Showing posts with label Headline. Show all posts
Showing posts with label Headline. Show all posts

Monday, April 7, 2014

Mobil Anggota DPRD Bandarlampung Tabrak Warung, Satu Tewas di Tempat

Kondisi warung milik Beno yang hancur setelah ditabrak Honda Yaris yang dikemudian Mintarsih Yusuf, Senin petang, 7 April 2014. (Teraslampung.com/Zaenal)

M.Zaenal/Teraslampung.com

Bandarlampung–-Sebuah mobil pribadi Toyota Yaris dengan nomor polisi N 168 NC, yang dikemudikan Mintarsih Yusuf, aggota Komisi B DPRD Kota Bandarlampung, menabrak warung makan milik Beno (53), di Jalan Raden  Intan,  tepatnya di depa Bambukuning Square (BKS), Senin (7/4) sekitar pukul 15.15 WIB.

Akibat peristiwa itu, Mira (31), warga Gunung Sari Gang Taqwa, Tanjungkarang Pusat yang saat itu sedang menunggu warung, tewas di lokasi kejadian.

Seorang saksi mata menuturkan, tubuh keponakan Beno itu  terseret mobil hingga sekitar enam meter.Warung yang ditrabrak mobil itu pun roboh.

Polisi dari Polresta Bandarlampung langsung mengamankan pengemudi yang diketahui bernama Mintarsih Yusuf, anggota dewan Komisi B Kota Bandarlampung, Mintarsih kini kembali mencalonkan kembali sebagai anggota DPRD Bandarlampung dari Partai Golkar.

Riski Pratama (14), warga setempat yang menjadi saksi mata peristiwa tragis tersebut, dia melihat mobil meluncur dan menabrak warung milik Beno dari lantai dua rumahnya yang kebetulan bersebelahan dengan BKS.

Menurut Riski, mobil Toyota Yaris warna abu-abu itu awalnya masuk ke halaman BKS. Setelah berhenti, pengemudinya masuk ke  sebuag anjungan tunai mandiri (ATM). Tak lama kemudian mobil tersebut berputar mau keluar. Tiba-tiba mobil itu agak limbung dan langsung menabrak warung.

"Mobil itu ngebut dan ngesot.Beberapa detik kemudian angsung menabrak warung itu. Saya langsung turun dari lantai dua rumah dan melihat kelokasi,”kata Riski.

Riski mengatakan di dalam warung milik Beno saat itu ada dua orang perempuan. Yakni Mira dan Novi.Saat kejadian, Mira sedang makan, sementara Novi (40) sedang menyuci piring.

“Mira  mengalami luka parah. Paling parah lukanya di bagian kepalanya. Mukanya berlumuran darah. Dia sempat terseret mobil hingga enam meter, sampai ketiang Listrik yang ada di depan pintu masuk satsiun KA, " tutur Riski.

Korban Mira yang tewas di tempat kamudian dibawa ke RSU Abdul Moeloek.Sementara Novi mengalami luka pada bagian kening, tangan, dan kaki akibat terkena pecahan kaca etalase warung.

"Pelaku saat itu juga langsung diamankan oleh petugas jaga stasiun Kereta api, supaya tidak diamuk masa oleh warga sekitar sambil menunggu polisi datang. Saat di pos jaga polisi, pelaku mengaku sebagai anggota Dewan. Tidak lama kemudian polisi datang dan lansung membawa pelaku," jelas Riski.

Menurut Riski, pengemudi mobil tersebut seperti orang yang baru belajar mengemudi. “Kalau kata orang – orang sekitar sini tadi saya dengar pengemudinya itu baru seperti orang belajar. Ada juga yang bilang rem nya blong, ada juga yang bilang gas mobilnya nyangkut,” kata dia.

Kasat Lantas Polresta Bandarlampung, AKP M Reza Chairul saat dikonfirmasi membenarkan bahwa telah terjadi lakalantas dan pihaknya langsung melakukan penahanan terhadap Mintarsih Yusuf guna proses pemeriksaan lebih lanjut.
”Tersangka saat ini kami tahan untuk mempermudah proses pemeriksaan. Tapi, belum bisa dimintai keterangan karena kondisinya sedang syok,” kata dia.

Mencari Cawapres Jokowi

Akuat Supriyanto*

Ilustrasi (Blonty)
PDI Perjuangan harus berhati-hati dengan ranjau-ranjau politik pasca-Pileg. Hasil survei yang mengkilat dan pemberitaan media yang gencar mengenai Jokowi membuat Moncong Putih bak gadis seksi yang dilirik sana-sini. Banyak tokoh yang kesengsem dan ‘super-ngebet’ menjadi pendamping Jokowi dalam Pemilihan Presiden. Mereka bak laki-laki kenes yang berjungkir-balik melakukan akrobat politik. Ada yang memakai corong mantan Ketua MPR, pemusik rock, atau politisi partai lain. Ada yang pakai acara seminar, bedah buku, maupun orasi di depan massa.

Kelihatan bahwa urat malu sebagian tokoh tersebut sudah putus. Misalnya, ada tokoh yang sebelumnya menyerang Jokowi sebagai capres yang didanai konglomerat hitam, tetapi terus saja ngarep dot com berduet dengan Jokowi. Yang paling kelihatan vulgar tentu saja Jusuf Kalla. Strategi komunikasi yang dipakai menonjolkan third party advocacy, seolah-olah pihak ketiga yang mengusulkan ia tampil jadi Cawapres.

Rentetan peristiwa dukung mendukung yang berdekatan membuat rekayasa opini itu nyata sebagai permainan terencana. Setelah “masuk” melalui pengurus-pengurus PKB dari Indonesia Bagian Timur, JK juga “masuk” melalui pengurus PDI Perjuangan Irian Jaya Barat. Deklarasi sepihak “JK Cawapres “ dimulai dari Manokwari beberapa hari lalu. 

Seperti telah mendapatkan komando, kelompok yang menamakan dirinya sebagai relawan Jokowi-JK pun muncul. Logo bergambar Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalan lingkatan dengan tag ‘Indonesia Hebat’ bertebaran di sosial media. Kelompok itu berani mengambil langkah “offside” karena bahkan Pemilu Legislatif belum dilakukan.

Pembicaraan mengenai Cawapres Jokowi secara matang tentu baru akan dilakukan setelah Ibu Megawati merasa yakin dengan hasil quick-count atau tren penghitungan suara. Karena itu, deklarasi dan pembentukan relawan Jokowi-JK dapat dibaca sebagai tekanan terbuka terhadap Ketua Umum PDI Perjuangan.

Barangkali, JK atau pendukungnya berkaca dari penetapan Jokowi sebagai Capres PDI Perjuangan. Tekanan publik melalui aktifitas beragam kelompok dukungan serta pembentukan opini yang masif di media –tentu dengan persuasi sebagain kalangan internal PDI Perjuangan -- berhasil meluluhkan hati Ibu Mega hingga bersedia mencapreskan Jokowi. Tetapi, apakah skenario yang sama akan berhasil dilakukan Daeng Kalla? Jawabanya adalah: belum tentu.

Jika PDI Perjuangan mendapatkan minimal 20 persen, akan terkesan naif jika partai tersebut masih merasa perlu mencari sosok Cawapres dari luar. Apalagi, hasil survei menunjukkan elektabilitas Jokowi di atas angin dan bahkan memiliki kans menang satu putaran. Bahkan, siapapun yang dipasangkan sebagai Cawapres Jokowi tidak menambah elektabilitas alias hanya mendompleng belaka.

Dalam posisi demikian, mengapa masih perlu Cawapres dari luar? PDI Perjuangan tentu tidak kekurangan tokoh internal yang mampu menjadi Wapres sekaligus menjadi dirijen politik yang menghubungkan kabinet dengan lingkaran parpol. Peran Wapres seperti itu penting karena Jokowi bukanlah politisi alami serta bukan pejabat kuat di partainya.

Bahwa PDI Perjuangan perlu koalisi, itu jelas. PDI Perjuangan memerlukan mitra untuk membentuk pemerintahan yang lebih kuat dan menghindari goncangan politik dari parlemen. Namun, koalisi luas tidak harus dibentuk sebelum Pilpres karena hal tersebut hanya akan menaikkan posisi tawar partai-partai lain dalam pembentukan kabinet. Lebih baik, partai-partai tersebut dipersilakan masuk setelah Pilpres saja, dan siapapun yang melamar masuk kabinet harus menerima konsep pembangunan yang telah dimenangkan Capres-Cawapres yang menang Pilpres. Dengan demikian, intervensi ‘transaksional’ --misalnya dengan klaim bahwa sebuah parpol minta ini atau itu karena ikut berkeringat sejak Pilpres putaran pertama—dapat diminalisir.

PDI Perjuangan harus melihat kenyataan bahwa dalam dua Pilpres terakhir, pemenang Pilpres tidak serta merta memiliki keleluasaan gerak karena terjepit oleh deal-deal dengan parpol koalisi yang dibuat sebelum Pilpres. Meski pasca-Pilpres 2004 duet SBY-JK dianggap sukses di tahun-tahun awal hingga pertengahan, hubungan Presiden dan Wapres akhirnya mengalami gelombang surut. Sebab, tidak semua pikiran dari kedua orang tersebut dapat dikompromikan. Wapres yang merasa memiliki ‘saham politik’ hampir sama besar dengan Presiden tentu menginginkan lebih banyak campur tangan dalam penentuan arah kebijakan serta pengaturan sumberdaya ekonomi. Beberapa kasus seperti pendirian UKP3R, impor beras, dan kenaikan harga BBM menyebabkan hubungan SBY-JK sulit. Kalau mau jujur, hubungan keduanya ‘habis’ sebelum masa jabatan selesai.

Mereka pun akhirnya tidak berpasangan lagi di Pilpres berikutnya. PDI Perjuangan harus mantap untuk mengajukan Cawapres dari internal partai karena mereka juga telah beruji coba dalam Pilgub. Misalnya saja, dalam Pilgub Jawa Tengah dan Pilgub Jawa Barat.

Kebijakan untuk menetapkan duet kandidat dari kandang banteng bukan saja didasarkan pada kepentingan untuk menjaga soliditas roda pemerintahan jika kelak Cagub-Cawagub yang diajukan terpilih, meskipun pasangan koalisi nyatanya kerap ‘pecah’ di tengah jalan. Tetapi, kebijakan itu juga untuk memberikan keleluasaan pada pasangan pemimpin itu memerintah sesuai dengan platform PDI Perjuangan tanpa ada gangguan yang disebabkan adanya dua komando yang berbeda isi kepala di dalam kabinet.

Jika PDI Perjuangan mengajukan Cawapres eksternal, PDI Perjuangan akan tersandera karena memiliki wakil yang belum tentu selalu sehati dengan Presiden dalam menjalankan lima tahun roda pemerintahan. Hal itu juga akan menghalangi publik untuk melihat seperti apa cara memerintah yang dimiliki PDI Perjuangan, yang didasarkan pada platform Trisakti-nya Bung Karno. Hanya pasangan Presiden-Wapres ‘dwitunggal’ yang sama-sama memahami ideologi dan platform PDI Perjuangan, yang dapat menjalankan program pembangunan dan way to govern yang dikehendaki PDI Perjuangan.

Karena itu, Ibu Megawati harus memberi kesempatan bagi duet pemimpin 2014 yang sama-sama lahir dari rahim PDI Perjuangan. Hal tersebut juga akan menguatkan peran partai pemenang Pemilu sebagai pengendali kebijakan pemerintah sekaligus menghindari kekhawatiran sebagain kalangan internal yang masih berat menerima pencapresan Jokowi.

Jokowi menjadi Capres melalui penugasan dari partai, Cawapres pun orang mendapatkan penugasannya dari partai. Keduanya akan bekerjasama dalam memimpin kabinet sesuai arahan partai. PDI Perjuangan punya peluang untuk membuat eksekutif lebih memiliki karakter. Peluang itu diambil atau tidak, tergantung kepada Ibu Mega.


* Bukan orang partai. Sedang menyelesaikan program doktor  di Faculdade de Economia da Universidade do Porto, Portugal

Sunday, April 6, 2014

Berkas Dua Tersangka Pembuang Pasien RSU Dadi Tjokrodipo Dilimpahkan ke Kejaksaan

Tersangka Heriansyah dikawal petugas, Senin, 7/3. (teraslampung/Zaenal)
M. Zaenal/Teraslampung.com

Bandarlampung—Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandarlampung, telah merampungkan penyidikan berkas perkara pelaku pembuangan kakek Suparman pasien RSUD A Dadi Tjokrodipo. Heriansyah (41) sebagai Kepala Bagian Umum dan kepegawaian dan Mahendri (35) selaku kepala ruangan E2. Penyidik melimpahkan berkas perkara beserta kedua tersangka ke kejaksaan negeri (Kejari) Bandarlampung, Senin (7/4) sekitar pukul 10.00 WIB.

Pada saat akan dilimpahkan, tersangka Heriyansyah sejak keluar dari tahanan sel Mapolresta Bandarlampung, menggunakan baju kemeja dan celana pendek. Saat para jurnalis akan mengambil gambarnya, tersangka Heriyansyah selalu menutupi wajahnya menggunakan koran untuk menghindari jepretan kamera para wartawan.

Sementara sebaliknya tersangka Mahendri tampak tenang dan santai dengan berpakaian rapi layaknya orang yang akan pergi ke kantor dan selalu tersenyum dari jepretan kamera para wartawan.

"Pemberkasannya sudah selesai, pada hari ini Senin 7 April 2014 kami penyidik Polresta Bandarlampung, melakukan pelimpahan atau menyerahkan tahap dua tersangka Heriansyah dan Mahendri berikut dengan barang bukti ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung," tutur Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung Kompol Dery Agung Wijaya kepada wartawan, Senin (7/4).

Dery menjelaskan, pihaknya melakukan pelimpahan tahap dua berkas kasus pembuangan pasien kakek Suparman sudah dinyatakan lengkap oleh pihak kejaksaan.

“Setelah pelimpahan tahap dua ini, kami akan lakukan gelar perkara kembali.  Apakah masih ada atau tidak tersangka lain terkait dengan pembuangan pasien RSUD Tjokrodipo, pastinya kami belum dapat pastikan, yang jelas penyidikan perkara ini masih tetap akan dilanjutkan kami juga belum bisa mengedepankan adanya tersangka lain," bebernya.

Dery mengaku pihaknya juga sudah menyerahkan beberapa barang bukti kepada Kejaksaan, yaitu buku mutasi dan arsip.  "Bukti tersebut yang nantinya dipergunakan untuk bahan dipersidangan nanti. Untuk mengenai pasalnya sendiri, kami tetap mengarahkan kedua tersangka Heriyansyah dan Mahendri ke pasal 306 KUHP subsider 304 KUHP," jelas dia.

Menurut Hendry, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah tersangka Heriansyah dan Muhendri yang menyuruh enam anak buahnya untuk membuang pasien RSU sehingga pasien itu meninggal.

"Tersangka Heriyansyah dan Mehendri, hingga saat ini tidak pernah merasa dan mengakui bahwa keduanya yang menyuruh ke enam tersangka untuk melakukan pembuangan terhadap pasien kakek Suparman, keduanya masih tetap dengan keterangan awal," kata dia.

Panwaslu Lampung Selatan Sita Satu Ton Gula Putih Siap Edar

Sebanyak satu ton gula putih disita Panwaslu Lampung Selatan. (Foto dok rajabasanews)
Kalianda, teraslampung.com--Lagi, gula putih dalam jumlah banyak beredar menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilihan Gubernur Lampung. Kali ini, kasus penemuan gula pasir terjadi di Lampung Selatan, tepatnya di Desa Sidomukti,Kecamatan Candipura, Lampung Selatan.Gula putih sebanyak satu ton itu kini disita Panitia Pengawas Pemilu Lampung Selatan.

Adanya gula putih yang diduga kuat berkaitan dengan Pileg dan Pilgub itu diketahui pada Kamis lalu (3/4/2014). Tim sukses salah satu cagub Lampung menitipkan satu ton gula putih di rumah warga di Candipuro. Sebelum gula dibagikan kepada warga, Panwaslu bersama anggota kepolisian Lampung Selatan berhasil mengamankannya.

Gula putih yang akan  dibagikan kepada warga Kecamatan Candipuro berisi 112 kardus. Tiap kardus berisi tujuh kemasan gula putih seberat masing-masing 1 kg/kemasan.Seperti kasus serupa sebelumnya yang terjadi di Kota Bandarlampung, Panwas setempat juga tidak bisa menyebutkan siapa pemilik gula tersebut. Panwas juga tidak bisa menyimpulkan apakah gula putih itu ada kaitannya dengan money politic menjelang Pileg dan Pilgub atau tidak.

” Kami tidak bisa menyebutkan siapa pemilik gula tersebut. Karena kami belum mempunyai bukti yang cukup kuat ” kata Pauzi, S.H., Ketua Panwas Lamsel,sebagaimana dilansir rajabasanews.com, Minggu (6/3).

Sebelumnya, informasi tentang penyitaan gula putih sudah beredar di jejaring  media sosial Twitter sejak Sabtu (5/4). Bahkan, di Twitter disebutkan juga pelakunya.

Berita Terkait: Bawaslu Panggil Tim Pmeenangan Ridho

Baca Juga: Di Kecamatan Panjang dan Kelurahan Sumur Putri Puluhan Ton Gula Putih Dititipkan di Rumah Penduduk