sebagai sebuah tradisi memuliakan benih. Sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengukuhan benih menjadi bagian penting kehidupan petani. Benih dan petani adalah senyawa tak terpisahkan. Tak ada petani tanpa benih, pun demikian tak akan lestari benih tanpa campur tanganpetani. Para petani terus menjaga keberadaan benih melalui sistem sosial budayanya” kata Dwi.

Menurut Dewi para petani Indonesia sudah ribuan tahun sudah petani mengelola benih dengan kearifannya. Setidaknya sejak 1960anpetani telah mengembangkan 1,9 juta jenis/varietas tanaman. Untuk tanaman pangan,petani memuliakan 5.000 tanaman pangan dan menjadi penyumbang terbesar pada bankbenih dunia.

Dwi menambahkan dengan keragaman benih itulah maka muncul keragaman pangan. Di Indonesia masih banyak jumpai pangan yang beraneka ragam tiap daerah di seluruh penjuru negeri. Hal ini bisa mungkin karena adanya keragaman bahan pangan yang didukung keragaman benih yang dikelola petani. Keanekaragaman pangan sangat penting bagi negara berkembang seperti Indonesia.

“Namun sayang situasi ini mendapat ancaman dari sistem pangan yang berkembang saat ini.Dalam sistem pangan global yang berkembang justru terjadi simplikasi dan reduksi. Hanya pangan yang menguntungkan yang dipelihara dan diolah menjadi pangan. Perlahan tapipasti jenis pangan semakin terbatas dan terpusat pada industri,” kata dia.

Menurut catatan ETC Group, hingga tahun 2009, industri benih hanya mengelola dan meniagakan benih tanaman pangan sebanyak 150 jenis saja. Namun demikian kuasa atas pasarnya cukup tinggi. Saat ini industri telah menguasai sekurangnya 90% pasar benih dunia. Sementara di Indonesia, industri menguasai lebih dari 60%.

Pentingnya peran pengelolaan benih oleh petani tak hanya mendapat ancaman dari penguasaan dan peredarnya benih industri namun juga lemahnya perlindungan dan dukungan dari pemerintah dan publik. Hingga saat ini kebijakan yang ada hanyamenyisakan ruang yang sempit bagi tumbuhnya inisiatif keragaman benih dan pangan, ujar Said Abdullah, sekjen AB2TI.

Mbah Gatot Surono, petani dari Purbalingga, Jawa Tengah, mengatakan hingga saat ini petani pemulia dan penangkar benih masih dipandang sebelah mata. Petani dianggap tidak mampu memproduksi, menjaga dan melestarikan benih secara baik.
“Pemerintah sepertinya setengah hati memberikan dukungan pada petani. “pemerintah seharusnya mendukung upaya kami, bukan melemahkan dengan memberikan program bantuan benih yang mutunya tak terjamin dan bukan dari petani yang sudah cocok diwilayah setempat” ujarnya.

AB2TI mencatat, saat ini dari data koleksi Bank Benih AB2TI, para petani memiliki kemampuan yang luar biasa.  Hingga tahun 2013, AB2TI telah berhasil mencatat sebanyak 125 jenis benih padi dan lebih dari 10 jenis benih jagung yang dimiliki dan dikelola petani.

Penulis: Dewi Angela

Thursday, November 7, 2013

Organisasi Pangan Dunia Puji Indonesia

ROMA, lampungreview.com--Badan Pangan Dunia (FAO) menilai Indonesia dapat menjadi contoh dan perhatian negara-negara di dunia karena berhasil meletakkan dasar pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di daerah terpencil, agar tercipta masa depan yang bebas dari kelaparan.

Deputi Dirjen FAO bagian Ilmu Pengetahuan, Maria Helena Semedo, mengatakan hal ini ketika menerima kunjungan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmi Faishal Zaini di Markas FAO di Roma,  Kamis (7/11).

"Kepemimpinan negeri Anda dalam memformulasi dan menyelenggarakan program pengurangan kemiskinan dan meniadakan kelaparan, menunjukkan komitmen yang kuat dan dedikasi tinggi dalam melaksanakan program-program mengeliminasi kelaparan," kata Semedo mewakili Dirjen FAO Graziano da Silva yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Afrika.

Semedo menyatakan FAO dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) merasa bangga menjadi mitra dari Kementerian PDT dalam usaha mengurangi kemiskinan dan meniadakan kelaparan penduduk di Indonesia, secara khusus membantu penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

FAO siap memobilisasi para ahlinya dan berbagi pengalaman untuk secara efektif mendukung program PDT melalui kemitraan.

FAO akan mempelajari masalah yang dihadapi untuk mendapatkan cara terbaik agar masyarakat bisa meningkatkan kemampuan untuk berkarya dan berkesempatan berwiraswasta.

Pada saat yang sama memberdayakannya dan membekali mereka akan pengetahuan di bidang kesehatan dan pendidikan. Namun ia menyatakan pula semua itu perlu dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten.

Kementerian PDT melakukan koordinasi dan kerja sama dengan FAO dan ILO dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal pada satu provinsi di Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT).

Usaha mengurangi kemiskinan dan menghilangkan kelaparan dilakukan di empat kabupaten sebagai "pilot location" yakni Kupang, Belu, Timor Tengah Utara dan Sumba Timur. Pengembangan di empat kabupaten itu akan difokuskan pada tiga komoditas unggulan, yakni jagung, ternak sapi dan rumput laut.

Program yang merupakan hasil kerja sama antara kementerian PDT, FAO dan ILO ditargetkan terlaksana dalam tiga tahun mulai tahun 2014 hingga 2016.

Kegiatan ini akan membutuhkan dana sebesar 14,4 juta dollar AS, namun Kementerian PDT hanya mampu mengalokasikan anggaran berkisar 7,2 juta dollar AS.

Pada kesempatan itu, Menteri Helmi Faishal Zaini menyumbangkan beberapa karya fotonya di daerah tertinggal di Indonesia serta sejumlah kain tenun untuk dipajang di Ruang Indonesia di Markas FAO di Roma.

Sumber: KBRI Roma