Showing posts with label Program HKM. Show all posts
Showing posts with label Program HKM. Show all posts

Wednesday, March 5, 2014

Bustami Yakin HKm Bisa Sejahterakan Petani

Bustami Zaenudin memberikat surat izin usaha pengelolaan lahan bagi petani (dok Pemkab Way Kanan)
Siti Qodratin Aulia dan Syailendra Arif/Teraslampung.com


Blambangan Umpu--Bupati Way Kanan Bustami Zaenudin yakin bahwa program Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir di wilayahnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. 

"Pemerintah baru saja menyerahkan izin areal kerja HKm seluas 4.352 hektare kepada penerima manfaat di Way Kanan. Ditambah dengan luas HKm yang sudah diserahkan lebih dulu, jumlah areal HKm yang telah diserahkan untuk mewujudkan kesejahteran masyarakat Way Kanan saat ini seluas 17.000 hektare. Itu sudah bisa jadi modal untuk meningkatkan kesejahteraan," kata Bustami, Kamis (6/3).
   
Menurut Bustami jika satu hingga dua hektare lahan diberikan kepada satu kepala keluarga (KK) dan masing-masing KK memiliki 3 anggota keluarga, maka sudah ada sekitar 45.000 jiwa meningkatkan kesejahteraan melalui HKm.   
Bustami mengingatkan, lahan yang diterima masyarakat tidak harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar tujuan prograam HKm benar-benar terwujud. Selain agar lahan kritis menjadi lestari kembali, program HKm diharapkan juga bisa mendongkrak kesejahteraan para petanu di Way Kanan.
"Mari kita jaga alam dan jaga hutan agar tercapai kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

HKm Way Kanan jadi Objek Studi Banding Wakil 10 Provinsi

Menyadap karet (ist)
Syailendra Arif dan Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com

Blambangan Umpu--Perwakilam dari 10 provinsi di Indonesoa melakukan studi banding mengenai Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kabupaten Waykanan, Lampung, 3-6 Maret 2014. Salah tempat yang menjadi objek studi banding adalah HKm Jaya Lestari di Kampung Menangajaya, Kecamatan Banjit.

"Kami tentu bangga karena HKm Kampung Menangjaya menjadi rujukan daerah lain di Indonesia.HKm di kampung itu memang berhasil. Selain masyarakat penerima manfaat program HKm sudah menerima hasil, di sana juga sudah memiliki koperasi HKm" ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Waykanan, Leaderwan, di Blambangan Umpu, Kamis (6/3).
 
Menurut Leadarwan, kegiatan HKm di Kampung Menangajaya dimulai dari 2003, tapi ijin keluar, sekitar tahun 2008-2009. Jumlah kepala keluarga penerima program HKm di Menangajaya sekitar 500. Mereka umumnya melakukan budidaya karet.
 
"Penduduk penerima manfaat HKm di sana awalnya menaman kopi. Karena kopi konservasinya kurang, maka diganti karet. Perubahan dari kopi ke karet itu sebuah prestasi karena karet bisa membuat pertanu berpenghasilan tiap hari, sedangkan  kopi hanya setahun sekali panen. Bahkan, terkadang petani gagal panen," kata Leadaewan.

Di Kampung Menangjaya, perwakilan dari 10 provinsi itu akan studi banding mengenai berbagai hal tentang HKm. Baik itu soal kelembagaan, teknis penanaman, hingga panen. Juga soal pengawasan.

Wednesday, February 26, 2014

Berkat Hutan, Warga Sendangagung tak Lagi Takut Musim Paceklik

Oyos Saroso H.N.

Telaga di Sendang Agung: sumber kehidupan warga desa. (oyos hn)
Lampung Tengah--Ribuan warga (700-an kepala keluarga) di Desa Sendangasih, Sendangbaru, dan Sendangagung, Kecamatan Sendangagung, Kabupaten Lampung Tengah kini tak lagi cemas jika musim paceklik datang.

Warga yang tinggal di sekeliling hutan lindung Register  22 Way Waya itu, akan tetapi bisa makan nasi tiga kali sehari meskipun musim paceklik.  Itu karena mereka bisa memperoleh nafkah dari hasil hutan dan ternak. Dari hutan, mereka bisa memetik hasil madu, kolang-kaling, dan gula aren. Hasil hutan itulah yang kemudian mereka produksi secara bersama-sama lewat usaha kelompok.

Selain itu, padi yang mereka tanam pun “rajin” panen setahun dua kali karena pasokan air yang lancar. Dua telaga yang ada di wilayah itu kini airnya tak pernah kering karena hutan di sekitarnya terpelihara baik.

Hutan lindung Way Waya memiliki luas sekitar lima ribu hektare dan berada di Kecamatan Sendangagung dan Pubian. Hutan yang pernah terbakar pada tahun 1996 itu kini sudah tampak kembali lestari karena dipelihara warga desa dengan program Hutan Kemasyarakatan (HKm). Kini warga desa makin bersemangat menyelamatkan hutan karena juga mendapatkan bantuan ternak secara bergulit.

Ternak itik di Desa Sendangagung
Sebanyak 700 keluarga penerima bantuan itu menerima hewan peliharaan sesuai dengan pilihannya.Ada yang memilih mendapatkan sapi, ada yang memilih kambing, ada juga yang memilih itik. Setiap keluarga menerima satu sapi atau 3 kambing atau 33 itik.

Dari puluhan itik dan dua ekor sapi yang mereka pelihara, warga bisa mendapatkan penghasilan tambahan selain sebagai petani. “Dari 33 ekor itik, kalau sedang saatnya bertelur bisa lebih dari 20 ekor yang tiap hari bertelur. Telur-telur itik itulah yang membantu penghasilan keluarga,” kata Kasiah, 42 , warga Sendangasih.

Kasiah adalah satu dari 300 orang warga Sendangagung yang menerima bantuan itik bergulir dari Heifer International Indonesia dan Elanco, beberapa waktu lalu. Heifer Internasional merupakan lembaga nirlaba, sementara Elanco adalah produsen pakan ternak. Keduanya  berasal dari Amerika Serikat.

Suratmi dan keluarga lain penerima bantuan itik maupun bantuan sapi terpilih sebagai penerima bantuan bukan semata-mata karena mereka miskin. Mereka menerima bantuan karena dianggap sudah memiliki komitmen untuk melestarikan hutan di sekitar desa dan siap memberikan bantuan kepada keluarga lain. Selain mendapatkan binaan dari NGO lokal, para penerima bantuan ternak juga mendapatkan pelatihan tentang cara-cara memelihara dan memasarkan hasil ternak.

 “Kami sekarang sedang belajar membuat telur asin. Kami berharap, dengan menjual telur asin hasilnya lebih baik. Harga telur itik mentah hanya Rp 1.500/butir, sementara telur asin harganya Rp 2.000/butir,”  kata Suratmi.

Meredith Rolf, International Resource Development Officer Heifer International, mengatakan program bantuan ternak bergulir itu dilakukan tidak semata-mata untuk membantu ketahanan pangan masyarakat miskin di daerah terpencil di sekitar hutan. “Program ini juga untuk mengembangkan semangat kemandirian dan kegotongroyongan sambil terus memelihara kelestarian hutan,” kata dia.

Menurut Rolf ternak yang dipelihara penduduk di sekitar hutan akan menjadi alat utama untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Kalau warga di sekitar hutan sejahtera, maka mereka tidak akan masuk hutan dan mengambil kayu. Apalagi mereka kini juga ikut program hutan kemasyarakatan,” “ujarnya.

Dengan memelihara sapi, kambing, dan itik diharapkan masyarakat desa di sekitar hutan Register Way Waya bisa memenuhi kebutuhan gizinya. Selain dimanfatkan kotorannya, sapi juga bisa diambil susunya. Sementara itik bisa menghasilkan telur tiap hari.

Hasil industri rumah tangga Desa Sendangasih
Meskipun baru empat tahun berjalan, kini warga  desa penerima bantuan sudah menunjukkan kemandirian dan kegotongroyongan. Sudah ada beberapa keluarga yang bisa memberikan hewan piaraannya kepada keluarga lain. Ini menunjukkan bahwa orang miskin pun bisa membantu orang lain.

Warga desa di Kecamatan Sendangagung itu kini makin akrab dan melakukan gotong royong untuk beberapa pekerjaan. Misalnya mereka bergotong royong menyelamatkan hutan, bergotong royong memelihara danau, dan gotong royong membangun rumah.

Puluhan warga yang dulu rumahnya geribik, kini sudah memiki rumah permanen karena mereka melakukan arisan rumah. “Warga yang ingin rumahnya diperbaiki hanya menyediakan kayu dan batu-bata, sedangkan semen, pasir, dan tenaga mendapatkan bantuan dari warga lain,” kata Iwan Darmawan, warga Sendangasih.

Iwan Darmawan: Kisah Mantan Preman yang Menjadi Penyelamat Hutan

Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

Iwan Darmawan (foto: oyos shn)
Lampung Tengah--Tidak menamatkan pendidikan Sekolah Dasar dan punya masa lalu yang kelam tidak harus membuat seseorang menjadi terpuruk dan tidak berguna bagi orang lain. Hal itu telah dibuktikan oleh Iwan Darmawan, 39, warga  Desa Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah yang kini menjadi relawan pendamping masyarakat.

Meskipun tidak tamat SD dan pernah lama menjadi preman di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Iwan Darmawan kini benar-benar menjadi sosok yang menginspirasi warga  Sendang Agung. Ia menjadi pendorong tempat bertanya banyak warga desa di Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah. Itu karena peran Iwan yang tidak kecil  untuk menjaga hutan lindung Register 22 Way Waya dari ancaman degradasi lahan.  Iwan tidak hanya telah berhasil melakukan peningkatan kapasitas dirinya, tetapi juga berhasil mengajak semua warga di desanya untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Kerja keras yang dilakukan Iwan sejak akhir tahun 1990-an itu kini sudah membuahkan hasil: hutan Register Way Waya tampak hijau lestari, Telaga Sendang Asih di Desa Sendang Asih yang dulu airnya sering menyusut saat musim kemarau kini berlimpah air.

Para petani di desa-desa sekitar telaga itu pun kini bisa mengairi sawahnya meskipun sedang musim kemarau. Maklum, dengan lestarinya huta Register 22 Way Waya maka otomatis cadangan air pun berlimpah. Dam penampungan air seluas 60 x 120 meter itu sumber airnya berasal dari hutan Register 22 Way Waya seluas sektitar 6.000 ha yang mengitari Desa Sendang Asih.

Kerja Bersama Masyarakat Desa

Iwan tidak sendirian bekerja. Ia juga didukung oleh banyak warga desa lainnya. Namun soal ide, ketekunan, dan kepedulian menyelamatkan hutan, Iwan termasuk orang pertama yang merintis di kawasan Sendang Agung dan Sendang Asih. Iwan mau menjadi relawan karena dia menyadari  arti pentingnya kelestarian hutan bagi kehidupan masyarakat desa kini dan masa-masa mendatang.

Untuk menggalang dukungan warga desa agar mau bersama-sama menyelamatkan hutan, Iwan menyambangi satu per satu rumah warga. Terkadang, ia juga  menyosialisasikan arti pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat desa saat kumpul-kumpul santai di tepi sawah, Juga saat berpapasan dengan warga lain di jalan desa.

Iwan dan tiga anaknya (teraslampumg/oyos hn)
Setelah beberapa tahun bekerja keras bersama warga desa, hasilnya pun nyata: bukan hanya air yang lancar mengairi sawah-sawah petani, tetapi juga terjaganya kelestarian hutan lindung Register 22 Way Waya.

“Kepada warga desa saya selalu mengatakan bahwa hutan di sekitar desa merupakan sumber kehidupan yang sangat berharga bagi warga desa untuk saat ini dan masa mendatang. Sebab itulah hutan harus dijaga,” kata Iwan Darmawan.

Kerja keras Iwan membuat beberapa NGO lingkungan di Lampung dan Heifer International, beberapa tahun lalu memberikan kepercayaan kepada ayah empat anak ini untuk menjadi fasilitator masyarakat di desanya. Iwan juga dipercaya Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Tengah untuk menjadi sukarelawan penyelamat hutan.Tugas Iwan antara lain memberikan penyuluhan dan memperbanyak kelompok dukungan untuk menyelamatkan hutan.

Berkat keuletan Iwan, kini di Desa Sendang Asih sudah terbentuk beberapa Kelompok Tani Pelindung Kawasan Hutan (KTPKH). Sambil menyelamatkan hutan para anggota kelompok juga belajar memanfaatkan hasil hutan tanpa melakukan perusakan. Mereka melakukannya dengan ikut program Hutan Kemasyarakatan (HKm).


Di kawasan HKm itu warga menanam pohon nonkayu (pohon yang tidak boleh ditebang dan diambil kayunya) sambil berkebun. Pohon nonkayu yang ditanam di kawasan HKm Register Way Waya antara lain pohon durian, pinang, petai, dan aren. Sementara tanaman kebunnya antara lain pohon pisang dan sayuran.

Dari hasil pohon nonkayu itu warga belajar membuat usaha home industry dengan memanfaatkan hasil hutan. Misalnya, keripik pisang,  madu, gula aren, dan melinjo.

“Bersama KPTKH, saya juga mengajari warga membuat emping melinjo dan keripik pisang. Kini kami sedang membuat perpustakaan sederhana agar anak-anak remaja di desa kami gemar membaca,” kata Iwan.

Kerja keras Iwan menjadi perhatian Pemda Provinsi Lampung, yang kemudian memberikan pengharagaan kepaa Iwan sebagai tokoh desa penyelamat lingkungan hidup. Pada tahun 2008 Iwan juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Kehutanan sebagai penyelamat lingkungan.

Berkat kerja keras Iwan, warga desa juga bisa diorganisir untuk kembali menumbuhkan semangat kegotongroyongan warga desa. Antara lain dengan mengorganisir kelompok “Arisan Rumah”. Iwan menjadi koordinator (ketua) “Arisan Rumah” di desanya. Sebelum kelompok ini dibentuk, warga desa dikumpulkan untuk mencari solusi memperbaiki rumah warga yang masih berdinding papan atau geribik bambu dan berlantai tanah.

“Kini sudah ada belasan warga desa yang bisa membangun rumah permanen yang memenuhi syarat kesehatan berkat arisan rumah. Rumah milik Iwan termasuk rumah hasil arisan tersebu,” kata Iwan.


Monday, February 24, 2014

Menhut: HKm Harus Hijaukan Lahan dan Sejahterakan Rakyat

Hutan Bukit Rigis di kawasan Desa Tribudi Syukur menghijau kembali setelah beberapa tahun menjadi kawasan program Hutan Kemasyarakatan (HKm). Selain hutan menghijau, warga setempat juga makin sejahetera karena bisa panen kebun sepanjang tahun. (Foto Oyos Saroso HN)
Rudi Fitranando/Teraslampung.com

Way Tenong—Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berharap lahan seluas 8.340 hektare yang diserahkan kepada masyarakat Lampung bisa bermanfaat bagi masyarakat. Selain berguna bagi penerima manfaat langsung, bantuan itu juga diharapkan bisa mengubah lahan kritis di Lampung menjadi hijau kembali dan warga sejahtera.

“Pemerintah memberi HKm tidak sedikit, luas. Artinya, diberi untuk dikelola dengan baik hutan yang diserahkan pemerintah yang  percaya pada bapak ibu semua. Karena itu, masyarakat harus menjaga hutan yang pengelolaannya diserahkan itu dengan baik supaya tidak ada yang merusaknya.Jika ada yang berusaha merusak hutan, bapak-bapak yang melawan. Jangan sampai dari mana-mana masuk merusak hutan," kata Menteri Zulkifli Hasan, saat menyerahkan SK Hutan Kemasyarakatan bagi 11 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Tribudi Syukur, Way Tenong, Lampung Barat, Senin (24/2).

Zulkifli Hasan menegaskan lahan HKM tidak boleh dirusak dan dibakar. Yang diperbolehkan ialah ditanam damar, kemiri, kluwek, itu boleh.

“Tolong, HKm dirawat baik-baik. Lampung Barat ini termasuk yang berhasil menjalankan program HKM. Tolong terus lanjutkan,” kata dia.

Izin HKm diserahkan Menhut akan dimanfaatkan 2.000 KK yang ada di tiga register, yakni Register 17 Sararukuh,  Register 45 Bukitrigis, dan Register 43 Krui Utara.